
Pukul 05.00 sore waktu setempat.
Sebuah alat transportasi terbang baru saja mendarat dilandasan pacu yang cukup besar di halaman belakang WOSA. Pesawat itu tiba dengan mengangkut beberapa mentor lama yang akan kembali melanjutkan pengajaran bersama para murid WOSA. Ada sekitar sepuluh mentor tambahan yang SIO kirim untuk membimbing keseratus murid baru yang berhasil lolos ujian seleksi tiga bulan lalu.
Khusus untuk Jacob, kini ia sedang merasa bahagia karna dapat berjumpa kembali dengan gadis kesayangannya, Alesha. Sudah dua minggu ia tidak berjumpa muka dengan gadisnya itu, dan malam ini, ia berniat untuk menghabiskan waktu berdua untuk melepaskan kerinduan bersama Alesha.
Jacob juga sudah meminta Alesha untuk menunggunya di taman belakang gedung mentor.
"Aku sangat tidak sabar untuk menemuimu, Alesha. Aku mencintaimu." Gumam Jacob dengan senyum menawannya. Ia pun segera melajukan langkah untuk menemui gadis kesayangannya yang sudah menunggu.
Senyum Jacob kian melebar saat mendapati diri sang pujaan hati sedang terduduk sendirian dibangku taman.
Jacob berjalan dengan mengendap-endap dari belakang, lalu setelah itu, ia pun langsung mengejutkan Alesha dengan cara menutup kedua mata gadis itu secara tiba-tiba.
"Hei, siapa ini?" Pekik Alesha sembari berusaha untuk melepaskan dua buah telapak tangan besar yang menghalangi matanya.
"Hallo, Lil' Ale." Suara dari bisikan lembut itu membuat sekujur tubuh Alesha bergidik merinding. Alesha tahu pemilik suara yang sangat amat familiar itu.
"Mr. Jacob, lepaskan!" Pinta Alesha yang memaksa.
"Baiklah..." Jacob pun menuruti permintaan Alesha itu. Tetapi sejurus kemudian, kedua lengan besar Jacob sudah melingkari pinggang dan perut Alesha, memeluk dengan begitu posesif.
"Alesha... Aku sangat merindukanmu." Ucap Jacob dengan nada manja.
Aish, Alesha merasa sangat aneh. Sejak kapan mentornya itu berubah jadi manja?
"Mr. Jacob, lepaskan! Kita sedang di WOSA! Aku tidak mau ada yang melihat ini!" Dengus Alesha.
Lalu Jacob terdiam untuk berpikir. Sepersekian detik setelah itu, Jacob menjentrikan jarinya tanda kalau ia sudah menemukan sebuah ide.
"Ayo kita ke pantai. Malam ini sangat indah, kita akan habiskan waktu di pantai." Jacob langsung menarik pergelangan lengan Alesha untuk membawa gadis itu berjalan, sedangkan di belakang Alesha hanya bisa mendengus sebal.
Sepanjang jalan tidak ada satu murid WOSA pun yang melihat Alesha dan Jacob pergi menuju pantai, hanya ada tiga penjaga gerbang Utara WOSA saja yang melihat mereka saat memasuki area pantai.
"Mr. Jacob, kau tidak lihat? Aku hanya memakai baju tidur lengan pendek, aku akan kedinginan, aku harus kembali ke kamar messku." Alesha harap alasannya itu dapat membuat mentornya berubah pikiran untuk tidak membawanya menuju pantai. Entahlah, sejak malam itu, malam saat mentornya menyatakan perasaan cinta padanya, Alesha jadi merasa lebih canggung jika berbicara dengan mentornya itu. Sungguh, Alesha masih bingung, apa yang membuat sang mentor bisa tertarik padanya?
Tetapi berbeda dengan Jacob. Ia semakin bebas untuk bersikap bagaimana pun tanpa perlu susah payah menahan segala macam perasaan. Alesha sudah tahu kalau Jacob menyukainya, dan Jacob merasa lebih bebas dan tenang.
