
21 Jam berlalu dalam perjalanan route Jakarta-Istanbul. Kini pesawat yang Jacob, dan Alesha tumpangi akhirnya mendarat dengan sempurna di salah satu bandara yang terdapat di kota yang juga dikenal oleh sejarah dengan sebutan Konstantinopel.
Alesha merasa sangat bahagia setelah menapakkan kakinya di kota tempat salah satu pahlawan muslim favoritnya pernah berjuang.
***
Setibanya di Turki, Jacob bersama istrinya, Alesha langsung pergi menuju Hotel tempat mereka akan menginap.
Perjalanan yang cukup melelahkan dengan waktu tempuh sekitar dua puluh satu jam, dan saat ini, di Turki tepatnya di daerah Istanbul jam sudah menunjukkan pukul lima subuh.
Ingin tidur, namun tanggung, ingin sholat subuh, sayangnya baik Alesha atau pun Jacob sama-sama belum melakukan mandi wajib, mengingat kemarin pagi mereka berdua sudah melakukan hubungan 'Itu'.
Akhirnya, setelah sampai di kamar hotel yang sudah mereka pesan, Jacob, dan Alesha memilih menyibukkan diri dengan bermain ponsel masing-masing.
Hingga sampai pukul enam pagi, barulah Alesha menaruh kembali ponselnya itu, dan berniat untuk membersihkan tubuhnya sekalian mandi wajib.
"Al, mau kemana?" Tanya Jacob.
"Mandi."
Mendengar itu, Jacob segera meletakkan ponselnya diatas meja, lalu berjalan menghampiri istrinya. "Ayo kita mandi bersama."
"Tidak!" Tolak Alesha dengan tegas.
"Kenapa?" Jacob mengerutkan keningnya.
"Aku ingin mandi wajib, kau ingatkan kemarin pagi kita melakukan apa?" Balas Alesha.
Jacob membentuk smirk pada wajahnya ketika mengingat momen dimana ia melaksanakan 'Ibadah Itu' bersama Alesha.
"Sudah sudah, aku merasa tidak enak sekali, sehari semalam aku tidak mandi," Alesha membalikkan tubuhnya untuk mulai melangkah kembali menuju kamar mandi, namun dengan gerakan cepat, Jacob pun berhasil menahan lengannya.
"Sebentar," Jacob membalikkan tubuh Alesha lalu mengangkatnya dengan sangat mudah.
"Habis ini kita mau kemana?" Tanya Jacob begitu lembut.
"Turunkan aku dulu!" Alesha berusaha untuk melepas tubuhnya yang melayang karna diangkat oleh Jacob.
"Jawab dulu, sugar," Jacob menggigit gemas salah satu pipi Alesha.
"Aww!! Sakit!!" Pekik Alesha sembari memukul bahu suaminya.
"Yasudah kita mau kemana? Hmm.." Rasanya begitu nyaman untuk Jacob berada dekat dengan istrinya saat ini. Maka dari itu ia menahan Alesha untuk tidak mandi terlebih dahulu.
"Kita berkeliling saja. Aku ingin melihat-lihat kota ini," Jawab Alesha.
"Sesuai permintaanmu, istriku," Sejurus kemudian Jacob langsung menghujani wajah Alesha dengan banyaknya kecupan singkat.
"Eemmm.... Jack," Alesha menggerak-gerakkan wajahnya untuk menghindari bibir Jacob, namun ia kalah cepat dengan gerakan ciuman yang suaminya itu hujamkan.
"Cukup!" Alesha menendang-nendangi kaki Jacob sebagai bentuk perlawanan.
"Argh!" Tiba-tiba Jacob mendesah.
Ya ampun!...... Alesha meneguk salivanya. Wajahnya berubah merah dengan ekspresi panik namun tidak dapat melakukan apapun. Hanya bisa diam membisu sembari merutuki kesalahan fatalnya.
"Alesha...." Panggil Jacob yang terdengar sensual. Terlihat raut wajah Jacob yang mungkin sedang menahan rasa ngilu pada area bawahnya.
