
"Alesha..."
Sebuah panggilan keras pun membuat sang pemilik nama terkejut hingga menengok keasal suara.
"Jacob?" Levin mengerutkan keningnya saat melihat kehadiran Jacob secara tiba-tiba. Levin pikir Jacob akan marah padanya karna menghabiskan waktu bersama Alesha. Tapi ternyata dugaan Levin itu salah.
"Ikut aku ke ruangan Mr. Thomson untuk membuktikan kalau kau tidak hamil dan aku tidak pernah menghamilimu." Ucap Jacob lalu menarik lengan Alesha dan membawa gadis itu berjalan dengan cukup tergesa-gesa.
Alesha tidak membalas ucapan mentornya itu. Ia hanya bingung akan apa yang mentornya ucapkan. Bukti kalau ia tidak hamil? Bukti apa yang mentornya itu maksudkan?
"Jacob! Pelankan langkahmu! Kau menyeret Alesha!!" Bentak Levin yang turut menyusul langkah Jacob dan Alesha yang begitu cepat.
Tidak ada balasan dari Jacob, hanya saja ia sedikit memelankan langkahnya setelah menyadari gadis kesayangannya itu berjalan dengan tertatih karna berusaha untuk menyamai langkah.
Sebelumnya Jacob sudah memanggil Hatric dan Dela untuk pergi menuju ruangan Mr. Thomson, jadi saat Jacob, Alesha, juga Levin sampai di ruangan Mr. Thomson, Hatric dan Dela pun sudah ada di sana.
Alesha cukup terkejut saat mendapati Stella yang juga berada di ruangan Mr. Thomson. Alesha sudah memiliki prasangka baik dengan mengira kalau Stella tahu kebenaran yang sesungguhnya dan dapat membantunya keluar dari masalah ini, padahal tanpa Alesha ketahui kalau ternyata Stella lah yang sudah menjerumuskannya pada masalah ini.
"Ada apa ini?" Tanya Hatric.
"Stephani, katakan semuanya sekarang!" Titah Mr. Thomson dengan tatapan tajam yang membidik wajah Stella.
Stella yang ketakutan pun hanya bisa terdiam sambil menundukkan wajahnya. Ia tidak berani jika harus mengungkapkan kedoknya dihadapan yang lain, terkhusus Alesha.
"Stella!!" Bentak Jacob dengan keras hingga membuat keterkejutan pada diri Alesha yang berdiri disebelahnya.
Refleks, Alesha pun memandang syok dan tidak percaya pada mentornya itu. Sungguhkah Jacob membentak Stella dengan begitu keras? Apa salah Stella? Tidak pernah Alesha melihat Jacob yang semarah itu pada anggota timnya. Kedua ujung tengah alis Alesha bahkan saling bertautan dan mulutnya sedikit terbuka. Alesha heran dan bertanya-tanya, apa yang membuat mentornya itu terlihat begitu beremosi saat ini?
"Stephani!!" Sambung Mr. Thomson yang juga membentak Stella.
Merasa dirinya sudah tersudutkan, Stella pun kembali menangis dengan tersedu-sedu.
Alesha yang tidak mengetahui apapun seketika merasa kasihan pada Stella dan berniat untuk menghampiri lalu menenangkan temannya itu.
"Stella, apa yang terjadi?" Lirih Alesha yang baru saja mengambil satu langkah, namun langkah berikutnya harus tercekal karna Jacob yang terlebih dahulu menahan lengan Alesha.
"Tidak usah mengkhawatirkannya! Dia sudah mengkhianatimu, dia mengkhianati kita, Alesha! Dia juga mengkhianati WOSA!!" Tegas Jacob yang membuat sentakan pada diri Dela, Hatric, Levin, dan tentunya Alesha.
"Apa?" Pekik Alesha. Ucapan mentornya itu sangat mengejutkan untuk Alesha hingga membuat jantungnya berdegub kencang. "Berkhianat? A-apa maksudnya?"
"Maaf, Alesha..." Lirih Stella. "Maaf, Dela..."
