May I Love For Twice

May I Love For Twice
Alur Melebur Waktu



"Kenapa? Kau mau mendaftar menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku?"


Kalimat itu terus berputar-putar dalam kepala Alesha, kupingnya pun seakan-akan baru saja menangkap suara mentornya yang mengucapkan beberapa kumpulan huruf itu.


"Aku tidak mengada-ada, Alesha, jika kau mau maka aku akan langsung menikahimu setelah kau lulus dari WOSA nanti."


Dua potongan kalimat itu yang tidak mau terlepas dari dalam benak Alesha. Apa maksudnya? Sungguhan kah? Sorot mata dan cara berucap Jacob tidak menunjukan adanya sebuah gurauan ketika mendebutkan kalimat itu. Alesha berpikir keras. Walau malam sudah larut, Alesha masih memeluk lututnya dengan balutan mukena yang masih ia jadikan pelapis pakaiannya. Menatap ke arah langit perkasa melalui jendela mungil membuat Alesha terus saja memproduksi berbagai rasa dan bermacam pikiran yang entah bagaimana jawabannya akan ditemukan.


Labirin pikiran yang menjadi teka-teki kemana harus mengambil jalan bisa dijadikan perumpamaan hal yang sedang Alesha rasakan kali ini. Hingga Alesha pun memberanikan diri untuk beranda-andai jika mentornya itu memang benar menyimpan rasa padanya.


Apa Alesha akan menerimanya? Itu tidak mungkin, jawabannya adalah tidak mungkin Alesha bisa memberikan kepastian. Hatinya masih enggan berurusan dengan lelaki lain. Mengerti hati, dan mencoba menatap apa yang sedang dijalani. Dua hal itu akan menjadi patokan utama untuk Alesha saat ini. Ia tidak mau ada yang mengusik masalah hatinya, apalagi Adam yang masih menggantung didalam lubuknya.


Namun jika benar mungkin Alesha tidak akan memberikan jawaban apapun. Mentornya itu memang tampan, tapi Alesha sama sekali tidak tertarik untuk menaruh hati. Alesha lebih menganggap Jacob sebagai kakak dan keluarga barunya yang akan selalu membuat Alesha merasa kalau ia mendapatkan kembali rasa kasih dan sayang yang sudah lama lenyap.


Akhirnya, Alesha pun memutuskan untuk tidak melanjuti pikirannya, ia akan tetap teguh pada dugaan kalau mentornya itu memang memiliki sikap yang kadang over protective padanya, dan tidak ingin memasukan prasangka lain, apalagi soal perasaan hati.


Nyaman untuk Alesha jika sudah dalam balutan mukena, rasanya begitu sejuk dan hangat. Berbaring dan menutup mata akan membuat Alesha melupakan pikiran yang sedang bermain-main kali ini. Setidaknya ia bisa melepas beban pikiran yang sepatutnya dihiraukan saja.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Alesha pun singgah pada dunia tidur yang mendamaikan tanpa takut teringat ucapan mentornya tadi sore.


Larutan gelap yang divariasikan dengan kemerlap lelampuan buatan alam semesta menembus kabut atmosfer dan selalu menjadi yang tercinta bagi para pengagum malam. Purnama bulat pengganti sedang menjaga cahayanya untuk mendamaikan penduduk bumi yang sedang berganti alam hingga waktu bagi sang pusat tata surya kembali mengambil alih.


Alih-alih suara ayam berkokok, tidak mungkin hewan itu menjadi alarm untuk para murid WOSA. Maka dari itu, kecanggihan teknologi lah yang menggantikan panggilan alami dipagi hari.


Kelopak-kelopak yang menjaga indra penglihatan untuk tetap dalam fase tidur pun akhirnya sudah mendapatkan kembali waktunya untuk terbuka dan membiarkan sang tubuh menyadari kalau dunia malam sudah berakhir.


Begitulah yang terjadi secara terus menerus dan rutin. Tak tersentuh dan tak terasa, kebutan malam berlomba dengan siang. Alur pejalanan tidak pernah lalai dalam memposisikan untaian hari yang merebut tiap-tiap saat. Hitungan waktu terus berlanjut tanpa menyadari kalau hari kian bertambah, dan bulan pun sudah memasuki tanggal baru. Tidak ada yang dapat mengelak dari perjalanan detik, menit, dan jam yang seolah enggan mengurangi kecepatannya.


