
"Mr. Jacob..."
"Ya?"
"Boleh aku tanyakan sesuatu?"
"Silahkan."
"Bagaimana bisa kau bertahan tanpa ada Yuna disisimu?"
Tanpa Alesha sadari pertanyaannya barusan itu seperti sebuah pukulan untuk dada Jacob. Bagaimana ia bisa bertahan tanpa ada Yuna disisinya? Pertanyaan macam apa itu? Jacob enggan membahas tentang Yuna yang bisa membawanya kembali terjatuh karna semua kenangan yang manis yang selalu saja menyayati hati Jacob. Sebisa mungkin Jacob mengendalikan mood hatinya yang tiba-tiba saja berubah. Jacob tidak ingin membahas Yuna, ia ingin menikmati waktunya bersama Alesha. Jacob paling tidak suka jika harus membohonginya dirinya sendiri. Jujur saja kenangan Yuna membuat Jacob tersiksa. Ia sangat mencintai Yuna, tapi ajal Yuna menikung hubungan mereka hingga akhirnya Jacob harus kehilangan Yuna. Tolong, mulai saat ini Jacob ingin melepaskan Yuna, bukan berarti ia tidak setia pada Yuna, tapi memang mau tidak mau dan sangat terpaksa hal itu mesti Jacob lakukan. Ia masih sangat muda, dan mungkin jalannya masih cukup lebar jika harus mendapatkan cinta baru. Jacob ingin bahagia bersama istri dan anaknya kelak, ia membutuhkan sosok baru yang dapat dijadikannya sebagai wadah untuk menampung banyaknya cinta yang tertuangkan. Mungkin jika Jacob sudah menikahi Yuna dan umurnya juga sudah sampai pada titik matang, ia akan lebih memilih untuk bertahan bersama semua kenangannya bersama sang wanita terkasih. Tapi Jacob masih cukup muda untuk menjelajahi hati lain yang bisa membawa kebahagiaan baru untuknya.
Dan Jacob ingin hanya Alesha lah yang dapat mewujudkan semua keinginannya itu.
"Ehm, maaf, kau tidak perlu menjawab itu." Ucap Alesha yang menyadari perubahan mimik dan sikap Jacob yang menjadi dingin ketika mendengar pernyataan dari Alesha tadi.
"Tidak apa." Tiba-tiba saja wajah dingin mentornya itu kembali berubah dengan terukirnya senyuman peluluh hati.
Tampannya..
Haduh, lagi-lagi Alesha jatuh pada pesona mentornya itu.
"Awalnya aku tidak bisa melepaskan Yuna, aku tidak bisa menerima kepergian Yuna yang jasadnya sampai saat ini belum ditemukan. Aku selalu terbayang oleh Yuna disetiap waktuku. Kakakku, Mona pernah berniat untuk membawaku ke rumah sakit jiwa karna ia selalu mendapati tingkahku yang seolah seperti orang kehilangan akal."
Jacob terkekeh dengan sendirinya ketika mengingat bagaimana paniknya Mona saat melihat Jacob yang seperti bukan manusia ketika kehilangan Yuna.
"Aku dikurung oleh SIO di kamar khusus dan beberapa psikiater ahli sudah datang untuk membantuku terlepas dari rasa trauma dan keterpurukan yang sudah pada titik terdalam. Namun itu semua tidak mempan. Aku nyaris mengakhiri diriku, namun Mona menangis dan aku tidak bisa melihat kakakku yang ikut merasa terpuruk karna kondisiku waktu itu. Mr. Frank dan Mr. Thomson pun turut merasakan was-was saat tahu kalau keadaanku semakin kacau, SIO dan WOSA sedang dalam keadaan tidak aman karna harus menangani pemberontak dan musuh yang menyerang secara membabibuta."
"Singkatnya, selama dua tahun lebih aku kehilangan jati diri dan tidak mengenali siapa aku sebenarnya, akhirnya secara lambat laun aku dapat bangkit kembali. Namun itu tidak sepenuhnya, aku memutuskan untuk melepas kontrak kerja bersama SIO. Aku meyakinkan Mona agar membiarkanku pergi menjelajah belahan dunia untuk mendapatkan dan menemukan kembali jati diriku yang hancur dan lenyap akibat depresi berat yang aku derita."
