
*Jacob terduduk di sebuah hamparan rumput hijau. Ia termenung sambil memeluk lututnya, menatap lurus ke arah cakrawala. Sebuah kedamaian yang ia rasakan saat ini. Hatinya sangat tenang dan pikirannya terasa sangat jernih. Gemercik air dari aliran sungai kecil yang terletak beberapa meter darinya membuat sebuah alunan musik alam yang berpadu dengan suara kicauan burung di pagi hari. Suasana alam yang sangat jauh berbeda.
Perlahan, instingnya menangkap sesuatu yang sedang mendekat padanya. Jacob mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru hamparan hijau itu. Matanya terhenti di satu titik. Sebuah bayangan putih yang semakin lama semakin jelas menunjukan bentuk aslinya. Bayangan itu berjarak cukup jauh dari Jacob. Jacob mengerutkan keningnya untuk memperjelas pandangannya. Bayangan itu berubah menjadi sosok wanita berpakaian dan berkerudung serba putih. Wanita itu tersenyum manis ke arahnya. Wajahnya tidak asing untuk Jacob, namun terlihat lebih dewasa.
Jacob segera bangkit dan perlahan mulai berjalan mendekati sosok wanita yang sedari tadi tersenyum ke arahnya itu. Wanita itu memakai sebuah cincin di jari manisnya dan membawa sebuah diary dan Al-Quran berukuran sedang. Jacob segera berlari untuk mendekati wanita itu, namun semakin ia berlari kencang dan berusaha mendekati wanita itu, semakin ia merasa jauh dengan wanita itu, padahal wanita itu tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.
Jacob segera menghentikan langkahnya saat melihat wanita itu menunduk dengan raut wajah yang sedih. Jacob memiringkan kepalanya. Apa yang terjadi dengan wanita itu?
Jacob kembali berlari, namun setelah beberapa langkah, kakinya terhenti lagi. Wanita itu menatap Jacob dengan tatapan penuh kesedihan dan kekhawatiran. Ketakutan, dan kecemasan tiba-tiba menghampiri Jacob. Ia segera melajukan kakinya lagi agar segera bisa meraih wanita itu. Namun tiba-tiba saja wanita itu menjerit kencang sambil memegangi dadanya. Jacob semakin cemas dan jantungnya semakin berpacu. Jacob sangat takut, ia ingin segera meraih wanita yang sedang menangis kencang itu. Hati Jacob merasa teriris. Mengapa ia tidak bisa mendekati wanita itu walau ia sudah berlari secepat mungkin.
Wanita itu kemudian mengangkat kepalanya. Matanya menatap sendu pada Jacob. Air mata mengalir bagai air terjun dan membasahi pipi wanita itu. Tidak berapa lama, wanita itu terjatuh di rerumputan dengan lutut sebagai tumpuannya. Jacob berlari lagi. Akhirnya, ia bisa mencapai wanita itu. Namun saat Jacob ingin meraih tangan wanita itu, ia merasa seolah tangannya hanya menyentuh asap yang tidak terasa sama sekali di telapak tangannya. Jacob segera berlutut di hadapan wanita itu.
Mata itu, dan wajah manis yang selalu Jacob ingat, menatapnya dengan sendu dan penuh luka. Jacob berusaha untuk menghapus air mata di pipi wanita itu, namun lagi-lagi yang terasa hanya asap kosong. Wanita itu semakin menangis dan air matanya turun semakin banyak. Jacob tidak tahu harus berbuat apa. Perasaannya sangat sakit saat melihat ekspresi wajah si wanita manis itu. Hatinya terasa tercabik saat air mata wanita itu turun semakin banyak.
“Tolong aku..” Ucap wanita itu lirih di sela-sela tangisnya sambil memeluknya buku diary dan Al-Quran yang dibawanya.
Jacob semakin panik dan takut. Takut akan kehilangan untuk yang ke dua kalinya. Air mata perlahan turun membasahi pipi Jacob. Ia tidak bisa menyentuh wanita itu sama sekali. Apa yang terjadi? Apa maksudnya ini semua?
