May I Love For Twice

May I Love For Twice
Lost Memory



"Mr. Jacob." Panggil Alesha pelan.


"Ya?"


"Bisa kau lepaskan aku?" Ucap Alesha yang mulai merasa tidak nyaman dengan posisinya yang masih berada dalam pelukan kasih sayang sang mentor.


"Tidak." Jawab Jacob singkat dan pelan.


Alesha mengerutkan keningnya. Tidak? Maksudnya apa? Mentornya itu tidak mau melepaskan pelukannya?


Lalu bagaimana? Alesha tidak mungkin dan tidak mau juga terus berlama-lama berpelukan dengan mentornya. Kemudian Alesha pun mencari alasan agar Jacob mau melepaskannya. "Aku ingin istirahat, Mr. Jacob."


Barulah setelah kalimat Alesha itu, Jacob pun tersadar. Dengan berat hati ia pun harus memaksa tubuhnya agar melepaskan tubuh Alesha.


"Istirahat di kamarku, jika di sini takutnya nanti akan ada seseorang yang datang." Ucap Jacob.


"Tidak, aku tidak mau." Tolak Alesha. "Aku tidak mau mencoreng nama baikku sebagai siswa WOSA dengan tertidur di kamar mentornya sendiri."


"Siapa yang akan mencoreng nama baikmu? Tidak akan ada yang melihatmu tidur di kamarku, bahkan aku juga. Kau kunci saja pintu kamarnya dari dalam lalu tutup jendelanya. Aku akan tetap di ruangan ini karna aku harus banyak mengerjakan pekerjaanku yang banyak tertunda, aku tidak tenang jika membiarkanmu sendiri di kamar messmu." Balas Jacob.


Alesha terdiam. Ia ingin sekali menolak karna bagaimana juga akan sangat tidak sopan jika ia tidur di kamar mentornya kali ini. Alesha takut pihak WOSA ada yang tahu dan mengadukan yang tidak-tidak pada Mr. Thomson.


"Sudah tidak usah banyak berpikir. Ayo cepat masuk dan tidur, kunci pintunya dari dalam!" Jacob bangkit dan menarik lengan Alesha agar mau berjalan ke arah kamarnya.


"Mr. Jacob, aku takut kalau..."


"Tidak akan ada yang tahu, aku bilang kau bisa kunci pintunya dari dalam."


"Bagaimana dengan CCTV?" Akhirnya Alesha mendapat kalimat yang tepat untuk dijadikan alasan.


"Tidak ada CCTV di kamarku."


"Bukan di kamarmu, lihat itu." Alesha menunjuk CCTV yang berada di sudut tembok bagian atas ruangan itu.


"Yang penting penjaganya tahu kalau kita tidak melakukan apapun. Aku kan sudah bilang kalau aku akan berada di ruangan ini untuk mengerjakan pekerjaanku, dan aku juga tidak akan masuk ke kamarku selama kau istirahat." Balas Jacob yang tetap teguh pada pendiriannya agar Alesha tetap tidur di kamarnya.


"Iya tapi bagaimana kalau nanti ada yang menegur kita walau kita tidak melakukan apapun?" Alesha mulai panik.


"Katakan saja yang sebenarnya, aku tidak tenang jika kau berada di kamar messmu sendirian dengan kondisi seperti ini, dan aku juga harus menyelesaikan semua pekerjaanku."


"Tapi.."


"Jangan banyak tapi-tapi, masuk saja dan istirahat, tidak akan terjadi apapun." Jacob pun memaksa Alesha untuk masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya Jacob punya alasan lain mengapa ia sangat memaksa Alesha untuk tidur di kamarnya. Jacob ingin memastikan Alesha berada dekat dengannya, dan jauh dari jangkauan Levin yang selalu saja dengan sengaja menguji rasa kecemburuan Jacob.


"Tunggu, bonekaku!" Pekik Alesha dari dalam kamar.


"Sebentar." Jacob pun segera mengambil boneka Alesha.


"Ini dan istirahat lah, kau hanya perlu tenang karna tidak akan ada yang menegurmu atau aku." Ucap Jacob seraya memberikan boneka besar itu pada Alesha.


