
"Mrs. Laras, bagaimana keadaan Alesha?" Tanya Bastian.
"Dia semakin membaik, Bas." Jawab Laras.
"Kau sudah memastikan kalau yang lain tidak ada yang tau?" Tanya balik Laras.
Bastian mengangguk. "Hanya aku yang tau."
"Bagus." "Alesha mungkin tidak bisa pulang cepat." Ucap Laras.
"Tidak apa, ada Mr. Jacob juga di sana yang akan menemani Alesha."
***
Kondisi Alesha semakin membaik. Dokter memperkirakan kalau Alesha bisa pulang lusa. Saat ini, Alesha sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Di sana ada Jacob dan Levin yang menemani Alesha.
"Al, mau?" Tawar Levin yang membawa buah melon yang sudah dipotong-potong dadu. Alesha hanya menggeleng.
Jacob mengambil sebuah garpu dan menusukannya kemelon yang sudah dipotong dadu itu.
"Makan." Ucap Jacob datar sambil menyodorkan melon itu pada Alesha. Alesha sebal dengan Jacob yang sejak kemarin menjadi lebih galak dan ketus. Alesha mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan wajah yang muram.
Levin yang melihat itu kemudian mengambil garpu yang ada ditangan Jacob.
"Al, dokter bilang kamu harus banyak makan buah." Ucap Levin dengan lembut.
Alesha menatap malas ke arah Levin. "Baiklah." Alesha mengambil garpu itu dari tangan Levin lalu menyuapkan buah melon itu kemulutnya. Levin tersenyum.
Akhir-akhir ini, Alesha menjadi semakin dekat dengan Levin, dan hal itu membuat Jacob merasa terganggu.
Jacob memutuskan untuk keluar. Ia ingin sekedar berjalan-jalan saja untuk menghilangi rasa jenuh dan juga dari pada ia harus melihat kedekatan Alesha dengan Levin.
Jacob berjalan di lorong rumah sakit yang cukup ramai.
"Al, aku keluar dulu sebentar ya, tadi aku sudah memesan jus ke kantin rumah sakit." Ucap Levin. Alesha mengangguk sambil menyupkan melon itu kemulutnya.
"Aku tidak akan lama, kok." Lanjut Levin dan berlalu pergi.
Alesha sendiri sekarang. Ia masih terus memakan potongan buah melon itu. Hingga beberapa menit kemudian, lampu ruangan itu tiba-tiba mati. Alesha terlonjak kaget. Ia takut jika terjadi sesuatu.
Alesha segera mengambil ponsel milik Levin yang tergeletak disebelahnya. Alesha menyalakan senter dari ponsel itu. Ia mengedarkan senter itu keseluruh ruangan.
Takut? Sedikit. Alesha bingung apa yang terjadi.
Sama halnya dengan Jacob dan Levin. Mereka menatap sekelilingnya. Jacob mendengar ada seorang perawat yang mengatakan kalau ada yang mematikan listriknya. Jacob mengedarkan pandangan kesekitarnya. Beberapa TV yang menempel ditembok tiba-tiba mati begitu saja. Jacob memasang wajah waspada.
"Alesha." Gumamnya. Jacob segera berlari untuk kembali ke ruangan Alesha.
Sedangkan Levin, dia mendapati seseorang berjaket hitam dan menggunakan masker sedang duduk dibangku kantin dan menatap ke arahnya. Ia semakin curiga.
"Apa yang terjadi?" Tanya Levin pada penjaga kantin.
"Listriknya tiba-tiba mati, tidak biasanya begini." Jawab penjaga kantin itu.
Setelah membayar jus itu, Levin yang segera pergi. Ia berjalan dengan sangat cepat.
Kembali lagi ke Alesha. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba untuk keluar ruangan. Saat ia baru saja turun dari tempat tidur pasien, seseorang berjaket serba hitam dengan masker membuka pintu ruangan itu dan menutup serta mengunci kembali pintunya.
"Mr. Jacob? Mr. Levin?" Panggil Alesha. Orang itu semakin mendekat pada Alesha. Alesha tidak bisa melihat jelas wajah lelaki itu.