“Aaaaaaaa.....” Wanita itu berteriak dan hilang begitu saja saat Jacob akan mendekapnya ke dalam pelukan.
Angin berhembus begitu kencang hingga membuat Jacob tersungkur. Pandangannya menelusuri seluruh penjuru hamparan hijau itu. Tidak ada lagi sosok wanita itu di mana pun. Jacob bangkit dan berlari untuk mencari keberadaan wanita itu. Kakinya terus melaju tanpa arah. Ia kehilangan jejak wanita itu. Jacob tidak mau menyerah begitu saja. Nafasnya sudah terengah-engah saat ia mulai lelah berlari. Kemana pun asalkan Jacob bisa menemukan kembali wanitanya.
Hingga sampailah Jacob di sebuah tebing curam, dan saat ia melihat ke sisi sebelah kanannya, tepatnya sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri, wanita itu, wanita yang sedari tadi menjadi alasan kenapa Jacob berlari hingga menguras banyak tenaganya sedang berdiri dengan ekspresi datar namun tersirat sebuah kesedihan dan penderitaan yang mendalam dalam sorot matanya.
Jacob tidak bisa bergerak. Baju dan kerudung yang wanita itu gunakan sudah kumal dan kusut. Hati Jacob lagi-lagi seperti tertusuk seribu duri tajam saat melihat sebutir air mata tergelincir dari mata wanita itu, namun walau begitu ekspresi wanita itu masih sama, datar dan dingin. Jacob berusaha melangkahkan sebelah kakinya, namun sebuah suara membuatnya terusik. Baru saja Jacob meletakkan sebelah kakinya di tanah, sebuah gemuruh yang berasal dari dalam jurang tiba-tiba saja terdengar jelas. Kemudian wanita itu mulai terisak, dan menatap Jacob dengan wajah penuh ketakutan dan penderitaan. Dan tidak lama setelah itu, untuk yang terakhir kalinya Jacob melihat air mata turun lagi dari wanita itu, dan setelahnya tanah yang ada di sekeliling wanita itu menjadi retak dan ambruk begitu saja membawa wanita itu jatuh ke dalam jurang yang sepertinya tanpa batas.
Mata Jacob membulat kaget. Seperti sebuah tombak yang melesat kencang dan mengenai sasaran, hati Jacob hancur sehancur-hancurnya melihat wanita itu jatuh ke dalam jurang.
“ALESHAAAAAAAAAA.....” Teriak Jacob dengan penuh penderitaan dan penyesalan*.
***
“Mr. Jacob, Mr. Jacob...” Alesha menggoyahkan tubuh Jacob yang bersandar pada pinggiran kasur pasien. “Mr. Jacob..” Alesha menepuk-nepuk pipi Jacob.
“Alesha!!” Jacob membuka matanya dan terlonjak kaget. Ia baru saja bermimpi buruk tenang Alesha.
“Mr. Jacob, kau tidak apa-apa?” Tanya Alesha dengan penuh kekhawatiran. Ia bingung kenapa tadi Jacob berteriak dalam tidurnya sambil meneriaki nama Alesha.
Jacob menatap kaget pada Alesha. Perasaan was-was menghampiri Jacob.
“Mr. Jacob, kau bermimpi apa? Kau meneriaki namaku.” Tanya Alesha.
Jacob mengalihkan pandangannya. Ekspresi wajahnya masih terlihat kaget dan syok. Bagaimana bisa Jacob bermimpi buruk tentang Alesha? Apa maksud dari mimpi itu?
“Mr. Jacob..” Panggil Alesha lagi.
Jacob menatap pada Alesha. Ia ingin memastikan kalau di hadapannya ini adalah benar-benar Alesha dan bukan sebuah bayangan atau asap kosong yang tidak tersentuh.
“Tampar aku Alesha!” Perintah Jacob.
“Apa?” Alesha sedikit kaget dengan ucapan Jacob barusan.
“Tampar aku, cepat!” Perintah Jacob sekali lagi.
Alesha mengerutkan keningnya. Apa yang terjadi pada mentornya itu? Pikir Alesha.
Segera Alesha mengangkat tangannya dan memberikan tamparan kecil di pipi Jacob.
