
Pukul 08.00 WIB
"Sudah semua, Lil Ale?" Tanya Jacob.
Alesha yang baru saja membereskan pakaian, juga barang-barang yang akan dibawa pulang ke rumahnya pun mengangguk. "Sudah."
"Taylor, tolong bawa koper, dan tas-tas ini ke mobil!" Titah Jacob.
"Baik, Tuan," Patuh Taylor yang segera menuruti perintah tuannya.
"Alshiba dimana?" Tanya Jacob, lagi.
"Masih tidur," Jawab Alesha.
"Yasudah, mending kau cepat bawa dia, ibu sudah menunggu di lobi bawah," Ucap Jacob.
"Iya, iya, oh ya kakek sudah ada di ruang tamukan?"
"Iya, sayang."
"Yasudah, kalau begitu kau cepatlah pergi ke ruang tamu, aku akan membawa Alshiba dulu."
Kemudian Alesha pun bergegas menuju kamar untuk membawa bayinya yang tengah tertidur.
Ya, setelah mandi tadi, Alesha langsung menyusui, dan meniduri anaknya itu agar ia bisa segera mandi, dan mengemas semua pakaian juga perlengkapan untuk dibawa kembali ke mansionnya.
*Di ruang tamu
Jacob sedang berbincang kecil bersama kakek istrinya, yaitu kakek Ujang.
Sebenarnya kakek Ujang sedikit terkejut karna keputusan cucunya yang akan kembali pulang secara mendadak. Rasanya seperti berat karna kakek Ujang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran cucu kesayangan, juga cucu buyutnya itu.
"Tolong jaga Alesha, dan Alshiba dengan baik, jangan terlalu sering bentak, dan marahin Alesha. Kalau dia ada salah tegur dia baik-baik."
Ucapan kakek Ujang barusan sukses membuat Jacob merasa malu. Pasalnya, kakek Ujang sudah tahu sebab permasalahan Jacob dengan Alesha beberapa hari lalu hingga tidak akur sampai berminggu-minggu.
"Alesha anaknya suka banget dimanja, dari kecil dia selalu manja-manja sama orang tuanya, cuman ya semenjak umi sama bapaknya meninggal, Alesha jadi berubah. Tolong buat dia bahagia, kakek sayang banget sama Alesha, dia anak yang baik, dan pinter kaya bapaknya, Alesha cukup menderita sejak orang tuanya meninggal. Kakek sering sakit, dan kakek selalu nyusahin dia, makanya sekarang kakek pengen banget liat dia bahagia. Kakek serahin cucu kakek sama kamu karna kakek yakin kamu itu pria yang bertanggung jawab, jadi tolong jadilah suami yang bisa memimpin keluarga juga imam yang baik."
Jacob mengangguk. Ia akan selalu mengingat pesan kakek istrinya itu.
"Insyaallah, Kek, Jacob bakal berusaha buat jadi suami, imam, dan ayah yang baik. Jacob gak akan lepas tanggung jawab kok, Jacob bakal selalu jaga Alesha, dan Alshiba karna Jacob sayang banget sama mereka," Balas Jacob.
"Jack, ayo," Ucap Alesha yang kebetulan datang. "Oh ya, Kakek, Alesha sama Alshiba mau pamit dulu ya, makasih seminggu ini udah izinin Alesha buat nginep, nanti Alesha bakal sering-sering maen ke sini kok sama Alshiba," Alesha menyunggingkan senyum manis pada kakeknya.
"Iya, Neng, hati-hati ya di jalan, pokoknya eneng, Jacob, sama Shiba sering-sering maen ke sini ya," Balas kakek Ujang.
"Iya, kek, yaudah eneng pamit dulu ya, kek," Alesha pun mencium punggung telapak tangan kakeknya sebagai tanda hormat, dan adab sopannya terhadap sang kakek yang sudah membesarkannya. Diikuti Jacob, pria itu pun melakukan hal yang serupa untuk memberikan hormat pada kakek istrinya.
"Assalamualaikum, Kek," Ucap Alesha sebelum akhirnya ia pergi bersama suaminya, Jacob juga tiga pengawal.
"Waallaikumussalam, hati-hati kalian.." Balas kakek Ujang.
"Iya, Kek," Alesha mengangguk.
Setelahnya, sepasang suami istri beserta seorang bayi, dan tiga pengawal itu pun berjalan menyusuri lobi lalu masuk ke dalam lift untuk menuju lantai dasar gedung apartemen mewah milik ibunda Jacob tersebut.
