May I Love For Twice

May I Love For Twice
Ujung Permasalahan



Beberapa hari kembali berlalu, Jacob masih saja sibuk dengan urusan pekerjaannya hingga melupakan sang istri yang semakin hari semakin lemah karna kondisi tubuh yang tidak mampu, dan tidak siap menerima dua janin sekaligus.


Hari demi hari Alesha lewati tanpa mendapatkan pengawasan ekstra dari suaminya, bahkan sudah dua hari ini Jacob tidak pulang karna saking sibuknya, dan didua malam itu pula Alesha merasa begitu sengsara.


Tubuhnya benar-benar lemas, bahkan untuk berdiri saja rasanya sangat sulit. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercucuran didahinya.


Tapi Alesha bisa apa? Jacob tidak ada di sisinya, Taylor yang biasanya membantu pun kini diharuskan untuk membantu Jacob, dan Alesha harus bisa kuat serta menahannya sendirian sembari terus beristigfar, atau menggumamkan ayat-ayat suci Al-Quran untuk membantunya bertahan dalam kondisi tubuh yang benar-benar tidak memungkinkan.


Seperti halnya sore ini, Jacob pun kembali pulang. Alesha pikir ia dapat mengatakan apa yang ia rasakan selama beberapa hari ini, namun ternyata tidak. Jacob pulang bukan untuk beristirahat apalagi mencaritahu kondisi Alesha, melainkan hanya singgah sesaat untuk mengambil beberapa dokumen penting perusahaan.


“Jack....” Panggil Alesha lirih.


“Hmmm?” Balas Jacob sembari membuka bupet tempat ia menaruh dokumen yang ia cari.


“Kau masih sibuk ya?” Tanya Alesha.


“Ya.”


Alesha terkesiap. Ia menarik napasnya, ia harus bersabar, menahan agar suaminya itu tidak marah.


Sejenak Alesha terus menatapi tubuh Jacob yang sibuk mencari lembaran kertas penting, dan ketika suaminya itu telah menemukan benda yang dicari, Alesha pun kembali memanggil dengan suara pelan.


“Jack...”


“Apa?” Jacob melirik pada istrinya. “Kau baik-baik saja, Alesha?” Sebelah alis Jacob terangkat, ia mencurigai suatu hal dari diri istrinya.


“Cepat selesaikan pekerjaanmu, aku akan menunggumu,” Ucap Alesha sembari menyunggingkan senyum palsunya.


“Baiklah.”


Hanya itu balasan Jacob, dan selepasnya ia pun pergi meninggalkan Alesha di dalam kamar sendiri.


“Huuufttt...” Sengaja Alesha menghembuskan napas panjang. Ia masih bersabar, mungkin memang Jacob masih amat sibuk, dan Alesha tidak mau mengganggu suaminya itu.


“Tahan ya anak-anak, ayah kalian masih sibuk, sementara kita berjuang bertiga dulu ya,” Alesha mengelusi perutnya sendiri sembari tersenyum kecut.


Miris.


Itulah yang Alesha rasakan saat ini. Teracuhkan, dan terabaikan oleh suaminya sendiri meski kondisi tubuhnya sudah tidak memungkinkan.


“Hallo, ia sebentar saya akan cari filenya dahulu.”


Ucap Jacob yang tiba-tiba saja kembali masuk sembari bertelponan dengan seseorang.


Alesha sedikit terkejut kala mendapati kehadiran suaminya, namun ia kembali diam membisu, memperhatikan Jacob yang sepertinya memang benar-benar begitu sibuk mencari dokumen lain dalam bupet.


“Dapat!” Gumam Jacob. Ia pun kembali bangkit, dan berjalan dengan cepat. Namun belum sempat kakinya melewati ambang pintu, tiba-tiba saja Alesha memanggil.


“Jack....”


Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar.


“Apa?” Jacob membalikkan tubuhnya seraya bertanya.


