
Tepat pukul tiga sore, dua mobil yang membawa Alesha, Jacob, Laura, Levin, dan Bastian sampai di bandara, lebih tepatnya di tenang lapangan parkir pesawat. Terlihat sekitar sepuluh meter dari tempat dua mobil itu berhenti, sebuah pesawat pribadi mewah sudah terpakir dan sedang dipanaskan.
Sinar matahari yang begitu terik membuat Laura mencantolkan kacamata hitam dimatanya. Nyonya itu begitu berwibawa saat melewati beberapa pelayan dan petugas bandara, dan diikuti Alesha dengan yang lain di belakang.
"Kita akan lepas landas lima belas menit lagi, Nyonya." Ucap sang pilot. Laura mengangguk. Ia mulai melangkahkan kakinya ditangga untuk menuju pintu pesawat.
Alesha sedikit kesulitan saat menaiki anak tangga, kepalanya kembali terasa sedikit pusing dan susah diseimbangkan. Untungnya ada Jacob yang selalu berada disisinya, jadi Alesha bisa terbantu dengan memegang erat lengan Jacob.
"Tidak salah jika Mr. Jacob menyukai Alesha, mereka cocok." Bisik Bastian pada Levin. Geraman kecil dari Levin mampu membuat Bastian tersadar kalau ucapannya menyinggung Levin yang juga menyukai Alesha.
"Ya, mereka memang cocok, aku akui itu." Balas Levin dengan malas.
Bastian terkekeh. "Kau cemburu." Ledek Bastian.
Levin mengacuhkan Bastian. Ia segera menyambar masuk lebih dulu ke dalam pesawat dan membuat Bastian kaget hingga tertegun sesaat.
Jacob membawa Alesha duduk disofa panjang dekat pintu. "Kau lapar?" Tanya Jacob dengan penuh perhatian.
Alesha menggeleng. Ia tidak lapar, entah kenapa ia malah merasa gugup dan grogi saat berada begitu dekat dengan Jacob, ditambah lagi cara bertanya Jacob barusan yang sangat lembut, hal itu membuat jantung Alesha berdetak sedikit lebih cepat.
"Kau kenapa?" Jacob menatap intens pada Alesha yang sedang menunduk dengan wajah yang sedikit memerah.
"Tidak apa-apa, aku merasa panas, bisa kau bergeser sedikit." Jawab Alesha. Sejujurnya Alesha merasakan panas disekujur tubuhnya karna rasa grogi yang tiba-tiba menyerang begitu saja.
Jacob terkekeh. Keningnya berkerut dan ia berpikir, apa Alesha merasa panas karna Jacob berjarak sangat dekat dengan Alesha hingga membuat Alesha grogi dengan wajahnya yang berubah menjadi merah? Gelengen kecil dari kepala Jacob menandakan kalau pikirannya sedang mencari jawaban dari wajah Alesha yang tiba-tiba memerah begitu saja.
"Mr. Jacob, geser." Alesha mendorong pelan tubuh Jacob agar sedikit menjauh darinya.
Jacob pun tersenyum kecil karna ulah Alesha barusan, dan hal itu membuat rona merah kembali dipipi Alesha. Gadis itu menunduk malu saat Jacob memandanginya dengan ekspresi gemas bercampur bingung. Menurut Jacob, Alesha terlihat menggemaskan jika sedang menahan malu, apa lagi menahan malunya karna ulah Jacob sendiri. Kalau saja sedang di WOSA mungkin Jacob sudah tertawa lepas.
"Al, wajahmu memerah, kau kenapa?" Tanya Bastian dengan seenaknya tanpa memikirkan sekitarnya.
Semua yang ada di dalam pesawat itu mendadak menatap ke arah Alesha, termasuk Laura dan Irene.
Bagus, Bas, kerja bagus... Oceh Alesha dalam hati.
Alesha semakin menunduk dan menahan malu yang semakin menjadi-jadi. Sudah dipastikan kalau saat ini wajahnya berubah menjadi udang rebus.
"Hahahah, wajahmu semakin memerah." Tawa Bastian akhirnya keluar begitu saja disusul Levin, dan juga tawa yang tertahan dari Jacob.
