
Sebelumnya, Jacob mencari keberadaan Alesha yang tiba-tiba saja menghilang dari jangkauannya.
Jacob berkeliling WOSA dan menanyai keberadaan gadisnya pada setiap orang yang ia jumpai, hingga ketika ia sampai di taman pinggir gedung mess, ada seorang security yang memberitahu kalau Alesha berjalan sendirian ke arah taman yang berbatasan langsung dengan hutan.
Otomatis Jacob langsung terkejut mengingat taman itu terletak cukup jauh dari area sekolah. Tidak banyak berpikir, Jacob pun langsung berlari secepat mungkin menuju taman itu, hingga sesampainya ia, betapa terkejut dan amarahnya memuncak karna melihat gadisnya yang sedang bermesraan dengan lelaki lain, tapi untung saja ia datang diwaktu yang tepat.
***
Kini Jacob membawa Alesha masuk ke dalam kamarnya. Alesha yang sedari tadi terus meronta dengan gerak gerik menggoda membuat Jacob frustasi.
Beberapa kali Alesha berdesis dan mengeluarkan desahan, hal itu sungguh menyusahkan Jacob. Satu sisi Jacob miris melihat keadaan gadisnya sekarang ini, tapi disisi lain jiwa lelakinya juga sudah terpancing untuk bercinta dengan Alesha.
"Tidak! Aku tidak akan pernah melakukannya tanpa ada ikatan pernikahan, Alesha!" Jacob mengerang frustasi. Ia meletakkan tubuh Alesha diatas kasur besarnya. Tetapi Alesha cukup brutal dan semakin liar. Gadis itu menarik tubuh Jacob agar bisa saling bertumpang tindih.
Kini Alesha semakin menggeliatkan tubuhnya dibawah tubuh sang mentor.
"Alesha, sadar!" Jacob menepuk-nepuk pipi Alesha yang tentunya tidak akan berguna juga.
Alesha menggigiti bibir bawahnya untuk semakin menggoda Jacob, sedangkan Jacob berusaha keras untuk tetap sadar dan mengendalikan dirinya yang sudah terpancing akan godaan kenikmatan yang bisa ia dapatkan dalam kesempatan ini.
"Tidak! Jangan buat aku menggila, Alesha. Kumohon." Ucap Jacob dengan pasrah.
Alesha tidak memperdulikan itu. Dirinya sudah jauh dari kewarasan dan kesadaran akibat obat perangsang yang berada dalam minumannya. Kini gejolak nafsu sudah menguasai dirinya, dan bahkan tubuh mentornya pun berhasil dibalikan. Jacob berada dibawah tubuh Alesha kali ini.
"Alesha, jangan seperti ini, kau membuatku gila, Al." Jacob sudah tidak tahu harus bagaimana. Godaan untuk menjamahi tubuh Alesha sangat lah kuat dan besar, tapi Jacob tidak mau melakukannya karna ia tahu Alesha sedang diluar kesadaran kali ini.
"Cukup!" Ketika Alesha ingin berniat untuk menaruh ciuman, seketika Jacob pun bangkit dengan mendorong tubuh Alesha. Sedangkan Alesha terjatuh kembali keatas kasur dan menggeliat di sana.
Jacob langsung saja menghindar dan menjauhi gadisnya itu, kini Jacob berdiri tidak jauh dari kasurnya.
"Argh..." Desah Alesha sembari membuka satu persatu kancing baju kemeja yang dikenakan olehnya.
"Tidak, Alesha. Jangan lakukan itu!" Jacob pun semakin kacau kala melihat Alesha yang sedang melucuti bajunya sendiri.
Jacob menjambak rambut dan menelan salivanya setelah menyaksikan baju kemeja yang Alesha kenakan itu melayang dan mendarat di lantai.
"Alesha, sadarlah kumohon, jangan menyiksa dirimu dengan bertingkah seperti ini." Lirih Jacob yang pastinya dapat terdengar oleh telinga Alesha. Tenggorokan Jacob terus dialiri oleh saliva saat matanya menangkap tubuh bagian atas Alesha yang hanya tinggal tersisa bra dan tanktop berwarna hitam pekat, begitu kontras dengan kulit putih Alesha.
Jacob berdecak frustasi. Tubuh Alesha begitu menggodanya, bahkan Jacob tidak bisa mengalihkan perhatiannya pada tubuh bagian atas gadisnya itu. Sungguh menggoda untuk dinikmati.
