
Alesha bersandar didinding tembok yang bersebelahan dengan jendela. Ia baru saja selesai tahajud malam, dan saat ini ia masih menggunakan mukenanya. Saat ini Alesha asyik menuangkan isi pikiran yang saat ini sedang mengalir kediarynya melalui pulpen yang ia gunakan.
*Aku tidak tau kenapa? Aku selalu merasa kalau kau selalu memperlakukanku secara berbeda. Kau sangat dekat denganku, dan aku menyukai itu. Walau kadang menyebalkan, kau adalah teman terbaikku untuk bercanda di WOSA. Kau tidak seperti yang aku pikirkan saat aku pertama kali melihatmu. Terkadang aku merasa kalau kau bersikap over protektif padaku, tapi setelah aku pikir lagi, itu memang tugasmu untuk menjaga dan mengawasi timmu. Aku merasa seperti kalau kau bukanlah mentorku, tapi kau adalah sahabatku. Aku suka itu. Aku memang butuh teman untuk bercanda dan bermain dengan bebas. Aku menemukan itu didirimu dan juga yang lain. Terima kasih kau sudah menjagaku dengan baik. Aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu, Mr. Jacob. Oh, ya satu lagi. Aku suka sebutan Baby Ale itu. Menurutku itu lucu. Entah dari mana kau menemukan sebutan itu, tapi aku menyukainya.
Tertanda
Alesha Sanum Malaika as Baby Ale*
Alesha tersenyum. Hatinya sedang bahagia saat ini.
"Terima kasih ya allah, engkau masih melindungi Alesha, dan tolong terus berikan Alesha jalan dan petunjuk agar bisa mendapatkan kehidupan layak di dunia dan akhirat kelak. Alesha ingin bertemu dengan orang tua Alesha, Alesha juga ingin mewujudkan impian orang tua Alesha. " Ucap Alesha. Tidak terasa air matanya menetes. Setiap malam selepas sholat isya, Alesha selalu menyempatkan waktu untuk mengirimkan do'anya untuk orang tua tercinta, dan saat waktu sholat tahajud tiba dengan semangat Alesha segera beralih untuk mengambil wudhu. Sholat tahajud dan murotal Al-Quran pada malam hari adalah salah satu cara agar Alesha bisa merasakan kedekatannya dengan orang tuanya. Alesha ingin menyempurnakan bacaan dan hafalan Al-Qurannya, ia tidak mau menyia-nyiakan begitu saja ajaran yang sudah orang tuanya ajarkan. Keinginan Alesha selanjutnya adalah satu, ia ingin sekali hijrah menjadi Alesha saat sebelum orang tuanya meninggal. Perubahan terjadi pada diri Alesha saat orang tuanya meninggalkan ia begitu saja. Alesha melepas kerudungnya, sikapnya berubah yang tadinya lemah lembut menjadi gadis yang berani, bahasanya juga berubah menjadi kasar. Semua dampak negatif terjadi begitu saja pada diri Alesha.
Sejujurnya Alesha menyesali itu. Dan sekarang sangat terasa sekali bagaimana sulit dan beratnya ia untuk kembali menjadi gadis seperti dulu. Namun Alesha tidak akan menyerah, ia tidak perduli berapa lama waktu agar ia bisa menjadi sebaik dulu, Alesha ingin terus berdoa untuk diberikan kekuatan dan keteguhan agar ia bisa terus berjalan di jalan yang sudah Allah tetapkan untuknya.
***
Pukul 06.45 Pagi.
Seluruh murid WOSA bersiap seperti biasanya untuk mengikuti pelajaran yang sebentar lagi akan dimulai.
Alesha baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Ia baru saja selesai mandi dan saat ini sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Al, kau tidak ikut belajar?" Tanya Nakyung.
"Mr. Jacob tidak mengizinkan aku untuk ikut belajar dulu." Jawab Alesha.
"Kalau begitu aku akan menemanimu." Ucap Stella sambil meraih boneka donat Alesha.
"Silahkan saja, tapi aku tidak bisa menjamin kau akan terhindar dari hukuman." Ucap Alesha sambil merebut balik boneka donatnya.
