
"Mencari kata sandi." Alesha mengketuk-ketukkan jari telunjuknya diujung sudut bibirnya. Sejak tadi ia terus saja menggumamkan kalimat itu. Sandi, sandi, dan sandi.
"Teka-teki apa ini? Aku tidak paham maksudnya. Sandi apa? Yang aku ingat Mr. Thomson hanya meminta kita untuk mencaritahu apa itu kata sandinya. Dia tidak memberitahukan kita cluenya." Ucap Stella yang mulai frustasi dengan pikirannya sendiri.
"Tunggu, tadi kau bilang apa, Stella?" Alesha mengangkat sebelah alisnya sambil menatap pada Stella.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Stella pun balik menatap bingung pada Alesha. "Maksudnya?"
"Tadi kau bilang apa, Mr. Thomson apa?" Ulang Alesha.
"Mr. Thomson hanya meminta kita untuk mencaritahu apa itu kata sandinya." Jawab Stella dengan ragu.
"Ya, itu!" Alesha menjentrikkan jarinya seolah ia mendapatkan suatu hal dalam kepalanya.
"Apa itu kata sandi?" Alesha melayangkan tatapan serius pada teman-temannya. Ia mencoba untuk membuka sudut pandang lain dalam menemukan jawabannya.
"Kau tahu kata sandinya?" Tanya balik Merina.
Alesha menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, bukan kata sandinya, tapi kata sandi, hanya kata sandi."
Bastian dan yang lain mencoba untuk mencerna ucapannya Alesha.
Dengan ragu, Lucas pun menjawab. "Apa maksudmu kata sandinya itu adalah apa itu kata sandi?"
"Ya, tapi bukan itu jawabannya, melainkan maksud dari kata sandi itu apa?" Balas Alesha yang masih melayangkan tatapan serius pada teman-temannya.
"Tunggu, aku paham maksudmu, Al!" Seru Merina. "Aku ingat sesuatu. Mr. Thomson bilang kita harus mencari tahu apa itu kata sandi, bukan apa itu kata sandinya! Stella, ingatanmu salah, Mr. Thomson tidak menggunakan kata 'Nya' saat mengucapkan kata 'Sandi', coba kalian ingat lagi."
Mendengar hal itu, Alesha pun mulai menyunggingkan senyumnya, ia bersyukur Merina mengetahui maksud dari ucapannya.
"Merina, coba jelaskan maksudnya." Pinta Bastian.
"Waktu itu Mr. Thomson tidak bilang kata 'sandinya', tapi hanya kata 'sandi' saja. Jika ia bilang kita harus mencari tahu kata sandinya, sudah jelas kita harus tahu apa itu kata sandinya, entah berupa kumpulan huruf atau kata, atau kalimat, atau angka. Tapi ini berbeda, Bas. Mr. Thomson bilang kita harus mencari tahu apa itu kata sandi, yang bermaksud apa itu sebenarnya kata sandi, pengertian dari kata sandi. Bukan begitu, Al." Terang Merina.
"Owh, aku paham!" Seru Mike. "Pintar sekali. Bisa jadi itu cluenya, Bas. Pengertian dari kata sandi, apa itu kata sandi? Mr. Thomson sudah memberikan kita cluenya!" Lanjut Mike.
Bastian pun menatap pada Alesha dan Merina. "Kalian yakin?"
"Apa salahnya mencoba?" Alesha mengedikkan bahunya.
"Baiklah, apa itu kata sandi?" Tanya Stella.
"Kata sandi adalah kumpulan karakter atau string yang digunakan oleh pengguna jaringan atau sebuah sistem operasi yang mendukung banyak pengguna (multiuser) untuk memverifikasi identitas dirinya kepada sistem keamanan yang dimiliki oleh jaringan atau sistem tersebut." Jawab Lucas. Seketika, teman-temannya itu pun memberikan tatapan lurus padanya. Lucas yang merasa risih dan bingung pun kembali berucap sambil mengangkat kedua bahunya. "Berdasarkan Google."
Stella mengangkat sebelah alisnya seraya bertanya. "Apa itu tidak terlalu panjang?"
Tatapan Bastian pun kembali pada Alesha dan Merina. "Kalian yakin?"
"Apa ada yang memiliki opini lain selain aku dan Alesha?" Tanya balik Merina.
Spechless
Tidak ada yang menjawab.
Mungkin iya, atau tidak. Semua yang ada didalam mobil itu terdiam sambil memikirkan jawaban lain.
***
"Aiden, bagaimana?" Tanya Tyson yang juga sibuk mengendalikan laju mobilnya.
"Mereka tidak akan menyadari keberadaan kita. Terus ikuti jalan ini, aku akan ubah jalur mereka agar mengarah pada kita." Jawab Aiden.
