May I Love For Twice

May I Love For Twice
Sweet Meeting



Jacob memarkirkan mobilnya disebuah cafe bergaya klasik tempat Alesha bekerja.


Tapi sebentar. Cafe itu, tempat biasa Alesha bekerja sebagai penyanyi bersama dua temannya yang lain. Ya ya ya, tiga bulan ini Alesha memang bekerja sebagai penyanyi pop atau religi ditiga cafe yang berbeda. Ia melakukan itu semata-mata untuk mencari penghasilan upah sebelum ia mulai bekerja sebagai karyawan SIO.


"Ayo, Al." Jacob meraih lengan Alesha dan membawanya masuk ke dalam cafe tersebut.


Jacob sendiri lebih memilih untuk menempati meja dan bangku yang terletak di teras atas cafe tersebut.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Ucap seorang pelayan wanita yang menghampiri Jacob dan Alesha.


Alesha mengalihkan wajahnya dari pandangan pelayan cafe itu karna takut jika pelayan cafe itu akan mengenalinya. Tapi bagaimana juga, pelayan cafe itu dapat mengenali wajah Alesha dengan mudah. Kenapa? Karna ia adalah teman Alesha, namanya adalah Tia.


"Ale, kamu mau apa?" Tanya Jacob yang kembali mengubah arah wajah Alesha untuk menghadap padanya.


Oh tentu saja, hal itu membuat Tia terkejut ketika melihat kalau pelanggan wanita itu adalah temannya sendiri, Alesha.


"Alesha? Lu ternyata, kirain siapa." Sapa ramah Tia.


"Hehehe.." Alesha tersenyum kikuk.


Jacob pun berucap dengan menggunakan bahasa Indonesia. "Kamu mau makan apa, sayang?" Tanya Jacob sekali lagi dengan nada yang sangat lembut.


"Sayang?" Tia mengerutkan keningnya saat mendengar panggilan  'Sayang' yang lelaki itu ucapkan untuk temannya.


"Gak usah didenger." Alesha melayangkan senyuman datar pada Tia. Jika saja bisa, ingin sekali Alesha memprotes mentornya itu.


"Kamu temennya Alesha ya? Saya Jacob, calon suami Alesha."


"Nooo, jangan denger dia, Ti." Sangkal Alesha dengan cepat.


"Lu mau nikah, Al?" Pekik Tia sembari menatap tidak percaya pada temannya itu.


"Enggak! I-iya, lah, p-pas-pasti lah gw mau nikah, tapi gak sekarang loh." Alesha gelagapan. Bibirnya tiba-tiba kaku.


"Iya kita emang gak bakal nikah sekarang, tapi mungkin dua minggu lagi." Lanjut Jacob dengan begitu santai.


"Apa?" Pekik Alesha dan Tia secara bersamaan. Kedua raut wajah mereka langsung menunjuk respon syok cepat akan kalimat yang Jacob ucapkan barusan sekali.


Tapi dengan cepat Alesha pun menggelengkan kepalanya dan menatap tajam pada pria yang selalu memujanya itu.


"Gak usah aneh-aneh, Mr. Jacob! Aku tidak menyukai ini! Lebih baik aku pulang saja!"


Alesha sepertinya marah. Ia sudah gerah dengan tingkah pria yang masih ia anggap sebagai mentornya itu.


"Hey, hey, hey, Nona. Baiklah, baiklah, maaf." Balas Jacob sembari menahan lengan gadisnya itu. "Okay, aku hanya bercanda tadi, maaf." Lanjut Jacob sembari menatap pada Tia, lalu Alesha.


"Aku hanya bercanda, maaf."


Tidak mau menjadi tontonan para pengunjung cafe lain, akhirnya Alesha pun terdiam dengan ekspresi cemberut yang begitu menggemaskan untuk Jacob.


"Oke, jadi sekarang kalian mau pesen apa?" Lanjut Tia yang terdengar lebih kaku setelah menyaksikan drama kecil barusan.


"Hazelnut Chocolate Milk Tea." Jawab dingin Alesha. Gadis itu masih merajuk karna sebal dengan sikap Jacob.


"Lalu, tuan?" Tia mengalihkan pandangannya pada Jacob.


"Sama seperti Alesha." Jawab Jacob singkat. Ia masih terpaku pada gadisnya yang sedang marah itu.


"Lalu makannya?" Tanya Tia sekali lagi.


"Brown Cake toping keju." Ucap Alesha yang tidak mau bicara panjang lebar.


