
Salah satu helikopter milik SIO kini sudah dalam perjalanan menuju markas mini yang terletak diantara pinggiran pegunungan Himalaya. Jacob yang berada dalam helikopter itu pun terus memeluk tubuh Alesha untuk menyalurkan kehangatan pada tubuh Alesha yang menggigil meski sudah dibaluti tiga jaket tebal.
"Kita akan segera sampai, Alesha. Bertahan lah.." Ucap Jacob yang bersedih hati karna tidak tega melihat tubuh gadisnya yang kedinginan dengan kulit yang berubah menjadi pucat kebiru-biruan. Sedikit demi sedikit dan secara perlahan, Jacob mengelap wajah Alesha yang dipenuhi oleh salju-salju halus. Meski raut Alesha terlihat tenang dengan kelopak mata yang tertutup, namun Jacob sangat khawatir karna napas gadisnya yang mulai melambat.
Melihat gelagat dan perlakuan Jacob terhadap Alesha, Leo pun memicingkan matanya menatap penuh kecurigaan. Pria itu merasakan sebuah keanehan, atau mungkin memang ia saja yang belum mengetahui kalau kawannya itu mencintai Alesha.
"Tuan, kita sampai." Ucap sang pilot helikopter.
Benar saja, tidak terasa helikopter pun sudah tiba di markas penelitian milik SIO. Sesaat setelah mendarat, Leo segera membukakan pintu helikopter untuk memberi jalan kepada Jacob agar bisa langsung membawa Alesha menuju ruang unit kesehatan yang memang sudah dipersiapkan untuk para pegawai yang sakit atau mengalami kecelakaan dalam melakukan penelitian di sekitaran pegunungan Himalaya.
Bastian dan anggota timnya yang sudah terlebih dahulu tiba di markas pun langsung berlari menyusul mentor mereka yang membawa Alesha menuju ruang unit kesehatan.
"Cepat baringkan dia di sini." Ucap sang dokter yang sudah bersiaga sejak tadi setelah mendapatkan perintah dari Leo untuk menangani Alesha yang mengalami hipotermia.
Jacob segera membaringkan Alesha di atas kasur yang biasa digunakan oleh para pasien di rumah sakit.
Tanpa membuang-buang waktu, sang dokter dengan dua orang perawat pun langsung sigap menangani Alesha. Alat-alat untuk mendeteksi tekanan darah dan suhu tubuh sudah dipasangkan dan sedang berjalan selama beberapa detik untuk dapat memberitahu kondisi Alesha saat ini.
"Bajunya harus diganti!" Ucap sang dokter. "Perawat, kalian bisakan menggantikan baju gadis ini?"
Dua perawat wanita itu langsung mengangguk setelah mendengar ucapan dokter mereka.
"Baiklah. Siapkan pakaiannya, biarkan dua perawat ini mengganti bajunya terlebih dahulu." Ucap sang dokter pada Jacob.
"Aku yang akan mengambil pakaian Alesha!" Saut Merina.
"Baik, cepatlah kalau begitu." Balas Jacob.
Langsung saja Merina berlari menuju kamar timnya untuk mengambil beberapa lembar pakaian Alesha. Sedangkan Jacob, ia mendekat kesisi Alesha lalu memberikan belaian halus pada wajah gadisnya yang begitu pucat dan dingin.
"Aku mencintaimu, Alesha." Bisik Jacob tepat disebelah telinga Alesha.
"Jacob.." Panggil Leo yang datang lalu menghampiri Jacob. "Ayo, kau harus ikut bersamaku." Leo pun menarik lengan temannya itu.
"Kemana?" Tanya Jacob.
"Yuna, dan tiga anggota timmu yang lain." Jawab Leo.
Jacob menghela napasnya cukup berat. Satu sisi ia begitu khawatir terhadap Alesha dan ingin terus berada disebelah gadis kesayangannya itu, tapi disisi lain tubuhnya meminta untuk segera menemui sang kekasih hati dan tiga anak asuhnya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Diliriknya Alesha oleh Jacob dengan tatapan cemas yang begitu kentara. Seperti mengetahui apa yang Jacob rasakan, sang dokter pun akhirnya membuka suara.
