May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kembalinya Sang Masa Lalu



"Aku sudah mempersiapkan acara pernikahan kita sejak dua bulan yang lalu, sayang."


Pikiran Alesha seperti dibawa berkeliling melintasi daratan kebingungan yang begitu luas. Ia ingin tidur karna besok pagi adalah hari pertamanya bekerja di kantor dan pusat penelitian baru milik SIO, tapi kepalanya tetap saja tidak mau diajak berkompromi. Sejak siang tadi, ketika Alesha dipertemukan dengan calon keluarga barunya oleh Jacob, Alesha benar-benar kehilangan fokusnya pada hal lain.


Sang kakek yang turut ikut salam pertemuan itu pun langsung berbahagia hati ketika tahu kalau cucunya akan segera dinikahi oleh pria mapan dan tampan dua minggu lagi.


Semua persiapan lamaran dan pesta pernikahan memang sudah diurus oleh Taylor atas perintah Jacob. Tapi tetap saja, sebagai pihak wanita Alesha merasa tidak enak, ia tidak menyumbang dana sedikit pun, dan persiapan dari dirinya pun masih belum ada.


"Alesha..."


Alesha terlonjak kaget ketika mendengar suara seorang wanita yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya.


"Nyonya Laura!" Alesha terpaku di tempat, menyadari jika wanita yang memanggilnya itu adalah calon ibu mertuanya.


Wajah bersahabat yang Laura tunjukkan membuat Alesha bertanya-tanya.


"Panggil aku ibu mulai sekarang," Ucap Laura sembari meraih lengan Alesha dan membawa calon menantunya itu kesofa yang berada disebelah jendela.


Alesha yang masih belum bisa mengendalikan ekspresi wajahnya pun membuat Laura tersenyum kecil.


"Santai saja, Alesha, aku tidak akan menerkammu," Ledek Laura.


Kepala Alesha tertunduk malu. Ia terlalu gugup untuk berhadapan dengan calon ibu mertua, juga bos besarnya di SIO, mengingat Laura adalah salah satu dari lima orang pemegang saham terbesar di SIO.


"Hey, angkat wajahmu, Alesha. Aku ingin berbicara denganmu," Pinta Laura.


Mau tidak mau, meski malu bercampur gugup, Alesha pun memberanikan untuk menatap wajah calon ibu mertuanya itu.


Laura tersenyum hangat, dan sebelah lengannya terangkat untuk mengelus puncak kepala Alesha yang tertutupi oleh kerudung.


"Kau gadis yang manis, dan pintar. Semoga kau bisa membuat ibu bangga karna memiliki menantu sepertimu, Alesha. Jacob sudah menceritakan semua tentangmu pada ibu, dan ia sungguh-sungguh mencintaimu, Alesha. Ibu harap kau tidak akan mengecewakannya nanti," Laura menjeda sesaat ucapannya. "Jujur, sebenarnya ibu cukup kecewa dengan keputusan Jacob untuk menikahimu karna dari segi keyakinan kalian sangat berbeda."


Alesha terhenyak, dadanya seperti ditikam keras oleh tonjokan berupa ucapan yang Laura katakan barusan. Alesha sudah sangat takut, ia mulai berspekulasi jika pernikahannya nanti dengan sang mentor tidak akan direstui, atau sekalinya direstui, Alesha akan dianak tirikan oleh ibu mertuanya nanti. Jantung Alesha mulai berdegub kencang, ia takut, hatinya terasa sakit karna pikiran dan spekulasinya itu.


"Namun melihat Jacob yang begitu bahagia saat bersamamu, ibu pun tidak bisa melakukan apa-apa. Ibu mengakui jika Jacob tidak merasakan kasih sayang dan kebahagiaan dari ibu sejak kecil, hingga tepatnya dua tahun yang lalu, ibu baru berhasil menemukan Jacob kembali. Maka dari itu, ibu ikhlas jika Jacob memilihmu sebagai pendamping hidupnya. Ibu tidak mau merenggut kebahagiaan Jacob, karna ibu juga belum bisa memberikan kebahagiaan untuknya."


"Huftt.." Samar-samar Alesha menghembuskan napasnya. Lega rasanya mendengar penjelasan lanjutan yang calon ibu mertuanya itu berikan.


"Ibu hanya ingin berpesan padamu, Al, tolong jagalah dan rawat baik-baik anak ibu, urus dan cintai dia sepenuhnya, berikan kebahagiaan untuk Jacob, mengabdilah sepenuh hati padanya," Sorot mata Laura menurun. Mungkin ia merasa sedih, dan terharu.


