May I Love For Twice

May I Love For Twice
Rumah Baru



Sore harinya, tepatnya pukul empat, Alesha dan Jacob baru saja memakai kembali pakaian mereka yang tadi sempat berserakan dilantai.


Dua jam pergulatan panas antara suami istri itu berlangsung, setelahnya Alesha pun tertidur karna merasa kelelahan. Sedangkan Jacob, ia begitu bahagia setelah sukses merasakan kembali tubuh istri kecilnya.


Dalam pelukan suaminya, Alesha tidur dengan pulas, tubuhnya serasa remuk dan lemas. Namun setelah dua jam larut dalam mimpi, Alesha pun terbangun dan langsung memungut pakaiannya untuk dikenakan kembali.


"Argh, sakit sekali," Lirih Alesha sembari menatapi dirinya melalui pantulan cermin. Alesha cukup prihatin dengan kondisi kulit leher dan dadanya yang diberi banyak cap kepemilikan oleh Jacob.


"Sakit ya?" Tanya Jacob sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang. Jacob hanya tersenyum melihat kulit leher dan dada Alesha yang dipenuhi oleh bekas gigitan-gigitan kecilnya.


Buru-buru Alesha mengancingkan baju kemejanya. Ia takut jika Jacob akan terpancing hawa nafsu kembali.


"Kau sudah menodai kulitku!" Alesha mendengus sebal. "Sakit tahu!"


"Kau sangat menggemaskan, Alesha. Maaf jika aku melukaimu," Balas Jacob sembari menciumi pipi Alesha.


"Tanggung jawab jika aku tidak bisa berjalan lagi!" Ancam Alesha.


"Aku akan selalu mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan, sayang."


"Lepaskan aku, aku harus memakai kerudungku! Dan, oh! Ya ampun! Pakai bajumu sekarang!" Titah Alesha. Ia baru menyadari jika suaminya itu masih belum mengenakkan pakaian.


"Baiklah," Jacob mencium bibir istrinya, lalu setelah itu ia segera menuruti apa yang istrinya ucapkan.


Baru sehari menikah saja sudah seperti ini, lalu bagaimana dihari-hari selanjutnya? Pikir Alesha.


"Alesha, sore ini kita akan pergi ke mansion baru kita," Ucap Jacob.


"Mansion baru?" Ulang Alesha.


"Ya, kita akan pindah ke sana, sayang."


"Pindah ke sana? Memangnya kenapa di apartemen ini?" Tanya Alesha.


"Tidak apa, aku hanya ingin memiliki tempat yang lebih pribadi saja bersamamu."


Alesha tidak membalas ucapan suaminya itu. Ia termenung bersama pikirannya sendiri.


"Sudah! Apa kau sudah selesai memakai kerudungmu?" Tanya Jacob yang sudah beres mengenakan kembali pakaiannya.


"Iya, sudah," Jawab Alesha, pelan.


"Kalau begitu ayo, sepertinya yang lain sudah menunggu kita," Ucap Jacob.


"Bantu aku berjalan," Lirih Alesha.


"Masih sakit?"


"Tentu saja!"


"Wooo, tenanglah, sayang, jangan emosi seperti itu. Sini biar aku bantu," Jacob meraih pinggang Alesha untuk membantu istrinya itu berjalan.


"Lepas, biar aku saja yang menggandeng lenganmu," Alesha pun melepaskan rengkuhan Jacob dan beralih dengan memeluk lengan besar suaminya itu.


"Padahal aku tidak bermain kasar," Gumam Jacob.


"Ya tapi tetap saja sama sakitnya! Namun biarlah, aku ikhlas karna kau adalah suamiku, dan sudah menjadi kewajibanku untuk melayanimu," Balas Alesha.


"Terima kasih banyak, aku sangat mencintaimu, Alesha," Jacob mengecup kening Alesha dengan penuh kasih sayang.


***


Meratapi nasib yang sedang tidak memihak. Kini Adam termenung sendirian. Ia baru saja menunaikan ibadah sholat ashar. Hatinya terus saja terpaku pada kesalahan, dan pikiran hanya dipenuhi oleh Alesha.