Tiga bulan yang dilalui, khususnya oleh Alesha sungguh menghadiahi gadis itu banyak pengalaman yang tidak terkira akan terjadi dalam hidup seorang bocah remaja yang menginjak usia labil. Tempo hari berpacu, perubahan demi perubahan dihasilkan dengan banyaknya materi dan pelajaran keras yang mentornya itu berikan.


Lelah tidak usah dikira, menangis karna pelatihan yang amat berat hanya akan melemahkan mental. Bukan hanya satu atau dua, seluruh murid WOSA merasakannya. Mental mereka benar-benar seperti dipermainkan oleh sang mentor yang begitu tegas dan benar-benar kejam dalam mengendalikan praktek ketahanan dan pengetahuan.


Berapa lama hari yang sudah terlewat? Jangan tanyakan itu. Bahkan bulan ketiga pun sudah dapat dikalikan tiga. Sembilan bulan? Berlalu begitu saja? Dalam goresan huruf yang mengatur waktu? Bagaimana dengan para penjahat yang selalu berambisi buruk? Mereka perlu menyusun strategi secara matang dan melakukan banyak sekali persiapan. SIO semakin menunjukan kekuatannya, dan musuh semakin ketar-ketir mencari jalan.


Tidak adanya gangguan membuat para murid WOSA sukses menjalani proses kebut materi dan praktek keras yang benar-benar membuahkan hasil. Kualitas para mentor dan guru dalam mendidik tidak diragukan lagi, mereka membuktikan dengan memperlihatkan perkembangan pesat yang terjadi pada satu persatu murid dan hal itu sungguh memuaskan hati Mr. Thomson selaku penanggung jawab keseratus murid WOSA angkatan tahun ini.


Memasuki bulan kesepuluh, para mentor mulai menyusun strategi baru. WOSA akan mengadakan tes khusus sebagai ujian akhir didua semester yang tidak terkira akan berlalu seperti dibawa angkut oleh kecepatan cahaya yang satu detiknya saja bisa menempuh bermiliar bahkan triliun kilometer.


Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana hubungan antara Jacob dan Alesha?


Percaya atau tidak, Alesha sangat amat ragu kalau mentornya itu tidak menaruh rasa padanya. Setahun akan genap terjadi tidak jauh dari tanggal yang sudah tertera pada kalendar, yang menurut perhitungan akan tiba dua bulan lagi. Setiap waktu dan saat Jacob bagaikan perekat yang semakin merekat Alesha. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, ketahuilah bahwa Jacob sudah lupa akan masa lalunya, cinta untuk Alesha sudah tidak dapat diukur, walau nyatanya ia masih belum juga mau menjujurkan pendaman selama sepuluh bulan ini. Tidak ada ragu, yang ada malah kemantapan hati Jacob yang bersedia untuk mengambil resiko besar demi bisa hidup berdampingan dengan gadis tercintanya. Tidak lagi terlepas, kala cinta melanda panjang waktu bisa menjadi tolak ukur seberapa kuat Jacob menyembunyikan benaknya.


Begitu pun Alesha. Setelah hampir satu tahun berlalu, Adam pun kian pudar dalam hatinya, ditambah rasa ketertarikannya pada sang mentor yang setiap hari tidak pernah lalai dalam menabur sinyal-sinyal cinta yang dapat Alesha rasakan. Keduanya sudah saling memahami, namun sama-sama memendam.


Mungkin bulan-bulan pertamanya sebagai murid WOSA membuat Alesha acuh akan kode keras yang selalu mentornya berikan, namun memasuki bulan ketujuh, Alesha mulai sadar, semua yang mentornya itu lakukan bukanlah permainan atau hanya candaan semata. Maju lagi memasuki bulan kesembilan dan sepuluh, akhirnya Alesha paham. Mentornya itu menyukainya. Tapi Alesha tetap santai, ia tidak mau hanyut dalam hal itu. Tepisan kecil selalu Alesha lakukan dalam pikirannya saat kembali mengingat kalau mentornya itu diam-diam memang menaruh rasa.


