
Sejak Stella keluar, para murid WOSA pun diam-diam membicarakan dan menerka-nerka kasus yang menimpa gadis itu. Tentu saja, mereka semua tidak akan ada yang mengetahui kasus kejahatan Stella terhadap Alesha, Jacob, Hatric, dan Dela, juga pengkhianatan Stella terhadap WOSA dengan bekerja sama bersama Vincent.
Mr. Thomson pun langsung menutup kasus Stella, dan untuk Dela, dengan terpaksa Mr. Thomson pun memecat Dela sebagai murid WOSA, namun ada sedikit keringanan dan kebijakan dari WOSA untuk Dela, yaitu setelah melahirkan nanti, Dela diizinkan untuk melamar dan bekerja di SIO, sedangkan Hatric, Mr. Thomson pun memberikan sedikit kebijakan kepada mentor itu dengan tidak mencabut statusnya sebagai agent SIO, hanya status sebagai mentor di WOSA saja yang akan dicabut. Mr. Thomson memberikan kebijakan seperti itu karna bagaimana pun juga Hatric dan Dela sama-sama tidak menginginkan hal itu, mereka berdua sama-sama terjebak dalam ulah Stella.
***
Dalam malam yang begitu sejuk, Alesha biasa untuk memanjatkan segala doanya dengan sholat malam dua rakaat. Ini sudah satu tahun, dan Alesha banyak sekali mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru. Entah takdir yang bagaimana atau seperti apa yang membawanya hingga bisa sampai sekarang ini, menjadi murid dari WOSA. Alesha tidak menyangka jika ia bisa menemukan kehidupannya dalam sekolah ini. Alesha ingat, kala itu ia sedang berada di dalam rumah kontrakan kecilnya bersama sang kakek, lalu dosennya datang dan membawa surat undangan dari WOSA untuk mengikuti seleksi selama tiga bulan. Dosennya waktu bilang jika WOSA adalah tempat untuk seseorang yang menginginkan beasiswa gratis dan pelatihan untuk bekerja di dunia internasional. Dosen Alesha tidak mengetahui apa itu WOSA yang sebenarnya. Alesha pun tersenyum, sekilas ia berpikir kalau dosennya itu sudah dibohongi oleh pihak WOSA.
Alesha kembali bersujud syukur atas apa yang sudah terjadi pada dirinya, baik atau buruk, suka atau duka, semua Alesha syukuri. Alesha ingin hidupnya lebih bermakna dengan banyak bersyukur. Terutama untuk satu hal itu, kasih sayang dan cinta yang selalu Alesha rasakan dari mentornya. Namun tetap saja Alesha masih merasa ragu. Ia masih dibayangi oleh ucapan mentornya yang selalu memiripkan dan menyamakannya dengan Yuna.
Sebenarnya Alesha tidak masalah jika disamakan dengan Yuna, namun yang membuat Alesha sedih adalah perasaan mentornya yang tumbuh sebab melihat sosok Yuna pada diri Alesha.
Termenung selama beberapa saat, lalu Alesha memutuskan untuk membawa dirinya tidur dengan tetap mengenakkan mukenanya.
***
Setiap hari kembali berjalan seperti biasa. WOSA semakin ramai dan padat dengan adanya seratus murid angkatan tahun ini, pembelajaran juga berjalan dengan lancar.
Perjalanan selama satu tahun yang cukup menantang untuk Alesha sudah dilewatkan. Beberapa permasalahan yang membuat hidupnya terluntang-lantung nyaris diambang kematian.
Mungkin satu tahun bukan waktu yang lama, namun untuk Alesha, satu tahun itu begitu berarti semenjak ia berhasil meloloskan dirinya dan resmi menjadi murid WOSA.
Pergulatan setiap hari dengan pelajaran-pelajaran rumit dan praktek yang dibuat seperti permainan oleh sang mentor. Ketekunan juga kekuatan, mengasah kemampuan dan membuktikan perubahan yang dapat membanggakan. Alesha sudah banyak mendapatkan pemahaman baru walau hanya satu tahun ia menjadi murid WOSA.