"Mr. Jacob, jangan becanda." Ucap Alesha. Tangannya sudah mulai bergetar. Lelaki itu semakin mendekat. Alesha bergerak mundur sekangkah, dan ia terduduk dipinggiran kasur pasien.
"Jangan bercanda!" Bentak Alesha. Jantung Alesha berdegub kencang. Ia mengarahkan cahaya dari ponsel itu keseseorang yang semakin dekat dengannya. Alesha hanya bisa melihat matanya saja, dan Alesha tau kalau mata itu berbeda dengan Jacob dan juga Levin.
Orang itu bergerak kesisi lain ruangan untuk mengambil kursi roda dan membawanya kedekat Alesha. Alesha memandang takut keorang yang tidak dikenal itu. Ponsel yang Alesha pegang ditepis, dan orang itu menarik Alesha hingga terduduk dikursi roda. Alesha bergetar. Kemudian orang itu membekap mulut Alesha dengan sebuah kain. Alesha meronta.
Di luar ruangan, Levin baru saja sampai. Ia berusaha untuk membuka pintu ruangan yang terkunci.
"Levin, apa yang terjadi?" Tanya Jacob yang juga baru sampai.
"Pintu ini terkunci." Jawab Levin masih berusaha untuk membuka pintu.
"Alesha!!" Jacob menggedor pintu itu. "Alesha buka pintunya!!" Jacob mencoba untuk mendobrak pintu itu.
Di dalam, Alesha terus meronta. Ia tidak sengaja menyenggol piring yang tadi berisi melon. Piring itu terjatuh.
Prang...
Jacob dan Levin terdiam dan saling memandang. Mereka sama-sama mendengar suara benda jatuh.
Orang yang di dalam bersama Alesha adalah orang suruhan Mack. Mack sudah menyuruhnya untuk memburu Alesha jika ia gagal. Mack sendiri sekarang berada di rumah sakit sama seperti Alesha, hanya saja setelah keluar dari rumah sakit Mack akan langsung disidang dipengadilan.
Kenapa Mack sangat memburu Alesha? Karna Mack adalah saingannya ayah Alesha. Mack juga yang waktu itu menyuruh Levin untuk membawa Alesha. Mack sangat benci pada ayah Alesha karna ayah Alesha pernah membocorkan rahasia perusahaan Mack waktu itu, hingga akhirnya Mack harus dihukum lima tahun penjara. Dan sekarang, Alesha juga terlibat dalam kasus pembocoran rahasia perusahaan Mack. Mack ingin menjadikan Alesha sebagai pelayan dan budaknya. Namun, pada kenyataannya, sekarang ini malah Mack yang harus menerima sial dan akan mendekam dipenjara lagi. Mack juga menjadi dalang dari kematian orang tua Alesha.
Alesha menendang perut orang itu hingga tersungkur.
"Mr. Jacob!! Mr. Levin!!" Teriak Alesha. Orang itu segera bangkit dan membekap mulut Alesha lagi.
Jacob panik. Ia terus berusaha untuk mendobrak pintu.
"Levin, cari bantuan! Aku yang akan urus ini." Ucap Jacob. Levin mengangguk lalu segera pergi untuk mencari bantuan.
Sesaat kemudian, listrik rumah sakit kembali menyala. Alesha segera menarik masker yang menutupi orang itu lalu membuangnya. Alesha bisa memandang jelas wajah lelaki itu. Namun, Alesha tidak mengenalinya.
Lelaki itu mengikat tangan Alesha ke pinggiran kasur pasien. Alesha meronta.
"Lepaskan aku!!" Alesha mencoba untuk mendorong lelaki itu.
"Kau laki-laki pengecut, beraninya dengan wanita." Ucap Alesah sambil terus meronta untuk melepaskan tangannya yang sudah terikat.
"Diam kau!" Lelaki itu meraih mulut Alesha dengan kasar.
Lelaki itu berniat untuk memasukan sebuah cairan ke dalam mulut Alesha, namun aksinya gagal karna Jacob berhasil mendobrak pintu dan segera merebut cairan itu.
Jacob segera menarik baju lelaki yang tidak dikenal itu dan mendorongnya hingga tersungkur.
