May I Love For Twice

May I Love For Twice
Perusak Hubungan Orang?



"A-Adam.."


Alesha terpaku menatap sosok lelaki yang berada diantara kerumunan anggota kelompok teaternya.


Beberapa kali Alesha mengedipkan kelopak matanya, memastikan kalau lelaki yang sedang menjadi pusat perhatiannya itu tidaklah nyata.


"Alesha!" Ara, gadis itu, salah satu teman dekat Alesha dalam kelompok teater akhirnya menyadarkan keberadaan Alesha.


"Alesha, lu ngapain kaya orang **** dah berdiri di situ sambil bengong, sini cepetan!" Ara bangkit dari duduk dan berlari menghampiri Alesha. "Ayo, itu ada cowo yang nyariin Lu tahu," Tatapan Ara kemudian teralihkan pada Jacob. "Hai, Jacob kan? Calon suaminya Alesha?"


Jacob membalas ucapan Ara dengan mengangguk sembari tersenyum datar.


Adam. Lelaki itu, kini ia sama-sama terpaku di tempat karna berhasil menemukannya gadis yang selama dua bulan ini ia cari keberadaannya.


"Ayo..." Ara pun menarik lengan Alesha untuk berjalan dan bergabung dengan anggota teater yang lainnya.


"Yey, sekarang lengkap dong, Nona Author kita udah datang." Ara bertepuk tangan kecil, tampak sekali ekspresi gembiranya setelah melihat kedatangan Alesha.


"Al, karya Lu bagus loh, and kemungkinan kita bakal mulai latihan minggu depan, sekarang kita bakal cocokin peran dulu," Ucap si ketua teater, Fauzi.


"I-iya, terserah kalian aja," Alesha gugup karna keberadaan Adam yang terus saja menatap ke arahnya.


"Ehm, semuanya, boleh gak kalau saya pinjem Aleshanya dulu sebentar," Ucap Adam.


Para anggota teater yang ada di tempat itu hanya mengangguk tanda mengizinkan, tetapi berbeda dengan Alesha, gadis itu semakin gugup dan detak jantungnya berjalan tidak semestinya, dan berbeda juga dengan Jacob, tatapan matanya langsung menukik tajam pada Adam.


Jacob ingin sekali marah saat ini, pasalnya ia juga tahu lelaki yang barusan sekali berucap, Jacob sudah tahu wajah dan identitas Adam, namun Jacob tidak mau membuat keributan dan juga tidak mau membuat gadisnya merasa malu, jadi dengan sekuat tenaga, Jacob pun menahan emosinya kala Adam menarik lengan Alesha dan membawa gadis itu berjalan menjauhi para anggota teater.


Adam sengaja membawa Alesha kesekitaran masjid Raya Bandung yang tergabung menjadi satu lokasi dengan alun-alun kota. Kebetulan di sana sedang sepi, bahkan saking sepinya pengunjung yang ada pun bisa dihitung dengan hitungan jari.


Beberapa kali Jacob menggeram, menahan gejolak lava panas dalam hatinya. Ia tidak rela melihat gadisnya yang berjalan berdampingan dengan lelaki lain yang jelas-jelas sudah mempunyai istri.


Ketika sampai disekitaran masjid, baru lah Jacob mendekati gadisnya dengan perasaan emosi yang mulai tidak karuan.


"Alesha.." Jacob menatap serius pada Alesha.


Alesha yang mengerti tatapan itu pun langsung melepaskan genggaman lengan Adam dan membawa Jacob menjauhi Adam.


"Mr. Jacob.. Eh, maksudku, Jack, kau percayakan jika aku tidak akan pernah menaruh rasa lagi pada Adam, sedikit pun," Alesha mendongkakkan kepalanya dan menatap penuh keyakinan pada Jacob.


"Aku tidak suka kau bersama Adam!" Balas Jacob, pelan namun dalam.


"Aku tahu, aku tahu itu, tapi berikan aku waktu sebentar saja, aku takut jika ada suatu hal yang penting yang ingin Adam katakan padaku," Alesha berusaha untuk meyakinkan Jacob.


"Bagaimana kalau hal yang dia katakan itu tidak penting?"