Hal-hal yang tak terbayangkan ternyata hadir dan membuat Alesha lebih terbuka dan luas lagi dalam menatap dunia.
Pagi dan siang, lalu senja yang berganti malam. Itulah waktu yang sudah membimbing Alesha hingga sampai dititik sekarang ini.
Ingatan akan setiap bulan-bulan yang sudah dilewat, terkhusus untuk tiga bulan pertama sejak mendebutkan diri sebagai seorang murid WOSA sedikit banyak telah merubah pribadi Alesha.
Dan untuk sang perasan yang masih tergantungkan untuk sang mentor. Alesha tidak tahu pasti kapan akan memberikan kepastiannya. Mungkin waktu itu Jacob masih suka untuk menyamakan Alesha dengan Yuna.
Alesha sendiri sebenarnya tidak bermasalah dengan hal itu, hanya saja ia merasa ragu jika harus menerima cinta mentornya. Alesha selalu berpikir kalau mentornya itu menaruh rasa hanya karna ia memiliki keserupaan dengan Yuna.
Keseharian yang terus berlanjut, dan pastinya momen manis bersama sang mentor kian bertambah dan semakin menunjukan keserasian. Alesha memang menikmatinya, ia suka jika mentornya sudah mengajak ke pantai setelah jam pelajaran sudah habis.
Di pantai, mereka berdua saling berbincang, bercanda, menghabiskan waktu di sore hari, dan Jacob yang tidak hentinya mengucapkan kata 'Aku mencintaimu, Alesha'.
Hanya seukir senyum manis yang dapat Alesha kembangkan untuk membalas ucapan mentornya. Sejujurnya, Alesha merasa sedih jika mentornya mengatakan tiga kalimat ungkapan hati itu. Entahlah, dibalik senyum manisnya, ada sebuah luka terpendam yang mencambuki hati Alesha.
Jacob memang sudah tidak pernah menyamakan Alesha dengan Yuna lagi, atau pun membicarakan soal Yuna, Jacob tidak mau membuat Alesha bersedih. Namun Alesha sudah terlanjur dibayangi oleh ucapan mentornya kalau ia itu memiliki kemiripan dengan Yuna. Alesha seperti menolak ungkapan hati mentornya itu.
Aku bukanlah Yuna...
Kalimat itu selalu Alesha ucapkan dalam hatinya setelah mendengar tiga kalimat rutin yang selalu Jacob berikan untuknya.
Bersedih dalam hati, memendam dua benalu yang menempel pada hatinya. Lukanya pada Adam, dan satu lagi pada sang mentor. Apakah Alesha salah jika ia merasa seperti ditipu? Atau ia yang terlalu terpaku pada ucapan sang mentor yang dulu sering menyamakannya dengan Yuna?
Alesha memang merasakan cinta dan kasih tulus yang selalu Jacob alirkan, namun Alesha tidak mau patah hati lagi, ia selalu menyangkal dan berpikir kalau ucapan dan semua perilaku manis mentornya itu hanya ditujukan untuk Yuna yang melekat dalam dirinya.
Cintamu pada Yuna sungguh besar, Mr. Jacob. Kau menyakitiku jika seperti ini caranya. Jangan beri aku harapan palsu. Cukup Adam saja yang membuatku patah hati......
Jacob yang tidak tahu akan apa yang Alesha rasakan pun terus menerus menggoda, membercandai, dan mengungkapkan semua kata-kata manis yang merupakan perwakilan dari apa yang hatinya rasakan. Jacob benar-benar serius dalam perasaan dan cintanya terhadap Alesha. Bukan karna Alesha mengingatkannya pada Yuna, tetapi ia memang tulus mencintai Alesha karna Alesha mampu membawanya untuk bangkit dan menemukan kembalikan cintanya yang sempat lenyap setelah kepergian Yuna.
Aku sungguh mencintaimu, Alesha. Kau datang disaat yang tepat, dan sekarang kau berhasil menyembuhkan lukaku karna ditinggalkan oleh Yuna. Aku mencintaimu, Alesha, aku sangat mencintaimu....