"Siapa kau?!" Bentak Jacob. Lelaki itu bangkit dan ingin menghajar Jacob. Jacob menghindar lalu dengan gerakan cepat, Jacob meraih tangan lelaki itu dan memutarnya. Kemudian, Jacob mendorong lelaki itu ketembok.
Lelaki itu meronta dan berhasil melepaskan cengkraman Jacob. Ia menghajar wajah Jacob dengan sekali pukulan. Jacob sempat terjatuh, namun ia segera bangkit dan balik menghajar lelaki itu.
Mereka berdua saling menerima dan membalikan pukulan.
Begitu pula dengan Levin. Saat ia sedang berlari di lorong rumah sakit yang sepi, seseorang menariknya lalu memberikan pukulan diperut Levin.
Levin meringgis. Ia menatap ke arah orang yang barusan memukulnya. Levin ingat, orang itu adalah lelaki yang tadi terus memandangi Levin saat di kantin. Levin bangkit lalu bersiap-siap untuk bertarung dengan orang itu.
"Mr. Mack tidak akan mengampunimu dan keluargamu." Ucap lelaki itu.
Levin menyeringai. "Owh, jadi kau anak buah, Mack. Katakan padanya aku tidak butuh penampungan dari lelaki tidak berguna seperti dia."
Levin segera maju dan menghajar lelaki itu. Pertarungan tidak bisa terhindarkan. Lelaki itu cukup kewalahan menghadapi Levin yang lincah sekali.
Ada beberapa perawat yang lewat. Perawat itu syok dan panik lalu segera berlari.
Selang beberapa saat, tiga orang security datang lalu memisahkan Levin dan orang yang sedang ia hajar habis-habisan.
Levin menggeram. Lelaki itu segera berlari kabur meninggalkan Levin dan tiga security lainnya.
Levin menatap ketiga security itu. "Kalian ikut aku!" Ucap Levin dan segera berlari untuk kembali ke ruangan Alesha.
Di ruangannya. Alesha berusaha untuk melepaskan tangannya yang terikat.
"Hey, ayo, kita harus pergi!" Ucap seorang lelaki yang tiba-tiba saja muncul diambang pintu sambil terengah-engah.
Lelaki yang sedang sibuk bertarung dengan Jacob seketika berbalik dan melihat temannya itu. Ia mengangguk lalu mendorong Jacob. Jacob terjatuh dan lelaki itu segera kabur bersama temannya.
Jacob berniat untuk mengejar, namun Alesha memanggilnya.
"Mr. Jacob, cukup." Ucap Alesha. Jacob berbalik menatap Alesha. "Biarkan mereka pergi dan bantu aku untuk melepaskan tali ini."
Jacob segera menghampiri Alesha. Ia membantu Alesha untuk melepaskan tali yang mengikat tangan Alesha.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Jacob dengan panik. Alesha mengangguk.
"Alesha!" Panggil Levin yang tiba-tiba muncul bersama tiga security. Levin Menghampiri Alesha.
"Kau baik-baik sajakan?" Tanya Levin.
"Ya." Alesha mengangguk. Levin menghela nafasnya.
"Mereka anak buah Mack." Ucap Levin.
"Pantas saja, aku tidak mengenali mereka." Balas Jacob.
"Apa yang terjadi?" Tanya salah seorang security.
Levin berbalik menatap security itu. "Ada yang berusaha untuk mencelakai pasien. Tapi sekarang tidak apa-apa, kalian bisa kembali." Jawab Levin. "Dan tolong panggilkan petugas kebersihan." Lanjut Levin saat melihat pecahan piring dilantai.
Ketiga security itu mengangguk lalu pergi.
Jacob mendengus. "Sebenarnya apa yang Mack inginkan dari Alesha?"
"Aku tidak tau, ia waktu itu hanya menyuruhku untuk membawa Alesha padanya tanpa mengatakan alasannya." Balas Levin.
"Mack memang dipenjara, tapi anak buahnya berkeliaran dimana-mana." Balas Jacob. Alesha menunduk.
"Sudah, lebih baik kau tidur saja." Ucap Jacob sembari membantu Alesha untuk naik kekasurnya.
"Aku lelah tidur terus." Alesha mendengus.
"Terserah.." Balas Jacob dengan jutek.