Saat dirasa cukup jauh dari gerbang Utara WOSA. Jacob pun langsung membuka jaket yang ia kenakan untuk menutupi tubuh bagian depan Alesha, sedangkan untuk bagian belakang, Jacob menaruh pelukan hangat pada punggung Alesha, dan lengan besarnya mengunci tubuh Alesha. "Sudah hangat kan?"
"Mr. Jacob, lepaskan aku!" Perintah Alesha yang menahan aliran emosi dalam dirinya.
"Kau bilang kedinginan. Aku yang akan menghangatkanmu, Lil' Ale." Ucap Jacob penuh kemanjaan.
"Mr. Jacob, lepaskan aku!" Pekik Alesha sembari mengeluarkan jurus bela dirinya agar dapat terlepas dari dekapan sang mentor.
"Argh!" Ringgis Jacob saat tubuhnya terhuyung beberapa langkah kebelakang akibat serangan kecil dari gadis kesayangannya itu. "Tidak sia-sia aku mengajarimu bela diri." Jacob menyeringai, membuat Alesha terkesiap sesaat karna jatuh pada pesona smirk menawan mentornya.
"Tentu saja. Kau pikir aku melanjutkan sekolah di WOSA hanya untuk bersenang-senang saja?" Balas Alesha.
"Tidak, tapi kita akan menghabiskan waktu berdua untuk mencari kesenangan." Jacob melangkahkan kaki untuk berjalan menuju Alesha, tetapi Alesha malah berjalan mundur untuk menjauhi mentornya itu.
"Kau kenapa?" Tanya Jacob saat mendapati Alesha yang menghindarinya.
"Sudahlah, aku ingin kembali ke messku." Alesha berniat untuk berlari agar bisa menghindari mentornya. Sungguh, Alesha merasa jadi canggung sekarang karna tahu kalau mentornya itu menyukainya.
"Tidak, tunggu!" Jacob pun segera mencekal pergerakan Alesha dengan berdiri tepat dihadapan gadis itu. "Aku mohon, temani aku malam ini, Al."
Melihat ekspresi memohon pada wajah mentornya itu membuat Alesha menjadi merasa kasihan. Tapi jika Alesha menemani mentornya malam ini, ia malah akan merasa tidak enak hati.
"Ayolah. Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama bukan?" Goda Jacob.
Alesha tidak menjawab. Ia hanya bisa termenung.
Alesha gak bakal bisa temenin Mr. Jacob kalau Alesha ngerasa canggung dan gak enak hati gini....... Resah Alesha dalam hatinya.
"Ayo, sayang."
Alesha langsung tertegun saat Jacob memanggilnya dengan kata 'Sayang' yang terdengar sangat lembut.
"Kau terlalu banyak berpikir, Alesha. Sudahlah, kita biasa menghabiskan waktu berdua bukan? Jadi ayo, temani aku malam ini di sini, seperti biasanya. Tidak akan ada yang melihat atau mengganggu kita juga." Jacob meraih lengan Alesha dan menggiring gadis itu untuk berjalan beberapa meter menjauhi bibir pantai.
Sekarang mereka, tepatnya Jacob memilih tempat dimana ada sebuah batang pohon kelapa besar yang tergeletak dipinggiran hutan yang hanya berjarak sepuluh meter dari garis pantai.
"Mr. Jacob, apa yang akan kita lakukan di sini?" Tanya gugup Alesha.
"Kau kenapa, Al. Tidak biasanya seperti ini? Tentu saja menghabiskan waktu bersama. Kau lupa kalau kita selalu ke sini untuk melihat langit malam dan merileksasikan diri?"
Ah ya, Alesha bingung karna perasaan canggungnya.
"Ada apa denganmu, Alesha?" Tanya Jacob lagi dengan nada yang begitu lembut.