"Oh ya, kita belum berpamit pada yang lain," Ucap Alesha yang dimaksudkan pada ketujuh temannya yang juga tinggal disalah satu unit gedung apartemen itu.
"Tidak usah pamit, nanti juga mereka akan main ke rumah," Balas Jacob sembari merangkul pinggang istrinya.
Mengingat mereka dari lantai tiga puluh dua, jadi ya cukup memakan waktu yang lama pula untuk mereka tiba di lantai dasar.
Kurang lebih tiga menit mungkin, lift pun berhenti, dan pintunya terbuka. Jacob, dan Alesha segera berjalan disusul ketiga pengawalnya.
"Selamat pagi Tuan, dan Nona," Ucap sang kepala pengurus apartemen itu dengan ramah.
"Dimana ibu?" Tanya Jacob.
"Nyonya Laura sudah menunggu di luar, Tuan."
"Baiklah, terima kasih."
"Sama-sama, Tuan."
Beberapa pelayan, dan pegawai apartemen pun menundukkan kepala mereka untuk memberi hormat ketika melihat anak, menantu, dan cucu dari sang pemilik gedung apartemen lewat.
"Jack, aku merasa tidak enak," Bisik Alesha.
"Kenapa?" Tanya Jacob dengan arah tatapan yang masih lurus ke depan sembari terus berjalan.
"Para pegawai itu, mereka menunduk hormat pada kita."
"Memangnya kenapa?" Jacob terkekeh.
"Tidak apa, aku merasa tidak enak saja," Alesha celingak-celinguk, menatap kesegala sudut yang dilaluinya.
Kaki yang terus melangkah, tidak terasa kini mereka telah sampai di depan halaman apartemen. Dua mobil mewah hitam mengkilat sudah menunggu, juga tiga mobil sedan lain yang akan mengawal perjalanan Laura beserta anak, cucu, dan menantunya.
"Apa ibu selalu diikuti oleh anak buah sebanyak itu, Jack?" Tanya Alesha yang sudah terduduk nyaman di dalam mobil.
"Tentu saja," Jawab Jacob, santai.
"Aku setiap hari diikuti oleh Taylor, dan beberapa anak buahnya benar-benar merasa risih," Ucap Alesha yang sekalian mengutarakan isi hatinya. "Bagaimana ibu ya?"
"Ibu memiliki banyak perusahaan, otomatis saingannya juga banyak. Kita tidak tahu apa yang direncanakan musuh dan para pesaing itu, bisa jadi tiba-tiba mereka berniat untuk membunuh ibu pada waktu, dan tempat yang tidak diduga-duga. Begitu pula denganmu, Lil Ale," Jacob mencium gemas pipi istrinya. "Bagaimana jika saat aku tidak sedang bersamamu, dan tiba-tiba saja ada yang mencoba untuk merebutmu, atau membawamu kabur, atau apapun itu yang didasari oleh niat jahat. Aku ingin memastikan keamananmu, sayang."
"Aku hanya tidak mau menyusahkan orang lain, Jack."
"Apa kau merasa kesusahan, Taylor?" Tanya Jacob pada Taylor yang duduk disebelah supir.
"Tidak, Tuan, saya malah senang bisa dipercaya untuk menjaga Nona," Jawab Taylor dengan senyum ramahnya.
"Dengar, sayang?" Jacob menatap istrinya.
"Hmm..." Alesha memutar bola matanya dengan jengah.
Memang kadang Alesha merasa kalau suaminya itu terlalu berlebihan, padahal selama ini meski pun tidak memiliki penjaga atau pengawal Alesha biasa-biasa, saja tidak ada yang mengganggunya, apalagi sekarang ini ia juga sudah cukup lihai dalam bela diri, preman mana yang berani menghadapinya?
Huh, dasar Jacob. Tapi meski begitu, Alesha tetap bersyukur karna memiliki suami yang benar-benar menjaganya.
Mr. Jacob, makasih banyak udah berjasa dalam hidup Alesha. Jagain Alesha, selalu perhatian sama Alesha, dan yang pasti, makasih udah pilih Alesha sebagai wanita pendamping hidup, Alesha bakal terus berusaha buat jadi istri, dan ibu yang lebih baik lagi. Hehehe, Mr. Jacob. Ya ampun, Alesha sebenernya kaya masih gak enak sama kurang sreg aja kalau panggil nama doang, udah terlanjur nyaman sama panggilan lama sih......... Alesha tersenyum-senyum sendiri karna ulah pikirannya itu. Memang sih, sejujurnya Alesha masih kurang nyaman dengan panggilan sayang 'Jack', atau pun 'Jacob'. Karna entah kenapa image seorang mentor dari dalam diri Jacob belum juga hilang menurut Alesha, dan kadang Alesha sendiri masih merasa jika ia adalah anak didik si pria besar itu.