"Dasar jutek!" Gumam Alesha.
"Apa?" Tanya Jacob. Sebenarnya Jacob mendengar apa yang Alesha katakan.
Alesha tidak menjawab. Ia segera berbaring dan memungguni Jacob.
***
Jam berjalan begitu cepat. Levin sedang asik memainkan ponselnya, dan Jacob sedang santai menonton tv yang ada di ruangan itu. Tidak ada yang membuka pembicaraan setelah Alesha tertidur.
Sekitar pukul lima sore seorang perawat tiba-tiba membuka pintu. Jacob dan Levin kaget. Ternyata perawat itu bersama seorang dokter yang akan mengontrol kondisi Alesha.
"Permisi, tuan, saya akan mengontrol kondisi pasien Alesha Sanum Malaika." Ucap sang dokter. Jacob dan Levin mengangguk.
Dokter itu menghampiri Alesha. "Dia tidur dari jam berapa?"
"Sekitar jam dua." Jawab Levin. Dokter itu mengangguk lalu mulai mengecek kondisi Alesha.
Kemudian dokter itu mengambil sebuah suntikan yang sudah berisi cairan yang bisa membantu untuk mempercepat proses pemulihan tubuh Alesha.
Perlahan dokter itu meraih tangan Alesha dan mulai memasukan jarum suntik itu kekulit Alesha. Alesha merasa terusik. Ia membuka matanya lalu meringgis menahan sakit ditangannya.
"Kau bangun? Maaf aku membangunkanmu. Tenang lah aku hanya menyuntikmu." Ucap sang dokter dengan ramah.
"Baiklah, sudah." Dokter itu segera mengelap kulit Alesha dengan tissue yang sudah diberi alkohol.
"Kondisinya semakin membaik." Ucap dokter itu. "Kau harus banyak makan dan istirahat agar bisa kembali pulih sepenuhnya." Dokter itu mengelus pelan rambut Alesha.
Alesha mengangguk. Setelah selesai mengecek kondisi Alesha, dokter dan perawat itu pamit dan segera pergi keluar.
Alesha bangun dan terduduk diranjang pasiennya. "Aku bosan, aku ingin pergi berjalan-jalan keluar." Ucap Alesha sambil menatap Jacob.
"Kau masih lemah, Alesha." Balas Jacob.
"Dokter bilang aku sudah membaik, aku hanya ingin berjalan-jalan keluar sebentar saja." Mohon Alesha. Jacob menghela nafasnya sabar.
"Baiklah, tapi kau harus menggunakan kursi roda. Aku tidak ingin kau kelelahan berjalan karna itu bisa membuat kondisimu menurun lagi." Ucap Jacob. Alesha tersenyum sambil mengangguk.
"Mr. Levin, kau ikut?" Ajak Alesha.
"Tidak, aku ingin di sini saja menonton tv." Jawab Levin.
"Baiklah." Alesha segera turun dan duduk dikursi roda. Jacob membuka pintu ruangan lalu membawa dan mendorong kursi roda itu. Alesha yang bagian memegang tiang impusannya.
Jacob membawa Alesha ke taman bunga yang ada di rumah sakit yang dikhususkan untuk pasien apabila pasien merasa bosan. Ada beberapa pasien lain yang sedang bermain di taman itu. Jacob membawa Alesha ketengah taman dan membantu Alesha untuk turun dan duduk dikarpet berbentuk rumput taman yang lembut dan bersih. Jacob menurunkan sedikit tiang impusan Alesha agar tangan Alesha yang di impus bisa bergerak dengan leluasa.
"Di sini tidak terlalu ramai, padahal taman ini bagus." Ucap Alesha.
"Karna taman ini dikhususkan untuk pasien saja." Saut Jacob sambil membawa beberapa tangkai bunga dan memberikannya pada Alesha. Alesha mengambil bunga itu.
Jacob duduk disebelah Alesha sambil memandang kesekelilingnya. Ia merasakan angin yang berhembus begitu sejuk dan damai. Ia menatap ke arah Alesha yang sedang sibuk merakit bunga.
"Tunggu di sini, aku akan mengambil bunga di sana." Ucap Alesha lalu bangkit dan berjalan untuk mengambil beberapa tangkai bunga lagi.
