
Sebelas jam mengudara membuat Jacob begitu merindukan sosok istri kesayangannya. Beberapa hari mereka akan berpisah, dan menjalani hubungan pada jarak yang sangat jauh.
Sebenarnya berat juga untuk Jacob meninggalkan Alesha mengingat mereka baru saja menikah dua hari lalu.
"Huft..." Hembusan napas Jacob yang terdengar gusar. Ia pun menyandarkan kepalanya pada dinding pesawat sembari memandangi lautan awan yang mengambang dibawah alat transportasi udara itu.
"Tuan, kita akan segera mendarat tiga puluh menit lagi," Ucap sang pramugari pesawat.
Jacob tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil. Kerinduannya terhadap sang istri membuat Jacob murung, ia ingin menghubungi Alesha, tapi pasti istrinya itu sudah tertidur karna jika menghitung perbandingan waktu, di Indonesia kini sudah tengah malam, dan di Amerika Serikat, tepatnya di Florida masih siang hari.
***
Pukul 00.15 WIB
Alesha terus menatapi layar ponselnya, berharap suaminya akan segera mengirimkan pesan.
Alesha memang tidak tertidur malam ini, ia mengkhawatirkan Jacob. Menurut perhitungan Alesha, seharusnya pesawat yang ditumpangi oleh Jacob sudah mendarat saat ini. Tapi Alesha tidak akan menyerah untuk menunggu kabar dari suaminya, ia hanya ingin memastikan jika Jacob sampai dengan selamat.
Meski rasa kantuk sudah mengacak-acak konsentrasinya, Alesha tetap memaksa kedua kelopak matanya untuk tetap terbuka lebar.
"Hoammm......."
Alesha merenggangkan tubuhnya lalu memeluk Baby Ale yang sejak tadi selalu berada disebelahnya.
Satu kedipan sama dengan satu detik. Entah sudah berapa banyak kedipan, dan detik yang berlalu.
Melihat ke arah jam, ternyata sudah pukul setengah satu malam.
Alesha mencoba untuk mengaktifkan kembali ponselnya, namun nihil hasil lah yang ia dapatkan.
Kenapa Jacob tidak menghubunginya? Alesha sangat merindukan Jacob. Beberapa malam yang sudah dilalui, Alesha selalu tertidur dalam pelukan suaminya itu, dan malam ini Alesha harus kembali tertidur sendirian.
"Mr. Jacob, Alesha kangen," Lirih Alesha.
Ia menyalakan ponselnya lalu memilih menu galeri untuk melihat gambar suaminya, Jacob. Mungkin hal itu bisa mengobati rasa rindu Alesha terhadap sang suami.
Alesha tidak bisa menyangkal jika ia memang mencintai pria yang tujuh tahun lebih tua darinya itu. Meski diawal sempat ragu karna ia selalu disamakan oleh mantan kekasih suaminya, tapi sekarang Alesha mulai menyadari jika Jacob memang sudah melupakan Yuna.
"Mr. Jacob, Alesha kangen," Sekali lagi, ucapan itu terdengar begitu lirih.
Alesha menenggelamkan wajahnya pada bulu-bulu halus si bonek beruang besar itu.
"Hiks, hiks..." Isakkan kecil tidak bisa lagi Alesha tahan. Ia sangat sedih, dua hari setelah menikah, Jacob terpaksa harus pergi meninggalkannya untuk urusan pekerjaan.
Cukup menyesakkan bukan?
Sebagai istri, Alesha harus bisa bertahan dalam segala situasi, dan kondisi, baik yang sedang terjadi, atau pun yang akan terjadi. Contohnya seperti sekarang ini. Seharusnya ia bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersenang-senang dengan segala macam bentuk keromantisan bersama suaminya. Tapi sayang, kenyataan tidak semanis yang diharapkan. Ia harus rela mengikhlaskan saat-saat bersama suaminya untuk sementara waktu.
Pengantin baru yang malang. Alesha mengkasihani dirinya sendiri saat ini.
"Mr. Jacob, cepet pulang ya," Gumam Alesha yang kembali menatap wajah suaminya melalui gambar dua dimensi pada layar ponsel itu.
Sejenak, Alesha termenung meratapi nasib, namun sesaat kemudian, ia mencoba untuk membuka kembali platform chatting dengan harapan yang masih sama. Semoga Jacob mengirimkan pesan untuknya.
"Huft!!"
Masih sama! Alesha sebal karna belum mendapatkan kabar dari suaminya. Namun sebuah tulisan kecil dipojok kiri atas layar ponselnya itu membuat Alesha membelalakkan matanya.
