May I Love For Twice

May I Love For Twice
Sudden Kiss



Setelah merentangkan tubuh Alesha diatas kasur sekitar sejam yang lalu, Jacob memilih untuk terus berada disisi Alesha dan membelai halus rambut lembut milik gadis rejama kesayangannya. Punggungnya bersandar pada papan kayu tebal yang menjadi ujung kepala kasur, matanya masih setia menatapi setiap inci wajah tenang Alesha. Untung saja Levin dan Bastian sudah tahu perasaan Jacob pada Alesha, jadi untuk mereka tidak masalah jika Jacob terlihat begitu khawatir dan enggan untuk beranjak dari sisi Alesha.


Tidak mau menahan rasa cemburu dan amarah untuk waktu yang lebih lama lagi, Irene yang sedari tadi berada di dalam kamar Alesha memilih untuk kembali ke kamarnya. Hatinya sangat panas ketika melihat Jacob yang seolah over protective pada Alesha. Padahal Alesha tidak mengalami cedera apapun, gadis itu hanya tertidur karna efek obat bius, tapi Jacob begitu khawatir, pipi mulus Alesha menjadi landasan untuk jemari Jacob bergerak, bahkan beberapa kali Jacob mengelus pelan puncak kepala Alesha.


"Sepertinya Mr. Jacob sangat menyayangi Alesha. Aku baru tahu kalau Mr. Jacob se-posesif itu jika sudah jatuh cinta." Bisik Bastian pada Levin.


"Aku juga bisa melakukan apa yang Jacob lakukan, hanya saja aku sadar diri, Jacob tidak akan memberikan Alesha padaku, jadi biar aku mengalah, lagi pun Alesha berada pada lelaki yang tepat." Balas Levin sambil melipatkan kedua tangannya.


"Aku memang seperti ini jika sudah jatuh cinta, maaf jika aku selalu membuatmu marah, Al. Jujur aku hanya ingin kau lebih dekat lagi denganku. Mack menjadikanmu sebagai incarannya, dan untungnya saja kau bersamaku, Al, kau menarik hatiku, dan aku akan menjagamu dari pria tidak berguna itu." Gumam Jacob sambil memainkan rambut Alesha. Memandangi Alesha tidur membuat hati Jacob lebih tenang, kalau dilihat secara sekilas, Alesha seperti orang tidak bernyawa jika sudah tidur, pergerakan napasnya tidak terlihat dan sangat pelan.


Seukir senyuman mendadak tumbuh pada bibir Jacob. Ada pikiran yang membuatnya terkekeh secara tiba-tiba. Jacob membayangkan kalau di dalam kamar itu hanya ada ia berdua dengan Alesha. Apa yang akan terjadi? Tentu saja Jacob tidak akan melepaskan Alesha dari peluknya. Kalau seperti ini caranya, Jacob sudah sangat tidak sabar menunggu waktu kebahagiaan bersama gadisnya, meminang Alesha, dan menjalani sisa hidup dengan keluarga kecilnya. Asik bukan? Akankah semudah itu? Apakah Alesha bersedia jika bersama Jacob? Tapi Jacob harus bersabar, bagaimana juga umur mereka terpaut cukup jauh, yaitu tujuh tahun, dan Jacob tidak mungkin menikahi Alesha yang masih dibawa dua puluh tahun.


Jacob menggelengkan kepala yang mulai frustasi memikirkan masa depannya bersama Alesha. Gadis itu benar-benar membuat Jacob tidak bisa lepas darinya, bahkan saat ini pun Jacob sedang menahan hasrat untuk menaruh first Kiss pada Alesha. Jacob harus menghargai Alesha jika memang ia benar-benar mencintai gadisnya. Alesha bisa marah jika tau kalau Jacob menciumnya. Itu adalah salah satu hal yang Jacob suka dari Alesha, yaitu menjaga diri dari hal-hal negatif, termasuk berciuman. Mungkin berpelukkan adalah batas akhir dan itu pun hanya Jacob berani melakukannya, sebelumnya tidak pernah ada lelaki yang berani memeluk Alesha secara langsung, dan selebihnya, Alesha tidak akan pernah berani selain kepada suaminya nanti. Itu adalah hal yang mesti Jacob jaga, ia harus menahan diri agar tidak melampaui batas.