"Aku akan langsung meninggalkannya. Aku ingin menjaga perasaanmu, Mr, argh, maksudku, Jack. Aku tidak mau melukai perasaanmu, tapi tolong berikan aku sedikit waktu. Kau percaya padaku bukan?" Sorot mata Alesha dipenuhi oleh keyakinan kuat akan ucapannya sendiri.


"Lima menit!" Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar, bahkan hingga membuat Alesha mengedipkan matanya beberapa kali akibat terpaan napas pria yang akan segera menikahinya itu.


"Aku harap kau bisa mengatur emosimu agar tidak terlepas, aku tidak ingin membuat keributan di tempat ini," Ucap Alesha.


"Cepat tanya apa maunya! Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Aku tidak suka kau dengan lelaki yang jelas-jelas sudah menyakitimu, Alesha!" Tegas Jacob.


"Baiklah," Alesha mengangguk, baru setelah itu ia pun kembali berjalan menuju Adam.


"Tidak akan aku biarkan perasaanmu terhadap Adam tumbuh kembali, Alesha, kau hanya akan menjadi milikku saja!" Gumam Jacob penuh emosi.


Alesha yang sudah menghampiri Adam pun langsung melayangkan senyuman ramahnya. "Hai, Adam,"


Adam tidak membalas sapaan Alesha itu, melainkan ia malah mengucapkan kalimat yang membuat Alesha terlonjak kaget.


"Kamu kemana aja selama ini? Aku nyariin keberadaan kamu sejak enam bulan lalu Alesha," Raut sedih seketika terbentuk pada wajah Adam. "Aku kangen sama kamu, Alesha, aku kangen saat-saat kebersamaan kita, aku pengen ngulang momen indah kaya dulu lagi sama kamu, kamu ingatkan, alun-alun ini tuh tempat biasa kita jalan-jalan sembari ngabisin waktu bersama berdua."


"Adam! Apa maksudnya kamu ngomong kaya gitu? Kamu sadarkan kamu ngomong apa barusan?" Nada bicara Alesha mulai meninggi.


"Iya, aku sadar, Alesha," Lirih Alesha. "Maaf karna waktu itu aku kasih kabar mendadak soal pernikahan aku, maaf karna aku udah pernah ngelukain perasaan kamu, harusnya aku sadar kalau kamu itu cinta tulus sama aku, tapi aku malah berpaling. Sekarang aku nyesel, Alesha," Adam menundukkan wajahnya, ia murung. "Bertahun-tahun kita selalu bersama, cari kebabahagian berdua..."


"Itu dulu, Adam, kamu gak bisa ungkit soal itu lagi," Potong Alesha. "Aku gak mau ganggu rumah tangga orang lain."


"Aku udah cerai sama istri aku, Sha."


"APA?" Alesha memekik cukup kencang, matanya membuat begitu sempurna, mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya dan tidak menyangka akan ucapan Adam barusan. Syok? Terkejut? Apa maksudnya ucapan Adam barusan? Bercerai? Adam sudah bercerai dengan istrinya?


"Aku udah cerai sama istri aku, Sha. Enam bulan lalu," Lanjut Adam begitu lemah. Sorot matanya sayu menatap pada Alesha.


"Tapi kok bisa? Gimana ceritanya? Kamu gak bohongkan, Adam?" Alesha bertanya penuh kepenasaranan.


"Dokter udah memperkirain kalau istri aku bakal mandul, Sha, dan aku gak sengaja ngucapin kalimat yang berarti jatuh talak."


"Kamu pasti bercanda, Adam," Alesha tersenyum kecut.


"Aku bilang ke dia kalau aku bakal kembaliin dia ke orang tuanya. Aku gak sengaja ngucapin itu, Sha, dan aku udah resmi cerai sejak tiga bulan lalu."


"Apa yang bikin kamu sampe seberani ngucapin kalimat itu?" Alesha semakin gencar melayangkan pertanyaan pada Adam.


"Aku frustasi, Sha, aku takut kalau dia beneran gak bisa kasih aku anak," Adam menarik dan menghembuskan kembali napasnya seolah ia akan mengatakan sesuatu yang cukup berat untuk diucapkan. "Aku minta izin ke dia buat nikahin kamu, dan dia nolak permintaan aku, Sha."


Plak.....


Napas Alesha terasa begitu berat, hingga ia mesti mengeluarkan tenaga ekstra agar udara yang ia hirup dapat bejalan dengan lancar. Sudut kelopak matanya mulai membentuk sebuah telaga yang tidak lama lagi akan membanjiri dataran wajahnya sendiri.


