May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kado Ulang Tahun Penyebab Kecemburuan



Waktu meloncat-loncat sangat cepat, menandai hari kesatu, dua, tiga, dan sekarang sudah sampai hari keempat. Perkembangan kondisi tubuh Alesha menaik dengan baik. Pemulihan beberapa hari setelah tragedi malam itu yang membuat Alesha kembali mengambang diantara nyawa yang menetap, atau melayang pergi.


Perhatian dari sang mentor membantu memperkuat imun dalam tubuh Alesha agar dapat berjalan baik. Sesekali Jacob melakukan candaan kecil bersama gadis manisnya yang semakin ceria hari demi hari. Itu pertanda yang sangat baik, Jacob bahagia melihat senyum cengengesan Alesha. Tapi tentunya hal itu tidak diketahui oleh anggota timnya yang lain, kecuali si ketua.


Bastian memerintahkan agar yang lain untuk tetap berada di hotel dan tidak boleh pergi kemana pun, juga satu lagi, atas permintaan Jacob, Bastian juga melarang anggota timnya untuk menjenguk Alesha ke rumah sakit.


Kenapa? Ya karna Jacob ingin menghabiskan waktunya bersama Alesha tanpa takut membuat rasa curiga dalam benak anggota timnya yang lain.


Sebagai imbasnya, kini Bastian hanya berperan sebagai figuran semata diantara canda tawa yang melibatkan dua sejoli. Jacob dan Alesha asik bercanda, kadang Bastian juga ikut, namun ia hanya menjadi bahan ledekkan oleh Alesha. Tapi tidak apa, melihat tawa Alesha yang kembali memancarkan ekspresi ceria membuat Bastian cukup bahagia karna itu berarti salah satu anggotanya sudah mulai kembali pulih.


Lalu hari ini, tepatnya memasuki hari kelima, dokter pun sudah memperbolehkan Alesha untuk pulang. Mendengar hal itu membuat Alesha tersenyum kegirangan, lima hari memulihkan diri di rumah sakit membuat Alesha sangat merindukan WOSA. Alesha sangat ingin merayakan kemenangan bersama anggota timnya karna mereka berhasil meraih peringkat pertama dalam ujian akhir semester dua yang WOSA adakan.


Bastian pun segera menghubungi Aiden untuk menginformasikkan kepada Mr. Thomson kalau Alesha sudah diizinkan kembali, selang setengah jam berlalu, Bastian kembali mendapatkan balasan dari Aiden bahwa pesawat SIO akan menjemput mereka.


Menunggu jemputan yang baru akan tiba setelah berjam-jam dari sekarang membuat Bastian merasa bosan. Biasanya ia akan senyum-senyum sendiri melihat mentornya dan Alesha saling sahut menyahutkan candaan, namun Alesha diberikan obat tidur oleh dokter agar tubuhnya bisa terlebih dahulu diistirahatkan sebelum perjalanan jauh yang akan ditempuhnya bersama yang lain.


"Kalian berdua sangat manis saat bersama, membuatku iri jadinya." Ucap Bastian seraya mendekati mentornya yang sedang asik memainkan bulu mata Alesha.


"Kau terlihat lebih beraura ketika bersama Alesha, Mr. Jacob." Lanjut Bastian yang masih juga belum mendapatkan respon dari si mentor.


"Aku ingin sepertimu, menemukan wanita yang sangat aku cintai dan menghabiskan waktu bersama dengan penuh keceriaan. Bisakah kau menularkan hal itu padaku?"


Jacob terkekeh geli. Ia pun memberikan tatapan meledek pada Bastian.


"Lihatlah bagaimana caraku menyikapi Alesha, kau bisa mencontohnya."


Lalu Jacob mendekatkan wajahnya pada lekukkan leher Alesha. "Ini sangat nyaman, kau akan merasakannya nanti, Bas." Jacob menggesekkan kepalanya dengan pelan pada leher Alesha.


"Akan ku buat kau menjadi Nyonya Ridle dalam waktu yang dekat." Gumam Jacob.


"Ah sudahlah, Mr. Jacob, kau membuatku iri jika seperti itu. Aku akan segera mencari wanita agar bisa mengikutimu."


"Lebih cepat lebih baik, aku juga tidak ingin menunda lebih lama lagi, Bas." Lalu kemudian Jacob kembali mengangkat wajahnya. "Aku akan segera menikahinya jika ia sudah lulus."


Bastian langsung melongo menatap tidak percaya pada ucapan mentornya barusan.


"Apa aku tidak salah dengar?"


