May I Love For Twice

May I Love For Twice
Satu Syarat Yang Tidak Boleh Dilewatkan



Alesha sungguh kagum dengan keberanian Jacob untuk mengambil langkah besar demi bisa memilikinya. Malam itu, sesaat setelah Jacob melamar Alesha, Alesha dibuat terkejut dengan sangat mendadak karna menyaksikan bagaimana bibi Jacob berucap dua kalimat suci yang berisi janji untuk menjadi seorang muslim.


Alesha terharu? Tidak! Bukan hanya terharu, ia menangis tersedu-sedu saat itu juga.


"Terima kasih banyak, Mr. Jacob. Pengorbananmu sangatlah besar, aku berjanji, aku akan berusaha untuk bisa menjadi istri yang baik untukmu."


Begitulah gumam Alesha sesaat setelah Jacob dinyatakan seorang muslim.


Saat itu, Jacob hanya mampu membalas dengan seluas senyum tulus.


Aku berjanji, aku akan selalu melindungimu, mencintaimu, menyayangimu, Alesha, aku lakukan ini semua karna aku ingin memilikimu kehidupan yang jauh lebih baik bersamamu....


Hanya gumaman dalam hatilah yang dapat Jacob lakukan sewaktu melihat tangis bahagia Alesha.


Dan sejak saat itu, setiap ada waktu senggang Jacob selalu meminta pada Alesha dan ustadz Fariz untuk membantu menghapal bacaan sholat. Jacob ingin menjadi imam yang baik juga, maka dari itu ia harus bisa memimpin Alesha ketika mereka menunaikan ibadah wajib lima waktu nanti, Jacob pun sengaja meminta ustadz Fariz untuk tinggal di apartemennya hingga hari akad nanti.


Kebetulan hari ini adalah tanggal merah karna bertepatan dengan tahun baru umat islam, tahun baru hijrah, maka dari itu sejak pagi setelah breakfast, Jacob langsung meminta Alesha dan ustadz Fariz untuk membantunya kembali menghapal bacaan sholat.


Alesha sangat bahagia ketika melihat semangat besar dalam diri calon suaminya untuk menghapal bacaan sholat. Usaha Jacob, pengorbanan Jacob, dan semua yang sudah Jacob lakukan terhadap Alesha, maungkin Alesha tidak bisa membalasnya, tapi ia akan berusaha untuk membuat calon suaminya itu bangga.


"Sayang, kenapa bengong?" Tanya Jacob.


"Tidak apa-apa," Jawab Alesha. "Udah, kau hafalan saja dulu yang benar, aku baik-baik saja," Lanjutnya.


"Dia udah hafal loh, Alesha," Saut ustadz Fariz. "Empat hari berturut-turut dia hafalan, dan sekarang hafalannya nyaris sempurna, tinggal benerin cara bacanya aja, itu juga tinggal sedikit lagi."


"Apapun itu, selagi niat yang baik, juga usaha yang tidak kenal lelah, maka hasil pun tidak akan berbohong," Lanjut Jacob dengan senyum hangatnya yang menular pada Alesha.


Baru Jacob akan melanjutkan kembali hafalannya itu, tiba-tiba saja Alesha terkesiap dan tubuhnya membeku seketika.


Wajah Alesha mulai pucat, datar, dan pandangannya juga kosong. Ia ingat akan satu hal penting yang terlupakan. Akadnya dengan Jacob akan berlangsung tiga hari lagi, tapi bagaimana nasib Jacob? Alesha tidak mungkin bisa menikah dengan Jacob karna satu hal yang terlupakan itu.


"Alesha, kau kenapa?" Jacob yang menyadari perubahan kilat pada diri Alesha langsung menggengam erat lengan gadisnya itu.


Bukannya menjawab, Alesha malah salah tingkah tidak jelas.


Ayolah, apa hanya Alesha saja yang ingat akan hal itu? Hal yang wajib dilakukan oleh pria muslim.


Kegelisahan Alesha tampak sangat jelas, ia bolak-balik melirik pada Jacob dan ustadz Fariz.


"Alesha, ada apa? Apa ada yang salah?" Tanya Ustadz Fariz yang kebingungan karna melihat gelagat salah tingkah Alesha.