"Apa kau selalu melakukan hal seperti ini dengan Yuna dulu, Mr. Jacob?"
Deg!
*
*
Tepat sekali. Alesha berhasil membuat tikaman mentah pada diri sang mentor karna pertanyaannya itu.
Bagaimana Jacob bisa menjawabnya? Ia tidak mungkin mengungkit kebersamaannya bersama Yuna karna itu pasti akan melukai hati Alesha secara diam-diam.
Jacob bergeming kala putaran kenangan manis bersama kekasih lamanya kembali terulang. Bedanya adalah dulu tempat ia menghabiskan waktu dengan Yuna itu di tebing bagian barat WOSA. Tebing itu adalah saksi bisu dimana Jacob selalu mengukir kisah cintanya bersama Yuna.
Cukup!
Jacob tidak mau membiarkan ingatan itu kembali merasuki dan mengambil alih pikirannya. Ada Alesha disisinya, dan Jacob tidak mau gadis kesayangannya itu menjadi korban luka karna ingatan kelamnya bersama Yuna. Cukup saja Jacob pendam dan kubur dalam-dalam kisah manis yang kini hanya menjadi kelabu dalam dunianya. Ia akan mengubah dunianya menjadi lebih baik lagi dengan didampingi oleh Alesha.
"Mr. Jacob, kenapa kau terdiam?"
Pertanyaan Alesha barusan pun membangunkan Jacob dari lamunannya.
"Apa kau juga melakukan hal seperti yang kau lakukan terhadapku pada Yuna?" Ulang Alesha.
"Alesha, tolong jangan ungkit lagi kenanganku dengan Yuna. Hal itu malah akan membawaku untuk kembali terpuruk. Aku lelah jika terus meratapi kepergian Yuna, aku ingin memiliki dunia baru yang jauh lebih indah bersamamu. Tolong jangan pernah ungkit tentang Yuna lagi, Alesha." Jawab Jacob dengan lirih. "Yuna adalah masa laluku, aku mencintainya diwaktu itu, tapi semua sudah berlalu. Sekarang adalah waktu baru untukku mencintai gadis lain yang sudah membawa dan menyadarkanku dari rasa keterpurukan yang berkepanjangan. Terima kasih karna sudah datang kekehidupanku, Alesha. Aku sungguh mencintaimu saat ini."
Apa kau benar mencintaiku? Tapi kau selalu memandangku sebagai Yuna. Itulah alasan pertama mengapa kau mencintaiku, Mr. Jacob. Cintamu pada Yuna sangat besar, hingga yang kau lihat dariku hanyalah sosok Yuna. Kau masih mencintai Yuna, aku tahu itu. Aku tidak mau menaruh harapan yang hasilnya hanyalah sebuah kepalsuan belaka. Cintailah Yuna tanpa perlu melibatkanku..... Sangkal Alesha dalam hatinya.
Alesha belum mau membuka mata hatinya, dan tidak mau melihat ketulusan cinta sang mentor terhadapnya. Bukan tidak bisa, hanya saja Alesha sudah terpaku pada ucapan mentornya yang selalu saja menyamakannya dengan Yuna. Jadi, sulit untuk Alesha bisa membuka hatinya pada sang mentor karna ia merasa seperti dibohongi.
"Aku mencintaimu, Alesha.."
"Berhenti mengucapkan kalimat itu, Mr. Jacob." Kalimat itu terucap secara spontan dari mulut Alesha.
"Kenapa memangnya?" Jacob pun cukup terkejut.
"Tidak apa, aku merasa tidak enak saja dengan yang lain." Jawab Alesha.
"Kau tidak perlu seperti itu. Aku akan berusaha untuk bersikap seperti biasa saja jika ada yang lain. Aku juga tidak mau ada yang mengetahui hubungan kita."
"Hubungan kita?" Ulang Alesha dengan nada bertanya.
