May I Love For Twice

May I Love For Twice
Bukan Alesha Tapi Aku



Suara sirine yang memasuki area rumah sakit menandakan kalau mobil ambulance yang membawa Alesha sudah sampai tujuan. Dua perawat menghampiri ambulance itu dan segera membuka pintu untuk mengeluarkan Alesha. Dipindahkannya tubuh Alesha kekasur pasien yang lain.


Para perawat itu berjalan namun setengah berlari saat mendorong kasur pasien yang Alesha tempati. Begitu juga Jacob yang tidak mau melepaskan jemari Alesha dari genggamannya.


Tiba-tiba ada seorang dokter yang menghampiri. "Dok, pasien kehilangan enam puluh persen kadar oksigen dalam tubuhnya." Ucap salah seorang perawat.


Dokter itu mengangguk. Ia tahu apa yang terjadi pada Alesha saat salah satu anak buah Laura menghubunginya dan memberitahu kalau Alesha keracunan botulinum.


"Siapkan semua peralatan, kita harus bisa mengeluarkan racunnya!" Perintah sang dokter.


Saat para perawat sudah memasuki ruang tindakan, Bastian segera menarik lengan Jacob agar tidak ikut masuk ke dalam ruang tindakan juga.


"Kumohon, kau harus kuat, Al." Jacob berdiri tepat di depan pintu ruang tindakan yang sudah terkunci. Telapak tangannya menyentuh kaca bulat yang menempel dipintu tersebut. Dengan kepala yang tertunduk, air mata Jacob kembali mengalir. Merasakan sesuatu yang menghantami hatinya, dan membiarkan pikirannya terjatuh pada titik terdalam. Jacob tidak tahu harus bagaimana lagi, namun ia juga tidak mau berhenti berharap. Sekuat tenaga Jacob meyakinkan hatinya kalau Alesha tidak akan meninggalkannya. Kaki Jacob lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya. Ia merosot dan terduduk dilantai. Rambut dikepalanya menjadi alat pelampiasan segala emosi yang Jacob rasakan.


"Alesha, sekali lagi kau membuatku seperti ini. Membuatku nyaris kehilangan akal dan membawaku pada titik frustasi. Kau baru saja pulih, dan sekarang kau harus sekarat lagi. Tolong jangan buat aku semakin gila, Alesha!" Jacob meremas kuat rambutnya untuk melampiaskan emosinya, namun itu belum cukup. Kemudian Jacob menonjok dinding yang ada disebelahnya. Tonjokkan keras yang Jacob layangkan pada tembok rumah sakit berhasil membuat Laura dan Bastian kaget, terkecuali Levin.


"Aku takut kehilanganmu, Alesha." Gumam Jacob yang sudah pasrah akan keadaan yang sedang menimpa hati dan pikirannya kakinya.


Bastian yang berada disisi Jacob jadi semakin bertanya-tanya. Mungkinkah apa yang Levin ucapkan itu benar, kalau Jacob memang menyukai Alesha? Tapi kalau diperhatikan memang Bastian juga merasa kalau Jacob begitu dekat dengan Alesha, dan kedekatan itu berbeda, seperti ada sesuatu yang selalu Jacob sembunyikan jika bersama Alesha.


***


Di WOSA, ada salah seorang gadis yang sedang duduk sendirian dipojok taman WOSA. Bermodalkan sebuah sapu tangan bercorak hati miliknya, gadis itu menghapus air matanya yang sedari tadi terus saja mengalir. Hatinya hancur dan perasaannya sangat terpukul ketika ia melihat ekspresi frustasi Jacob saat menggendong Alesha. Ia memperhatikan bagaimana terpukulnya Jacob saat melihat Alesha yang terbujur kaku seolah sudah tidak ada nyawa lagi dalam tubuh gadis yang kini menjadi musuhnya itu. Betapa tersakitinya hati gadis itu saat melihat Jacob yang seolah sangat takut akan ditinggalkan oleh Alesha. Gadis itu tau kalau Jacob memang menyimpan hati pada Alesha, dan rasa kecemburuan yang tinggi membuat hati dari gadis itu menjadi tertutup. Malam itu, dengan diam-diam ia menyelinap dan membuka lemari Alesha lalu memakai parfum milik Alesha hingga akhirnya ia bisa mendapatkan ciuman dari Jacob. Tetapi jika ia mengingat kejadian malam itu, hatinya semakin merasakan tusukan beribu anak panah. Gadis itu tidak lupa bagaimana cara Jacob mengucapkan kata-kata yang begitu menusuk-nusuk lubuk hati yang terdalam. Ia ingat saat Jacob terus saja memanggil-manggil nama Alesha dengan lirih disela-sela kegiatan ciuman mereka. Karna terlanjur kesal, akhirnya gadis itu menghentikan ulahnya pada Jacob malam itu lalu memukul pelan dada Jacob dan pergi berlari begitu saja meninggalkan Jacob yang sepertinya langsung tertegun.


