May I Love For Twice

May I Love For Twice
On The Way



Di dalam pesawat, Jacob terus saja berada disisi Alesha, sedangkan Laura hanya bisa memandangi anak lelakinya yang sedang dalam keadaan terpuruk itu.


Suasana dalam pesawat begitu hening dan aura menyedihkan yang Jacob pancarkan menyebar di ruangan pesawat itu. Tidak ada yang membuka suara selain Jacob yang terus saja berbisik pada telinga Alesha.


"Kau akan bangun dan membawa keceriaan lagi, karna aku tidak akan membiarkanmu terus berada dalam kondisi seperti." Jacob mendarkan kepalanya pada pinggiran sofa sebelah leher Alesha. Kepedihan mendalam terus menetap hingga Jacob tidak lagi bisa mengeluarkan air matanya.


"Kau tahu, aku selama ini selalu berpikir kalau kau dan Yuna itu sama, dan aku pikir aku tidak bisa melupakan Yuna karnamu, namun semakin berjalannya waktu, aku sadar kalau kalian memang berbeda. Kau akan tau nanti apa yang aku sembunyikan selama ini, dan aku tidak akan memberitahukan padamu sekarang." Ucap Jacob yang tersenyum kecut. Tangan besarnya terus mengelus lembut jemari Alesha. "Kau hanya gadis remaja, pikiranmu belum sematang pikiranku, namun sikapmu yang manis membuatku selalu nyaman jika kau bersamaku. Awalnya aku tidak perduli akan hal itu, namun aku tidak mau membohongi diriku sendiri kalau aku tertarik padamu, Little Ale." Sebuah senyum yang menunjukan kesedihan tercipta jelas pada wajah Jacob. Memejamkan mata dan membenamkan wajah disisi leher Alesha membuat Jacob merasa nyaman dan takut. Nyaman karna ia bisa merasa lebih dekat dengan Alesha, dan takut karna denyut nadi dileher Alesha semakin melambat dan berkurang.


"Baby Ale, dan sekarang kau Little Ale. Kau suka panggilan itu?" Bisik Jacob sambil mengusap pelan pipi Alesha. "Segeralah buka matamu, aku ingin melihat senyum dan tawa jahilmu."


Segera Jacob menyandarkan kepalanya pada lengan sofa yang empuk dan tebal. Pandangannya kini tertuju pada Levin dan Bastian.


"Kau ikut?" Tanya Jacob pada Bastian.


"Mr. Levin menyuruhku." Jawab Bastian sambil menunjuk pada Levin yang sedang asik memandangi awan lewat jendela pesawat.


"Dan siapa yang akan menggantikanmu?" Tanya Jacob lagi.


"Nakyung, aku sudah menghubunginya, dan aku rasa dia bisa menggantikanku sementara karna dia gadis yang cukup tegas." Jawab Bastian dengan ragu-ragu.


Jacob tidak membalas ucapan Bastian. Terlalu malas untuknya berkomunikasi dengan siapa pun untuk saat ini. Hatinya masih dipenuhi dengan kabut asap, dan pikirannya seperti semrawut benang yang saling terikat namun berantakan. Sulit untuk Jacob menahan tekanan yang saat ini melanda dirinya. Kemudian Jacob pun berpikir, apakah ini juga menjadi salah satu ajang pembuktian sejauh mana perasaan Jacob pada Alesha? Melihat Alesha yang sekarat untuk kedua kalinya adalah hantaman keras untuk diri Jacob, dan sialnya lagi Mack berhasil kabur setelah tindakan tidak bermoralnya pada Alesha. Jacob memperkirakan kalau Mack pasti akan terus memburu Alesha kalau tahu Alesha belum meninggal. Jacob akan mencaritahu alasan sebenarnya kenapa Mack begitu benci pada kedua orang tua Alesha hingga berhasil membuat status Alesha berubah menjadi anak yatim piatu yang tidak terurus.