"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas, Stella!" Dela mulai panik, ia sudah merasakan firasat dan hal buruk yang akan segera menimpanya setelah mendengar ucapan Stella nanti.
"Stella, apa yang terjadi?" Tanya Alesha begitu lirih dengan tatapannya sedih sendu yang terarah pada sahabat terdekatnya itu
Pasrah dengan posisi yang sudah tersudutkan seperti ini, Stella pun menarik napas untuk menyiapkan mentalnya agar dapat mengungkapkan yang sejujurnya pada Alesha, Dela, dan Hatric.
"Maafkan aku, aku yang sudah menukar alat testpack milik Alesha dan Dela, seharusnya Dela yang terbukti positif hamil, bukan Alesha. Maaf... Maafkan aku, Alesha, Dela... Hikss..."
"Apa?" Dela yang mendengar itu pun langsung lunglai dan terjatuh kelantai. Hatinya langsung hancur berkeping-keping, tubuhnya melemas pikirannya kacau sekacau kacaunya. Seperti tidak mungkin, Dela tidak menerima kenyataan pahit itu. Iya! Memang dia sudah diperkosa oleh Hatric, namun Dela tetap tidak menerima jika dialah yang positif hamil.
Alesha pun sama. Tubuhnya melemas, pikiran dan perasaannya menjadi berkecamuk antara bahagia dan sedih karna mendengar pengakuan dari Stella. Alesha sangat tidak menyangka sahabatnya itu sudah mengkhianatinya, padahal selama ini Alesha merasa kalau ia dan Stella tidak memiliki masalah apapun bahkan mereka sangat amat dekat, tapi kenapa Stella malah tega melakukan hal yang sejahad itu.
Satu yang ada dalam pikiran Alesha.
Munafik!
Didepan terlihat baik, namun ternyata menusuk dari belakang.
Tubuh Alesha nyaris terjatuh jika saja Jacob tidak langsung menahannya.
"Kenapa?" Lirih Alesha disertai dengan air mata yang menjadi permulaan sebuah tangisan penyesalan terhadap kawannya, Stella. "Munafik!" Pelan namun menekan. Stella yang mendengar kata 'Munafik' dari dalam mulut Alesha pun semakin mengalirkan air mata yang lebih deras lagi.
"Maaf.." Lanjut Alesha begitu pelan. "Maaf, Mr. Jacob.."
"Apa?"
"Maafkan, aku, hiks." Alesha pun memutar tubuhnya lalu berjinjit dan mengalungkan lengannya pada leher Jacob. "Aku sudah menuduhmu, maafkan aku.." Kini malah Alesha yang menangis tersedu-sedu akibat rasa bersalahnya karna sudah menuduh dan berprasangka buruk pada sang mentor.
"Maaf, Mr. Jacob...."
Lega dan bahagia sekali rasanya untuk Jacob saat Alesha memeluknya. Memejamkan mata dan meresapi kehangatan tubuh Alesha, Jacob juga langsung melingkarkan lengannya pada pinggang Alesha dan mendekap tubuh gadisnya itu dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Jangan salahkan dirimu, Alesha. Kau tidak tahu kebenarannya sebelumnya, tapi sekarang kau sudah tahu. Jangan jauhi dan mengacuhkan aku lagi, aku sangat mencintaimu."
Ucapan Jacob barusan sontak membuat orang yang ada dalam ruangan itu terkejut, terutama Mr. Thomson, kecuali Levin.
Mr. Thomson sudah tahu kalau Jacob menyukai Alesha sejak empat hari lalu saat Levin mengatakannya, namun perasaan bahagia pun semakin bertambah dalam diri Mr. Thomson saat ia mendengar langsung ucapan Jacob yang menyatakan cinta pada Alesha. Mr. Thomson senang melihat Jacob yang menemukan kembali cintanya, Mr. Thomson tahu dan begitu sedih melihat Jacob yang empat tahun lalu terpuruk karna ditinggalkan oleh Yuna, tapi sekarang Mr. Thomson tidak perlu khawatir karna sudah ada Alesha yang dapat menggantikan posisi Yuna dalam hati Jacob.
