May I Love For Twice

May I Love For Twice
LDR Part 2



Sembilan jam perjalanan pesawat dari Kota Canbera, Australia menuju Jakara, Indonesia. Sesampainya di Bandara Halim Perdana Kusuma, tidak ada siapa pun yang menjemput Alesha. Jelas saja, siapa juga yang memperdulikan kepulangannya ke negara tercintanya ini.


Alesha pun terduduk pada bangku yang sudah disediakan di dalam terminal bandara. Ia celingak-celinguk sendiri, menatap sekelilingnya yang cukup ramai. Alesha memilih untuk menunggu hingga waktu pagi tiba. Ia terlalu takut jika malam-malam begini harus pergi sendirian ke terminal bus.


Berbeda dengan Jacob, saat ini ia sedang berkutik dengan laptopnya untuk melacak keberadaan Alesha. Jacob cukup tenang saat ia tahu kalau gadisnya itu sudah sampai dengan selamat di bandara. Tapi setelah hampir dua jam Jacob memantau layar laptopnya, ia tidak mendapatkan pergerakan atau perpindahan lokasi Alesha. Begitu pun dijam-jam berikutnya, Alesha masih tidak berpindah lokasi dari posisinya sekarang ini.


Syukurnya, apa yang Alesha harapkan ternyata dapat terkabul. Waktu berlalu tanpa terasa oleh Alesha, dan sekarang ini jam sudah menunjukan pukul setengah enam waktu Jakarta, Indonesia.


Terminal bandara yang semakin ramai membuat Alesha merasa sedikit tidak nyaman, maka dari itu Alesha memutuskan untuk beranjak dari duduknya dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kota yang memiliki julukan sebagai, Kota Kembang, yaitu Bandung.


Aktifitas lalu-lintas kota Jakarta dipagi hari begitu padat. Setelah hampir setahun tidak melihat gedung-gedung tinggi, dan aktifitas perkotaan, kini melalui kaca mobil angkutan umum indra penglihatan Alesha kembali mendapati hal yang sehari-hari dilakukan oleh masyarakat ibu kota.


Dan kini Alesha sudah sampai di tempat yang akan membawanya menuju kota kelahiran. Salah satu terminal bus yang terletak tidak jauh dari bandara Halim Perdana Kusuma, Alesha mendapati banyak sekali jejeran bus-bus yang siap mengantarkannya menuju Bandung.


"Permisi, pak, bus ini jurusan Bandung ya?" Tanya Alesha pada salah satu supir bus yang sedang memasukan barang-barang milik penumpang kedalam bagasi bus.


"Iya, neng. Ini jurusan Bandung, berhentinya di terminal Lewi Panjang." Jawab ramah supir itu.


"Alhamdulillah." Lirih Alesha sembari tersenyum kecil. "Yaudah deh, Pak. Makasih kalau begitu, oh ya koper saya bisa ditaro disinikan?"


Supir itu menganggukkan kepalanya. "Iya, neng, bisa kok. Mau sekalian sama tasnya?"


"Gak usah, tas mah biar saya bawa aja." Jawab Alesha. Gadis itu pun segera memberikan koper besarnya pada sang supir untuk dimasukkan kedalam bagasi bus.


"Kira-kira berangkatnya jam berapa ya, pak?" Tanya Alesha sekali lagi.


"Selesai masukin ini juga bakal langsung berangkat, neng." Jawab sang supir sembari menunjuk pada barang-barang milik penumpang.


"Owh, oke, makasih, Pak." Setelah itu, Alesha pun langsung melangkahkan kakinya menuju pintu bus. Dinaikinya beberapa anak tangga yang membawanya menuju bagian dalam bus yang begitu elegan dan sangat nyaman. Alesha memilih kursi yang paling depan agar ia bisa menikmati pemandangan secara langsung melalui kaca bus yang lebar.