“Tampar aku sekali lagi!” Perintah Jacob sambil memejamkan.
Alesha segera menuruti perintah Jacob lagi. Ia masih bingung dengan mentornya yang tiba-tiba saja memintanya untuk menampar.
“Mr. Jacob kau kenapa?” Tanya Alesha penuh kepenasaranan.
Jacob terdiam tidak menjawab. Kepalanya tertunduk. Jacob masih bertanya-tanya apa maksudnya dari mimpi itu? Apa yang terjadi pada Alesha? Perasaan cemas lagi dan lagi menghampiri Jacob.
“Mr. Jacob.” Alesha menyentuh lengan Jacob. Matanya menatap penasaran pada Jacob yang masih tertegun. “Kau kenapa?”
“Jangan pergi..” Gumam Jacob pelan. “Jangan lagi..”
“Jangan apa? Mr. Jacob!” Alesha menampar pelan pipi Jacob. “Bangunlah!” Alesha mengguncangkan bahu Jacob.
“Hatiku perih, Al.” Ucap Jacob pelan.
“Apa? Kenapa?” Jacob benar-benar membuat Alesha kebingungan. Gadis itu mengerutkan keningnya tanda kalau rasa kepenasaranannya semakin membesar.
“Lupakan saja, tadi aku hanya bermimpi buruk.” Ucap Jacob sambil tersenyum kecil.
“Kau bermimpi buruk tentangku? Apa yang terjadi padaku?” Tanya Alesha.
“Tidak ada, tidurlah, aku tidak apa-apa.” Jawab Jacob.
“Kau yakin?” Alesha memiringkan kepalanya untuk menatap mata Jacob.
“Aku tidak apa-apa, tidur lah.” Balas Jacob. Sorot matanya menghangat, dan itu membuat Alesha tenang.
“Baiklah.” Alesha mengangguk lalu segera berbaring lagi.
“Oh ya, Al.” Panggil Jacob.
“Apa?” Tanya Alesha.
“Maaf aku membangunkanmu.” Jacob tersenyum kecil pada Alesha.
“Tidak apa-apa kok.” Balas Alesha sambil balik tersenyum pada Jacob. Alesha segera menarik selimutnya dan segera memejamkan matanya agar tertidur lagi.
Jacob sendiri sudah merasa kalau matanya sudah tidak butuh untuk terpejam lagi malam itu. Jacob takut jika mimpi itu terulang. Jacob tidak mau lagi membayangkan kalau dirinya akan kehilangan seseorang lagi. Dia cukup lelah untuk terus terpuruk karna kepergian Yuna, dan dia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi. Jacob ingin mencari kebahagiaan baru dan Yuna adalah masa lalu Jacob yang kelam. Sudah cukup Jacob menahan semua rasa kesepian dan kesedihan, kali ini Jacob ingin benar-benar ditemani oleh wanita pilihannya.
Aku harap mimpi itu bukan sebuah tanda yang buruk, Al. Aku ingin membuktikan kalau aku tidak ragu untuk melangkah padamu. Aku butuh banyak waktu untuk membuktikan kalau tujuanku selanjutnya adalah kau....... Ucap Jacob dalam hati.
Matanya menatap sendu pada Alesha. Jacob mencoba mengingat-ingat hal yang pertama kali membuatnya perlahan merasa sangat nyaman saat berada dekat dengan Alesha. Wajah dan sikap Alesha berbeda dengan Yuna, namun kenapa ia merasa ada kemiripan antara Yuna dan Alesha? Jacob tidak mau berpikir kalau Alesha adalah pengganti Yuna. Hal itu tidak bisa diterima oleh Jacob. Bukan Alesha yang menjadi penyebab terbesar Jacob bisa melupakan Yuna. Namun memang sebelum Alesha datang ke kehidupannya, Jacob sudah melupakan Yuna, hanya saja sedikit kenangan bersama Yuna yang masih melekat bersama Jacob. Alesha hanya membantu namun hanya sedikit saja. Dan sekarang, setiap kali Jacob bersama Alesha, hatinya seolah terbuka, namun ada beberapa dinding keraguan yang membuat Jacob sulit membawa Alesha masuk ke dalam hatinya.