"Dan, tuan?" Sekali lagi pertanyaan Tia pun dimaksudkan untuk Jacob.


Jacob melirik sekilas pada Tia. "Sama seperti Alesha." Masih dengan jawaban yang serupa seperti sebelumnya.


"Oke, dua gelas Hazelnut Chocolate Milk Tea, dan dua Brown Cake toping keju akan segera siap, terima kasih sudah memesan, permisi." Segera Tia meninggalkan tempat dimana temannya itu sedang merajuk bersamaan seorang pria bule yang berwajah tampan.


Kembali lagi pada Alesha, gadis itu masih enggan melirik pada pria yang baru saja ia temui setelah tiga bulan berlalu mereka berpisah.


"Alesha, jangan merajuk seperti ini, sayang." Bujuk Jacob yang sama sekali dihiraukan oleh Alesha.


"Hei, My lil' Ale, tersenyum lah, aku ingin melihat senyum manismu."


Tidak memperdulikan Jacob yang berusaha untuk membujuknya agar tidak marah kembali, Alesha hanya fokus menatap langit malam dengan ekspresi lurus datar.


"Alesha, ayolah aku ingin pertemuan pertama kita ini terkesan manis."


"Kau sendiri yang membuatnya terkesan buruk, Mr. Jacob!"


"Iya, maaf, aku tahu, maafkan aku."


Alesha tidak menjawab, dan hal itu lagi-lagi membuat Jacob cemas.


"Jangan marah lagi, sayang."


"Tidak!"


"Tatap aku, Alesha!"


Alesha tetap pada posisinya, dan pura-pura tidak mendengar ucapan pria yang sedang bersamanya itu.


"Alesha, sayangku."


"Hmmm.."


"Tatap aku, sayang."


Alesha pun melirik sinis pada Jacob melalui ekor matanya.


"Tidak, kau sama sekali tidak menakutkan, jangan melirikku seperti itu. Aku memintamu untuk menatapku, bukan melirikku." Jacob membelai lembut pipi halus milik gadisnya itu, tetapi dengan cepat gadisnya itu langsung menepis kasar telapak tangannya.


"Ish, gak usah sentuh-sentuh pipi Alesha!" Omel Alesha.


"Kau ini jadi sensitif sekali, Ale." Setelah selesai berucap, Jacob pun meraih ponselnya lalu mengaktifkan smartphone itu. "Owh, pantas saja, ini akhir bulan rupanya. Haha, kau sedang sensitif, aku harus berhati-hati."


"Bisa tidak kau tidak perlu membahas hal seperti itu!"


Kekehan kecil Jacob keluar begitu saja setelah Alesha menyemburnya dengan ucapan yang bernada cukup tinggi dan tatapan tajam. Menurut Jacob, Alesha malah terlihat lucu jika seperti itu.


"Mr. Jacob! Kau bukannya menyadari kesalahanmu, sekarang kau malah terkekeh seperti itu!"


"Baiklah, aku minta maaf, Alesha. Iya aku bersalah." Gemas sekali rasanya, Jacob tersenyum geli melihat tingkah Alesha yang menurutnya lucu itu.


"Kau itu selalu saja membuatku jengkel, Mr. Jacob!"


Jacob berpikir akan lebih baik jika ia mengalihkan pembicaraan ini, ia tidak ingin terlibat perdebatan tidak berujung bersama gadisnya itu.


"Alesha, boleh aku minta satu permintaan?"


"Huh, tadi kau membuatku jengkel, sekarang kau memohon permintaan padaku!"


"Sayang, aku serius kali ini."


Alesha mendengus sebal. Sebenarnya ia malas, tapi biarlah Jacob mengungkapkan keinginannya itu. "Baiklah, katakan apa!"


"Aku ingin kau memanggil namaku saja, tidak perlu memanggilku dengan sebutan Mr. Jacob lagi!"


"Tidak!" Tolak Alesha dengan cepat.


"Kenapa?" Tanya Jacob.


"Kau jauh lebih tua dariku, aku akan terkesan songong jika hanya memanggilmu dengan sebutan nama saja." Jelas Alesha.


"Tapi aku bukan lagi mentormu, Alesha."


"Siapa yang bilang? Aku masih menganggapmu sebagai mentorku."


"Tidak! Aku adalah calon suamimu sekarang! Aku bukan mentormu lagi! Panggil saja namaku. Titik!"


"Hahah, Percaya diri sekali kau, Mr. Jacob." Kini keadaan mulai berbalik, Alesha lah yang gantian meledek pria yang mengaku sebagai calon suaminya itu.