Tyson menganggukkan kepalanya tanda kalau ia mengerti. Dan kini, mobil yang ia dan yang lain tumpangi sudah melaju sejalur dengan mobil yang ditumpangi oleh Brandon dan anggota timnya.
Rencana Bastian adalah menghalau pergerakan anggota tim Brandon tetapi dengan menghindari perkelahian. Maka dari itu Bastian menyuruh Lucas dan Aiden untuk mengubah jalur lalu lintas pada maps satelit yang digunakan oleh anggota tim Brandon. Dengan begitu, Brandon dan anggota timnya pasti akan disibukan untuk mencari lokasi kartu memori mereka yang sudah dihilang jejakkan oleh Lucas dan Aiden.
Bastian sengaja menghindari perkelahian dengan anggota tim Brandon karna Bastian lebih mementingkan kesehatan fisik anggota timnya, ia tidak mau sampai anggota timnya terluka. Kalau masih ada cara lain untuk menghindari perkelahian, kenapa tidak? Begitulah pikir Bastian.
"Ingat, Bastian meminta kita untuk membuat anggota tim Brandon tersesat, dan sebisa mungkin menghindari perkelahian!" Ucap Maudy.
Nakyung yang mendengar itu seketika berdecak sebal. "Padahal aku ingin sekali bertarung dengan mereka." Geram Nakyung.
"Ayolah, Na, kau hanya akan membuang tenaga. Aku setuju dengan rencana Bastian. Ia selalu mementingkan tim." Balas Maudy.
"Ya, aku sedang berusaha untuk memancing anggota tim Brandon untuk berputar-putar di tempat ini." Sambung Aiden.
"Eh, tunggu, Aiden apa kau tidak mengganggu pergerakan lalu lintas pengguna jalan lain dengan mengubah jalur-jalur jalan raya dan membuatnya menjadi lokasi padat kendaraan?" Tanya Maudy.
"Ck, pertanyaanmu itu konyol, Maudy. Jika aku benar-benar mengubah arus lalu lintas di daerah ini maka kemacetan akan terjadi di mana-mana. Aku hanya mengubah petunjuk pergerakan lalu lintas pada maps satelit yang digunakan oleh Brandon dan timnya. Mengelabui, kau tau mengelabuikan? Aku tidak mengubah pergerakan atau jalur lalu lintas mana pun." Jawab Aiden.
"Aku hanya bertanya. Takutnya kau malah benar-benar mengubah arus lalu lintas di daerah ini, bisa-bisa kita jadi buronan polisi jika itu terjadi." Maudy melipatkan kedua tangannya dan bersandar malas pada jok mobil.
"Tentu saja tidak. Kau ingat rencana Bastian kan? Kita hanya perlu membuat Brandon dan anggota timnya kebingungan mencari jalan dan lokasi dengan mengubah haluan peta maps satelitnya."
***
Didalam mobil, sejak beberapa menit berlalu baik Bastian atau pun yang lain masih belum ada yang membuka percakapan. Mereka semua disibukkan dengan mencari kata sandi, atau pengertian sandi, atau teka-teki yang Mr. Thomson berikan untuk mendapatkan sandi itu. Lalu cluenya? Bisa jadi opini Alesha dan Merina benar, tapi sangat diragukan. Masa iya sandinya adalah pengertian dari kata sandi? Bastian memutar otaknya, mencari celah lain sembari mengingat kembali setiap ucapan Mr. Thomson yang mungkin saja mengandung petunjuk untuk menemukan sandi itu.
"Ini permainan, aku rasa opini Alesha dan Merina benar." Bastian menghela napas, ia membuka suaranya dengan ekspresi yang meragukan.
"Baiklah, kita simpan dulu opini itu, semoga saja benar, dan untuk sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Stella. "Berdiam tanpa tahu tujuan selanjutnya?" Stella jengah karna sejak tadi otaknya dipaksa untuk berpikir, sedangkan yang dipikirkan saja tidak membuahkan hasil. Ia pikir Mr. Thomson memang sedang mempermainkan para murid WOSA.
"Menghindar dari kejaran anggota tim Brandon. Mereka tepat di belakang kita." Jawab Lucas. "Mike, bawa mobil ini dengan kecepatan penuh, tigas ratus meter lagi akan ada jalan kecil disebelah kiri." Lanjut Lucas dengan serius.
"Bagaimana mereka bisa menemukan kita?" Tanya Bastian.
"Sepertinya mereka melacak plat nomor mobil ini, mereka menggunakan satu-satunya jaringan internet yang digunakan untuk mengakses peta satelit melalui tablet yang Ken gunakan. Aku tidak mungkin mematikkan jaringan internet itu, kita bisa didiskualifikasi, dan akan dinyatakan melakukan kecurangan oleh WOSA." Lucas mulai khawatir. Ia pun berusaha untuk memblokir semua akses masuk jaringan mana pun kedalam sistem Internet yang digunakan melalui tabletnya.