"Tentu saja tidak, Bas. Semakin aku mengulur waktu, semakin aku tersiksa. Kau tidak tahu seberapa sulitnya menahan hasratku saat bersama Alesha. Jika aku sudah menikahinya, aku jadi bebas melakukan apapun dengannya. Malah setahuku kami akan mendapatkan pahala jika sering menghabiskan waktu bersama sebagai pasangan suami istri."


Mendengar hal itu, Bastian jadi ingin menanyakan suatu hal pada mentornya, namun ia cukup ragu. Pertanyaannya itu akan sangat bersifat sensitif. Bastian takut ia malah akan menyinggung mentornya. Tetapi Bastian tetap memberanikan dirinya untuk menanyakan hal itu.


"Ehm, Mr. Jacob.."


"Ya?"


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Silahkan." Jacob menjawabnya dengan sangat santai dan tidak menaruh rasa curiga sama sekali terhadap pertanyaan yang akan Bastian ajukan.


"Kau yakin akan menikahi Alesha?"


Seketika Jacob pun mengangkat wajahnya lalu menatap Bastian dengan ekspresi bingung.


"Tentu saja, aku sangat mencintainya. Kenapa memangnya?"


Bastian mulai gelagapan. Ia bingung kata atau kalimat apa yang mesti ia ucapkan agar tidak menyinggung perasaan mentornya.


Seolah dapat membaca apa yang ada dalam pikiran Bastian melalui sorot mata dan gelagapnya, Jacob pun menebak hal apa yang ingin Bastian tanyakan.


"Maksudmu adalah persoalan keyakinan?"


Bastian mematung seketika. Wajahnya tegang begitu pun tubuhnya. Mentornya itu tahu apa yang sedang ia pikirkan. Bagaimana Bastian menjelaskannya?


Tetapi Jacob malah tersenyum. Ia sama sekali tidak tersinggung mengenai hal itu. "Aku tidak ragu untuk masalah itu, Bas. Sebenarnya, sejak aku menyadari kalau aku mencintai Alesha, diam-diam aku selalu mempelajari hal yang berkaitan dengan keyakinan Alesha. Aku sudah mendapatkan beberapa poin penting yang membuatku yakin kalau aku akan siap untuk memasuki agama Islam jika suatu saat Alesha memintaku untuk meminangnya." Jacob mengalihkan pandangannya pada Alesha. Ia tersenyum hangat dengan sorot mata yang menenangkan.


"Alesha mendambakan sosok suami yang bisa menuntunnya menuju kehidupan yang lebih baik dan bisa membawanya menuju surga. Aku cukup kasihan padanya, aku tahu kalau sekarang ini ia sangat ingin kembali menjadi seperti dulu sebelum kedua orang tuanya meninggal. Alesha adalah gadis yang taat pada agamanya, namun kepergian kedua orang tua mengubah hidupnya ke jalur yang salah." Pandangan Jacob kembali beralih pada Bastian. "Aku akan membantu dan membimbingnya untuk kembali menjadi muslimah sejati."


Senyuman tulus yang terukir pada wajah Jacob saat ini membuat Bastian semakin bergeming. Tapi syukur lah jika mentornya itu mau mengalah, setidaknya kendala yang paling besar akan cukup mudah untuk dilewati. Semoga saja, apapun itu keputusan yang mentornya atau pun Alesha ambil akan menjadi yang terbaik dan membawa mereka berdua menuju kehidupan terbaik. Harap Bastian dalam hatinya.


Jacob membungkukkan tubuhnya untuk dapat berisik disebelah telinga Alesha.


"Aku akan menjadi imam yang baik untukmu kelak, Al. Akan aku pastikan itu. Aku sangat mencintaimu."


Bastian menghela napasnya dengan penuh ketenangan saat mendengar ucapan mentornya barusan.


"Semoga apapun keputusannya, aku harap kalian akan menjadi pasangan yang paling bahagia dan memiliki kehidupan lebih baik lagi."


Setelah sabar menunggu selama berjam-jam, didapatilah kabar jika pesawat SIO sudah sampai di bandara. Untuk anggota tim yang lain, mereka lebih dulu pergi dari hotel untuk menuju bandara, sedangkan Jacob, Bastian, dan Alesha menyusul belakangan.


Mobil sedan melesat memecah keheningan malam disalah satu kota ternama di dunia itu. Kesibukan jalan raya yang dilalu-lalangi oleh alat transportasi tidak menghambat perjalanan menuju bandara. Alesha bahkan sangat menikmati waktu perjalanannya sebelum mengudara bersama anggota timnya yang lain.


Sesampainya mereka di bandara, Bastian berjalan lebih dulu, sedangkan Jacob menuntun Alesha untuk berjalan.


"Selamat datang, tuan." Sapa hangat sang pramugari cantik.


"Kapan kita akan berangkat?" Tanya balik Jacob.


"Sekitar lima belas menit lagi, tuan." Jawab pramugari itu.