Namun beda halnya dengan Stella, hatinya semakin tenggelam dan tertikam, sungguh menyesakkan dan menyakitkan. Mentor yang ia cintai itu malah menyatakan cinta pada gadis lain. Sakitnya bukan main. Patah hati Stella. Adakah harapan untuknya dapat meraih cinta sang mentor?
Lalu Hatric, mentor itu terpaku dengan wajah pucat pasi, pasrah dan malu. Nama baiknya sudah tercoreng sekarang akibat sudah menanamkan benih pada rahim salah satu murid WOSA tanpa adanya ikatan pernikahan.
"MR. HATRIC, JAHAT!!! KAU MEMAKSAKU!! KENAPA TIDAK ADA YANG MENOLONGKU WAKTU ITU? INI SEMUA BUKAN KEMAUANKU, BAHKAN AKU SAJA MENOLAK BERKALI-KALI, NAMUN MR. HATRIC MENAHANKU!! LALU BAGAIMANA SEKARANG NASIBKU?? INI SEMUA BUKAN KEMAUANKU!! AKU BERUSAHA MENGHINDAR, MELEPASKAN DIRI, NAMUN MR. HATRIC SUDAH MENGGILA WAKTU ITU DAN MEMPERKOSAKU!! INI TIDAK ADIL!!!" Dela memberontak dengan mengutarakan semua emosi yang menggunung dalam hatinya. Kesedihan yang sudah tidak dapat terungkapkan, rasa malu yang tidak tertahankan, dan kekecewaan juga kemarahan yang seolah tidak akan ada gunanya meski dilepaskan pun karna pada kenyataannya sekarang ia hamil, ia mengandung anak dari hubungan haram bersama salah satu mentor WOSA.
"AKU BENCI SEMUA!!" Dela menghantamkan kepalanya sendiri pada dinding untuk menyalurkan kefrustasiannya. Namun dengan sigap, Hatric pun langsung menghentikan aksi gadis yang sudah ia nodai itu.
"Berhenti menyakiti dirimu, Dela!"
"LEPASKAN AKU!! APA PEDULIMU? PUAS KAU SUDAH MENGHANCURKAN HIDUPKU!!" Lalu Dela pun kembali melanjutkan aksinya dengan menghantamkan kepalanya dengan keras kedinding.
"Cukup!! Jangan bodoh! Kau sedang mengandung anakku!! Hentikan kebodohanmu, Dela!!"
Dela menghiraukan ucapan lelaki yang sudah menaruh noda pada hidupnya itu. Ia pun tetap melanjutkan aksinya, tidak perduli semua yang ada di ruangan itu memandanginya dengan menunjukan ekspresi yang menunjukan sebuah keprihatinan.
"CUKUP, DELA!! AKU AKAN BERTANGGUNG JAWAB!!"
Dela terkesiap dan otomatis ia pun menghentikan aksi bodohnya itu setelah mendengar ucapan Hatric.
"Aku akan bertanggung jawab, Dela..."
Iris mata Dela langsung bergerak ke arah pinggir untuk menatap Hatric yang sedang memasang ekspresi penuh keseriusan. Apakah benar pria itu ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya pada Dela? Wajarkah jika Dela ragu?
"Mr. Thomson, aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahi Dela. Aku sadar atas kesalahanku, maafkan aku, maafkan aku, Dela.. "
Mr. Thomson sedikit menyunggingkan senyumnya saat mendengar ucapan Hatric yang mau bertanggung jawab atas kehamilan Dela.
"Aku mungkin sudah melakukan perbuatan memalukan, maka dari itu aku harus bertanggung jawab." Hatric pun memandang wajah Dela dengan tatapan antara penuh penyesalan atas kesalahan, juga keseriusan. "Aku berjanji akan menikahimu, Dela. Jangan gugurkan kehamilanmu. Aku sedang kehilangan kendali diri malam itu hingga aku tidak sadar kalau aku sudah menodaimu, maka dari itu, aku akan bertanggung jawab untuk menghapus noda itu dengan menikahimu."