Sedangkan untuk Jacob. Sepuluh bulan yang berlalu sudah tidak terhitung lagi berapa banyak momen mesranya bersama Alesha. Jangan tanyakan pula hal itu. Jacob tidak mau menjawabnya karna ia sendiri lupa bagaimana ia bisa benar-benar dibuat menggila oleh Alesha. Kadang pula Jacob mencuri ciuman dari bibir Alesha jika gadis itu tertidur didekatnya, dan sampai saat ini masih belum ada yang mengetahui perasaan Jacob pada Alesha, kecuali Bastian dan Levin. Mereka yang menjadi saksi bisu akan besarnya cinta Jacob untuk Alesha.


Tidak jarang para murid wanita menggosipi Alesha dan Jacob, namun itu semua ditendang jauh-jauh oleh Alesha dan Jacob.


Lalu bagaimana hubungan Jacob, Mona, dan ibunya, Laura?


Perlahan hati kedua anak malang itu sudah terbuka kembali untuk menerima kehadiran sang ibunda. Jacob lebih banyak tersenyum kecil saat ibunya datang berkunjung ke WOSA, dan Mona pun bisa bersikap dewasa. Memaafkan adalah jalan yang tepat, karna kedua adik kakak itu juga tidak bisa mengelak dari rasa sayang dan cinta untuk ibu mereka, hanya saja waktu itu mereka masih terkunci dalam kekecewaan yang menyebabkan mereka sempat membenci ibu sendiri, tapi sekarang sudah berubah, tujuh bulan yang dilalui sejak kembalinya Laura, kini wanita paruh baya itu dapat sedikit demi sedikit merasakan kembali nikmatnya kebahagiaan bersama anak-anaknya.


Percepatan siang dan malam yang silih berganti tidak henti membuat pertanyaan dalam benak Alesha kian membesar. Terus saja kepalanya mengulangi pertanyaan yang sama sejak tujuh bulan lalu, tepatnya saat ia dan Jacob berada dipinggir pantai dan Jacob menawari Alesha untuk menjadi istrinya.


"Aku tidak mengada-ada, Alesha, jika kau mau maka aku akan langsung menikahimu setelah kau lulus dari WOSA nanti."


Meski sudah tujuh bulan, Alesha masih mengingat dengan jelas bagaimana kalimat itu terucap dari mulut mentornya.


"Alesha, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Stella yang membangunkan Alesha dari lamunannya.


"Tidak ada, hanya sedang beristirahat saja." Jawab Alesha disertai senyuman ramah.


Beberapa temannya berkumpul bersama diantara pepohonan rindang yang menyejukan dikala panas matahari sedang membakar siang. Sedangkan Alesha, dia lebih memilih untuk menyendiri menikmati hembusan angin hingga berakhir pada ketenangan dalam hatinya.


Tidak ada Jacob, mentornya di sana. Pria itu sedang berkumpul di aula bersama yang lain dalam acara rapat dadakan yang berlangsung tidak lebih dari setengah jam.


"Alesha, kemarilah." Panggil Bastian sambil melambaikan tangannya untuk memberi isyarat pada Alesha untuk ikut berkumpul bersama anggota timnya.


Alesha yang mendapatkan perintah seperti itu dari ketuanya pun segera mematuhi dan duduk tepat disebelah Stella.


"Ada apa?" Tanya Alesha.


"Aku memiliki sebuah rencana untuk merayakan hari ulang tahun Mr. Jacob." Bisik Bastian.


"Ulang tahun Mr. Jacob?" Saut Merina tanpa merendahkan nada suaranya.


"Syuttt.. Pelan-pelan. Jadi begini, beberapa minggu lalu aku memerintahkan Lucas dan Mike untuk membuka profil Mr. Jacob disitu resmi WOSA, dan setelah itu kami menemukan tanggal kelahiran Mr. Jacob. Ya sekitar seminggu dari sekarang." Ucap Bastian masih dengan nada berbisik.


"Seminggu dari sekarang?" Alesha mengerutkan keningnya.


Berarti ulang tahun Mr. Jacob cuman beda beberapa hari doang sama ulang tahun Alesha? ...... Ucap Alesha dalam hati.