"Pak ustadz, kita melupakan satu hal," Lirih Alesha.


"Melupakan satu hal, apa itu?" Penasaran Jacob.


Tunggu dulu. Bagaimana Alesha mengatakannya? Hal itu sangat sensitif, Alesha malu jika mengatakannya mengingat ia adalah seorang wanita.


Semakin lah Alesha gelisah, gelagat salah tingkahnya semakin menjadi-jadi, membuat Jacob dan ustadz Fariz bertambah bingung.


Mulut Alesha terbuka dan tertutup tanpa mengeluarkan kalimat atau pun kata, ia ingin mengucapkannya, namun ia ragu, lebih tepatnya malu. Ia seorang wanita, dan dihadapannya ada dua orang pria, bagaimana cara Alesha mengatakannya? Tapi jika tidak mengatakan, maka masih haram juga hukumnya untuk Jacob dapat menikahi Alesha.


"Alesha, kamu gelisah banget kayanya, kenapa sih?" Ulang ustadz Fariz.


"I-ituloh, ustadz, ehmm.." Saking gugupnya, Alesha bahkan mengetuk-ketukkan punggu tangannya pada telapak tangannya yang satu lagi. "Ustadz, Jacob gak bakal bisa nikahin Alesha."


"APA? KENAPA?" Pekik Jacob yang begitu terkejut setelah mendengar ucapan calon istrinya barusan. "Apa maksudnya, Alesha?"


"Jack, kau melupakan satu hal," Jawab Alesha yang semakin gelisah.


Wajah Alesha memerah, tubuhnya panas, dan kegugupan itu semakin bertambah. Ia sangat malu, bagaimana mengatakannya?


"Pak ustadz, gimana Alesha ngomongnya?" Kini Alesha malah balik menatap dengan raut wajah pias pada guru mengajinya itu.


"Gimana apa?"


Lidah Alesha membeku, tidak mungkin juga ia mengatakan hal itu secara gamblang. Ia akan sangat malu.


"Pak ustadz, Jacob, dia pasti kan belum itu.." Ucap Alesha sangat pelan.


"Apa? Alesha ngomongnya lebih jelas lagi coba," Ucap Ustadz Fariz.


"Apa Alesha? Aku belum apa? Perjelas lagi ucapanmu! Kenapa aku tidak bisa menikahimu?" Tegas Jacob.


"Pak ustadz tahu kan kalau setiap laki-laki muslim itu harus menjalankan satu kewajiban khusus," Ucap Alesha.


Kewajiban khusus? Sebentar, ustadz Fariz mencoba untuk mencari tahu maksud dari ucapan Alesha itu.


"Kewajiban?" Gumam ustadz Fariz.


Alesha berdecak gusar. Masa iya ia harus mengatakannya secara jelas. Ini bukan perkara kaum wanita. Masalah ini ada hubungannya dengan salah satu anggota tubuh Jacob.


Alesha menutupi wajahnya yang sudah memerah karna menahan malu, padahal dia belum mengatakannya, dan baru memikirkan saja.


"Alesha, coba jelasin lagi maksudnya gimana?" Pinta ustadz Fariz.


Satu hembusan napas mengawali tekad Alesha untuk mengatakan sesuatu yang sejak tadi menjadi bahan kebingungannya, juga dua pria lain yang ada disekitarnya.


Alesha menggeserkan tubuhnya untuk mendekati ustadz Fariz. Sikap Alesha itu tentu saja semakin membingungkan bagi sang ustadz dan juga Jacob.


Lalu ketika Alesha ingin membisikan sesuatu pada guru mengajinya itu, tiba-tiba saja ustadz Fariz menghindar.


"Jangan salah paham dulu, Pak Ustadz, Alesha mau bisikin sesuatu," Balas Alesha yang mengerti apa yang sedang ustadz Fariz sangka terhadapnya.


"Bisikin apaan?" Tanya ustadz Fariz.


"Yaudah makanya sini dengerin dulu,"


Dengan ragu-ragu, akhirnya ustadz Fariz pun mendekatkan telinganya pada Alesha, dan membiarkan gadis itu membisikan sesuatu padanya.


"..................."


