
Malam sudah berpamit. Minggu pagi yang cerah kembali menyapa para murid yang sudah berlalu-lalang sibuk dengan urusan masing-masing.
Pukul 07.45 pagi.
Alesha masih bergelut dibawah selimutnya. Udara yang cukup dingin membuat Alesha malas melakukan sesuatu, walau hanya untuk bangkit dari kasurnya.
"Alesha, bangun..." Seru Stella sambil menggerakkan tubuh Alesha.
"Eungh.." Alesha semakin menarik selimutnya dan mengacuhkan Stella.
"Alesha, bangun dan jangan jadi putri tidur. Tidak akan ada yang menciummu hanya untuk membangunkanmu." Saut Nakyung.
"Aaaaa, aku masih mengantuk." Alesha semakin mengeratkan balutan selimut pada tubuhnya.
"Kau bisa katakan itu pada Mr. Jacob nanti, sekarang bangun karna Mr. Jacob menunggumu di ruangannya." Ucap Bastian yang entah sejak kapan ada di dalam kamar mess itu.
"Bastian, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Alesha sembari menyingkapkan selimutnya lalu bangkit dari tidurnya.
"Mr. Jacob menyuruhku untuk memanggilmu, sekarang cepat kau mandi dan temui dia!" Jawab Bastian yang diikuti sebuah perintah.
"Huwwaaa." Bukannya munuruti ucapan Bastian, Alesha malah merenggangkan tubuhnya dan kembali tertidur.
Bastian mengdengus sebal melihat tingkah Alesha. "Nakyung, bawa Alesha ke kamar mandi dan siram dia!" Perintah Bastian.
"Baik, pak ketua." Patuh Nakyung.
"Tidak, tidak! Baiklah aku bangun, aku akan mandi dan menemui Mr. Jacob." Pekik Alesha sembari membawa dirinya untuk mengambil beberapa pakaian dan handuk dilemari, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
***
Sedangkan di dalam ruangannya sendiri, Jacob sudah kedatangan empat orang tamu yang bukan lain adalah keluarganya sendiri. Laura sang ibu, Sharon si adik, Mona sang kakak, dan Wiliam si kakak ipar. Mereka sampai di WOSA saat malam tadi, dan pagi ini mereka mengunjungi ruangan Jacob untuk sekedar berkumpul.
"Mr. Jacob.." Ucap Alesha yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan Jacob lalu membuat ibu, dan keempat anaknya termasuk seorang menantu yang sedang berkumpul itu mengalihkan pandangan mereka pada Alesha.
Alesha sendiri tertegun dan tidak bisa berkutik karna ia menjadi pusat perhatian dari keluarga mentornya saat ini.
"Ada apa, Alesha?" Tanya Jacob.
Mulut Alesha bergerak-gerak kaku. Kenapa tiba-tiba ia menjadi gugup seperti itu?
Jacob yang melihat gelagat gugup Alesha hanya bisa tersenyun samar. Dalam hatinya ia berbisik.
Bagus kau datang. Sekarang lengkap jadinya. Aku harus mengenalkanmu pada keluargaku. Kau harus berkumpul dengan calon ibu mertua, juga calon kakak dan adik iparmu, Alesha...
"T-tadi, Bastian bilang kalau kau memanggilku." Ucap Alesha.
"Oh iya, tadi aku memintanya untuk memanggilmu. Kemarilah." Jacob bangkit dari duduknya dan menghampiri Alesha.
"Ibu dan Sharon sudah tahu Alesha bukan?" Tanya Jacob yang diangguki oleh ibu dan adiknya.
"Mona, Wiliam, perkenalkan dia Alesha Sanum Malaika, salah satu anggota timku." Jacob membawa Alesha untuk duduk disebelahnya.
"Alesha, dia Mona, kakakku, dan dia Wiliam, kakak iparku."
Alesha tidak tahu apa tujuan atau niat Jacob. Tapi Alesha merasa benar-benar canggung, seperti sedang dihadapkan oleh keluarga calon suaminya saja. Walau memang itu kenyataannya.
Jacob memang berencana memperkenalkan calon istrinya itu pada keluarganya tanpa disadari oleh Alesha atau keluarganya sendiri.