"Ibu sudah mempertimbangkan keputusan ibu secara matang, dan ibu akan merestui hubungan pernikahan kalian. Semoga nanti kalian bisa memberikan ibu cucu yang menggemaskan dan juga membanggakan," Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, Laura pun memeluk erat tubuh calon menantunya itu. Hingga setelah beberapa saat berlalu, Laura pun kembali membuka suaranya. "Jadilah istri dan ibu yang mampu mengendalikan rumah tangga dengan baik, Alesha. Ibu percaya kau bisa melakukannya."


Air mata Alesha menitik tanpa tertahan lagi. Inikah rasanya? Bahagia karna mendapatkan restu dari calon mertua. Alesha sudah menerima lampu hijau, pernikahannya akan digelar dua minggu lagi, lalu setelah itu hidup baru pun akan ia tempuh bersama pria yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Terima kasih, ibu," Lirih Alesha. "Terima kasih karna sudah memberikan izin pada Alesha untuk bisa menjadi menantu ibu dan istri dari anak ibu, hiks."


Wajah Alesha dibanjiri oleh tangisan haru, saking senangnya, bahkan Alesha merasakan hatinya yang turut menangis karna kabar bahagia yang telah diterima.


"Terima kasih juga karna sudah memberikan kebahagiaan untuk anak ibu, Jacob. Ibu sangat menyayangi Jacob, dan ibu juga akan menyayangimu, Alesha. Mulai sekarang anggap aku sebagai ibumu sendiri."


Bahu Alesha bergetar, sesegukan kecil membuat jalan napasnya sedikit tersendat-sendat.


***


Pagi hari yang begitu bersinar kembali hadir dan membangkitkan semangat Bastian juga kedelapan rekan setimnya untuk segera meresmikan diri sebagai karyawan SIO.


Tepat pukul delapan, sebuah mini bus berangkat menuju kantor baru SIO untuk mengantarkan satu kelompok tim alumni murid WOSA bersama seorang mentor yang selalu setia mendampingi timnya itu.


Perjalanan yang ditempuh memakan waktu kurang lebih satu jam, mengingat kantor baru SIO terletak di dalam pedalaman hutan yang berada disebuah perbukitan yang jauh dari pusat perkotaan.


Ketika mini bus itu sampai disebuah pos yang memiliki gerbang berbahan dasar besi baja yang melingkari lahan seluas dua hektar, seorang petugas keamanan pun datang menghampiri sang supir mobil.


"Ini tempatnya?" Tanya Lucas.


"Ya. Kantor SIO berada tepat di bawah kita," Jawab Alesha.


"Maksudnya?" Maudy menatap bingung pada Alesha.


"SIO tidak membangun kantor dan pusat penelitian barunya di atas tanah, melainkan di bawah tanah," Lanjut Alesha. "Hanya pihak pemerintah saja yang tahu kalau di sini SIO sudah membangun markas baru. Kerahasiaan sangat dijaga ketat, protokol keamanan tingkat tinggi sudah SIO terapkan. Seandainya ada yang tahu pun, mereka menganggap jika pihak pemerintahan daerah sedang membuat konservasi hutan di sini."


"Wow, kantor bawah tanah, aku suka itu!" Seru Merina.


Mini bus pun kembali berjalan melewati gerbang dan memasuki area tanah yang merupakan atap dari sebuah kantor besar berlantai empat di bawah tanah.


Sekitar seratus meter dari gerbang utama, mini bus tersebut berhenti tepat disebuah pohon besar. Alesha dan yang lain pun keluar dan berdiri tepat dihadapan pohon besar itu.


"Apa yang kita lakukan di sini?" Tanya Aiden


"Ada kamera berukuran sangat kecil yang berfungsi untuk memindai kode yang terdapat pada kartu anggota kalian, baru setelah itu wajah kalian akan dideteksi untuk dicocokan dengan data yang berada di kartu anggota itu," Jelas Alesha. Sebagai pembuktian, Alesha pun mengangkat id card miliknya dan dihadapkan pada satu titik dipohon itu. Tidak lama, hanya lima detik kemudian sebuah suara yang bervolume rendah pun terdengar.


Welcome to SIO'S new office, Alesha Sanum Malaika.....


"Woooo..."


"Wahhh..."


"Ya ampun, kenapa dengan tanahnya!"


Bastian dan yang lain pun terkejut karna mendapati tanah yang berada disebelah pohon itu bergerak terbuka dan menunjukkan sebuah anak tangga yang diujungnya terdapat sebuah dinding kaca.


Alesha dan Jacob hanya tersenyum ketika melihat ekspresi terkejut rekan setim mereka itu. Lalu kemudian Alesha pun menuruni anak tangga itu dan berdiri tepat dihadapan dinding kaca yang menjadi gerbang awal untuk memasuki kantor bagian dalam SIO.