Berlainan hal dengan Jacob, wajah pria itu terlihat sedikit tidak friendly, kenapa? Karna Alesha menyembunyikan sesuatu darinya, dan lebih memilih memberitahu pada orang lain.


"Owh, masalah itu..." Tawa kecil ustadz Fariz membuat Alesha tertunduk malu.


"Tanyakan saja langsung pada Jacob, sudah atau belum," Ledek ustadz Fariz yang sengaja ingin sedikit berjahil pada Alesha.


"Ish, Pak Ustadz, gak ada gunanya juga dong Alesha bisik-bisik ke Pak Ustadz kalau gitu mah," Alesha mendengus sebal.


"Baiklah baiklah, Alesha, aku yang akan mengatakannya pada calon suamimu," Ucap ustadz Fariz yang disusul oleh kekehan kecil. Lalu setelah itu, ustadz Fariz pun menatap pada Jacob untuk menyampaikan apa yang sudah Alesha katakan.


"Apa yang Alesha katakan, Pak Ustadz?" Tanya Jacob yang tampak serius. Sepertinya ia sedikit marah.


"Jadi begini, setiap laki-laki muslim itu diharuskan untuk melaksanakan satu kewajiban agar mempermudah dan mempercepat proses pembersihan fisik sebagai salah satu syarat sahnya ibadah," Tatapan jahil ustadz Fariz berbelok pada Alesha, dan sepersekian detik kemudian kembali lagi pada Jacob. "Yaitu... Khitan."


"Uhuk, uhuk, uhuk..." Batuk jaim Jacob yang sengaja ia buat-buat. "Owh, jadi itu, hahaha," Jacob tertawa cukup lepas karna ia sudah mengetahui hal apa yang membuat gadisnya itu gelagapan dan salah tingkah tadi. Jadi karna masalah itu, pantas saja Alesha malu-malu dan ragu untuk mengatakannya.


"Jadi itu yang calon istriku ingin katakan tetapi tidak berani untuk mengungkapkannya tadi, hahaha. Ada-ada saja,"


Jacob tertawa, namun tidak dengan Alesha. Gadis itu tertunduk malu. Ini masalah yang cukup sensitif untuk kaum pria, sedangkan ia wanita, wajar saja jika Alesha merasa malu dan tidak enak jika mengatakannya secara langsung.


"Kenapa kau tidak langsung mengatakannya padaku saja, sayang, aku kan calon suamimu, tidak perlu malu, Alesha," Dan kini Jacob malah menggoda Alesha. "Seharusnya kau jangan ragu mengatakannya padaku, itukan demi kebaikan kita, sayang, agar nanti setelah menikah kita bisa langsung 'Melakukannya' tanpa ada satu hal, atau satu syarat yang belum terpenuhi," Kedipan mata genit Jacob pun beraksi bersamaan dengan ekspresi menggodanya.


Meski sedang menunduk malu, Alesha tetap melirik tajam pada Jacob dengan ekor matanya.


Dasar mesum!!....... Umpat Alesha dalam hati.


Ustadz Fariz hanya bisa menggelengkan kepalanya saja sembari tersenyum karna melihat tingkah Jacob yang sedang menjahili Alesha.


"Tenang saja, sayangku," Jacob mendekati Alesha dan meraih jemari gadis tercintanya itu. "Kau tidak perlu khawatir dengan masalah itu. Adik kecilku sudah siap untuk bertempur karna sudah sukses melewati rintangan 'Itu'."


"Astagfirullah, Mr. Jacob!!" Alesha memekik kencang dengan kedua mata yang dipelototkan pada pria menyebalkan, calon suaminya itu. Alesha merasa sangat tidak enak hati, pasalnya di ruangan itu terdapat guru mengajinya juga. Mau ditaruh dimana wajah Alesha?


Alesha menghembuskan napasnya dan melirik pada guru mengajinya yang sedang tertunduk sembari menahan tawa. "Pak Ustadz, maaf ya, emang Jacob itu mulutnya harus disetting dulu, maklum waktu masih disekolahin mulutnya itu gak lulus ujian." Alesha kembali melirik Jacob dengan tatapan yang semakin menajam.


