
Sebuah ruangan khusus yang terletak pada bangunan kecil di halaman rumah menjadi tempat untuk Jacob memimpin pasukan milik ibunya yang saat ini sedang meluncur di WOSA.
"Sudah terhubung, Nyonya." Ucap seorang lelaki yang merupakan bodyguard pribadi Laura.
"Jacob, kau bisa memimpin mereka melalui jaringan ini. Ibu percayakan hal ini padamu." Ucap Laura.
Jacob segera menempati kursi yang dihadapannya sudah ada sebuah komputer canggih yang menunjukan letak dan peta pulau WOSA. Sebuah alat komunikasi kecil yang terlihat seperti earphone sudah Jacob pasangkan ditelinga kanannya. Kini Jacob siap untuk memimpin misi via virtual.
"Nyonya, SIO akan segera mendapatkan bantuan dari organisasi lain, mereka juga sudah bisa melacak keberadaan kelompok jaringan gelap itu." Ucap salah satu anak buah Laura.
"Bagus, kita habiskan semua anggotanya, jangan ada yang tersisa, dam jangan biarkan mereka terlepas lagi!" Laura menatap layar komputer dan memperhatikan setiap pergerakan anak buahnya yang sedang berburu.
Jacob segera memulai misi virtualnya.
"Cek. Ini aku Jacob agent intelegent dari SIO, komando aku yang ambil alih atas perintah Nyonya Laura."
"Baik, tuan, kami menunggu perintahmu."
"Kita buat jebakan untuk mengelabui mereka!"
"Atas perintahmu, tuan."
"Bagus, perintahkan setengah pasukanmu untuk berputar kembali menuju arah barat laut. Mereka menempatkan kapal-kapal mereka di sana. Jangan ada yang menyerang sebelum ada perintah dariku, dan setengah pasukanmu yang lain tetap mengejar mereka! Bergerak sekarang, anggota kelompok jaringan gelap itu pasti sedang berputar-putar di tengah hutan WOSA!"
Jacob begitu fokus melihat sebuah tanda hijau yang sedang bergerak-gerak dilayar komputer. Tanda hijau itu merupakan alat pelacak atau GPS yang terpasang pada tubuh anak buah Laura, dan Jacob dapat mudah mengetahui pergerakan mereka agar sesuai dengan apa yang diperintahkan olehnya.
Dapat dilihat dengan jelas kalau beberapa tanda hijau itu bergerak berpisah dengan yang lainnya, dan itu berarti perintah Jacob kini sedang dijalankan.
"Kita ubah alurnya, berbelok ke arah jam sembilan sejauh tiga kilometer, mereka menyimpan senjata disana!"
Tiba-tiba saja sesuatu tertadi, sebuah peringatan berupa tanda seru berwarna merah tertera pada layar komputer yang sedang Jacob pandangi.
"Sial!" Umpat Jacob. Komputernya diretas oleh hacker yang merupakan bagian dari kelompok jaringan gelap.
"Jacob, kau bisa mengatasinya? Atau hackerku saja yang.." Ucap Laura terpotong.
"Tidak, aku bisa atasi ini!"
Jemari Jacob sibuk menari diatas keyboard dan matanya begitu fokus menatap banyak sekali huruf dan angka-angka rumit dilayar komputer. Jacob sudah terbiasa dengan hal seperti itu, ia sudah banyak melakukan aksi peretasan bahkan sistem utama dan yang paling inti dari sebuah organisasi besar yang berniat untuk menghancurkan SIO waktu itu pun tidak luput dari otak komputer milik Jacob.
Sebuah situs web yang berlatar gelap dan merah akhirnya berhasil Jacob masuki.
"Mereka terlalu bodoh." Jacob menyeringai.
Laura yang melihat aksi anaknya bersama sebuah komputer itu pun seketika merasa sangat bahagia. Walau tanpa ada didikan dan bimbingan darinya, Jacob tumbuh menjadi pria yang hebat dan begitu membanggakan, terutama untuk Laura pribadi yang merupakan ibunda dari sosok hacker multitalent itu. Laura tersenyum sambil melipatkan tangannya.
