
"Cepat cari dan lacak mobil yang Jacob gunakan!" Perintah Laura dengan penuh emosi.
"Mack sialan! Beraninya dia memasuki rumahku!" Laura menggebrak meja kerjanya. Ia sudah tahu tentang akal-akalan Mack yang menyamar menjadi seorang pelayan. Untung saja CCTV di dalam rumah Laura sudah yang paling canggih hingga dapat dengan mudah mengakses setiap gambar wajah orang melalui Internet dan mendapatkan satu profil wajah yang cocok, yaitu profil wajah Mack yang tertera jelas pada layar monitor komputer.
"Levin, temukan anakku, dan bawa dia kembali! Aku tidak perduli apapun yang terjadi aku hanya ingin anakku kembali!"
"Baik, Nyonya."
Levin pun mengangguk dan segera menuruti perintah Laura. Ia pun sama kesalnya dengan Laura, terutama pada Mack. Levin tahu, Mack kembali pasti untuk menculik Alesha lagi.
"Mr. Levin, kau tahu dimana Mr. Jacob dan Alesha?" Tanya Bastian.
"Ya." Jawab Levin singkat. Tangannya mengepal kuat, bahkan pintu mobil pun dibuka dengan kasar oleh Levin.
Hati Bastian sangat panik dan was-was, ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada salah satu anggota timnya, dan juga mentornya. Tangan Bastian pun meraih pintu mobil lalu membukanya, ia duduk disebelah jok mobil dan bersebelahan dengan Levin.
Dalam hitungan detik, mobil pun seketika melaju dengan kecepatan tinggi. Levin berkemudi dengan penuh emosi. Hal itu membuat Bastian sedikit takut, mengemudi dalam perasaan tidak tenang dan beremosi sangat beresiko tinggi merugikan penggunaan jalan lain, bahkan yang lebih parahnya lagi adalah terjadinya kecelakaan. Bastian pasrah, ia hanya bisa berpegangan dengan kencang ketika Levin semakin memacu mobilnya dan menyalip semua kendaraan yang menghalangi jalannya.
"Mack sialan! Setelah keluargaku, sekarang dia berani-beraninya mencelakai gadis yang aku sayangi juga!" Levin memukul setir mobil dengan penuh amarah. "Kenapa dia selalu saja membuat susah semua orang yang aku sayangi!"
"Mr. Levin, aku sarankan kau untuk tetap fokus mengemudi." Ucap Bastian yang ketakutan.
"Diam! Aku benar-benar marah saat ini. Jika ada waktu, aku ingin sekali menghajarnya!" Ucap Levin sembari kembali memukul setir mobil.
"Ya, kau boleh menghajar orang itu, namun kau harus memastikan dirimu selamat dari hantaman dengan kendaraan lain." Balas Bastian yang semakin ketakutan saat Levin terus saja menambah kecepatan mobilnya.
Levin menghiraukan ucapan Bastian barusan, lagi pula tidak ada gunanya membalas juga. Levin sudah terbiasa membawa mobil dengan kecepatan tinggi di jalan raya, dan mungkin hal ini adalah yang pertama kalinya Bastian rasakan, menaiki mobil yang seolah akan mengantarkannya menuju kematian.
Sistem GPS yang terpasang pada mobil yang Levin bawa sudah dapat menemukan lokasi mobil yang Jacob gunakan. Levin sempat bingung karna alat pelacak itu menunjukan sebuah titik dimana terdapat hutan lebat. Apa mungkin Mack membawa Alesha ke hutan itu? Levin menggeram. Jika ya, maka jaraknya tidak jauh lagi dari jalanan yang sedang Levin lewati sekarang. Panik? Tentu. Marah? Pastinya, khususnya pada Mack. Takut? Jelas saja, Alesha sedang dalam bahaya sekarang, walau sudah ada Jacob yang menyusulnya. Hati Levin tidak tenang dan terus saja berdebar-debar membayangkan apa yang akan terjadi pada Alesha dan Jacob.