Jacob terus memandangi Alesha yang sedang mencabut bunga-bunga itu. Angin berhembus lagi dan menerpa rambut Alesha. Jacob tersenyum. Ia merasa tenang setelah melihat kondisi Alesha yang perlahan pulih. Bahkan sekarang Alesha terlihat begitu ceria dan lebih beraura.
"Kenapa kau menatapku?" Tanya Alesha.
"Tidak apa-apa, aku hanya bingung saja, kau belum pulih sepenuhnya dan sekarang kau malah mencabuti bunga-bunga itu seolah kau tidak sedang sakit." Jawab Jacob.
Alesha duduk kembali. Ia menatap Jacob. "Memang orang yang sakit harus terus menerus terdiam dan tidur?" "Aku juga manusia, aku butuh refreshing yang bisa menghilangkan rasa bosan." Alesha mulai merangkai kembali bunga. Jacob hanya tersenyum.
Alesha mengambil sebuah bunga dan meletakkan bunga itu dikupingnya. "Aku cantik tidak?" Tanya Alesha pada Jacob.
Jacob sedikit kaget dengan pertanyaan Alesha yang membuatnya menjadi merasa malu untuk menjawab.
"Mr. Jacob." Panggil Alesha sambil tersenyum lebar ke arah Jacob.
Jacob tersenyum lalu mengangguk. "Kau cantik."
Alesha tersenyum bahagia. "Terima kasih, Mr. Jacob." Alesha tidak merasa baper dengan jawaban Jacob. Karna Alesha hanya bercanda dengan pertanyaannya. Tapi berbeda dengan Jacob yang menganggap serius.
"Aku seperti mengasuh seorang bayi." Ucap Jacob.
"Aku memang masih bayi, usiaku baru delapan belas tahun." Balas Alesha yang masih sibuk dengan bunga-bunganya.
"Delapan belas tahun masih bayi?" Tanya Jacob.
"Kau yang bilang pertama kali kalau aku masih bayi." Balas Alesha. Jacob mengerutkan keningnya. Lelaki itu mencoba menahan tawanya karna ucapan gadis yang ada dihadapannya itu.
"Kau bayi yang mengesalkan." Ucap Jacob.
"Kau mentor yang menyebalkan, aneh, jutek, dan--" Alesha berpikir.
"Dan--?" Lanjut Jacob.
"Baik." Sambung Alesha. "Walau menyebalkan kau juga mentor yang baik dan sangat peduli dengan timmu." Alesha meletakkan sebuah flower crown yang baru saja ia buat dikepalanya. Gadis itu menatap Jacob. "Terimakasih sudah menjadi mentor yang selalu ada untuk kami." Ucap Alesha sambil menatap kedua mata Jacob.
"Itu sudah menjadi tugasku." Jacob tersenyum hangat. Ia merasa terharu dengan ucapan Alesha barusan. Jacob tidak bisa melepaskan tatapannya dari Alesha. Entah kenapa ia merasa beruntung ada Alesha bersamanya.
"Diam, aku akan memakaikan ini padamu." Ucap Alesha sambil memasangkan flower crown buatannya kekepala Jacob. Alesha tersenyum dan bertepuk tangan saat melihat Jacob yang menggunakan flower crown itu.
Jacob hanya menunduk sambil tersenyum.
"Jangan menunduk." Alesha mengangkat kepala Jacob untuk menatapnya. Jacob terlihat lucu saat memakai flower crown itu. Alesha tertawa ria. Ia bahagia melihat Jacob yang menahan rasa malunya. Jika bukan karna Alesha mungkin Jacob tidak akan mau memakai flower crown itu.
Akhirnya, setelah beberapa hari Jacob dan Alesha bisa bercanda bersama lagi. Jacob sudah merasa takut pada awalnya saat melihat kondisi Alesha, namun sekarang ia merasa bersyukur karna sudah bisa melihat senyum ceria Alesha lagi, dan ini juga untuk pertama kalinya Jacob tidak teringat dengan Yuna, padahal sebelumnya ia selalu teringat dengan Yuna jika berdekatan dengan Alesha.