Bastian mengangguk. "Iya, maka dari itu aku ingin kita membuat kejutan kecil-kecilan untuk dia. Kalian ingat bagaimana kebaikannya pada kita, ya walau kadang dia memang keras dalam mengajar."


"Kau benar, Bas, tidak ada salahnya jika kita membuat sebuah kebahagiaan kecil untuk Mr. Jacob." Saut Tyson.


"Lalu apa yang akan kita rencanakan?" Tanya Nakyung dengan malas.


"Seperti ini, aku ingin dua atau tiga orang diantara kalian membuat kue secara diam-diam. Aku akan bicarakan hal ini dengan ibu kantin dan Mr. Thomson agar kalian mendapatkan izin untuk membuat kue." Ucap Bastian yang melirik pada Alesha, Stella, Nakyung, Maudy, dan Merina. "Kita akan merayakannya pada malam hari di ruangannya."


"Bas, boleh aku usulkan sesuatu." Alesha mulai membuka suaranya dan berniat untuk memberikan pendapatnya. "Aku pikir kita jangan merayakan di ruangannya. Aku tahu dimana tempat yang cocok untuk mengubah pesta kecil itu menjadi sangat berkesan untuk Mr. Jacob."


"Dimana?" Tanya Aiden.


"Taman tengah hutan. Mr. Jacob membuat sebuah taman kecil dan rumah pohon di tengah hutan yang tidak jauh dari WOSA." Jawab Alesha.


"Taman tengah hutan?"


"Membuat rumah pohon?"


"Kau tidak bercanda, Al?"


"Aku tidak tahu kalau Mr. Jacob mempunyai taman pribadi."


Tatapan bingung pun Bastian isyaratkan pada Alesha. "Tunggu, coba jelaskan lagi."


Alesha menghembuskan napasnya dengan sabar ketika mendengar ucapan dari teman-temannya itu. "Jadi begini, Mr. Jacob itu membuat sebuah taman mini dan rumah pohon di tengah hutan yang tidak jauh dari WOSA. Ia menunjukan padaku beberapa bulan lalu, dan aku pikir kita lebih baik merayakan pestanya di sana." Jelas Alesha pada teman-temannya.


"Tapi kenapa Mr. Jacob tidak mengatakan apapun soal tamannya itu kepada kita?" Tanya Stella.


"Aku tidak tahu, tapi yang pasti taman itu masih bagus dan cukup terawat oleh alam." Jawab Alesha yang sedikit gelagapan karna mendapatkan tatapan yang kurang bersahabat dari Stella.


"Sudah tidak usah perdebatkan masalah itu. Jadi bagaimana keputusannya? Kalian setuju jika di taman itu?" Bastian mengedarkan pandangannya untuk menatap satu per satu wajah dari anggotanya.


Selang beberapa detik setelah suara membungkam, akhirnya Maudy pun menjadi yang pertama untuk menyumbangkan pendapat.


"Aku setuju dengan Alesha. Kita bisa membuat pesta kecil-kecillan di taman itu, walau aku sendiri masih belum tahu dimana tamannya."


Sunggingan senyum akhirnya tercipta diwajah Alesha. "Aku akan tunjukkan pada kalian."


"Yang lain bagaimana?" Tanya Bastian.


"Kalau begitu aku juga setuju." Saut Nakyung.


"Aku pun." Lanjut Mike.


"Kita semua setuju." Ucap Lucas dengan ekspresi yang terkesan so'cool.


"Bagus. Aku akan tunjukkan pada kalian tamannya, tapi tidak sekarang, Mr. Jacob akan marah jika tahu kalau kita tidak ada di sini saat dia kembali nanti."


Berlainan tempat, tepatnya di dalam ruang aula yang kini hanya tinggal dirinya seorang, Jacob sedang asik memainkan ponselnya sambil melihat-lihat jenis dan model dari sandal, dress, dan jam tangan wanita melalui situs jual beli online terpercaya. Untuk apa? Ya siapa lagi kalau bukan gadis kesayangannya yang beberapa hari lagi akan menginjak usia sembilan belas tahun. Jacob berniat untuk memesan tiga jenis barang kesukaan gadisnya itu sebagai hadiah dihari ulang tahun Alesha nanti. Kebetulan ada beberapa pegawai SIO yang akan mengunjungi WOSA, jadi Jacob akan menitipkan tiga barang pesanannya itu pada mereka.