"Mr. Jacob!" Pekik Alesha. Ucapan Jacob berbanding terbalik kali ini, bukan Alesha yang mengunci pintunya dari dalam, melainkan Jacob yang merebut kunci itu dan menguncinya dari luar.


"Maaf, mungkin jiwa posesifku sedang muncul kali ini, aku hanya ingin kau dekat denganku untuk saat ini." Gumam Jacob. "Setidaknya aku bisa tenang melanjutkan pekerjaanku tanpa khawatir dengan Levin yang akan mendatangimu nanti." Lanjutnya.


"Ya ampun, Mr. Jacob tuh ya iihhh, awas lu ya, bales nanti ama Alesha!" Ucap Alesha dengan geram.


"Aduh! Ck, nih pala segala sakit terus lagi!" Alesha pun mengoceh kesal, ia ingin marah tapi percuma, tapi kepalanya pun masih terasa sakit.


Akhirnya Alesha membalikkan tubuhnya dan menatap pada kasur besar tempat yang biasa mentornya itu tiduri.


"Kalo gini caranya Alesha gak bakal bisa istirahat, kunci diambil ama dia, ya otomatis dia bisa masuk dong tanpa sepengetahuan Alesha. Terus gimana Alesha mau istirahat? Ya Allah nyebelin serius punya mentor kaya Mr. Jacob!"


Alesha pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju salah satu kursi yang berada didekat jendela. Duduk lah Alesha pada kursi dengan menaruh kedua lengannya berada diatas meja.


Pandangan Alesha teralihkan pada hamparan langit biru dan ombak laut yang berjarak tidak jauh dari belakang gedung mentor. Tapi ekor matanya tiba-tiba saja menangkap satu objek yang berada tidak jauh dari posisi lengannya.


Sebuah kotak yang sangat menarik perhatian Alesha. Kotak itu berukuran sedang dan terlihat kusam. Benda misterius apa yang ada didalam kotak itu? Pikir Alesha. Yang membuat Alesha bingung adalah bukan karna kotaknya, melainkan kertas kecil bertuliskan Lost Memory yang menempel pada kotak itu. Apa mungkin Yuna? Alesha beranggapan kalau kenangan mentornya itu bersama mantan kekasihnya disimpan baik-baik dalam kotak itu.


Atas perintah otaknya, Alesha pun mengambil kotak misterius itu dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Pertamanya Alesha menolak dan enggan membuka kotak itu karna bagaimana juga itu adalah barang pribadi milik mentornya, tapi sayang rasa penasaran Alesha mengalahkan itu semua.


"Maaf, Mr. Jacob kalau Alesha lancang, tapi Alesha cuman mau tahu aja kok, dan gak bakal kasih tau kesiapa-siapa." Gumam Alesha dengan pelan.


Alesha tidak tahu kenapa tiba-tiba saja hatinya menjadi tidak tenang dan jantungnya mulai menambah tempo kecepatan ketika jemari Alesha menyentuh ujung kotak itu. Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit kotak itu dibuka oleh Alesha. Keringat dingin sampai membasahi telapak tangannya. Alesha tidak tahu kenapa ia menjadi seperti itu, padahal ia hanya akan membuka kotak saja.


Jarum jam berubah pada setiap detiknya, begitu pula posisi kotak misterius milik Jacob yang kini sudah dalam keadaan terbuka.


Tidak ada perasaan kaget atau apapun yang Alesha alami setelah membuka dan melihat isi kotak itu. Yang ada malah perasaan bingung dan kepernasaranan yang kian bertambah.


Alesha mengerutkan keningnya, ia lalu mengambil sebuah foto.


"Apa ini anggota kelompok tim Mr. Jacob yang ilang tiga tahun lalu ya?"


Alesha pun menaruh kotak itu dan memperhatikan setiap wajah-wajah yang tertera dalam foto itu.


"Himalaya. Bisa jadi foto ini tuh diambil sehari atau beberapa jam sebelum anggota tim Mr. Jacob ngelanjutin ujian praktek terakhir mereka di Himalaya."