Dikala kegundahan sedang melanda diri Levin, Bastian, dan juga Laura, saat ini Jacob malah merasa begitu tenang. Alesha yang tertidur dalam pelukannya, dan Mack yang sudah berhasil ia habisi. Setidaknya Alesha akan kembali aman setelah lelaki yang berniat untuk membalaskan dendamnya sudah tidak dapat membuka matanya lagi untuk selamanya.
Angin yang berhembus begitu dingin, belum lagi suhu di dalam hutan yang semakin menurun. Suara-suara hewan malam yang berdering sangat nyaring menambah suasana horor yang sepintas melingkupi sekitaran Jacob dan Alesha. Tapi Jacob tidak takut sama sekali, justru ia malah khawatir pada Alesha yang sepertinya kedinginan.
Telapak tangan Alesha yang menyentuh tanah pun diangkat oleh Jacob agar menempel dan bersandar pada dada bidangnya. Jacob menggenggam erat lengan Alesha yang menempel pada dadanya.
"Jantungku masih berdetak karnamu, kau yang membuatku kuat dan bersemangat untuk menghabisi mereka semua." Ucap Jacob pelan. Senyuman kecil terukir, Jacob sangat senang bisa menjaga dan melindungi Alesha yang kini menjadi sumber energi baru untuknya.
"Aku sadar, perasaanku semakin besar padamu, aku mencintaimu, maaf aku masih belum bisa mengatakannya padamu, aku ingin menyingkirkan sosok Adam terlebih dahulu dalam hatimu." Jacob semakin memeluk Alesha dengan begitu posesif. Rasa sayangnya kian bertambah pada gadis itu. Jacob tidak mau kehilangan Alesha, Jacob tidak mau patah hati untuk yang kedua kalinya. Hatinya sudah terukir dan tersusun kembali berkat kehadiran Alesha dalam hidupnya.
"Tetaplah bersamaku, Little Ale." Jacob mengusap lembut rambut Alesha. Ia tidak mau kehilangan momen, ia ingin terus dalam posisi seperti itu untuk waktu yang lebih lama lagi. Alesha yang kini ada dalam pelukan Jacob pun sama sekali tidak terusik. Alesha sungguh lelah karna tangisnya yang cukup menguras tenaga.
Untaian bintang yang menjadi bintik-bintik cahaya kecil dilangit gelap berperan sebagai bingkai malam yang Alesha dan Jacob lalui bersama. Baik dari kedua insan yang kini sedang melewati malam bersama dalam hangatnya pelukkan yang didasari oleh rasa takut, panik, bahagia, dan tenang. Alesha dan Jacob saling memeluk satu sama lain. Lelapnya tidur yang Alesha nikmati dalam dekapan sang mentor membuat Alesha tidak sadar akan posesifnya Jacob saat ini. Perasaan Jacob yang saat ini sedang tersalur tidak bisa Alesha rasakan. Keinginan Jacob untuk mengutarakan semua hal yang selama ini ia pendam, tapi itu semua perlu Jacob tunda untuk beberapa waktu lagi. Jacob belum siap jika harus menerima kalimat penolakan dari Alesha, Jacob tahu kalau gadisnya itu masih terpikat dengan Adam.
"Eunghh.." Alesha terusik saat angin dengan kecepatan cukup tinggi menerpa tubuhnya dan tubuh sang mentor.
Sekujur tubuh Alesha bergetar merinding ketika sentuhan angin yang seperti menusuk-nusuk kulitnya.
Jacob yang mengetahui hal itu pun segera melepaskan jaket yang ia kenakan dan memakaikannya pada Alesha.
"Tidak, aku tidak apa-apa, pakai saja jaketmu." Tolak Alesha yang masih dalam fase setengah kesadaran.
