May I Love For Twice

May I Love For Twice
Keyakinan Alesha



Melihat Jacob yang membuang kunci pintu kesembarang arah membuat Alesha benar-benar takut sekarang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, hanya saja ia takut jika mentornya itu akan hilang kendali dan melakukan hal yang paling fatal, yaitu merebut kesucian dan mahkotanya.


Alesha tidak mau sampai hal itu terjadi, namun ia tidak bisa melakukan apapun selain tersudut dipojokan sofa. Tubuhnya bergetar karna ketakutan dan isakkan tangis yang membuat napasnya tersendat-sendat.


Air mata meluap-luap saat goresan luka dalam hati akibat bentakkan yang mentornya itu berikan pada Alesha dihadapan seluruh anggota tim. Alesha sangat malu, ia tidak percaya jika mentornya itu bisa berperilaku kasar padanya. Apa yang Alesha katakan tadi adalah kesalahan fatal? Kenapa mentornya itu tiba-tiba saja berubah menjadi seperti monster mengerikan yang siap untuk melahap Alesha?


Jika Alesha melawan dan memberontak hal itu akan sia-sia saja, tubuh Jacob jauh lebih besar daripada Alesha, lagi pun Alesha takut jika mentornya melakukan hal yang saat ini sedang terbayang-bayang dalam pikiran Alesha.


Berlainan dengan Jacob, pria itu sadar akan kesalahannya yang sudah membentak Alesha hingga membuat gadis itu menangis tersedu-sedu dipojokan sofa dan seperti enggan berdekatan dengannya. Sedih dan kecewa akan sikap kerasnya tadi pada Alesha. Jacob merutuki dirinya sendiri, ia paham maksud dari ucapan Alesha tadi, tapi entah dirasuki apa tiba-tiba ia merasakan gejolak amarah hingga berani mengkasari Alesha.


Perlahan Jacob pun menurunkan tensi amarahnya dan berusaha menunjukkan ekspresi hangat pada Alesha, namun sepertinya Alesha menolak hal itu. Kali ini Jacob mencoba untuk duduk disofa dan mendekati Alesha. Lagi-lagi Alesha memberikan respon negatif dengan semakin menyudutkan dirinya kepojokan sofa, padahal ia sudah berada disisi terujung dari sofa itu.


"Al.." Lirih Jacob disertai ekspresi menyesal yang begitu kental pada wajahnya saat ini.


"Maaf.."


Buangan muka Alesha lakukan sebagai jawaban untuk menolak permohonan mentornya itu.


"Alesha.." Jacob pun semakin membawa dirinya untuk mendekati Alesha. Ia benar-benar tidak tega melihat Alesha yang terus menangis sesegukkan hingga napasnya terus tersendat dalam setiap detik yang terlalui.


Bahu Alesha bergetar, dan hal itu membuat Jacob berinisiatif untuk menaruh pelukan disana, namun belum sempat hal itu terjadi Alesha sudah terlanjur bangkit dan menjauh dari sofa.


Pandangan Alesha beralih pada kunci yang tergeletak diatas lantai yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia tidak mau membuang waktu, segera kaki Alesha dipacu untuk merebut kunci itu dan dengan sergap beralih menuju pintu.


Saat tangannya mencoba untuk memasukkan kunci kedalam lubang pada gagang pintu, dari belakang tiba-tiba saja mentornya menyambar dan memeluk lalu merebut kunci itu dengan mudah dari tangan Alesha.


"Lepas!!" Alesha menggerakkan seluruh tubuhnya untuk memberontak dan melepaskan diri dari pelukan sang mentor.


"Maaf, Alesha..." Lirih Jacob yang memperkuat pertahanan peluknya agar mengunci tubuh Alesha yang meronta-ronta.


"Mr. Jacob, lepas!!"


Plak....


Satu tamparan keras akhirnya mendarat mulus pada pipi Jacob ketika Alesha mengayunkan sebelah lengannya yang masih memiliki celah untuk terangkat.