Bisa bahaya ini...... Gumam Alesha dalam hatinya.
Melihat Jacob yang sedang menutup mata karna merasakan sensasi ngilu-ngilu melayang, Alesha pun harus memanfaatkan momen tersebut dengan mendorong sekuat tenaga dada suaminya itu.
"Maaf, Jack!" Setelah menapaki lantai, barulah Alesha berlari secepat mungkin menuju kamar mandi, dan langsung menutup pintu dengan rapat-rapat.
"Alesha, kau harus bertanggung jawab karna sudah mengusik calon masa depan kita," Ucap Jacob yang dapat terdengar oleh Alesha.
"Tidak!" Balas Alesha. Sungguh berdebar-debar hatinya kali ini. Kenapa juga ia bisa mengenai adik kecil suaminya itu?
"Hmmm.... Huftttt..." Satu tarikan, dan hembusan napas menghantarkan Alesha pada ketenangan.
"Untung masih bisa ngehindar," Gumam Alesha.
***
Setengah jam menghabiskan waktu untuk berendam dalam bathub, kini Alesha telah siap kembali, dan sedang menunggu suaminya, Jacob di depan lobi hotel.
"Lil Ale.."
Alesha sedikit terkejut ketika mendengar Jacob yang memanggilnya dengan tiba-tiba.
"Big Guy, kau mengagetkanku!"
"Hehe, maaf, Al," Jacob mencubit gemas pipi istrinya.
"Awww! Ish, sakit!" Alesha menepis kasar lengan Jacob dari wajahnya.
"Kau jadi sensitif sekali semenjak hamil, Alesha," Lengan Jacob melingkari pinggang istrinya, dan mulai berjalan beriringan.
Mereka berniat untuk mengelilingi kota Istanbul tanpa menaiki mobil. Berjalan kaki menyusuri pinggiran kota, melihat-lihat apa yang belum pernah dilihat di kota itu. Tapi meski begitu, tetap saja pengawasan Taylor bersama anak buahnya tidak akan lepas dari pasangan suami istri yang sedang menikmati masa bulan madu itu.
"Apa kau lapar, Nak?" Tanya Jacob pada juniornya yang berada didalam rahim Alesha.
"Jangan usap perutku di sini! Aku malu!" Dumal Alesha.
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin menyapa anakku," Balas Jacob.
"Aku malu!"
"Kenapa harus malu, sayang?"
"Di sini ramai. Aku takut orang akan berpikiran macam-macam."
Jacob terkekeh. "Memangnya kenapa? Kita kan sudah menikah. Orang lain pun akan langsung paham saat aku mengusap perutmu sembari berbicara, itu menandakan jika kau sedang hamil."
Alesha merapatkan tubuhnya pada Jacob sembari terus berjalan. "Kau tahu, Jack?" Bisik Alesha.
"Hmm? Tahu apa?"
"Teman-temanku di teater tidak percaya jika aku sedang hamil."
Kening Jacob berkerut bingung. "Kenapa bisa begitu?"
"Mereka berpikir jika aku masih sangat muda untuk hamil, dan tidak terlihat seperti wanita yang sudah menikah."
"Tapi kenyataannya kau sudah menjadi istri, dan calon ibu dari anakku. Bukannya mereka ya yang waktu itu membuat heboh acara pernikahan kita?" Jacob tertawa kecil.
"Iya sih, sebenarnya mereka percaya saja setelah aku menunjukkan foto alat testpack -nya, namun mereka seperti tidak menyangka jika aku akan hamil dengan cepat."
"Siapa dulu lelakinya?" Jacob berucap bangga. "Tembakkanku langsung tepat sasaran bukan? Hahahah...."
"Ish!" Alesha mencubit kencang perut suaminya.
"Aww! Sakit, sayang!" Ringgis Jacob.
"Kau ini!" Alesha menatap tajam pada pria jangkung yang ada disebelah itu.