"Tunggu.. Obat perangsang itu, bagaimana bisa ada diminumanmu juga Alesha?" Levin pun membuka suara dengan pertanyaan yang patut dicari tahu jawabannya.
"Aku tidak tahu, aku sedang mengobrol dengan para mentor WOSA, bahkan aku sempat mengobrol denganmu bukan, Jack?" Jawab Hatric sembari melirik pada Jacob.
Jacob mengangguk setuju. Memang benar, sesaat sebelum ia mencari Alesha, ia sempat berbincang sebentar bersama Hatric juga mentor yang lain.
"Lalu aku mengambil air minumku dimeja, dan meminumnya. Ah ya! Aku ingat, ada seseorang yang membawaku, aku tidak mengetahuinya karna ia memakai pakaian dan topi yang menutupi wajahnya dengan warna serba hitam. Aku sudah terlanjur mabuk, jadi aku tidak sempat melihat wajah seseorang itu. Kalau tidak salah, dia lah yang menggiringku menuju taman belakang, hingga aku melihat Alesha di sana sudah dalam keadaan mabuk juga."
Stella menundukkan wajahnya yang semakin pucat pasi. Ia pun sedikit mengeluarkan gerakan salah tingkah yang membuat Jacob merasa curiga.
"Aku curiga jika hal itu adalah ulah dari Stella juga."
Stella terkejut bukan kepalang kala mendengar ucapan mentornya barusan. Sial! Kini Stella semakin menunjukan gelagat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
"Stephani, kau sudah tertangkap basah, lebih baik kau akui semuanya atau kasusmu ini akan semakin rumit karna akan melibatkan pihak kepolisian."
Ancaman Mr. Thomson sungguh membuat jantung Stella seperti ingin meloncat keluar dari tempatnya. Napas Stella mulai bergerak tidak beraturan. Panik! Stella tidak dapat mengontrol gerakan tubuhnya yang semakin bergelagat mencurigakan.
"Tiga detik kau tidak mengakui, maka besok pihak kepolisian akan menjemputmu!" Lanjut Mr. Thomson.
"Satu.. Dua... Ti.."
"Iya! Aku! Aku yang menuangkan obat perangsang pada minuman Mr. Hatric dan Alesha!"
Plak...
Satu tamparan keras membuat wajah Stella miring sejauh sembilan puluh derajat.
"KAU MEMANG BODOH, STELLA!!" Geram Dela.
Mr. Thomson, Alesha, Jacob, dan yang lain sedikit terkejut saat melihat telapak tangan Dela melesat cepat lalu mengukir tanda merah lebar pada pipi Stella.
"WOSA TIDAK PANTAS MEMILIKI SISWI SEPERTIMU!!"
Plakk...
Satu tamparan keras Dela kembali mendarat pada pipi Stella yang lain.
"KAU SEHARUSNYA TIDAK MENJADI MURID WOSA!!"
Bugh...
Kini pukulan keraslah yang Dela hantamkan pada perut Stella hingga membuat Stella tersungkur.
"Semua sudah terungkap, kesalah pahaman sudah terselesaikan. Sekarang sudah terbukti kalau Stephani adalah dalang dibalik kekacauan ini. Jacob, bawa Alesha pergi dari sini, tenangkan dia, Hatric juga, bawa Dela pergi dari sini dan buat dia tenang, aku senang karna kau mau bertanggung jawab, dan untuk kau Stephani! Bersiaplah, orang tuamu akan menjemputmu besok! Tidak ada dispensasi untuk pengkhianat sepertimu!" Tegas Mr. Thomson.
"Tidak! Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi, hiks. Mr. Thomson, aku mohon." Stella menghampiri Mr. Thomson lalu bersujud dibawah kaki kepala sekolah WOSA itu, namun Mr. Thomson adalah orang yang tegas, sekali ia sudah mengambil keputusan, maka ia tidak akan mengubahnya lagi.