"Kita bisa melakukan apapun demi menghalangi keberhasilan mereka dalam misi ini. Tetapi mematikkan akses server jaringan yang sudah WOSA berikan pada setiap kelompok adalah sebuah kecurangan. Aku tidak bisa mematikan jaringan internet yang sudah WOSA jatahkan untuk mereka, atau tim kita akan kena imbasnya." Lanjut Lucas.
"Kenapa tidak boleh?" Seperti orang yang tidak bersalah, pertanyaan itu terlontar begitu saja dari dalam mulut Stella.
Lucas pun sama, rasanya gemas bercampur sebal ketika mendengar pertanyaan dari Stella. "Ck, Stella, WOSA memberikan server-server yang berbeda pada setiap anggota tim agar WOSA dapat mengawasi dan memantau semua pergerakan yang dilakukan oleh setiap tim melalui server itu. Aku tidak mungkin mematikan server WOSA. Jadi, satu-satunya cara adalah aku harus memblokir semua akses masuk jaringan apapun."
Mendadak tubuh Bastian dan yang lain tersentak kaget ketika tiba-tiba saja mobil yang mereka tumpangi berhenti secara mendadak.
" Mike, ada apa?" Tanya Bastian.
"Keluar dari mobil ini." Jawab Mike dengan datar.
Refleks, Bastian menggelengkan pelan kepalanya. Entahlah tapi ia jadi merasa penasaran dan panik pun mulai menyambangi. "Apa? Kenapa?"
"Keluar sekarang!!" Pekik Mike dan seketika ia pun melepaskan sabuk pengamannya dengan cepat dan melompat keluar dari dalam mobil.
Melihat Mike yang tiba-tiba saja berubah seperti itu membuat Bastian dan yang lain pun mau tidak mau harus mengikuti apa yany Mike katakan. Mereka semua keluar dari dalam mobil dengan perasaan bercampur aduk.
"Lari!!!" Sentak Mike yang berlari menjauhi mobil itu.
Mereka pun berlari kesebuah gang kecil dan bersembunyi.
"Mike, ada apa?" Tanya Bastian setengah ngos-ngossan karna lelah berlari.
"Mobil itu sudah dimata-matai!" Jawab Mike dengan tegas.
"Apa maksudmu?" Tanya balik Bastian yang tidak kalah tegasnya.
"Bas, kau tidak memperhatikkan jalanan, aku ingat ada beberapa mobil yang terus mengikuti kita sejak awal! Dan terakhir, aku merasakan sesuatu yang tidak beres dalam mobil itu!"
"Maksudmu itu adalah ulah agent SIO yang mungkin sedang menguji kita?" Tebak Alesha.
"Entah aku tidak.." Belum sempat Mike melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara keributan kecil yang berasal dari mobil yang tadi ia dan yang lain tumpangi.
"Sembunyi cepat!" Perintah Bastian.
Dari kejauhan, walau bersembunyi Bastian dan yang lain masih dapat melihat kalau ada dua mobil yang berhenti tepat di depan mobil yang tadi mereka tumpangi. Beberapa orang keluar dari dalam dua mobil itu dan mengintai mobil yang Bastian dan timnya pakai tadi.
"Apa mereka orang suruh SIO?" Bisik Merina.
"astagfirullah.." Alesha pun menutup mulutnya ketika matanya terfokus kepada seorang lelaki yang wajahnya ia kenal melalui ingatan tujuh bulan yang lalu.
"Dia yang menyamar menjadi petugas kebersihan WOSA dan menculikku!" Rasa trauma menyerang Alesha. Tubuhnya lemas dan bergetar. Ia ingat dan sangat ingat rupa lelaki itu.
Bastian pun merasakan hal yang sama dengan Alesha. Ia juga ingat wajah pria yang menculik Alesha dulu karna waktu itu Bastian pun turut ikut ketika berusaha menyelamatkan Alesha dari para penculik yang bukan lain adalah anak buah Mack.
"Alesha, kau benar. Aku ingat pria itu." Bastian pun mematung, ia tidak percaya akan kembali berurusan dengan orang-orang jahat itu.
Tapi kenapa ada pria itu? Apa maunya? Bukannya Mack sudah mati?.
"Itu mereka!" Seru salah satu dari pria sambil menunjuk ke arah Bastian dan anggota timnya yang sedang bersembunyi dibalik dinding.
"Sial! AYO!!" Umpat Bastian. Ia dan yang lain langsung berlari secepat mungkin untuk menjauh dari kejaran kelompok pria jahat itu.