"Alesha! Aku bersungguh-sungguh, aku merasa aneh jika kau masih memanggilku dengan sebutan Mr. Jacob setelah kita menikah nanti." Nada bicara Jacob terdengar seirus. Mungkinkah ia sedang tidak bercanda?


"Baiklah, baiklah, tapi tidak sekarang. Aku sudah terlanjur nyaman dengan panggilan lama, aku akan mencoba untuk merubahnya sedikit-sedikit."


Sunggingan senyum menawan menghiasi wajah rupawan Jacob kembali. "Anak pintar." Elusan lembut Jacob pada puncak kepala Alesha membuat gadis itu tersipu malu.


Kurang lebih sepuluh menit, pelayan cafe pun datang membawakan pesanan milik Alesha dan Jacob.


Kedua insan yang baru saja bertemu itu begitu menikmati malam mereka dengan canda gurau yang cukup menggelitik. Sesekali Alesha tertawa geli akibat tingkahnya sendiri bersama Jacob. Tidak perduli dengan orang lain yang kadang melirik kearah mereka berdua, Alesha dan Jacob tetap asik dengan dunia mereka saat ini.


Setelah puas membuat gadisnya lelah tertawa, Jacob pun memutuskan untuk mengajak Alesha pulang.


"Tunggu aku dimobil, aku akan membayar makanan yang kita pesan dahulu." Ucap Jacob.


Tidak sampai lima menit Alesha menunggu dalam mobil, Jacob pun akhirnya datang.


"Ayo kita pulang, ini sudah larut malam." Ucap Jacob.


Alesha hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan. Ia merasa lelah walau hanya untuk berbicara.


Jacob yang melihat wajah lelah pada gadisnya itu langsung saja menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.


"Mr. Jacob, kita akan kemana?" Tanya Alesha yang mulai curiga karna ia dibawa melewati jalanan yang tidak langsung menuju kosannya.


"Apartemenku, kau takut bukan jika harus tertidur sendirian?"


Sebentar, bagaimana Jacob bisa tahu? Tanpa Alesha sadari, gadis itu pun mengerutkan keningnya bersama raut kebingungan yang terpampang jelas pada wajah lelahnya.


Jacob yang mendapati hal itu pun seketika terkekeh, ia sangat gemas pada gadisnya itu, rasanya ingin sekali ia menikahi Alesha saat ini juga.


"Alesha sayang, tidak usah bingung seperti itu. Mulai malam ini kau akan tinggal di apartemenku."


"Tidak!" Tukas Alesha begitu sigap. "Aku tidak mau!"


"Sayang, aku..."


"Tidak, Mr. Jacob! Aku tidak mau!"


"Aku paham, Alesha. Kita tidak akan tinggal dalam satu kamar yang sama."


"Tidak! Aku tetap tidak mau! Apa pun itu alasannya, tidak baik untukku tinggal bersama pria yang bukan suamiku!"


"Owh, jadi kau mau jika aku cepat-cepat menikahimu? Baiklah, sayang, akan aku kabulkan itu."


"Bukan, Mr. Jacob. Astagfirullah." Alesha menutup matanya, menarik lalu menghembuskan napasnya agar bisa mengontrol sikap juga emosinya. "Coba untuk kali ini kau mengerti lah maksudku, Mr. Jacob. Aku ingin mengubah dan membawa diriku ke jalan yang jauh lebih baik lagi."


Jacob bergeming setelah mendengar ucapan Alesha barusan.


"Kau pasti pahamkan maksudku, Mr. Jacob?" Ulang Alesha.


Jacob mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kau akan tinggal di unit apartemen lain."


"Ya ampun!" Alesha menepuk keningnya sendiri. Ia merasa gusar sekarang. "Mr. Jacob, aku memiliki tempat tinggal sendiri bersama temanku, kau tidak usah repot-repot memesankan sebuah apartemen kalau hanya untukku saja."


"Tidak ada penolakan, sayang." Jacob menyunggingkan senyum menawannya pada Alesha. Lalu sejurus kemudian ia pun meraih ponselnya yang berada disekat pintu mobil.


"Hallo, Taylor, ya pesankan satu unit apartemen yang bersebelahan dengan unit apartemenku sekarang juga!"


"....."


"Baiklah, terima kasih, Taylor."


"Mr. Jacob!" Alesha mendengus sebal. Ia lalu melipatkan kedua lengannya dengan ujung bibir yang dimajukan beberapa milimeter kedepan.