"Tidak mudah untukku melupakan Yuna. Dua tahun lebih aku jalani dengan mengurung diri tanpa bersosialisasi dengan siapa pun. Aku sudah seperti orang gila, kadang bicara sendiri, kadang tertawa sendiri, dan secara tiba-tiba aku akan menangis. Begitu saja selama dua tahun. Para psikiater tidak bisa membantuku, bahkan terapi yang aku jalani beberapa kali hanya membuatku semakin tersiksa."
"Beberapa bulan sebelum dibukanya kembali WOSA oleh SIO, aku dipanggil kembali lalu ditunjuk untuk menjadi agent dan mentor kalian. Awalnya aku menolak dengan sangat tegas, aku pikir dengan menjadi mentor malah akan kembali memperburuk keadaanku. Tapi SIO terus menerus memohon padaku dan meyakinkanku kalau aku akan dapat melupakan Yuna jika aku menemukan kebahagiaan dan momen baru bersama anggota timku yang baru. Setelah melewati tahap seleksi pikiran selama satu minggu lebih, aku pun menyetujui permintaan SIO untuk menjadikanku agent dan mentor kalian."
"Pasti Yuna sangat berharga ya untukmu?" Ucap Alesha berusan bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan ungkapan kesedihan. Kenapa? Kenapa Alesha jadi sedih mendengar cerita mentornya yang depresi berat akibat kehilangan sosok wanita berharga? Jujur saja sesak rasanya untuk Alesha saat mengetahui kalau mentornya itu sangat mencintai Yuna, kekasihnya yang sudah tidak ada.
Sesak bukan karna cemburu atau apa, tapi Alesha teringat akan besarnya cinta ia pada Adam yang tidak terbalaskan. Alesha pikir kalau mentornya itu termasuk beruntung karna bisa mendapatkan pujaan hati yang sama-sama saling mencintai, walau diakhiri dengan ketragisan yang menyiksa. Sedangkan Alesha? Adam tidak ada dipihaknya, hati Adam lebih memilih untuk bertahta pada wanita lain. Yang Alesha tahu hanya lah tidak ada ketulusan kasih yang didapatkannya setelah kepergian orang tuanya.
"Sangat. Aku benar-benar mencintainya, bahkan aku rela jika harus menukar nyawaku kalau ada pilihan untuk Yuna kembali hidup."
"Kau sudah pernah mendapatkan cinta sejati yang juga mencintaimu. Bagaimana rasanya seperti itu? Bagaimana rasanya dicintai sangat tulus oleh orang yang begitu berarti?" Tanya Alesha tanpa bisa mengenyahkan raut semi sedihnya.
Ya ampun, Jacob tidak tega melihat wajah Alesha yang seperti itu. Tampak sekali ekspresi kurang kasih sayangnya, dan Jacob pun turut merasa sedih. Alesha berpikir kalau ia masih belum mendapatkan kasih sayang yang sejak dulu diinginkannya sejak kematian kedua orang tua, padahal tanpa Alesha sadari lelaki yang ada dihadapannya kini begitu sayang dan siap memberikan semua perhatian yang Alesha butuhkan.
Aku tau, kau selalu merasa kalau kau itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dan cinta yang tulus. Aku siap, Al, aku akan memberikan hal itu padamu tanpa kau sadari, aku sangat menyayangimu.... Ucap Jacob dalam hati.
"Kebahagiaan yang sangat besar akan kau dapatkan saat orang yang kau cintai juga balik memberikan cinta dan kasihnya untukmu." Jawab Jacob sambil tersenyum simpul. Ia harap dengan senyumnya itu dapat sedikit membantu menghapus ekspresi kesedihan yang masih tertera pada wajah Alesha.
Sebelah telapak tangan Jacob terangkat dan menangkup pipi Alesha. "Tapi aku tidak mau terus menerus tenggelam dalam memori masa lalu bersama Yuna yang hanya membangkitkan luka batinku."