Laura dan Irene mengerutkan keningnya sambil tersenyum dan menatap pada Alesha yang masih menunduk malu. Ini semua berawal dari Jacob, jadi ini salah Jacob. Pikir Alesha.
"Ada apa denganmu?" Tanya Irene sambil tersenyum.
Perlahan Alesha menaikan wajahnya dan menatap pada Irene. "Aku tidak apa-apa." Jawab Alesha dengan pelan.
Irene mengerutkan keningnya. "Lalu kenapa wajahmu memerah?"
"Aku merasa kepanasan, jadi wajahku memerah." Jawab Alesha yang kembali menunduk.
"Kau yakin bukan karna aku?" Bisik Jacob tepat ditelinga Alesha.
Alesha terkesiap dan reflek menengok ke arah Jacob. Sayangnya keberuntungan sedang tidak memihak pada Alesha, bahkan ia menyesal untuk menengok pada Jacob yang saat ini wajahnya berada tepat dihadapan Alesha dengan jarak yang amat sangat dekat, hidung mereka pun hampir bersentuhan.
Mulut Bastian terbuka hingga membuat telapak tangannya terangkat dan menutupi bagian dalam mulutnya, Levin mendengus kesal, sedangkan Laura dan Irene sama-sama terkejut dengan mata yang membulat sempurna.
Alesha dan Jacob sama-sama tidak bisa melepaskan pandangan satu sama lain. Jacob begitu menikmati momen itu dan berbeda dengan Alesha yang berusaha keras untuk melepaskan tatapannya dari mata Jacob yang begitu memagnet iris coklat milik Alesha hingga Alesha tidak bisa berkutik. Selama beberapa saat momen itu terus berlangsung, hingga akhirnya Jacob sudah tidak mampu lagi untuk menahan rasa ingin tertawanya karna melihat wajah Alesha yang berubah menjadi sangat merah.
Tawa lepas berhasil keluar dari dalam mulut Jacob.
"Hahahahahah, Alesha, kau membuatku gemas. Hahahaha..."
Bastian pun tidak mau kalah dari Jacob, ia ikut tertawa lepas saat melihat wajah Alesha yang kadar merahnya meningkat setelah bertatapan cukup lama bersama mentornya. Levin tersenyum dan memalingkan wajahnya, ia tidak bisa melihat Alesha yang saat ini sedang menahan rasa malu dan grogi yang amat sangat.
Laura terkesiap saat melihat tawa anaknya yang keluar dengan begitu lepas. Senyum bahagia terukir pada wajahnya yang sedikit memeperlihatkan tanda keriput dikedua sudut matanya. Senang, dan terharu adalah dua hal yang Laura rasakan saat ini. Setelah sekian lama ia tidak melihat tawa bahagia dari anaknya, akhirnya ia bisa melihat sendiri berkat Alesha.
Berbeda lagi dengan Irene, rasa cemburu kembali mendobrak hatinya. Ia tidak tahu kalau Jacob dan Alesha bisa seperti itu, saat mengirimkan pesan tadi, Laura bilang kalau Jacob adalah mentor Alesha, dan Irene merasa tenang saat mengetahui hal itu, tapi kenapa sekarang malah rasa panas perlahan membakar hatinya? Jacob dan Alesha hanya sebatas mentor dan murid saja kan, tidak lebih? Irene menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Ia yakin kalau tadi Alesha dan Jacob hanya bercanda saja, tidak ada maksudku lain.
"Hey..." Panggil Jacob yang mencoba menggoda Alesha kembali.
"Ck, diamlah!" Balas Alesha dengan ketus.
"Hahahah..." Tawa kembali keluar dari dalam mulut Jacob.
"Nyonya kita akan berangkat sekarang." Ucap seorang pramugari pada Laura.
Tawa Jacob perlahan terhenti saat mendengar ucapan pramugari itu. Wajahnya kini kembali menghadap ke arah Alesha yang sedang berekspresi sebal.
"Ada apa denganmu?" Canda Jacob.
"Tidak apa-apa." Jawab Alesha dengan malas.
"Kau yakin?" Jacob kembali memajukan wajahnya untuk mendekat dengan Alesha. Reflek Alesha mundur dan menahan bahu Jacob agar tidak meneruskan ulahnya.
"Diamlah, aku ingin istirahat, jangan ganggu aku." Alesha merajuk. Ia sedang sebal pada mentornya itu.