Jacob yang berada dalam radius lima belas meter dari tempat Alesha dan Adam berada pun langsung berlari mendekati gadisnya itu. Jacob terlanjur panik, dan terkejut pula kala melihat gadisnya yang menampar keras pipi Adam.


"Ucapin sekali lagi, Adam," Lirih Alesha bersamaan deruan napas yang membuat dadanya sesak.


"Alesha, maaf..." Lirih Adam sembari meraih jemari Alesha, namun dengan gerakan cepat Alesha pun langsung menepis lengan Adam.


"Kamu pikir aku mau jadi orang ketiga diantara hubungan kamu sama istri kamu!" Pekik Alesha. Tangisan kini mengambil alih tampilan pada wajahnya. "Kamu jahat, Adam!"


"Alesha, ada apa?" Jacob segera menangkup wajah gadisnya itu. Perasaannya sudah bercampur aduk dan tak karuan, Jacob sudah dapat menebak, pasti Adam mengatakan sesuatu yang buruk hingga membuat Alesha manangis tersedu-sedu.


"Alesha, kau kenapa?" Jacob menatap lekat wajah yang berada dalam tangkupan kedua telapak tangannya itu.


Alesha langsung memutar tubuhnya dan menatap tajam pada Adam. "Aku benci kamu, Adam!"


Lalu setelah itu, Alesha langsung menarik lengan Jacob dan berjalan secepat mungkin untuk meninggalkan Adam. Tetapi Adam tidak ingin menyerah, ia langsung menghadang langkah Alesha.


"Alesha, dengerin aku dulu, please, aku sadar kalau dulu aku cuman bisa kasih harapan palsu sama kamu dengan cara selalu habisin waktu main berdua sama kamu, aku pikir meski aku gak bisa bales perasaan kamu, seengganya aku bisa menghargai perasaan kamu, tapi aku bodoh! Aku sadar, dan pandangan juga pikiran aku baru kebuka sekarang, cinta kamu ke aku tulus, dan aku mau buat nerima juga bales cinta kamu itu, Sha."


"CUKUP, ADAM!" Pekik Alesha, lalu setelah itu ia menurunkan tensi suaranya dan diganti dengan cara bicara yang terdengar pelan, namun cukup menusuk. "Gak ada lagi cinta yang kamu maksud! Aku udah ikhlasin kamu dan gak akan pernah mau naruh harapan lagi sama kamu. Aku udah buang jauh-jauh perasaan cinta aku itu, Adam!"


"ENGGAK! Alesha, please.." Adam berusaha kembali untuk meraih lengan Alesha, dan dengan cepat Jacob pun langsung menepisnya.


"Gak usah pegang-pegang Alesha!" Bentak Jacob cukup lantang.


Adam sedikit terlonjak ketika mendengar bentakan dari Jacob.


"Maaf, anda siapa ya?" Dengan percaya dirinya Adam menanyakan hal itu pada Jacob.


Sembari membentuk smirknya, Jacob pun menjawab. "Saya siapa? Ada juga saya yang mesti bertanya. Siapa anda?"


Adam tertegun saat mendapat pertanyaan balik dari Jacob. Siapa dia? Siapa Adam? Hanya satu jawaban, yaitu masa lalu Alesha.


"Saya Jacob, calon suami Alesha Sanum Malaika, dan kami akan segera menikah dalam waktu dekat, jadi jangan ganggu hubungan kami!" Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, Jacob langsung menarik lengan Alesha dan membawa gadis itu berjalan untuk kembali ke apartemen mereka.


"Calon suami?" Gumam Adam begitu lirih. Tubuhnya mulai terasa lemas dan bergetar. Tidak salahkah apa yang ia dengar barusan? Alesha akan segera menikah dengan lelaki lain? Kenapa sakit sekali yang Adam rasakan sekarang. Hatinya seperti dilempari oleh banyak batu besar dan tajam. Pilu yang Adam rasakan diam-diam membendungkan genangan kristal cair pada sudut kelopak matanya.


"Alesha, bukannya selama ini kamu cuman cinta sama aku aja ya? Dan kenapa sekarang kamu malah milih cowo lain?" Adam membalikkan tubuhnya untuk dapat melihat Alesha dan Jacob yang sudah berjalan menjauh.