Sorot mata Jacob menghangat namun sangat dalam. Seperti akan mengungkapkan sebuah perasaan yang selama ini terpenjara dalam hatinya. "Aku sudah dalam tahap untuk melepaskan Yuna, membiarkan jiwanya pergi dengan tenang karna aku sudah menemukan hal baru yang membuatku tidak ragu untuk melupakan Yuna."
Wajah Alesha terangkat dan balik menatap kedua iris hitam milik mentornya.
"Kau akan melupakan Yuna begitu saja?" Alesha mengerutkan keningnya.
Jacob pun tersenyum saat mendengar pertanyaan Alesha barusan. "Tentu saja, kehidupanku masih berlanjut, Al. Aku mencoba untuk membuka pikiranku. Usiaku mungkin sudah dewasa, tapi bukan berarti aku harus tetap terpaku pada masa lalu. Aku juga ingin memiliki kehidupan yang lebih baik lagi. Cukup saja Yuna dan kepergiannya menjadi ajang pembuktian seberapa kuat aku menghadapi kenyataan dunia yang tidak memihak hingga aku nyaris saja membawa nyawaku melayang karna ingin bertemu dengan Yuna dilain alam. Pikiranku sudah cukup terbuka untuk mulai menyusun kehidupan baru."
Binar indah yang Alesha dapatkan dari sorot mata mentornya semakin saja bertambah. Tersirat kebahagiaan didalamnya, bahkan Alesha pun dapat merasakan apa yang sedang kedua bola hitam kecil itu isyaratkan padanya.
"Bersama orang yang sudah aku pilih, kini aku ingin merasakan kembali bagaimana cinta itu hadir dalam diriku, namun dengan sosok lain yang tentunya dapat menggantikan posisi Yuna dalam hatiku."
"Tiga tahun berlalu, akhirnya aku bisa mendapatkan kembali apa yang sudah menghilang dalam diriku. Aku pikir Yuna tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun, tapi hatiku berkata lain. Kini aku sudah membuka jalan untuk orang aku cintai."
Alesha tersenyum simpul ketika mentornya itu sudah menyelesaikan kalimatnya.
Mudah ya, apa Alesha juga harus nunggu bertahun-tahun terus bener-bener depresi dulu kaya Mr. Jacob biar pikiran Alesha kebuka trus mau deh buka hati buat cowo lain..... Ucap Alesha dalam hatinya.
"Kau belum mengantuk?" Tanya Jacob yang berniat mengubah alur percakapannya dengan Alesha. Sudah cukup Jacob bercerita, dan Alesha juga sudah paham maksud dari ceritanya tadi. Jadi, Jacob tidak ingin mengungkit masalah Yuna lagi dihadapan Alesha.
"Sepertinya efek obatnya mulai berjalan, mataku mulai terasa berat." Jawab Alesha.
"Kalau begitu ayo, aku akan mengantarmu kembali ke messmu."
"Bantu aku bangun." Alesha mengulurkan satu tangannya yang direspon cepat oleh Jacob. Tubuh Alesha pun akhirnya beranjak dari tanah yang sedari tadi dijadikannya sebagai alas untuk berduduk.
"Ayo, jangan sampai kau tertidur di sini." Ucap Jacob.
Atau jika kau tertidur di sini maka aku akan membawamu ke ruanganku..... Lanjut Jacob dalam hati.
Berjualan berdua bersama Alesha selalu saja membuat Jacob merasa nyaman. Timbulnya rasa tertarik beberapa bulan lalu membuat hati Jacob semakin terbuka. Meski diawal Jacob selalu melihat Alesha sebagai pengganti Yuna, tapi ia sudah tidak khawatir akan hal itu. Sekarang Jacob tahu kalau Alesha adalah obatnya yang akan membawa Jacob mampu melupakan Yuna, dan bukan seorang pengganti apalagi pelarian.
Alesha adalah gadis yang tepat untuk Jacob dapat melepas semua beban kenangan yang selalu saja membuat batin Jacob tersiksa dan terkekang.
Kurang lebih sepuluh menit sudah berlalu. Alesha dan Jacob pun sudah sampai di gedung venus, mess khusus murid perempuan.
Alesha menaiki beberapa anak tangga dengan bantuan Jacob saat rasa kantuknya semakin menyeruak memenuhi isi kepalanya dan memadati matanya.