Jacob mengangguk. Ia pun segera membawa Alesha untuk duduk dikursi pesawat.


"Mr. Jacob, aku mengantuk." Gumam Alesha sembari mengerjapkan matanya menahan rasa kantuk yang amat berat. Mungkin efek obat tidur yang tadi dokter berikan sesaat sebelum Alesha pergi meninggalkan rumah sakit mulai bekerja.


"Tidur saja, Al. Perjalanan kita panjang." Balas Jacob sembari mengelus lembut rambut Alesha.


Lalu Alesha memejamkan matanya, membiarkan rasa kantuk merenggut kesadarannya. Tubuh Alesha disandarkan pada kursi pesawat yang empuk dan sangat nyaman.


Pesawat pun akhirnya mendapati izin untuk segera mengudara. Diatas langit malam yang begitu indah, kesepuluh remaja itu terlelap dalam tidur mereka.


Waktu tempuh yang menghabiskan semalaman membuat ruang dalam pesawat itu begitu sunyi. Tetapi sang waktu sedang memihak perjalanan kali ini. Mereka akhirnya sampai di WOSA dalam keadaan langit yang sudah cerah. Entah jam berapa atau berapa jam berlalu. Kesepuluh remaja bersama sang mentor beranjak dari duduk mereka untuk keluar dari dalam ruang pesawat.


"Kalian langsung saja pergi ke mess masing-masing. WOSA memberikan jatah libur seminggu untuk para muridnya." Ucap Jacob.


Wajah-wajah girang kian ditampakkan oleh Bastian dan anggota timnya. Ya walau waktu libur hanya tersisa dua hari lagi, setidaknya mereka bisa terbebas dari pelatihan berat yang dijadikan sebagai makanan sehari-hari oleh mentor mereka.


****


Satu hari sudah berlalu kembali, dan waktu libur menyusut menjadi satu hari lagi, Alesha ingin menikmati waktunya di sudut taman WOSA yang membuat siapa pun akan merasa seperti sedang berada di negri dongeng. Ada sebuah kolam kecil di depan Alesha yang airnya diambangi oleh lotus cantik.


Sudah lama Alesha tidak menikmati waktu kesendiriannya seperti saat ini. Tidak menjadi masalah untuk Alesha berjalan-jalan sendiri mengelilingi taman WOSA, toh ia sudah kembali pulih, dan tubuhnya terasa segar bugar seperti biasanya.


Termenung di taman itu membuat hati Alesha menjadi lebih tenang. Kepala dan iris matanya bergerak ke sana kemari memandangi setiap keindahan yang disajikan oleh taman itu. WOSA memang lah sekolah impian, andai saja semua sekolah di dunia bergaya arsitektur seperti WOSA. Mengambil tema ala abad pertengahan, juga taman-taman seperti pada cerita fantasi.


Alesha ingat saat ia pertama kali menapakkan kaki di WOSA. Ia sangat terkesan. Hal yang pertama ada dalam pikirannya adalah Hogwarts, sekolah sihir dalam serial film Herry Potter.


Entah siapa yang mencetuskan ide untuk membuat WOSA layaknya sebuah sekolah fantasi. Tiap malam yang berlalu selalu ditaburi oleh miliaran bintang. WOSA adalah negri dongeng versi nyata bagi Alesha, mungkin murid yang lain juga akan sependapat dengannya.


"Hey, manis."


Alesha tertegun saat telinganya menangkap sebuah suara berat khas seorang lelaki. Pandangannya menjadi awas, menelisik setiap sudut taman itu.


"Lama tidak bertemu, cantik."


Suara itu lagi. Siapa yang berbicara? Alesha tidak mendapati ada seseorang di sana.


"Aku berada tepat di belakangmu, sayang."


Alesha pun memutar tubuhnya dengan cepat ke arah belakang.


"Mr. Levin!" Pekik Alesha dengan mata yang membulat dan mulut yang terbuka.


"Hallo, sayang, lama tidak jumpa." Levin menyunggingkan senyum menawannya sambil memberikan kedipan mata yang menggoda pada Alesha.


Alesha segar membawa tubuhnya untuk berlari kecil menuju pria tampan yang sedang bersandar santai pada pohon sambil melipatkan kedua tangannya itu.


"Aaa, Mr. Levin, lama tidak bertemu, aku merindukanmu." Alesha berdiri tepat dihadapan Levin dengan binar gembira pada sorot matanya.


"Bagaimana kabarmu, Mr. Levin?" Tanya Alesha.


Levin yang merasa gemas terhadap si manis milik rivalnya itu seketika membungkukkan tubuhnya agar bisa menatap sejajar dengan wajah Alesha.


