
"Selamat ulang tahun, Alesha. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu."
Perlahan Jacob melepaskan pelukannya dan memberikan jarak diantaranya dengan Alesha.
"Jangan menangis, ini hari bahagiamu, tersenyum lah."
Jacob memberikan usapan halus pada wajah Alesha untuk menghalau agar air mata tidak kembali turun. Ditangkupnya wajah Alesha oleh kedua telapak tangan Jacob.
"Jangan menangis tersenyumlah." Ucap Jacob seraya mengangkat wajah Alesha agar mau menatapnya.
"Kau.. Hiks, kau yang membuat ini semua, Mr. Jacob?" Isak Alesha.
"Iya, aku sengaja mempersiapkan ini semua untuk hari ulang tahunmu." Jawab Jacob disertai seukir senyuman penuh ketulusan.
"Tapi kenapa? Kau sangat baik sekali."
Tetap saja, Alesha masih tidak bisa menahan butir-butir kristal cair dalam matanya, hingga tetesan demi tetesan pun kembali turun bersamaan dengan proses napas yang tersendat-sendat.
"Kau sangat baik, kadang aku selalu merasa tidak enak padamu, Mr. Jacob, hiks."
Tidak kuasa menahan haru yang kian memuncak, Alesha pun kembali membenamkan wajahnya pada sang mentor. Menangis kembali lah Alesha pada dada bidang Jacob yang berlapis tuxedo dan memiliki aroma maskulin khas pria.
Mendapati Alesha yang kembali membenamkan wajah pada dadanya, Jacob pun dengan senang hati membawa gadis itu untuk masuk dalam dekapannya lagi.
"Kau tidak berbohong, Mr. Jacob? Atau ada orang lain lagi yang terlibat dalam rencana ini?" Lirih Alesha disela-sela isakkannya.
"Tidak, Al, tidak ada yang mengetahui ini selain aku." Jawab Jacob dengan sangat lembut.
"Lalu kenapa kau membuat ini semua?" Pertanyaan Alesha barusan adalah penghantar untuk pelepasan diri Alesha dari dalam pelukan sang mentor.
Dengan tenang, Jacob menjawab. "Kau adalah adikku, aku menyayangimu seperti kau adalah bagian dari keluargaku, Al."
Kau adalah keluargaku yang kelak akan membantuku untuk menghasilkan anak dan kebahagiaan kecil yang begitu berarti.... Lanjut Jacob dalam hati.
"Tidak ada yang pernah menyayangiku setelah orang tuaku meninggal. Aku memiliki banyak saudara dan keluarga, tapi aku hanya tinggal berdua dengan kakekku yang sakit-sakittan." Lirih Alesha.
"Tidak untuk kali ini. Ada aku yang akan memberikanmu kasih sayang tulus seperti yang dulu orang tuamu berikan."
Dan aku harap kau dapat mengerti apa yang aku ucapkan, Al. Aku ingin kau tahu kalau aku aku sangat mencintaimu, semoga dengan cara seperti ini kau akan merasakan seberapa sayang dan dalamnya perasaanku.... Batin Jacob.
"Kau tidak berbohongkan?" Tanya Alesha sembari menatap Jacob dengan sorot mata yang begitu dalam dan penuh pengharapan.
"Apa aku selalu berbohong padamu?" Goda Jacob.
Alesha menggeleng kecil dengan ekspresi wajah yang masih sama. "Tidak."
Jacob pun semakin melebarkan senyum menawannya bersama satu tangan yang terangkat untuk memberikan usapan lembut pada puncak kepala Alesha.
"Aku menyayangimu, Al, kau adalah keluarga baru untukku."
"Terima kasih, Mr. Jacob." Kalimat itu benar-benar tulus terucap dari bibir Alesha hingga membuat hati Jacob merasa tenang.
Jacob akan selalu melakukan hal apapun demi membuktikan dan menunjukan kasih sayangnya pada gadis remaja yang akan segera menginjak masa awal kedewasaan.