"Kau akan suka ini, Al." Gumam Jacob yang kini sedang dilanda kebahagiaan dalam hatinya hingga wajahnya tidak bisa terlepas dari binar senyum cerah.


"Sebentar lagi aku akan kembali, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan." Jawab Jacob dengan ramah.


Merasa ada sesuatu yang mengganjal saat melihat binar bahagia diwajah Jacob, Mr. Thomson pun kembali melayangkan sebuah pertanyaan.


"Kau kenapa? Tersenyum sendiri seperti itu."


"Tidak ada." Jawab Jacob sebiasa mungkin. "Oh ya, kalau begitu aku akan kembali sekarang permisi, Mr. Thomson."


Tanpa basa-basi lagi, Jacob pun bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Mr. Thomson dalam ruang aula itu.


Sambil terus melangkahkan kaki dengan cekatan, Jacob terus saja mengukir senyum menawan yang menarik perhatian para murid wanita yang dilewatinya.


***


Bertamunya kembali sang cahaya malam semakin membenarkan bahwa waktu tidak bermain-main dengan masa yang sudah terlewati.


Nyanyian serangga kecil yang bermelodi di dalam hutan membuat Bastian dan yang lain merasakan aura seram pada kegelapan malam yang membuat pepohonan seperti menggelap.


"Al, kau yakin ini jalannya?" Tanya Stella yang sudah ketakutan setengah mati.


"Tenang saja, aku sudah sangat sering ke sini, tentu saja kau tahu jalannya, dan kita dijalan yang benar." Jawab Alesha.


Sebisa mungkin Stella dan yang lain mengumpulkan tekad dan keberanian untuk melanjutkan jalan mereka menuju taman tengah hutan yang tadi Alesha katakan.


"Aku merasa seperti mengikuti program uji nyali." Komen Lucas yang juga ketakutan saat melihat ke arah pepohonan rindang dan membayangkan ada sesuatu yang menggantung di sana.


"Kita sampai!" Ucap Alesha yang bersemangat saat ia berhasil membawa teman-temannya menunju taman tengah hutan buatan mentornya.


"Nyalakan senter diponsel kalian!" Perintah Bastian sambil menyalakan fitur senter yang ada diponselnya.


"Ini taman yang cukup bagus dan luas. Sangat cocok jika kita gunakan untuk tempat merayakan pesta ulang tahun Mr. Jacob." Ucap Nakyung yang mengedarkan cahaya dari senter ponselnya keseluruh penjuru taman yang dapat terlihat.


"Rumah pohon itu. Apa Mr. Jacob yang membuatnya?" Tanya Aiden.


"Ya, dia yang membuatnya." Jawab Alesha.


"Ada ukiran nama Mr. Jacob dan namamu di sini, Al!" Teriak Lucas yang ternyata sudah berada diatas rumah pohon itu. Tunggu, kapan dia memanjatnya?


"Ya, Mr. Jacob yang mengukirnya, dia juga bilang kalau nama kalian pun akan diukir di sana!" Balas Alesha setengah berteriak.


"Sungguh? Kalau begitu akan aku ukir namaku sekarang." Lucas mengalihkan pandangan pada lantai kayu disekitarnya berharap akan menemukan benda tajam yang akan digunakan untuk mengukir nama dibatang pohon yang tebal dan kasar itu.


"Tidak ada gunanya, kau mau mengukir namamu menggunakan apa?" Tanya Nakyung yang jengah akan tingkah teman setimnya itu.


"Nakyung benar, turun cepat, kita tidak boleh berlama-lama di sini!" Perintah Bastian.


"Baiklah." Raut setengah kecewa seketika terbentuk pada wajah Lucas yang kini mulai menapaki anak tangga untuk turun dari rumah pohon itu.


"Sudah lihat-lihatnya, kita kembali sekarang!" Titah Bastian.


"Sebentar sekali, Bas." Komen Stella.


"Kita ke sini hanya untuk mengetahui dan melihat saja, bukan untuk menikmati malam apalagi berlama-lama. Sudah ayo, Al bawa kita kembali." Balas Bastian.