"Gadis ini baik-baik saja, kondisi tubuhnya baik dan cukup stabil, hanya memang suhu tubuhnya rendah karna mengalami hipotermia."
"Ayo, Jack, kau bisa percayakan Alesha pada dokter itu, dia sudah biasa menangani para petugas di sini yang mengalami hipotermia." Sambung Leo.
"Baiklah.." Meski ragu, akhirnya Jacob pun mau untuk meninggalkan Alesha dan mempercayai sang dokter untuk membantu agar kondisi tubuh gadisnya itu kembali normal.
Selepas beberapa menit berlalu, Merina pun akhirnya kembali ke ruangan di mana temannya sedang terbaring pingsan.
"Ini pakaian Alesha." Ucap Merina seraya menyerahkan pakaian milik Alesha kepada dua perawat wanita.
Lalu setelah itu, Merina, anggota timnya, dan sang dokter pun pergi keluar ruangan untuk membiarkan dia perawat wanita itu menggantikan pakaian Alesha.
"Hey kalian, apa yang terjadi?" Tanya Eve yang tiba-tiba saja datang menghampiri anggota tim Jacob.
"Alesha pingsan, dan mengalami hipotermia setelah diculik oleh Vincent." Jawab Nakyung.
"Vincent? Dia menculik Alesha?" Pekik Eve.
"Ya, dan Mr. Leo membawanya kesebuah ruangan tadi." Ucap Bastian.
"Kesebuah ruangan? Vincent berada di sini?"
Nakyung mengangguk.
Tanpa meninggalkan sepatah kata pun lagi, Eve bergegas pergi meninggalkan Bastian dan anggotanya yang lain.
Lalu di dalam ruang unit kesehatan, setelah memakan waktu selama beberapa menit akhirnya dua perawat wanita itu selesai menggantikkan pakaian Alesha yang jauh lebih hangat dari sebelumnya. Dua perawat itu pun membuka kembali pintu ruangan dan membiarkan sang dokter juga tim Bastian masuk ke dalam.
Sekali lagi sang dokter mengecek kondisi tubuh Alesha untuk memastikan kalau keadaan gadis itu tetap stabil meski serangan hipotermianya masih belum berakhir.
"Kondisinya masih baik. Dia stabil, tubuhnya hanya membutuhkan kehangatan." Ucap sang dokter. "Kalian teman gadis itukan?" Dokter itu menunjuk secara bergantian pada Nakyung, Maudy, dan Merina.
"I-iya, kenapa memangnya?" Nakyung balik bertanya.
"Bagus. Tetaplah disebelahnya, bahkan kalau perlu kalian bertiga peluk lah tubuh gadis ini untuk membantu menghangatkan tubuhnya." Jawab sang dokter.
Nakyung, Merina, dan Maudy pun saling bertatapan satu sama lain dengan raut yang sama-sama menunjukan sebuah kebingungan.
"Apa yang kalian pikirkan? Cepat peluk Alesha, bantu dia untuk memghangatkan tubuhnya." Seru Mike.
Ketiga gadis itu pun segera mendekatkan diri pada tubuh Alesha yang terbaring begitu tenang.
"Alesha, cepat lah bangun dan pulih, kami mengkhawatirkanmu." Bisik Maudy.
Maudy dan dua teman wanitanya itu terus memeluk tubuh Alesha dengan erat untuk mengalirkan kehangatan. Mereka bertiga sama-sama khawatir dan takut jika kondisi Alesha akan balik memburuk.
Hingga setelah setengah jam berlalu, tiba-tiba saja Merina merasakan sebuah respon kecil yang berasal dari jemari Alesha.
"Alesha..." Panggil Merina dan membuat rekan setimnya melirik dengan raut kebingungan yang terarah padanya juga Alesha.
"Ada apa, Merina?" Tanya Bastian.
Belum sempat Merina menjawab pertanyaan ketuanya itu, Alesha sudah terlebih dahulu bergumam lirih. "Mr. Jacob....."
"Alesha sadar!" Seru Merina.