Tidak akan pernah Jacob untuk bisa terlepas dari Alesha. Hatinya sudah terikat dan terpikat pada gadis itu. Yuna sudah benar-benar berlalu, tidak ada lagi keterpurukan untuk Jacob karna kenangan gadis itu karna Jacob juga sudah mengikhlaskan kepergian Yuna. Kali ini masa yang baru tidak boleh Jacob biarkan begitu saja, melepaskan Alesha sama saja membunuh jiwanya sendiri. Jacob akan berusaha sepenuhnya agar Alesha bisa menjadi miliknya.
Jacob sungguh sangat menyayangi Alesha, mencintai Alesha, mengasihi Alesha, dan bertujuan untuk hidup menua bersama Alesha. Kasihnya akan selalu tersalur walau sebesar apapun rasa marahnya jika kelak Alesha memancing emosinya. Jacob tidak perduli dengan semua keburukan dan kekurangan Alesha, karna ia ingin menikahi jiwa Alesha, bukan sikap apalagi fisik Alesha.
Jacob berpikir kalau Alesha bisa membantunya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Apapun konsekuensinya, Jacob akan menerima tanpa mesti berpikir panjang. Hampir setahun berlalu, Jacob dapat mengetahui semua kepribadian Alesha, entah baik atau buruk. Jacob sangat mengenal Alesha dengan baik tanpa Alesha tahu.
"Kemarilah."
Jacob menarik lembut lengan Alesha agar mau berjalan mendekati meja yang diatasnya sudah diletakkan satu buah kue ulang tahun cantik beserta tiga buah paper bag berisi barang-barang yang waktu itu pernah Alesha tunjukkan pada Jacob melalui situs dagang online.
Jacob sengaja memberikan hadiah pada Alesha beberapa barang yang sangat amat Alesha sukai, tepatnya barang-barang yang beberapa minggu lalu Alesha perlihatkan. Memang Alesha tidak memintanya, namun Jacob memiliki inisiatif sendiri untuk membelikkan barang-barang itu.
"Bontot." Senyum sumringah pun tercipta dan menghapus jejak tangisan haru pada wajah Alesha. Dengan rasa bahagia yang kali ini tidak dapat terungkapkan, Alesha pun mengangkat dan memeluk boneka kesayangannya itu.
"Baby Ale sengaja aku bawa untuk ikut dalam pesta kecil ini." Ucap Jacob sangat ramah.
"Ah, dia semakin lembut dan wangi, tapi kenapa wangi parfumnya berubah?"
"Itu karna Baby Ale memakai parfumku."
"Hmm, wanginya tidak sepadan dengan penampilannya. Tapi tidak apa-apa, aku berterima kasih karna kau sudah mau menjaga bonekaku." Ucap Alesha sembari menunjukkan eye smile dan senyum cerah pada mentornya.
Gigitan kecil menjadi alat untuk Jacob menahan hasratnya. Bukan grogi, tetapi hati Jacob dibuat begitu bergetar karna ulah Alesha barusan yang menunjukan ekspresi wajah favorit Jacob.
Sedangkan dari kejauhan, percaya atau tidak Bastian hadir dalam pesta buatan mentornya itu. Tetapi Bastian memiliki tugas khusus dari Jacob untuk mengambil sebanyak mungkin foto yang bisa dihasilkan. Sebenarnya kasihan juga Bastian saat ini, ia harus berdiri dibelakang pohon dan bersembunyi, Bastian juga mesti menahan rasa gatal dari gigitan kecil yang dilakukan oleh nyamuk-nyamuk liar dalam hutan.
"Ck, kalau bukan karna Mr. Jacob tidak akan pernah aku mau melakukan hal ini." Oceh pelan Bastian sembari menghalau nyamuk nakal yang berusaha untuk mengerubuni kepala, kaki, dan lengannya.
"Huftt..." Jacob menghembuskan napasnya dengan tenang agar hatinya juga ikut tenang. Ia tidak mau kehilangan kendali diri hanya karna melihat Alesha yang begitu cantik dalam balutan dress yang ia pesan bersamaan dengan tiga paper bag lain yang berisi hadiah.
"Tiup lilinnya." Titah Jacob sangat lembut.