"Kau bisa mengajak Nina untuk menemanimu tinggal di apartemen itu." Sedangkan Jacob, kini ia beralih mengelus bahu Alesha dengan sebelah tangannya yang tidak sedang digunakan untuk menyetir mobil.


"Hmmm..." Hanya deheman malas saja yang menjadi balasan respon dari Alesha.


Mobil yang Jacob kemudikan pun terus melaju melewati jalanan pusat kota yang memiliki julukan Paris Van Java itu. Hening malam tidak terasa mencekam dengan aktifitas dan lalu-lalang kendaraan meski jam sudah memantapkan posisi pada sudut kurang dari empat puluh lima derajat.


Alesha yang sudah kelelahan pun mengerjapkan matanya beberapa kali karna rasa kantuk berat yang sedang menggerayanginya saat ini. Jacob yang sadar akan hal itu hanya bisa menyunggingkan senyuman saja.


Manis sekali, aku selalu suka jika sudah melihatmu tertidur, apalagi jika tidur dalam pelukanku. Senang bisa bertemu kembali denganmu, sayang, dan aku pastikan rencanaku akan berjalan mulus karna aku sudah benar-benar menyiapkan diri dan jiwaku untuk bisa memilikimu seutuhnya, Alesha. Aku sangat mencintaimu....... Gumam Jacob dalam hatinya.


Berjalan mengiringi waktu, kini mobil pun telah sampai pada salah satu bangunan apartemen mewah kelas atas milik ibunda Jacob. Mengetahui mobil dari anak sang pemilik apartemen datang, para pelayan dan pegawai pun dengan sigap langsung memberikan sambutan berupa sapaan hangat penuh hormat pada Jacob dan Alesha yang berjalan berdampingan menuju lift.


"Mr. Jacob, aku kembali saja ya ke kosanku. Aku tidak mau merepotkanmu."


"Alesha, aku tidak kerepotan sama sekali, malah aku akan merasa bersalah jika membiarknya Nyonya Ridle ku tinggal di tempat biasa saja, sedangkan aku sendiri tinggal di apartemen mewah."


"Nyonya Ridle?" Alesha mengerutkan keningnya.


Satu jari telunjuk Jacob menekan tombol lift yang menunjukkan angka tiga belas.


"Ya, Nyonya Ridle." Balas Jacob santai.


"Maksudmu aku?" Alesha menunjuk dirinya sendiri.


"Siapa lagi, kan memang hanya kau saja yang akan menjadi Nyonya Ridle."


"Hey, hey, hey, namaku Alesha Sanum Malaika. Ingat itu!" Tukas Alesha dengan tatapan yang sedikit menajam.


"Ya, itu memang namamu, tapi panggilanmu nanti adalah Nyonya Ridle." Jacob yang tidak mau kalah pun terus menyahuti ucapan Alesha dengan begitu santai. Sudahlah lama rasanya ia tidak memiliki waktu bermain-main seperti ini, rasanya sangat senang untuk Jacob bisa berada disisi gadisnya kembali.


"Terserah!" Alesha yang sudah terlanjur sebal pun memutarkan kedua bola matanya dengan air jengah. Memang lebih baik ia menghindari perdebatan dengan pria yang ada didekatnya itu.


Selang beberapa menit berlalu, lift pun tiba dilantai yang dituju, pintu besi tebal itu terbuka dan setelahnya Jacob langsung saja menggandeng jemari Alesha menuju unit apartemen yang sudah dipesankan oleh Taylor tadi.


"Selamat datang, tuan Jacob, nona Alesha." Sapa Taylor begitu ramah. Pria itu ternyata sudah berdiri didepan pintu sejak beberapa saat lalu untuk menunggu Jacob dan Alesha.


"Mari, tuan, nona, silahkan masuk." Taylor membukakan pintu unit apartemen yang akan Alesha tempati lalu membiarkan majikan dan calon majikannya itu masuk.



Pandangan Alesha berpencar mengelilingi setiap sudut ruangan yang menurutnya terlihat cukup mewah.


"Terima kasih, Taylor, kau bisa pergi sekarang."


"Sama-sama, tuan." Balas ramah Taylor. Pria itu pun segera pergi meninggalkan Jacob dan Alesha setelah menjalankan tugasnya dengan baik.


"Ini." Jacob menyerahkan sebuah paper bag yang tadi tersimpan diatas meja pada Alesha.


"Apa?" Balas Alesha dengan kerut bingung pada wajahnya.


"Ganti bajumu, pakai piyama ini."


"Piyama?"