"Kau akan sangat marah jika kau tahu aku sedang dalam posisi ini, berada dekat sekali denganmu. Tapi tenang, aku bukan tipe pria yang mudah terbawa hawa nafsu, aku akan menjaga dan menghargai keyakinanmu, itu akan menjadi salah satu cara pembuktianku." Bisik Jacob.


Sebuah hembusan kecil dari napas Jacob yang keluar menjadi pertanda kalau ia harus segera beralih tempat. Ia harus membiarkan Alesha tertidur sendiri, namun tetap dalam pengawasan dan penjagaannya.


"Kau berpikir Mack bersekongkol dengan Vincent?" Tanya Levin pada Jacob yang kini sedang berjalan ke arah sofa besar disudut tembok.


"Ya, anak buahnya yang mengatakan padaku." Jawab Jacob.


"Kau harus berhati-hati jika tidak mau kehilangan Alesha, Mack mempunyai hubungan buruk dengan ayah Alesha, dan itu yang membuat Mack memburu Alesha." Ucap Levin.


"Apa yang Mack mau dari Alesha, hubungan apa yang dimaksud?" Tanya Jacob.


"Aku tidak tahu, yang aku tahu kalau ayah Alesha adalah musuh Mack, aku tidak tahu hubungan atau permasalahan diantara mereka." Jawab Levin.


"Aku harus mencaritahunya." Ucap Jacob.


"Alesha beruntung bisa bertemu dengan kalian, terutama kau, Mr. Jacob." Saut Bastian. "Hidupnya sedang terancam, namun entah karna takdir atau apa, ia bertemu dengan kalian yang bisa membantunya terlepas dari incaran Mack."


"Aku tidak terlalu perduli dengan hal itu, yang aku perdulikan sekarang adalah keselamatan Alesha, aku akan menjaganya sebisaku. Sudah cukup ia membuat hatiku hancur karna kondisinya dua minggu terakhir ini. Aku tidak akan melepasnya dari jangkauanku." Balas Jacob.


"Kau sangat mencintainya ya, Mr. Jacob?" Tanya Bastian yang membuat sebuah tawa kecil pada bibir Jacob. "Aku pikir kau hanya akan jatuh cinta pada gadis seumuranmu." Lanjut Bastian.


"Aku pikir juga begitu, tapi sayang, hatiku lebih tertarik pada remaja manis itu." Jacob tersenyum sambil memandangi Alesha yang sedang tertidur pulas. "Aku juga awalnya tidak percaya jika aku tertarik padanya, namun aku tidak mau membohongi diriku, dan aku sangat menyayanginya sekarang."


"Apa yang akan terjadi pada Alesha dan timku jika mereka tahu kalau mentor mereka jatuh cinta pada salah satu anggota?" Bastian menatap bingung pada mentornya.


"Kau jangan pernah beritahukan hal itu pada siapa pun, termasuk Alesha." Balas Jacob.


"Lalu sampai kapan kau akan memendam perasaanmu?" Tanya Bastian lagi.


Jacob terdiam seketika. Sampai kapan? Ia harus lebih lama lagi memendam rasanya? Jacob harus bersabar. Alesha tidak akan menerimanya sekarang karna masih ada Adam dalam hatinya. Namun Jacob akan memastikan kalau semua akan berjalan secara perlahan dan diakhiri dengan Alesha yang menerimanya.


"Kau harus bersiap menghadapi semua, Jacob. Kau ingat siapa yang sedang berhadapan denganmu, Mack dan Vincent bukan orang bodoh, jika kau lemah sedikit saja maka kau akan kehilangan cintamu lagi." Peringatan dari Levin barusan adalah sebuah sinyal yang membuat Jacob terkesiap.


Levin benar. Jacob harus menjadi dinding pelapis agar dua lelaki jahat itu tidak merebut Alesha. Otak licik yang menjadi baterai kepala Mack dan Vincent akan dengan mudah mendapatkan Alesha jika Jacob lengah. Tapi setidaknya Jacob memiliki beberapa anak buah yang dapat membantunya jika terjadi sesuatu yang buruk pada Alesha.