"Memang benar bukan? Aku yang membidik, dan menembak, maka tidak akan meleset," Goda Jacob dengan smirk nakalnya.
"Aku benar-benar tidak menduga jika pria yang akan menghamiliku adalah kau, mentorku sendiri," Alesha berucap malas.
"Tapi kau bahagiakan?" Lagi, Jacob kembali menggoda istrinya sembari menunduk, dan mendekatkan wajahnya pada Alesha.
Sedangkan Alesha, ia balik menunjukan eye smile khasnya. "Iya."
"Aku bahagia karna aku bisa menikah dengan pria yang sangat aku percayai, dan benar-benar menjaga juga bertanggung jawab padaku meski waktu itu ia belum sah menjadi suamiku," Alesha mengangkat sebelah alisnya sembari mengangguk kecil. "Ya walau pun kadang sikapnya itu sangat menyebalkan."
"Aku akan selalu menjaga, dan bertanggung jawab penuh atas kau, juga anak kita nanti," Balas Jacob. Telapak tangan besarnya kini asik bergerak pada area perut istrinya.
Meski terlihat santai, tapi Jacob bersungguh-sungguh akan ucapannya. Ia tidak akan pernah pergi, apa lagi lepas tanggung jawab pada keluarga kecilnya. Biarkan sang bukti cinta tumbuh dalam rahim Alesha. Itu akan menjadi pertanda akan ketulusan, dan kesucian kasih, juga sayang Jacob pada wanita pujaannya.
***
Disalah satu unit apartemen Grand Sparkle milik ibunda Jacob, kini ketiga kawan perempuan Alesha sedang berkumpul, dan membicarakan sebuah topik yang sepertinya begitu serius untuk dibahas.
"Sungguh, aku benar-benar melihat Stella kemarin pagi berjalan dengan seorang pria," Ungkap Merina.
"Apa yang dia lakukan di sini?" Gumam Maudy.
"Apa orang tuanya memiliki bisnis di Indonesia?" Tanya Nakyung.
"Aku rasa tidak. Tapi entah kenapa perasaanku mengatakan jika Stella datang ke sini karna ada tujuan lain," Ucap Merina.
Nakyung, dan Merina terdiam sembari menatap lurus pada teman mereka itu.
"Bisa jadi," Merina menjentrikkan jarinya. "Kau ingatkan bagaimana jahatnya Stella pada Alesha hanya karna ingin mendapatkan Mr. Jacob?"
"Aku jadi penasaran apa niatnya berada di sini. Jika ada waktu aku akan menyelidiki hal itu. Aku tidak mau sampai ia kembali berulah hanya karna obsesinya pada Mr. Jacob," Ucap Nakyung.
"Kau benar. Aku juga tidak tega pada Alesha karna pasti dialah yang akan dijadikan sasaran utama oleh Stella," Sambung Merina.
"Oh ya, ngomong-ngomong Alesha, apa kalian sudah tahu kalau dia sedang hamil?"
"Apa?!!" Pekik Merina, dan Nakyung bersamaan.
"Hamil!!" Ekspresi syok tertera jelas pada wajah Nakyung.
"Alesha hamil!!" Merina menatap tidak percaya pada kawannya, Maudy.
"Iya, dia memberitahu padaku kemarin, dan aku lupa mengatakannya pada kalian," Ucap Maudy.
"Kenapa dia tidak mengatakan langsung pada kita?" Tanya Nakyung.
"Dia bilang kalau dia tidak sempat memberitahukannya pada kalian," Jawab Maudy.
"Ya ampun, Alesha! Aku tidak menyangka dia akan hamil secepat itu," Timpal Merina.
"Kita harus memberinya dukungan. Dia bercerita padaku kalau kehamilan pertamanya saat ini memiliki risiko buruk," Ucap Maudy.
"Risiko buruk? Memangnya apa?" Tanya Merina.
"Dia masih muda, dan memiliki riwayat ASMA juga darah rendah. Tentu saja hal itu membahayakan janinnya. Risiko terburuknya adalah kalau tidak keguguran, paling prematur," Jawab Maudy.