Semakin hari, waktu terasa semakin cepat dan melesat menebas semua hari yang sudah terlewatkan.
Masa-masa indah terus terukir diantara Jacob dan Alesha. Mereka berdua saling menyayangi dan penuh dengan kebahagiaan dikala bersama. Namun, setelah Jacob kembali ke ruangannya atau pergi, Alesha akan kembali merasakan sesak yang semakin saja tidak terkira.
Kenapa? Perlahan, dan tanpa terarah, ia sudah menaruh rasa pada mentornya, tapi hatinya seperti dibohongi. Alesha terus mengendap luka itu dalam hatinya. Ia ingin melihat tawa bahagia dari sang mentor yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya. Alesha tahu, hal itu hanya menyakiti dirinya sendiri, namun Alesha hanya mencoba untuk membalas semua kebaikan mentornya dengan tetap bersama dan mengukir kisah manis yang sebenarnya adalah pukulan mentah untuk hatinya.
Disepertiga malam, Alesha selalu menangis untuk melepaskan sesaat luka yang ia buat sendiri dalam hatinya. Jacob selalu saja bersikap lembut dan manis, selalu ada untuk menemani dan mampu membuat Alesha melupakan rasa lelah dan letih setelah seharian tubuhnya dipacu untuk belajar dan praktek keras.
Alesha tidak mau berpisah dengan mentornya, ia sudah terlanjur jatuh hati. Namun ingatan kala sang mentor menyamakannya dengan Yuna membuat sebuah keraguan besar dalam hati Alesha.
Lalu lalang keseharian warga sekolah kadang membuyarkan Alesha dari lamunannya. Alesha mencoba untuk bersikap tenang dan biasa saja ketika ia melihat mentornya dari kejauhan.
Apa dihatimu masih ada Yuna, Mr. Jacob? Aku ingin menerimamu, tapi aku ragu. Kau selalu membuatku berpikir kalau aku adalah Yuna, dan kau mencintaiku karna aku mirip dengan Yuna mu itu.....
Satu... Dua... Tiga... Empat..... Detik.... Menit..... Jam.... Hari.... Bulan.... Dan seterusnya.....
Membiarkan hari-hari berlalu dengan rasa cinta dan luka yang membesar dalam waktu yang bersamaan.
"Semakin, ku menyayangimu... Semakinku harus... Melepasmu dari hidupku.... Tak ingin lukai hatimu, lebih dari ini.... Kita tak mungkin tuk bersama..." Alesha bernyanyi tepat disebelah Jacob. "Maafkan aku, yang biarkanmu masuk kedalam hidupku ini... Maafkan aku yang harus melepasmu, walau ku tak ingin...."
Tidak terasa air mata Alesha menitik. Ia pun menundukkan wajahnya sambil terus bernyanyi.
"Semakin, ku menyayangimu... Semakinku harus... Melepasmu dari hidupku.... Tak ingin lukai hatimu, lebih dari ini.... Kita tak mungkin tuk bersamaaaaaaa...... Semakin terasa cintamu, semakin ku harussss.... Melepasmu dari hidupku... Tak ingin lukai hatimu, lebih dari iniiii....kita tak mungkin trus bersama.....Hiks, hiks.. Oooo.. I will let you goo...ooohh... Hiks,.... I will let you gooo... Oohh."
Jacob yang sedang asik memandang hamparan laut pun seketika melirik ke arah Alesha dengan tatapan yang membingungkan. Kalimat terakhir dari lagu yang Alesha nyanyikan menggubris pikiran Jacob.
Aku akan membiarkanmu pergi?.... Gumam Jacob dalam hati.
"Alesha, kau kenapa?" Tanya Jacob yang panik saat mendapati Alesha yang sedang menangis sembari tertunduk.
"Alesha, jangan buat aku panik. Kau kenapa?" Jacob pun mengangkat wajah Alesha untuk memastikan keadaan gadis tercintanya itu.
Menatap sayup penuh sedih sendu, mata Alesha sudah banyak dialiri oleh kristal bening cair.