Jacob tidak tau apakah Alesha akan menerimanya kelak jika hatinya sudah terbuka sepenuhnya. Jacob akan menunggu hingga Alesha siap.
...*****...
Jam 08.30 Pagi.
Alesha sudah bersiap dan mengemas semua barangnya. Dokter sudah mengizinkannya pulang hari ini, dan saat ini ia bersama Jacob dan Levin sedang menunggu mobil jemputan untuk membawa mereka ke bandara. Pesawat SIO sudah menunggu mereka di sana.
“Permisi, tuan, mobil jemputan sudah sampai.” Ucap salah seorang pelayan rumah sakit.
Jacob mengangguk lalu membantu Alesha untuk berjalan keluar dari kamar tempat Alesha dirawat itu. Sepanjang perjalanan di lorong rumah sakit, Jacob terus saja memegangi tangan Alesha, dan Levin yang berjalan dbelakang hanya menatap malas pada ke dua orang yang berjalan di depannya. Levin merasa cukup cemburu saat Jacob dekat dengan Alesha, namun Levin tidak bisa berbuat apa-apa. Janjinya pada seseorang membuat Levin lebih memilih untuk tidak jatuh cinta pada wanita lain. Untungnya saja perasaannya pada Alesha hanya sekedar suka saja, bukan cinta yang mendalam. Namun jika dibiarkan begitu saja, Levin bisa cinta sungguhan pada Alesha.
Saat mereka sudah sampai di parkiran mobil, Levin mendekati Alesha.
“Al, mungkin aku tidak bisa ikut denganmu ke WOSA, aku harus pergi ke SIO, Mr. Frank memanggilku.” Ucap Levin pada Alesha.
“Apa? Jadi kau tidak akan ikut bersama kami.” Tanya Alesha kaget.
Levin hanya mengangguk.
“Tapi kenapa? Aku harap kau akan ikut bersama kami.” Ucap Alesha dengan nada kecewa. Alesha sudah menganggap Levin seperti kakaknya sendiri karna Levin begitu baik kepadanya.
“Dia harus pergi ke SIO.” Saut Jacob dengar datar. Jacob merasa sedikit kesal saat melihat ekspresi wajah Alesha yang kecewa karna akan di tinggal oleh Levin.
“Apa kita tidak akan bertemu lagi?” Tanya Alesha dengan memelas.
Levin tersenyum. “Tidak.” Ucapnya dan membuat Alesha kaget. Alesha jadi merasa sedih. “Untuk beberapa waktu ke depan, tapi jika ada waktu aku akan berkunjung ke WOSA dan bertemu denganmu.” Lanjut Levin sambil mencubit pelan pipi Alesha.
“Gelang ini memang tidak seberapa harganya, dan tidak spesial juga, tapi ini bisa mempererat pertemanan kita. Aku dan beberapa temanku dulu suka bertukar gelang untuk mempererat pertemanan.” Ucap Alesha.
Levin jadi merasa terharu karna itu. “Aku akan menjaga gelang ini hingga kita bertemu lagi nanti.” Ucap Levin. Alesha menatap Levin dengan senyuman semanis mungkin.
Tiba-tiba saja Jacob merasa seolah ia terkena serangan jantung dadakan. Jacob melihat langsung Levin yang memeluk Alesha di hadapannya. Levin memeluk Alesha!
“Kau gadis pemberani yang pernah kukenal, terima kasih banyak atas bantuanmu untuk membebaskan keluargaku, aku tidak akan melupakan itu, maaf waktu itu aku membiarkanmu terluka karna ulah Mack.” Ucap Levin dengan penuh perasaan.
“Tidak apa, aku bahagia bisa membantumu. Jaga keluargamu, Mr. Levin, maaf jika aku punya kesalahan padamu.” Balas Alesha.
Levin melepaskan pelukannya. “Aku akan sangat merindukanmu, Al.”
“Aku juga.” Balas Alesha. Senyum manis masih belum saja luntur dari bibir Alesha saat menatap Levin, dan hal itu membuat Jacob geram.