Alesha terdiam. Ia berpikir bagaimana caranya untuk mengatakan pada Jacob jika ia merasa sangat lemas, dan membutuhkan pria itu disisinya saat ini?


“Alesha, katakan apa yang mau kau ucapkan sekarang!” Jacob meninggikan nada bicaranya. “Aku tidak punya banyak waktu!”


Alesha sedikit terlonjak mendapati cara bicara suaminya yang lagi, dan lagi terdengar kasar, dan sedikit membentak.


“Katakan cepat!”


“A-aku hanya ingin bilang, jaga kesehatanmu, jangan sampai kau kelelahan,” Ucap Alesha yang terdengar sedikit bergetar.


“CK!” Jacob berdecak. “Apa kau sadar? Kau membuang-buang waktuku, Alesha!”


Jacob pun berlalu pergi setelah mengucapkan kalimat yang begitu menyakiti hati istrinya.


“Hiks, maaf, Jack, maaf jika aku mengganggu waktumu, hiks,” Alesha terisak. Hatinya benar-benar sakit menerima perkataan seperti tadi dari suaminya sendiri.


Sesibuk itukah Jacob? Sepusing itukah dia hingga mengabaikan istrinya yang sedang hamil?


Alesha kuat! Ia menabahkan diri, dan hatinya agar tetap bertahan dalam kondisi yang tidak baik seperti sekarang ini.


“Aku tidak akan mengganggumu, Mr. Jacob, aku akan lewati semua yang aku rasakan saat ini sendirian, hiks, selesaikan pekerjaanmu, dan tidak usah perdulikan aku. Aku bisa! Aku kuat, aku akan bertahan dengan anak-anakku,” Alesha menangis. Membiarkan derasan air mata mengalir diwajahnya.


Jacob memang seperti itu, selalu seperti itu sejak dulu. Ia jika sudah fokus pada satu pekerjaannya, pasti ia akan melupakan hal lain.


Tapi seharusnya sebagai pria yang sudah beristri apalagi istrinya tersebut sedang hamil, Jacob seharusnya bisa membagi waktu, dan tidak mengabaikan istrinya begitu saja.


Kasihan Alesha. Ia memang selalu mengacuhkan setiap perkataan, dan ucapan kasar, juga bentakan yang suaminya berikan, namun apalah daya hati? Pikirannya bisa menyangkal, dan melupakan, namun dalam lubuk hatinya Alesha benar-benar tersiksa karna sikap Jacob yang tegas, dan kasar.


Alesha terus meyakinkan dirinya jika ia kuat, dan dapat bertahan. Ia sebenarnya sudah memiliki prasangka jika kehamilannya itu akan memiliki masalah, mengingat tubuhnya yang sudah lemas tidak karuan.


Bahkan hingga malam tiba Alesha masih diposisinya, merasakan tubuh yang sepertinya tidak memiliki kemauan untuk pulih.


“Baby J, kalian baik-baik ya di dalem, Bunda sayang sama kalian, kalian juga jangan marah sama ayah ya, dia lagi kerja, sibuk cari uang buat kita. Kita sama-sama berjuang ya, sayang. Maaf kalau Bunda gak bisa kasih kenyamanan buat kalian di dalem, Bunda juga gak mau kaya gini, tapi badan Bunda emang belum siap buat terima kalian,” Alesha mengelus pelan, dan penuh kasih sayang pada perutnya sendiri. Membayangkan seolah dua buah cintanya bersama Jacob dapat mendengar apa yang dikatakannya.


“Bunda bakal usahain buat tetep jaga kalian, gak perduli harus sesakit apa Bunda, yang penting kalian aman, dan sehat.”


Alesha tersenyum, namun air matanya turut menetes. Sedih? Pastinya. Malam ini Jacob tidak pulang karna mesti mengurus masalah perusahaan di Bogor.