Adam ingat bagaimana dulu ia dan Alesha begitu dekat. Ia tahu perasaan Alesha semakin membesar padanya, namun ia tidak pernah berpikiran untuk membalas perasaan kawannya itu. Tapi sekarang, setelah beberapa tahun berlalu ia sadar jika ia sudah menyia-nyiakan seseorang yang pernah mencintainya. Adam sangat menyesal, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang, Alesha sudah milik pria lain.


"Alesha, andai kamu kasih kesempatan kedua buat aku, aku gak akan pernah sia-siain itu, Alesha," Lirih Adam.


"Aku harap kita bisa kaya dulu lagi, Sha," Tidak terasa, air mata pun larut dalam kesedihan Adam.


"Aku harus gimana sekarang? Aku pengen kamu jadi milik aku, Sha. Kamu pengen punya suami yang soleh bukan? Aku bisa jadi apa yang kamu mau, Sha. Kasih aku kesempatan sekali lagi."


Adam merasakan sesak dalam dadanya. Semenyakitkan itukah jatuh cinta pada wanita milik orang lain? Jika Alesha belum menikah, bisa saja ia merebut teman masa kecilnya itu, tapi Alesha sudah menikah sekarang, dan Adam tidak mau menghancurkan rumah tangga wanita yang ia cintai, namun apa daya yang ia miliki sekarang? Adam sudah terlambat. Itu kenyataannya.


"Aku gak tahu bisa lupain kamu atau enggak, Sha, maaf kalau aku berharap besar sama kamu."


Kini Adam meraih kitab suci Al-Quran yang berada disebelahnya. Ia berniat untuk membaca ayat-ayat suci itu untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah karna berharap pada istri pria lain.


***


Kembali lagi pada Alesha, ia kini sedang berkumpul bersama kakeknya, dan keluarga dari Jacob. Bahagia sekali rasanya, setelah dua belas tahun berlalu, kini kehangatan keluarga dapat Alesha rasakan kembali setelah menjadi menantu dari keluarga suaminya.


Percakapan kecil yang sangat menyenangkan membuat hati Alesha terasa tenang dan tentram.


Jadi begitu ya rasanya berkumpul dengan keluarga ipar dan mertua? Pikir Alesha.


Not bad.


Beruntung Alesha memiliki mertua dan saudara ipar yang baik, dan ramah. Ia bersyukur ada Sharon yang bisa menjadi temannya mengingat usia mereka hanya terpaut satu tahun, lebih tua Alesha.


"Kalian memiliki rencana bulan madu kemana?" Tanya Wiliam, kakak ipar Jacob.


"Kemana, sayang?" Jacob melirik pada Alesha.


"Ah! Emm.. Bulan madu?" Alesha gelapan, bingung memikirkan jawabannya.


"Memang harus sekali berbulan madu ya?" Tanya balik Alesha.


"Tentu saja. Kalian harus memiliki momen romantis bersama," Jawab Mona.


Setiap hari juga, Mr. Jacob selalu romantis...... Ucap Alesha dalam hatinya.


"Alesha akan pikirkan itu nanti, atau mungkin biar Jacob saja yang menentukannya sendiri," Ucap Alesha.


Sebenarnya ada sih satu tempat yang tiba-tiba muncul dalam pikiran Alesha.


Turki.


Namun Alesha ragu untuk mengatakannya. Ia tidak mau menjadi istri yang banyak permintaan pada suaminya.


"Bagaimana, Jack?" Tanya Laura.


"Tidak, biarkan saja Alesha yang memilih tempatnya," Jawab Jacob. Ia ingin membahagiakan istrinya, maka dari itu ia akan membiarkan Alesha untuk memilih lokasi bulan madu yang tepat.


"Permisi, Tuan Jacob, mobil anda sudah menunggu di depan dan siap untuk mengantarkan anda juga Nona Alesha menuju mansion baru," Ucap Taylor.


"Ayo, Alesha," Jacob bangkit dari duduknya sembari menarik lengan istrinya untuk ikut bangkit juga.


"Ibu, Mona, Wiliam, Sharon, aku dan Alesha akan pergi ke mansion kami sekarang," Pamit Jacob.


"Hati-hati dijalan, ibu dan yang lain akan menyusul ke sana nanti malam," Balas Laura.