"Alesha, apa yang terjadi?" Jacob mulai panik dan menghapus air mata yang berada dipipi Alesha.
Tanpa menjawab, Alesha hanya menatap wajah mentornya dengan perasaan sedih yang cukup mendalam. Ia jatuh hati, namun tertahan akan luka yang menjadi benalu dalam perasaannya.
"Lagu apa yang kau nyanyikan tadi? Apa maksudnya 'Aku akan melepaskanmu' dari lirik lagu itu?" Jacob menggoncang pelan bahu Alesha. "Alesha, kau kenapa, sayang?"
"Mr. Jacob.." Mendengar kata 'Sayang', Alesha pun langsung melingkarkan kedua lengannya pada leher sang mentor. Ia tak kuasa, rasa sakitnya semakin menggerogoti hatinya. Alesha pun menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang mentor yang sudah berhasil meluluhkan hatinya, namun juga mengacaukan perasaannya.
"Alesha, hey ada apa? Ceritakan padaku jika kau mempunyai masalah." Ucap Jacob dengan sangat lembut.
"Maafkan aku, yang biarkanmu masuk kedalam hidupku ini... Maafkan aku yang harus melepasmu, walau ku tak ingin...."
Jacob mulai curiga jika lagu yang Alesha nyanyikan tersebut pasti bersangkutan dengan tangis yang sedang melanda gadis itu.
Namun Alesha tetap enggan bercerita dan hanya meminta pada Jacob untuk tetap memeluknya selama ia menangis. Jacob pun tidak kembali melayangkan pertanyaan pada Alesha setelah mendengar permintaan gadisnya itu, walau sebenarnya Jacob sungguh penasaran akan sebab yang membuat Alesha sampai menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
Lalu beranjak dari waktu itu dan beralih menuju waktu lain, tepatnya pada malam hari pukul delapan kurang seperempat, Alesha dan Jacob berdiri bersebelahan dengan jemari-jemari mereka yang saling menyatu. Memandang pada cakrawala gelap dengan air laut yang seolah menghitam, Alesha dan Jacob hanyut dalam pikiran masing-masing sebelum akhirnya Jacob memilih untuk memeluk tubuh Alesha dari belakang.
"Aku mencintaimu, Alesha."
Aku bukan Yuna, Mr. Jacob....
Alesha menutup matanya, merasakan sakit yang menikam hatinya.
"Kau lihat, Al. Bintang-bintangnya sungguh indah." Bisik Jacob.
Alesha memaksakan bibirnya untuk mengukir senyum agar tidak membuat mentornya merasa curiga. "Setiap malam juga selalu indah, Mr. Jacob."
"Ya, kau benar." Jacob semakin mengeratkan pelukannya pada Alesha, dan Alesha pun merasakan kehangatan tubuh sang mentor yang mendekapnya dari belakang.
Niat hati ingin menyandarkan kepalanya pada dada sang mentor, namun Alesha malah meringgis menahan sakit pada kepalanya yang berbenturan dengan cincin yang masih setia menjadi liontin dari kalung yang selalu mentornya itu pakai.
Jadi kau masih memakai kalung berliontin cincin yang kau belikan untuk Yuna itu ya, Mr. Jacob?...... Bukan hanya kepalanya saja, tapi hati Alesha dibuat sakit lagi saat menyadari keberadaan cincin pada kalung sang mentor yang seharusnya diberikan untuk Yuna.
"Mr. Jacob, aku mengantuk, aku ingin kembali ke messku." Pinta Alesha sembari melepaskan pelukan Jacob pada tubuhnya.
"Tapi ini baru jam delapan kurang, Alesha..." Balas Jacob dengan raut kecewa yang langsung terbentuk begitu saja.
"Aku lelah, aku ingin tidur. Jika kau masih ingin di sini silahkan saja, aku akan kembali ke messku." Tanpa memperdulikan Jacob yang sedang menahan kekecewaan, Alesha melangkah begitu saja untuk mulai berjalan.