"Kau tidak mungkin memakai baju itu untuk tidur, Alesha.. Ganti bajumu, lalu tidurlah."


Dengan ragu-ragu Alesha meraih paper bag yang mentornya itu sodorkan. Lalu ia pun beralih pada sofa dan duduk disana. Perlahan jemarinya pun membuka bagian atas paper bag itu untuk dapat melihat isi didalamnya.


Awalnya Alesha biasa saja karna yang ia lihat hanyalah sepasang pakaian tidur yang berbahan lembut, dingin, dan nyaman tentunya, tapi setelah itu, barulah Alesha mendapati satu hal yang janggal. Matanya terpaku pada sesuatu yang terselip-selip diantara piyama itu.


"Mr. Jacob!" Pekik Alesha yang langsung mengangkat wajahnya dengan cepat agar dapat menatap mentornya itu dengan bidikan mata yang tajam.


Sedangkan Jacob malah asik menatapi wajah Alesha dengan segelas minuman yang sedang digenggamnya.



"Kenapa?" Tanya Jacob begitu santai seolah tidak ada raut berdosa atau bersalah dalam wajahnya itu.


"Kau!" Alesha semakin membulatkan matanya bersama tatapan yang kian memperjelas ekspresi marah pada wajah manisnya.


Seperti mengetahui apa yang membuat gadisnya itu tiba-tiba saja berubah ekspresi, Jacob pun mengeluarkan smirk menawannya.


"Aku tidak mau setengah-setengah untuk mengurus segala kebutuhan calon istriku ini. Jadi aku belikan saja satu paket sekalian dengan semua pakaian dal..."


"STOP! Cukup!" Alesha mengangkat sebelah telapak tangannya untuk memberikan isyarat pada Jacob agar pria itu tidak melanjutkan kembali ucapannya. Alesha malu, ia sungguh-sungguh merasa malu, wajah dan sekujur tubuhnya memanas, rona merah juga mulai menghiasi pipinya.


Bagaimana dia bisa tahu semua ukurannya?..... Tanya Alesha dalam hati.


"Hei, ada apa? Wajahmu merona, Alesha." Jacob terkekeh penuh kegelian. Ia gemas sekali, ingin rasanya malam ini juga Alesha dijadikan sebagai santapan nikmat untuknya, untuk Jacob, untuk bisa merasakan setiap belaian dan kecupan-kecupan lembut namun sensasional.


Ah, tidak tidak! Berhenti berpikir kotor, Jack. Kuatkan dirimu!..... Gumam Jacob dalam hatinya.


"Sudah tidak usah banyak berpikir, sekarang ganti bajumu dengan semua pakaian yang ada dalam paper bag itu lalu tidurlah. Aku akan kembali ke unit apartemenku." Jacob bangkit dari duduknya. Ia tahu jika dirinya sudah mulai tidak beres karna kemunculan gejolak hasrat buruk yang meronta untuk bisa dilepaskan. Jacob tidak ingin menodai kehormatan gadis tercintanya, maka dari itu untuk saat ini ia lebih memilih untuk menghindari Alesha terlebih dahulu agar bisa menekan nafsunya yang semakin menggebu-gebu.


"Selamat malam, sayang." Salah satu telapak tangan Jacob memberikan belaian lembut pada puncak kepala Alesha. "Assalamualaikum.."


"Waallaikumussa.... lam...."


Tunggu...


Alesha tidak salah dengarkan? Pria itu? Mentornya, Jacob?


Tanpa disadari Alesha pun menyungginkan senyum manisnya.


Aish, memang dasar Jacob, selalu saja bisa merubah mood Alesha secara mendadak. Dari senang, sebal, geram, malas, lalu senang lagi.


"Dasar, Mr. Jacob. Hehehe.." Kekehan kecil Alesha menandakan kalau gadis itu sudah mulai merasa bahagia kembali.


Refleks, Alesha menggigit bibir bawahnya. Malu-malu dengan rona merah yang semakin memanaskan wajahnya, Alesha ingin marah pada Jacob, tapi disisi lain kegelian dalam hatinya menindih kuat-kuat perasaan marah itu.


"Kok Mr. Jacob bisa tahu ya ukurannya? Ish, curiga, jadi takut sendiri Aleshanya kalo begini mah." Celoteh Alesha.


"Ah udahlah, gak usah dipikirin juga!" Tidak mau berpikir lebih panjang lagi, kini Alesha memilih untuk bangkit dari duduknya dan berjalan menuju walk in closet, tidak mungkin juga kan ia mandi malam-malam begini.