“Sudah cukup dramanya! Alesha masuk ke dalam mobil, kita harus segera tiba di bandara!” Perintah Jacob dengan dingin namun ada sedikit bumbu kekesalan dalam nada ucapannya.
Jacob menarik tangan Alesha lalu membukakan pintu mobil untuk Alesha. Alesha segera masuk namun pandangannya masih menatap pada Levin. Ia membuka kaca jendela mobil.
“Sampai jumpa, Mr. Levin, aku akan merindukanmu, salam untuk keluargamu ya..” Ucap Alesha yang membuat Levin ingin meneteskan air matanya.
Alesha adalah gadis termanis, lucu, dan pemberani yang pernah Levin kenal. Hatinya sedih karna ia harus berpisah dengan Alesha. Jika ia punya waktu, ia akan nememui Alesha hanya untuk melepas rindu saja, bukan untuk merebut Alesha dari Jacob.
“Tidak usah lebay.” Ucap Jacob dengan datar.
“Aku tidak lebay, aku hanya sedih saja kalau Mr. Levin tidak bisa ikut ke WOSA.” Balas Alesha. Jacob hanya memutar bola matanya dengan jengah.
Jacob menatap ke luar jendela untuk mengalihkan pandangannya dari Alesha. Pikirannya melayang begitu saja bersama dengan sebuah tanda tanya besar yang selalu mengikutinya. Hatinya masih terasa panas, namun Jacob berusaha untuk memendam kekesalannya. Marah? Tentu saja. Levin dan Alesha berpelukan tadi, dan Alesha juga memberikan Levin sebuah gelang yang selalu Alesha gunakan. Saat ini Jacob sedang malas untuk berbicara pada siapa pun, termasuk Alesha. Karna kejadian tadi membuat moodnya anjlok seketika.
“Mr. Jacob.” Panggil Alesha pelan. Jacob tidak menjawab, ia hanya berdehem saja.
“Ada makanan tidak? Perutku lapar, aku lupa makan tadi.” Tanya Alesha.
“Tidak ada.” Jawab Jacob singkat dan dingin.
Alesha menghela nafasnya. Perutnya sudah sangat perih karna dari semalam ia belum makan. “Pak supir, bisa kita berhenti di toko makanan?” Tanya Alesha pada pengemudi supir.
“Ya.” Supir itu membalas dengan anggukan dan senyuman ramah.
Alesha tersenyum. Akhirnya ia bisa membeli makanan juga. Ia menyesal tidak makan dulu tadi. Padahal kalau saja tadi Alesha makan, ia tidak perlu merepotkan siapapun.
Setelah beberapa menit, mobil yang Alesha tumpangi berhenti di sebuah toko makanan.
“Mr. Jacob, aku ke sana dulu ya, mau beli makanannya.” Ucap Alesha lalu membuka pintu mobilnya. Jacob hanya mengangguk. Ia tidak memberikan ekspresi apa-apa. Jacob membiarkan begitu saja Alesha pergi ke dalam toko itu tanpa memperdulikan kondisi Alesha yang baru saja pulih. Ia masih marah pada Alesha tanpa Alesha sadari.
“Hmm, wanginya enak banget.” Ucap Alesha sambil meresapi aroma roti dan donat yang merasuki indra penciumannya.
Saat Alesha memasuki toko itu, ternyata ada sebuah pesta kecil yang toko itu rayakan.
“Ulang tahun ke lima belas toko My Bread.” Alesha membaca sebuah papan berukuran sedang yang dipajang didinding toko.
“Permisi, Nona.” Sapa seorang pelayan toko dengan ramah.
“Silahkan, anda bisa mengambil kupon hadiah di dalam kotak ini. Kalau anda beruntung anda bisa mendapatkan hadiah khusus dari kami dalam rangka merayakan ulang tahun ke lima belas toko My Bread.” Lanjut pelayan itu.
Mata Alesha berbinar. Sebuah hadiah?
“Hadiah?” Tanya Alesha.