Beberapa penjual asongan yang biasa berjualan meramaikan bagian dalam bus itu. Karna merasa lapar dan kehausan, Alesha membeli mie instan seduh dalam cup sterofoam, dan sebotol air mineral.


Perjalanan menuju Bandung akan memakan waktu beberapa jam. Sang supir sudah mengambil alih tempat mengemudi lalu mulai melajukan bus dengan kecepatan yang masih sangat rendah. Teriakan dari kondektur bus yang masih mencari beberapa penumpang lain saling bersautan, tapi Alesha tidak memperdulikan itu, ia tetap asik memakan mie instan cup yang ia beli tadi.


"Udah ayo." Ucap sang kondektur pada supir bus sambil melompat memasuki bus yang sedang berjalan pelan.


Bus pun melaju dengan kecepatan yang semakin dinaikkan oleh sang supir. Keluar dari area terminal dan kini bus pun sudah sampai di gerbang tol.


Alesha akan menikmati waktu perjalanannya dengan mendengarkan musik sembari memakan camilan. Interior bus yang begitu nyaman, AC kecil yang terletak diatas kepalanya, tidak ada perokok, jumlah penumpang yang ada sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia dalam bus itu, perjalanan yang lancar, pemandangan alam. Sempurna. Alesha sangat merasa nyaman, belum lagi ia hanya terduduk sendirian dikursi paling depan.


Empat jam dari sekarang, Alesha baru akan sampai di kota kelahirannya itu.


Sama halnya dengan Jacob, agent intelegent hebat itu sedang dalam perjalanan pesawat menuju Florida, Amerika Serikat. Besok Jacob harus hadir dalam pertemuan dadakan bersama para petinggi perusahaan.


Tetapi hati Jacob terus dibuat gelisah karna belum mendapat kabar dari gadisnya, Alesha. Jacob takut jika terjadi hal-hal yang buruk pada gadis kesayangannya itu. Walau sekarang tiga anak buah terbaik milik ibunya sudah berada di Indonesia, tetap saja Jacob tidak akan tenang jika belum mendengar kabar mengenai Alesha.


Pesan terakhir yang Jacob terima dari salah satu anak buah ibunya itu adalah Alesha yang sudah sampai di terminal bus dan akan segera melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Jacob pun memberikan perintah pada tiga anak buah itu untuk mengikuti bus yang Alesha tumpangi.


"Alesha, maaf aku tidak bisa menemanimu sekarang." Lirih Jacob.


***


Gerbang Tol Cileunyi, Bandung.


Bus yang Alesha tumpangi sudah sampai di Bandung. Alesha menyunggingkan senyum ketika ia sudah sampai di kotanya tersebut. Tidak lama lagi bus akan berhenti di terminal Lewi Panjang, dan Alesha hanya perlu menaiki angkutan umum satu kali untuk sampai di desa tempatnya tinggal bersama sang kakek.


"Ibu-ibu, bapak-bapak, teteh-teteh, aa-aa, sok yang mau turun di Lewi Panjang bisa siap-siap sekarang, lima menit lagi bus bakal sampe." Ucap sang kondektur bus


Mendengar itu, Alesha juga para penumpang yang lain mulai bersiap-siap dengan membereskan semua barang atau tas pribadi milik masing-masing.


Setelah lima menit berlalu, bus itu pun akhirnya sampai di area terminal dan sedang menuju tempat untuk berparkir.


"Alhamdulillah, Ya Allah, sampe juga akhirnya." Puji syukur Alesha ketika bus yang ia tumpangi sudah berhenti dengan sempurna.


Para penumpang pun beranjak dari bangku masing-masing dan berjalan menuju pintu. Alesha yang duduk dibangku paling depan pun menjadi yang pertama keluar dari dalam bus. Ia segar menuju bagasi menyusul sang kondektur untuk mengeluarkan barang-barang milik para penumpang. Segera Alesha meraih koper besarnya.