"Ya, aku mencintaimu. Aku sudah sejak lama menganggapmu sebagai pasanganku, Alesha. Kau saja yang tidak menyadarinya." Ucap Jacob yang diikuti oleh kekehan kecil.
Tanpa seingin Alesha, tubuhnya malah memberikan respon yang cukup untuk membuatnya tersipu malu. Wajahnya memerah dan ia hanya bisa menundukkan kepalanya saja.
"Kenapa? Kau suka jika aku menganggapmu sebagai pasanganku?" Ledek Jacob.
"Tidak!" Tegas Alesha yang masih belum mampu menatap wajah mentornya.
"Tidak salah lagi."
Alesha pun mencoba untuk mengambil jarak beberapa centimeter lagi kepinggir untuk ia duduki. Berdekatan dengan mentornya kala ia sedang tersipu membuat sulit diri sendiri.
"Kenapa kau menjauh? Kemarilah, Alesha. Kau kedinginan bukan?" Dengan sigap, Jacob pun akhirnya membawa diri untuk mendekati lalu memeluk erat tubuh Alesha.
"Kau ingat berapa kali kau tidur dalam pelukanku, Al?"
Aish, pertanyaan itu. Alesha malu jika harus menjawabnya. Berapa kali ia tidur dalam kenyamanan pelukan yang mentornya berikan? Satu kali, dua kali, atau tiga kali, atau lebih? Sudahlah, Alesha malu, dan wajah serta tubuhnya kian memanas.
"Tidak, tidak, aku tidak mau. Lepaskan aku." Tolak Alesha sembari melepaskan tubuhnya dari dekapan Jacob. "Mr. Jacob, jangan berlebihan!"
"Kenapa? Aku hanya memelukmu?" Tampak jelas raut kecewa yang Jacob tunjukkan. Ia seperti merasakan adanya suatu hal yang berubah dari diri Alesha.
"Tidak, aku merasa tidak enak." Balas Alesha asal. Ia bingung harus menjawab apa. Hatinya resah, dan rasa kecanggungan itu malah semakin bertambah.
"Hei, Alesha tatap aku." Pinta Jacob.
Alesha berpura-pura tidak mendengar permintaan mentornya itu dan tetap menatap lurus ke arah hamparan laut.
"Alesha..."
Merasa dihiraukan, Jacob pun membelokkan paksa wajah Alesha agar menghadap ke arahnya.
"Kenapa kau menghiraukanku?" Tanya Jacob sembari menatap intens pada kedua mata Alesha. "Alesha. Ada apa denganmu?"
Tidakkah Jacob tahu? Alesha benar-benar merasa tidak enak hati. Jacob berterus terang akan perasaannya terhadap Alesha, tetapi Alesha malah merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
"Mr. Jacob, aku ingin kembali ke messku." Ucap Alesha dengan penuh pengharapan.
"Tapi, Al.."
"Mr. Jacob, aku mohon, aku ingin tidur, aku lelah." Potong Alesha.
Jacob pasrah. Melihat wajah memelas Alesha sungguh membuat Jacob tidak tega.
"Baiklah..." Walau dengan berat hati, Jacob pun bangkit dari duduknya dan mengantarkan Alesha menuju mess gadis itu.
Sebenarnya Alesha tidak merasa lelah atau mengantuk, ia hanya sedang tidak enak hati saja, maka dari itu ia memaksa untuk segera kembali ke kamar messnya.
***
Satu hari berlalu, dan berjalan memasuki ruang malam......
Malam ini adalah First Ceremony untuk menyambut keseratus murid baru WOSA yang berhasil lolos dari seleksi berat selama tiga bulan.
Acara berlangsung dengan kondusif dan lancar. Ada sekitar dua ratus murid WOSA beserta dua puluh mentor dan sepuluh pengurus Academy pencetak agent-agent terbaik dunia ini.