"Alesha, maaf, dulu aku gak bisa bales perasaan kamu, tapi kangen saat-saat dekatan kita dulu..."


Sama seperti Adam, Alesha juga merasakan hatinya yang seolah mendapatkan tekanan begitu berat. Ucapan Adam terus membayang-bayang dalam kepalanya.


Aku minta izin ke dia buat nikahin kamu, dan dia nolak permintaan aku, Sha.....


"Kenapa kamu jadi jahat gitu, Adam?" Lirih Alesha dalam tangisnya.


Ketika Alesha dan Jacob sudah sama-sama memasuki mobil, kedua telapak tangan Jacob langsung menopang wajah Alesha.


Sakit hati Jacob ketika ia melihat gadisnya yang menangis tersedu-sedu. Entah apa yang sudah Adam katakan hingga gadisnya itu benar-benar mendalami tangisnya.


"Alesha, apa yang terjadi? Apa yang dikatakan Adam?" Lirih Jacob.


"Hiks, hiks," Bahu Alesha bergetar, napasnya juga menjadi tersendat-sendat karna sesegukan yang dihasilkan dari tangisnya itu.


"Alesha, hey, tatap aku," Jacob mengangkat pelan wajah gadisnya. "Alesha, katakan apa yang terjadi?"


"Hiks, Adam. Di-dia, dia minta izin ke istrinya b-buat nikahin Alesha, dan istrinya nolak," Alesha menjawab dengan suara yang parau dah bergetar.


"APA?" Pekik Jacob dibarengi keterkejutan yang membuat syok dirinya.


"Adam bilang kalau dia gak sengaja ngucapin kalimat yang berarti jatuh talak, dan dia udah cerai sama istrinya," Tangis Alesha membludak, ia menakup wajahnya dan melepaskan debit-debit air mata yang mengalir begitu deras. "Alesha udah rusak rumah tangga Adam sama istrinya."


"Engga, itu gak bener, Alesha, kamu gak salah," Jacob langsung meraih jemari-jemari-jemari Alesha yang terasa dingin.


"Hiks, dokter memperkirakan kalau istri Adam gak bisa hamil, makanya dia mau nikahin Alesha, hiks." Tubuh Alesha semakin bergetar akibat terjerumus pada perasaan bersalah karna sudah membuat hubungan rumah tangga orang lain hancur.


"Adam jahat! Dia jahat, Alesha becin Adam!!" Telapak tangan Alesha terkepal dan mendorong-dorongi tubuh Jacob. "Dokter baru memperkirakan! Tapi dia udah gegabah dengan keputusannya!!"


Jacob terdiam menahan tubuhnya yang terus dipukuli oleh Alesha. Jacob ikhlas jika saat ini ia dijadikan sebagai alat pelampiasan kemarahan dan kekecewaan gadisnya itu. Jacob ingin mencoba untuk mengertikan situasi dan kondisi yang sedang terjadi pada Alesha.


"Alesha yang merasa bersalah, Mr. Jacob, Alesha udah bikin rumah tangga istri Adam hancur, Alesha wanita, Mr. Jacob, Alesha bisa ngerasain rasa sakit yang istri Adam rasain! Hiks, hiks. Alesha gak rela, hubungan mereka hancur karna Alesha."


Jacob masih bergeming, ia masih membuka dadanya untuk dijadikan sebagai samsak oleh Alesha.


"Alesha harus gimana sekarang? Alesha kasian sama istrinya Adam," Alesha menghentikan aksinya kepalan tangannya itu, dan kini tangannya balik bersandar lemas pada dada Jacob.


"Ayo pulang, Alesha pengen istirahat," Ucap Alesha sangat lirih.


Jacob mengangguk, perlahan ia melepaskan lengan Alesha yang menempel pada dadanya.


Sejak tadi, Jacob berusaha sebisa mungkin meredam dan menahan emosinya, bahkan rahangnya mengeras, wajahnya memerah dengan guratan pada leher yang nampak begitu jelas.


Jacob mengalihkan fokusnya pada jalanan, ia pun mulai menjalankan mobilnya.


Aku akan menghabisimu jika kau berani merebut Alesha dariku, Adam!....... Jacob menggeram kecil. Ia teramat tidak terima akan ucapan Adam yang Alesha katakan tadi.