Alesha kemudian mengambil sebuah artikel yang dilipat berkali-kali hingga berukuran kecil dalam kotak itu. Rasa kepenasaranan Alesha semakin berlanjut hingga ia membuka artikel itu lalu membacanya.


"Proses pencarian hilangnya empat anak murid WOSA di Pegunungan Himalaya terpaksa dihentikan setelah hampir tiga bulan tidak juga membuahkan hasil."


Setelah membaca artikel itu, Alesha pun terkejut dan menutup mulutnya yang sedikit terbuka.


"Jadi bener apa yang Mrs. Laras ceritain ke Alesha waktu itu, Yuna sama tiga anggota lain belum ditemuin ampe sekarang." Bisik Alesha pada dirinya sendiri.


Alesha kembali mengambil foto yang tergeletak diatas meja.


"Yang mana Yuna?" Alesha menyipitkan matanya dan mencari lalu menebak-nebak sosok wanita yang menjadi ratu dihati mentornya itu.


Merasa gemas karna masih belum menemukan juga, Alesha pun menghembuskan napasnya lalu melihat pantulan dirinya pada cermin panjang yang terpasang pada lemari pakaian milik Jacob. Kemudian Alesha tertegun, ia semakin fokus dan menatap wajahnya pada cermin itu. Alesha ingat waktu itu Laras pernah bilang kalau ia mirip dengan Yuna, dan Jacob juga waktu itu selalu memanggil nama Yuna, padahal yang ada dihadapan Jacob waktu itu adalah Alesha.


"Apa mungkin Yuna mirip sama Alesha?" Alesha mengerutkan keningnya dan memiringkan sedikit kepalanya kesebelah kanan. "Tapi darimana yang miripnya?"


Alesha kembali menatap foto itu, mencari wajah wanita yang mungkin memiliki kemiripan dengannya.


"Yang mana sih?" Alesha mendengus sebal. Tapi sesaat kemudian, pikiran tiba-tiba saja membuka jalan agar Alesha bisa mengetahui yang manakah sosok dan rupa Yuna itu.


"Apa yang ini? Yuna sama Mr. Jacob kan pacaran, otomatis mereka juga gak bakal jauh-jauhan kali."


Alesha berpendapat kalau sosok Yuna adalah gadis yang sedang tersenyum manis ke arah kamera dan berdiri disebelah Jacob. Demi memuaskan rasa penasarannya, Alesha pun kembali mengacak-acak kotak itu dan mendapatkan satu lembar foto lagi. Itu adalah foto kedua yang diambil pada waktu dan tempat yang sama seperti yang ada pada fofo pertama.


"Ya ampun." Alesha melebarkan matanya dan mulutnya juga membentuk huruf vokal O ketika ia melihat wanita yang berada disebelah mentornya itu berpose dengan memeluk tubuh Jacob dari pinggir, sedangkan anggota tim yang lain berpose dengan gaya bebas masing-masing.


"Ah, pake acara burem lagi nih foto!"


Kemudian Alesha mengambil foto pertama lalu menatap ke arah wanita yang berdiri disamping mentornya kala itu.


"Jadi dia yang namanya Yuna."


Ya begitulah pendapat Alesha pada gadis dalam foto yang berada disebelah Jacob.


Alesha menyunggingkan senyumnya. "Cantik."


Selama beberapa saat Alesha tidak bergeming dan terus memfokuskan pandangannya pada wajah Yuna yang tertera dalam foto itu. Cantik dan aura manis yang Yuna pancarkan walau hanya dalam foto mampu membius Alesha. Bahkan Alesha sendiri jatuh pada pesona Yuna, bukan jatuh dalam artian suka, melainkan kagum akan kecantikan yang terpancar dari wajah gadis mungil sang pemilik hati mentor Alesha itu.


"Ya ampun cantik banget sih Yuna, pantes Mr. Jacob cintai mati, segini diliat dari foto gimana kalau liat langsung, bisa meleleh duluan Alesha."


Kemudian Alesha mencari kembali foto-foto lain, tapi nihil, hanya dua foto itu saja yang tersisa.