"Dapat!" Jacob tersenyum menang. Ia kini mengambil alih akses komputer milik kelompok jaringan gelap itu dan mendapatkan semua datanya, namun sayangnya apa yang terjadi saat ini tidak semudah yang Jacob kira, server komputernya malah terserang balik.
"Kau hacker bukan?" Tanya Jacob pada lelaki yang ada disebelahnya.
"Ya." Lelaki itu mengangguk.
"Bagus, bantu aku. Kau ambil semua datanya lalu hancurkan semua sistem yang melindungi server mereka, aku akan menangani serangan lain!" Perintah Jacob. Lelaki yang ada disebelahnya itu pun mengangguk dan segera menuruti perintah tuan mudanya. Kini, peperangan antar sesama hacker pun terjadi. Mereka sama-sama saling meretas dan menghancurkan, namun Jacob tidak bodoh dan tidak mudah dikalahkan. Didalam otaknya sudah terdapat banyak sekali rumus, dan cara agar bisa memenangkan pertempuran online itu.
"Cek, masuk!"
"Ya, tuan?"
"Kalian sudah sampai?"
"Sedikit lagi tuan."
"Bagus."
Jacob kembali mengutak-atik papan keyboard dengan sangat cepat seperti letak setiap huruf sudah Jacob hapal dengan tepat.
Waktu kembali maju menuju WOSA. Brandon dan yang lain masih berlari menuju hutan. Entah kemana arah mereka berlari, sang pemimpin lah yang menentukan.
"Tunggu, aku lelah." Ucap Nakyung sambil membungkuk setengah badan. Dihirupnya banyak-banyak udara oleh Nakyung, ia begitu haus akan oksigen yang seolah menipis saat ia berlari tadi.
"Brandon, kemana lagi kita harus pergi?" Tanya Aiden.
Brandon menatap lurus ke arah hutan yang semakin menggelap. Tatapannya tidak pasti, dan jelas Brandon sendiri ragu kemana ia harus membawa seluruh anggotanya agar terhindar dari kejaran orang jahat itu.
"Ponselku mendapatkan jaringan!" Saut Stella. "Ya, kita bisa menghubungi Mr. Jacob!" Lanjutnya.
"Sungguh? Cepat kalau begitu!" Ucap Lucas.
Stella pun segera membuka menu daftar nama kontak diponselnya. Tepat pada barisan abjad 'J', ada nama mentornya yang tertera. Tanpa membuang waktu, Stella segera mengklik nama kontak itu lalu mulai memanggil pada nomor tujuan.
Di dalam kamar mentornya, Alesha pun terbangun saat kupingnya merasakan ada sebuah suara yang begitu nyaring.
Dengan pandangan mata yang masih setengah buram, Alesha bangkit dan mengambil sebuah ponsel yang menjadi pusat dari suara yang barusan membangunkannya.
"*Hallo,.."
"Mr. Jacob! Kau dimana?"
"Maaf ini siapa ya?"
"Apa maksudmu, kau siapa? Dimana Mr. Jacob?"
"Aku Alesha, dan kau siapa?"
"Astaga, Alesha, ya ampun aku pikir siapa. Dimana Mr. Jacob? Aku harus berbicara dengannya sekarang!"
"Tunggu, kau siapa?"
"Aku Stella, Al!!"
"Stella, ada apa?"
"Kami diserang, WOSA diserang, dan kami sedang menjadi buruan orang-orang jahat yang menyerang WOSA, aku dan yang lain sedang berada di tengah hutan, aku harus berbicara dengan Mr. Jacob sekarang!"
"Ya ampun, bagaimana bisa? Ka*----"
Sambungan telepon tiba-tiba saja terputus karna jaringan kembali menghilang pada ponsel Stella.
"Stella! Stella!" Alesha memanggil-manggil nama temannya itu, namun sayang, Stella tidak mungkin bisa membalasnya.
"Ya ampun, apa yang terjadi dengan WOSA? Kenapa aku tidak mengetahui apapun?" Ucap Alesha dengan panik. Walau tubuhnya masih terasa sangat lemas, namun Alesha tetap memaksakan untuk mencari mentornya.
Jalan yang lunglai membuat Alesha sulit menyeimbangkan tubuhnya, satu per satu anak tangga ia turuni hingga sampai pada lantai dasar.