Jacob tidak memperdulikan ucapan Alesha barusan. Ia menahan tubuh Alesha agar tidak melepaskan jaket yang kini membalut punggung dan kedua sisi bahu gadis itu.
"Mr. Jacob, lepaskan jaketmu." Lirih Alesha.
"Diam!" Perintah Jacob. Ia pun segera mempererat kembali pelukannya dan menenggelamkan wajah Alesha pada lehernya.
"Eeunghh. Lepas, aku tidak nyaman, Mr. Jacob." Alesha mendorong dada Jacob dan menjauhkan tubuhnya untuk memberi jarak dengan tubuh sang mentor.
"Kenapa?" Tanya Jacob.
"Tidak, aku tidak nyaman jika seperti tadi." Jawab Alesha sembari mengucek-ngucek kedua matanya.
"Tapi tadi kau tertidur nyenyak dalam pelukanku." Jacob terkekeh dan tersenyum kecil.
"Aku takut dan lelah tadi, maaf.." Balas Alesha dengan pelan.
"Tidak usah minta maaf, kau tidak bersalah apapun." Jacob meraih kedua telapak tangan Alesha yang sudah sangat dingin.
"Kau terluka karnaku.." Alesha mulai terisak saat membayangkan kejadian tadi saat mentornya bertarung dengan keras demi dirinya, demi Alesha.
"Hey, Alesha tatap aku." Jacob menangkup wajah Alesha lalu mengangkatnya agar kedua wajah mereka dapat saling sejajar.
"Siapa aku?" Tanya Jacob sambil menatap kedua mata Alesha.
"Kau Mr. Jacob." Jawab Alesha dengan polosnya.
Jacob menggelengkan kepalanya, ia tahu pertanyaannya yang barusan itu salah. "Maksudku, siapa diriku menurutmu?"
Alesha mengerutkan keningnya. Ia bingung kenapa mentornya itu menanyakan hal seperti itu.
"Kau mentorku." Jawab Alesha yang masih paham tidak paham dengan pertanyaan dari mentornya dan jawbannya sendiri.
"Lagi?" Jacob semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Alesha.
"Kau keluargaku, dan sudah seperti kakak untukku." Lanjut Alesha.
"Apa tugas seorang mentor, dan seorang kakak?"
Alesha terdiam. Sebenarnya ia sudah tahu jawabannya, tapi Alesha ragu untuk mengatakannya.
"Menjaga dan melindungi adiknya."
Jacob tersenyum setelah mendengar jawaban dari Alesha barusan. Tangan sebelah kirinya turun dan meraih tangan Alesha, sedangkan tangan sebelah kanannya masih setia menempel pada wajah Alesha sambil memberikan usapan halus pada pipi Alesha.
"Tugasku adalah menjaga semua anggota timku, termasuk kau, Ale."
Ucapan Jacob barusan begitu lembut hingga membuat jantung Alesha berdetak tidak beraturan dalam memompa darah.
"Aku menyayangi kalian semua, kalian sudah aku anggap sebagai keluargaku." Jacob tersenyum hangat yang mampu menenangkan hati dan pikiran Alesha.
"Sebagaimana jahil dan mengesalkannya Mike dan Lucas, aku tetap menyayangi mereka, tugasku adalah mendidik kalian agar bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi." Ucapan Jacob terdengar begitu tulus, binar matanya pun tidak menunjukan suatu kebohongan walau hanya sedikit.
"Aku senang bisa memiliki mentor dan guru sepertimu." Balas Alesha yang tersenyum dengan mengeluarkan bentuk eye smile favorit Jacob.
Jacob yang melihat eye smile imut milik Alesha itu seketika hanya bisa tertawa kecil sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak kuasa menahan matanya yang terfokus pada wajah manis sang gadis kesayangan saat sedang tersenyum. Tangan Jacob terkepal kuat saat menahan sebuah hasrat yang sedang bergejolak dalam hatinya. Jacob sudah berjanji pada dirinya agar tidak lagi mencuri ciuman dari bibir Alesha.