"Tunjukkan kartu anggota kalian dan biarkan kamera itu mengakses wajah kalian agar kalian bisa melewati pintu kaca ini. Wajah kalian akan dideteksi kembali dipintu kaca ini," Ucap Alesha sebelum memasuki pintu kaca itu.


Nakyung menjadi yang pertama menuruti ucapan Alesha, baru setelah itu disusul yang lain.


"Bagaimana dengan Mr. Jacob?" Tanya Lucas.


"Dia sudah terdaftar, hanya tinggal menunjukan wajahnya saja pada kamera yang ada dipintu kaca ini, maka ia sudah dapat akses masuk," Jawab Alesha.


***


Untuk hari ini, ternyata Alesha dan rekan setimnya tidak akan langsung bekerja, mereka hanya melihat-lihat sembari mempelajari pekerjaan yang Jacob jelaskan dan tunjukkan, barulah besok, Alesha dan yang lain dipersilahkan untuk mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.


Posisi matahari masih berada dipuncak kepala, siang hari masih berlangsung hingga dua sampai tiga jam kedepan, sedangkan Alesha dan yang lain sudah dipersilahkan untuk meninggalkan kantor SIO itu, dan tepat di depan pohon yang menjadi pintu akses untuk para karyawan memasuki ruang kantor SIO yang berada di bawah tanah, dua mobil pun sudah menunggu, satu mobil sedan, dan satu lagi sebuah mini bus.


"Selamat siang, tuan," Sapa Taylor yang baru saja keluar dari dalam mobil sedan hitam dan tampak sederhana namun mewah itu. "Ini kunci mobilnya, tuan."


Jacob meraih kunci mobilnya yang diberikan sodorkan oleh Taylor.


"Kemana?" Tanya Alesha yang tidak tahu kalau Jacob akan membawanya pergi entah kemana.


"Masuk," Jacob membukakan pintu mobilnya untuk Alesha.


"Sudah ayo, jangan ganggu Mr. Jacob dan Alesha, biarkan mereka bersenang-senang," Sindir Nakyung dengan wajah meledeknya.


"Kau benar, tidak baik mengganggu waktu kebersamaan sepasang kekasih," Sambung Merina.


"Hey, aku bukan kekasih Mr. Jacob!" Timpal Alesha.


"Tapi kau calon istriku, sayang," Jacob menarik lembut lengan gadisnya itu agar segera memasuki mobil.


"Aish, cepat-cepatlah kalian menikah, aku ingin memiliki keponakan baru dari kalian," Ledek Merina.


"Bukan hanya kau saja, Merina, kita semua menantikan bayi yang nanti akan Mr. Jacob dan Alesha hasilkan."


Ucapan Lucas barusan sontak saja membuat rekan-rekan setimnya yang lain tertawa puas.


"Hahahah, kau benar, Lucas, aku setuju!" Sahut Tyson disela-sela tawanya.


"Hahahah, Mr. Jacob, kapan kau akan menikahi Alesha agar kalian bisa segera membutkan keponakan baru untuk kami?" Tanya Mike.


"Mike!!" Pekik Alesha sembari membidik Mike dengan tatapan tajamnya.


Mendengar pertanyaan dari Mike, Jacob menyeringai sembari terkekeh kecil. "Dua minggu lagi."


"APA?" Kata itu diucapkan secara serentak oleh Bastian dan ketujuh anggota timnya.


"Astagfirullah.." Alesha bergumam lirih sembari menepuk keningnya sendiri.


Setelah itu, Jacob pun berjalan memasuki mobilnya dan meninggalkan ketujuh anak asuhnya yang lain yang masih menampakkan ekspresi syok yang dipadukan dengan keterkejutan.


"Kau membuatku malu," Lirih Alesha tanpa memberikan pandangannya pada Jacob.


Tin..


Suara klakson mobil yang Jacob berikan tanda kalau ia dan Alesha pamit untuk pergi terlebih dahulu.


"Mr. Jacob, kau mau membawaku kemana?" Tanya Alesha.


"Kemana saja, ini masih siang, kita bisa mengelilingi kota," Jawab Jacob, santai.


Alesha tidak membalas. Ia hanya pasrah karna Jacob akan membawanya berkeliling kota Bandung.


Disepanjang jalan, Alesha hanya menatap keluar jendela dan melihat semua objek yang dilewati oleh mobil yang sedang Jacob kemudikan itu.


Merasa bosan, Alesha pun menyandarkan kepalanya pada kaca mobil milik Jacob. Niat hati ingin merileksasikan pikirannya, namun yang terjadi malah sebaliknya, Alesha teringat dengan kelompok teaternya. Maklum Alesha alumni eskul teater ketika ia masih di kuliah, dan setelah lulus dari WOSA, Alesha memilih menghabiskan waktunya dengan bergabung bersama kelompok teater pemuda Bandung.