"Mr. Jacob!" Panggil Alesha.
"Mr. Jacob!" Panggil Alesha lagi. Karna terlalu kencang melepaskan suara, Alesha pun terjatuh akibat kepalanya yang kembali berputar.
"Alesha!" Pekik Sharon ketika melihat tubuh Alesha yang terjatuh kelantai. Ia berlari dan menghampiri Alesha.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sharon yang panik.
"Tidak, aku baik-baik saja. Dimana kakakmu? Aku harus bertemu dengannya." Tanya Alesha sambil menahan rasa pening dikepalanya.
"Aku tidak tahu." Jawab Sharon.
"Bisa aku minta tolong padamu?" Tanya Alesha.
"Apa?" Tanya balik Sharon.
"Tolong katakan pada Mr. Jacob kalau aku memanggilnya." Jawab Alesha. "Aku tidak kuat lagi untuk berjalan, kepalaku pusing." Alesha memejamkan matanya untuk menahan rasa pusing yang semakin menjadi-jadi dalam kepalanya.
"Hey, kau!" Panggil Sharon pada seorang pelayan.
"Cari Jacob dan katakan kalau Alesha memanggilnya!" Perintah Sharon.
"Baik, Nona." Pelayan itu mengangguk lalu segera menuruti perintah yang nona mudanya berikan.
"Ayo, aku bantu agar kau bisa kembali ke kamarmu." Ucap Sharon sambil membantu Alesha untuk berdiri dan berjalan.
"Terimakasih." Balas Alesha.
Sedangkan Jacob, saat ini ia masih sibuk memimpin pasukan milik ibunya. Ia telah berhasil meretas dan menghancurkan kembali sistem komputer milik kelompok jaringan gelap itu dengan dibantu oleh hacker yang merupakan anak buah ibunya juga. Kepala Jacob dibuat semakin berasap saat mendengar kabar kalau anggota timnya berlari menuju hutan demi menghindari kelompok jaringan gelap yang memburu mereka.
"Mereka sudah di pantai sebelah barat daya WOSA, tuan."
"Lakukan perintahku yang tadi!"
Jacob memberikan perintah pada anak buah ibunya agar mereka menunggu seluruh anggota kelompok jaringan gelap itu berkumpul ditepi pantai sebelah barat daya WOSA. Perhitungan Jacob jatuh tepat pada yang diharapkan. Kelompok itu tidak dapat melakukan pergerakan karna kapal pesiar mini milik mereka sudah disabotase dan sistemnya dialihkan kekomputer yang Jacob gunakan saat ini.
"Tidak! Kapal ini dikendalikan oleh perangkat komputer!" Ucap salah satu anggota kelompok jaringan gelap itu dengan panik saat mendapati kalau alat kemudi kapal sudah beralih fungsi.
"Aku sudah bilang, SIO memiliki banyak hacker yang begitu cerdas!" Saut yang lain.
"Turun kalian!" Perintah anak buah Laura yang merupakan pemimpin pasukan sembari menodongkan senapan berukuran besar. "Semua sistem dan alat keamanan dalam kapal itu tidak akan bisa kalian gunakan! Menyerahlah! Pemimpin kalian pun sudah kami tangkap!"
"Ya, kalian menang dalam hal itu, tapi kami berhasil mendapatkan apa yang menjadi incaran kami. Tim Jacob dan Eve berhasil kami tangkap." Salah satu anggota jaringan gelap itu menyeringai. Sebuah rekaman yang berisi permintaan tolong dari suara Nakyung dan Maudy terdengar melalui speaker ponsel yang dipegang oleh anggota jaringan gelap itu.
Jacob yang dapat mendengar dengan jelas ucapan dari anggota jaringan gelap itu pun seketika merasa kalau sesuatu membuat detak jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat. Timnya dan juga tim Eve berhasil tertangkap oleh kelompok orang-orang tidak berguna itu.
Lengan Jacob pun terkepal kuat untuk menahan segala emosi dan amarah yang menguasai dirinya sejak beberapa detik yang lalu.
"Tuan, mereka berhasil mendapatkan beberapa anak murid WOSA."
"Tembak mereka semua dan jangan sampai ada yang lolos!" Satu perintah dingin dari mulut Jacob pun terucap.