"Aku yang mencintaimu, tapi kenapa kau pilih gadis lain?" Gadis itu meremas seragam roknya. "Aku yang menciummu, bukan Alesha!" Tetesan air mata terus mengalir bagai air terjun yang berbarengan dengan turunnya hujan yang lebat dan cuaca yang begitu mendung, semendung hati gadis itu sekarang.


***


Suasana hening bercampur dengan timbunan pikiran yang membebankan terus saja mengalir mengelilingi Jacob, Levin, Laura, dan Bastian. Setelah satu jam lebih dokter belum juga keluar dari dalam ruang tindakan. Jacob berusaha terus menenangkan dirinya dan menyelaraskan hatinya yang semakin gundah. Dengan memejamkan mata, Jacob bisa merasakan bagaimana tusukan kosong namun mampu menembus hatinya yang kini sudah sangat kelelahan. Semua ketakutan berkumpul dalam pikiran Jacob dan beralih lagi menuju hatinya. Awan-awan mendung semakin menyelimuti hati Jacob saat ia melihat dokter baru saja keluar dari dalam ruang tindakan itu. Rasa panik, takut, dan gugup merasuki diri Jacob ketika sang dokter mulai membuka suaranya.


"Kami berhasil memasukan obat yang bisa membantu membunuh racun yang sudah menyebar dalam tubuh pasien." Ucap sang dokter.


Awalnya Jacob senang setelah mendengar ucapan dokter itu, namun sesaat kemudian wajahnya kembali dipenuhi oleh rasa takut dan panik setelah mendengarkan kelanjutan dari ucapan sang dokter.


"Tapi pasien terlambat mendapatkan penanganan. Racun itu sudah menyebar keseluruh tubuhnya, dan butuh waktu yang lama untuk membunuh racun tersebut, dan kami juga mengkhawatirkan kalau ada kegagalan sistem organ tubuh yang bisa menghentikan proses penyebaran obat untuk membunuh racun itu. Kami tidak bisa menjamin kalau obat yang sudah kami berikan akan mampu membunuh semua racun yang sudah tersebar ditubuh pasien karna kondisi tubuh pasien juga amat kritis saat ini. Pasien kehilangan banyak kadar oksigen, tekanan darahnya sangatlah rendah, detak jantungnya juga mulai melambat dan itu memperlambat proses aliran darahnya." Lanut sang dokter.


Setiap kata yang barusan dokter itu ucapkan bagaikan tembakan anak panah yang menusuki hati Jacob secara bertubi-tubi.


"Kami sudah melakukan semua yang terbaik, obatnya juga masih berjalan, berdoalah agar tidak ada kendala apapun yang bisa menghalangi proses berjalannya obat yang sudah kami berikan." Kalimat terakhir sebelum akhirnya dokter itu pamit dan pergi meninggalkan Jacob dan yang lain.


Wajah datar namun terisi dengan kesedihan dan duka bagaikan topeng untuk menunjukan apa yang sedang Jacob rasakan sekarang. Perlahan jemari Jacob meraih gagang pintu lalu membukanya. Ia masuk dan mendapati Alesha yang sedang terbaring dengan berbagai macam alat dan selang yang menempel ditubuhnya. Mulut Alesha dibalut dengan alat uap yang dapat membantu memberikan pasokan oksigen untuk paru-paru Alesha. Jacob mendekat dan mengelus lembut rambut Alesha. Ia menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi kening Alesha. Segala macam ekspresi kesedihan sudah tercetak diwajah Jacob, dan sekarang Jacob tidak tahu harus berekspresi seperti apa lagi.