"Levin, tolong beritahu pada Laras untuk mengurus proses pemecatan Stephani sebagai siswi WOSA, beritahu semuanya pada Laras mengenai hal ini!"
Levin mengangguk lalu segera melaksanakan perintah Mr. Thomson.
"Ayo, Alesha.." Tidak mau membuang waktu, Jacob pun langsung mengajak Alesha pergi dari ruangan Mr. Thomson, begitu pun Hatric yang juga membawa Dela pergi.
Untuk saat ini berjalan berdampingan dengan Jacob membuat Alesha merasa malu pada dirinya sendiri.
Seharusnya Alesha percaya jika mentornya itu tidak akan pernah melakukan hal yang dapat merebut kehormatannya sebagai gadis. Alesha pun murung. Ia sedih karna beberapa hari ini ia sudah mengacuhkan mentornya yang sama sekali tidak bersalah.
Maaf, Mr. Jacob, Alesha udah nuduh Mr. Jacob yang gak bener. Maafin Alesha....
"Mr. Jacob..." Panggil Alesha pelan tanpa mengangkat wajahnya untuk menatap pria yang ia panggil.
"Hmm... Kenapa, Al?" Tanya Jacob dengan lembut.
"Aku minta maaf..."
Langkah Jacob terhenti seketika, begitu pun Alesha.
"Mr. Jacob, kenapa?" Alesha mendongkakkan kepalanya agar dapat menatap wajah mentornya.
"Jangan meminta maaf lagi, ini semua bukan kesalahanmu, Alesha. Wajar jika kau marah dan kecewa padaku waktu itu karna kau belum mengetahui yang sebenarnya." Balas Jacob yang balik menatap Alesha penuh kelembutan.
Dan disaat seperti itu, baik Jacob atau pun Alesha, mereka sama-sama abai akan keadaan sekitar yang terdapat beberapa siswi WOSA. Seperti biasanya, para siswi itu pun menggosipi Alesha dan Jacob, terutama siswi yang merupakan pengagum rahasia Jacob.
Ada yang berdecak sebal, ada yang menatap dengan sinis, ada juga yang terang-terangan menyindir.
"Mr. Jacob, ayo pergi dari sini, aku jengah dengan mereka." Alesha cemberut, ia sebal karna selalu jadi bahan ghibah para pengagum rahasia mentornya.
"Biarkan saja, Alesha. Biarkan mereka melihat kedekatan kita." Balas Jacob dengan sedikit nada rayuan. Mata Jacob terus terpaku pada Alesha yang ada dibawah wajahnya.
"Ish, Mr. Jacob sudah lah ayo kita pergi!" Alesha mendengus.
"Tidak..."
"Mr. Jacob, bagaimana jika mereka mendengar apa yang kita bicarakan?"
"Memangnya kenapa?" Semakin saja Jacob menurunkan wajahnya agar dapat bertatap sejajar dengan Alesha.
"Kau gila ya!!" Ucap Alesha dengan sedikit penekanan.
"Ya, aku gila karnamu..." Bisik Jacob dengan seringai menggoda yang membuat jantung Alesha mulai berdebar. "Tapi tenang saja, aku tidak akan membiarkan kegilaanku ini menghilangkan kehormatanmu, dan satu! Aku hanya akan menghamilimu setelah kita menikah, Alesha."
Blushed.....
*
Aish, dasar Jacob. Alesha tersipu malu sekarang, dan ia hanya bisa menundukkan wajahnya sembari tersenyum kecil, padahal dalam hatinya ia sudah terbang melanglangbuana entah kemana.
*
Panas...
*
Sekujur tubuh Alesha mendidih karna menahan malu, sedangkan Jacob malah tertawa menyadari Alesha yang tersipu.
"Ah, kau sangat menggemaskan, Alesha." Jacob mengangkat wajah Alesha lalu mencubit kedua pipi Alesha dengan gemas.
"Sakit!" Pekik Alesha.