"Lalu siapa yang akan menemanimu di sini?" Tanya Maudy.
"Aku bukan anak kecil, Maudy, lagi pula aku bisa bersantai-santai dan menonton film sambil memakan popcorn." Jawab Alesha.
"Baguslah. Eh tunggu, aku bingung, apa yang terjadi padamu di sana?" Tanya Maudy sambil berjalan mendekati Alesha.
"Ya, benar." Saut Nakyung yang menyusul mendekati Alesha.
"Apa yang terjadi padamu, Al." Tanya Nakyung.
Alesha menunduk sambil tersenyum kecil. Ia mencoba mengingat kejadian beberapa hari lalu yang hampir saja merenggut nyawanya.
"Aku tertembak dan jatuh dari tebing laut setinggi lima puluh meter."
"APA?!" Ucap keempat temannya itu dengan raut wajah kaget dan syok.
"Bagaimana bisa?" Tanya Stella dengan wajah syoknya.
"Itu gila!" Saut Nakyung.
"Kenapa bisa seperti itu?" Tanya Maudy.
"Apa yang terjadi memangnya?" Tanya Merina tidak percaya.
"Panjang ceritanya, aku akan cerita nanti, lebih baik sekarang kalian segera bergegas ke kelas, bel akan berbunyi sebentar lagi." Ucap Alesha.
"Kau harus berjanji akan menceritakannya, Al." Ucap Stella.
"Iya, nanti aku akan cerita." Ucap Alesha.
"Hai nona-nona, kalian harus segera pergi ke kelas kalian sekarang." Ucap Jacob yang tiba-tiba muncul di ambang pintu sambil bersandar dan melipatkan tangannya.
"Mr. Jacob, kau akan membiarkan Alesha berceritakan?" Tanya Maudy.
"Tentu, tapi tidak sekarang karna kalian harus segera pergi ke kelas kalian masing-masing, dan Alesha juga harus beristirahat." Jawab Jacob dengan santai.
"Baiklah, baiklah, aku pergi sekarang." Ucap Nakyung lalu mulai berjalan untuk pergi menuju ruang kelasnya.
"Nakyung tunggu aku!" Saut Stella yang berlari menyusul Nakyung.
"Kami pergi dulu ya, Mr. Jacob." Ucap Maudy lalu pergi keluar bersama Merina.
Selama beberapa saat Jacob melihat ke arah Stella, Nakyung, Maudy, dan Merina, lalu setelah itu ia menatap pada Alesha.
"Kau tau, aku tidur bersama Baby Ale semalam." Ucap Jacob sambil menghampiri Alesha.
Alesha berdecak. "Dia boneka milikku, Mr. Jacob."
"Siapa bilang Baby Ale punyaku?" Balas Jacob sambil duduk dipinggiran kasur.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Alesha dengan malas.
"Menemanimu." Jawab Jacob santai sambil tersenyum dan menatap mata Alesha.
"Aku bukan anak kecil, aku tidak mau mengganggu waktu kerjamu." Balas Alesha.
"Kau tidak mengganggu waktu kerjaku." Ucap Jacob.
"Mr. Jacob, aku tidak mau jadi bahan pembicaraan anak-anak WOSA, lagi pula bagaimana kalau Mr. Thomson tau?" Alesha beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kulkas.
"Aku sudah meminta izin pada Mr. Thomson untuk menemanimu, dan tidak akan ada yang membicarakan kita." Balas Jacob.
"Tidak ada? Kau yakin? Aku sering mendengar kalau anak-anak WOSA terutama yang wanita, mereka membicarakan aku, aku mendengar sendiri kok." Alesha membawa sebuah piring yang berisi buah mangga yang sudah dipotong dadu.
"Kau hiraukan saja mereka, tidak ada gunanya juga meladeni mereka." Ucap Jacob sambil mengambil potongan mangga pertama lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Aku berusaha menghiraukannya, namun aku juga kesal kalau setiap saat mereka selalu membicarakan aku." Balas Alesha.
"Sudah jangan pikirkan itu. Makan ini." Jacob menyodorkan potongan mangga yang sudah ditusuk garpu.
Alesha memandang bingung pada mangga yang Jacob sodorkan itu.