"Aku baik." Jawab Levin sambil tersenyum lebar. "Oh, ya. Selamat ulang tahun, sayang." Levin mengelus lembut puncak kepala Alesha. Sedangkan si empunya kepala itu hanya bisa menunduk malu. Wajah Alesha merona seketika saat mendapatkan perlakuan manis dari pria yang sudah seperti bagian dari keluarganya sendiri.


Jemari Levin bergerak masuk dan merogoh kantung celana jeansnya, mengeluarkan sebuah benda bulat cantik yang berbahan dasar emas murni dengan hiasan sebuah mutiara laut asli yang sangat menawan juga gantelan emas kecil bertuliskan huruf A.


Segera Levin meraih pergelangan tangan Alesha untuk memasangkan hadiah ulang tahun pemberiannya itu.



Alesha yang melihat pergelangan lengannya dipasangi gelang cantik oleh Levin hanya bisa membulatkan matanya tanpa membuka suara sedikit pun. Ia terkejut ketika Levin memberinya hadiah gelang itu.


"Ini hadiah dariku untuk si gadis manis yang seminggu lalu berulang tahun." Levin memberikan colekkan gemas pada ujung hidung Alesha.


"Bagaimana, kau suka?" Levin mengangkat sebelah alisnya seraya menyunggingkan senyum menawan yang membuat Alesha sedikit gelagapan.


Alesha mengangguk cepat sembari membalas senyuman Levin. "Terima kasih banyak, Mr. Levin."


"Tunggu di sini sebentar." Ucap Levin lalu membalikkan tubuhnya untuk berjalan menuju sebuah rerumputan yang diatasnya sudah terdapat dua buah paper bag mewah.


Tunggu. Apa itu kado lagi?


Dengan cepat Levin mengambil dua paper bag itu dan kembali berjalan menuju Alesha.


"Ayo.." Levin menggiring Alesha menuju kursi taman yang panjang dibawah pepohonan rindang.


Mereka pun terduduk di sana. Saling memandang dan sama-sama memberikan senyuman penuh keceriaan.


"Ini ada sedikit tambahan." Ucap Levin sembari menyodorkan dua paper bag mewah itu pada Alesha.


"Apa ini?" Alesha menatap bingung pada dua paper bag mewah pemberian pria baik hati yang ada dihadapannya kini.


"Buka saja, aku harap kau suka." Balas Levin.


Tak berlangsung lama, Alesha segera menurutkan ucapan Levin untuk membuka dua paper bag itu.


Ditariknya oleh Alesha satu buah kotak besar dari dalam salah satu paper bag yang Levin beri. Lumayan tebal dan sangat halus tekstur dari kotak itu. Alesha cukup terkesima, namun ia sangat penasaran akan isi kotak besar tersebut.


"Bismillahirrahmanirrahim.." Gumam Alesha sangat pelan.


Ia membuka ujung penutup kotak itu hingga didapatinya sebuah kantung kain tipis berwarna putih yang membaluti sebuah benda misterius didalamnya. Alesha bingung, tetapi seperti ia bisa menebak apa isi dari kantung kain itu.


Alesha pun kembali menggerakkan lengannya untuk memasuki kantung kain tipis itu dan meraba-raba sebuah benda didalamnya.


"Mr. Levin." Alesha mendengus dengan ekspresi yang terlihat bahagianya. Sedangkan Levin hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari si gadis milik rivalnya itu.


Kemudian ditariklah oleh Alesha benda itu dari dalam tas kain tipis berwarna putih yang yang menjadi pelapisnya.



"Mr. Levin!" Pekik Alesha yang kegirangan ketika mengetahui kalau dugaannya itu benar. Levin memberinya sebuah tas manis berwarna pink cerah dengan gambar seekor kucing yang menjadi penghiasnya.


"Ini sangat lucu, terima kasih." Langsung saja Alesha memeluk tubuh Levin secara mendadak dan membuat Levin terkejut atas perlakuan gadis kesukaaannya itu.


Tetapi sayangnya, Alesha tidak menyadari keberadaan seseorang yang sejak tadi berkeliling WOSA untuk mencarinya. Jacob, pria itu ada di sana dengan jarak yang cukup jauh dari Alesha dan Levin. Sungguh sakit sekali rasanya melihat si manis kesayangannya memeluk dan tertawa dengan pria lain, terutama pria itu adalah rekan sekaligus rivalnya sendiri.


Wajah Jacob memerah menahan amarah, telapak tangannya terkepal kuat seakan siap untuk mendarat keras disebuah objek benda atau apapun itu, dadanya naik turun mengatur napas memburu yang dipenuhi oleh emosi dadakan.


"Terima kasih banyak, Mr. Levin." Ucap Alesha sekali lagi sembari melepaskan pelukannya pada Levin.