"Argh...." Erang Jacob sembari menjambak kencang rambutnya. "Alesha, jangan membangunkan yang sedang aku tahan, Al. Kau tidak tahu bagaimana sulitnya aku menahan ini!" Jacob menatap prihatin pada gadisnya itu.
Tetapi Alesha tidak perduli, ia pun turun dari atas kasur mentornya dan berjalan mendekati Jacob dengan ekspresi juga tatapan menggoda bersama bibirnya yang terus bermain-main untuk menarik Jacob. Bukan hanya itu, Alesha bahkan mulai membuka celana jeans yang melekat pada kakinya.
"Tidak bisa dibiarkan. Maafkan aku, Alesha." Jacob segera berlari menuju luar kamarnya lalu menutup dan mengunci pintu kamar untuk menahan Alesha di dalam sendirian.
Jacob pikir itu cara terbaik, membiarkan Alesha sendirian di kamarnya hingga efek obat perangsang yang sedang bekerja dalam tubuh gadis itu habis.
"Maafkan aku mengurungmu di dalam, Al. Aku tidak akan bisa jika harus menghadapimu yang seperti itu saat ini." Ucap Jacob dengan lemas.
"Sialan, sepertinya Alesha memang dipengaruhi oleh obat perangsang, ia tidak mungkin melakukan hal semenjijikan itu." Racau Jacob.
"Buka pintunya!" Ucap Alesha dari dalam kamar.
Dug...
Dug...
Dug...
Jacob hanya bisa pasrah kala pintu kamarnya diketuk-ketuk oleh Alesha.
"Maaf, Alesha." Lirih Jacob. Ia terduduk lemas sambil bersandar pada dinding. Jacob berusaha untuk menjernihkan pikirannya, namun bayangan tubuh Alesha yang hanya dibaluti oleh bra dan tanktop berwarna kontras itu terus mengisi ruang pikirannya.
Jacob tidak tahu bagaimana jadinya jika ia tetap berada di dalam kamarnya itu bersama Alesha. Mungkin ia dan Alesha sudah terjerumus dalam kenikmatan haram itu.
Beralih menuju tempat lain yang berlokasi di taman belakang gedung mentor, si pengkhianat itu sedang berusaha untuk menahan emosinya karna misinya yang gagal. Awalnya si pengkhianat itu berniat untuk menjerumuskan Alesha dengan cara mencampurnkan obat perangsang kedalam sirup yang Alesha minum tanpa sepengetahuan orang lain lalu setelah itu membuat Alesha melakukan hubungan terlarang dengan salah satu mentor WOSA, Hatric. Si pengkhianat itu membeli obat perangsang satu minggu yang lalu sebelum waktu berlibur habis.
Hatric pun tidak tahu kalau minumannya ternyata dicampuri obat perangsang oleh si pengkhianat itu, dan Hatric yang sudah setengah mabuk dibawa oleh si pengkhianat itu menuju taman tempat Alesha berada. Hatric tidak ingat siapa yang membawanya karna orang itu memakai pakaian dan topi penutup wajah yang serba hitam.
Mula-mula si pengkhianatan itu juga sempat terkena imbasnya akibat obat perangsang yang sudah bekerja dalam tubuh Hatric, namun dengan cepat dan susah payah, si pengkhianat itu menggiring Hatric menuju Alesha yang sudah menggeliat liar.
"Lihatlah, gadis itu yang menginginkanmu malam ini." Ucap si pengkhianat itu sembari menujuk pada Alesha.
Hatric yang melihat gelagat menggoda dari Alesha pun semakin bergairah dan akhirnya melepaskan pelukannya pada si pengkhianat lalu berjalan menuju Alesha.
Si pengkhianat itu berpikir kalau Alesha dan Hatric akan langsung melakukan hubungan haram karna mereka sudah sama-sama dikuasai oleh gairah nafsu, namun tidak lama, si pengkhianat itu pun berdecak sebal hingga menonjok pohon yang berada disebelahnya sebab melihat kedatangan Jacob yang menghancurkan rencananya.
"Mr. Jacob, kenapa kau harus datang?" Geram si pengkhianat itu sembari mengepalkan tangannya. "Sekarang apa yang terjadi dengan kau juga Alesha di sana?" Lanjut si pengkhianat itu sembari membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah gedung mentor.