"Makasih, Mas." Ucap Alesha pada sang kondektur muda yang mengeluarkan kopernya itu.


"Sama-sama, Neng." Balas ramah kondektur itu.


Alesha langsung menarik kopernya dan berjalan menuju luar terminal. Lelah rasanya. Setelah perjalanan pesawat yang memakan waktu sangat lama, duduk berjam-jam dibangku terminal bandara, lalu menaiki angkutan umum, kemudian duduk lagi selama empat jam didalam bus, dan sekarang ia berjalan menuju jalan raya yang terletak di luar terminal. Padahal ia hanya duduk-duduk saja, dan sedikit berjalan, tapi rasanya cukup melelahkan.


Alesha lapar, sejak kemarin ia belum makan nasi atau lauk pauk. Ia ingin pergi ke rumah makan yang buka di pinggiran jalan, tapi ia tidak memiliki uang yang cukup. Jika ia makan, ia tidak bisa melanjutkan perjalanannya menuju kampung halaman.


Dari kejauhan, tiga pria suruhan Jacob sedang memantau nona muda mereka dari dalam mobil sedan hitam. Dengan tatapan awas, mereka melihat kalau Alesha menaiki sebuah mobil angkutan umum.


Sekarang ini, Alesha sedang menuju pedesaan tempat dimana rumah kontrakan yang semulannya ia sewa seharga lima ratus ribu rupiah per bulan berada. Ketika sampai di pedesaan tersebut, Alesha langsung meminta pada sang sopir untuk menghentikan mobilnya. Ia pun turun lalu memberikan sejumlah ongkos jalan pada sang supir.


"Makasih, Pak." Ucap Alesha. Barulah ia membalikkan tubuhnya dan menghadap kesebuah gang yang besar. Ia berjalan memasuki gang itu dan menyusuri jalanan yang setiap sisinya masih ditumbuhi oleh pesawahan hijau dan kuning.


Alesha berniat untuk menuju salah satu rumah pemilik rumah kontrakan yang Alesha tinggali bersama sang kakek selama bertahun-tahun lalu.


Beberapa kali Alesha menyunggingkan senyuman pada penduduk desa yang ia lewati, hingga akhirnya, Alesha tiba disebuah rumah yang berukuran cukup besar. Rumah itu adalah tempat tinggal bagi sang pemilik rumah kontrakan yang Alesha dan kakeknya tempati. Alesha pun melangkahkan kakinya untuk memasuki teras rumah tersebut, dan ia mendapati kalau sang pemilik rumah itu sedang terduduk santai dibangku yang terletak di halaman depan pintu.


Alesha pun mengucapkan salam sembari mendekat pada si tuan rumah itu.


"Assalamualaikum, Bu Salma." Ucap Alesha sembari bersenyum sapa.


"Waallaikumussalam, eh, Alesha. Ya Allah, sejak kapan kamu pulang ke sini?" Heboh sang tuan rumah yang bukan lain adalah bu Salma.


"Heheh, baru sampe, Bu."


"Owh, yaudah atuh kalau gitu ayo masuk dulu, udah makan? Mau makan dulu gak?"


"Eh, enggak, Bu. Sebenernya Alesha ke sini itu mau minta kunci rumah kontrakan yang ibu sewain ke Alesha sama Kakek." Tolak Alesha secara halus.


"Hah? Ngambil kunci rumah kontrakan?" Raut bingung tercetak jelas pada wajah bu Salma.


"Iya, Bu."


"Bukannya kamu sama kakek udah gak ngontrak di tempat ibu lagi, ya?"


"Hah?" Alesha terkejut. "Ih enggak, Bu. Alesha masih ngontrak kok di tempat ibu. Kan Alesha waktu itu bilang kalau Alesha bakal pulang lagi ke Indonesia trus bakal tetep tinggal di kontarakan ibu." Ekspresi kesedihan perlahan muncul pada raut wajah Alesha.