Bukannya menghentikan aksinya, kini Jacob beralih dengan mencubit gemas hidung Alesha hingga membuat kedua alis Alesha berubah merah juga mata yang sudah berkaca-kaca akibat efek nyeri yang berasal dari cubitan dihidung. Alesha pun mengerjapkan matanya beberapa kali dan membuat kerlingan cair itu meluncur dari kelopak matanya.
"Mr. Jacob, sakit..." Pekik Alesha
"Ulululu, merah, pipi, alis, dan hidungmu memerah, Alesha." Jacob menangkup wajah Alesha dengan kedua lengannya. "Maaf.. Tapi kau menggemaskan saat seperti ini, Alesha." Jacob pun menggeram penuh kegemasan. Jika saja bisa, Jacob ingin sekali mengurung Alesha di dalam kamar dan tidak melepaskan gadis itu dari pelukannya selama mungkin sepuasnya.
"Iya, tapi sakit!!" Balas Alesha.
"Baiklah, maaf kalau begitu. Lagi pula kau sangat menggemaskan, Alesha, rasanya aku ingin cepat-cepat menikahimu."
Alesha memutar kedua bola matanya dengan jengah, namun dengan senyum manis yang turut mengembang pada bibirnya.
"Ah, sudahlah.." Alesha segera membawa dirinya untuk berjalan mendahului Jacob.
"Hey, tunggu!"
***
Keesokan harinya, tepatnya pukul sepuluh pagi, kedua orang tua Stella pun tiba di WOSA dengan menggunakan pesawat mini milik SIO.
Kecewa? Jelas! Kedua orang tua Stella kecewa setelah mendengar penjelasan singkat melalui telepon bersama Laras kemarin. Mereka tidak menyangka kalau anak mereka, Stephani atau biasa dipanggil Stella berani untuk bekerja sama dengan penjahat dunia dan mengkhianati WOSA.
Tidak tahu bagaimana kedepannya, entah hukuman apa yang akan Stella dapatkan dari orang tuanya, yang pasti hanya satu, WOSA akan mengambil jalur hukum jika sampai Stella atau orang tuanya ada yang berani menyebarkan berita tentang WOSA dan SIO pada masyarakat awam.
Dan untuk Bastian, ia sebagai ketua merasa gagal dan kecewa karna harus kehilangan satu anggotanya. Seluruh anggota tim pun diberitahu mengenai kasus yang menimpa Stella, Alesha, Jacob, Hatric, dan Dela, namun Bastian menegaskan pada anggota timnya untuk tidak memberitahu pada murid WOSA mana pun.
"Aku tidak menyangka jika Stella bisa sejahat itu." Ucap Lucas.
"Aku lebih tidak percaya jika Stella adalah orang yang waktu itu membuat Alesha nyaris sekarat." Sambung Nakyung.
"Kita semua tidak menyangka kalau Stella ternyata sejahat itu." Saut Merina.
"Tapi aku sangat terkejut saat tahu kalau Mr. Jacob dan Alesha diam-diam memiliki hubungan." Sindir Maudy sembari melirik jahil pada Alesha.
Alesha yang mendengar pun langsung terlonjak dan membalas ucapan Maudy dengan tegas. Sedangkan Jacob hanya terkekeh kecil.
"Tidak! Aku tidak memikiki hubungan apapun dengan Mr. Jacob!"
"Tidak usah berbohong, Alesha." Ledek Merina.
"Sungguh, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mentor menyebalkan itu!" Balas Alesha.
"Sekarang aku mengerti kenapa Alesha bisa seberani itu pada Mr. Jacob." Sindir Lucas yang juga tersenyum jahil dan mengedipkan satu matanya pada Jacob.
"Tentu saja, karna Mr. Jacob dan Alesha memikiki hubungan khusus, hahahah..." Merina pun tertawa lepas setelah mengucapkan kalimat itu.
"Tidak! Mr. Jacob, katakan yang sebenarnya pada mereka!" Alesha pun langsung melotot tajam pada Jacob.