"Oh ya, Levin, bukankah kau mantan anak buah Mack waktu itu?" Tanya Jacob.


Levin mengangguk malas.


"Apa Mack mengatakan sesuatu tentang Alesha saat ia menyuruhmu untuk menculik Alesha?" Tanya Jacob lagi dengan ekspresi wajah yang lebih menunjukkan keseriusan.


"Mack hanya menyuruhku untuk menculik Alesha, dia tidak mengatakan apapun tentang Alesha." Jawab Levin dengan ragu.


"Kalau begitu aku harus mencaritahu tentang ayah Alesha." Ucap Jacob. "Tapi kenapa SIO bisa tidak mendapatkan informasi mengenai permusuhan antara ayah Alesha dengan Mack? Ayah Alesha adalah seorang profesor..." Jacob berpikir.


"Tidak mungkin Mack dan ayah Alesha bisa bermusuhan tanpa sebab, bahkan kau yang bilang padaku kalau ayah Alesha yang menjebloskan Mack kepenjara, dan Mack penyebab kematian orang tua Alesha. Tapi kenapa SIO tidak mendapatkan informasi tentang itu?" Jacob menatap tidak percaya pada Levin.


"Seharusnya SIO tahu!" Lanjut Jacob.


"Ada yang tidak beres dengan keluarga Alesha." Ucap Levin.


"Astaga, kenapa aku baru sadar! Ayah Alesha adalah profesor, tapi kenapa Alesha sebagai anaknya tidak mendapatkan jaminan apapun!" Jacob mengangkat kedua tangannya dan menaruhnya tepat dipuncak kepalanya. Dengan ekspresi kaget dan cemas, otak Jacob kembali dipaksa untuk berpikir lebih keras. Mengapa hal ini baru terpikirkan oleh Jacob?


"Jika ayah Alesha adalah profesor, saharusnya Alesha mendapatkan jaminan. Tapi Alesha tidak mendapatkan apapun!" Seru Jacob.


"Ada sesuatu yang tersembunyi, kau harus bisa mencaritahu itu semua, hidup Alesha dalam bahaya, orang yang memburunya bukanlah penjahat biasa." Lanjut Levin.


"Akan aku pastikan Alesha aman bersamaku!" Jacob mengepalkan tangannya dengan kuat. Alesha memiliki keluarga di Indonesia, namun Alesha bilang kalau keluarganya tidak pernah memperdulikan ia dan kakeknya. Apa yang sebenarnya terjadi?


Disaat situasi sedang hening, tiba-tiba saja Levin membawa tubuhnya untuk berjalan menuju keluar kamar.


"Aku akan kembali ke kamarku." Ucap Levin.


"Aku juga." Lanjut Bastian.


Akhirnya, kedua lelaki itu pergi dari kamar Alesha, tidak lupa Bastian untuk menutup pintunya. Setelah memastikan pintu sudah tertutup rapat, Jacob pun segera membelokkan pandangannya menuju Alesha kembali.


Jacob terdiam dalam heningnya malam, selayaknya angin yang berhembus, pikiran Jacob pun bagaikan arus tenang yang diisi dengan kejenihan. Khayalan melambung tinggi bersama sosok Alesha yang perlahan menaiki tahta hati Jacob. Senyuman terukir indah pada wajah Jacob ketika gambaran kebersamaan yang manis dengan Alesha berputar. Tidak ada lagi kesedihan karna keterpurukan, tidak ada lagi sosok Yuna yang selama ini selalu menyumbat pikiran Jacob. Seperti emas yang tergantikan oleh berlian, Yuna dan Alesha sama-sama berharganya untuk Jacob, namun masa untuk mencintai Yuna sudah berakhir, kini ada berlian indah yang mesti Jacob jaga agar tidak hilang dari genggamannya.


Hati Jacob begitu utuh untuk saat ini karna Alesha merakitnya kembali. Setiap kali gadis itu tersenyum padanya, Jacob merasa seolah ada benang rajutan halus tanpa jarum yang menjahit hatinya.