"Online?" Gumam Alesha. "Mr. Jacob online?"
Seberkas harapan muncul dalam diri Alesha. Buru-buru ia menyentuh lambang telepon yang berada dibagian pojok kanan atas layar ponselnya. Ia ingin melakukan panggilan suara bersama suaminya, ia sangat khawatir.
"Assalamualaikum, hallo, Jack.."
"Waallaikumussalam, Alesha ada apa? Kenapa kau belum tertidur? "
"Huh, aku tidak bisa tidur sejak tadi, aku menunggu kabar darimu."
"Ya ampun, Alesha. Kenapa kau harus menunggu kabar dariku. Aku baik-baik saja, sayang, tidak usah khawatir. Bahkan sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah ibu."
"Alhamdulillah jika kau sudah mendarat dengan selamat. Oh ya, Jack, apa aku boleh melakukan panggilan video? "
"Alesha, kau harus tidur, di sana pasti sudah larut malam."
"Aku memang mengantuk, maka dari itu temani aku."
Lalu Alesha mengubah sambungan teleponnya itu menjadi mode panggilan video yang langsung diterima oleh Jacob. Kini mereka saling memandang melalui layar kaca ponsel yang terhubung dengan jaringan internet.
"Tidur sekarang juga, Alesha, bukannya kau bilang besok kau akan kembali bekerja? "
"Iya, tapi temani aku." Lirih Alesha.
"Baiklah, sekarang pejamkan matamu."
Alesha diam. Ia terus memandangi wajah pria yang sangat dirindukannya itu tanpa mengeluarkan ekspresi apa-apa.
Ingin sekali Alesha menangis. Ia sedih karna hanya bisa bertatapan via virtual saja dengan suaminya. Kapan ia bisa merasakan pelukan hangat Jacob lagi?
Perlahan, kedua ujung tengah alis Alesha mulai merapat, genangan air mata mengaburkan pandangannya. Alesha sangat ingin mengungkapkan isi hatinya jika ia sangat merindukan Jacob, suaminya, tapi ia tidak mau menimbulkan beban dalam diri Jacob.
Ujung hidung, kedua garis alis, dan matanya sudah memerah. Satu kali saja Alesha berkedip, air mata bisa langsung melesat melewati pipinya.
"Alesha, ada apa? Kenapa kau terdiam, sayang? " Tanya Jacob, lembut.
"Tidak apa-apa," Buru-buru Alesha menyunggingkan senyumnya agar Jacob tidak menaruh rasa curiga.
"Lil Ale, tidurlah, aku tidak ingin kau sakit karna bergadang." Pinta Jacob begitu lembut. Jika saja bisa, ingin sekali Jacob mengelusi puncak kepala istrinya itu, dan memberikan banyak ciuman pada wajah manis Alesha.
"Temani aku," Lirih Alesha.
"Aku akan menemanimu hingga kau tertidur, maka dari itu pejamkan matamu sekarang juga, sayang."
"Baiklah." Perlahan, kedua kelopak mata Alesha pun tertutup.
Sedangkan Jacob yang mendapati hal itu pun tiba-tiba saja merasakan sensasi yang membuat hatinya tidak nyaman. Seharusnya ia berada disisi Alesha saat ini, dan bisa menghabiskan waktu malam bersama-sama.
Maaf, Alesha. Seharusnya kita melewati hari-hari kita sebagai pengantin baru dengan penuh kebahagiaan, dan keromantisan. Aku tahu kau pasti sangat sedih di sana. Aku berjanji, setelah Mona pulih, dan semua urusan ini selesai, maka aku akan memberikan seluruh waktuku untukmu, Lil Ale. Aku mencintaimu...... Lirih Jacob dalam hatinya.
Meski hanya bisa memandang melalui sambungan video call, Jacob merasa begitu tenang ketika melihat wajah damai istrinya yang sudah tertidur. Untung saja Alesha menyandarkan ponselnya pada sang boneka beruang besar, jadi Jacob masih bisa melihat bagaimana manisnya wajah Alesha meski sedang terlelap.
"Selamat malam, dan selamat tidur, Lil Ale, mimpi yang indah, sayang," Lirih Jacob dengan senyum manisnya.
****
Satu, dua hari yang ternyata sudah berlalu memang cukup berat untuk Alesha. Meski sudah kembali bekerja, dan berusaha untuk menyibukkan dirinya, tetap rasa murung selalu melanda dirinya.