“Ayo tidur, Baby J nya Bunda sama Ayah, jangan lupa baca doa ya, anak-anakku,” Alesha berbicara begitu lembut karna ia sangat amat menyayangi dua janin mungilnya.


Meski sendirian, Alesha tidak mau mengeluh karna hal itu hanya akan membuat dirinya semakin terpuruk. Alesha harus kuat, dan sabar, ia tidak boleh lemah, dua bayinya masih membutuhkannya. Maka dari itu yang Alesha fokuskan saat ini adalah kesehatan, dan kekuatan tubuhnya demi sang dua malaikat kecil hasil dari benih cinta suaminya.


*****


Keesokan harinya, seperti biasa Alesha bangun untuk melaksanakan sholat subuh, lalu bersiap-siap untuk bekerja.


Alesha pikir dengan bekerja ia dapat sejenak melupakan masalahnya, belum lagi ada kedelapan kawan seperjuangannya yang selalu saja saling menghibur, dan mampu membuat Alesha tertawa, meski hanya sesaat.


Jam pun telah berhenti diangka tujuh lewat lima, kini Alesha telah siap, dan sedang menunggu supir di dalam mobil untuk mengantarkannya menuju kantor SIO.


Selang beberapa menit berlalu, sang supir pun masuk lalu terduduk dikursi kemudi, dan tidak lama setelah itu mobil pun bergerak, melaju menuju tempat tujuan.


Sepanjang perjalanan, beberapa kali Alesha menatapi layar ponselnya, berharap Jacob akan membalas pesannya. Tapi sepertinya itu tidak mungkin, dan Alesha juga tidak memaksa atau memberikan spam pesan supaya chat -Nya dibalas oleh Jacob.


Tak terasa, kurang lebih satu jam mobil yang Alesha tumpangi pun akhirnya tiba di depan sebuah pohon besar yang menjadi lokasi dimana terdapatnya sebuah kamera kecil pendeteksi id card karyawan SIO yang akan memasuki pintu bawah tanah untuk menuju ke dalam kantor.


Tak menunggu waktu lama, Alesha pun keluar dari dalam mobil, dan membiarkan kamera kecil tersebut melakukan scan pada id card miliknya. Bahkan sekarang mobil yang mengantarkan Alesha pun telah kembali berputar, dan pergi meninggalkan kawasan hutan yang di bawahnya terdapat sebuah kantor super besar.


Dengan langkah pelan, Alesha pun menuruni anak tangga untuk menuju kebagian dalam kantor.


Hingga tepatnya ketika Alesha berjalan di lorong panjang penghubung bagian luar dan dalam kantor, tiba-tiba saja Alesha oleng, dan nyaris terjatuh.


“Aw!” Ringgisnya, pelan. “Astagfirullah...” Alesha memegangi perutnya yang kini mulai terasa sakit, dan perih.


Tidak kuat berdiri, Alesha memilih untuk mendudukkan tubuhnya sesaat sembari bersandar pada lorong besi yang sepi itu.


Alesha tidak tahu kenapa, dan apa yang terjadi pada perutnya, namun yang ia rasakan saat ini adalah sakit yang luar biasa sakitnya.


Kedua mata Alesha terpejam, tangannya terkepal kuat, keringat dingin didahi mulai bercucuran kala ia mencoba untuk terus menahan rasa sakitnya itu.


“Aww, astagfirullah, kenapa sakit banget ini?” Alesha merapatkan giginya dengan kencang, merasakan tiap-tiap nyeri yang membuat seluruh anggota tubuhnya ngilu tak tertahankan.


“Baby J, kalian kenapa?” Rintik air mata perlahan turun, Alesha mengelusi perutnya yang terasa mengeras. Mungkinkah ia akan melahirkan sekarang? Tapi usia kandungannya masih tujuh bulan.


“Tolong, kalian harus bertahan tiga bulan lagi, jangan keluar sekarang, sayang, hiks,” Sakit yang luar biasa semakin menjalar keseluruh tubuh. Alesha lemas, ia tidak mampu bergerak, perutnya sudah berkontraksi hebat.