Cukup, Alesha, kau bisa membuatku kehilangan kendali jika seperti itu. Kau tidak tahu seberapa kuat aku harus menahan agar tidak kelepasan..... Batin Jacob.
"Mr. Jacob, apa mereka akan bangun lagi dan melaporkan kita?" Tanya Alesha yang kini ekspresi wajahnya sudah berubah drastis. Ketakutan kembali merasuki diri Alesha.
"Tidak, lepaskan aku!" Tolak Alesha yang menjauhkan tubuhnya dari Jacob. "Aku tidak apa-apa."
Alesha menundukkan kepalanya. "Walau aku sangat takut jika mereka kembali bangun dan mencelakai kita lagi." Ucap Alesha dengan sangat pelan.
"Tenang saja, mereka akan bangun, hanya saja sudah berbeda alam dengan kita." Balas Jacob yang ternyata mendengar ucapan Alesha barusan.
"Lalu bagaimana dengan kita? Hutan ini membuatku merinding." Tanya Alesha sambil menatap ngeri pada sekitarnya.
Jacob mengerti maksud Alesha, ia tahu kalau gadisnya itu sedang ketakutan, hanya saja saat ini Jacob sedang merasakan tubuhnya yang remuk dan nyut-nyuttan pada beberapa bagian sehingga Jacob tidak mampu untuk melakukan apapun atau rasa nyeri pada tubuhnya akan semakin membuatnya tersiksa sendiri.
"Mr. Jacob." Alesha menatap Jacob dengan rasa ketakutan yang begitu kentara dalam sorot matanya.
Jacob yang hanya bisa bersandar pada batang pohon kini tersenyum kecil ketika melihat ekspresi ketakutan yang Alesha tunjukkan. Tangan Alesha kemudian meraih tangan mentornya. Jacob terkekeh, ia pun mengangkat sebelah alisnya. Alesha kini mulai mendekatkan kembali tubuhnya pada sang mentor saat rasa takut semakin memenuhi segala penjuru dirinya.
"Mr. Jacob.." Panggil Alesha yang ketakutannya semakin menjadi-jadi.
"Apa?" Tanya Jacob dengan lembut.
"Kau bawa ponsel? Kita bisa hubungi Mr. Levin."
***
Kini mobil yang Levin dan Bastian tumpangi sudah sampai pada lokasi hutan yang ditunjukan oleh alat pelacak yang Levin pakai untuk mengetahui keberadaan mobil yang Jacob bawa.
"Mr. Levin, kau yakin ini tempatnya?" Bastian melihat keluar jendela mobil dengan perasaan merinding dan takut. Pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi dan besar menyambut kedatangan mobil mini yang masih melaju pada jalurnya.
"Alat pelacak itu tidak mungkin salah, kita berjarak sekitar beberapa puluh meter lagi dari lokasi mobil yang Jacob gunakan." Jawab Levin yang menurunkan tempo kecepatan mobilnya. Ada sekitar dua mobil lagi dibelakang yang mengikuti mobil yang Levin bawa.
"Perhatikan sekitarmu, aku khawatir anak buah Mack mengetahui keberadaan kita." Ucap Levin pada Bastian.
"Kalau mereka mengetahui keberadaan kita bagaimana?" Tanya balik Bastian.
"Tidak masalah sih, hanya saja akan memperlambat waktu kita untuk menemukan mentormu dan Alesha." Jawab Levin.
Bastian mengangguk. Ia kembali memikirkan semua hal yang berada di dalam hutan itu, hewan buas, tumbuhan beracun, dan. Tiba-tiba tubuh Bastian bergidik dan seluruh bulu kuduknya terangkat saat ia mengingat satu hal, yaitu hantu. Tidak mungkin di dalam hutan lebat dan gelap itu tidak ada sosok menakutkan yang sedang Bastian bayangkan saat ini. Sekarang Bastian malah merasa seperti sedang berada dalam cerita difilm-film bergenre horor yang pernah ia tonton.