Jacob pun terkekeh. "Baiklah, tuan putri, Ale." Ledek Jacob.
"Putri Ale, sedang sensi." Lanjut Bastian yang masih berusaha untuk menahan tawanya. Alesha tidak menjawab, ia benar-benar tidak mood saat ini. Jacob membuatnya harus menahan malu. Yang Alesha khawatirkan adalah kalau yang lain malah akan berpikir Alesha ini Jacob lah, Alesha itu Jacob lah, dan yang lainnya.
Tidak terasa, pesawat pun akhirnya lepas landas. Tanpa sepengetahuan Jacob, dan yang lainnya, Laura tidak akan membawa mereka ke WOSA, melainkan ke rumahnya yang terletak di Florida. Anaknya, Sharon juga sudah mengirimkan pesan tadi siang kalau nona muda itu merasa kesepian karna Laura, ibunya yang tidak kunjung pulang.
Di Florida sendiri, tepatnya di rumah Laura, Sharon sudah menyiapkan semua hal yang tadi ibunya perintahkan melalui pesan teks. Diperkirakan kalau Laura dan yang lain akan memakan waktu sekitar lima belas jam untuk sampai di Florida.
Saat ini baru saja menunjukan pukul satu malam waktu Florida, dan berbeda dengan Australia yang sudah menunjukan pukul tiga sore. Sharon masih belum memejamkan matanya, ia sudah tidak sabar menunggu ibunya pulang bersama seseorang yang ibunya bilang bisa menjadi teman bagi Sharon. Siapa orang itu Sharon tidak tahu. Perbedaan waktu Australia dan Amerika cukup jauh, sekitar empat belas hingga lima belas jam, dan waktu berjalan lebih dulu di Australia, jadi menurut perkiraan Sharon, ibunya dan yang lain akan sampai sekitar pukul satu atau dua siang waktu Florida.
"Kira-kira siapa yang akan ibu bawa? Tidak biasanya ibu membawa sembarang orang ke rumah ini?" Sharon merentangkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.
Karna merasa cukup bosan, akhirnya Sharon meraih remot tv yang tergeletak diatas bupet. Ia menekan salah satu tombol kecil diremot itu sambil mengarahkan pada tv besar yang terpajang tidak jauh dari kasurnya. Menyalalah tv itu, dan Sharon segera memilih tombol menu untuk mencari film yang menurutnya asik jika ditonton malam-malam begini.
Sedangkan dipesawat, Alesha masih bungkam dan malas untuk berbicara. Maklum, moodnya masih belum kembali karna ulah Jacob tadi. Alesha kadang tidak habis pikir kenapa Jacob berperilaku seperti itu? Apa memang sikap Jacob yang seperti itu, atau memang Jacob adalah tipikal orang yang asik kalau sudah sangat dekat dengan seseorang? Tapi Alesha merasa sedikit berbeda. Kadang Alesha merasa kalau Jacob bersikap seperti bukan seorang mentor, tapi lebih dari itu. Mungkin Jacob menganggap Alesha sebagai adiknya, makanya Jacob berani untuk bercanda ria sebebasnya dengan Alesha. Tapi kenapa hanya dengan Alesha? Bahkan Alesha tidak pernah melihat Jacob yang bertingkah sangat berlebihan saat dihadapan anggota lain, dan saat bersama Alesha, seolah Jacob bisa melakukan apapun asal Alesha mengizinkan.
Alesha menggeleng kecil saat sebuah pikiran mengusik dirinya. Ia tidak mau berpikir macam-macam, Jacob adalah mentornya, dan mungkin diantara anggota lain Alesha adalah yang paling dekat dengan Jacob, makanya pria itu berani bercanda lepas dengan Alesha.
Kini Alesha dan Jacob sama-sama saling memikirkan satu sama lain.
Jacob pun terdiam bersama pikirannya yang terus dialiri oleh hal-hal tentang Alesha. Jacob tidak tahu apa Alesha menyadari perasaannya atau tidak, ia pun tidak perduli, intinya saat ini adalah waktu bagi Jacob membuka hati untuk gadis lain. Jacob butuh keseriusan dari dalam hati dan dirinya, untuk masalah Alesha menerima atau tidaknya nanti itu tergantung Alesha sendiri, namun Jacob akan memastikan kalau Alesha harus menerimanya. Mungkin waktunya masih sangat lama, dan Jacob harus ekstra bersabar. Tidak mudah untuk Jacob dapat bangkit setelah keterpurukan karna ditinggal oleh Yuna, namun sekarang adalah momen yang tepat jika ia ingin melupakan gadis yang dulu sangat dicintai.