Dengan santai, Jacob mengedikkan bahunya lalu berkata. "Iya, untuk sekarang aku memang tidak menjalin hubungan apapun dengan Alesha, namun tidak lama lagi Alesha akan menjadi Nyonya Ridle."
"Mr. Jacob!!!"
"Hahahaha....." Tawa para anggota tim pun memecahkan suasana yang semula terasa redup menjadi lebih hidup.
"Alesha... Ya ampun, kau sangat beruntung bisa mendapatkan Mr. Jacob. Aku doakan semoga kau dan Mr. Jacob akan bahagia." Heboh Merina sembari menepuk-nepuk bahu Alesha.
Awas kau, Mr. Jacob!!!...... Dumal Alesha dalam hatinya. Tatapan matanya terbidik dengan tajam pada dua iris hitam Jacob.
"Mr. Jacob, Stella akan pulang sekarang bersama orang tuanya. Dia sudah bukan lagi anggota kita dan murid WOSA." Ucap Bastian yang baru saja kembali dari ruangan Mr. Thomson bersama kedua orang tua Stella, dan juga Stella sendiri.
Terlihat ibu Stella yang menangis dan ayah Stella yang memasang raut wajah penuh kekecewaan.
"Boleh saya tahu yang mana Alesha?" Tanya ayah Stella begitu sopan.
"Saya, tuan." Jawab Alesha lirih.
Tanpa menjeda waktu, ibu Stella pun segera menghampiri Alesha lalu memeluk tubuh Alesha.
"Maafkan kesalahan Stella, Alesha.. Hiks..."
"Apa anda Jacob, mentornya Stella?" Tanya ayah Stella yang mendekat Jacob.
"Iya, tuan." Jacob mengangguk.
"Kalau begitu, saya sebagai ayah dari Stella ingin meminta maaf atas ulah yang sudah dilakukan oleh Stella terhadap anda dan Alesha. Saya juga turut mengucapkan terima kasih karna selama satu tahun ini sudah menjaga dan mendidik anak saya." Ucap ayah Stella yang tampak sedikit murung dan menahan malu.
Jacob hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
Terakhir, sebelum Stella dan kedua orang tuanya pergi menuju pesawat yang sudah siap untuk lepas landas, Stella pun sempat menatap Alesha dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Sedih, marah, menyesal? Mungkin itu. Atau bisa jadi lebih. Lalu Stella pun menatap sendu pada mentornya, Jacob. Stella tahu, mungkin ia tidak akan bisa melihat Jacob lagi untuk waktu yang lama. Stella sudah betah di WOSA, ia akan sangat merindukan kebersamaan yang sudah didapatkan bersama anggota timnya, terkhusus sang mentor, ya walau pun tidak sebanyak Alesha.
Disaat-saat terakhirnya di WOSA, Stella merasakan sesak yang sangat mendalam dan ingin sekali rasanya ia menangis kencang. Ia tidak akan bertemu mentornya lagi, itu adalah penyesalan terbesarnya. Hanya ada kenangan, dan foto pada galeri ponselnya. Sakit sekali, Stella meneteskan air matanya saat ia memandang wajah mentornya melalui jendela kaca pesawat. Bagaimana jadinya? Bagaimana perasaannya? Lalu bagaimana ia menjalani hari-harinya sedangkan hati dan pikirannya pasti akan terus terpaku pada sang mentor yang akan sangat dirindukan. Siapakah ia jika harus berpisah dengan mentornya untuk sekarang dan mungkin seterusnya? Perjuangannya pun telah sia-sia.
Stella menangkup wajahnya, menangis perlahan hingga tubuhnya bergetar. Menyesali perbuatannya sendiri, jika saja ia tidak gegabah, pasti ia akan tetap berada di WOSA dan dapat terus melihat mentornya itu. Satu tahun yang sangat berarti untuk Stella, hatinya sudah menetap pada satu cinta, yaitu Jacob, mentornya sendiri.
"Aku akan sangat merindukanmu, Mr. Jacob." Lirih Stella dalam tangisnya.