Sebuah panggilan inisiatif membuat tubuh Jacob bangkit dari sofa. Kakinya melangkah menuju kasur, lalu dengan hati-hati menaiki kasur besar nan bersprey lembut itu. Tangannya perlahan menaikkan selimut agar menutupi tubuh Alesha.


"Aku tidak bisa terus hanyut dalam momen seperti ini, aku takut aku tidak bisa menahannya, kau benar-benar membuatku kehilangan akal saat ini, Alesha." Gumam Jacob yang mengutarakan isi hatinya. Degupan kencang dari jantungnya memompa darah begitu cepat hingga Jacob bisa merasakan tubuhnya yang memanas. Posisi mereka berdua saat ini sangat membuat Jacob frustasi. Jika saja tidak mengingat bagaimana sikap Alesha dan keyakinan Alesha, mungkin saat ini Jacob sudah membawa Alesha pada dirinya dan mencumbuinya bagai tidak ada waktu selanjutnya. Pikiran Jacob menggila dan terus meronta untuk merengkuh tubuh Alesha, namun hatinya menolak untuk tetap menjaga batasan mereka.


Tangan Jacob terkepal kuat. "Tahan, Jack, jangan hilangkan kesadaranmu."


Jacob menunduk. Pikirannya kacau sangat tidak karuan. Harusnya Levin dan Bastian tetap ada di dalam kamar itu, hingga Jacob tidak perlu kesusahan menahan godaan yang sekarang ini menguasai tubuhnya.


Geraman kecil keluar dari dalam ujung tenggorokan Jacob. "Cukup, aku tidak mampu menahannya lagi, maaf jika aku melakukan ini secara diam-diam, Al, aku pastikan dan aku berjanji kalau ini adalah yang pertama dan terakhir, setelah ini, aku baru akan melakukan seperti ini lagi setelah kita menikah nanti, sayang."


Hembusan napas Jacob begitu kencang dan memburu. Pria itu membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Alesha. Jarak yang begitu dekat hingga hidung mereka bersentuhan.


"Aku mencintaimu." Setelah mengucapkan kalimat itu, Jacob pun segera melancarkan aksinya dengan menaruh sebuah kecupan ringan pada bibir ranum Alesha. Mulut Jacob sedikit terbuka dan gigi-giginya memberikan gigitan kecil yang sangat singkat. Alesha tidak berkutik sama sekali, efek obat bius itu benar-benar membuat pingsan indra perasa milik Alesha juga.


Sekitar setengah menit berlalu, akhirnya Jacob menyudahi aksinya itu. Ia kembali mengangkat wajahnya dan dengan secepat mungkin menjauhi tubuh Alesha. Jacob berjalan menuju balkon untuk mendapatkan hembusan angin malam yang bisa mendinginkan sekujur tubuhnya yang saat ini sedang memanas.


Apa yang baru saja ia lakukan pada Alesha? Jacob sama sekali tidak menyesali aksinya tadi. Ia merasakan dunianya yang kembali menjadi seperti semula, seolah ini adalah pertama kalinya Jacob merasakan jatuh cinta. Rasa bahagia menyelimuti hati dan pikirannya. Memendam perasaannya selama ini ternyata sedikit membuahkan hasil. Jacob menegakkan tubuhnya dan merasakan bisikan angin yang memberikan selamat padanya. Ciuman pertama itu tidak akan pernah Jacob lupakan, bahkan mungkin hal itu akan menjadi bahan bercandaan untuknya nanti setelah menikah dengan Alesha.


Jacob menyentuh bibirnya dan memberikan usapan pelan.


"Puas, kau? Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan sejak lama." Ucap Jacob yang ditujukan untuk bibirnya. Tawa kecil yang melihatkan deretan gigi rapih dan putih itu menambah tingkat ketampanan yang Jacob miliki.


Ini yang aku inginkan sejak lama, aku pikir aku bisa menahannya karna aku sudah terbiasa, namun tadi adalah titik puncak dimana aku tidak mampu lagi mengendalikannya. Maaf, Al, tapi aku mencintaimu, cantik..... Ucap Jacob dalam hatinya. Malam ini Jacob enggan untuk menutup matanya, ia akan tetap terjaga sambil terus mengulang kejadian tadi dalam otaknya.