Beralih kembali menuju ruangan Jacob, pria itu masih termenung sendiri setelah dua jam berlalu. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan gadisnya di dalam kamar sana. Semoga saja efek obat perasang itu sudah habis. Harap Jacob.
Melirik ke arah jam dinding, lalu setelah itu kepintu kamar. Jacob rasa ini sudah waktunya ia mengecek keadaan gadisnya itu. "Semoga efek obat perangsang itu sudah habis, Al."
"Hmm, Huftt.." Jacob sedang meyakinkan dirinya untuk membuka pintu kamar itu.
Ceklek...
Gagang pintu tertekan kebawah dan pintu pun mulai bergeser.
Langkah pelan membawa Jacob memasuki kamarnya yang terasa begitu hening.
"Alesha.." Jacob cukup terkejut kala mendapati gadisnya yang sudah tak sadarkan diri diatas lantai dengan kondisi yang kacau. Rambut yang acak-acakkan mengelilingi lantai yang berada disekitaran kepala Alesha, beberapa garisan merah sisa cakaran menghiasi leher hingga dada atas gadis itu, dan juga bibir yang sedikit membengkak, Jacob juga kembali meneguk salivanya saat melihat kaki mulus Alesha yang hanya dibaluti oleh legging hitam sepaha.
"Alesha, apa yang kau perbuat pada dirimu sendiri?" Rintih Jacob sembari mengangkat tubuh gadisnya untuk dipindahkan keatas kasur.
"Alesha..." Lirih Jacob yang menatap nanar pada wajah tenang Alesha. "Kau membuatku gila, Alesha." Jacob pun segera menyelimuti tubuh Alesha dengan selimut tebalnya.
Jacob tidak mau terus melihat tubuh Alesha yang membuatnya begitu tergoda. Sebenarnya Jacob ingin memakaikan Alesha baju dan celana jeans milik gadisnya itu, hanya saja hal itu pasti akan membuat Alesha terusik dan bangun, jadi akhirnya, Jacob pun membiarkan Alesha tertidur dengan hanya mengenakkan bra serta tank top, dan celana legging sepaha saja dengan selimut yang menutupi seluruh area tubuh, kecuali kepala.
Tenang saja, Jacob bisa menahan gairahnya asal Alesha tidak bergelagat seperti dua jam yang lalu.
"Alesha..... Kau hampir membuatku kehilangan kewarasan dan kontrol diri tadi." Ucap Jacob yang sudah menempatkan dirinya disebelah tubuh Alesha. Jacob memposisikan tubuhnya miring menghadap ke arah Alesha dengan kepala yang tertopang pada telapak tangannya.
Pandangan Jacob terus menelisik setiap inchi wajah Alesha yang sedang tertidur dengan damainya.
Jacob tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia melakukan 'Itu' dengan Alesha. Mungkin Alesha akan sangat membencinya. Tapi untung saja Jacob masih mampu mengendalikan kesadaran dirinya hingga berhasil menghindari Alesha tadi.
"Alesha, aku tidak mau kau membenciku, jangan pancing aku lagi seperti yang kau lakukan tadi." Jacob pun menurunkan sedikit selimut yang membaluti tubuh Alesha untuk memberikan ciuman kilat pada kedua bahu mulus gadis itu.
"Aku mencintaimu, mimpilah yang indah." Kalimat pengantar itu Jacob ucapkan sesaat sebelum ia mengambil jarak yang lebih renggang lagi dari Alesha.
Malam pun terus berlanjut dengan membawa banyak penduduk bumi untuk larut dalam dunia semi bayangan yang nyata, namun hanya berlangsung selama beberapa jam saja. Karna malam juga harus membagi waktunya dengan belahan bumi lain.
Matahari kembali memunculkan dirinya diufuk timur, dan aktivitas pagi hingga sore hari pun akan segera dimulai kembali.
Dua buah kelopak mata perlahan bergerak untuk dapat membuka jalan untuk indra penglihatannya.
"Ehm...." Erang Alesha saat terbangun dari tidurnya. Kerjapan beberapa kali pada matanya dilakukan agar dapat menyesuaikan cahaya yang ada dalam ruangan itu.
Ruangan?..... Ucap Alesha dalam hatinya.