"Tidur saja, aku akan menemanimu hingga kau tertidur, tapi setelah itu aku mesti kembali ke ruanganku, dan aku akan meminta Laras untuk menemanimu." Ucap Jacob.
"Iya." Balas Alesha.
Jacob khawatir jika harus meninggalkan Alesha sendirian lagi. Terakhir kali Alesha ditinggal sendiri di kamar messnya ada seorang lelaki yang menyamar dan menculik Alesha. Jacob trauma, ia tidak ingin kejadian itu terulang, tapi mau bagaimana lagi? Pekerjaannya sudah sangat amat banyak dan harus diselesaikan dalam waktu sesingkat mungkin.
Tapi nanti paling Jacob akan meminta Laras untuk menemani Alesha.
"Mr. Jacob, aku langsung tidur ya, mataku sangat berat." Ucap Alesha yang memaksakan mulutnya untuk tetap berucap walau rasanya ia sudah berada diambang kesadaran yang akan segera menariknya masuk kedalam alam bawah sadar.
Sebagai jawabannya, Jacob pun mengangguk pelan. Baru setelah itu, Alesha membawa tubuh untuk berbaring dan perlahan memejamkan matanya untuk membantu dirinya memasuki dunia lain yang berasal dari bunga tidur.
Keheningan semakin menyambangi ruangan itu saat Jacob mendapati Alesha yang hampir mendapatkan kembali waktu istirahatnya. Segera Jacob meraih ponselnya yang berada didalam saku baju kemejanya. Niat Jacob ingin mengirim pesan pada Laras dan meminta temannya itu untuk menemani Alesha, namun kesunyian dalam ruangan itu tiba-tiba saja tergebrak dan kabur saat timbulnya suara yang cukup nyaring yang berasal dari pintu yang terbuka.
Jacob berdecak dan mendengus pada Levin yang membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mess itu. Jacob kesal karna ulah Levin barusan membuat Alesha yang baru saja terlelap menjadi terkejut dan kembali membuka matanya. Jika saja bukan karna Levin pasti Alesha tidak akan terbangun.
"Kau mengganggu Alesha, Levin! Dia baru saja terlelap dan kau malah membangunkannya!" Protes Jacob yang menatap tajam pada Levin.
"Aku?" Levin menunjuk pada dirinya sendiri dengan ekspresi bingung. Ia tidak tahu kalau barusan ia sudah membangunkan Alesha.
"Tidur saja, Al itu hanya Levin, hiraukan dia." Ucap Jacob seraya memberikan sebuah usapan lembut pada punggung tangan Alesha.
Alesha yang sudah diambang sadar tidak sadar karna pengaruh obat tidur yang berdosis cukup tinggi itu akhirnya segera menutup kembali matanya. Ia sudah tidak perduli dengan sekitarnya, tubuhnya benar-benar lemas dan matanya menolak untuk terbuka lebih lama lagi, kepalanya pun seakan kosong dan yang ada hanyalah rasa kantuk yang teramat sangat.
"Jangan mengganggunya, dan jangan coba-coba untuk melakukan hal-hal aneh pada Alesha atau kau akan menerima banyak pukulan diseluruh tubuhmu." Ucap Jacob yang memberikan peringatan keras pada Levin.
Sedangkan Levin, ia hanya mengalihkan pandangannya dengan malas ke arah lain.
"Apa maumu datang ke sini?" Tanya Jacob dengan sinis.
"Menjenguk Alesha dan menemaninya. Kau banyak sekali pekerjaan bukan? Pergilah ke ruanganmu, biarkan aku yang akan menemani Alesha."
Jacob menggeram pelan. Ia tidak mau jika Levin yang menemani Alesha.
"Tidak usah repot-repot, aku akan meminta Laras untuk menemani Alesha, kau pergi saja kembali ke ruanganmu." Ucap Jacob yang mengusir Levin secara halus.
"Laras sibuk, dia sedang memeriksa dan mendata sampel baru yang SIO kirim ke WOSA." Balas Levin. "Sudahlah, kau tidak usah memikirkan hal yang berlebihan, aku tidak akan mengganggunya, aku hanya akan menemaninya di sini."