"Mr. Jacob, Alesha ingin pergi ke alun-alun untuk bertemu dengan anggota teater yang lain. Mr. Jacob tahukan kalau Alesha itu gabung sama kelompok tetaer pemuda Bandung?"


"Alesha, panggil namaku saja, aku tidak suka panggilan lamamu!" Balas Jacob.


"Ck, baiklah!" Alesha berdecak sebal. "Jack, Alesha ingin pergi ke alun-alun, teman-teman teater Alesha sedang berkumpul di sana sekarang."


"Aku temani!"


Satu kalimat balasan dari Jacob itu membuat Alesha sebal.


"Tidak usah, aku merasa tidak enak dengan yang lain jika membawamu," Balas Alesha.


"Ada Rama, Adit, dan Rizki di sana, aku tidak mau mereka mendekatimu lagi! Aku ikut atau kau akan aku kurung di apartemen!"


"Kau pikir aku takut? Silahkan saja kurung aku, dan itu berarti menandakan kalau kau tidak benar-benar mencintaiku!"


Balasan yang Alesha berikan membuat Jacob terkejut bukan main. Jantung pria itu berdegub kencang, dengan ekspresi sawan yang begitu kentara pada wajahnya. Mendadak Jacob menghentikan laju mobilnya.


"Apa maksudnya, Alesha?" Kini Jacob menatap tajam pada Alesha.


"Kau tidak mempercayaiku, itu berarti kau tidak benar-benar mencintaiku, buktinya saja aku hanya ingin berkumpul dengan anggota teater dan kau malah melarangnya!" Alesha melipatkan kedua tangannya dengan pandangan wajah yang sengaja dialihkan dari tatapan Jacob.


"Aku bukan tidak mempercayaimu, Alesha. Di sana ada Rama, Rizki, dan Adit, aku tidak mau mereka mendekatimu, setidaknya jika aku ikut mereka akan sadar jika kau sudah menjadi milikku!"


"Terserah..." Balas Alesha yang malas berdebat.


"Kau akan ke sana, dan aku akan tetap mengantarkanmu!" Jacob tidak perduli dengan balasan yang akan Alesha berikan, ia hanya tidak mau melihat tiga pria yang sebulan lalu sudah diwanti-wanti oleh anak buahnya kembali mendekati Alesha.


Tampak wajah Alesha yang terlihat cukup sebal karna keputusan Jacob, namun gadis itu enggan bertengkar hanya karna hal sepele saja.


Satu jam dalam mobil, kedua insan itu sama-sama tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Jacob sibuk menyetir dan memilih jalan, sedangkan Alesha memilih untuk mendengarkan musik dari ponselnya yang dihubungkan oleh earphone. Hingga tak terasa, mobil yang mereka tumpangi pun telah sampai di alun-alun kota.


"Alesha, kita sudah sampai," Ucap Jacob.


"Hmm..." Hanya deheman kecilah yang Alesha balaskan.


"Kau masih marah padaku?" Tanya Jacob dengan raut yang menuntut jawaban dari Alesha.


"Tidak."


"Kalau tidak kenapa kau jutek sekali padaku?"


Alesha menghembuskan napasnya, lalu ia menghadapkan wajahnya pada Jacob. "Aku tidak marah padamu," Alesha tersenyum manis sembari memberikan belain lembut yang begitu singkat pada pipi Jacob.


Wajah Jacob langsung memerah, sekujur tubuhnya memanas akibat ulah gadisnya itu. Pertama kalinya untuk Jacob merasakan kelembutan Alesha yang muncul dari dalam diri gadis itu sendiri, biasanya Jacob harus memancing terlebih dahulu, tapi kali ini tidak.


"Sudah, tidak usah tersipu seperti itu, ayo, kita keluar," Lanjut Alesha yang menyadari ketersipuan Jacob.


Alesha yang sudah tidak sabar untuk segera menemui teman-teman kelompok teaternya itu langsung membuka pintu dan beranjak dari dalam mobil, disusul Jacob yang masih tersipu malu.


Alesha berjalan beberapa langkah didepan Jacob. Seperti biasanya, Alesha selalu bersemangat ketika ia akan berkumpul dengan kelompok teaternya itu. Namun sepertinya tidak untuk kali ini. Secara tiba-tiba Alesha pun menghentikan langkah kakinya dan mematung pada jarak beberapa meter dari teman-teman sesama anggota teater itu.


Datar namun tegang. Wajah Alesha sedikit memucat. Jacob langsung panik ketika menyadari gadis yang mendadak berubah menjadi seperti patung.


"Alesha, kau kenapa?" Jacob yang khawatir pun mencoba mengguncangkan tubuh Alesha agar gadisnya itu bisa sadar dari lamunannya.


"A-Adam..."