May I Love For Twice

May I Love For Twice
Saingan Baru



Aura kaget dan syok memenuhi segala sudut ruangan itu. Wajah-wajah yang kini menunjukan bentuk mata yang membulat dan mulut yang sedikit terbuka tidak bisa terhindarkan dari tatapan Laura. Bahkan wanita yang berada tepat disebrang Jacob tidak kalah kagetnya. Selama ini CEO mereka, Laura selalu bungkam dan tidak pernah membicarakan tentang anaknya sekali pun, dan sekarang secara mendadak Laura memperkenalkan anaknya, yaitu Jacob.


Benar-benar mendadak dan sangat mengejutkan. Semenit berlalu pun masih belum cukup untuk mereka memandang dengan ekspresi tidak percaya pada Jacob dan Laura.


"Jack, dia Irene, sekretaris perusahaan kita." Ucap Laura sambil menunjuk pada wanita cantik yang berada disebrang Jacob.


Irene yang sudah terlanjur tertarik dengan Jacob pun menjadi salah tingkah saat Jacob menatap dan tersenyum kecil padanya. Pandangan pertama Irene pada Jacob menyalurkan rasa ketertarikan. Ditatapnya Jacob secara seksama walau tanpa ada tatapan balasan dari Jacob.


"Dia Jonas, manager perusahaan, dan tiga orang yang ada disebelahnya adalah kepala dari setiap divisi yang ada di kantor ini." Lanjut Laura.


"Dan kau.." Laura menunujuk pada Jacob. "Kau yang nanti akan menjadi CEO baru anak mereka."


Jacob hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi dan menghiraukan Laura begitu saja. Sebenarnya Jacob tidak begitu perduli dengan apa yang ibunya ucapkan. Kalau saja bukan karna Alesha, Jacob tidak akan pernah mau menuruti permintaan ibunya dan tidak perduli jika ibunya memohon agar Jacob mau meneruskan perusahaan itu. Jacob sama sekali tidak tertarik dengan semua kekayaan dan banyaknya perusahaan yang ibunya miliki. Rasa kecewa dan sakit hati yang begitu mendalam membuat Jacob acuh pada apa yang akan ibunya tinggalkan nanti. Mungkin untuk saat ini Jacob tidak bisa menolak, dan nanti setelah Alesha kembali sembuh, dengan tegas Jacob akan menolak untuk menggantikan posisi ibunya sebagai CEO perusahaan. Palingan Jacob akan memberikan jabatan itu pada Mona atau kakak iparnya, William. Lalu bagaimana dengan Jacob? Ia akan bekerja seperti biasa di SIO dan menjadi mentor di WOSA. Tidak adanya minat membuat Jacob enggan untuk berurusan dengan perusahaan milik ibu dan mendiang ayahnya.


Kali ini bukan masalah harta atau kekayaan. Jika saja orang tua Jacob tidak lepas tanggung jawab pada kedua anaknya walau pun tidak bergelimang harta, Jacob akan menyayangi kedua orang tuanya. Tapi sekarang, semua kekayaan sudah didapatkan, namun kasih sayang dari Jacob untuk orang tuanya sulit untuk dimunculkan karna tertimbun oleh rasa kecewa.


"Maaf, Nyonya tapi kenapa anda baru memberitahukan ini pada kami sekarang?" Tanya Irene.


Laura hanya bisa tersenyum kecil saat mendengar pertanyaan Irene barusan. "Maaf jika aku begitu mendadak memberitahukan hal ini pada kalian." Ucap Laura. "Aku sendiri baru bisa bertemu dengannya karna Jacob begitu sibuk dengan urusannya." Lanjut Laura yang berbohong.


Saat mendengar ucapan ibunya itu, Jacob mengerutkan keningnya dan menatap sinis selama beberapa detik pada Laura. Apa tidak salah yang Jacob dengar? Jacob yang sibuk atau ibunya itu yang tidak berani terus terang dan mengatakan yang sebenarnya pada karyawannya? Jacob menyeringai malas. Bisa-bisanya Laura memutar balik kenyataan yang sebenarnya.


"Ada pertanyaan?" Tanya Laura.