"Oke oke, tunggu, aku akan mengantarkanmu.." Jacob tidak pernah merasa curiga terhadap sikap gadisnya itu. Yang Jacob tahu hanyalah satu, mereka berdua sama-sama bahagia saat menghabiskan waktu bersama. Alesha tidak pernah menunjukan kalau dirinya menahan rasa sakit dalam hati.
Tidak apa. Alesha senang melihat mentornya yang begitu bahagia, Alesha tahu kalau ia tidak akan mungkin bisa membalas jasa mentornya itu.
Mr. Jacob kayanya bahagia banget kalau udah sama Alesha. Tapi Mr. Jacob gak tahu kalau Alesha nahan semua rasa perih dalem hati Alesha. Alesha cuman pengen bisa bikin Mr. Jacob seneng, Mr. Jacob udah berjasa banget buat Alesha, jagain Alesha, lindungin Alesha, makanya Alesha pengen Mr. Jacob bahagia, biar pun Alesha yang harus nahan rasa sakit ini sendirian....
Untaian hari, itulah yang dapat menjadi bukti dari kebersamaan yang memiliki dua sisi yang bertolak belakang. Jacob selalu bahagia dan merasa semakin sempurna saat bersama Alesha, namun dipihak Alesha sendiri justru merasakan yang sebaliknya.
Melalui masa-masa indah tanpa ada gangguan atau kekacauan. Setiap hari disetiap minggu, berbulan-bulan yang berlalu, pantai Utara WOSA atau rumah pohon menjadi lokasi favorit untuk Jacob dan Alesha. Mereka berdua bermain, bercanda, dan mengukir momen yang begitu menggelitik dalam kurun waktu yang semakin mendekati akhir dari perjalanan para murid senior di WOSA.
Kekompakkan dalam tim sudah tidak perlu diperhitungkan. Jacob memang tegas dalam mendidik dan memberikan pengarahan, belum lagi guru-guru tiga mata pelajaran utama menekankan pada setiap murid untuk dapat menguasai materi yang sudah diberikan. Astronomi, Fisika dan Kimia, juga Sains. Biasanya SIO akan menempatkan lebih dari lima puluh pesen murid WOSA dalam bidang pekerjaan yang bersangkutan dengan tiga mata pelajaran itu.
Hanya sebagian kecil saja yang SIO ambil untung dijadikan agent dan mentor. Misi SIO untuk menjelajah dan menemukan semua hal dalam bumi ini semakin meningkat, terutama dalam dunia kelautan. Para peneliti di dunia ini baru mampu menjamah lima persen dari keseluruhan lautan yang ada di bumi, tentunya masih banyak hal yang tersembunyi.
Tidak ada kata pilih kasih dalam mengajar, walau Jacob mencintai Alesha, tapi Jacob tidak pernah menganak emaskan Alesha saat proses pembelajaran sedang berlangsung. Semua sama dan semua harus adil, dan itu berlangsung secara terus menerus.
Perjalanan satu tahun yang cukup diwarnai oleh beberapa drama sudah berlanjut hingga sudah memasuki masa baru dan tahap akhir untuk menyiapkan diri sebelum bekerja disalah satu organisasi tertutup yang bergerak dalam bidang penelitian ilmu pengetahuan.
"Alesha!!" Panggil Nakyung sembari berlari mendekati sipemilik nama.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ayo, semua sudah menunggu di aula!" Tanpa meminta izin lebih dahulu, Nakyung pun langsung menarik lengan Alesha dan membawanya berlari.
Ya. Hari ini para murid WOSA diperintahkan untuk berkumpul di ruangan aula utama. Mr. Thomson akan mengumumkan sesuatu yang sangat penting.
Sesampainya di ruangan aula, Nakyung lalu menggiring Alesha menuju kelompok mereka yang sudah terduduk santai mengitari meja bulat.
"Duduklah disebelahku." Ucap Jacob pada Alesha sembari menepuk-nepuk bangku kosong yang ada disebelahnya.
"Duduklah disebelahku..." Ledek Lucas yang mendramatisir cara bicaranya sembari menepuk-nepuk bahu Mike.