Tanpa terasa tangan Jacob terkepal kuat dan rahangnya merengas. Sungguh Laura merasa sedih saat melihat Jacob yang begitu terpuruk dan dipenuhi oleh amarah. Pertanyaan muncul dalam benak Laura, ada hubungan apa Jacob dan murid WOSA itu? Jika Laura yang ada diposisi Alesha, apa Jacob akan seperti itu juga? Mungkin tidak, Jacob terlanjur kecewa pada ibunya, Laura. Laura juga tidak bisa menyalahkan Jacob atau pun Mona, karna bagaimana juga kesalahan terbesar ada pada dirinya dan mendiang suaminya. Ingin sekali Laura merutuki dirinya, namun itu tidak akan berguna.


"Nyonya, kita akan mendarat lima belas menit lagi." Ucap seorang pramugari pesawat. Laura hanya membalas dengan anggukan kecil.


"Oh, ya, kalian sudah menghubungi pihak rumah sakit kan?" Tanya Laura.


"Sudah, Nyonya. Ambulance akan tiba di lapangan parkir pesawat saat kita sudah sampai." Jawab Pramugari itu. Laura mengangguk paham. Segera pramugari itu kembali ke tempat duduknya.


Keheningan kembali melingkupi ruangan dalam pesawat itu. Semua yang ada di dalam pesawat terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Begitupula Jacob yang hanyut dalam rasa panik dan khawatirnya. Lautan ketakutan seperti menenggelamkan Jacob ketitik terdalam. Harapan Jacob saat ini adalah agar Alesha bisa secepat mungkin ditangani. Jemari Jacob yang sudah terkepal kuat menjadi titik kumpul rasa frustasiannya.


"Nyonya, gadis ini kehilangan banyak gerakan denyut nadi, nafasnya juga terus berkurang, dia harus cepat diberi obat." Ucap perawat pribadi Laura dengan panik. "Tekanan darahnya semakin menurun." Lanjut perawat pribadi itu.


Telinga Jacob tidak dapat mengelak dari kata-kata yang baru saja didengarkan. Hatinya juga semakin tercengkram dan semua terasa sesak untuk Jacob.


"Kau kuat, kau pernah sekarat, dan kau bisa melalui itu, kali ini kau juga harus bisa!" Jacob mengenggam kuat jemari Alesha yang sudah kaku. "Jangan lagi, kumohon, jangan pergi Alesha, aku masih mau membuktikan pada hati dan diriku, kau harus bisa! Aku menuntutmu! Kau selalu patuhkan pada perintahku, dan kau harus patuh juga kali ini!" Jacob mendekatkan wajahnya pada wajah Alesha hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Bagaimana Jacob bisa meluapkan segala emosi, takut, khawatir, dan semua hal yang saat ini menghantam dirinya? Sangat berat untuk Jacob melihat Alesha yang terbaring kaku bagai mayat. Tiada hentinya hati Jacob dihujani oleh rasa takut yang amat sangat. Cukup Yuna, Jacob tidak ingin kehilangan gadis yang ia pilih untuk kedua kalinya.


Tidak ada yang bisa Jacob lakukan selain memeluk erat tubuh Alesha dengan posesif. Rasa tidak ingin kehilangan Jacob membuat pelukannya semakin kencang.


"Ada hubungan apa Jacob dan gadis itu?" Tanya Laura pada Levin.


"Tidak ada." Jawab Levin singkat.


"Kau yakin? Tapi, kenapa Jacob terlihat begitu terpuruk?" Tanya Laura lagi.


"Mungkin dia menyukai gadis itu." Jawab Levin.


Laura sedikit menyerngit saat mendengar ucapan Levin barusan. Jacob anaknya menyukai Alesha? Ada sedikit rasa mengganjal dalam hati Laura jika benar Jacob menyukai gadis yang sekarang sedang terbaring kaku itu.


Di dalam mobil ambulance, Jacob tidak bisa melepaskan tangan Alesha yang sedari tadi ia genggam. Dua orang perawat lainnya sibuk memasangkan segala macam alat untuk membantu Alesha bertahan. Padatnya lalu lintas jalanan disalah satu kota di Australia membuat sang supir mobil ambulance cukup kesulitan menginjak pedal gas agar mobil bisa melaju sekencang mungkin untuk segera sampai di rumah sakit. Jacob semakin panik saat tiba-tiba saja mobil ambulance yang ia tumpangi bersama yang lain berhenti secara mendadak.