"Sungguh? Kasihan sekali," Merina nampak prihatin.
"Tapi jika Alesha rajin mengikuti anjuran dokter, aku yakin kehamilannya itu akan tetap baik-baik saja," Ucap Nakyung.
"Semoga..." Gumam Maudy.
***
Beralih menuju kota Istanbul, Turki.
Terlihat dua sejoli yang kini tengah berbulan madu sedang asik bercanda disalah satu restoran.
"Aku selalu suka jika mengingat kenangan kita sewaktu masih di WOSA, dan aku tidak akan lupa ketika Mr. Thomson menghukumku, Stella, juga Bastian. Kami menjadi tukang kebun, lalu kau datang, dan aku menyiramimu dengan air selang," Kekeh Alesha.
"Kau ingat rumah pohon yang aku buat, Al?" Tanya Jacob.
"Tentu saja! Kita selalu menghabiskan waktu berdua di sana. Lalu pantai, dan langit malam," Terdengar deru hembusan napas dari Alesha. "Aku merindukan WOSA. kamar messku, baju seragamku. Aku selalu merasa kalau aku sedang berada di dunia dongeng. Interior, dan eksterior WOSA membuatku tidak bisa lupa dengan negri dongeng." Lirih Alesha.
"Jika ada waktu, kita bisa pergi ke sana," Jacob mengelus lembut pipi istrinya. "Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke WOSA."
"Memangnya kau masih suka pergi ke WOSA? Kau kan bukan mentor lagi," Balas Alesha.
"Aku memang bukan mentor lagi, tapi perusahaan ibuku menjalin kerja sama dengan SIO, termasuk WOSA, dan akulah yang bertugas untuk menjadi jembatan agar hubungan SIO dengan perusahaan ibuku bisa terus berjalan dengan baik."
Alesha mengerutkan keningnya. "Sungguh? Kenapa kau tidak mengatakan padaku?"
"Mungkin aku lupa," Balas Jacob sembari mengedikkan bahunya.
Selayaknya sepasang ABG yang sedang kasmaran, Jacob, dan Alesha benar-benar serasi hingga membuat beberapa orang melirik memperhatikan keromantisan mereka.
Senyum menawan disepanjang hari selalu menghiasi wajah Jacob. Melihat istrinya yang riang gembira membuat Jacob merasa benar-benar berguna sebagai seorang suami.
"Jack, kota ini indah juga ya."
"Ah, aku sangat bahagia!!"
"Fotokan aku di sini! "
"Aku cantik tidak? "
"Terima kasih, Big Guy, aku mencintaimu.."
Beberapa kutipan kalimat yang Alesha ucapkan tersebut membuat Jacob begitu bahagia. Senyum samar, namun hati yang sangat berbunga-bunga tidak dapat terelakkan oleh Jacob, bahkan sesekali ia harus menunduk untuk menyembunyikan kekehan, dan kegelian karna melihat tingkah lucu istrinya.
"Tetaplah bersamaku di sini. Aku masih ingin berjalan-jalan."
Sekitar satu jam yang lalu permintaan itu Alesha ajukan sembari memeluk lengan besar suaminya, namun pada kenyataan kini, Alesha sudah tepar diatas rerumputan taman sembari bersandar pada pohon besar.
"Kakiku sakit," Lirih Alesha.
"Mulai sekarang jangan lagi pakai sendal tinggi itu jika kau selalu saja mengeluh saat diajak jalan-jalan!" Timpal Jacob.
"Tapi aku tidak suka jika memakai sandal biasa, apalagi kalau jalan bersamamu," Refleks, Alesha memajukan bibirnya beberapa milimeter kedepan.
Mendengar itu, Jacob pun memutarkan kedua bola matanya dengan jengah. "Yasudah, sekarang maunya bagaimana?"
"Kita istirahat dulu saja sebentar."
Jacob mengangguk kecil sebagai balasan.