Firs Ceremony berlangsung sejak pukul setengah tujuh hingga delapan malam, sisanya, para murid dipersilahkan untuk menikmati pesta pembukaan tahun ajaran baru tersebut.
Keseratu murid baru saling berpencar untuk berjalan-jalan mengelilingi WOSA, dan untuk para senior, mereka juga sama, menikmati waktu pesta dibawah malam indah.
Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan salah satu murid WOSA yang lebih memilih membawa diri kepojokan taman. Ia sedang memandangi sekelilingnya dengan tatapan awas. Tidak ada yang menyadari keberadaan si pengkhianat itu.
Ya. Dialah si pengkhianat, gadis yang memakan topi, baju, dan jeans serba hitam itu baru saja melancarkan aksi terbarunya agar dapat menjebloskan incarannya dalam liang permasalahan.
"Malam ini akan menjadi akhir dari statusmu sebagai murid WOSA, Alesha.." Ucap samar si pengkhianat itu.
***
Di taman sebelah selatan WOSA, seorang murid wanita yang bukan lain adalah Alesha sedang terduduk sendirian dibangku taman. Ia tidak tahu bagaimana jadinya ia bisa sampai di taman yang lokasinya berada paling jauh dari area sekolah, bahkan taman itu berbatasan langsung dengan hutan lebat yang ada di pulau itu.
Dengan segelas sirup non alkohol digenggamannya, Alesha merasakan sensasi yang berputar pada kepalanya, gejolak-gejolak aneh pun mulai Alesha rasakan dalam dirinya. Seperti sebuah hasrat, dan keinginan yang meminta untuk segera dilepaskan.
Alesha menggeliatkan dirinya sendiri. Ia tidak tahu kenapa ia bisa seperti itu. Sangat menjijikan dan memalukan. Alesha berusaha sekuat tenaga untuk menahan dirinya agar tidak semakin mengeluarkan gerakan liar yang berasal dari dorongan hasrat haram.
Alesha pun membawa dirinya menuju salah satu pohon. Di sana lah sisi tergelap dan yang paling jauh, tidak ada siapa pun di sana selain Alesha.
Astagfirullah, ini Alesha kenapa, kok jadi gini..... Lirih Alesha dalam hatinya. Namun sangat bertolak belakang dengan tubuhnya yang terus menggeliat menjijikan, seperti seorang pelacur yang sedang dimabukkan oleh nafsu kuat.
Tolong.... Please... Mr. Jacob....
"Argh.." Alesha mulai mendesah dan meracau. Ia semakin tidak karuan, rerumputan yang ada dibawahnya diremas sekuat mungkin untuk menahan hawa nafsu yang sedang menggebu-gebu itu.
Prang...
Gelas kaca berisi sirup itu pecah saat terjatuh dan menghantam bebatuan keras.
"Arrghh....." Alesha menjambak-jambakkan rambutnya dan menggigiti bibirnya dengan begitu sensual.
Hingga suara berat khas seorang lelaki pun terdengar.
Siapa dia? Alesha tidak tahu. Yang ia tahu sekarang adalah ia sedang berada dibawah kesadarannya karna dikendalikan oleh lonjakan nafsu berbahaya yang dapat bisa saja membuat kesuciannya ternodai.
"Alesha.." Desah pria itu begitu sensual. Melihat mangsa cantik dihadapannya sedang menggeliatkan tubuh, pria itu pun akhirnya mendekat dan merengkuh tubuh Alesha.
"Eemmm...." Alesha ingin menolak, namun tidak memiliki kendali atas tubuhnya yang malah semakin memancing lawan jenisnya untuk menyambangi tubuhnya.
Enggak, tolong.... Mr. Jacob.... Hanya hati Alesha lah yang masih sadar akan keadaannya saat ini.
"Eungh....." Alesha kembali menggeliatkan tubuhnya kala jemari pria itu menari-nari diperutnya.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada Alesha. Gadis itu sudah tidak waras sekarang karna tubuhnya yang begitu menikmati setiap sentuhan dari lawan jenisnya yang juga sama-sama sedang dibawah pengaruh obat perangsang.