Baik Jacob dan Alesha, mereka sama-sama ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dicintai, hanya saja bedanya jika Jacob ditinggal mati, kalau Alesha ditinggal menikah. Akan ada waktu bagi mereka agar dapat mencintai untuk yang kedua kalinya. Cepat atau lambat, mencintai untuk kedua kali akan datang secara bertahap. Jacob dan Alesha sama-sama memiliki waktu yang banyak untuk mempertimbangkan segala hal. Bentuk cinta yang seperti awan, begitu besar dan tidak beras serta melayang dilangit-langit hati. Kini, cinta mungkin bertepuk sebelah tangan tanpa Jacob sadari. Alesha masih tidak bisa membuka hatinya untuk lelaki lain, hatinya masih belum juga mengeluarkan Adam, bahkan Alesha juga merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan sejak lama sebelum Jacob menyukainya. Cinta Alesha kini berubah menjadi kelabu, Adam yang dulu begitu dekat dengan Alesha tidak menjamin kalau Alesha bisa meraih hati Adam. Keinginan besar untuk melupakan sosok lelaki yang begitu dicintai sejak kecil kini menjadi khayalan semata untuk Alesha. Buktinya Alesha masih belum menerima tentang kabar Adam yang akan segera menikah, bahkan ia tidak siap jika nanti ia akan bertemu dengan Adam, sedang Adam sudah memiliki pendamping disisinya.
Senyum miris terukir disudut bibir Alesha. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Adam adalah salah satu hal yang membuat Alesha begitu bersemangat dalam menjalani hidup. Alesha pikir ia akan bisa bersama-sama dengan Adam, namun ia salah, Adam lebih dulu memberikan sinyal pada Alesha kalau Alesha tidak usah lagi mendekatinya. Apa yang akan dilakukan setiap orang jika tahu kalau seseorang yang sangat dicintai selama bertahun-tahun malah memberikan kabar pernikahan secara mendadak dengan orang lain? Tidaklah hati yang begitu kuat dapat menahan semua rasa kekecewaan, ketika semua memori muncul dan menjelma menjadi pedang-pedang lancip yang menusuk lalu menekan setiap hentakan yang sudah ditancapkan.
Alesha benci saat-saat seperti ini. Seharusnya ia senang karna bisa pulang dari rumah sakit, tapi kenapa perasaan yang ditangkap oleh instingnya adalah memori kaku yang terus berputar seperti ada rekaman-rekaman yang sulit dilenyapkan. Batin yang kini mulai sesak dengan kenangan silam bersama sang pilihan hati. Alesha hanya bisa menghembuskan napasnya dengan samar, ia tidak mau menunjukan dirinya sedang bersedih karna mengingat sosok yang begitu hatinya banggakan.
Selama perjalanan pesawat yang memakan waktu berbelas-belas jam, Alesha tidak banyak mengeluarkan suara. Hanya kupingnya saja yang menangkap perdebatan yang terjadi antara Jacob dan Laura. Kini Jacob pun sudah tahu kalau tujuan mereka bukanlah WOSA, melainkan Florida. Amarah dapat terlihat pada wajah Jacob sejak berjam-jam lalu setelah selesai beradu mulut dengan ibunya.
Ekspresi dingin yang cukup menakutkan terpancar jelas pada wajah Jacob. Ia tidak mau menatap ke arah ibunya, bahkan ia segan walau hanya sekedar menghadap ke arah Laura yang kini terlihat begitu sedih. Menurut Jacob, apapun itu alasannya, seharusnya Laura jujur, dan setelah seperti ini, semua sudah terlanjur dan rasa kemarahan Jacob yang sempat mereda pada ibunya, kini kembali memuncak lagi.