Jacob mengangguk, lalu setelah itu ia pun pergi bersama Alesha menuju mobil yang akan mengantarkannya menuju rumah baru.


"Pelan-pelan jalannya," Lirih Alesha. Ia cukup kesulitan saat berjalan karna bagian 'Itunya' masih sakit akibat dari permainan panasnya bersama Jacob tadi siang.


Dengan langkah tertatih-tatih seperti orang keseleo, Alesha tetap berusaha untuk menyesuaikan ekspresi wajahnya agar tidak ada orang yang curiga.


"Masih sakit?" Tanya Jacob.


"Ngilunya itu yang membuatku tidak tahan," Jawab Alesha.


"Mau aku gendong?" Tawar Jacob.


"Tidak! Aku masih bisa berjalan!" Tolak Alesha dengan tegas.


***


Singkat waktu, sampailah Jacob dan Alesha di rumah besar yang akan menjadi tempat mereka untuk menjalani dan berjuang bersama-sama dalam mempertahankan hubungan rumah tangga, juga mengukir banyak kisah.



"Ayo, kita keluar, Al," Ucap Jacob.


Sekeluarnya Alesha dari dalam mobil, ia masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari rumah besar itu.


"Kau suka, Al?" Bisik Jacob.


"Rumahnya bagus, Alesha suka," Balas Alesha sembari menatap pada suaminya.


"Syukurlah. Kalau begitu ayo kita masuk," Lalu Jacob meraih lengan istrinya dan berjalan bersama-sama memasuki mansion itu.


"Selamat datang, Tuan, dan Nyonya," Sambutan ramah dari para pelayan.


"Wah, Mr..., ups! Maksudnya, Jack, pelayannya ramah juga ya," Bisik Alesha.


"Jika mereka tidak ramah, mereka tidak akan bekerja di sini, sayang."


"Ke sini, Tuan, Nona, kamar kalian ada di sebelah sini," Ucap Taylor yang menjadi pemandu jalan.


Tepatnya di lantai dua, Jacob dan Alesha berjalan di lorong kecil bernuansa cat berwarna putih pink yang pinggirannya terdapat beberapa pintu.


"Ini kamar kalian," Ucap Taylor sembari menunjuk pada salah satu pintu yang terletak di ujung lorong. "Silahkan dibuka, Tuan, Nona."


Ceklek


Suara gagang pintu yang ditekan oleh Jacob.



"Ini kamar kita?" Gumam Alesha.


Perfect!


Alesha sangat terkesima dengan interior mansion itu, termasuk kamar pribadinya bersama sang suami.


"Tuan, Nona, saya izin untuk pergi menuju ruang lain, ada beberapa barang lagi yang mesti disusun rapih," Ucap Taylor.


"Silahkan, terima kasih, Taylor," Balas Jacob.


"Sama-sama, Tuan, kalau begitu saya permisi."


Selepas Taylor pergi, Alesha langsung melepas sandal wedges yang ia pakai dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur empuk dan sangat nyaman itu.


"Sempurna! Alesha sangat menyukai ini," Alesha menatap penuh kebahagiaan pada suaminya, Jacob.


"Alhamdulillah, aku senang jika kau suka, Al," Balas Jacob.


"Aku tidak tahu kalau ternyata kau memiliki mansion pribadi," Ucap Alesha.


"Aku baru membelinya sebulan lalu," Balas Jacob.


Di ruang kamar yang cukup besar itu, Alesha mengedarkan pandangannya kesetiap penjuru tembok.


Kamar yang sempurna untuk sepasang pengantin yang baru saja menikah. Bahkan Alesha tidak henti-hentinya menyunggingkan senyuman karna terlalu terkesima dengan interior kamar itu.


Entah siapa yang mendesainnya, yang pasti Alesha sangat suka.


"Bontot!!" Pekik Alesha dengan mata yang membulat sempurna. Ia meloncat dari atas kasur dan berlari menuju meja dimana boneka beruang besarnya berada.


"Aaaaa, boneka Alesha ada di sini!" Alesha menghamburkan tubuhnya memeluk boneka raksasa berwarna pink itu.