"Gak mungkin kalau Mr. Jacob gak punya foto Yuna."


Lalu kemudian, Alesha kembali dibuat bingung dengan artikel lain yang juga disempilkan dalam kotak itu. Alesha kemudian mengambil lalu membukanya.


"Penghapusan seluruh profil anggota tim Luxury. SIO mengambil langkah selanjutnya dengan menghapus semua data, profil, dan menutup kasus hilangnya empat anggota tim Luxury dengan paksa, bahkan akun social media para anggota pun dinonaktifkan. SIO mencegah siapa pun untuk mengembalikan data dan profil para anggota tim Luxury yang sudah dilenyapkan."


Lonjakan kecil terjadi pada Alesha saat otaknya menangkap satu hal. "Jadi SIO udah ngehapus semuanya? Tapi Mr. Jacob kan tukang retas, masa gak bisa buka atau colong satu foto gitu."


Kemudian Alesha menghembuskan napasnya.


"Yuna, sayang banget kamu harus pergi, dan ampe sekarang belum ketemu, kasian Mr. Jacob. Seandainya kamu masih hidup Mr. Jacob pasti bakal bener-bener ngejaga dan gak akan pernah lepasin kamu." Gumam Alesha. Foto yang diambil dalam jarak yang sangat dekat itu membuat Alesha mudah untuk melihat dengan jelas setiap raut wajah para anggota tim Jacob tiga tahun lalu. Maka dari itu Alesha benar-benar terpesona pada wajah Yuna yang terpampang begitu nyata dan jelas pada foto itu.


Tapi tunggu.


Alesha menangkap satu hal lagi.


"Eh, eh, ko mukanya kaya gak asing." Alesha menatap kembali ke arah lembaran foto yang ia pegang, tepatnya pada wajah Yuna.


"Kok mirip?"


Kemudian Alesha mengangkat kepalanya dan menatap wajahnya sendiri melalui cermin.


"Ah engga beda ko."


Alesha semakin mengerutkan keningnya ketika sebuah pikiran tiba-tiba saja mengacak-acak konsentrasinya.


Alesha menjauhkan foto itu dari wajahnya lalu menunjuk pada wajah Yuna yang terlihat semakin kecil dalam foto itu. "Nooo, engga, Alesha gak mungkin mirip ama Yuna. Ini tuh jelas beda, beda banget malah."


Sedetik kemudian Alesha kembali digubris oleh pikirannya.


"Tapi kok sama." Alesha menatap wajahnya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. Jelas-jelas pantulan cermin itu menunjukan wajah murni Alesha dan sangat berbeda dengan wajah si cantik yang berdiri disebelah Jacob dalam foto itu.


"Jadi ini yang bikin Mr. Jacob tuh suka tiba-tiba manggil Alesha pake nama Yuna? Muka kita beda banget loh, jauh banget malah, tapi apa ya, kan Alesha jadi bingung sendiri. Ini kenapa bisa mirip?"


"Alesha, aku ingin mengambil flashdiskku." Suara JacobĀ  tiba-tiba saja terdengar dan dibarengi dengan terbukanya pintu kamar.


Seketika Alesha pun terlonjak kaget, bahkan foto yang ada ditangannya terjatuh begitu saja ke arah lantai. Wajah Alesha menegang. Takut. Itu yang pertama kali ada dalam benak Alesha. Jacob akan memarahinya, Jacob akan membencinya, dan yang lebih parah Jacob bisa saja mengurangi nilai Alesha dan timnya. Wajah Alesha panik, namun tidak dapat bergerak dan tetap mematung ditempat. Jantungnya berpacu bagai berada dalam arena balap, pikirannya berkecamuk seperti ombak yang sedang mengamuk.


Sedangkan Jacob, ia yang mendapati Alesha sedang membuka dan melihat barang pribadinya hanya bisa terdiam di ambang pintu tanpa berkomentar apapun.