"Tidak usah berpikiran macam-macam, jika kau sudah bekerja di SIO, kau harus bisa menghilangkan rasa takut hanya karna berada ditempat seperti ini." Ucap Levin yang menyadari ketakutan yang sedang melanda diri Bastian.
"Takut karna hantu tidak ada dalam kamus seorang agent intelegent." Lanjut Levin.
"Iya, aku mencoba untuk membiasakan diriku." Balas Bastian sambil menarik napasnya agar ia bisa lebih tenang lagi.
Levin memutar bola matanya dengan jengah. Menjadi seorang agent intelegent harus memiliki mental yang kuat dan tidak boleh lengah hanya karna mahluk gaib. Memiliki pikiran yang positif dan jernih adalah tuntutan agar dapat menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan tenang juga rapih. Fokus pada masalah yang sedang dihadapi dan jangan membiarkan pikiran-pikiran yang tidak berguna memasuki ruang kepala, hal itu dapat mengganggu. Contohnya saja Bastian, yang masih takut dengan hal seperti hantu.
"STOP, Mr. Levin!" Ucap Bastian secara tiba-tiba saat matanya mendapati sebuah objek yang tidak asing berada sekitar sepuluh meter dari jalan yang sedang mereka lewati.
"Ada apa?" Tanya Levin yang tidak kalah kagetnya.
"Aku melihat sesuatu! Aku rasa itu mobilnya!" Seru Bastian. Tanpa aba-aba dan meminta izin dahulu dari Levin, Bastian segera membuka pintu mobil lalu berlari ke arah objek yang dilihat oleh matanya.
"Bastian!" Panggil Levin yang juga segera menyusul Bastian yang sudah berlari menjauh.
"Alesha!" Seru Bastian saat ia melihat Alesha sedang bersandar pada bahu mentornya, Jacob. Langkah kaki Bastian segera berpacu untuk mendekati salah satu anggota timnya juga mentornya.
Levin yang berlari untuk menyusul Bastian bersama beberapa anak buah Laura dibelakang pun seketika berhenti secara mendadak saat mata mereka teralihkan pada tubuh-tubuh anak buah Mack yang sudah terbujur kaku ditanah. Mayat-mayat pria itu terlihat begitu mengenaskan dan mengerikan dengan luka lebam, dan darah yang mengalir pada bagian kepala, juga terlihat bagian beberapa tulang yang membengkok. Apa Jacob yang menghabisi mereka semua? Pikir Levin.
"Mack." Gumam Levin saat ia melihat tubuh Mack yang juga terbujur kaku ditanah. Levin mendekati mayat Mack, ia bergidik ngeri ketika melihat sungai darah yang mengalir tepat dari bagian ulu hati dan membentuk sebuah bendungan kecil diatas tanah.
Levin berlutut. Ia memandangi gumpalan darah segar berwarna merah gelap itu. Bau anyir tercium dengan jelas hingga membuat Levin merasa sedikit mual.
"Ini akhir dari hidupmu? Sebenarnya aku tidak setuju, seharusnya kau merasakan siksa yang lebih perih dari sekedar kematian, Mack." Levin menarik salah satu sudut bibirnya.
Puas? Lumayan. Setidaknya Levin tahu kalau manusia tidak berakal seperti Mack sudah lenyap dari dunia ini. Mungkin ini yang disebut hukum karma, kematian adalah jalan terbaik agar Mack tidak menyusahkan lebih banyak orang lagi.
"Kau yang membasmi mereka semua, Jack?" Tanya Levin yang kembali bangkit dan mendekati Jacob, Alesha, dan Bastian.