“Ya, setiap pengunjung akan kami beri satu kupon hadiah. Jika kupon hadiah itu menunjukan gambar koin perak maka pengunjung bisa mendapatkan satu hadiah, jika gambar dikupon itu menunjukkan koin emas, maka pelanggan bisa mendapatkan dua hadiah plus satu kotak kue berukuran sedang.” Jawab pelayan itu dengan antusias. “Hanya ada lima belas pelanggan yang beruntung yang bisa mendapatkan kupon bergambar koin perak, dan untuk koin emas hanya ada lima pelanggan beruntung saja.” Lanjutnya.
Mata Alesha semakin berbinar. Ia yakin ia bisa mendapatkan hadiah dari kupon yang berjumlah banyak dari dalam kotak kaca itu. Tangan Alesha segera masuk dan memilih kertas kupon yang menurutnya ada gambar koin perak atau pun emas.
Alesha mengacak-acak kertas kupon yang dalam box kaca itu. Setelah yakin, Alesha segera mengeluarkan tangannya dari dalam box itu.
“Sudah yakin?” Tanya pelayan itu dengan senyuman ramah. Alesha mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu kupon itu bisa dibuka saat anda akan melakukan pembayaran di kasir.” Ucap pelayan itu. Alesha mengangguk. Ia sangat yakin kalau ia bisa mendapatkan hadiah itu. Hanya 20 pelanggan beruntung saja yang bisa mendapatkan hadiah itu.
Alesha segera berjalan menuju sebuah box kaca besar yang menunjukan beberapa jenis kue, roti, dan donat. Alesha segera memilih beberapa donat dan roti yang menurutnya enak. Setelah itu, seorang pelayan segera membungkus donat yang sudah Alesha pilih. Pelayan itu membawa bungkusan berisi donat Alesha menuju kasir. Alesha segera mengikuti pelayan itu menuju kasir. Hatinya sudah tidak sabar untuk segera membuka kupon yang sudah ia pilih.
Alesha melakukan pembayaran via digital. Jadi, ia tidak perlu repot membawa uang. Saat pembayaran sedang diproses oleh sistem komputer, seorang pelayan yang berjaga di kasir itu meminta kupon yang Alesha pegang. Alesha segera menyerahkan kupon itu dan berharap kalau isinya adalah koin perak atau emas.
“Pembayaran sukses, ini struknya, Nona.” Ucap pelayan itu. Alesha segera menerima struk pembayaran itu dan juga bungkusan berisi donat dan rotinya.
“Cepat buka.” Gumam Alesha yang sudah tidak sabar menunggu hasil dari kupon itu. “Kenapa lama sekali.”
Alesha sudah mengepalkan tangannya dengan grogi. Wajahnya tiba-tiba terlihat bingung saat melihat ekspresi pelayan kasir itu.
Pelayan kasir itu memberikan sebuah isyarat pada pelayan lain yang ada di sebelahnya. Alesha mengerutkan keningnya. Apa maksudnya?
“AAA...” Alesha terlonjak kaget saat tiba-tiba saja sebuah trompet bertiup cukup kencang. Seketika toko itu menjadi ramai oleh nyanyian dan tepuk tangan para pelayan toko. Beberapa pelayan menaburi Alesha dengan daun dan bunga yang terbuat dari kertas.
“Selamat anda berhasil mendapatkan koin emas!!” Seru seorang pelayan dengan bersemangat.
Mulut Alesha terbuka dan membentuk huruf O saat ia mendengar kalau ia berhasil mendapatkan kupon bergambar koin emas.
“Selamat..” Seorang pelayan memberikan Alesha sebuah boneka berbentuk donat yang seukuran bantal tidur, lalu pelayan lain membawakan Alesha sebuah boneka beruang besar berwarna pink seukuran setengah dari tinggi badannya.
Alesha merasa sangat bahagia dan terkesima. Ia menatap ke sekelilingnya. Para pelayan itu bernyanyi sambil bertepuk tangan dan melingkari Alesha seolah Alesha yang berulang tahun. Salah seorang pelayan yang lain menghampiri Alesha lalu memakaikan Alesha sebuah mahkota bulat berbentuk donat lalu memberikan Alesha sebuah kotak kue berukuran sedang.
Mata Alesha berbinar. Benarkan feelingnya kalau ia akan mendapatkan hadiah, hadiah spesial pula.