"Mr. Jacob, maaf.." Ucap Alesha lirih. Sungguh kali ini Alesha benar-benar merasa takut karna sikap lancangnya yang sudah berani membuka barang pribadi milik Jacob. Apa mentornya itu akan membenci Alesha? Atau mungkin Jacob tidak akan mau berkomunikasi lagi dengan Alesha? Pikiran negatif kini berebut tempat pada otak Alesha, semakin lah dibuat pening kepala gadis itu.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Jacob datar.


Alesha gugup, lebih tepatnya gugup yang dibahan dasari oleh rasa takut. "A-a-aku, Alesha hanya.."


Keringat dingin mulai membasahi lagi telapak tangan Alesha. "Maaf." Ucap Alesha dengan lirih. Ia pun merutuki kesalahannya yang sudah sangat lancang. Menunduk adalah satu-satunya hal yang dapat Alesha lakukan saat itu karna tiba-tiba saja tulang-tulang dan syaraf penggerak dalam tubuhnya mendadak mati rasa.


Jacob masih enggan berganti ekspresi, ia sebenarnya tidak marah pada Alesha, hanya saja Jacob bingung, kenapa Alesha membuka kotak berisi kenangan pahitnya.


Melihat tubuh Alesha yang sedikit bergetar karna rasa takut yang kini melanda gadis itu, Jacob pun akhirnya melangkahkan kakinya dan mendekati Alesha.


"Apa yang kau lakukan dengan barang-barangku?" Tanya Jacob dengan datar. Kini tubuh Jacob menjulang tepat didepan Alesha.


Dengan lirih, Alesha pun menjawab. "Aku penasaran, maaf, kau boleh menghukumku."


"Kau tau barang-barang apa itu?" Tanya Jacob lagi.


Kini perasaan Alesha semakin kacau. Suara dingin dan datar dari mentornya itu membuat Alesha ingin menangis. Jacob tidak melakukan apapun, bahkan memarahi juga tidak, tapi Alesha benar-benar takut, seperti sedang berhadapan dengan seorang psychopath yang secara pelan-pelan menyiksa dengan menyakitkan.


"Kau tahu benda apa yang barusan kau lihat dari dalam kotak itu?" Tanya Jacob sekali lagi.


"Foto, dan artikel tentang anggota timmu yang hilang tiga tahun lalu." Jawab Alesha dengan suara yang sedikit bergetar.


Setelah jawbana itu terucap dari mulut Alesha, Jacob pun tersenyum datar. Ia berjongkok untuk mengambil foto yang tadi terjatuh dan tergeletak diatas lantai.


"Kau sudah melihat dan membaca artikel itu?"


Alesha mengangguk pelan.


"Aku selalu menyimpan benda-benda ini agar tidak diketahui oleh orang lain, tapi sekarang kau sudah mengetahuinya." Ucap Jacob.


"Maaf, Mr. Jacob." Ucap Alesha dengan sangat pelan.


"Tidak apa." Balas Jacob sambil tersenyum. "Kemarilah."


Alesha terlonjak ketika mentornya itu menarik lengannya dan membawa ia untuk duduk dipinggiran kasur.


Apa yang akan Mr. Jacob lakukan?.... Ucap Alesha dalam hati.


Raut panik, takut, dan bingung terolah dan terciptalah sebuah ekspresi pada wajah Alesha. Tentu saja, Alesha tidak tahu apa yang akan mentornya itu lakukan padanya, dan bisa jadi Jacob melakukan hal yang tidak terduga sebagai pelampiasan dan hukuman untuk Alesha.


"Tidak usah seperti itu, aku memaafkannya, dan aku tidak akan marah padamu."


Deg!


Apa Alesha tidak salah dengar barusan? Sungguhkah Jacob mengatakan hal itu? Tidak marah?


"Sebenarnya aku ingin menyimpan kenangan ini sendirian saja, tanpa perlu bercerita pada siapa pun, namun kau sudah tahu sekarang."


Jacob menghela napasnya. Membiarkan ketenangan mengalir masuk kedalam dirinya.


Bunyi pergantian setiap detik pada jarum jam mengubah suasana menjadi begitu sunyi. Waktu melambat dan cepat kembali, dunia seperti berubah membawa aura lain dalam ruangan itu. Alur waktu yang membingungkan seperti menarik Alesha masuk pada kenangan milik mentornya tiga tahun lalu.