Ya, ruangan. Lebih tepatnya ruang kamar mentornya.
Alesha termenung cukup lama untuk mengumpulkan kesadarannya dan berpikir lebih jelas lagi.
Ia baru saja terbangun, saat ini ia sedang atau masih berbaring diatas sebuah kasur empuk dengan selimut putih tebal lembut yang menutupi seluruh area tubuhnya, dan ruangan ini, Alesha merasa seperti tidak asing, tapi ruangan ini bukanlah kamar messnya. Lalu dimana ia sekarang?
Dimana Alesha? Trus ini ruangan siapa? Bentar. Semalem....
*
*
*
"Astagfirullah!" Alesha menepuk keningnya ketika ia mengingat sesuatu yang terjadi pada dirinya tadi malam. Tubuh Alesha bergetar, dadanya naik turun cukup cepat untuk memacu jalannya napas, wajahnya pucat dengan ekspresi panik bercampur takut.
Perlahan, Alesha pun memberanikan diri untuk membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Hiks, gak, ini gak mungkin." Alesha mulai terisak. Ia mendapati tubuh bagian atasnya yang hanya memakai dalaman saja tanpa ada baju kemeja coklat yang ia kenakan tadi malam.
"Hiks, enggak, Alesha gak mungkin ngelakuin hal yang kaya semalem." Air mata Alesha turun kian melebat membasahi wajahnya yang sudah memucat. Alesha menggenglengkan kepalanya beberapa kali untuk menyangkal kejadian semalam yang menimpanya. Sangat menyakitkan dan memalukan. Tubuhnya nyaris telanjang dengan hanya mengenakan pakaian dalam juga legging pendek untuk bagian kakinya.
"Hiks, hiks, hiks... Enggak, ini gak mungkin. Astagfirullah, kenapa Alesha jadi kaya gini." Getaran tubuh Alesha semakin kencang bersamaan dengan tangis yang kian memecah.
Tanpa Alesha sadari, Jacob yang sedang berbaring disebelahnya pun perlahan mulai mengerjapkan mata dan meninggalkan dunia mimpi. Telinga Jacob mendengar sebuah suara kecil yang sedang terisak. Apakah suara itu berasal dari Alesha? Pikir Jacob.
Jacob yang tertidur dengan posisi membelakangi Alesha pun langsung membalikkan tubuh untuk menghadap ke arah gadisnya itu.
"Alesha..." Panggil Jacob pelan.
Merasa namanya dipanggil, Alesha pun langsung menengok keasal suara yang memanggilnya, tepatnya ke arah samping kiri.
"Mr. Jacob!" Pekik Alesha yang baru menyadari keberadaan sang mentor yang ternyata sedang berbaring disebelahnya. "Mr. Jacob, apa yang kau lakukan?" Alesha berteriak histeris sembari membawa dirinya bangkit dan turun dari atas kasur untuk menjauhi mentornya. Selimut tebal itu tetap Alesha tahan dengan kedua lengannya agar tetap menutupi seluruh area tubuhnya dari ujung kaki hingga leher.
Alesha berdiri lumayan jauh dari kasur mentornya itu. Ia takut, sangat takut, tangisnya tidak bersuara, namun air mata terus mengalir, tatapannya lurus sendu membidik dua manik hitam milik mentornya.
Melihat tubuh Alesha yang bergetar kencang, Jacob pun memutuskan untuk turun dari atas kasurnya dan mendekati gadisnya itu, ia berniat untuk menceritakan semua yang terjadi semalam, namun Alesha malah bergerak kian menjauh.
"Jangan dekati aku! Apa yang kau lakukan padaku semalam, Mr. Jacob?" Teriakkan Alesha itu langsung membuat Jacob tertegun di tempatnya berdiri sekarang.
"Apa yang kau lakukan padaku semalam?" Teriak Alesha lagi dengan tangisan yang kian menjadi-jadi.
"Tidak, Alesha dengarkan aku, aku tidak melakukan apapun padamu semalam." Jacob mengucapkan kalimat itu dengan perasaan panik dan takut. Ia memberikan tatapan antara yakin tidak yakin yang membuat Alesha merasa ragu kalau mentornya itu tidak melakukan apapun.