Perilaku Alesha yang tidak seperti biasanya membuat Bastian, Lucas, Mike, Tyson, Aiden, Nakyung, Merina, dan Maudy merasa sedih, juga prihatin. Kedelapan kawan seperjuangan Alesha itu sudah tahu masalah apa yang membuat Alesha menjadi murung, dan lebih pendiam.
"Aku kasihan pada Alesha. Dia tampak sangat sedih," Ucap Tyson.
"Wajar saja, dia baru beberapa hari menikah dengan Mr. Jacob, dan sekarang dia sudah harus ditinggal. Seharusnya saat ini mereka berdua itu sedang berbulan madu," Sambung Mike.
"Nakyung, Maudy, dan Merina sudah berusaha untuk menghiburnya, namun Alesha hanya memberikan respon berupa senyum kecil. Sepertinya Alesha memang teramat sedih untuk saat ini hingga beberapa hari kedepan," Ucap Aiden.
Bastian menghembuskan napasnya setenang mungkin. Memang benar apa yang diucapkan ketiga temannya barusan, Alesha sedang dirundung kesedihan yang teramat sangat karna harus ditinggal pergi sementara waktu oleh suaminya, Jacob. Bastian juga selalu memberikan laporan pada Jacob mengenai kondisi Alesha.
Tentu saja Jacob merasa sangat bersalah ketika ia tahu jika Alesha selalu murung, dan juga enggan untuk menceritakan kesedihannya pada siapa pun, termasuk kedelapan rekan setimnya. Jacob selalu berusaha untuk menghubungi Alesha disetiap kesempatan, namun Alesha tidak mau berlama-lama untuk melakukan komunikasi virtualnya bersama sang suami. Alasannya satu, Alesha tidak ingin mengganggu waktu bekerja, dan istirahat suaminya, dan bukan karena ia merasa marah karna belum bisa memiliki waktu yang spesial bersama Jacob.
"Kapan kira-kira Mr. Jacob akan kembali, Bas?" Tanya Lucas.
"Dia bilang dua atau tiga hari lagi," Jawab Bastian. "Meski pun sudah kembali, Mr. Jacob tetap tidak akan memiliki banyak waktu untuk Alesha. Dia mesti mengurus persiapan promosi perusahaan ibunya yang akan berlangsung bulan depan."
"Itu berarti selama sebulan Mr. Jacob, dan Alesha akan sibuk dengan urusan masing-masing?" Mike menatap tidak percaya pada Bastian.
"Ya. Bahkan lebih," Balas Bastian. "Maka dari itu aku kasihan pada Alesha. Kemungkinan Mr. Jacob juga akan sering bulak balik Indonesia-Amerika untuk mengurusi perusahaan ibunya."
"Aku pikir lebih baik Nakyung, Maudy, dan Merina menginap saja di mansionnya Alesha agar Alesha memiliki teman untuk menemani, dan menghiburnya," Usul Aiden.
"Aku sudah pernah menawari Alesha dengan usulan yang kau berikan itu, Ai, tapi Alesha menolak," Balas Lucas.
"Biarkan saja Alesha sendiri, mungkin dia memang sedang tidak ingin diganggu. Sekarang, lebih baik kita awasi saja dia. Aku takut jika dia akan melakukan hal-hal yang tidak wajar," Ucap Bastian.
Ya. Mungkin Bastian benar. Alesha hanya menginginkan kesendiriannya untuk saat ini, dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
***
Satu hari....
Dua hari.....
Tiga hari....
Empat, dan lima hari....
Seiring terlewatnya hari-hari itu, sisi introvert Alesha semakin terlihat.
Di kantor baru SIO. Alesha selalu menyibukkan diri dengan meneliti beberapa sampel obat, dan bahan-bahan kimia lainnya bersama para petugas laboratorium, bahkan dua hari yang lalu Alesha ikut bersama beberapa ilmuan untuk mengobservasi salah satu cagar alam yang berada di Jawa Barat.
Segala kesibukan terus Alesha lakukan, komunikasi dengan Jacob pun tetap lancar, meski hanya dilakukan sesekali saja.
Taylor, dan kedelapan anak buah Jacob terus mengikuti, juga mengawasi kemana, dan dengan siapa saja Alesha pergi.
Ketika memasuki hari keenam, Alesha juga turut terjun bersama bersama beberapa karyawan lama SIO untuk melihat, dan memantau lokasi yang digadang-gadang akan menjadi salah satu kantor cabang SIO juga di Indonesia, tepatnya di daerah perbukitan Hambalang, Bogor.
Sejak sore hingga malam hari, Jacob merasa cukup frustasi karna Alesha belum juga menjawab pesan teksnya, meski Jacob sendiri sudah tahu alasan kenapa istrinya itu masih belum membalas pesan teksnya.