Alesha enggan untuk membantah ketuanya, jadi ia segera menuruti perintah Bastian untuk membawa timnya kembali menuju WOSA.


Selama perjalanan tidak ada satu pun yang membuka suara, mereka fokus mengikuti langkah Alesha yang memimpin jalan didepan.


Setelah akhirnya sampai pada gerbang belakang WOSA, betapa terkejutnya mereka ketika mendapati sang mentor yang kini sedang berdiri sembari melipatkan kedua tangannya dengan angkuh. Terlihat sangat jelas bagaimana Jacob menatap kesepuluh anggota timnya dengan tatapan dingin yang menusuk.


"Ikut ke ruanganku sekarang!" Perintah Jacob yang benada datar namun menakutkan.


"Aku sudah menduga akan hal ini." Bisik Lucas.


Mau tidak mau Alesha, dan yang lain harus melangkahkan kaki mereka menuju ruangan mentornya yang kini sedang tidak bersahabat. Entah apa yang akan mentornya lakukan nanti, mereka hanya bisa pasrah. Dalam tim itu tidak ada yang berani membantah atau mencela perintah dan ucapan Jacob, kecuali Alesha karna gadis itu sudah tahu sikap asli mentornya.


"Duduk!" Perintah dingin Jacob yang langsung dituruti oleh seluruh anggota timnya.


Jacob mengambil tempat untuk duduk dibangku kerjanya.


"Bastian, duduk didepanku!"


Tanpa perduli detik yang belum berlalu, Bastian segera bangkit dan maju untuk duduk dihadapan meja kerja mentornya.


"Kau bawa ke mana mereka?" Tanya Jacob pada Bastian yang hanya bisa terdengar samar oleh yang lain.


"Pantai." Jawab Bastian yang sekuat mungkin menatap mata Jacob.


"Pantai?" Kerutan pada kening Jacob seketika terbentuk ketika mendengar jawaban dari Bastian.


"Ya, aku dan ingin menikmati waktu malam saja bersama anggotaku di pantai."


"Tapi aku tidak melihat kalian di pantai tadi. Jawab yang jujur!"


Bastian bungkam, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Kau tidak melihat kami karna kami berada di pinggiran hutan tepi pantai, kami juga tidak melihat kau di sana, Mr. Jacob." Saut Alesha. "Apa salahnya kalau kami hanya pergi ke pantai? Kami hanya ingin merileksasikan diri saja."


"Kalian tidak meminta izin dulu padaku, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk pada kalian?" Balas Jacob.


"Kau terlalu berlebihan Mr. Jacob, kami tidak pergi jauh, lagi pula WOSA juga sedang dalam situasi kondusif, Mr. Thomson pun tidak melarang kami." Balas Alesha yang tidak mau kalah.


"WOSA memang kondusif, Al, tapi bagaimana kalau ada hewan liar yang tiba-tiba saja menyerang kalian tanpa sepengetahuanku?" Kini nada suara Jacob mulai meninggi.


Dan mulai lah kembali sebuah perdebatan antara gadis yang dicintai dengan mentor yang menyebalkan.


"Tidak ada, Mr. Thomson pasti melarang kami untuk pergi jika terdapat hewan-hewan berbahaya yang berada disekitaran WOSA!" Kini gantian nada bicara Alesha yang juga ikut meninggi.


"Kau selalu membantah! Apa susahnya mengikuti ucapanku? Aku tidak ingin terjadi hal buruk pada kalian!" Semakin saja Jacob membesarkan nada suaranya yang membuat kesepuluh anggota timnya merasakan ada sedikit sentakkan dalam diri mereka.


Namun Alesha tidak mau kalah, ia sudah terlanjur terpancing oleh emosi hingga akhirnya ia pun memberikan bentakkan balik pada mentornya.


"Cukup! Aku lelah! Kau selalu saja seperti itu, mengatur kami semaumu! Kau tidak memikirkan perasaan kami, Mr. Jacob!"


"Alesha!" Bentak Jacob yang kini mulai terbawa oleh emosinya.