"Kenapa kau tidur disebelahku? Baju dan jeansku juga berserakan dilantai! Apa yang kau lakukan padaku saat aku pingsan semalam!!" Suara Alesha itu menggema diseluruh sudut kamar Jacob.
"Alesha, dengarkan aku, jangan salah paham dulu, aku tidak melakukan apa-apa padamu semalam." Balas Jacob yang malah bertambah panik.
Ceklek.....
*
*
Pintu kamar terbuka dan munculah Mr. Thomson bersama Laras juga Hatric dan Dela.
Mereka semua sama-sama saling terkejut, terutama Mr. Thomson dan Laras yang mendapati baju kemeja juga celana jeans yang terkapar diatas lantai, ditambah Alesha yang sedang memeluk dirinya dengan balutan selimut tebal, semakin lah memuncakkan rasa kecurigaan Mr. Thomson juga Laras.
"Jacob, apa yang terjadi?" Bentakkan Mr. Thomson itu mengejutkan diri Alesha juga Jacob.
"Mr. Thomson, ini tidak seperti yang kau lihat, percayalah." Balas Jacob yang berusaha untuk meyakinkan atasannya itu.
"Alesha, apa itu adalah pakaianmu?" Tanya Laras dengan ekspresi kecewa yang tercetak jelas pada wajah cantiknya.
Alesha hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawabannya, ia pun semakin menangis tersedu-sedu. Malu dan jijik pada diri sendiri, Alesha tidak bisa memaafkan dirinya karna kejadian ini. Ia sudah ternodai, ia sudah tidak suci, ia sudah hancur dan lebur.
"Jacob, ikut ke ruanganku sekarang! Alesha, pakai bajumu cepat! Laras temani Alesha dan bawa dia ke ruanganku juga!" Setelah memberikan perintah itu, Mr. Thomson pun langsung membalikkan tubuhnya dan pergi ke luar disusul Hatric dan Dela di belakang.
"Mrs. Laras....." Lirih Alesha disela-sela tangisnya.
Laras merasa sangat sedih terhadap gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, ia pun akhirnya mendekati Alesha dan mendekap tubuh Alesha yang bergetar kencang.
"Alesha..." Jacob berusaha untuk menggapai Alesha, namun secepat kilat Laras pun menghadang pergerakan temannya itu agar tidak bisa menyentuh Alesha.
"Pergi ke ruangan Mr. Thomson sekarang! Jangan sentuh Alesha sebelum kau memberikan penjelasan pada Mr. Thomson!" Sentak Laras dengan penuh ketegasan.
"Laras, aku bersungguh-sungguh, aku tidak melakukan hal apapun dengan Alesha." Balas Jacob yang sudah mulai pasrah.
"Kau bisa katakan itu pada Mr. Thomson, Jack!" Datar, namun dalam, Laras sedang berusaha untuk menahan amarah pada lelaki yang sudah dianggap seperti saudara sendiri.
Alesha hanya bisa menangis dalam pelukan Laras. Alesha sungguh membenci dirinya kali ini, benar-benar benci dan sangat benci. Benci, benci, dan benci.
"ALESHA BENCI DIRI ALESHA!!"
"Syuttt.. Tidak, Al. Jangan bilang seperti itu." Laras yang tidak tega melihat kondisi Alesha saat ini pun turut menangis. Laras tahu kalau Alesha adalah perempuan baik-baik, ia juga tahu kalau Jacob adalah pria yang baik-baik, namun Laras sungguh tidak percaya akan kejadian yang menimpa dua orang yang sudah seperti saudaranya sendiri.
"Sayang, apa yang terjadi?" Tanya Danish yang tiba-tiba saja datang. "Sayang, apa yang terjadi saat ini?" Danish pun mendekati istrinya, Laras dengan ekspresi bingung yang begitu kentara pada raut wajahnya.
"Danish, bawa Jacob ke ruangan Mr. Thomson sekarang juga!" Satu perintah dari istrinya itu membuat Danish kian bertanya-tanya akan sesuatu yang sedang terjadi saat ini.
"Jangan banyak berpikir, Danish! Bawa Jacob ke ruangan Mr. Thomson sekarang juga!!"
Danish pun segera menuruti ucapan Laras setelah bentakkan keras terucap begitu saja dari mulut istrinya.
"Laras, aku tidak melakukan apapun pada Alesha..." Lirih Jacob.