"Jangan banyak berpikir, makan cepat." Ucap Jacob.
Alesha segera membuka mulutnya lalu memakan mangga yang Jacob sodorkan itu. Rona wajahnya sedikit memerah karna malu.
"Kau keramas?" Tanya Jacob. Alesha hanya mengangguk.
Seketika Jacob menepuk keningnya dan mendengus.
"Alesha, kau belum benar-benar pulih." Ucap Jacob dengan pasrah.
"Memang kenapa? Rambutku terasa lengket, jadi aku keramas saja." Balas Alesha dengan raut wajah tak bersalah.
"Keringkan rambutmu!" Perintah Jacob.
"Sudah."
"Itu masih basah."
"Aku baru saja keluar dari kamar mandi, wajar saja."
"Keringkan lagi, atau aku sendiri yang akan mengeringkan rambutmu!"
Alesha mendengus. "Baiklah, baiklah." Alesha mengalah. Ia segera meraih handuk kecilnya lalu mengeringkan rambutnya lagi. "Sudah." Ucap Alesha.
"Sudah, Mr. Jacob!"
"Ada pengering rambut?" Tanya Jacob.
"Untuk apa?" Tanya Alesha.
Jacob berjalan menuju meja rias milik Stella. Di atas meja itu ada pengering rambut yang biasa Stella gunakan.
"Mr. Jacob, kau mau apa?" Tanya Alesha yang mulai panik saat Jacob berjalan ke arahnya sambil membawa pengering rambut itu.
"Lakukan sendiri, atau aku yang melakukannya?" Tawar Jacob sambil menyodorkan pengering rambut itu.
"Tidak! Aku tidak bisa menggunakan alat itu!" Jawab Alesha.
Jacob mengedikkan bahunya dengan santai. "Baiklah, aku yang melakukannya."
Jacob segera mencolokkan ujung kabel pengering rambut itu ke terminal listrik, lalu setelah itu mendekati Alesha.
"Tidak! Mr. Jacob, jangan kau coba-coba!" Ucap Alesha sambil menjauh dari Jacob.
"Sudah jangan banyak bergerak." Ucap Jacob yang semakin mendekati Alesha.
Semakin Alesha mundur, semakin ia tersudut ketembok, dan itu memudahkan pekerjaan Jacob.
"Aaaaaaa, noooo, Mr. Jacob!" Ronta Alesha.
Jacob mengabaikan Alesha. Ia dengan mudahnya meraih rambut Alesha, menyisirnya dan mengeringkan rambut Alesha dengan alat yang sedang ia pegang itu.
"Mr. Jacob!!" Teriak Alesha. Alesha mendorong-dorong tubuh Jacob, namun tidak berhasil. Ia mencoba lagi untuk meraih alat pengering rambut itu, namun Jacob malah mengangkatnya dengan mudah.
Alesha mendengus. Ia pasrah, rambutnya pasti akan acak-acakkan.
"Bagus, diamlah, kau mempermudah pekerjaanku." Ucap Jacob sambil tersenyum.
Raut wajah Alesha saat ini datar bercampur kesal. Ia sudah tidak perduli lagi dengan rambutnya yang nanti akan rusak dan kering. Betapa menyebalkannya Jacob, namun kadang Alesha menyukai sifat menyebalkan Jacob itu.
"Mr. Jacob, kau akan membuat rambutku menjadi acak-acakkan." Ucap Alesha dengan malas.
"Tidak, Al, kau pikir aku tidak bisa melakukan ini?" Balas Jacob yang masih fokus mengerikan rambut Alesha.
"Aku jadi curiga." Alesha mengerutkan keningnya. "Jangan-jangan kau.." Alesha mendongkak dan menatap Jacob.
"Apa?" Tanya Jacob.
Alesha mencoba menahan tawanya agar tidak keluar. Ia berpikir kalau Jacob dulunya adalah tukang salon dan berlagak seperti waria. Bagaimana ia menggambarkan Jacob yang berlagak seperti waria? Memakai heels, dan make up tebal dengan baju dress ketat selutut. Itu benar-benar lucu bagi Alesha.