Tidak ada mulut yang membuka suara atau melayangkan sebuah pertanyaan. Mereka yang ada di ruangan itu masih bingung, dalam benak ingin mengutarakan pertanyaan namun bingung apa yang harus ditanyakan. Manager dan tiga kepala staf divisi itu hanya bisa terdiam, dan berbeda pula dengan Irene yang melangkah maju mendekati Jacob.


"Irene James Cullen, sekretaris di kantor ini." Irene mengulurkan telapak tangan dan mengembangkan senyum menawan pada Jacob. Karna merasa tidak enak, Jacob memilih untuk membalas uluran tangan dan senyuman Irene dengan sesingkat mungkin. Perlu diperhatikan, hal itu Jacob lakukan hanya untuk pencitraan saja agar ia tidak dianggap sombong, padahal sesungguhnya Jacob sangat malas.


"Kau bisa meminta tolong padaku jika membutuhkan bantuan, tuan Jacob." Ucap Irene yang menambahkan sedikit mimik menggoda pada wajahnya. Anggukan pelan dari Jacob membuat Irene melepaskan jabatan tangannya dengan Jacob.


Lagi-lagi Irene tidak bisa melepaskan tatapannya dari iris mata Jacob. Wanita cantik itu menandakan rasa ketertarikan pada lelaki yang merupakan anak dari CEOnya. Ya maklum saja memang sejak remaja sudah banyak sekali gadis yang menyukai Jacob, dan Jacob sendiri merasa biasa saja, satu-satunya gadis yang begitu menarik hatinya adalah Yuna. Ada keunikan sendiri dalam diri Yuna yang membuat Jacob begitu jatuh hati padanya, namun akhir yang tragis memaksa Jacob harus bisa melupakan semua kenangannya bersama Yuna, semakin Jacob mengingat Yuna, semakin sakit yang Jacob rasakan dalam hatinya. Sedikit tarikan disudut bibir Jacob terbentuk saat ia tiba-tiba saja mengingat tentang Alesha. Percaya atau tidak, diri Jacob menemukan hal lain yang ada dalam diri Alesha yang membuatnya kembali tertarik pada gadis remaja yang kini sedang terbaring lemah disebuah rumah sakit. Senyum samar itu kembali luntur saat membayangkan wajah tenang Alesha yang sedang tertidur dalam kondisi yang sedang sekarat.


Tanpa disadari, wajah Jacob menunjukan ekspresi takut dan panik, hatinya kembali tidak tenang, bahkan Jacob tidak mendengarkan apa yang sedang ibunya ucapkan barusan. Pikirannya melayang menuju Alesha. Sikap Jacob yang tiba-tiba berubah begitu saja dapat disadari oleh orang-orang yang berada di dalam ruangan itu.


Jacob menatap sekilas pada Irene, lalu tatapannya segera tertuju pada ibunya.


Laura terdiam saat mendapatkan tatapan dari anaknya, ia tahu maksud dari tatapan Jacob yang ingin segera kembali ke rumah sakit. Kekhawatiran tergambar jelas pada wajah Jacob. Irene yang berdiri diantara Jacob dan Laura hanya bisa mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mempunyai banyak waktu." Ucap Jacob pada Laura.


Tatapan Laura lurus datar. Tubuhnya tidak memberikan respon apapun pada ucapan Jacob barusan. Laura tidak memperdulikan perasaan Jacob yang sudah tidak karuan karna terus saja mengingat Alesha. Ibunda Jacob itu merasa kesal karna Jacob lebih mementingkan Alesha, padahal ada hal lain yang menurut Laura lebih penting daripada gadis yang saat ini sedang sekarat di rumah sakit.


Jacob mengepalkan tangannya dan mencoba untuk menahan bom dalam hatinya yang siap meledak. Jacob berpikir kalau ibunya, Laura mencoba untuk mempermainkannya.


Dengan satu tarikan napas, Jacob mencoba untuk tenang. "Maaf sebelumnya, saya tidak memiliki banyak waktu, ada hal lain yang mesti saya urus. Jadi, saya permisi dan meminta izin untuk pergi dari ruangan ini." Ucap Jacob dengan penuh kesopanan. Laura terkesiap dengan ekspresi wajah yang masih datar ketika ia mendengar ucapan Jacob barusan


Seluruh orang yang ada di dalam ruang rapat berkerut bingung saat memperhatikan sepasang ibu dan anak itu. Seolah ada sesuatu yang mengganjal dan ditutup-tutupi.