"Alesha." Ucap Alesha sembari melayangkan senyuman canggung pada Mona dan Wiliam. Kedua calon kakak iparnya itu balik memberikan Alesha senyuman hangat sebagai salam perkenalan. Tetapi tidak lama, Alesha merasakan sensasi panas pada wajahnya karna menyadari kalau kakak kandung mentornya, Mona memperhatikannya dengan cukup lekat dan menelisik.
Dalam pikirannya, Mona bertanya-tanya kenapa gadis yang adiknya itu kenalkan sekilas mirip dengan gadis yang tiga tahun lalu membuat adiknya menjadi gila dan stres?
"Yuna?" Gumam Mona sangat pelan. Jacob yang mempunyai pendengaran peka seketika menatap pada wajah kakak perempuannya itu sambil menggelengkan kepalanya samar.
"Hai, Alesha." Sapa ramah si cantik Sharon sembari mengelusi kucing kesayangannya, Maya.
"Hai, Sharon." Balas Alesha.
"Jack, apa kau memiliki urusan dengan Alesha?" Tanya ibunda Jacob, Laura.
Senyum menawan Jacob terbentuk seketika. "Ya, tadi aku ingin memintanya untuk membantuku, tapi kalian terlanjur datang."
"Berarti dia tidak memiliki urusankan di sini?"
Mendengar ucapan Laura barusan, Alesha paham maksudnya. Ia pun berinisatif untuk meninggalkan ruangan mentornya karna tidak mau mengganggu acar kumpul keluarga.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya, maaf mengganggu acara berkumpul kalian." Ucap Alesha seramah mungkin. Jujur saja ia merasa sangat tidak enak karna sudah mengganggu acara berkumpul keluarga mentornya.
"Tidak." Jacob menahan lengan Alesha agar gadis itu tidak beranjak dari duduknya. "Tetap di sini." Jacob menatap intens pada Alesha agar Alesha tidak membantahnya.
"Tapi, Jack." Laura mencoba untuk membuat Jacob mengerti kalau lebih baik Alesha tidak ikut dalam perkumpulan keluarga itu. Namun Jacob membantah, Jacob menganggap Alesha sebagai calon istrinya, jadi tidak masalah jika Alesha ikut berkumpul bersama anggota keluarganya. Ya walau hanya Jacob yang tahu.
Mona yang sudah sangat amat mengenal bagaimana kepribadian adiknya itu menatap Jacob dengan senyum yang membingungkan. Ia mendapati ada sesuatu yang berbeda dari Jacob. Dari sorot matanya, Mona seperti dapat menebak kalau adiknya itu menaruh rasa pada gadis yang baru saja bertemu dengannya. Lagi pula Jacob tidak mungkin sembarangan mengajak orang lain dalam acara kumpul bersama keluarganya. Pikir Mona.
Jacob yang menyadari kalau kakaknya itu sedang menatap ke arahnya langsung saja membalas tatapan Mona dengan seukir senyum sambil mengangguk samar dan sesekali melirik pada Alesha dengan ekor matanya untuk mengisyaratkan kalau Alesha adalah gadis baru yang membuat Jacob jatuh hati untuk yang kedua kalinya. Jacob sadar kalau kakaknya itu sedang menaruh curiga padanya, maka dari itu langsung saja Jacob beri kode kalau apa yang kakaknya curigai itu benar adanya. Beruntung Jacob memiliki kakak yang begitu mengerti dan paham betul bagaimana sikapnya.
Mona langsung mengalihkan pandangannya sambil terkekeh kecil. Kode-kodean yang dilakukan oleh si adik dan si kakak itu tidak disadari oleh yang lain.
"Kau kenapa, sayang?" Tanya Wiliam pada istrinya.
"Tidak apa-apa." Jawab Mona sambil tersenyum senang. Akhirnya, adiknya itu bisa kembali menemukan kebahagiaan baru yang bisa membawa ke dunia dan keadaan lebih baik lagi sejak empat tahun lalu saat Yuna pergi untuk selamanya dan membuat Mona begitu merintih karna tidak tega melihat adiknya, Jacob yang amat tersiksa.
"Tidak apa, Bu. Biarkan Alesha di sini, dia tidak akan mengganggu kita atau mengatakan hal yang kita bicarakan pada orang lain." Ucap Mona sambil melirik calon adik iparnya, Alesha dengan senyum ramahnya.