Beberapa pejalan kaki yang berlalu-lalang secara refleks melihat ke arah Bastian dan anggota timnya yang sedang dikejar-kejar oleh beberapa pria berpakaian serba hitam.
Mereka berlarian di trotoar pinggir jalan dan beberapa kali menabrak orang asing yang sedang asik berjalan.
"Mr. Jacob, kami dikejar oleh anak buah Mack! " Seru Bastian melalui mini Phone ditelinganya.
Lalu di apartemen, Jacob dan Eve dibuat sangat geram dengan agent SIO dan ulah Mr. Frank yang sengaja memanfaatkan momen ujian akhir semester ini untuk memancing anak buah Vincent juga kelompok jaringan gelap agar mau keluar.
"Kalian tahukan resikonya sangat tinggi!! Mereka masih sangat amatir jika harus berhadapan dengan keparat dunia itu!!" Emosi Eve meledak-ledak hingga wajahnya memerah.
Begitu pu nya Jacob, ia melayangkan protes keras pada agent SIO yang ada dihadapannya. "Seharusnya kalian memberitahukan para mentor!! Tidak begini caranya, bagaimana jika mereka berhasil menangkap anak-anak WOSA?!!"
"Kalian harus tenang, Mr. Frank sudah menyiapkan semuanya dengan matang, agent-agent SIO yang lain sudah meluncur." Balas agent SIO itu.
Brakk..
Gebrakkan meja yang berhantaman dengan lengan besar Eve membuat orang yang ada dalam ruangan itu terlonjak kaget.
Sebuah suara berat yang begitu dalam dan menekan pun terucap dari dalam mulut mentor tim Brandon itu. "Jika sesuatu terjadi pada anggota timku atau yang lain, aku tidak akan segan menuntut Mr. Frank untuk menutup WOSA kembali!!" Sorot mata tajam dan satu jari telunjuk diletakkan tepat dihadapan wajah agent SIO itu. Saluran kemarahan yang tertahan sangat tertera jelas pada wajah Eve yang sangat merah akibat emosi yang menyulut-nyulut dalam hatinya, bahkan hembusan napas beratnya pun terasa sangat menakutkan.
"Tenang, Eve, tidak akan terjadi sesuatu apapun pada timmu juga yang lain." Balas agent SIO itu dengan bersikap setenang mungkin.
Jacob menendang kursi yang berada didekatnya dan melemparkan sebuah botol minuman ke arah lantai. Tidak disangka ternyata ujian akhir ini juga akan menjadi papan permainan SIO demi menangkap dan memberantas Vincent dan anak buahnya, juga anggota kelompok jaringan gelap.
**
Lain hal dengan Bastian dan para anggotanya, kini mereka sudah bersembunyi disebuah toko buku yang berada di dalam gedung pusat perbelanjaan. Mereka menyembunyikkan diri diantara lemari-lemari kayu yang berjejer memanjang.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Stella yang sejak tadi sudah panik tidak kepalang.
"Mereka masih mengikuti kita! Bagaimana jika mereka menemukan kita?" Sambung Merina yang sama seperti Stella, panik tidak kepalang.
Bastian memajukan sedikit kepalanya ke ujung lemari agar dapat melihat ke arah luar dan memastikan keberadaan sekelompok pria jahat itu. Selang beberapa detik, Bastian kembali memundurkan kepalanya dengan gerakan kilat.
"Mereka di depan toko ini." Bastian menghela napasnya dengan tenang, mencoba untuk mencari jalan dengan pikiran yang tetap fokus.
Alesha mendekatkan diri pada teman-temannya. Tatapannya penuh dengan keseriusan saat berkata. "Kita harus membuat sebuah rencana."
"Rencana apa?" Tanya balik Merina sembari sesekali melirik ke arah luar toko.
Alesha pun memandang lekat-lekat wajah-wajah temannya itu seraya menyeringai. Sebuah ide muncul diotaknya.
"Di mana mereka?" Lelaki yang waktu itu menyamar sebagai petugas kebersihan WOSA dan menculik Alesha kini merasa geram karna tidak kunjung menemukan sekelompok remaja yang mereka cari.
"Tadi mereka di sini!" Lelaki yang lain menghentakkan kakinya ke arah lantai.
"Kita berpencar, jangan sampai bocah-bocah itu lepas!" Perintah lelaki yang waktu itu menculik Alesha.
Tanpa membuang-buang waktu, perintah dari lelaki itu segera dituruti oleh anak buahnya. Mereka berpencar kesetiap sudut gedung Pusat perbelanjaan itu. Sedangkan dua orang diantaranya masuk ke dalam toko buku yang dijadikan tempat persembunyian oleh Bastian dan timnya.