Langkah kaki Jacob segera melaju menuju keluar ruangan dan berniat untuk kembali ke rumah sakit. Sedangkan Laura yang masih berada di dalam ruangan rapat hanya bisa terdiam dengan segala cara untuk menahan emosinya. Tubuh wanita paruh baya itu tidak bergeming dan terus mematung. Ia kecewa pada Jacob yang pergi begitu saja meninggalkanya dan menyisakan rasa malu dihadapan beberapa petinggi perusahaan. Perlahan iris mata Laura mulai memantulkan kilat-kilat kaca cair siap terjun.


"Nyonya, anda tidak apa-apa?" Tanya Irene sambil menepuk pelan bahu Laura. Segera Laura menatap ke arah langit-langit ruangan untuk mencegah agar tidak ada air mata yang turun.


"Kalian bisa kembali ke ruangan masing-masing, aku akan kembali ke ruanganku." Ucap Laura yang segera berjalan dan pergi begitu saja.


Baru sekitar lima menit Laura membuka pertemuan dadakan itu, dan Jacob sudah memutuskan untuk pergi begitu saja. Malu yang kini Laura rasakan karna tindakan Jacob yang meninggalkan ruang pertemuan begitu saja tanpa ada izin darinya. Laura bingung kenapa Jacob begitu mengkhawatirkan gadis itu? Ada hubungan apa Alesha dan anaknya hingga membuat Jacob lebih memilih gadis itu?


Langkah kaki Jacob berpacu dengan lebar dan cepat melewati para karyawan yang diam-diam berbisik saat sang anak dari pemilik perusahaan itu berlalu begitu saja. Jacob mengabaikan apapun yang ia lewati, tidak perduli jika Laura akan marah padanya dan mengancam kalau Alesha tidak akan bisa mendapatkan penanganan medis. Jacob mempunyai banyak uang dari gajinya yang sangat cukup untuk biaya rumah sakit kalau-kalau ibunya itu melakukan hal yang diancamkan pada Jacob.


***


Di dalam ruangan Laura, ada Irene yang sedang menemani ibunda Jacob itu. Irene sendiri hanya bisa terdiam disofa empuk dan memandangi Laura. Dalam benaknya, Irene bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Jacob pergi begitu saja, dan Laura yang duduk dibangku kerjanya dan menangis sambil menangkup wajahnya.


Sekretaris cantik itu jadi curiga kalau ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh CEOnya, dan pikirannya teralihkan pada sosok pria tampan yang akan mewarisi semua perusahaan besar milik Laura. Jacob yang kini terus saja menetap pada pikirannya membuat senyum kecil pada sudut bibir Irene. Boleh dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama sedang merasuki diri dan hati Irene. Jika saja bisa, ia sudah mengkhayalkan kalau ia dan Jacob akan menjadi sepasang kekasih seperti yang ada pada cerita dan novel, sang CEO tampan menjalin kasih dengan sekretaris cantik. Pikir Irene, siapa yang akan bisa menyainginya? Ia cantik, tinggi, dan pintar. Dengan berjalannya waktu mungkin Jacob bisa tertarik jika Irene selalu bersikap manis.


Senyum bangga terukir pada wajah Irene. Dengan percaya diri, Irene yakin kalau Jacob akan jatuh padanya, lagi pun umur ia dan Jacob sepertinya tidak beda jauh. Akan banyak sekali orang yang akan iri padanya karna bisa memiliki pasangan pria yang seimbang, tampan dan seorang CEO. Belum apa-apa dan baru sekali bertemu saja Irene sudah dibuat tertarik oleh Jacob yang memiliki pesona dan aura yang begitu memikat. Irene berharap kalau Jacob akan sering-sering berkunjung ke kantor agar ia dapat dengan leluasa menarik perhatian Jacob. Mungkin tidak akan sulit untuk Irene bisa memikat balik Jacob, secara, tubuh ideal, wajah cantik, kulit putih bersih, dan pintar adalah apa yang ada pada diri Irene. Mungkin tambahan sikap yang manis mampu membuat Jacob meliriknya.