Para pelayan itu mendekati Alesha lalu berpose ke arah kamera. Alesha baru menyadari kalau ia dan para pelayan itu akan difoto. Segera Alesha memberikan senyum lebarnya ke arah kamera yang sudah siap memfotonya.
“Dapat.” Pelayan yang mengambil foto itu mengacungkan jempolnya. Segera cetakan kertas putih kecil yang berisi foto itu keluar dari dalam kamera.
“Ini.” Ucap pelayan itu sambil memberikan Alesha foto yang baru saja diambil.
“Terima kasih.” Ucap Alesha dengan senyuman manisnya.
“Sama-sama. Kembalilah ke sini kalau ada waktu nanti.” Balas para pelayan itu.
Alesha mengangguk. Ia segera berjalan menuju keluar. Ia tidak bisa berlama-lama di toko karna pasti Jacob dan supir itu sudah menunggunya. Alesha cukup kesulitan berjalan karna harus membawa dua boneka besar dan dua bungkus makanan. Ia sudah menghiraukan rambutnya yang penuh dengan taburan daun dan bunga kertas. Mahkota donat itu juga sudah memiring.
“Tau gini tadinya minta ditemenin aja sama Mr. Jacob.” Alesha mendengus. “Sekalinya dapet hadiah, kesusahan buat bawa hadiahnya.” Alesha mengangkat boneka beruangnya agar tidak menyentuh tanah. Karna terlalu sibuk membenarkan posisi boneka besar yang ia bawa itu, Alesha tidak sengaja menabrak dua orang lelaki.
“Aduhh..” Ucap Alesha saat ia bertabrakan dengan dua lelaki itu. Alesha mengangkat kepalanya dan menatap ke dua lelaki di hadapannya.
“Maaf, aku tidak sengaja, aku kesulitan membawa hadiah ini, jadi aku tidak memperhatikan jalan.” Ucap Alesha dengan penuh penyesalan.
Kedua lelaki itu malah membalas Alesha dengan seringainya lalu mengelus rambut Alesha. “Kau gadis yang manis.”
Alesha mundur selangkah. Ekspresinya berubah menjadi takut dan waspada. Alesha mengira kalau dua lelaki itu akan melakukan hal buruk padanya. Jarak Alesha untuk sampai ke mobilnya tidak jauh lagi, hanya beberapa meter ke depan, namun dua lelaki itu malah berniat menghadang dan menggoda Alesha.
Jacob yang berada di dalam mobil juga tidak menyadari kalau Alesha sedang dihadang oleh dua lelaki nakal, namun untungnya sang supir segera menyadari itu.
“Mr. Jacob, lihatlah! Ada dua orang yang menggoda Alesha!” Ucap sang supir.
Jacob hanya menyimak ucapan supir itu dengan malas, namun matanya melebar dan emosinya memuncak saat melihat dua lelaki itu sedang mencoba untuk merayu dan menyentuh Alesha. Dengan penuh amarah Jacob keluar dari dalam mobil dan menghampiri dua lelaki yang sedang menggoda Alesha. Jacob menarik kerah baju dua lelaki itu hingga membuat mereka terjatuh ke tanah. Jacob segera berdiri di depan Alesha.
“Pergi atau akan ku habisi kalian sekarang juga!!!” Bentak Jacob dengan penuh amarah.
Dua lelaki itu segera bangkit dan berlari kabur saat menatap tatapan tajam dan menusuk dari mata Jacob.
Jacob sudah mengepalkan tangannya, namun untungnya dua lelaki itu segera pergi, jadi Jacob tidak perlu repot mendaratkan pukulan mematikan di wajah dua lelaki itu.
Jacob segera berbalik dan menatap Alesha. “Kemarin-kemarin aku membiarkanmu pergi begitu saja sendirian dan akhirnya kau masuk ke dalam masalah, sekarang aku membiarkanmu pergi sendirian lagi hanya untuk membeli makanan di toko itu yang hanya berjarak beberapa meter dariku sudah ada lelaki lain yang berani menggodamu.” Jacob mendengus. “Setelah ini aku tidak akan pernah membiarkanmu untuk pergi sendirian lagi!"