"Mr. Jacob..." Desah Alesha.
"Tidak, aku bukan Jacob." Jawab pria itu begitu sensual.
Benar. Pria itu memang bukan Jacob. Suara pria itu berbeda dengan mentor Alesha.
"Buka mulutmu, sayang.." Perintah pria itu sembari menghirup kuat wangi parfum bayi yang melekat pada leher Alesha.
Alesha yang benar-benar merasa sedang dicandui pun hanya bisa menurut. Ia membuka mulutnya dan pria itu pun menaikkan wajahnya agar dapat menikmati bibir manis Alesha.
Jemari Alesha terangkat dan menjambak rambut pria itu sesaat sebelum pria itu melancarkan aksinya.
Tapi belum juga bibir Alesha dan bibir pria itu saling bertautan, tiba-tiba saja tubuh pria yang sedang mendekap tubuh Alesha pun terhuyung kebelakang.
"SIALAN KAU!!" Umpat Jacob yang datang tepat waktu. "Aku tidak tahu kau sebejad ini, Hatric!!"
Jacob memukuli pria bernama Hatric itu dengan membabi-buta. Hatric sendiri merupakan salah satu mentor lama di WOSA dan juga teman Jacob. Tapi sekarang, Jacob benar-benar dikuasai oleh amarah hingga ia tidak segan-segan menghajar tubuh kawan sesama agent dan mentor itu.
Tapi lagi dan lagi, aksi Jacob harus terhenti karna Alesha yang menarik tubuhnya.
Jacob sangat terkejut ketika mendapati Alesha yang bertingkah seperti seorang yang sedang mabuk, ditambah dengan gelagat menggoda yang sangat membangkitkan jiwa kelelakian pria mana pun.
"Alesha, apa yang terjadi padamu?" Tanya Jacob yang begitu mengkhawatirkan kondisi gadisnya yang begitu memprihatinkan.
"Jangan banyak bertanya!" Alesha pun menarik tubuh Jacob dengan niat untuk memuaskan hasratnya, namun Jacob yang masih sangat waras dan sadar pun langsung menghentikkan aksi gadisnya itu.
"SIALAN KAU, HATRIC!!" Umpat Jacob.
"Alesha, kau kacau saat ini." Tanpa aba-aba, Jacob langsung saja mangangkat tubuh Alesha dan membawa tubuh gadis itu menuju kamarnya. Jacob pikir tidak akan benar jika membawa Alesha pergi ke mess para murid, Jacob pun sengaja menggunakan jalan lain yang jauh lebih sepi menuju gedung mentor.
Di belakang, Hatric berlari menyusul Jacob. Hatric tidak rela mangsanya itu terlepas begitu saja, ia ingin nafsunya tersalurkan dengan puas tanpa ada yang mengganggu. Namun saat sampai di koridor gedung mentor yang sangat sepi, Hatric pun bertabrakkan dengan salah seorang wanita yang merupakan salah satu dari murid WOSA. Dia adalah Dela, baru saja kembali dari ruangan mentornya.
"Aww, Mr. Hatric, maaf.." Ucap Dela dengan wajah bersalahnya.
Tetapi Hatric yang sudah hilang akal pun malah memikirkan hal lain dalam kepalanya. Seperti melihat mangsa baru, Hatric pun langsung mendekap tubuh Dela.
"Ayo ikut ke ruanganku." Bisik Hatric. Dela pun meronta untuk melepaskan dekapan tangan Hatric pada mulutnya.
*
*
*
*
............
............................
.........................................
Hmmmm, maapkeun authornya ya kalau part ini sedikit ngelantur atau rada gak jelas. Hmmm, ini authornya lagi galau soalnya banyak banget kerjaan cekulah yang numpuk 🙏😪😪😢🤧