"Apa yang terjadi?" Tanya Jacob pada sang supir. Kemudian matanya teralihkan menuju luar jendela. Ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan mobil ambulance, dan ada sekitar lima orang lelaki yang keluar dari dalam mobil itu. Sang supir ambulance terlihat gemetar.


"Siapa mereka?" Tanya Jacob pada sang supir.


"Mereka adalah kelompok geng jalanan yang baru saja keluar dari dalam penjara. Mereka selalu membuat onar di jalanan sini." Ucap sang supir yang sudah salah tingkah ketika melihat kelima lelaki pembuat onar itu mendekati mobil ambulance yang dibawanya.


Tok...tok...tok...


Salah seorang dari lima lelaki itu memukul kaca mobil dengan keras.


"Buka pintunya!" Bentak lelaki itu.


Jacob menatap tajam lelaki itu. Bisa-bisanya mereka menghadang mobil ambulance. Dasar tidak bermoral.


Jacob pun geram. "Jangan buka pintunya, biar saya yang urus mereka." Segera Jacob keluar dari dalam mobil ambulance itu.


Berdirlah Jacob dihadapan kelima lelaki yang menghadang mobil ambulance yang sedang terburu-buru untuk sampai ke rumah sakit.


"Siapa kau?" Bentak lelaki yang bertubuh tunggu dan besar.


Wajah Jacob datar, namun sorot matanya begitu tajam seakan sebuah anak panah yang sedang membidik sasarannya.


"Pergi atau kalian akan menyesal." Ucap Jacob dengan dingin.


Salah satu dari lima lelaki itu menyeringai meremehkan Jacob. "Berani sekali kau." Ucap lelaki itu lalu berjalan mendekati Jacob.


Sebuah kepalan tangan sudah siap dan sedang melesat menuju wajah Jacob. Jacob menegakkan wajahnya lalu menahan kepalan tangan lelaki itu tepat dihadapan wajahnya.


"Kau akan menyesal." Jacob memutar lengan lelaki itu kemudian menguncinya sekuat tenaga. Dua orang lain maju dan berusaha menyerang Jacob, sejujurnya Jacob sedang malas bertarung seperti itu karna ia begitu mengkhawatirkan Alesha, namun tidak ada jalan lain selain menghabisi lima kutu jalanan itu. Saat yang lain berusaha menyerang Jacob, dengan santainya Jacob menggunakan lelaki yang tadi berniat menonjok wajahnya sebagai alat yang mana semua pukulan yang dilayangkan untuk Jacob menjadi mengenai lelaki itu. Jacob tidak memberikan serangan atau pun pukulan balik. Kelima lelaki itu saling pukul memukul secara tidak disengaja karna gerakan dan teknik bela diri Jacob yang begitu rumit dan hebat.


Di belakang, mobil yang ditumpangi Laura berhenti. Ibunda Jacob itu sangat panik ketika melihat anaknya, Jacob sedang menghadapi lima orang lelaki sekaligus. Langkah kaki Laura bergerak berusaha untuk mendekati Jacob, namun tiba-tiba saja Levin menahannya.


"Biarkan Jacob mengurus itu sendirian. Kelima lelaki itu hanya tikus-tikus kecil untuk Jacob." Ucap Levin.


"Kau gila, anakku bisa terluka!" Bentak Laura yang berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Levin.


"Tidak Nyonya, kau lihat kalau Jacob tidak melakukan pukulan sekali pun, malah kelima lelaki itu saling memukul satu sama lain." Balas Levin. "Pak supir, cepat bawa mobilnya!" Perintah Levin pada sang supir ambulance. Segera kaki sang supir menancap gas kembali lalu menjalankan mobil ambulance itu.


Jacob yang menangkap pergerakan mobil ambulance yang sudah melaju kencang segera menjorongkan lelaki yang sedari tadi dijadikan tameng. Keempat lelaki yang lain sudah tersungkur lemah diaspal pinggir jalan raya.


"Jacob, kita harus cepat!" Teriak Levin sembari masuk ke dalam mobil. Jacob berbalik dan segera menyusul Levin untuk menaiki mobil.


Segera setelah semua kembali masuk ke dalam mobil, sang supir melajukan mobil itu dengan kecepatan sedikit diatas rata-rata.