Taylor sudah mengatakan pada Jacob jika kondisi kesehatan Alesha baik-baik saja, dan memang Alesha cukup sibuk dengan pekerjaannya hingga belum bisa memiliki waktu untuk membalas pesan Jacob.
Tapi itu yang terlihat, dan terpantau oleh Taylor, sedangkan Taylor sendiri tidak bisa melihat isi hati Alesha, dan bagaimana perasaan Alesha. Jacob takut jika ternyata diam-diam Alesha marah padanya.
( *Isi p**esan teks dari Jacob* )
Assalamualaikum..... (05.45 pm)
Alesha......... (05.45 pm)
Sayang....(05.48 pm)
Sudah sholat belum? (05.49 pm)
Alesha, kau baik-baik sajakan? (05.50 pm)
Alesha, kau sudah makan belum? (06.05 pm)*
Sengaja Jacob mengirim pesan pada pukul enam kurang disore hari waktu Florida, karna di Indonesia waktu sudah sudah menunjukan antara pukul lima atau setengah enam pagi. Namun rupanya tidak ada balasan dari Alesha, maka dari itu Jacob mencoba untuk menghubungi istrinya Via telepon.
...Satu panggilan tak terjawab...
...Dua panggilan tak terjawab...
...Tiga panggilan tak terjawab...
...Empat panggilan tak terjawab...
...Lima panggilan tak terjawab...
...Enam panggilan tak terjawab...
...Tujuh panggilan tak terjawab...
...Delapan panggilan tak terjawab...
...Sembilan panggilan tak terjawab...
...Sepuluh panggilan tak terjawab...
*Me:
Alesha, jangan lupa untuk beristirahat, sayang ๐ฅบ (07. 33. pm)
Lil Ale ๐๐ฅบ (07.38 pm)
Alesha ๐ (07.40 pm)
Bagaimana kabarmu hari ini, sayang? Jaga kesehatanmu ๐ (07.43 pm)
Alesha ๐๐ (07.45 pm)*
Jacob yang harus menghadiri pertemuan bersama para pengurus perusahaan pun terpaksa menjeda untuk mengirimkan pesan, dan panggilan telepon pada istrinya. Ia cukup frustasi, dan sedikit tidak fokus dalam pertemuan antar pemimpin perusahaan itu. Ia resah, ingin cepat-cepat mengetahui apakah Alesha sudah membalas pesannya atau belum.
Dua jam pertemuan itu berlangsung, beberapa point juga sudah didapatkan. Tidak mau membuang waktu, Jacob pun segera menutup rapat itu.
Selepas para pejabat perusahaan keluar dari ruang pertemuan, Jacob segera mengaktifkan ponselnya untuk melihat apakah Alesha sudah membalas pesannya atau belum.
"Alesha, kenapa kau masih belum membalas pesanku? Bahkan kau belum membacanya sama sekali," Jacob mengusap wajahnya dengan gusar. Apa yang terjadi dengan istrinya? Biasanya Alesha akan membalas dengan cepat pesan yang Jacob kirimkan melalui aplikasi chatting.
"Tuan, mobil anda sudah siap," Ucap supir pribadi Jacob.
Jacob mengangguk dengan arah wajah yang masih terpaku pada layar ponselnya. Sembari terus berjalan, Jacob tidak ada henti-hentinya memandangi foto sang istri sembari bergumam sedih dalam hati.
Kenapa Alesha belum membalas pesannya juga? Apa karna saking sibuknya hingga tidak memiliki sedikit pun waktu untuk membalas pesan suaminya?
"Silahkan masuk, Tuan," Ucap sang supir pribadi Jacob sembari membukakan pintu mobil.
"Terima kasih," Balas Jacob, datar. Ia pun memasuki, dan duduk dengan tenang di dalam mobilnya. Kedua ibu jarinya saling berlomba untuk menyentuh huruf-huruf dalam keyboard yang tertera pada ponsel Jacob agar bisa menyusun pola kalimat yang ditujukan untuk si manis kesayangan.