Napas Alesha menderu, dadanya naik turun mengontrol emosi yang meletup-letup.


Rasa perih yang Jacob terima pada wajahnya tidak sebanding dengan penyesalan terhadap sikap kasarnya pada Alesha.


Bugh...


Satu pukulan yang cukup keras dari sikut yang dikerahkan oleh Alesha tidak menggoyahkan pelukan Jacob pada tubuh gadisnya.


"Lepaskan aku!! Aku lelah, ingin istirahat!! Itukan maumu!! Aku dan yang lain mengunci diri di kamar!! Sekarang lepas!! Biarkan aku menuruti semua perintahmu agar kau mau menghargaiku!!"


Semakin Alesha meronta, semaki pula Jacob mengencangkan pelukannya. Pria itu enggan untuk membiarkan gadisnya pergi dalam keadaan sedang marah padanya. Jacob ingin masalahnya bersama Alesha berakhir malam ini juga. Jadi, Jacob akan menunggu sampai Alesha lelah memberontak dan membiarkan ketenangan mengambil alih Alesha.


"Lepas!! Jika kau tidak melepasnya maka aku akan berteriak!!"


"Jika kau berteriak itu sama saja akan memalukan timmu sendiri. Orang-orang akan menganggapku melakukan hal tidak baik padamu, dan akhirnya timmu juga yang akan menanggung malu." Balas Jacob dengan pelan dan datar.


"Lepaskan aku, Mr. Jacob..." Isakkan kembali mentamui wajah Alesha lalu membawa air mata. Tubuh Alesha pun mulai melemah karna lelah melawan dekapan mentornya yang sangat erat.


"Tenangkan dirimu, aku ingin masalah kita berdua selesai malam ini juga."


"Bagaimana bisa?! Ini bukan masalah kita berdua, tapi masalahmu dengan semua anggota tim!!"


"Aku tahu, tapi kita tidak bisa menyelesaikan masalah sekaligus, aku ingin satu persatu, dan dimulai denganmu, Alesha." Rintih Jacob.


"Baik, tapi lepaskan aku dulu!"


"Maafkan aku, Al.." Jacob memejamkan matanya dan menenggelamkan wajanya pada lekukkan leher Alesha. Meresapi setiap kehangatan yang terbawa.


"Jauhkan wajahmu, Mr. Jacob!!"


Aku mencintaimu, Al...... Batin Jacob.


"Baik, aku tenang, aku akan tenang, tapi lepaskan aku!" Alesha semakin pasrah, tenaganya kalah kuat untuk melepaskan dekapan mentornya. Tidak ada cara lain selain Alesha berhenti meronta agar Jacob mau membebaskan tubuhnya.


"Maafkan aku, Al, aku terbawa emosi tadi."


Hembusan napas Jacob yang menyentuh kulit leher Alesha membuat gadis itu berdigik merinding.


Kedua lengan Jacob yang melingkari pinggang dan perut Alesha akhirnya mengendur, memberikan sedikit keleluasaan untuk Alesha agar bisa mengatur napasnya. Namun meski begitu, Jacob masih enggan mengangkat kepalanya untuk keluar dari lekukkan leher Alesha. Terlalu nyaman dan hal itu juga membuat Jacob semakin merasa tenang hingga emosinya bisa menghilang.


Disaat seperti itu, Alesha menangkap hal lain yang dirasakan oleh hatinya. Keyakinannya semakin membesar terhadap sang mentor yang diam-diam memendam rasa. Alesha meneteskan air mata saat memikirkan hal itu. Sungguhkah mentornya selama ini menyimpan perasaan khusus untuknya? Tapi semua hal itu terjawab akan sikap Jacob yang menurut Alesha begitu romantis jika mereka sedang menghabiskan waktu berdua. Tapi kalau benar kenapa mentornya itu tidak mengungkapkan yang sesungguhnya? Keraguan dan keyakinan yang Alesha rasakan sangat bertolak belakang, tapi hati Alesha lebih pro terhadap keyakinannya yang menyatakan kalau mentornya itu memang menyukainya.