“Mr. Jacob.....” Alesha hanya mampu menangis. Disaat genting seperti ini ia hanya sendirian, tidak ada suaminya yang dapat membantu, dan mendampingi.


Sadar akan kondisinya yang sudah tidak beres, Alesha pun berinisiatif untuk menghubungi kawan-kawannya melalui grub chat WhatsApp.


*On WhatsApp Group


Me: Kawan-kawan......


5 minutes later.


Mike: Ada apa, Alesha?


Akhirnya, Mike membalas juga pesan yang Alesha kirim. Tidak mau menunda waktu, Alesha pun segera menghubungi Mike untuk meminta bantuan.


“Hallo, Alesha, ada apa? “


“Mike, apa kau sibuk? “


“Tidak, aku sedang tidak ada pekerjaan saat ini.”


“Hiks, Mike, bisa kau bantu aku? “


“Alesha, kenapa kau menangis? Ada apa? “ Terdengar Mike yang berucap dengan panik.


“Perutku sakit, tolong antar aku ke rumah sakit, aku ada di lorong depan,” Alesha berucap begitu lirih karna saking lemasnya.


“APA? Baiklah, tunggu sebentar di sana, aku akan segera ke sana.”


Lalu Mike memutuskan panggilan telponnya. Ia pun berlari tergesa-gesa menuju parkiran mobil.


Alesha tidak perduli harus sesakit apa ia menahannya, namun yang Alesha takutkan adalah kondisi kedua bayinya jika ia terpaksa harus melahirkan dengan usia kandungan yang masih pada minggu kedua puluh delapan. Alesha takut jika Jacob akan kecewa padanya karna tidak bisa menjaga kehamilannya dengan baik, Alesha juga takut jika Jacob akan menyesal menikah dengannya karna ia tidak mampu melewati masa kehamilan.


Kenapa? Kenapa masalah harus menimpanya lagi? Bahkan masalah yang Alesha hadapi saat ini jauh lebih besar karna menyangkut keselamatan nyawa kedua janinnya.


“Hallo, Sulis.” Kini Alesha menelpon teman dokternya yang selama ini selalu menjadi orang kepercayaan ia juga Jacob untuk berkonsultasi mengenai kehamilan.


“Iya, Sha, kenapa? “


“Sulis, kamu hari ini praktek gak? “


“Iya, Sha, nanti tapi sore. Kenapa emangnya? “


“Sulis, perut aku sakit....”


“APA?”


“Perut aku sakit banget, Sulis, kamu bisa gak bantu aku, aku takut kalau aku bakal ngelahirin sekarang, hiks.”


“Okay, okay aku bakal susul kamu ke tempat kerja kamu, Sha, nanti kita langsung ke rumah sakit aja ya.”


“Enggak, kamu langsung aja ke rumah sakit, aku udah minta anter temen aku buat ke sana.”


“Oke oke, kamu yang tenang ya, tarik napas pelan-pelan, dan jangan berpikiran macem-macem. Aku bakal usahain yang terbaik OK.”


"Iya, Sulis, makasih ya. "


“Iya, Sha. Yaudah sekarang aku matiin dulu ya telponnya, aku bakal langsung berangkat saat ini juga. Nanti kamu langsung aja ke UGD.”


“Iya, Sulis.”


Sambungan telpon pun terputus, lalu tidak kurang dari lima menit, Mike pun akhirnya datang, dan langsung menghampiri Alesha yang sudah lemah dengan tangis tak bersuaranya.


“Ya ampun, Alesha! Apa yang terjadi?” Panik Mike.


“Sepertinya perutku berkontraksi, Mike, tolong antar aku pergi ke rumah sakit umum daerah Lembang, ada teman dokterku di sana yang menunggu.”