Jacob menarik sebuah bangku dan terduduk tepat disebelah kasur pasien yang sedang Alesha tempati. Jacob memposisikan kepalanya tepat disebelah kepala Alesha, dan tangannya ditaruh di atas perut Alesha yang masih tertutupi oleh baju kaus bermotif batik kesukaaannya.


"Aku akan menemanimu di sini, kau fokuslah menyembuhkan dirimu, aku tidak akan meninggalkanmu hingga kau kembali pulih." Bisik Jacob tepat ditelinga Alesha namun dapat didengar oleh Levin, Laura, dan Bastian yang juga masuk ke dalam ruang tindakan itu. Jacob pun memejamkan matanya berharap bisa merasakan apa yang Alesha rasakan.


Levin menggeram pelan saat melihat Jacob memejamkan matanya disebelah Alesha. Amarah kembali menjadi tamu dalam diri Levin ketika mengingat kembali tentang ketidak becusan Jacob menjaga Alesha. Levin membawa dirinya menuju pojok ruangan. Ia terduduk pada sebuah kursi dengan melipatkan kedua lengannya. Tatapan tajam Levin mengarah pada Jacob. Ada sedikit rasa cemburu dalam diri Levin mengingat Levin juga samanya menyukai Alesha, namun Levin tidak berhasrat untuk memiliki Alesha karna Jacob dan juga karna seseorang.


Seseorang masuk ke dalam ruangan itu, dan ternyata dia adalah asisten pribadi Laura.


"Nyonya, saya sudah memberitahukan pada pihak kantor kalau anda akan datang saat ini." Ucap asisten pribadi Laura itu.


"Terima kasih, tapi.." Laura menatap ke arah Jacob. "Aku tidak akan ke sana sekarang, mungkin besok pagi." Balas Laura.


"Baik, kalau begitu saya akan informasikan pada pihak kantor kalau Nyonya mengundur waktu untuk datang ke sana." Ucap asisten pribadi Laura lalu berpamit pergi meninggalkan ruangan itu.


Bersama berlalunya waktu, jam pada dinding berputar dengan mengeluarkan bunyi dan mengiringi jarum yang sedang menunjukan pukul tujuh malam. Keheningan menjadi selimut dalam ruangan itu. Bastian yang masih sibuk dengan segala macam pertanyaan diotaknya, Levin yang sudah malas membuka mulutnya, dan Laura yang sedari tadi memandangi wajah anaknya yang terlelap disisi Alesha.


"Alesha." Panggil Jacob lirih sembari memegangi jemari Alesha yang sudah tidak terasa dingin lagi.


Kuping Alesha dapat mendengar ucapan Jacob, Alesha masih berada pada titik sadar dan tidak sadar, jadi secara samar ia bisa mendengar Jacob yang memanggil namanya, namun Alesha tidak mampu menjawab karna masih berada difase ketidak sadarannya.


"Alesha." Panggil Jacob lagi yang semakin lirih.


Untuk memberikan tanda, Alesha mencoba kembali untuk menggerakkan jemarinya yang digenggam oleh Jacob. Jacob pun sedikit terkejut saat merasakan sebuah gerakan kecil ditangannya.


Lalu sekali lagi jemari Alesha kembali bergerak dan lonjakan kecil terjadi pada Jacob.


"Alesha, ini aku, Mr. Jacob." Ucap Jacob dengan lembut. "Kau bisa membuka matamu?" Lanjut Jacob.


Tidak ada jawaban dari Alesha, namun gerakan dijemari Alesha memberi sinyal bahwa Alesha hampir mendapatkan kesadarannya kembali.


"Alesha, aku ada di sini, kau bisa mendengarku?" Jacob mengelus lembut puncak kepala Alesha. Ia juga dapat melihat ada pergerakan dari kelopak mata Alesha yang masih terpejam.