"Ya ampun, Al. Bi Imas sama Bi Darma udah dateng ke ibu waktu itu, mereka bilang katanya kamu gak bakal ngontrak di tempat ibu lagi. Orang semua perabotan rumah kamu juga udah diambilin sama mereka. Om Jamal bilang, katanya kamu gak bakal balik lagi ke Indonesia, makanya mereka ambilin semua perabotan rumah kamu." Jelas bu Salma yang turut menampakkan ekspresi sedih pada wajahnya.


"Enggak, Bu. Ini buktinya Alesha balik lagi." Pasrah Alesha.


"Aduh, maaf ya, Alesha kalau begitu, ibu beneran gak tau." Ucap bu Salma sembari meraih jemari Alesha. "Yang sabar ya, Alesha. Kamu tahu sendirikan gimana sikap keluarga, sama sepupu-sepupu kamu kaya gimana ke kamu." Lirih bu Salma. Ia tahu jika Alesha memang selalu mendapatkan perilaku buruk dan sangat buruk dari keluarganya, maka dari itu, kadang bu Salma merasa prihatin terhadap Alesha. Satu-satunya orang yang biasa menaruh perhatian dan kepedulian pada Alesha ya hanya bu Salma saja, tidak ada yang lain.


"Kakek dipindahin ke panti jompo yang ada di Bogor?" Ulang Alesha sembari menatap tidak percaya pada bu Salma.


"Iya. Keluarga kamu gak mau kesusahan bulak-balik buat jengukin kakek Ujang, makanya mereka pindahin kakek Ujang ke panti jompo yang ada di Bogor."


"Ya Allah, Bu, Alesha gak tahu." Rintih Alesha yang pasrah setelah mendengar ucapan dari bu Salma. Tubuh Alesha lemas seketika, pikirannya langsung berkecamuk, dan perasaan sedih, kesal, kecewa, semua bercampur aduk.


Alesha berharap dengan pulangnya ia ke Bandung, Indonesia. Ia akan bisa menikmati waktu liburannya, dengan beristirahat di rumah kontrakan itu, kembali berkeliling kota sambil berjualan, dan menjenguk sang kakek yang berada di panti jompo.


"Bu, masih ada sisa satu kontrakan lagi gak?" Ucap Alesha begitu lirih dan lemas.


"Gak ada, Al. Semuanya udah keisi penuh. Kalau kamu mau, gak papa tinggal aja di rumah ibu."


Dengan cepat Alesha menolak tawaran kebaikan dari bu Salma. "Enggak, Bu, jangan. Alesha bakal cari kontrakan lain aja." Alesha tidak enak jika harus tinggal di rumah bu Salma. Wanita paruh baya itu sudah sangat baik dan sering membantunya.


Bu Salma pun terlihat khawatir. "Trus kamu mau cari kontrakan di mana?"


"Di mana aja deh, Bu. Tapi ya paling Alesha bakal cari yang jauh dari keluarga Alesha. Bu Salma juga jangan bilang ya ke keluarga Alesha kalau Alesha udah pulang ke Indonesia."


"Loh, mending sekarang kamu tinggal di rumah ibu dulu aja, Al. Cari kontrakan itu gak gampang loh."


Alesha tersenyum kecut. Sebenarnya ia ingin menerima tawaran dari bu Salma, tapi ia tidak enak hati. "Gak papa, Bu. Alesha gak mau nyusahin keluarga bu Salma yang udah baik banget sama Alesha dari dulu."


Bu Salma sempat memaksa Alesha untuk tinggal sementara waktu di rumahnya, namun Alesha tetap menolak dan lebih memilih untuk mencari rumah kontrakan di tempat lain. Akhirnya, mau tidak mau bu Salma pun membiarkan Alesha untuk pergi, walau dalam hatinya, bu Salma sangat mengkhawatirkan gadis yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


"Sabar ya, Alesha. Maaf ibu gak bisa bantu apa-apa lagi." Gumam bu Salma sembari menatap sendu pada Alesha yang sudah berjalan menjauh.


