
"Nyonya, kita sudah sampai." Ucap pengawal pribadi Laura dengan penuh kesopanan.
Laura segera beranjak dari bangkunya dan berjalan menuju pintu pesawat. Kaki dengan balutan sandal heels setinggi tujuh centimeter itu mulai menapaki anak tangga yang akan membantunya untuk sampai pada aspal. Di bawah, Mr. Thomson sudah siap dengan beberapa pelayan untuk menyambut sang Nyonya penyumbang dana terbesar untuk membangun dan memfasilitasi semua infrastruktur WOSA.
"Selamat siang, Nyonya Laura." Sapaan manis dari Mr. Thomson.
Laura membuka kacamatanya. Sinar matahari yang begitu terik membuat ia tidak bisa memfokuskan matanya.
"Mari, saya akan langsung mengantar anda pada ruangan anda."
Mr. Thomson segera menggiring Laura menuju ruangan yang sudah disiapkan untuk sang Nyonya tersebut.
"Sungguh bagus pemandangan di sini. Aku melihat beberapa pantai dengan pasir putih dan air laut yang sangat jernih dan bersih." Puji Laura sambil memandangi sekelilingnya.
"Kau bisa menikmati pemandangan itu kapan pun kau mau." Balas Mr. Thomson dengan penuh keramahan.
"Ya, aku ingin berlibur sekalian melihat bagaimana perkembangan WOSA, setelah tiga tahun ditutup." Balas Laura.
***
Di dalam kamar mess Alesha, Jacob masih dengan setia menjaga gadis itu. Namun, Jacob tidak seperti biasanya. Wajahnya datar dan tidak tersentuh. Alesha yang berada cukup dekat dengan Jacob pun tidak berani untuk bertanya pada mentornya. Seolah ada aura gelap yang sedang mengelilingi Jacob, Alesha menjadi sedikit takut dan waspada saat beberapa kali ia mendapati mentornya itu tiba-tiba saja mencengkram baju kemejanya. Tangan Jacob terkepal kuat hingga menunjukan tonjolan urat-urat yang membentang disepanjang lengan Jacob. Wajah yang begitu datar namun tatapan yang sangat tajam tertuju pada suatu titik dilantai. Jacob tidak bisa mengalihkan pikirannya dari ucapan yang tadi kakaknya katakan. Jacob masih bertanya-tanya apa mungkin Mona berbohong? Tapi sungguh tidak lucu jika apa yang Mona katakan adalah kebohongan.
Jacob masih belum bisa mengembalikan kesadarannya dari pikiran yang sedang membebani kepalanya saat ini hingga ia tidak sadar jika ada salah seorang pelayan WOSA yang sedang berdiri di ambang pintu dan memanggilnya.
"Mr. Jacob, pelayan itu memanggilmu." Ucap Alesha sambil mengguncang pelan bahu Jacob. Beberapa kedipan berhasil membuat kesadaran Jacob pulih kembali kemudian matanya tertuju pada sosok gadis yang sedang menatapnya dengan raut wajah kebingungan. "Kau kenapa? Dia memanggilmu dari tadi." Ucap Alesha sambil menunjuk ke arah pelayan.
Jacob memutar kepala dan setengah badannya untuk mengikuti arah jari telunjuk Alesha, kemudian didapatinya seorang pelayan WOSA yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Mr. Jacob, saya diminta untuk memberitahu anda kalau Mr. Thomson menunggu anda dan beberapa mentor lain di ruang aula utama." Ucap pelayan itu.
"Mr. Thomson memanggilku dan mentor yang lain? Kenapa?" Tanya Jacob.
"Saya tidak tahu, Mr, saya hanya diperintahkan seperti itu oleh Mr. Thomson." Jawab pelayan itu.
Anggukan pelan menjadi isyarat dari Jacob kalau ia akan segera pergi menuju ruang aula utama sesuai dengan perintah Mr. Thomson. Pelayan itu berpamit lalu pergi untuk memberitahukan mentor yang lain.
"Al, aku harus ke ruang aula utama dulu, kau tidak apa-apa kalau ditinggal?" Tanya Jacob dengan mimik wajah yang menunjukan sedikit rasa khawatir akan gadis dihadapannya.
"Aku tidak apa-apa, sekali pun kau tidak di sini tidak akan ada yang mencelakaiku, Mr. Jacob." Balas Alesha.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, dan kau tidak boleh pergi dari sini." Ucap Jacob lalu mengambil sebuah kunci yang tergeletak di atas bupet. "Aku akan kunci pintu ini dari luar."