Alesha tidak mau menyerah, ia berusaha untuk membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat. Alesha juga merasakan tubuhnya yang masih terasa lemas. Kesadaran Alesha hampir penuh, segera mungkin Alesha mengangkat kedua kelopak matanya dengan pergerakan yang begitu pelan. Cahaya dari lampu ruangan membuat Alesha kembali menutup kelopak matanya. Jacob yang sedari tadi memperhatikan Alesha merasa sedikit lega saat tau kalau Alesha sudah mulai tersadar. Senyum kecil terukir pada wajah Jacob. Pria itu persyukur karna Alesha bisa melewati masa-masa kritisnya, mungkin. Jacob segera memanggil para perawat atau pun


dokter dengan menekan sebuah tombol yang akan langsung terhubung pada ruangan tempat perawat berjaga.


"Alesha, jangan paksakan matamu untuk terbuka. Kau berada di rumah sakit sekarang, dan beberapa perawat bersama seorang dokter sudah menangani dan memberikan obat padamu, jadi tenanglah, kau akan baik-baik saja." Ucap Jacob dengan nada selembut mungkin.


Levin yang tertidur pada pojokan ruangan segera mengerjapkan matanya saat telinganya mendengar suara Jacob yang sedang berbicara. Kemudian, pandangan Levin beralih pada Alesha yang masih terbaring. Levin segera bangkit dan berjalan menghampiri Alesha.


"Apa yang terjadi?" Tanya Levin.


"Aku rasa Alesha sudah sadar. Jemarinya beberapa kali bergerak, dan tadi matanya hampir terbuka." Jawab Jacob.


"Permisi tuan, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang dokter jaga bersama tiga orang perawat yang masuk ke ruangan itu. Laura dan Bastian segera membuka mata mereka saat mendengar suara pintu yang terbuka.


"Bisa kalian cek kondisi Alesha?" Tanya Jacob.


"Tentu, tuan." Jawab dokter jaga itu. Kemudian mereka segera beralih mendekati Alesha dan mengecek semua kondisi dari tubuh Alesha.


"Mr. Jacob." Panggil Alesha dengan sangat kecil dan pelan.


"Ya." Jacob yang mendengar namanya dipanggil oleh Alesha seketika menghampiri Alesha yang tubuhnya masih diperiksa oleh dokter dan para perawat.


"Kenapa?" Tanya Jacob tepat ditelinga Alesha.


Tubuh Alesha mendadak menegang dan sensasi merinding menjalar diseluruh tubuhnya saat merasakan Jacob yang berada begitu dekat dengannya. Karna hal itu juga, ada sebuah dorongan kecil dari tubuh Alesha untuk membuka matanya. Didapatinya oleh Alesha tiga orang perawat dan seorang dokter yang sedang mengecek kondisi tubuhnya.


"Alesha.." Panggil Levin saat melihat Alesha yang sedang mengerjapkan matanya.


"Mr. Jacob, aku ingin pulang." Ucap Alesha dengan lirih.


"Kau akan pulang nanti, saat ini kau harus dirawat lagi untuk membunuh racun yang ada dalam tubuhmu." Jawab Jacob.


Iris mata Alesha bergerak menuju wajah Jacob. Ditatapnya wajah mentornya itu. "Apa yang terjadi, aku merasa sangat lemas dan tidak bisa melakukan apapun?"


"Nona, aku harap kau tidak banyak berbicara, itu bisa menguras tenagamu. Tubuhmu masih terlalu lemah, dan jangan buat kondisi tubuhmu menurun kembali." Jawab sang dokter dengan lembut. "Ada sedikit kemajuan. Obat yang diberikan berjalan dengan baik. Mungkin besok pagi dokter yang tadi menangani pasien akan mengecek kembali kondisi pasien. Namun, untuk saat ini, kondisi pasien mulai membaik." Lanjut sang dokter sambil menatap pada Jacob.


Jacob mengangguk paham. Hatinya merasa sedikit lega setelah mendengar ucapan dokter jaga barusan. Setidaknya untuk saat ini Jacob bisa bernapas lebih lega setelah tadi hati dan pikirannya dibuat khawatir dan takut setengah mati oleh Alesha.