Laura merasa khawatir pada anaknya yang kini menunjukan ekspresi wajah datar namun menakutkan.
Jacob pun tidak mau banyak berbicara, hati dan otaknya sedang mendidih saat ini.
"Permisi, Nyonya." Ucap salah seorang bodyguard Laura yang memasuki ruangan.
"Saya meminta izin untuk menyampaikan pesan dari seorang pelayan rumah."
"Silahkan." Balas Laura.
"Pelayan itu berpesan pada saya untuk memberitahukan pada tuan Jacob bahwa gadis yang bernama Alesha memanggilnya." Ucap bodyguard itu.
Jacob yang mendengar nama Alesha disebut seketika langsung membalikkan tubuhnya.
"Ada apa dengan Alesha?" Tanya Jacob.
"Maaf, tuan, tapi pelayan itu tidak mengatakan hal lain pada saya."
Jacob merasa kalau sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Alesha, dan kepanikannya kian bertambah saja pada gadis itu. Jacob pun memutuskan untuk mencopot alat komunikasi kecil yang terpasang didaun telinganya.
"Jacob, kau mau kemana?" Tanya Laura yang mendapati anaknya itu berlalu pergi begitu saja.
"Alesha. Sementara gantikan posisiku." Jawab Jacob yang terus berjalan dan mengabaikkan ibunya.
"Tapi bagaimana dengan tugasmu?" Laura berlari lalu menahan lengan Jacob agar berhenti berjalan.
"Aku sudah memberikan perintah, mereka mengerti apa yang aku katakan, jadi lepaskan tanganku, aku juga memiliki tanggung jawab lain!" Jacob melepaskan genggam tangan ibunya lalu kembali berjalan.
"Kenapa kau masih belum bisa menghargaiku sebagai ibumu, Jack?" Ucap Laura dengan lirih.
Jacob membawa tubuhnya yang setengah berlari agar ia bisa segera sampai pada kamarnya, namun setelah sampai, Jacob tidak menemukan sosok Alesha berada dalam kamarnya.
"Apa Alesha sudah kembali ke kamarnya?" Gumam Jacob. Ia pun segera mengikuti kata hatinya barusan.
Kakinya melaju kembali sejauh beberapa meter untuk sampai pada kamar tamu yang Alesha tempati.
"Alesha.." Panggil Jacob sambil membuka pintu kamar.
Ketenangan masih belum juga mau bertamu pada dirinya, dan kini Jacob semakin dibuat naik pitam saat ia memasuki kamar Alesha lalu mendengarkan sebuah rangkaian puisi yang terucap dari sela-sela isakkan kecil seorang gadis yang kini sedang terduduk dibangku yang berada di balkon kamar.
Tunggu, apa yang Alesha lakukan di balkon kamar? Apa Alesha baik-baik saja? Jacob mendekat ke arah balkon dan mendapati kalau Alesha sedang menggerakkan sebuah pena diatas kertas putih. Jadi Alesha memang baik-baik saja, lalu kenapa gadis itu memanggil Jacob? Pikir Jacob.
Sebuah geraman terdengar dan emosi Jacob sudah tidak tertahankan saat kupingnya terus saja merekam semua lantunan puisi yang Alesha ucapkan dari mulutnya dan ditujukan untuk Adam, lelaki yang selama ini selalu mengisi ruang hati gadis itu.
Seketika, pertanyaan kenapa Alesha memanggilnya lenyap begitu saja dalam kepala Jacob dan tergantikan dengan amarah yang tidak terkontrol.
"Cukup, Al!" Tiba-tiba saja Jacob merebut pena yang Alesha gunakan lalu membuangnya begitu saja. Alesha sangat terkejut ketika melihat amarah yang terpampang jelas dari wajah mentornya itu. Apa salah Alesha? Kenapa Jacob terlihat sangat beremosi?
"Ada apa?" Tanya Alesha dengan pelan. Ada sedikit getaran dalam nada bicara Alesha yang disebabkan oleh rasa ketakutan ketika melihat wajah Jacob yang begitu menyeramkan saat menahan amarah.