Kelopak mata Alesha terangkat agar kedua iris matanya dapat menatap wajah sang mentor yang terlihat begitu tampan malam ini.
"Kenapa menatapku? Tiup lilinnya, Alesha."
Aish, dasar Jacob. Alesha tersipu saat mendengar namanya disebut dengan suara yang begitu lembut dan menggoda.
"Tidak usah tersipu, nikmati saja pestamu." Lanjut Jacob.
Ah, betapa Alesha sangat bahagia. Jauh dari dugaan Alesha kalau mentornya itu diam-diam sudah merencanakan pesta mini untuk merayakan ulang tahunnya. Rasanya seperti Alesha sedang melayang-layang dengan tenang diantara para penduduk langit, menikmati setiap waktu yang berlalu dan membangkitkan semangat kebahagiaannya.
Tak terkira seberapa besar lonjakan moodnya, Alesha sungguh berada dalam fase kesenangan yang tiada tara. Sepuluh tahun, akhirnya ia bisa kembali merasakan hangatnya aliran kasih sayang yang mentornya berikan.
Kesenangan ini, momen ini, dan kenangan ini sangatlah berarti, Alesha tidak akan pernah lupa. Jacob sangat menyayanginya, Alesha sungguh merasakan hal itu sekarang. Benar-benar meresap langsung kedalam lubuk hati Alesha, cinta dan kasih Jacob mengalir kesana. Alesha tidak dapat menyangkal lagi, ia semakin curiga dan semakin yakin kalau mentornya itu memang menaruh rasa padanya.
Tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu, langsung saja Alesha meniupkan dua buah lilin yang berbentuk angka satu dan sembilan yang menancap dipuncak kue ulang tahunnya dengan pelan dan pasti.
Sekali, dua kali, Alesha gagal mematikan api kecil yang menyala-nyala pada lilin itu. Masuklah pada percobaan ketiga, lalu keempat, dan kelima. Semburan napas Alesha yang tadinya pelan hingga menjadi kencang ternyata tidak mampu untuk mematikan api dari dua lilin itu.
Alesha pun mendengus. "Apinya tidak mau padam, Mr. Jacob."
Kekehan kecil pada Jacob menunjukkan kalau pria itu sedang merasa gemas pada gadis yang ada dihadapannya.
"Kau tidak meniupnya dengan benar, Al." Canda Jacob.
"Aku sudah meniupnya dengan kencang kau lihatkan tadi."
"Tapi lilinnya belum padam, Al."
"Bagaimana kalau kita meniupnya berdua?" Tawar Alesha dengan binar cerah pada matanya.
"Berdua?" Ulang Jacob yang terlihat seperti berpikir. Tapi sebentar, kenapa juga Jacob harus berpikir? Seharusnya ia bahagia karna Alesha menawarinya kesempatan emas.
"Iya, siapa tahu lilinnya mati."
"Baiklah." Jacob mengedikkan bahunya tanda kalau ia setuju dengan tawaran Alesha.
"Oke, hitungan ketiga ya. Satu."
"Dua."
"Tiga."
"Hufftt.."
Semburan napas dari kedua sejoli yang masih belum mengakui perasaan satu sama lain itu pun seketika melenyapakn api kecil yang membakar sumbu pada ujung lilin.
"Yes, dapet." Seru kecil Bastian saat berhasil memotret gambar Alesha dan mentornya ketika sedang meniupkan lilin secara bersamaan melalui kamera yang menggantung dilehernya.
"Yey, apinya mati." Seru Alesha yang kegirangan.
Jacob tersenyum lebar. Sejuk sekali rasanya untuk Jacob, aura ceria dan kebahagiaan benar-benar terpancar dari Alesha, dan semakin menambah kesan magis penuh cinta untuk diri Jacob.
"Aku harap kau bahagia walau pesta ini hanya sebuah pesta biasa." Senyum simpul tiba-tiba saja mengurangi kesan tampan pada wajah Jacob. Pria itu sedikit merasa bersalah karna tidak bisa memberikkan pesta yang layak untuk gadis yang sudah dianggapnya sebagai kekasih.