"Apa? Tidak! Mr. Jacob, aku tidak akan pergi dari kamar ini, jangan dikunci dari luar!" Ucap Alesha yang panik dan berniat untuk menyusul Jacob yang sudah sampai di ambang pintu.
"Tidak. Kau selalu pergi sesukamu tanpa memikirkan kondisimu, dan aku tidak mau menemukanmu di taman atau di jalanan sekitar WOSA." Balas Jacob seraya menutup pintu lalu menguncinya dari luar.
"Tunggu! Mr. Jacob, buka! Aku tidak akan pergi dari sini!!" Alesha menggedor-gedor pintu yang kini sudah terkunci. Jacob pun sudah berjalan meninggalkan pintu dan kamar mess Alesha tanpa memikirkan Alesha yang sedang menggedor pintu kamar messnya yang sudah terkunci.
"Iiiihhh, ngeselin banget sih punya mentor!! Over protectivenya udah dibatas gak wajar!!" Oceh Alesha sambil menggebrak pintu itu. Jacob memang perduli pada Alesha dan timnya, namun kadang rasa perdulinya itu terlalu berlebihan menurut Alesha dan kadang membuat Alesha merasa sebal sendiri.
"Mr. Jacob!!! Awas kau!!" Alesha mengepalkan tangannya mencoba untuk menahan emosi yang kini sudah sampai pada titik teratas.
Bugg... Alesha menonjok kencang dinding yang ada di sebelahnya.
"Astagfirullah.." Alesha menyentuh tangan yang tadi ia pakai untuk menonjok tembok. "Bagus, jadi merah kebiru-biruankan nih tangan!" Ucap Alesha yang mencoba untuk menahan emosi dan rasa sakit yang kini menjalar disepanjang tangan kanannya.
***
Jacob sedang asik melangkahkan kakinya di koridor. Ia tidak begitu memperhatikan sekitarnya sehingga tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang memandangi ia dari jarak yang cukup jauh.
"Haii, Jack." Sapa Mr. Thomson yang tiba-tiba muncul dihadapan Jacob.
"Haii, Mr. Thomson." Sapa balik Jacob.
"Kau mau ke ruang aula utamakan? Ayo, kita pergi bersama, aku juga akan pergi ke sana." Ucap Mr. Thomson sambil berjalan di sebelah Jacob.
"Mr. Thomson, kalau boleh aku bertanya, sebenarnya ada apa kau memanggil para mentor untuk berkumpul di ruang aula utama?" Tanya Jacob.
"Akan ada seseorang yang harus kalian temui. Aku mungkin belum sempat menceritakan pada kalian kalau ada seorang pengusaha sukses yang bekerja sama dengan SIO dan dia menyumbangkan dana cukup besar untuk WOSA." Jawab Mr. Thomson.
"Siapa dia?" Tanya Jacob lagi.
"Dia adalah Nyonya Laura. Ia dan mending suaminya memiliki banyak perusahaan, diantaranya adalah perusahaan penghasil mineral dan minyak bumi, dia juga mempunyai beberapa hotel dan apartemen elit yang tersebar di Indonesia, Uni Emirat Arab, dan Rusia." Jawab Mr. Thomson sambil membaca sebuah tulisan yang terdapat pada map hijau yang sedang dibawanya.
Akhirnya, Jacob dan Mr. Thomson sampai juga di ruang aula utama. Beberapa mentor dan petinggi WOSA sudah berkumpul. Tepat di ujung meja panjang yang sudah terbentang, ada seorang wanita paruh baya yang asing menurut Jacob dan para mentor yang lain. Wanita itu adalah Laura. Dia sudah duduk dibangku yang bersebelahan dengan dengan bangku Mr. Thomson.
Jacob segera duduk dibangku yang sudah terdapat papan bertuliskan namanya. Matanya tidak bisa lepas dari wanita paruh baya itu. Seperti ada sebuah tarikan sinyal yang begitu kuat, sehingga membuat Laura mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Jacob. Tatapan mereka bertemu. Laura sedikit terlonjak kaget saat ia menatap ke arah sepasang mata yang sedang menatap ke arahnya juga. Jantung wanita paruh baya itu mulai berdetak sedikit lebih kencang dari normalnya. Jacob mengerutkan keningnya saat mendapati Laura yang terlihat sedikit syok saat menatap ke arah matanya.
"Selamat siang semua." Sapaan pembuka dari Mr. Thomson.