Mengabaikan lirikan maut yang Alesha berikan, Jacob malah mengulang kembali kejahilannya itu. "Kau tahu, Alesha, rasanya sangat sangat sakit dan perih ketika efek obat biusnya habis," Ucap Jacob. "Kau harus bertanggung jawab atas itu, sayang," Tatapan nakal Jacob memberikan sebuah isyarat yang langsung dapat Alesha pahami.


"Kau mengerti bukan maksudku?" Jacob mengedipkan mata jahilnya.


"Ck, hentikan ucapanmu!" Gusar Alesha. Memang ya, dasar Jacob, selalu saja bahagia membuat gadisnya itu cemberut, tidak memikirkan situasi dan kondisi.


"Kenapa memangnya? Apa aku salah?" Berlanjut lah kejahilan si mentor menyebalkan itu.


"YA! PUAS! Cukup!"


Alesha benar-benar geram dengan candaan Jacob yang kadang tidak tahu tempat dan situasi, tapi disisi lain ia juga tidak tahu jika Jacob sudah benar-benar mempersiapkan diri hanya demi bisa menikahinya. Bahkan masalah sesensitif itu pun berhasil pria itu lalui. Kini Alesha sudah tidak mengenal lagi keraguan terhadap calon suaminya, sudah cukup ia menyaksikan pengorbanan dan niat Jacob yang sangat besar.


Terima kasih banyak, Mr. Jacob, aku mencintaimu, aku akan berusaha untuk menjadi istri terbaik untukmu...... Meski kesal dengan sikap Jacob, tetapi dalam hatinya, Alesha tetap bersyukur atas apa yang sudah ia dapatkan, yaitu Jacob. Pria itu adalah hal dan sesuatu yang paling indah dan berarti dalam hidup Alesha, tak akan pernah tergantikan, apalagi terduakan.


Sedangkan Jacob, ia sendiri malah terkekeh saat mendapati gadisnya yang memalingkan wajah dengan ekspresi penuh kesebalan. Tidak tau kenapa, ia merasa jika calon istrinya itu semakin hari tampak semakin menarik. Apakah hal itu wajar mengingat ia yang sebentar lagi akan segera meminang gadis pujaannya itu?


Kau akan segera menjadi miliku seutuhnya, Alesha. Terima kasih sudah hadir..... Gumam Jacob dalam hatinya.


"Woe!" Alesha menjentrikkan jarinya tepat didepan wajah Jacob. Jacob yang terkejut pun langsung mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Pasti lagi mikirin, Alesha," Ledek Alesha.


"Pak ustadz, boleh saya tahu kenapa semakin hari Alesha semakin terlihat cantik dan menarik dimata saya. Apa itu wajar?"


"APA?" Pekikkan suara Alesha melengking menggema di ruangan itu.


Tidak salah dengarkan telinga Alesha barusan? Jacob mengajukan pertanyaan itu seperti seorang yang tidak memikiki beban dalam hidupnya. Enteng sekali!


Ustadz Fariz tertawa kecil karna menerima pertanyaan seperti itu dari Jacob. Bagaimana ya? Kalau menurut ustadz Fariz hal itu wajar-wajar sama, malah bagus.


"Hal itu wajar terjadi, malah bagus, jadi nanti setelah kalian menikah rasa cinta akan semakin membesar dan banyak sekali dampak positifnya," Jawab ustadz Fariz.


"Contohnya, Ustadz?" Sambung Jacob.


"Hubungan kalian akan semakin erat."


Lirikkan mata Jacob langsung teralihkan pada Alesha. Tatapan Jacob berhasil membuat calon istrinya menjadi salah tingkah.


Alesha tidak suka diperhatikan, tapi Jacob selalu saja melakukan hal itu secara sengaja, membuat Alesha ingin mencolok dua iris hitam calon suaminya itu.


"Alesha lapar dan ingin makan, Alesha ke dapur dulu ya, bye bye.." Malas memulai perdebatan dengan Jacob hanya karna hal kecil, Alesha lebih memilih menghindar dengan mencari alasan lain yang bisa membantunya keluar dari jangkauan mata calon suaminya.


Namun yang terjadi malah sebaliknya, Jacob beranjak dari duduknya dan berjalan menyusul Alesha.


"Tunggu aku, sayang, aku juga lapar ingin makan," Sahut Jacob.