"Kenapa kau selalu seperti ini?" Lirih Alesha. Bulatan cair yang kecil pun kembali berseluncur pada permukaan kulit wajah Alesha.


"Aku menyayangi kalian, aku tidak mau kalian sakit atau terluka atau hal buruk apapun itu." Jawab Jacob dengan pelan.


Datarnya raut wajah Alesha saat ini tidak membuktikan kalau ia sudah menenang dan baik-baik saja, buktinya seberkas kesedihan masih tersirat pada sorot matanya yang menunjukan hal berbeda dengan ekspresi wajahnya kali ini.


" Tidak, kau selalu memperlakukanku dengan cara yang berbeda, itu yang aku rasakan selama ini." Alesha membalasnya dengan pelan dan datar namun setiap untaian kata dari kalimat itu terasa begitu dalam dan mengenai tepat dilubuk hati Jacob. "Aku tahu kau menyayangi kami, tapi tolong ubah caramu, kau mengekang kami. Aku dan yang lain cukup tertekan, Mr. Jacob."


Kalimat barusan merupakan curahan hati yang selama ini Alesha tahan dalam-dalam, namun akhirnya ia bisa juga mengutarakannya pada sang mentor.


Tidak ada suara yang terdengar setelah Alesha mengambil kesempatannya untuk berbicara tadi. Jacob sendiri tidak bisa berkata apa-apa, bukan karna ucapan Alesha yang barusan sekali, melainkan pertanyaan pertama dari gadis itu yang secara tidak langsung menyadari akan sinyal-sinyal rasa yang selalu Jacob pancarkan.


Bagaimana Jacob harus menjawabnya? Apakah ia akan mengungkapkan perasaannya pada Alesha kali ini? Rasa takut untuk sebuah penolakan membuat tubuh Jacob sedikit menegang. Ia tahu kalau Alesha tidak akan menerimanya jika ia mengatakan yang sebenarnya sekarang, tapi Jacob tidak tahan jika harus memendam rasanya sendirian seperti ini.


Waktu itu, Jacob pernah mencoba untuk menanyakan suatu hal kepada Alesha, namun sayangnya jawaban dari Alesha ternyata sesuai dengan apa yang Jacob perkirakan dan meleburkan hati Jacob seketika.


"Al, apa yang akan kau lakukan jika ada seseorang yang menaruh rasa padamu saat ini?"


Alesha yang sedang asik memandangi cahaya orange diujung laut pun seketika menatap ke arah Jacob dengan tatapan penuh kebingungan.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Tanya balik Alesha.


"Tidak apa, kau tahukan kalau banyak sekali yang menyukaiku, menurutmu jika kau ada diposisiku kau akan menerima atau menolak perasaan mereka?"


Dengan santainya Alesha pun menjawab. "Aku akan menolaknya jika aku berada diposisimu, apalagi kalau mengingat saat ini hatiku masih menolak kehadiran sosok lain selain Adam."


"Aku tidak mau melibatkan hati lain untuk sekarang, jadi aku akan menolaknya." Lanjut Alesha.


Itulah seberkas ingatan yang tidak bisa Jacob lupakan. Hatinya benar-benar hancur saat itu, bahkan kapan pun ketika ia mengingat ucapan Alesha kala itu, hatinya mendadak berkerut hingga menimbulkan rasa sesak yang mendalam.


Jadi bukan keinginan Jacob untuk terus memendam perasaannya pada Alesha. Jacob hanya takut jika Alesha akan menolaknya, dan Jacob tidak mau mendengar penolakan itu. Hingga akhirnya Jacob pun mau tidak mau memutuskan untuk terus memendam perasaannya hingga ia memastikan kalau Alesha sudah benar-benar melupakan Adam.


Berbagai usaha sudah Jacob lakukan untuk dapat meraih hati Alesha dan membuang jauh sosok Adam yang selalu mentahtai hati gadis itu. Jacob mungkin masih belum menyadari suatu hal karna selama ini Alesha juga samanya memendam sesuatu dalam lubuk hatinya dan tidak pernah ia tunjukkan.