Alesha bingung, ia tidak tahu harus kemana dan bagaimana. Ia pun berjalan menyusuri pinggiran kota. Keputus asaan sedang melanda diri Alesha kali ini. Alesha pun ingat, sekarang sudah pukul satu siang, dan ada sebuah masjid yang tidak jauh dari tempatnya berdiri kali ini.


Kemudian Alesha memutuskan untuk menjalankan kewajibannya dengan beribadah di masjid itu dan mungkin ia juga akan menumpang beristirahat sebentar.


Alesha pun segera menaruh tas dan kopernya dilantai dalam masjid yang sudah dilapisi oleh sajadah. Lalu ia beralih menuju tempat wudhu untuk mensucikan dirinya dari hadis kecil. Untung saja masjid yang Alesha kunjungi sekarang sudah sepi dari para jamaah karna memang waktu untuk sholat dzuhur sendiri sudah terlewat satu jam.


Selesai membersihkan tubuh dari hadis kecil, Alesha langsung menuju ke dalam masjid tempat tas, koper, dan mukenanya berada.


Ada beberapa jamaah lain yang juga turut beribadah bersama Alesha. Keheningan dan kekhusyukan pun melingkupi area dalam masjid tersebut dikala Alesha dan jamaah lain mulai melaksanakan ibadah sholat dzuhur mereka.


Sepuluh menit yang dilewati untuk Alesha dapat sampai rakaat keempat empat sekaligus rakaat terakhir sholat diwaktu dzuhur. Selepas itu, Alesha pun memanjatkan doa dan harapan. Selama hampir dua jam Alesha memilih untuk tetap memakai mukenanya dan menyibukkan bibirnya dengan mengucapkan kalimat-kalimat doa atau pujian. Alesha juga membuka lalu membaca Al-Quran yang sudah tersedia di masjid itu. Ia ingin menenangkan hatinya juga menjernihkan pikirannya.


Tanpa terasa, waktu sholat ashar pun sudah tiba dan seorang pria sedang mengumandangkan azan di masjid itu. Alesha cukup tersentak karna tiba-tiba saja kupingnya menangkap suara azan. Namun, setelah itu, ia pun memutuskan untuk bangkit dan membuka mukenanya untuk kembali mengambil air wudhu.


Masjid itu sudah dipenuhi oleh jemaah, untung saja Alesha masih memiliki kesempatan untuk menjadi yang pertama mengambil air wudhu dan disusul oleh para jemaah lain.


Alesha berlari kecil untuk kembali ke tempat ia tadi, dan tidak sampai lima menit berlalu, para jemaah wanita mau pun pria sudah berkumpul di dalam masjid itu. Sang imam yang sudah siap untuk memimpin sholat ashar kini segera membawa dirinya menuju barisan terdepan.


"Allahu Akbar..." Sholat berjamaah pun dimulai saat sang imam mengucapkan kalimat itu.


Alesha dan yang lain segera mengikuti gerakan imam. Ia kini tidak mau memperdulikan tentang masalah yang sedang dihadapinya dengan kehilangan tempat tinggal dan jauh dari sang kakek. Doa yang sudah Alesha panjatkan tadi sudah cukup untuk mewakili isi hatinya.


Sedih sudah pasti. Pulang ke negara dan kota asalnya membuat Alesha merasa terasingkan. Alesha sempat berpikir, apakah ia akan pergi menuju Bogor saja untuk menemui kakeknya? Tapi Alesha tidak tahu lokasi di mana panti jompo yang kakeknya tempati.


"Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.. Assalamualaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.." Sang imam pun selesai memimpin jalannya sholat ashar.