"Kau kenapa?" Jacob mengerutkan keningnya sambil menatap bingung pada Alesha yang sedang menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Aku tidak mau berpikir kalau kau dulunya adalah seorang waria, Mr. Jacob." Jawab Alesha yang masih menahan rasa ingin tertawanya.
Mata Jacob membulat dan ekspresi wajahnya berubah.
"Hah? Kau bilang apa barusan?" Tanya Jacob yang menuntut jawaban dari Alesha. Matanya menatap tajam pada Alesha.
"Jangan marah, aku hanya bercanda." Ucap Alesha yang menepuk bahu Jacob sambil merapatkan bibirnya agar tawanya tidak keluar dari dalam mulutnya.
"Kau pikir aku waria?" Jacob terkekeh.
"Kau pandai melakukan itu, sedangkan aku saja tidak bisa." Balas Alesha.
Jacob menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum dengan menunjukan deretan giginya yang putih dan rapih. Jacob bingung, bagaimana bisa Alesha berpikir seperti itu? Bahkan Jacob bertambah gemas pada Alesha setelah Alesha mengatakan kalau dia mirip seperti waria.
"Mr. Jacob, boleh aku memutar musik?" Tanya Alesha.
"Silahkan saja." Jawab Jacob yang masih menikmati pekerjaannya itu.
Alesha segera meraih ponselnya lalu memutar sebuah lagu milik Lenka yang berjudul 'Knock Knock'.
Berkat lagu yang Alesha putar, Jacob jadi tambah bersemangat menikmati pekerjaannya untuk mengeringkan rambut Alesha. Alesha sendiri hanya terdiam sambil menikmati musik yang sedang diputar. Matanya menatap ke arah hamparan langit biru yang cerah dan matahari yang bertambah terang. Mereka sama-sama menikmati waktu sambil sibuk dengan pikiran masing-masing.
Jacob jadi berpikir kalau ia ingin sekali kejadian dan situasi bersama Alesha yang seperti ini akan selalu terjadi. Ia memainkan rambut Alesha dengan penuh rasa bahagia dan Alesha yang menikmati rambutnya yang sedang dimainkan oleh Jacob dengan iringan musik pop santai yang cocok sekali dengan keadaan.
Jacob sengaja memperlambat pekerjaannya untuk mengeringkan rambut Alesha karna ia ingin terus menikmati situasi yang sedang ia rasakan. Ini mungkin akan menjadi quality time yang selalu Jacob harapkan jika bersama Alesha.
Jika ini salah satu cara agar aku bisa meyakinkan hati dan diriku agar aku tidak ragu untuk terus melangkah padamu, maka aku akan lakukan. Sebelumnya, setelah kepergian Yuna, aku belum pernah merasa setenang dan sebahagia ini. Terima kasih sudah datang, Al, aku harap kau adalah tujuanku selanjutnya..... Gumam Jacob dalam hati.
Ukiran manis terpampang diwajah Jacob. Lelaki itu begitu asik. Bahkan selama beberapa saat ia melupakan kalau Alesha itu adalah anak didiknya. Jacob terlalu larut dalam rasa bahagia dan tenang dalam hatinya. Seolah cahaya matahari yang menghangatkan masuk dan menyinari hati Jacob.
Lain halnya dengan Alesha. Gadis itu menatap ke arah cakrawala sambil memandangi burung yang terbang dengan bebas. Pikirannya melayang bersama angin yang membawa Alesha ke dunia khayalnya. Perasaan tenang merasuki hati Alesha saat ia membayangkan kalau ia sedang berada di atas awan dan duduk menikmati alam dari langit. Pikiran Alesha membawanya kesebuah pertanyaan yang terlintas begitu saja tanpa permisi. Apa yang Alesha rasakan saat ini? Ketenangan yang berbeda dari biasanya. Apa karna ada Jacob didekatnya? Namun, pikiran lain tiba-tiba masuk kekepalanya dan memberitahu kalau ia tidak boleh berpikir seperti tadi. Itu hanya akan menumbuhkan rasa palsu dalam dirinya. Pikir Alesha, Jacob melakukan itu hanya karna rasa perdulinya yang tinggi pada anggota timnya. Jacob hanya menganggap ia dan yang lain sebagai anak didik dan adik, tidak lebih dari itu.