Dalam acara kali ini, Mr. Thomson memperkenalkan Laura pada para mentor dan petinggi WOSA. Siapa Laura, dan apa tujuan datang ke WOSA akan Mr. Thomson jelaskan semuanya. Memang ini pertama kalinya Mr. Thomson memberitahu tentang Laura dan perannya dalam WOSA karna sebelumnya Laura sendiri yang meminta agar Mr. Thomson tidak memberitahukan tentangnya pada para mentor WOSA.
Singkatnya, Mr. Thomson menjelaskan kepada para mentor kalau Laura adalah rekan kerja sama SIO dan penyumbang dana dalam proses pembangunan WOSA. Mending suami Laura adalah seorang pengusaha sukses yang dulunya hanyalah seorang pengangguran dan memiliki keterbatasan ekonomi, dan sekarang, Laura menjabat sebagai CEO utama dari seluruh perusahaan yang sudah suaminya tinggalkan. Seperempat saham SIO adalah milik Laura, dan ada beberapa kerja sama lain yang sudah terjalin dengan baik antara SIO dan perusahaan Laura.
"Jadi, begitulah profil singkat dari Nyonya Laura yang terhormat ini." Ucap Mr. Thomson dengan penuh rasa hormat pada Laura. "Baiklah, saya tidak bisa berbicara lebih banyak lagi, jika ada yang ingin ditanyakan, Nyonya Laura bersedia untuk menjawab pertanyaan kalian dilain waktu karna dia juga akan menghabiskan masa liburannya di WOSA. Mungkin, cukup sekian penjelasan dari saya, kurang lebihnya mohon maaf. Untuk para mentor, kalian dipersilahkan untuk meninggalkan ruang aula dan kembali menjalani tugas masing-masing." Lanjut Mr. Thomson.
Setelah menyimak ucapan Mr. Thomson, para mentor yang ada di ruangan itu segera bangkit dari tempat duduk masing-masing dan mulai meninggalkan ruangan aula utama tempat Mr. Thomson mengadakan pertemuan dadakan dan juga berjalan dengan sangat singkat.
"Maaf, kami tidak menyiapkan beberapa persiapan untuk acara pertemuan ini, Nyonya, saya tidak tahu kalau anda akan datang ke WOSA hari ini." Ucap Mr. Thomson pada Laura.
Laura membalas ucapan Mr. Thomson dengan senyuman ramah. "Tidak apa." Kemudian sorot mata Laura beralih menuju sosok Jacob yang baru saja beranjak dari bangkunya.
"Mr. Thomson, bisa kau panggilkan lelaki itu." Pinta Laura sambil menunjuk ke arah Jacob.
"Tentu, Nyonya." Balas Mr. Thomson. "Jacob!" Panggil Mr. Thomson. Jacob yang merasa namanya disebut segera mengalihkan pandangannya menuju asal suara yang tadi memanggil namanya.
"Tolong ke sini sebentar." Ucap Mr. Thomson saat mendapati Jacob yang melirik ke arahnya m
Kening Jacob sedikit berkerut karna Mr. Thomson tiba-tiba saja memanggilnya. Segera kaki Jacob melangkah menuju Mr. Thomson dan Laura.
"Ada apa, Mr. Thomson?" Tanya Jacob.
Mr. Thomson tersenyum. "Nyonya Laura memanggilmu."
Setelah mendengar jawaban dari Mr. Thomson, Jacob segera menghadap pada wanita paruh baya yang berada tepat disisinya. Laura menatap ke arah Jacob dengan tatapan yang sulit diartikan. Dalam batinnya, Laura bertanya-tanya kenapa Jacob begitu mirip dengan sosok mendiang suaminya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Tanya Jacob dengan sopan.
"Bisa kita bicara berdua?" Pinta Laura.
"Tentu, Nyonya." Balas Jacob dengan senyuman kecil.
Jacob segera berpamitan pada Mr. Thomson lalu segera berjalan beriringan dengan Laura untuk menuju keluar ruangan aula. Laura masih belum membuka mulutnya untuk menanyakan beberapa pertanyaan pada Jacob. Ia begitu gugup dan takut dengan jawaban yang akan Jacob berikan nanti. Hatinya terasa gundah dan tidak tenang. Tangan Laura menjadi dingin dan ia tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang berpacu kian cepat. Sebuah insting yang selama ini tidak ia rasakan kembali muncul saat bersebelahan dengan Jacob.
"Boleh aku tau siapa namamu dan pekerjaanmu di WOSA?" Tanya Laura dengan suara yang sedikit bergetar namun masih bisa tersamarkan. Ia berusaha untuk bersikap senormal mungkin agar tidak membuat Jacob curiga.