“Baiklah, baiklah, kalau begitu ayo,” Lalu Mike mengangkat, dan membawa tubuh kawannya itu menuju mobil sedan pribadinya.


“Mike, perutku sakit....” Rintih Alesha sembari mencengkram bahu Mike dengan kuat.


“Dimana Mr. Jacob? Apa dia tahu?” Tanya Mike.


Alesha belum sempat menjawab karna Mike sudah terlebih dahulu mendudukannya di jok mobil. Lalu setelah itu Mike pun berlari memutari mobil.


“Tarik napasmu, dan bertahanlah sebentar, aku akan membawa mobil ini dengan kecepatan tinggi,” Ucap Mike ketika ia sudah terduduk dikursi kemudi.


Alesha tidak membalas. Ia terus menghela, dan menghembuskan napasnya, sedangkan kedua bagian telapak tangannya mencengkram kuat celana bahan yang ia kenakan.


Dan kini, mobil yang Mike kendarai pun melesat dengan kencang, menyalip setiap celah kecil jalan yang masih bisa dilewati.


Panik? Tentu saja. Mike begitu panik mendapati Alesha yang sudah seperti wanita yang akan segera melahirkan. Apalagi Alesha adalah istri dari mentornya sendiri, Mike harus bergerak sesigap mungkin.


“Alesha, apa Mr. Jacob tahu ini?” Tanya Mike dengan sorot mata yang masih fokus pada jalanan.


“Tidak. Jangan beritahu dia tentang hal ini. Dia sangat sibuk, biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya dahulu,” Jawab Alesha, lemah.


“Apa maksudmu? Kau sedang kesakitan seperti ini, dan kau masih membiarkan suamimu sibuk dengan pekerjaannya!”


“Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya, Mike. Aku sudah biasa.”


“Alesha, Mr. Jacob harus tahu tentang ini, aku akan menghubunginya nanti!” Paksa Mike.


“Jangan, Mike, aku mohon....” Pasrah Alesha yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Mike.


Selama kurang lebih satu jam perjalanan, kini mobil yang Mike kendarai telah memasuki area rumah sakit yang Alesha maksud. Buru-buru Mike menuju bagian UGD.


Sedangkan tepat di depan pintu ruang UGD, Sulis pun sudah menunggu kehadiran Alesha sejak tadi. Lalu ketika ia mendapati sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan area UGD, Sulis pun segera menghampiri pria yang keluar dari dalam mobil tersebut.


“Apa wanita yang ada di dalem itu Alesha?” Tanya Sulis.


“Ya,” Jawab Pria yang bukan lain adalah Mike.


“Oh bagus, cepet bawa dia kekursi roda ini!” Perintah Sulis.


Cepat-cepat Mike mengeluarkan tubuh Alesha dari dalam mobil lalu menaruhnya tepat dikursi roda yang dibawa oleh dua orang perawat.


“Sulis, perut aku sakit,” Alesha kembali merintih. “Aku takut, gimana kalau kejadian buruk nimpa aku sama bayi-bayi aku.”


“Alesha, jangan mikir macem-macem, sekarang kamu tenang ya, aku bakal usahain yang terbaik kok,” Balas Sulis.


“Bawa dia ke ruang persalinan!” Lanjut Sulis pada perawat yang memegangi kursi roda Alesha.


“Apa Alesha akan melahirkan?” Tanya Mike.


“Kita lihat nanti,” Jawab Sulis, singkat.


Dengan tergesa-gesa, Sulis, dan Mike berjalan begitu cepat mengikuti langkah cepat si perawat yang membawa Alesha dengan kursi roda.


Alhasil, tidak sampai lima menit akhirnya mereka pun tiba di ruang persalinan.


“Pakein Alesha impusan! Saya bakal cek kondisinya!” Perintah Sulis. “Kamu bukan suami Alesha kan?” Tunjuk Sulis pada Mike.


“Bukan, aku temen Alesha,” Jawab Mike.