*Me:
Kenapa kau belum membalas pesanku, Alesha? ๐ฅ๐ฉ (09.48 pm)
Kau marah ya? ๐ (09.53 pm)
Sayang ๐ (09.55 pm)
Alesha, tidak biasanya kau seperti ini๐ฅบ kenapa lama sekali membalasnya? Bahkan kau belum sempat membaca pesanku, sayang๐ญ (09.58 pm)
Alesha, maaf๐๐ฅบ (10.00 pm)
Biasanya kau akan sangat cepat membalas pesanku๐คง (10.01 pm)
Kau marah padaku, Lil Ale?๐ฅบ๐ (10.03 pm)
Alesha...... (10.05 pm)
Akun merindukanmu (10.10 pm)*
Panggilan demi panggilan terus Jacob lakukan, ia juga sudah mendapatkan kabar dari Taylor jika Alesha sedang dalam perjalanan menuju bukit Hambalang, Bogor, bersama beberapa karyawan SIO.
*Me:
Alesha, kalau kau sudah sampai di lokasi segera kabari aku๐ (10.12 pm) *
Mungkin Alesha akan membalas pesannya nanti setelah sampai di Bogor, tepatnya di bukit Hambalang. Begitu lah pikir Jacob.
Sepanjang perjalanan dalam mobil, Jacob termenung, tatapannya kosong, ia sangat lelah, seharian ia tidak beristirahat.
Tidak terasa, hembusan angin dari AC mobil membuat rasa kantuk mengambil alih kesadaran Jacob. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, namun berat sekali kelopaknya untuk dapat terbuka. Hingga pada akhirnya, Jacob pun takluk oleh rasa kantuknya sendiri.
****
Di Bogor, lebih tepatnya di hutan kota yang biasa disebut dengan Kebun Raya, Alesha bersama beberapa pegawai SIO kini sedang melakukan studi, dan meneliti beberapa jenis tumbuh-tumbuhan, juga pepohonan yang sudah berusia ratusan tahun.
Awalnya ia dan yang lain akan menuju perbukitan Hambalang untuk memantau kembali lokasi, dan memperhitungkan letak geografisnya apakah aman atau tidak jika SIO membangun sebuah markas tersembunyi di sana, namun setelah dipertimbangkan kembali, akhirnya ia, dan yang lain memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke Kebun Raya, baru setelah itu pergi menuju perbukitan Hambalang.
Berjam-jam lamanya Alesha sibuk meneliti beberapa jenis tumbuhan, dan mencatat informasi yang ia dapat dari tumbuhan-tumbuhan itu ke dalam buku jurnal khusus. Alesha memang tidak banyak menyentuh apalagi mengaktifkan ponselnya, kecuali ketika ia akan mengambil foto dari tumbuhan yang sudah ia teliti, dan itu pun hanya dilakukan sesekali saja.
Terik matahari tidak menghalangi Alesha untuk bisa membawa banyak informasi, dan data penelitian yang sudah ia dapatkan dari beberapa jenis tumbuhan. Bisa jadi satu atau dua atau bahkan lebih dari jenis tumbuhan yang sudah ia teliti itu memiliki sesuatu atau kandungan yang unik, dan menarik untuk diteliti lebih lanjut oleh para pegawai laboratorium SIO.
Berlain hal dengan Jacob, di Florida, malam sudah larut, namun ia tidak kunjung mendapatkan balasan pesan teks dari istrinya. Maka dari itu, Jacob mencoba untuk kembali menghubungi istrinya beberapa kali melalui panggilan telepon.
...Satu panggilan tak terjawab...
...Dua panggilan tak terjawab...
...Tiga panggilan tak terjawab...
...Empat panggilan tak terjawab...
...Lima panggilan tak terjawab...
...Enam panggilan tak terjawab...
...Tujuh panggilan tak terjawab...
...Delapan panggilan tak terjawab...
...Sembilan panggilan tak terjawab...
...Sepuluh panggilan tak terjawab...
*Me:
Alesha, apa kau marah padaku, Lil Ale? (00.29 am)
Alesha, jangan marah๐ฉ๐ฅบ (00.30 am)*
...Satu panggilan tak terjawab...
...Dua panggilan tak terjawab...
...Tiga panggilan tak terjawab...
...Empat panggilan tak terjawab...
...Lima panggilan tak terjawab...
...Enam panggilan tak terjawab...
...Tujuh panggilan tak terjawab...
...Delapan panggilan tak terjawab...
...Sembilan panggilan tak terjawab...
...Sepuluh panggilan tak terjawab...
...Sebelas panggilan tak terjawab...
...Dua belas panggilan tak terjawab...
...Tiga belas panggilan tak terjawab...
...Empat belas panggilan tak terjawab...
...Lima belas panggilan tak terjawab...
*Me:
Alesha, aku hanya ingin kau membalas pesanku๐ฅบ๐ข (00.45 am)
Alesha, kau kemana?๐คง๐ (00.58 am)
Sayang๐ (01.00 am)*