Perlahan, sosok dan nama Adam pun meninggalkan kediamannya dalam hati Alesha akibat sikap romantisme Jacob yang selalu saja membuat Alesha luluh. Berapa kali Jacob membuat Alesha melayang? Jawabannya adalah tidak terhitung. Setiap kali mereka menghabiskan waktu berdua, maka saat itu pula Alesha selalu menerima perilaku manis dari mentornya. Kadang beberapa pelukan kecil yang relatif singkat selalu Jacob berikan pada Alesha ketika mereka asik menikmati candaan bersama.


Alesha terus saja merasa kalau mentornya itu seperti sedang memberikan sinyal-sinyal yang mewakili sebuah perasaan. Hingga terbentuk lah sebuah spekulasi dalam kepala Alesha yang menjelaskan kalau mentornya itu membibiti hatinya dengan rasa ketertarikan terhadap Alesha. Jadi, singkatnya adalah Alesha itu sudah menyadari akan perasaan mentornya, namun Alesha selalu hirau dan tidak begitu memperdulikan.


"Maafkan aku, Al." Ucap Jacob seraya memutar tubuh Alesha agar bisa menghadap ke arahnya.


"Berjanjilah kau akan meminta maaf pada yang lain dan tidak akan mengekang kami lagi." Tuntut Alesha.


"Iya, aku berjanji, tapi tolong maafkan aku." Jacob menangkup wajah Alesha dengan kedua telapak tangannya yang besar dan lebar. "Aku mengerti maksudmu, aku sadar kalau aku memang terlalu berlebihan pada kalian."


Alesha berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada permasalahan yang saat ini sedang dihadapi dan menyingkirkan jauh-jauh pikiran mengenai perasaan Jacob padanya. Alesha ingin permasalahan timnya bersama sang mentor selesai secepat mungkin.


"Minta maaflah pada yang lain besok." Balas Alesha dengan datar namun terdengar seperti sebuah perintah. Matanya terasa begitu berat dan membengkak akibat tangisnya tadi.


"Pasti." Segaris senyum samar membentuk pada bibir Jacob. Ia bisa sedikit tenang saat gadis yang ada dihadapannya kini sudah tidak lagi memberontak untuk melepaskan diri.


***


Kejadian malam tadi cukup membuat Jacob sadar kalau apa yang Alesha katakan itu ada benarnya. Menjaga kesehatan fisik memang perlu, tapi manusia juga perlu kesehatan batiniah. Hingga keesokan harinya, Jacob pun memberanikan diri untuk menyampaikan ucapan permintaan maaf atas sikapnya selama ini yang membuat semua anggota tim merasa terkekang, dan Jacob pun akan berusaha untuk memberikan kebebasan pada anggota timnya untuk melakukan hal apapun selagi tidak melanggar peraturan.


Alesha bersyukur, akhirnya mentornya itu mau mengakui kesalahannya. Memang ya, untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik atau sadar akan suatu hal itu terkadang harus dilalui terlebih dahulu oleh kekacauan atau permasalahan. Contohnya saja seperti semalam, jika Alesha tidak memberontak maka mentornya itu tidak akan membuka pikiran dan sadar kalau sikapnya selama ini membuat para anggota merasa terkekang.


Hari demi hari berlalu dan Jacob berusaha untuk membuktikan ucapannya kalau ia tidak akan pernah lagi memberikan kekangan pada anggota timnya dan membiarkan mereka melakukan apapun yang diinginkan namun tetap dalam pengawasan dan pemantauan yang tidak pernah Jacob lalaikan.


Tapi tunggu...


Sudah berapa hari berlalu? Satu, dua, atau tiga? Kenapa Jacob bisa lupa? Hari ini adalah hari dimana salah satu pengurus SIO datang mengunjungi WOSA dan akan membawakan barang yang Jacob titipkan.