Sekali lagi Mona melirik pada adik lelakinya dengan senyuman yang masih menetap pada wajahnya.
Ingin sekali Jacob mengatakan 'Terima kasih, kakakku yang cantik' pada Mona. Namun itu tidak mungkin mengingat situasi dan kondisi sedang tidak mendukung.
"Oh ya, Alesha, boleh aku tahu berapa usiamu?" Tanya Mona sembari bangkit dari duduknya untuk dapat duduk disebelah Alesha. "Kau sangat manis." Puji Mona sembari membinarkan kedua pupil matanya. Ia harus bersikap ramah dan sebaik mungkin pada calon adik iparnya itu.
Jacob tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat sang kakak yang sudah memberikan lampu hijau untuk hubungannya dengan Alesha. Sedangkan Alesha? Gadis itu semakin kebingungan dan tubuhnya malah menegang.
Mimpi apa Alesha semalam? Ia dipuji dan diperlakukan ramah oleh kakak dari mentornya itu saat ini.
"Hei, santai saja. Kau tidak perlu canggung seperti itu pada calon kakak iparmu ini." Ucap Mona yang terlontar begitu saja dari dalam mulutnya.
Jacob menghela napas panjang. Mona tidak tahu kalau ia belum mengungkapkan perasaannya pada Alesha. Sedangkan yang lain? Tentu saja mereka juga berekspresi sama seperti Alesha. Melongo dan melayangkan ekspresi aneh bercampur bingung pada Mona.
"Jangan dengarkan dia, Alesha. Kakakku memiliki humor yang tinggi, dia memang selalu seperti itu pada setiap teman wanitaku." Lanjut Jacob dengan ekspresi setenang mungkin agar Alesha mempercayainya. "Mona, bisa tidak kau tidak usah bersikap seperti itu. Kau selalu menganggap gadis yang dekat denganku adalah calon adik iparmu." Jacob memperlihatkan sebuah tatapan isyarat pada Mona berharap kalau kakaknya itu akan mengerti maksud dari tatapannya.
Mona terheran-heran akan ucapan adiknya barusan. Apa ia salah bicara? Bukankah Jacob menyukai Alesha? Atau ia yang salah paham?
"Alesha, bisa kau ajak Sharon berkeliling WOSA?" Pinta Jacob untuk mengalihkan pembicaraan.
"Em, i-iya, bisa." Jawab Alesha yang masih dilanda kebingungan akibat ucapan kakak mentornya tadi.
"Sha, kau bisa berkeliling WOSA sekarang, Alesha akan menemanimu." Ucap Jacob pada adiknya.
Sharon mengangguk sembari menyunggingkan senyumnya. Ia bangkit dari duduk sambil tetap menggendong tubuh kucing kesayangannya, Maya. "Ayo, Al." Ajak Sharon.
"I-iya." Alesha bangkit dari duduknya dan menghampiri Sharon. Barulah setelah itu kedua gadis yang sepantaran itu meninggalkan ruangan Jacob.
Jacob sendiri menghembuskan napasnya dengan lega setelah melihat tubuh adiknya dan Alesha yang sudah menghilang dari balik pintu.
"Jacob, apa aku salah bicara?" Tanya Mona.
"Tidak." Jawab Jacob singkat.
"Lalu?" Mona mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak paham dengan adiknya itu.
"Jangan katakan hal seperti itu didepan Alesha." Jacob melipatkan kedua tangannya sambil menyadarkan tubuhnya pada sofa.
"Kenapa? Bukannya dia.. "
"Dia belum tahu tentang perasaanku, Mona." Potong Jacob.
"Apa? Jadi kau benar menyukai gadis itu?" Laura langsung melayangkan tatapan tidak percaya pada anak laki-lakinya.
"Ya, kenapa? Ibu mau melarangku?" Jacob balik menatap ibunya dengan ekspresi yang datar.
Laura terdiam mendengar pertanyaan balik dari anak laki-lakinya itu. Ia tidak mengira kalau Jacob akan jatuh cinta pada Alesha, padahal Laura sendiri berniat untuk menjodohkan anak lelakinya itu dengan anak dari partner bisnisnya. Tapi mendengar ucapan Jacob, sepertinya Laura akan mengurung keinginannya itu.