Jacob terdiam sejenak. Apa ia bisa mempercayai Levin untuk menemani Alesha yang kini sudah sepenuhnya diambil alih oleh alam bawah sadar? Tentu saja Jacob percaya kalau Levin tidak akan berani melakukan hal-hal buruk pada Alesha, tapi yang membuat Jacob tidak yakin adalah sisi kecemburuannya. Ia takut Levin melakukan hal yang dapat memancing rasa cemburunya. Bagaimana kalau nanti Levin berani menyentuh, mengelus, memandangi, atau yang lebih parah lagi mencium Alesha secara diam-diam?
"Jangan berpikir buruk tentangku, aku tahu kau cemburu, aku tidak akan merebutnya darimu, dan tidak akan melakukan hal yang pernah kau lakukan pada Alesha secara diam-diam." Sindir Levin.
Kembali Jacob mempertimbangkan ucapan Levin barusan. Apa benar yang Levin ucapkan itu?
"Baiklah, temani dia hingga aku kembali nanti. Jangan kau coba-coba untuk melakukan hal-hal yang bisa membuatku menghabisimu!!" Ucap Jacob seraya memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya.
Kini Jacob beranjak dari duduknya. Ia pun mendekati Alesha yang sudah tertidur pulas. Jacob berniat untuk mengingkari janji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi melakukan hal yang melebihi batas dari sekedar memeluk tubuh ramping namun berisi milik Alesha itu.
Serangan balik pun akan segera Jacob tunjukkan pada Levin yang waktu itu selalu saja memancing emosi Jacob dengan cara mendekati dan merayu Alesha dan membuat Jacob cemburu. Maka kali ini, ia akan membuat Levin geram. Ia hanya ingin memberikan peringatan pada Levin kalau Alesha adalah miliknya dan tidak bisa direbut oleh siapa pun.
Levin yang sedang bersandar malas pada dinding tiba-tiba saja sorot matanya menjadi awas dan sedang memastikan apa yang akan Jacob lakukan pada Alesha.
"Selamat tidur, sayangku, istirahat yang cukup ya, kalau ada yang mengganggumu katakan saja padaku."
Setelah mengucapkan kalimat yang tentunya dapat Levin dengar, Jacob pun mendaratkan sebuah ciuman lembut pada kening Alesha.
Belum cukup dengan itu, Jacob pun segera melayangkan kecupan kedua dan dengan waktu yang lebih lama lagi pada pipi Alesha.
Jacob memberikan elusan pelan pada rambut Alesha dan menatapnya dengan penuh cinta. "Aku mencintaimu, Alesha."
Sekali lagi, Jacob meletakkan bibirnya secara singkatan diatas benda lembut yang menjadi salah satu candu baginya.
Jacob mungkin akan merutuki sikapnya barusan karna sudah berani menodai Alesha untuk yang kesekian kalinya dan melanggar janjinya pada dirinya sendiri, tapi itu semua Jacob lakukan untuk menunjukan dan memperingati Levin agar pria itu tidak berani mengusik hubungan ia dan Alesha.
Sedangkan Levin, ia dibuat benar-benar mencapai pada titik didih oleh tingkah rivalnya yang kini sedang mencoba untuk memancing emosinya. Mata Levin membulat sempurna, hatinya panas dan kecemburuannya timbul karna melihat Jacob yang melayangkan tiga ciuman pada wajah Alesha.
Owh, jadi Jacob ingin memulai pertempuran rupanya, baiklah. Pikir Levin.
Setelah selesai dengan ulahnya, Jacob pun segera membalikkan tubuhnya untuk menghadap pada Levin, lalu setelah itu terbentuklah smirk kemenangan dan meledek yang ditujukan untuk Levin.
Puas!
Jacob puas setelah berhasil membuat Levin tertegun sambil menahan segala rasa emosi dan kecemburuan yang tertera jelas pada wajah si rival itu.
Tanpa banyak kata lagi, Jacob segera melangkahkan kakinya dan mulai berjalan meninggali ruangan mess itu.
Akhirnya, ia bisa juga membuat Levin semakin cemburu. Ternyata asik juga ya bermain-main dengan rivalnya.