"Jack, pengurus SIO memanggilmu dan sekarang mereka menunggumu di ruang aula." Ucap Laras yang tiba-tiba saja menghampiri Jacob.


"Sungguh? Ya ampun aku lupa! Terima kasih, Laras." Jacob pun segera membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan sahabatnya yang kini sedang berbadan dua.


Ya, setelah melangsungkan akad pernikahan beberapa bulan lalu bersama Danish, salah satu mentor WOSA dan agent SIO, akhirnya Laras diberkahi dengan dikirimkannya sebuah janin kedalam rahimnya yang kini sudah menginjak usia kehamilan tiga bulan.


Tidak banyak menguras waktu, akhirnya Jacob pun tiba di aula utama dengan cepat. Didapatinya seorang pengurus SIO yang bukan lain adalah mentor Jacob kala ia sedang menempuh pendidikan di WOSA beberapa tahun lalu.


"Hallo, Jack, lama tidak bertemu denganmu." Sapa Bruce, pria yang Jacob mintai tolong menitipkan barang pesanan.


"Hallo, Mr. Bruce, senang bisa bertemu denganmu kembali." Sapa balik Jacob.


"Bagaimana kabar anak didikku yang kini semakin gagah dan hebat?" Canda Bruce yang bermaksud untuk menggoda Jacob.


"Aku baik. Bagaimana denganmu?" Jawab Jacob bersama kekehan kecil yang ikut terbawa saat ia mengucapkan kalimat itu.


"Ya, seperti yang kau lihat sekarang ini." Lelaki sepantaran ibu Jacob itu memberikan tepukan singkat pada bahu Jacob. "Oh ya, ini barang pesananmu."


Bruce meletakkan tiga buah paper bag berkualitas tinggi diatas meja. Jika dilihat dari segi design dan logonya, sudah dipastikan kalau tiga paper bag itu berasal dari sebuah produsen barang mewah untuk kalangan selebriti papan atas yang harganya sangat melangit. Tiap paper bag itu berisi sebuah kotak yang di dalamnya terdapat benda yang sudah Jacob beli dan akan diberikan pada Alesha dihari ulang tahun gadis itu yang akan jatuh satu hari setelah hari ini.


"Terima kasih, Mr. Bruce." Ucap Jacob sambil memberikan senyum menawannya.


"Aku tidak tahu apa isi dari kotak-kotak itu, tapi dilihat dari luar sepertinya berisi barang-barang untuk wanita." Ucap Bruce.


Saat mendengar itu, Jacob pun menarik sudut bibirnya hingga menampilkan deretan gigi yang begitu putih, bersih, dan rapih.


"Kau membeli barang untuk wanita? Siapa?"


Jacob hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk dan tersenyum sebagai jawaban untuk pertanyaan yang mentornya itu berikan.


Menyadari ada sesuatu yang aneh dalam diri anak didiknya, Bruce pun mengerutkan keningnya dan mengukir sebuah raut kebingungan.


"Kau memiliki kekasih baru?"


Belum sempat Jacob menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba salah seorang petugas WOSA datang dan menghampiri Bruce.


"Permisi, tuan, Mr. Thomson memanggil anda."


Akhirnya Bruce pun menarik napas dan menghembuskannya dengan tenang. "Baik, aku akan ke sana sekarang."


"Jack, aku pergi dulu ya, nanti kita bertemu lagi."


Jacob menanggukkan kepalanya dan setelah itu ia pun memandangi sang mentor yang sudah berjalan beriringan bersama petugas WOSA untuk menuju ruangan Mr. Thomson.


Seukir senyum kembali mengembang pada wajah Jacob ketika ia mengingat bagaimana pengorbanan Bruce, mentornya dulu dalam mendidik semua anggota timnya hingga bisa menjadi sukses seperti sekarang ini. Jacob bersyukur memiliki mentor seperti Bruce yang secara sabar memberikan bimbingan. Tanpa Bruce, Jacob belum tentu bisa menjadi sosok agent jenius yang begitu dipertahankan oleh SIO sampai saat ini.