"Namaku Jacob Ridle, salah satu agen dari SIO dan juga seorang mentor di WOSA." Jawab Jacob.
"Jacob Ridle?" Bisik Laura tanpa mengeluarkan suara. Mendadak jantungnya berpacu lebih cepat lagi, dan matanya sudah membulat sempurna. Sebuah kecurigaan yang sedari tadi melanda pikiran Laura menjadi bertambah setelah mengetahui nama asli dari Jacob. Nama itu persis dengan nama seorang bocah lelaki yang sangat Laura sayangi. Wajah Laura mulai pucat, dan sekujur badannya mulai bergetar.
"Apa boleh aku tahu tentang keluargamu?" Tanya Laura yang semakin penasaran. Laura ingin membuktikan feelingnya benar atau tidak.
Jacob pun melayangkan tatapan bingung ke arah Laura yang sedari tadi sudah menatap ke arahnya dengan tatapan menuntut sebuah jawaban dari mulut Jacob. Dengan ragu, Jacob pun menjawab. "Kedua orang tuaku sudah tidak ada sejak aku masih kecil, dan aku hidup bersama kakakku, Mona hingga akhirnya kami bisa bekerja di perusahaan SIO."
Sebuah lonjakan kecil terjadi pada jantung Laura hingga membuat wanita itu terkesiap saat mendengar jawaban dari Jacob.
Anakku..... Kata pertama yang terlintas pada pikiran Laura. Air mulai terbendung disudut mata wanita itu. Rasa haru dan bahagia menjalar diseluruh tubuhnya. Insting seorang ibu memang tidak pernah salah. Jacob begitu mirip dengan mendiang ayahnya yang merupakan suami dari Laura. Akhirnya, ia bisa menemukan kedua anaknya, Jacob dan Mona. Betapa bahagianya Laura saat mendengar jawaban dari anak yang selama ini selalu ia cari keberadaannya, hingga akhirnya salah satu pengawal pribadinya berhasil melacak keberadaan dan tempat Mona bekerja, yaitu SIO. Mona bekerja di SIO lalu Jacob bilang kalau kakaknya adalah Mona yang sama yang juga bekerja di SIO, dan itu membuktikan kalau Jacob benarlah anak yang selama ini Laura cari. Namun ada sekelibat rasa sakit dalam hati Laura saat ia tahu kalau Jacob menganggap ia dan mendiang ayahnya sudah tidak ada.
"Mr. Jacob!!" Panggil Merina yang tiba-tiba saja datang bersama Maudy. Kedua gadis itu terengah-engah saat mereka berhenti tepat dihadapan Jacob dan ibunya, Laura.
"K-kau ha-rus membantu kami!" Ucap Maudy sambil mencoba untuk mengatur nafasnya.
"Alesha, dia ada-di-pantai-sendirian." Lanjut Merina sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sesak setelah berlari mengelilingi WOSA untuk mencari Jacob.
"Kenapa dengan Alesha?" Tanya Jacob dengan tatapan tajam dan rasa panik yang lagi dan lagi menghampirinya.
"Sudah jangan banyak tanya! Ayo, kita harus cepat!" Maudy segera menarik lengan Jacob untuk berlari. Jacob sendiri sudah mengabaikan ibunya, Laura yang menatapnya dengan haru dan air mata yang mulai meluncur melewati pipinya.
Jacob sangat panik dan juga bingung. Ia sudah mengunci kamar mess itu dan Alesha masih bisa kabur, bagaimana bisa?
Disisi lain, Laura menatap anaknya yang sedang berlari dan meninggalkan ia begitu saja. Laura tidak bisa berkata apa pun. Air mata semakin mengucur deras dan tubuhnya semakin lemas saat tahu kalau ia baru saja bertemu dengan anaknya. Laura sangat merindukan kedua anaknya itu. Terakhir Laura melihat Jacob saat Jacob masih berusia dua tahun. Bocah kecil itu kini menjadi lelaki tinggi yang tampan, dan begitu mirip dengan ayahnya.
"Jacob, aku ibumu, nak. Aku sangat merindukanmu dan kakakmu, Mona." Ucap Laura dengan lirih disertai air mata yang mengucur disetiap kata yang Laura keluarkan.
Rasa sesak menyelimuti hati Laura saat ia mengingat kejadian ketika ia dan suaminya meninggalkan Jacob dan Laura tepat di kolong jembatan. Rasa penyesalan yang begitu berat melingkupi diri Laura. Segera ia menundukkan kepalanya dan berjalan secepat mungkin menuju ruangannya dengan air mata dan isak tangis yang terus mengalir.