"Ayo, Jack!" Dengan sedikit paksaan, Danish pun menarik tubuh Jacob untuk berjalan menuju ruangan Mr. Thomson.
***
Kini keempat orang yang bukan lain adalah Jacob, Alesha, Hatric, dan Dela sudah berada di dalam ruangan Mr. Thomson. Di sana pula ada Laras, Danish, Bastian, dan satu ketua dari tim Dela.
Mr. Thomson sengaja memanggil ketua dari dua kelompok tim itu untuk turut menjadi saksi dari pernyataan yang akan segera terdengar.
"Aku mau mendengar penjelasan dari kalian. Dimulai dari kau, Alesha." Ucap Mr. Thomson dengan tenang.
Alesha tidak langsung menjawab atau memberikan pernyataan, ia masih dipengaruhi rasa takut yang membuatnya terlihat seperti seorang yang linglung.
"Alesha, tenanglah, katakan dengan pelan apa yang kau ingat semalam, sayang." Ucap Laras dengan lembut.
Alesha celingak-celinguk, menatap penuh ketakutan pada sekelilingnya.
"Alesha..." Laras yang mendapati raut ketraumaan pada wajah Alesha pun langsung bejalan mendekat pada gadis itu untuk memberikan ketenangan.
"Alesha, tenangkan dirimu, sayang." Laras menangkup wajah Alesha lalu setelah itu menenggelamkannya pada pelukan hangat. "Mr. Thomson, aku usulkan agar tidak meminta Alesha untuk memberikan pernyataannya saat ini. Lebih baik mulai dari yang lain saja."
"Jacob, berikan pernyataanmu!" Sambar Mr. Thomson setelah mendengar usulan dari Laras.
"Aku tidak melakukan apa-apa dengan Alesha, Mr. Thomson." Ucap Jacob penuh keyakinan.
"Hanya itu saja?" Sindir Mr. Thomson.
"Aku memang tidak melakukan apapun dengan Alesha. Tadi malam memang Alesha berada dibawah pengaruh obat perangsang, tapi bukan berarti aku memanfaatkan situasi untuk melakukan hubungan terlarang dengan Alesha, Mr. Thomson." Jacob menampakkan wajah semeyakinkan dan sejujur mungkin karna ia memang tidak melakukan apapun.
"Dimana para petugas keamanan gedung mentor semalam? Mengapa tidak ada yang melihat Jacob lewat bersama Alesha dan Hatric?" Mr. Thomson pun mulai tersulut emosi. Seharusnya ada petugas keamanan yang berpatroli mengelilingi gedung mentor.
"Aku melewati koridor belakang, Mr. Thomson, tidak ada penjaga yang lewat di sana. Aku pikir akan lebih baik jika tidak ada yang mengetahui keadaan Alesha semalam, maka dari itu aku memutar jalan lewat belakang." Timpal Jacob.
"Laras, lihat jadwal pengurus SIO yang akan datang untuk memantau WOSA dua minggu lagi. Perintahkan ia untuk membawa dua alat testpack! Aku ingin memastikan apa Alesha dan Depa hamil atau tidak!" Tegas Mr. Thomson.
Alesha dan Dela hanya bisa menangis mendengar ucapan dari Mr. Thomson barusan.
"Mr. Thomson, kau tidak perlu melakukan hal itu, aku tidak melakukan hubungan apapun dengan Alesha!" Protes Jacob.
"Tidak ada protes! Ini demi WOSA, aku tidak ingin nama baik WOSA tercemar karna salah satu muridnya dihamili oleh seorang mentor. Lagi pula jika kau memang tidak melakukan hubungan apa-apa dengan Alesha, hasilnya pasti akan negatif nanti." Balas Mr. Thomson dengan emosi yang masih bisa dikendalikan, Mr. Thomson pun bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja dari ruangannya meninggalkan Jacob dan yang lain.
"Laras, bagaimana Mr. Thomson bisa tahu masalah ini?" Tanya Jacob dengan tatapan menuntut jawaban dari Laras.
"Petugas CCTV yang melaporkannya, Jack. Sebenarnya tadi malam mereka ingin melaporkan pada Mr. Thomson, hanya saja Mr. Thomson sedang tidak bisa diganggu bersama para pengurus SIO, mereka tidak bisa mengambil tindakan tanpa perintah dari Mr. Thomson." Jawab Laras.