"Mr. Jacob, cukup." Ucap Alesha sambil menyingkirkan tangan Jacob dari rambutnya.
"Sudahlah, aku pikir ini terlalu berlebihan." Lanjutnya.
"Berlebihan kenapa?" Tanya Jacob yang terheran karna ucapan Alesha barusan.
"Kau tidak seharusnya melakukan ini, ini sudah diluar batas." Jawab Alesha. "Kau adalah mentorku, dan tidak seharusnya kau melakukan itu."
"Maksudnya?" Jacob menaruh alat pengering itu dan duduk dihadapan Alesha. Lelaki itu sedikit memiringkan kepalanya tanda kalau ia sangat penasaran dengan jawaban Alesha selanjutnya.
Alesha menunduk. "Aku hanya anak murid di WOSA, dan juga hanya sebatas anggotamu, begitu juga denganmu, kau hanya mentorku, kau tidak boleh melakukan ini seolah kau dan aku bukanlah anak murid dan mentor, tapi lebih dari itu. Aku merasa tidak enak, Mr. Jacob, kau adalah guruku dan kakaku, dan aku rasa ini berlebihan." Jelas Alesha.
Jacob paham maksud ucapan Alesha barusan. Hatinya sedikit perih saat mengetahui kalau Alesha hanya menganggapnya sebagai mentor dan seorang kakak. Tapi, Jacob juga mewajarkan kalau Alesha berpikir seperti itu. Alesha tidak tahu isi hati Jacob padanya. Padahal Jacob sudah sangat menikmati momen tadi saat ia sedang mengeringkan rambut Alesha.
"Aku paham, Al, maaf kalau begitu." Ucap Jacob.
Alesha terkesiap saat mendengar ucapan Jacob barusan. "Tidak, jangan meminta maaf. Aku eh-maksudnya-aku hanya tidak ingin melanggar batas saja. Lagi pula kalau ada anggota tim yang lain yang tahu mereka bisa mengatakan rumor yang tidak-tidak tentang kita."
Jacob tersenyum. "Aku paham, Al."
"Syukurlah kalau begitu. Oh, ya, aku punya sesuatu untukmu." Ucap Alesha dengan semangat lalu beranjak dari kasurnya.
Jacob memperhatikan Alesha yang berjalan menuju lemarinya dan mengambil sebuah kotak biru berukuran sedang.
Alesha segera berjalan kembali kekasurnya. Ia duduk tepat disebelah Jacob. "Lihatlah, aku punya ini!" Seru Alesha sambil menunjukan sebuah gelang yang berbahan dasar kayu jati.
"Aku membeli ini ditoko pengrajin kayu terbaik yang ada di Bandung. Aku punya dua, dan ini satu untukmu." Ucap Alesha sambil meraih tangan Jacob dan memasangkan gelang itu pada Jacob.
"Aku memberi ini padamu sebagai kenang-kenangan nanti kalau aku sudah pergi dari WOSA." Lanjut Alesha dengan senyuman dibibirnya.
Jacob kaget saat mendengar ucapan Alesha barusan. Rasa takut tiba-tiba saja merasuki diri Jacob. Apa maksudnya Alesha bicara seperti itu?
"Jangan katakan itu!" Ucap Jacob sambil menyentuh lengan Alesha secara mendadak. Matanya mengisyaratkan ketakutan dan kepanikan.
"Kenapa, Mr. Jacob?" Tanya Alesha yang kebingungan dengan ekspresi Jacob itu.
Jacob menggelengkan kepalanya. "Kau, jangan katakan itu seolah kau akan pergi jauh." Ucap Jacob.
Alesha mengerutkan keningnya. "Aku tidak akan pergi jauh. Aku bilang, kalau ini adalah kenang-kenangan dariku jika aku sudah per...."
"Cukup!" Bentak Jacob. Alesha terkesiap saat melihat Jacob yang sedikit membentaknya. "Jangan katakan itu lagi!" Lanjut Jacob sambil menundukkan dan memejamkan matanya.
"B-baiklah." Balas Alesha yang masih kebingungan dengan perubahan sikap Jacob secara tiba-tiba.