Secara perlahan dan tanpa disadari oleh Alesha, ia membuat Jacob menjadi lupa dengan sosok gadis yang dulu sangat dicintai oleh mentornya itu. Alesha juga tidak peka dengan sikap Jacob kepadanya. Alesha hanya berpikir kalau kedekatan dan sikap protektif Jacob itu hanya karena mereka memang sering bercanda bersama bukan karna melibatkan perasaan dari hati. Alesha juga merasa senang dekat dengan Jacob karna Jacob memang asik orangnya, walau kadang suka jahil dan jutek.
"Kau terlihat lucu, Mr. Jacob." Ucap Alesha sembari tertawa. Jacob gemas melihat Alesha yang tertawa geli. Hingga pikiran jahil terlintas dipikirannya. Lelaki itu mencubit pelan sambil menggoyangkan pipi Alesha. Alesha meringgis lalu menepis tangan Jacob.
"Sakit.." Pekik Alesha. Jacob tertawa saat melihat pipi Alesha yang memerah karna ulahnya.
"Eerrgghh--" Alesha balik mencubit pipi Jacob. Alesha itu gadis yang selalu membalas perbuatan jahil orang lain, termasuk mentornya.
"Cukup...cukup..." Jacob memegang tangan Alesha yang mencubit pipinya. Alesha menarik tangannya dari genggaman Jacob.
"Sakit kan! Makanya jangan jahil." Ucap Alesha.
"Kau yang memulai, Al." Jacob memegang perutnya yang sakit karna terlalu banyak tertawa.
"Aku? Kau yang memulainya." Balas Alesha.
"Ya, baiklah terserahmu." Jacob mencubit pipi Alesha lagi.
"Mr. Jacob." Pekik Alesha. "Akan kubalas kau nanti!" Alesha menatap intens pada Jacob. Jacob terkekeh. Bisa-bisanya Alesha menatap seperti itu.
"Aku akan menunggu itu." Ucap Jacob sambil memakaikan flower crownnya. Alesha mendengus.
"Kau cantik, Al." Puji Jacob.
"Aku wanita, kalau kau yang cantik baru aneh." Balas Alesha.
Jacob mengerutkan keningnya. Alesha memang berbeda. Ia tidak seperti kebanyak wanita lainnya yang kalau dipuji akan langsung malu-malu kucing.
"Aku tidak luluh dengan pujian seperti itu, aku bukan tipe wanita yang kalau dipuji akan langsung merasa terbang ke langit." Ucap Alesha.
"Sungguh." Jacob menangkup dagu Alesha lalu menatap gadis itu. Awalnya Alesha merasa biasa saja. Namun semakin lama tatapan Jacob seperti mempunyai magnet. Jacob tersenyum. Alesha mengerjapkan matanya.
"Lepaskan, aku tidak bisa bertatapan terlalu lama." Ucap Alesha.
Jacob menghiraukan itu. Ia terus saja menatap Alesha.
"Mr. Jacob!" Pekik Alesha. "Aku tidak suka di tatap intens seperti itu!"
"Tidak suka atau malu?" Rayu Jacob.
"Tidak suka!" Jawab Alesha dengan tegas. "Teman-temanku di Indonesia sering terkena tamparan dariku karna mereka dengan sengaja menatapku. Aku tidak suka ditatap intens seperti itu!"
"Sungguh? Kalau begitu kenapa kau tidak menamparku?" Rayu Jacob lagi. Lelaki itu malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Alesha.
"Kau benar-benar memancingku." Alesha menampar pelan Jacob.
Plakk...
Satu tamparan pelan mendarat dipipi Jacob. Jacob tersenyum. Ia mengulangi ulahnya lagi dengan terus menatap mata Alesha.
Alesha mendengus dan mengalihkan pandangannya selama beberapa saat. Dan saat ia akan berbalik lagi untuk menghadap ke arah Jacob, tiba-tiba saja Jacob sudah berada tepat dibelakangnya, mungkin jarak Alesha dan Jacob hanya beberapa centimeter. Alesha terlonjak kaget dan mundur. Jacob yang melihat dengan jelas wajah kaget Alesha tertawa begitu puas. Ia mengabaikan pasien lain yang menatap kearahnya.
Alesha mendengus. "Awas saja kau, Mr. Jacob!"