Tetapi untuk Alesha, ia tidak memandang mau itu pesta biasa atau mewah. Alesha merasa sangat bahagia bukan karna pestanya, namun karna sikap sang mentor yang begitu perhatian hingga membuat Alesha terharu. Kesedihan dari sebuah kebahagiaan menandakan bagaimana besarnya rasa kesenangan batin yang selama sepuluh tahun lebih tidak pernah ia rasakan.
Walau itu hanyalah pesta kecil, namun akan selalu membekas dalam benak Alesha. Mentornya itu sudah mempersiapkan semuanya, dan hal itu adalah hal yang paling berharga untuk Alesha. Semuanya terasa sangat sempurna ketika rasa tulus kebahagiaan sudah membenak.
"Apa yang kau katakan, Mr. Jacob? Apa kau tidak merasakan betapa bahagianya aku? Ini bukan pesta kecil, namun ini adalah pesta yang akan selalu aku kenang sepanjang usiaku. Terima kasih sudah menaruh perhatian padaku, aku menyayangimu, Mr. Jacob. Kau akan selalu menjadi kakak dan keluargaku."
Wajah Alesha kembali dirundung senyum cantik yang menyiratkan sebuah perasaan mendalam.
"Apa ini?" Alesha mengerutkan keningnya.
"Hadiah untukmu, apalagi. Tiga paper bag itu juga baju yang sekarang kau pakai, semua adalah hadiah untukmu."
"Apa? Kau tidak bercanda, Mr. Jacob?" Wajah Alesha yang saat ini berubah menjadi melongo membuat Jacob ingin tertawa.
Sungguh, untuk apa pula Jacob membawa tiga paper bag itu kalau bukan untuk Alesha.
"Tidak usah banyak bertanya, cukup buka saja." Jawab Jacob sangat santai. Namun ekspresinya sedang menahan tawa dapat tertebak jelas oleh Alesha.
"Baiklah." Balas Alesha yang masih menyipitkan mata pada mentornya.
Bunyi gesekan yang ditimbulkan oleh paper bag yang saat ini sedang Alesha buka menyeruak disekitaran taman itu.
Dua buah kotak tebal yang berlapis kain beludru merah itu membuat Alesha semakin merasa penasaran akan benda yang berada dalam kotak hadiahnya.
"Ini dua?" Alesha kembali melayangkan tatapan bingung pada Jacob.
"Menurutmu?" Balas Jacob.
"Y-ya, ini dua." Alesha pun mengedikkan bahunya.
Kali ini, Alesha kembali menaruh telapak tangannya yang sedikit bergetar, padahal ia hanya akan membuka salah satu darinya dua kotak hadiahnya. Alesha merasakan debaran jantungnya yang bertempo lebih cepat.
"Hh, huftt.." Satu tarikan dan hembusan napas menjadi pembukaan untuk Alesha dapat melihat isi dari kotak hadiahnya yang sudah dalam kondisi setengah terbuka.
"Satu, dua, tiga." Hitung Alesha.
Mata Alesha tepejam sambil membuka penutup kotak hadiah itu dan menaruhnya diatas meja.
Dirabanya oleh Alesha benda yang bertekstru kain lembut dan berenda itu. Apakah itu sebuah pakaian? Satu kelopak mata Alesha terbuka, dan sedetik kemudian disusul oleh kelopak mata yang satunya lagi.
"Ehh." Kekehan kecil keluar begitu saja dari dalam mulut Alesha. Kening ia pun ikut berkerut. Ada keanehan yang tak asing. Pikir Alesha. Jika dilihat dari bentuk dan ukirannya, kain itu terlihat seperti pakaian yang beberapa waktu lalu pernah Alesha tunjukkan pada Jacob. Sangat amat sama persis seperti yang Alesha perlihatkan.
"Ini seperti." Alesha mengambil lipatan kain itu lalu menaruh kotaknya diatas meja.
"Ya ampun, Mr. Jacob!" Pekik Alesha
Sebuah baju dress panjang yang sangat amat Alesha sukai dan inginkan untuk acara keagamaan kini sudah berada dalam genggamannya.