"Ah, terima kasih, Mr. Lucas, aku sangat mencintaimu...." Lenjehnya ucapan Mike barusan pun mengundang tawa dari anggota tim yang lain, terutama Lucas yang terbahak-bahak.
Dasar ya, Mike dan Lucas itu memang sudah satu frekuensi jika dalam hal menjahili orang lain, termasuk mentor mereka sendiri.
Wajah Alesha memerah akibat sindiran yang Mike dan Lucas lakukan, sedangkan Jacob hanya terkekeh dan tersenyum kecil.
"Selamat pagi semuanya.." Sapa Mr. Thomson yang memasuki ruangan aula dan segera menempati posisinya dihadapan seluruh murid WOSA angkatan tahun lalu.
Tidak ada yang mengetahui apa tujuan Mr. Thomson mengumpulkan seluruh murid senior WOSA hari ini, hingga saat Mr. Thomson mulai berbicara dan menjelaskan tujuannya, barulah para murid yang ada di dalam ruangan itu paham.
Mr. Thomson menjelaskan mengenai ujian kelulusan yang akan berlangsung seminggu lagi. Pengurus WOSA dan SIO sudah sepakat dan juga sudah menentukan lokasi untuk para murid mengerjakan ujian kelulusan. Sama halnya seperti ujian semester dua yang dilaksanakan setahun lalu, kini para murid senior di WOSA akan kembali mengemban misi dan tugas. Namun ada yang berbeda dalam ujian akhir kali ini, setiap tim memiliki tugas yang berbeda, tidak seperti setahun lalu dimana para murid menjalankan misi yang sama, yaitu mengaktifkan kartu memori yang diletakkan secara tersembunyi diberlainan tempat.
Seperti halnya seorang ilmuan, kali ini para murid WOSA akan melakukan studi penelitian terhadap sampel benda bersejarah dibeberapa lokasi tanpa bimbingan sang mentor. Benda-benda yang akan diteliti pun jelas berbeda-beda. Ada sampel bebatuan purba, sampel hewan purba, batu meteor, dan lain-lain.
Namun untuk ujian akhir kali ini SIO tidak akan menuntut para murid untuk dapat menemukan sampel-sampel itu karna pastinya memang akan sulit dan menyusahkan, bahkan para peneliti sekali pun terkadang gagal dalam mendapatkan atau menemukan sampel-sampel seperti itu.
Intinya, ujian akhir ini diselenggarakan untuk menguatkan mental dan memperkenalkan juga menunjukan pekerjaan yang sesungguhnya yang akan dilakukan oleh para murid WOSA setelah bekerja di SIO. Melakukan penelitian, bersatu dengan alam, memecahkan masalah, dan menemukan benda-benda yang berasal dari masa lampau yang tersembunyi didalam atau dipermukaan bumi.
"Kita akan beralih profesi menjadi seorang ilmuan selama beberapa hari." Ucap Tyson.
Mr. Thomson pun berjalan mendekati sebuah layar LED besar yang menempel pada tembok. "Kalian bisa melihat tugas, juga lokasi tempat kalian akan melakukan studi penelitian untuk ujian akhir pada layar ini."
Seluruh pasang mata yang ada dalam ruang aula itu menatap lurus pada layar LED yang terpampang besar dan menunjukan dengan sangat jelas nama tim, lokasi, juga tugas yang harus dilakukan oleh seluruh murid senior WOSA yang sudah terbagi dalam sepuluh kelompok.
Sesaat ruangan aula pun hening tanpa ada suara yang terdengar. Namun setelah beberapa saat berlalu, tiba-tiba saja Jacob menggebrak meja dengan gerakan refleks.
Brak....
"Astagfirullah..." Gumam Alesha yang terkejut.
Sedangkan Jacob, pria itu seakan terkena serangan jantung dadakan yang membuat tubuhnya mengkaku dengan tatapan mata yang membulat sempurna juga mulut yang sedikit terbuka.
Syok!
Mungkin satu kata itu dapat mewakili apa yang sedang terjadi pada Jacob saat ini.
"Himalaya..." Bisik Jacob dalam keterkejutannya.