"Baby Ale sudah merindukanmu," Sahut Jacob sembari berjalan mendekati istrinya. "Dia selalu menjadi teman curhat dan teman tidurku," Sambungnya.


"Ish, aku tidak suka wangi parfumnya!" Alesha mendengus sebal.


Sebelah alis Jacob terangkat melihat reaksi istrinya yang berekspresi tidak mengenakkan ketika mencium wangi parfum yang melekat pada tubuh boneka beruang besar itu.


"Kenapa memangnya?" Tanya Jacob.


"Ini pasti parfum milikmu!" Alesha melirik tajam pada Jacob. "Tidak cocok dengan bonekaku yang imut. Wanginya terlalu maskulin."


"Apa masalahnya?" Tanya Jacob, lagi.


"Ck, sudahlah! Nanti Alesha akan ganti sendiri parfumnya!" Dumal Alesha.


"Kenapa harus diganti?"


Alesha menggeram pelan, lagi dan lagi Jacob malah bertanya. "Dia bonekaku! Terserah aku mau menggantinya atau tidak! Lagi pula aku sudah bilang, wanginya terlalu maskulin, tidak cocok dengan bonekaku!"


Jacob mengedikkan bahunya. "Terserah."


Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Jacob pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Alesha berkeliling melihat-lihat rumah besarnya itu.


Dimulai dari ruang keluarga.



Lalu dapur



Dan ruang tamu



Oh ya! Satu lagi, yaitu kolam renang



Apa yang ada dalam pikiran Jacob ketika pria itu akan membeli rumah sesempurna ini? Alesha tidak habis pikir. Berapa kira-kira harga rumah ini?


"Selamat sore, Nyonya Alesha," Sapa ramah seorang pelayan.


Alesha sedikit terkejut karna sapaan dari pelayan itu. "Huftt.." Alesha menghembuskan napasnya. "Selamat sore juga," Sapa balik Alesha yang tidak kalah ramah.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Tanya pelayan itu.


"Tidak terima kasih," Alesha menggelengkan kepalanya sembari tersenyum manis. "Oh ya, bisa tidak kalau kau dan semua pelayan yang ada di ruang ini tidak usah memanggilku dengan sebutan Nyonya? Aku masih muda, dan aku rasa usiaku jauh lebih muda darimu."


Dahi pelayan itu berkerut, menunjukan ekspresi bingung yang sangat jelas.


"Panggil saja aku Nona Alesha, atau Alesha saja juga tidak apa-apa, seperti Taylor, dia memanggilku dengan sebutan Nona," Lanjut Alesha.


"Tapi, nanti tuan Jacob..."


"Tidak usah takut, aku yang akan mengatakan padanya nanti. Jika dia memarahi kalian hanya karna menyebutku dengan panggilan 'Nona', maka aku akan memarahinya balik," Potong Alesha.


"B-baiklah, Nona," Ucap pelayan itu dengan sangat ragu.


Alesha tersenyum manis. Ia memang tidak suka dipanggil dengan sebutan 'Nyonya', ia masih terlalu muda untuk itu. Jadi, biar lebih enak lagi, maka Alesha meminta kepada para pelayan untuk memanggilnya dengan sebutan 'Nona' saja. Itu lebih baik.


Setengah jam Alesha habiskan untuk berkeliling dan melihat-lihat rumah barunya yang terletak di perbukitan namun tidak terlalu jauh dari perkotaan.


Sangat tentram dan damai. Kabut-kabut tipis mulai memenuhi udara disekitaran mansion itu.


"Alesha...." Panggil Jacob. Sejak tadi ia mencari-cari keberadaan istrinya, namun tidak kunjung menemukan juga.


"Kalian melihat Alesha?" Tanya Jacob pada segerombol pelayan yang berada di dapur.


"Maaf, Tuan, kami tidak melihat Nyonya Alesha," Jawab salah satu pelayan.


"Baiklah, terima kasih," Jacob kembali melajukan lamgkahnya untuk mencari-cari dimana istrinya berada.


Sedangkan Alesha, kini ia sudah kembali ke kamarnya dan langsung membersihkan tubuhnya dengan air segar di dalam kamar mandi. Malam ini mertua dan keluarga dari suaminya akan datang, dan Alesha harus bersiap.