Alesha langsung membuka mukenanya dan merapikan lalu memasukan kembali kedalam tas. Ia tidak tahu kemana tujuannya sekarang, tapi yang pasti ia sangat kelaparan.


Alesha kembali menggandong tas dan menyeret kopernya. Ia berniat untuk membeli mie instan cup lagi untuk mengganjal perutnya. Untungnya air mineral yang ia beli saat dibus tadi masih tersisa banyak.


Ia berjalan-jalan dan berhenti di taman kota yang cukup sepi. Alesha mendudukkan dirinya pada bangku taman lalu mulai menyantap mie instan cup yang sudah ia pegang sejak tadi.


Tidak ada yang mengganggu atau mengusik kesendiriannya itu, kecuali tiga pria yang masih mengawasi Alesha sejak tadi. Mereka bertiga memantau Alesha dari dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari lokasi Alesha berada.


Beberapa jam Alesha menikmati waktunya sendirian di taman itu. Alesha baru menyadari kalau ternyata ponselnya sudah tidak bisa dinyalakan karna baterainya sudah habis. Sekarang Alesha benar-benar bingung. Langit sungguh gelap dan angin berpacu kencang.


Alesha masih tetap diam di tempat. Ia hanya bisa mengedarkan pandangannya sambil berpikir, kemana ia harus pergi? Bahkan setelah waktu maghrib tiba, Alesha masih termenung sendirian di taman yang mulai di penuhi oleh para anak remaja itu.


Alesha semakin sedih sekarang. Ia melihat para remaja yang bermain dan berkumpul bersama teman-temannya, beberapa pasang orang tua yang menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka yang masih balita. Alesha merasa miris terhadap dirinya sendiri. Ia tidak punya orang tua, teman juga entah dimana keberadaannya setelah satu tahun berpisah.


"Alesha kangen WOSA, biasanya hari gini Alesha lagi bercanda sama yang lain. Apa kabar sama yang lain? Mereka pasti bahagia bisa kumpul sama keluarga di rumah megah yang pastinya nyaman." Gumam Alesha. Ia murung dan memilih untuk mengangkat kepalanya untuk melihat langit malam yang berkabut. Tidak ada bintang-bintang atau bulan yang muncul.


Alesha menghembuskan napasnya. Lalu beberapa saat kemudian ia pun tersentak saat suara menggelegar dari langit menyaringkan area sekitarnya. Itu adalah suara petir yang menandakan kalau hujan akan segera turun. Gemercik air pun mulai berjatuhan.


Sadar jika sebentar lagi akan ada hujan lebat, Alesha pun bangkit dari duduknya dan kembali berjalan untuk mencari tempat berteduh.


Sekitar lima belas menitan Alesha menyusuri pinggiran jalan, akhirnya ia pun terduduk sendirian diteras sebuah toko yang sudah tidak ditempati oleh pemiliknya dan begitu sepi sekali. Sejak siang tadi, Alesha benar-benar kehilangan arah. Entah kemana tujuannya Alesha juga tidak tahu. "Umi, bapak, Alesha kangen, Alesha takut."


"Ya Allah, Alesha takut." Rintih Alesha kala semburan air dari awan perlahan turun dan semakin lama malah semakin membesar.


Alesha mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Waktu baru menunjukan pukul tujuh malam, namun Alesha merasa kalau sekarang ini waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam. Begitu mencekam, udara dingin menusuki tubuhnya, belum lagi situasi disekitarannya yang gelap dan tidak terdapat siapa pun. Ia sendirian berteduh diteras pertokoan itu, dan hujan yang sangat deras memaksa Alesha untuk tidak melanjutkan perjalanannya yang entah akan tertuju kemana.


Tubuh Alesha merinding kedinginan. Ia pun semakin membawa dirinya pada sudut tembok pertokoan itu.


"Mr. Jacob..." Alesha memeluk lututnya ketika ia menggumamkan nama itu. Sungguh Alesha berharap kalau saat ini mentornya itu akan hadir dan mendekapnya.