Sudah setahun Alesha lulus dari WOSA, dan ia juga sudah menimang seorang anak dari hasil perkawinannya dengan sang mentor. Tidak. Jika saja tahun ajaran WOSA tidak berubah menjadi dua tahun, dan tetap tiga tahun, maka Alshiba, dan Khalid belum lahir, dan Alesha pun belum resmi menjadi istri mentornya sendiri.
Aish, kenapa Alesha jadi berpikiran ke sana. Sudahlah, semua sudah terjadi, dan berlalu. Alesha juga tidak menyesal telah menikah dengan Jacob, toh pria yang menjadi mentornya itu sangat baik, ramah, murah senyum, dan yang pasti bertanggung jawab juga penuh kasih sayang, dan cinta.
"Tuan, kita sampai.." Ucap Taylor.
Sampai? Cepat sekali. Tidak terasa ya, jadi selama perjalanan setengah jam tadi Alesha terus melamun, dan asik berkutik dengan pikirannya?
"Sayang, ayo," Ucap Jacob sembari bergerak keluar dari dalam mobil.
Alesha dibantu oleh supir untuk keluar, ia cukup kesulitan karna membawa bayinya yang masih terlelap.
"Jack, Sharon akan sampai sekitar satu jam lagi," Ucap Laura yang memberitahu jika adik bungsu Jacob itu akan datang, dan juga akan segera tiba.
"Taylor, jemput Sharon di Bandara!" Perintah Jacob.
"Baik, Tuan," Taylor mengangguk patuh, dan segera menuruti perintah tuan mudanya itu.
"Ayo, sayang. Ibu aku ke kamar duluan bersama Alesha," Ucap Jacob sembari merangkul pinggang istrinya.
"Iya, tapi nanti kalau Alshiba sudah bangun langsung beritahu ibu," Balas Laura.
"Iya, Ibu," Sahut Alesha sembari menunjukkan senyum manisnya.
Lalu setelah itu, Alesha, dan Jacob pun pergi menuju kamar mereka.
****
Kembali menuju apartemen, tepatnya di unit apartemen Bastian, dan ketujuh kawannya, kini mereka sudah bersiap untuk pergi ke mansion Alesha, dan Jacob.
Untuk apa? Tentu saja untuk berkunjung. Hari ini weekend, SIO libur, dan lagi pula mereka merindukan masa-masa ketika di WOSA dulu, berkumpul bersama mentor mereka, saling berbincang, dan bercanda gurau.
"Mike, kau yang menyetir," Ucap Lucas sembari melemparkan kunci mobil pada kawannya itu.
"CK, dasar!" Dumal Mike pada Lucas.
"Sudah ayo cepat, aku sudah menunggu dari tadi tahu," Sahut Maudy yang sudah tidak sabar untuk segera pergi.
"Duluan saja ke mobil, kami menyusul," Balas Bastian.
"Yasudah, come on girls!! " Maudy pun berjalan menuju tempat parkir yang berada di bawah lantai dasar, dan disusul oleh kedua temannya Nakyung, dan Merina, mereka bertiga pergi mendahului para lelaki yang masih sibuk dengan urusan masing-masing.
"Aku masih percaya tidak percaya Mr. Jacob mengizinkan kita untuk menginap di mansionnya," Ucap Tyson.
"Aku juga, mungkin Alesha yang memintanya," Sambung Aiden.
"Tidak. Ada sesuatu yang ingin Mr. Jacob bicarakan dengan kita," Sanggah Bastian.
"Sesuatu yang ingin dibicarakan? Apa itu?" Tanya Lucas.
"Entah, aku juga tidak tahu," Bastian mengedikkan bahunya.
"Tapi sepertinya hal yang cukup serius," Ucap Tyson sembari memicingkan kedua matanya.
Mike yang semula terduduk santai pun kini bangkit berdiri. "Kita lihat saja nanti. Ayo kalian sudah selesaikan? Aku malas mendengar ocehan tiga gadis itu jika kita telat sedikit saja."
Lucas menjentrikkan jarinya. "Kau benar."
Akhirnya kelima remaja dewasa itu pun pergi meninggalkan unit apartemen mereka, dan menyusul ketiga teman perempuannya yang telah lebih dulu pergi menuju parkiran.