"Ya, aku sudah malas untuk berhadapan dengan manusia-manusia tidak berguna seperti mereka." Jawab Jacob.
"Ini salah satu hal yang membuatku begitu membenci dirimu, Jack." Ucap Levin yang membuat Alesha dan Bastian saling mengerutkan keningnya dan berlomba-lomba menunjukan ekspresi yang paling bingung. Jacob sendiri hanya tersenyum saat menyikapi ucapan Levin barusan, ia tahu kemana maksud ucapan itu.
"Kau selalu saja menjadi pesaingku dalam urusan menghabisi orang-orang tidak berguna." Lanjut Levin sambil membantu Jacob untuk bangkit dan berdiri.
"Mungkin karna memang kau saja yang tidak mampu menyaingiku." Balas Jacob.
"Cukup, kalian masih bisa-bisanya membicarakan tentang persaingan disaat seperti ini." Alesha menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya.
"Dia memang musuhku di SIO." Balas Levin sambil menunjuk pada Jacob.
"Kenapa kau membantunya sekarang?" Tanya Bastian.
"Aku tidak mau mencoreng nama baikku sebagai mantan anggota intelegent SIO hanya karna persaingan pribadiku dengan mentormu." Jawab Levin.
"Kau beruntung berada dalam lindungan lelaki yang tepat, Al." Lanjut Levin sambil tersenyum pada Alesha.
"Aku?" Alesha menunjuk dirinya sendiri.
"Sudah lupakan ucapan Levin, sekarang kita pulang." Ucap Jacob.
Waktu subuh semakin mendekat, Levin dan Bastian pun akhirnya membantu Jacob untuk berjalan dan masuk kedalam mobil, diikuti oleh Alesha yang juga duduk bersebelahan dengan Jacob. Bastian duduk didepan, dan Levin yang membawa mobilnya, sedangkan mobil yang Jacob bawa kini dikendarai oleh salah satu anak buah Laura.
"Mr. Jacob, bagaimana kau bisa menghabisi mereka semua sendirian?" Tanya Bastian.
"Pertanyaanmu salah, Bas." Jawab Levin.
"Apanya yang salah?" Bastian mengerutkan keningnya dan menatap bingung pada Levin.
"Hal seperti itu sudah menjadi hal biasa untuk Jacob." Jawab Levin. "Aku juga." Lanjutnya.
"Tapi dia sendirian, bagaimana mungkin?" Pandangan Bastian beralih pada mentornya.
"Kau akan tahu setelah aku mengajarkan padamu nanti." Jawab Jacob dengan segaris senyum pada bibirnya.
***
Holla kalian semua para pembaca yang terus ikutin cerita aku ini. Makasih ya buat semua kebaikan kalian buat kasih dukungan Vote, komen, and likenya🙏💋❤️😊
Oh ya Authornya mau minta tolong dong kekalian semua, boleh kan hehe 😁😊 Jadi gini, author itu kadang suka bingung sama alur cerita ini, jadi kalo seandainya nanti kalian ngerasa ada yang kurang atau ceritanya jadi gak jelas tolong banget ya author minta kritikkannya, biar author tahu salahnya dimana🙏😁😊ya maklum, author itu penulis baru banget yang masih amatiran, jadi kalau ada kosa kata atau alur cerita yang jadi ngelantur atau PUEBI dan EYD yang masih acak-acakkan tolong dimaklum ya, author juga masih belajar kok, jadi tolong ya kalo kalian ngerasa ada yang aneh dan kurang dari cerita ini komen aja, author terima semua kritik dan saran kok, semoga aja selanjutnya autor bisa bikin pembaca semakin ngerasa nyaman lagi buat baca cerita ini🙏😊
Oke segitu aja deh gausah banyak-banyak lagi hehe 😁 sekali lagi author mau ucapin terima kasih ya, and happy reading, semoga kalian bisa suka sama kelanjutan dari cerita ini🙏😍💋