Alesha menggenggam kuat pinggiran meja. Ini adalah kedua kalinya Alesha melihat mentornya yang begitu beramarah dengan deru napas yang samar. Tatapan takut dan bingung bercampur menjadi satu, Alesha benar-benar bingung kenapa mentornya tiba-tiba menjadi marah?
"Aku tidak mau mendengar ini lagi!" Jacob merebut kertas yang berisikan tulisan puisi cinta milik Alesha. Jacob merobeknya dan membuang begitu saja serpihan kertas itu tepat dihadapan wajah Alesha.
Seketika mata Alesha membulat sempurna, mulutnya terbuka dan membentuk huruf vokal O. Reflek, Alesha memundurkan kakinya untuk menjauh dari sang mentor yang saat ini menatapnya dengan penuh kemarahan. Rasa tidak percaya seakan menjadi inti kuat dari semua kebingungan yang Alesha rasakan saat ini.
"Kenapa? Apa salahku?" Ucap Alesha dengan pelan. Air matanya berlinang saat melihat isi dari curahan hatinya yang dibentuk menjadi puisi dalam kertas kini hancur dan berserakan dilantai.
"Cukup, Al, kau harus melupakan Adam!" Bentak Jacob sambil menarik kasar lengan Alesha untuk untuk ke dalam kamar.
"Apa salahku, hiks?" Alesha menatap kedua iris mata Jacob yang semakin menghitam saat amarah menguasai diri sang mentor. Kini, wajah Alesha dihujani oleh air mata.
"Lepas." Lirih Alesha yang mencoba untuk melepaskan lengannya dari genggaman Jacob.
"Kau harus melupakan Adam! Ingat, dia akan menikah! Kau mau dicap sebagai perusak hubungan orang? HAH!" Jacob menarik lengan Alesha dengan kencang hingga tubuh gadis itu kini berada sangat dekat sekali dengan tubuh Jacob. Alesha tidak menjawab, ia menunduk dan tangisannya pun semakin menjadi-jadi.
"Kau selalu saja mengharapkannya! Kau selalu mengenangnya dalam hatimu! Buka matamu, buka hatimu! Kau tidak bisa terus menerus seperti ini, Al! Adam tidak akan menerimamu!" Beberapa bentakkan terlontar dari dalam mulut Jacob tanpa ia sadari. Jacob bingung kenapa ia begitu marah hingga berani membentak dan berperilaku kasar pada Alesha.
"Lupakan Adam, dan buka hatimu!!" Sekali lagi sebuah kalimat bentakkan terlontar dari mulut Jacob, lalu setelah itu, Jacob menarik Alesha untuk masuk kedalam pelukannya. Dagu Jacob bersandar pada bahu Alesha yang tingginya setara dengan letak ulu hati Jacob bagian atas.
Maaf, Al. Silahkan marah padaku, tapi lupakan Adam, aku tidak mau melihatmu menangisi lelaki yang tidak akan pernah kau miliki. Aku yang mencintaimu, bukan Adam.... Ucap Jacob dalam hati. Tanpa terasa air mata Jacob pun turun. Ia menyadari apa yang dilakukannya barusan terhadap Alesha. Jacob menyesal, dan merutuki dirinya sendiri atas perilakunya yang kasar pada Alesha barusan. Jacob lelah, pikirannya sedang kacau karna anggota timnya yang berada di WOSA berhasil ditangkap oleh kelompok jaringan gelap itu, dan saat Jacob mendengar kembali puisi Alesha yang ditujukan untuk Adam, dengan satu kedipan mata, emosi Jacob naik ketitik paling puncak dan dirinya menjadi tidak terkontrol. Jadilah Alesha yang terkena imbasnya karna tekanan pikiran dan emosi yang sedang menggebu-gebu.
Baru saja beberapa detik Jacob merasakan kedekatan yang sesungguhnya bersama calon ratu yang akan menaiki tahta hatinya, tiba-tiba saja calonnya tersebut malah mendorong tubuh Jacob.
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi Jacob.
"Kau egois!" Ucap Alesha dengan pelan namun penuh penekanan dan kekesalan. Tidak mau banyak berbicara, Alesha pun segera menyerka air matanya lalu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Jacob. Namun, Jacob segera menahan lengan Alesha dan membawa gadis itu untuk kembali kedalam pelukkannya.