“Kalau begitu tunggu aja di sini!”


Mike langsung mengangguk setelah mendengar ucapan Sulis.


Hingga selepas Sulis memasuki ruangan persalinan, di luar Mike mencoba menghubungi Jacob.


Maaf nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.


“CK! Kemana Mr. Jacob?” Kesal Mike. Berkali-kali ia kembali mencoba, namun tetap saja Jacob masih tidak bisa dihubungi.


Lalu kemudian ia mencoba untuk menghubungi teman-temannya supaya ada yang bisa membantunya menemani Alesha di rumah sakit ini.


Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab ..


Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab .


Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab .


Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab .


Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab .


Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab .


Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab .


Rasanya ingin sekali Mike membanting ponselnya sendiri. Kenapa disaat genting seperti sekarang tidak ada satu pun yang bisa ia hubungi?


Beralih masuk ke dalam ruang persalinan, saat ini Sulis tengah sibuk untuk mengecek keadaan tubuh, dan posisi kepala kedua janin yang ada di dalam rahim Alesha.


Sedangkan Alesha sendiri kini telah dipasangi selang impusan dengan alat uap untuk membantunya bernapas.


“Pembukaan empat,” Gumam Sulis sangat pelan supaya Alesha tidak dapat mendengarnya.


Tidak lupa pula Sulis mengecek kondisi jahitan kecil bekas mengeluarkan peluru dari dalam perut Alesha sekitar dua tahun lalu.


“Tekanan darah bagus, detak jantung bagus, pernapasan lumayan lancar,” Gumam Sulis kembali setelah ia beres mengecek kondisi Alesha.


Kemudian, dengan tenang Sulis pun menghampiri Alesha.


“Alesha, kamu yang sabar ya, terus berdoa semoga kondisi bayi kamu bisa baik-baik aja,” Sulis mengelusi puncak kepala Alesha. “Kamu siapkan kalau seandainya ngelahirin normal?”


“Apa?” Alesha menatap tidak percaya pada Sulis. “Ngelahirin? Sekarang?”


“Iya, posisi kepala bayi kamu udah cukup, kamu udah pembukaan empat, Sha.”


“Hiks, trus gimana kalau mereka kenapa-kenapa? Mereka baru tujuh bulan, Sulis....” Alesha sudah tak kuasa untuk membendung tangis kesedihannya. Bayinya akan terlahir dengan prematur, hati Alesha semakin sakit untuk menerima kenyataan itu.


Sebagai wanita, tentunya Alesha mengharapkan kehamilannya akan berjalan dengan normal, tapi sangat disayangkan karna tubuhnya masih belum siap untuk menerima dua buah hati itu. Alesha sedih, meratapi nasib kedua malaikat kecilnya yang pasti akan tersiksa karna kelahiran yang seharusnya belum terjadi.


“Kita bakal usahain yang terbaik, Alesha, kamu tenang ya, terus berdoa, tarik napas. Kamu harus bisa, harus kuat, ini demi anak kamu,” Sulis menggenggam erat jemari Alesha untuk membantu memberikan kekuatan.


“Aku takut, Sulis, aku takut mereka kenapa-kenapa, aku gak siap buat terima kabar buruk tentang bayi aku, aku gak mau, hiks hiks.”


“Alesha, jangan mikir macem-macem, sekarang fokus persiapin diri kamu buat ngelahirin. Kita bisa pake jalur normal kok, kamu yang tenang ya.”


“Aku takut, Sulis, hiks..”


“Alesha, kalau kamu gak tenang kaya gini yang ada malah nanti proses lahirannya gak lancar. Ikutin kata aku! Tenang..... Kamu harus tenang..... Jangan lupa buat terus berdoa, oke.”


Alesha mengangguk paham. Ia harus tenang, ia harus kuat, ia harus bisa menahan rasa sakit itu demi anak-anaknya. Meski rasa takut terus menghantuinya.