"Kalau begitu kapan kau akan mengatakannya pada gadis itu? Aku dan Mona jadi tidak sabar untuk segera mempunyai adik ipar baru." Ledek Wiliam dengan seringai jahilnya.
"Setahun atau dua tahun lagi. Aku akan menunggu Alesha sampai lulus dari WOSA terlebih dahulu." Jawab Jacob dengan santai.
"Jack, kau sungguhan tentang perasaanmu itu? Kau tidak bercandakan?" Tanya serius Mona. Ia tidak mau bercanda kali ini, ia ingin kebahagiaan terbaik untuk adik tersayangnya. Mona akan sangat bersyukur jika Jacob memang sudah menemukan kekasih baru, pasalnya yang Mona tahu adalah Jacob tidak bisa melupakan Yuna, dan itu yang Mona khawatirkan, Jacob tidak mau membuka hatinya untuk gadis lain dan menyiksa dirinya sendiri seperti beberapa tahun yang lalu.
"Tentu saja. Aku tidak akan bermain-main hanya karna urusan cinta."
Senyum sumringah penuh kebahagiaan tercetak jelas pada wajah Mona setelah mendengar jawaban adiknya itu.
"Ah, Jacob. Aku sangat bahagia mendengarnya." Mulailah sikap over sang kakak pada adiknya itu. Mona menaruh pelukan erat pada tubuh adiknya. "Aku pikir kau tidak akan membuka hatimu untuk gadis lain. Aku sudah takut jika itu terjadi, tapi mendengar kalau sekarang ini kau sudah menemukan kekasih baru, aku benar-benar bahagia mendengarnya." Sebelah lengan Mona pun beralih menuju perutnya yang sudah buncit. "Kau akan segera mendapatkan tante baru, sayang."
"Stop, Mona, lepaskan pelukanmu." Ucap Jacob sembari berusaha untuk melepaskan pelukan erat kakaknya itu.
"Kau beruntung Mona begitu menyayangimu, bahkan aku suaminya pun jarang mendapatkan perhatian yang seperti itu dari kakakmu, Jack." Komen Wiliam.
"Ya, aku memang menyayangi adik jelekku ini." Sambung Mona sembari mencubit kedua pipi Jacob.
Laura yang melihat kedekatan kedua anaknya itu hanya bisa tersenyum. Ia tidak bisa berkata apa-apa, namun hatinya begitu bahagia dan terharu. Mona dan Jacob saling menyayangi dan menjaga satu sama lain, Laura merasa sangat amat beruntung memiliki anak seperti Jacob, Mona, dan Sharon tentunya.
"Hentikan, Mona. Aku bukan anak kecil, sakit!" Ringgis Jacob ketika kakaknya itu mencubiti pipinya dengan begitu gemas.
"Heheh, maaf.." Barulah Mona mengakhiri tingkahnya terhadap sang adik sembari dibarengi dengan tawa kecil.
***
Di taman utama WOSA, Sharon dan Alesha asik berjalan berdua sambil berbincang-bincang kecil.
"Alesha, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Nakyung yang tidak sengaja berpapasan dengan Alesha dan Sharon, disusul dengan ketiga teman sekamarnya yang lain.
"Aku sedang berkeliling taman. Oh ya, kenalkan ini Sharon adik perempuan Mr. Jacob."
"Apa?" Tanya keempat teman sekamar Alesha secara berbarengan.
"Mr. Jacob punya adik perempuan?" Saut Maudy dengan ekspresi tidak percayanya.
"Iya, Sharon, kenalkan, mereka adalah teman dan rekan setimku." Ucap Alesha.
Lalu Sharon menyunggingkan senyum manisnya pada Nakyung, Stella, Maudy, dan Merina.
"Hai, aku Sharon, dan ini kucingku, Maya." Ucap Sharon sekalian memperkenalkan kucing kesayangannya.
"Aku Stella."
"Aku Merina."
"Aku Maudy."
"Panggil saja aku Nakyung."
"Kalian mau kemana?" Tanya Alesha pada keempat teman setimnya
"Berjalan-jalan saja. Tapi kami berniat pergi ke pantai, mau ikut?" Tawar Maudy.
"Bagaimana, mau?" Tawar balik Alesha pada Sharon.
Dengan perasan canggung dan sedikit gugup, Sharon pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Oke, ayo kita ke pantai." Ucap Alesha.
....
........
............
.................