"Sebenarnya aku me..." Sedikit lagi saja Jacob hampir mengutarakan isi hatinya pada Alesha. Namun Jacob menahannya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hati.
"Aku tahu bagaimana rasanya berada diposisimu, Al, aku tahu sakit dan pahitnya. Melihatmu yang selalu saja mengharapkan Adam membuatku kembali mengingat Yuna, membuatku kembali mengingat dan merasakan semua rasa sakit yang aku pendam waktu itu. Maafkan aku, Al." Ucap Jacob yang berbohong. Ia sama sekali tidak mengingat Yuna, bahkan rasa sakit karna ditinggal Yuna pun telah berakhir seiring datangnya rasa baru yang kian semakin membesar.
Alesha berusaha untuk melepaskan pelukan mentornya, namun Jacob malah semakin mempererat pelukannya.
"Lepaskan aku, Mr. Jacob." Alesha memukuli dada Jacob. Ia tidak bisa lebih lama lagi berada dalam posisi seperti itu. Alesha bukan hanya marah lagi, namun rasa kecewa akan perilaku mentornya itu membuat Alesha lelah. Selalu saja Jacob membuatnya marah, berkali-kali Alesha dibuat kecewa oleh Jacob, dan berkali-kali pula Jacob meminta maaf padanya. Namun, untuk kali ini Alesha benar-benar sudah pasrah. Ia tidak tahu kenapa Jacob seperti itu padanya? Alesha curiga kalau mentornya menyembunyikan sesuatu darinya. Sikap yang selama ini Jacob tunjukkan pada Alesha seperti bukan sikap seorang mentor pada muridnya. Alesha tetap menolak semua pikiran yang mengatakan kalau mentornya itu menyukainya. Tidak untuk kali ini, Alesha tidak ingin ada lelaki lain dalam hatinya, dan Jacob hanyalah mentornya, atau mungkin teman, itu cukup dan tidak bisa lebih dari itu.
"Kenapa kau selalu seperti ini! Aku yang mencintai Adam, dan itu bukan urusanmu, mau aku menangis atau seterpuruk apapun itu semua urusanku, Mr. Jacob! Kau tidak berhak melarangku!" Balas Alesha. Dengkulnya menendang perut Jacob dengan keras hingga akhirnya Alesha dapat terlepas dari pelukan mentornya. "Ada apa denganmu? Kenapa setiap kali aku membicarakan Adam kau selalu bersikap kalau kau tidak menyukai Adam? Apa urusanmu? Hah? Aku tidak merepotkanmu dalam hal ini, aku tidak mengemis padamu agar aku bisa melupakan Adam, tapi kenapa kau marah? Adam itu urusan pribadiku, dan kau tidak berhak untuk ikut bercampur tangan dalam hal ini!" Bentak Alesha hingga membuatnya sedikit kesulitan bernapas karna terlalu beremosi.
Jacob tertegun. Ia bungkam setelah mendengar ucapan Alesha barusan. Apa ia tidak berhak untuk membuat Alesha melupakan Adam, padahal ia mencintai Alesha? Apa Jacob terlalu berlebihan.
Seandainya aku bisa mengatakan yang sejujurnya, tapi aku tidak bisa, kau akan menolakku, Al, dan aku tidak mau itu terjadi....Ucap Jacob dalam hati.
"Ada apa denganmu? Apa kau akan selalu bersikap seperti ini pada seluruh anggota timmu? Bahkan jika Stella, atau yang lain berada dalam posisiku saat ini kau juga akan melakukan hal yang sama seperti yang selalu kau lakukan padaku, Mr. Jacob?!" Pertanyaan itu menjadi saluran bagi Alesha untuk melepaskan emosinya pada sang mentor. Niat Alesha yang tadinya ingin memberitahukan tentang anggota timnya yang menghilang di hutan WOSA pun menghilang seketika. Mentornya itu membuat Alesha begitu beremosi sekarang hingga ia lupa tujuan awalnya memanggil Jacob.
Jika aku jujur, padamu saat ini kau pasti akan menolakku, Al, aku tidak mau itu, maaf atas emosiku ini. Tapi sungguh, aku ingin sekali jujur padamu, Ale...... Ucap Jacob dalam hati.