"Inikan!" Seru Alesha dengan semangat. "Ini bukannya dress."
"Yang waktu itu kau tunjukkan. Ya aku membelikannya. Sesuai keinginanmu kalau kau memiliki dress itu maka kau akan memakainya keacara keagamaan dengan menggunakan kerudung milik ibumu juga. Aku harap dress ini akan bermanfaat." Potong Jacob.
"Mr. Jacob, ya ampun aku tidak percaya ini!" Pekik Alesha yang masih kaget akan hadiah pemberian mentornya itu.
Satu yang ada dalam kepala Alesha. Ia tahu kalau harga dress yang kini berada dalam genggamannya memiliki harga jual yang tinggi karna berbahan dasar kain yang kualitasnya tidak bisa dikatakan main-main. Belum lagi motif renda, tekstur, oh ayolah, Alesha semakin bingung dengan apa yang ada dalam kepala mentornya itu ketika akan menghadiahi dress mahal itu.
"Kau tidak bercandakan memberikanku dress ini?"
"Apa aku terlihat bercanda?" Goda Jacob. "Kemarikan dress itu, sekarang buka kotak yang satunya lagi."
"Jangan bilang kalau kau juga..." Alesha menyipitkan matanya pada Jacob.
Segera lengan Alesha mengambil kotak hadiah yang satu lagi. Entah ada kejutan apa dalam kotak itu yang mungkin bisa membuat jantung Alesha kembali mengalami serangan secara mendadak dan cepat.
Dibukanya secara singkat oleh Alesha kotak hadiahnya yang lain. Ia begitu penasaran hingga tidak sampai lima detik kotak itu terbuka dan menunjukan satu buah lipatan kain. Lagi?
Saat melihat kain itu, Alesha pun melirik kearah mentornya dengan senyum yang sulit diartikan.
"Jangan bilang kalau ini juga."
Jacob terkekeh saat mendapatkan senyum juga tatapan intens dari Alesha.
"Benar dugaanku." Alesha membuang wajahnya sambil tersenyum lebar. "Mr. Jacob, kau pasti bercanda."
"Kau bisa menggunakan baju dua dengan lengan panjang. Dress itu cocok untuk kau pakai diacara keagamaan pula, sama seperti dress yang ini."
Oh, rupanya Jacob masih mengingat ucapan Alesha waktu itu.
"Mr. Jacob, bagaimana dengan dress ini? Cocok tidak kalau seandainya aku memakai baju polos lengan panjang didalamnya. Aku rasa ini akan bagus jika aku datang keacara keagamaan. Aku memiliki kerudung yang memiliki warna serupa dengan warna dress ini."
"Aku tidak ingat pernah mengatakan itu." Ucap Alesha.
"Tapi kau suka bukan?" Goda Jacob.
Alesha membuka mulutnya untuk tersenyum saat mendengar ucapan mentornya barusan. Suka? Tentu saja, bahkan Alesha bingung harus berucap apa.
"Kau akan suka hadiah yang lain." Jacob kembali meraih dress yang Alesha pegang lalu digantungkan dengan rapi diatas lenggan besarnya.
"Masih ada lagi?"
"Aku sudah bilang tadi, semua yang ada dalam paper bag itu milikmu, Alesha."
"Ya ampun." Tepukan pada kening yang berasal dari telapak tangannya sendiri menunjukan kalau saat ini Alesha sedang merasakan sesuatu yang tidak enak dan sedikit mengganjal pada hatinya.
"Kotak mana yang harus aku buka?" Alesha memandang bingung pada dua paper bag lain yang masih utuh diatas meja.
"Baik, aku akan buka yang ini terlebih dahulu."
Satu paper bag berukuran lebih kecil dari dua paper bag lain kini sudah Alesha pedang dan tangannya juga sudah siap untuk merogoh kotak yang berada didalam paper bag itu.
Alesha pun menarik kotak kecil dari dalam paper bag pemberian mentornya. Ia tidak tahu apa isinya, namun rasa penasaran kian memaksa Alesha untuk segera membuka penutup kotak kecil itu.