Lalu setelah itu Alesha menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya. Cukup nyaman, dan hangat.
"Lelah, sayang?" Tanya Jacob begitu lembut. Atas kemauan, dan inisiatif sendiri, kini sebelah lengan Jacob merangkul tubuh Alesha, sedangkan tangan yang lain bergerak lembut mengelusi perut istrinya yang sedang berisi itu.
Alesha tidak menjawab, atau membalas. Entah kenapa beberapa menit merasakan perlakuan manis Jacob membuatnya mengantuk, belum lagi semliwir angin musim panas yang menyejukan di tengah taman kota.
Suasana di tempat Jacob, dan Alesha berada sekarang sangat sepi dari pengunjung, paling ada juga hanya beberapa, itu pun yang lewat-lewat saja.
"Jack, aku mengantuk," Gumam Alesha.
"Mau pulang? Hmm.."
"Tidak mau," Alesha menggelengkan kepalanya. "Terus elusi perutku, aku ingin tidur sebentar," Lanjut Alesha dengan mata yang sudah terpejam.
"Sesuai perintahmu, Tuan Putri Ale," Balas Jacob sembari mengangkat wajah Alesha lalu memberikan kecupan gemas pada kedua pipi, dan bibir ranum istrinya itu.
Tidak sampai tiga menit berlalu, Jacob sudah merasakan terpaan lembut napas Alesha pada kulit lehernya.
"Cepat sekali tidurnya," Gumam Jacob.
Sekian menit waktu berlalu, namun Jacob masih enggan melepaskan bidikan matanya pada wajah si gadis manisnya. Ya, gadis. Meski sudah menikah, Jacob tetap menganggap Alesha sebagai gadis miliknya.
"Gadis manisku kini sudah mengandung anakku," Kekeh Jacob. "Jadilah ibu yang baik, aku berjanji akan selalu menjaga, dan menyayangi kalian."
"Permisi, Tuan," Tiba-tiba saja Taylor menghampiri Jacob.
"Iya, ada apa?" Tanya Jacob.
"Anak buahku kembali mendapati beberapa orang yang diam-diam mengawasi mansion anda."
"Beberapa orang?" Ulang Jacob. "Apa kalian sudah mencari tahu siapa mereka?"
"Belum, Tuan, tapi aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengawasi balik, dan mencari informasi sebanyak mungkin tentang mereka," Jawab Taylor.
"Bagus. Awasi, dan terus cari tahu tentang mereka! Dan oh ya, satu lagi! Tolong belikan Alesha sandal biasa, dan jangan yang tinggi seperti itu," Jacob menunjuk pada wedges yang masih melekat pada kedua kaki Alesha. "Kau tahukan ukurannya, Taylor?"
"Iya, Tuan," Taylor mengangguk.
Lalu setelah itu, Taylor berpamit pergi, sedang Jacob masih diposisi yang sama sejak awal. Memeluk, sembari terus mengusapi perut istrinya dengan penuh kasih sayang.
30 menit berlalu......
Alesha terusik. Beberapa kerjapan mata membuatnya tersadar dari alam mimpi.
"Eungh, Jack," Gumam Alesha.
"Hmmm, apa? Kau sudah bangun?" Balas Jacob.
Alesha mendongkak dan mendapati kalau suaminya itu sedang menatapnya dengan hangat.
"Aku lapar," Lirih Alesha.
"Jadi, Nona mudaku ini bangun karna kelaparan ya?" Goda Jacob.
"Iya. Aku lapar, dan Baby J meminta ice cream," Lalu Alesha melepaskan tubuhnya dari pelukan Jacob. "Hoaammm....."
Jacob menggertakkan giginya dengan gemas ketika melihat Alesha yang menguap sembari merenggangkan tubuh.
"Kau manis sekali, sayang," Jacob menangkup wajah Alesha. "Sini, biarkan aku menciummu," Sejurus kemudian, wajah Alesha pun kembali dihujani okeh ciuman kilat dari suaminya.