Levin dan Bastian juga sempat kaget saat Laura bilang kalau mereka tidak akan dibawa ke WOSA, melainkan ke Florida. Ada rasa sedikit kecewa dan khawatir pada diri Bastian karna ia akan terus teringat dengan anggota timnya, namun setelah mendengar penjelasan dari Laura, Bastian jadi paham, ada benarnya juga Laura tidak membawa Alesha ke WOSA, karna di sana belum tentu Alesha bisa istirahat total, tapi bagaimana dengan timnya di WOSA? Bastian merasa khawatir dengan mereka, terutama Lucas dan Mike yang begitu jahil dan petakilan.
Sedangkan Alesha, sejak awal moodnya sudah tidak bagus, jadi ia menerima saja keputusan Laura, karna Alesha berpikir kalau Laura melakukan itu untuk kebaikan Alesha juga. Ucapan terimakasih sudah Alesha berikan tadi pada Laura, mungkin Alesha tidak bisa membalas perbuatan terpuji Laura yang sudah membantunya memberikan penanganan pertama dengan cepat hingga memberikan waktu untuk tubuh Alesha agar bisa tetap bertahan disaat-saat kritisnya waktu itu. Namun, Alesha sudah mengatakan pada dirinya sendiri kalau ia akan selalu membantu Laura selagi hal itu masih bisa tangani olehnya.
Jacob yang sedari tadi muram dan terdiam bagai patung, tiba-tiba saja terkesiap saat mendengar pengumuman dari pilot kalau pesawat sudah tiba di Florida dan akan segera mendarat beberapa menit lagi.
Kepalan tangan Jacob terbentuk, ia tidak mau mendatangi rumah ibunya itu. Kenapa juga ia harus datang? Toh selama ini ibunya mengasingkannya. Apapun itu, Jacob menganggap dirinya sebagai orang asing dan tamu di rumah itu, tidak ada kata anak atau keluarga.
Sekitar lima belas menit sudah berlalu dengan cepat. Kini pesawat sudah mendarat dengan mulus di bandara tempat ibunya selalu menyimpan pesawat pribadi mewah itu.
Seorang pramugari segera membukakan pintu pesawat, lalu Laura dan Irene bangkit pertama dan berjalan menuju keluar pintu. Cuaca begitu cerah dan cukup panas. Tangga sudah siap untuk dipijaki oleh kaki Laura dan yang lain agar bisa sampai pada aspal yang begitu mengkilat saat bersentuhan dengan cahaya matahari.
Jacob bangun dan membantu Alesha untuk berjalan juga menuruni anak tangga. Di belakang, Levin dan Bastian menyusul.
Tidak jauh dari tempat pesawat berhenti, dua buah mobil mewah yang merupakan mobil penjemput sudah siap dengan sang supir yang telah membukakan pintu mobil.
Alesha cukup terpukau, pasalnya sejak dari rumah sakit, pelayanan prima dari para anak buah Laura begitu sempurna. Tidak ada yang terlambat dan terlihat disiplin. Alesha jadi berpikir, apa ia bisa memiliki banyak anak buah yang begitu cekatan seperti yang Laura miliki?
Setelah masuk kedalam mobil dan memastikan tidak ada hal yang tertinggal, sang supir pun memacu gas dan membuat ban mobil berputar melewati setiap meter jalan aspal yang begitu mulus tanpa retakan.
Kini kedua mobil penjemput itu sudah memasuki daerah perkotaan. Ini adalah kali pertama Alesha datang ke Florida, dan ia sudah dibuat jatuh cinta oleh pemandangan pinggir jalan yang begitu rapih dan tertib. Gedung-gedung tinggi yang menjulang membuat jalan raya itu terlihat seperti labirin jika dilihat dari langit.
"Kau pernah ke sini sebelumnya?" Tanya basa-basi Jacob.
"Belum. Ini pertama kalinya." Jawab Alesha.
Jacob tersenyum kecil. Ia mencoba mengingat-ngingat kali keberapa ia datang ke kota itu. Entahlah, Jacob pun lupa, mungkin karna terlalu sering ia datang ke Florida karna diutus oleh SIO, tapi Jacob sama sekali tidak tahu kalau kota itu adalah tempat dimana ibunya tinggal.
"Kapan-kapan kau harus pergi salah satu tempat di kota ini. Hanya sekedar untuk melihat-lihat." Ucap Jacob. "Jika ada waktu, nanti aku akan mengajakmu mengelilingi kota ini." Senyum manis Jacob layangkan pada Alesha, dan hal itu mampu membuat jantung Alesha kembali berdegub sedikit lebih cepat.