"Apa?! Benar bukan? Disaat tim yang lain bersenang-senang bersama mentor mereka dan menghabisikan waktu dimalam hari untuk berkumpul dan menenangkan diri juga pikiran, kau malah mengunci kami di kamar mess kami dan melarang kami untuk pergi kemana pun! Tanpa kau sadari caramu yang seperti itu sama saja mengekang kami, membatasi gerak kami, melarang ini itu dan semua hal yang menurutmu salah! Padahal Mr. Thomson tidak pernah melarang apapun karna kami juga tidak melanggar peraturan!" Ucapan Alesha itu menggema di segala sudut ruangan Jacob. Luapan kemarahan pun tergambar jelas pada diri Alesha.


Jacob yang geram pun akhirnya menyerang balik ucapan Alesha dengan bentakan yang membuat tubuh Alesha terlonjak kaget saat kupingnya itu menerima suara berat yang melengking menusuk gendang telinganya.


"Cukup Alesha!!" Mata Jacob menggelap dan wajahnya terlihat begitu garang tanda kalau amarahnya sudah memuncak dan menyembur mengenai gadis kesayangannya. "Kenapa kau selalu saja melawanku!! Diantara yang lain kau yang paling berani menolak bahkan membentakku!! Apa kau tidak berpikir kalau aku melakukan itu semua demi menjaga kesehatan tubuh kalian!! Latihan berat menguras banyak energi, dan kalian membutuhkan istirahat yang cukup!! Kau selalu saja berpikir negatif padaku!! Aku adalah mentormu, bersikap lah sopan padaku jika kau mau aku menghargaimu!!"


Alesha terkesiap saat mendengar bentakan kalimat dari Jacob yang menusuk hatinya. Tidak pernah ia melihat Jacob yang memarahinya hingga terasa sekali emosi yang begitu menggebu-gebu. Gadis mana yang tidak sedih jika diperlakukan kasar seperti itu oleh seorang pria? Tanpa terasa Alesha pun mengedipkan kelopak matanya dan turun lah butiran air mata kesedihan bercampur rasa takut. Apa selama ini Alesha tidak pernah menghargai mentornya itu? Apa selama ini Alesha selalu mengacuhkan perintah mentornya itu? Padahal Alesha selaku berusaha untuk menjadi anggota tim yang baik walau kadang ia memang suka melayangkan protes kecil pada sikap mentornya selalu saja mengekang dan mengatur sesukanya.


"Apa aku tidak pernah menghargaimu, Mr. Jacob?" Lirih Alesha saat ia sudah tidak kuasa menahan tangisnya. "Aku memang selalu melawanmu, tapi itu semua juga karna aku dan yang lain merasa kalau kau berubah, kau berlebihan pada kami, aku pun memprotes padamu dengan cara yang baik-baik, tapi kau tidak pernah menganggap ucapanku."


"Alesha.." Stella yang berada didekat Alesha hanya bisa mengelus punggung Alesha berharap kalau gadis itu akan merasa tenang, walau itu tidak mungkin.


"Aku tidak akan menuntutmu untuk menghargaiku, tapi tolong pahami perasaan kami." Lanjut Alesha.


"Bas, bawa anggota timmu kembali ke mess mereka, biarkan Alesha bersamaku." Ucap Jacob yang berusaha untuk menstabilkan emosinya yang tadi sempat tersulut hingga melukai hati gadis kesayangannya.


"Jangan dengarkan dia, Bas, kau ketua di sini, jadilah penengah!" Tegas Alesha.


"Cepat bawa mereka pergi jika kau ingin masalah ini selesai!" Perintah Jacob dengan suara datar namun menekan.


Bastian pun mengangguk. Ia paham maksud dari mentornya.


"Tinggalkan ruangan Mr. Jacob, dan kembali ke mess kalian masing-masing sekarang!" Perintah Bastian yang langsung dituruti oleh kedelapan anggota timnya walau ada sedikit keraguan dalam benak mereka.


"Tidak!!" Bentak Alesha sembari bangkit dan menahan lengan teman-temannya agar tidak melewati pintu.


Jacob yang melihat itu pun segera mengambil tindakan dengan menarik lengan Alesha dan mendorong gadis itu untuk kembali ke sofa. Setelah memastikan kalau semua anggota timnya sudah keluar dari ruangannya, dengan sigap Jacob mengunci pintu dan melemparnya kesembarang tempat.