Alesha tidak tahu bagaimana perasaan Jacob sekarang, yang Alesha lihat kali ini hanya Jacob yang sedang termenung dengan kedua kelopak mata yang tertutup rapat. Atau mungkin Jacob sedang melihat kembali pada masa tiga tahun lalu melalui celah jalan dalam pikirannya.


Alesha tidak ingin mengganggu. Ia membiarkan ruang dan waktu yang kini menghanyutkannya pada kesunyian.


"Aku sudah melupakannya."


Sepenggal kalimat dari dalam mulut juga disertai hembusan napas yang Jacob keluarkan membuat Alesha sedikit terkejut.


Lenyapnya keheningan dan tandai dengan menghangatnya senyuman dari kedua sudut bibir Jacob.


"Mr. Jacob.." Panggil Alesha pelan.


"Aku tidak apa-apa." Jacob tersenyum pada Alesha.


Tapi Alesha ragu. Benarkah Jacob itu tidak marah ketika mendapati Alesha sedang membuka barang-barang pribadi miliknya?


"Ini semua hanya kenangan yang menghilang." Jacob pun bangkit dari duduknya lalu merapikan kembali semua benda kenangannya itu kedalam kotak.


"Kau tidak beristirahat?" Tanya Jacob dengan senyuman ramah. Ingin Jacob mengalihkan situasi agar ia tidak terpaku pada kenangan itu.


Jacob tidak marah sama sekali pada Alesha karna Jacob berpikir cepat atau lambat Alesha harus tahu tentang Yuna dan semua kejujuran perasaan Jacob pada gadisnya dulu agar tidak ada kebohongan dalam diri Jacob. Ya, memang lah Yuna sangat dicintai oleh Jacob, namun waktu sudah berubah, dan Yuna tidak mungkin bisa kembali, saat ini adalah kesempatan untuk Jacob agar bisa kembali merasakan cinta murninya untuk seorang gadis baru.


Tidak sekarang, tapi nanti akan ada waktu dimana Jacob harus mengungkapkan semuanya pada Alesha, tentang Yuna dan hubungan mereka, tentang masa kelam Jacob, dan yang pasti adalah kesungguhan hati Jacob untuk Alesha.


"Em, Mr. Jacob, maaf.." Alesha sungguh merasa tidak enak pada mentornya itu. Alesha sadar, dan ia siap jika Jacob akan menghukumnya.


"Lupakan saja." Balas Jacob.


"Tapi aku sudah sangat tidak sopan. Kau boleh menghukumku." Alesha kembali menundukkan kepalanya, ia malu jika harus beradu tatapan dengan Jacob.


Jacob menghela napasnya. Ia mengerti apa yang sedang Alesha katakan sekarang. Jadi, Jacob memutuskan untuk mendekati Alesha untuk menenangkan gadis itu.


"Tidak apa, setiap orang wajar mempunyai kesalahan, bahkan aku pun selalu membuatmu kesal bukan." Ucapan Jacob barusan benar-benar diluar dugaan Alesha. Kini Jacob malah mengungkit kesalahannya pada Alesha.


"Tidak usah dipikirkan, lebih baik sekarang kau istirahat saja." Lanjut Jacob.


"Ini kuncinya, kau bisa mengunci pintunya dari dalam dan aku tidak akan mengganggumu, dan oh ya satu lagi, flashdiskku."


Sebuah flashdisk yang terletak didalam box kecil diambil oleh Jacob, lalu setelah itu Jacob pun pergi meninggalkan Alesha sendiri di dalam kamar.


"Aku tidak mengerti denganmu, Mr. Jacob, apa seperti itu kah caramu marah padaku?" Ucap Alesha setelah memastikan kalau mentornya itu sudah keluar dari dalam kamar.


Cermin pada lemari pun menjadi pusat perhatian Alesha kembali. Wajahnya saling bertatapan melalui perantara kaca bening itu.


"Apa Mr. Jacob beneran marah sama Alesha? Tapi kok marahnya kaya gitu sih?"