"Kau pernah ke sini?" Tanya Alesha.
Jacob terkekeh. Itu adalah pertanyaan konyol untuk Jacob. Tentu saja, sudah sangat sering Jacob berkunjung ke kota itu saat SIO memberinya tugas.
"Aku sering datang ke kota ini, jadi sedikitnya aku tahu tempat yang cocok untuk bermain di kota ini." Jawab Jacob.
Waktu kembali berlalu dengan cukup cepat dan tidak terasa. Kini kedua mobil sudah memasuki gerbang besar yang menuju daerah perbukitan yang diisi oleh beberapa rumah mewah yang tampak seperti istana dengan halaman yang begitu luas. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar sepuluh rumah mewah yang terlewati, dan yang terakhir adalah rumah yang terletak dipaling ujung yang menghadap langsung kehamparan padang hijau yang ujungnya terdapat perbukitan yang terlihat begitu menenangkan. Rumah itu adalah istana keluarga milik Laura.
Jadi ini tuh perumahan ya, and yang tinggal di sini tuh orang sultan semua. Yang tadi itu rumah apa istana sih gedenya gak ketulungan?..... Ucap Alesha dalam hati.
Jarak antar rumah begitu jauh, sekitar dua hingga lima ratus meter. Jadi, dari gerbang besar tadi, membutuhkan waktu sekitar setengah jam lagi untuk sampai di rumah Laura.
"Perumahan elit." Gumam Alesha yang dapat didengar oleh Jacob.
"Kau ingin tinggal di daerah ini?" Tanya Jacob.
Alesha sedikit tersentak dengan pertanyaan Jacob barusan.
"Tidak. Aku tidak akan punya banyak uang untuk tinggal di daerah ini." Jawab Alesha.
Perintah untuk mulai menabung tiba-tiba saja menyapa pikiran Jacob. Jacob sendiri sedikit terkesiap saat pikiran itu tiba-tiba muncul, namun apa salahnya. Jika benar Alesha adalah jodohnya, tidak salah kalau Jacob mulai menabung agar Alesha bisa tinggal di perumahan elit ini. Gajih yang Jacob terima dari SIO tidaklah kecil, mungkin akan mampu membangun sebuah rumah besar jika ia mulai menabung sejak sekarang. Lagi pula, selama ini Jacob tidak pernah menggunakan uangnya selain untuk membeli kebutuhan, jadi mungkin bisa dibayangkan berapa jumlah uang tabungan Jacob saat ini dan ditambah dengan uang tabungan Jacob nanti. Setidaknya kehidupan ia dan keluarganya kelak dapat terjamin.
"Ini rumah Nyonya Laura?" Tanya Bastian yang matanya sudah membulat sempurna saat melihat sebuah bangunan rumah besar yang berdiri begitu kokoh.
Kedua mobil sudah melewati gerbang dan memasuki halaman rumah yang terlihat seperti lapangan bola. Sangat luas dengan beberapa hiasan taman kecil serta pepohonan rindang yang begitu terawat.
Alesha juga tidak kalah kagumnya saat ia keluar dari dalam mobil dan menatap secara langsung istana modern yang ada dihadapannya itu.
"Ibuuuu....." Teriak Sharon sambil berlari menghampiri Laura.
Seketika Jacob pun mengerutkan keningnya. Ibu? Jacob mempunyai adik perempuan? Apa gadis remaja sepantaran Alesha itu adalah adiknya? Gelengan kecil pada kepala Jacob membuat Alesha terusik lalu menatap mentornya itu.
Langkah kaki Alesha mulai melaju kembali saat Laura memerintahkan ia dan yang lain untuk masuk ke dalam istana modern itu.
"Waww...." Gumam Bastian dengan pelan saat pintu rumah Laura dibuka dan memperlihatkan ruang depan yang kosong namun begitu mewah dengan hiasan lampu besar yang menggantung.
"Selamat datang di rumahmu, Jacob, dan dia Sharon, adik perempuanmu." Ucap Laura pada Jacob.
"Apa?!" Sharon terlonjak kaget. Begitu pula Alesha yang matanya sudah membulat sempurna saat mendengar ucapan Laura barusan.