"Wah!" Seru Alesha saat matanya menangkap sepasang benda yang terbuat dari ukiran kayu tebal.
Itu adalah sepasang jam yang sengaja Jacob pesan dengan berbahan dasar kayu pohon yang pastinya berkualitas tinggi, tidak lapuk, awet, dan aman walau direndam dalam air berjam-jam.
"Kau yang putih, dan aku yang coklat." Ucap Jacob dengan senyuman mempesona yang sesaat membuat riuh hati Alesha.
"Mr. Jacob, kau pasti bercanda ya."
"Kenapa kau terus menanyakan hal itu, Al? Apa aku terlihat bercanda?" Jacob melebarkan kelopak matanya dan mendekatkan wajah pada Alesha.
Refleks, satu langkah mundur Alesha ambil untuk menghindari pendekatan wajah yang mentornya itu lakukan.
"Tapi ini semua?" Alesha mengepakkan kedua lengannya. Ia benar-benar bingung harus percaya atau tidak. Hadiah yang menurut Alesha banyak itu, sungguhan mentornya berikan?
"Belum semua, masih tersisa satu." Jacob melirik pada satu paper bag lain yang masih tersimpan rapih diatas meja.
"Ini terlalu banyak, Mr. Jacob." Alesha menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak enak pada Jacob, pasalnya kelima hadiah itu yang termasuk kue juga dress selutut yang saat ini sedang Alesha gunakan pasti menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
Hutang budi Alesha semakin bertambah dan semakin banyak kepada mentornya. Jacob memang tidak mempermasalahkan apalagi memperhitungkan semua kebaikan dan pengorbanannya pada Alesha, namun tetap saja sebagai manusia yang memiliki hati, Alesha merasa sangat amat tidak enak pada mentornya itu.
"Sudah, ini tidak masalah bagiku. Atau kau masih mau barang lain?" Tawar Jacob.
"Nooooo.." Jawab Alesha dengan cepat. "Ini saja sudah amat sangat lebih untukku."
"Yasudah, kalau begitu silahkan buka hadiahmu yang satu lagi." Ucap Jacob sangat ramah.
"Tolong jangan buat lonjakan lagi pada jantungku karna hadiah darimu ini, Mr. Jacob." Gurau Alesha sembari meletakkan sepasang jam tangan yang masih tersimpan rapih dalam kotak itu keatas meja.
Tangan Alesha pun segera beralih untuk mengambil paper bag sisa yang teranggurkan.
Paper bag itu berisi sebuah kotak, lagi? Namun berukuran cukup besar dan panjang. Kira-kira benda apa yang didalamnya itu?
Jemari Alesha sudah mendarat pada ujung kotak bagian atas dan dalam hitungan detik akhirnya kotak itu pun terbuka sempurna.
Sandal heels imut berwarna putih dan merah muda itu terkesan sangat manis hingga membuat Alesha terkesima.
Jacob benar-benar menghadiahi Alesha dengan barang-barang yang selama ini gadis itu harapkan. Tahun ini adalah tahun terbaik untuk Alesha merayakan ulang tahunnya. Surprise sang mentor, pesta kecil, dan hadiah yang tidak Alesha duga. Betapa berharganya ulang tahun Alesha kali ini. Sungguh tidak tertebak atau terpikirkan sama sekali.
"Kau ingin terlihat lebih tinggi bukan?" Rayuan Jacob itu membuat Alesha tersenyum kikuk.
Ya, waktu itu Alesha pernah mengeluh kalau ia ingin terlihat lebih tinggi karna ia selalu merasa minder jika bersebelahan dengan mentornya. Tapi mau memakai sandal heels setinggi apapun tetap saja Alesha tidak bisa menyamai tingginya dengan tinggi tubuh Jacob. Sangat jauh sekali.
"Tubuhku seratus enam puluh tiga centimeter, memakai heels ini atau heels yang lebih tinggi lagi tidak akan membuat tinggi tubuhku sama sepertimu." Ucap Alesha yang disusul oleh senyum merekah.