"Hiks,... Kakek, Alesha pengen ketemu sama kakek." Alesha mulai menangis. Ia begitu sedih. Tidak ada rumah, sisa uang yang pas-passan, diacuhkan oleh keluarga, dan sekarang ia hanya bisa menangis sendirian dipojokan toko yang sudah terbengkalai dengan kondisi hujan yang turun begitu lebat. Tidakkah ada orang lain yang melihatnya dan berinisiatif untuk membantu gadis malang itu? Alesha sudah menduga ini. Kembali pulang akan membuatnya merasa sengsara. Itu sebabnya kenapa Alesha murung sejak kemarin. Jujur saja, Alesha lebih betah tinggal di WOSA ketimbang harus kembali pulang.


"Mr. Jacob...." Nama itu kembali terucap bersamaan dengan hembusan napas yang tersendat-sendat akibat tangis kesedihan yang membanjiri wajahnya. "Alesha sendirian di sini, hiks hiks, biasanya kalau Alesha lagi sedih kaya gini Mr. Jacob selalu temenin Alesha. Alesha takut, Mr. Jacob." Alesha mengucapkan kalimat itu dengan lirih. Ingin sekali Alesha melepaskan tangisannya, namun hal itu tidak mungkin mengingat ia sedang berada ditempat umum.


"Hiks, kenapa jadi begini sih? Alesha capek, pengen istirahat, tapi mau istirahat dimana? Kenapa Alesha harus punya saudara yang jahat kaya mereka? Kayanya Alesha itu hama gitu buat mereka." Dumal Alesha disela-sela tangisnya.


Tubuh Alesha sudah setengah kuyup, percikan keras dari air hujan terus mengenai tubuhnya, padahal Alesha sudah meringkuk disudut tembok.


Sedangkan, disalah satu toko yang terletak tidak jauh dari tempat Alesha berada saat ini, tiga orang pria yang bukan lain adalah anak buah Laura yang sengaja Jacob suruh untuk mengikuti dan menjaga Alesha. Salah satu dari tiga pria itu kini sedang memberikan laporan pada tuan mudanya.


"Selamat malam, tuan Jacob."


"Malam, ada apa? " Jawab Jacob melalui sambungan telepon itu.


"Saya dan yang lain sudah mengikuti nona Alesha sejak tadi, dan saya juga ingin memberitahukan sebuah informasi pada tuan."


"Informasi apa? " Tanya Jacob yang mulai panik.


"Rumah sewaan yang semula nona Alesha tinggali kini sudah tidak bisa ditempati lagi, tuan. Sang pemilik rumah sewaan itu mengatakan kalau nona Alesha tidak bisa tinggal di sana atas dasar permintaan dari keluarga nona Alesha sendiri. Alasannya adalah karna nona Alesha dikira tidak akan kembali lagi, jadi keluarga nona Alesha memutuskan untuk tidak menyewa rumah sewaan itu lagi. "


"Apa? " Pekik Jacob setelah mendengar informasi dari anak buah ibunya tersebut. "Lalu dimana Alesha sekarang? " Tanya Jacob begitu panik.


"Kami berjarak sekitar lima puluh meter dari tempat nona Alesha berada, tuan. Kini nona Alesha sedang berada dipojokan teras pertokoan yang sudah terbengkalai untuk berteduh karna saat ini sedang turun hujan yang sangat lebat. Saya rasa nona Alesha sedang menangis tersedu-sedu, dan kedinginan, tuan. Saya bisa melihat tubuh nona Alesha bergetar, juga beberapa kali nona Alesha menyerka air matanya. "


"Sewakan apartemen terbaik yang ada di kota itu untuk tiga puluh hari. Bilang pada Alesha kalau aku yang menyuruhnya untuk tinggal di apartemen itu! " Tegas Jacob pada ketiga anak buah milik ibunya.