Sang dokter yang masih berjaga di ruangan itu pun langsung bangkit dari duduknya lalu menghampiri Alesha yang masih dalam fase semi sadar.
"Suhu tubuhnya tiga puluh enam koma enam derajat. Dia sudah stabil sekarang." Ucap sang dokter setelah mengecek suhu tubuh Alesha.
Bastian dan yang lain pun tersenyum setelah mendengar ucapan dokter barusan. Mereka bersyukur sekarang, salah satu anggota tim yang bukan lain adalah Alesha sudah kembali pulih sekarang.
"Mr. Jacob...." Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali, baru setelah itu ia pun membuka kelopak matanya dengan sempurna. Ditatapnya oleh Alesha wajah milik teman-temannya yang kini sedang mengelilingi dirinya. Namun satu, Alesha tidak menemukan adanya sosok pria yang ia sebutkan namanya tadi.
"Mr. Jacob, dimana dia?" Tanya Alesha.
"Dia berada di ruangan lain, Alesha. Dia sedang menemui anggota timnya yang lain." Jawab Bastian.
Jawaban Bastian barusan membuat Alesha mengerutkan keningnya. Menemui anggota timnya yang lain? Alesha paham yang Bastian maksudkan sekarang.
"Aku ingin menemuinya..." Pinta Alesha.
"Tidak! Kau masih belum boleh berjalan kemana-mana sekarang!" Tolak Bastian.
"Aku mohon, Bas. Aku ingin bertemu dengan Mr. Jacob sekarang..."
"Alesha, kau baru sadar, tubuhmu masih lemah!" Bastian mencoba untuk memperingatkan, namun Alesha tetap memaksa untuk dapat menemui mentornya saat itu juga.
"Tidak, aku baik-baik saja, aku bisa berjalan. Aku ingin bertemu Mr. Jacob!" Alesha pun bangkit dari posis tidurnya dan berniat untuk turun dari atas alas tidurnya.
"Tunggu! Jangan gegabah, Alesha!" Dengan sigap Nakyung langsung menahan tubuh Alesha.
"Dokter, bagaimana ini?" Tanya Bastian sembari memandang cemas pada sang dokter.
"Asalkan dia kuat untuk berjalan, tidak masalah, tapi kalau tidak, jangan dipaksakan."
Jawaban sang dokter itu pun kian membuat Alesha semakin bersemangat untuk menemui mentornya.
"Alesha!" Bastian menghentikan langkah Alesha dengan menahan lengan gadis itu.
"Bas, aku ingin bertemu Mr. Jacob sekarang! Biarkan aku." Mohon Alesha.
"Baiklah. Tapi aku akan menemanimu!" Balas Bastian.
"Aku harus menemuinya secara pribadi, Bastian." Tolak Alesha.
"Oke! Aku hanya akan mengantarmu!" Bujuk Bastian dengan nada bicara yang sedikit meninggi.
***
Ditatapnya lekat-lekat oleh Jacob sesosok rupa cantik yang selalu mengisi dan meramaikan hari-harinya beberapa tahun yang lalu. Namun kini rupa cantik itu sudah tidak lagi bisa untuk mengukir dan mengembangkan senyum ceria yang selalu membuat Jacob merasa candu.
"Lima tahun berlalu. Kau masih sama, cantik. Kau selalu anggun dan manis, tenanglah di sana, Yuna. Sekarang aku sudah bertemu denganmu kembali, walau aku sadar kalau kita tidak bisa bersama lagi. Terima kasih banyak sudah pernah menjadi bagian dari duniaku. Kau tahu, aku begitu frustasi dan depresi karna kehilanganmu. Aku bahkan lupa siapa diriku saat itu. Tapi sekarang aku bahagia, Yuna. Aku sudah menemukanmu, dan melihat wajah cantikmu ini." Jacob menggesekkan ujung hidungnya dengan gemas pada ujung hidung Yuna pula. "Semua beban yang aku rasakan kini sudah terlepas, aku sudah benar-benar mengikhlaskanmu sekarang, sayang. Aku mencintaimu, dan kini aku harus melepaskanmu. Tidak masalah, yang penting aku bisa berjumpa denganmu untuk yang terakhir kalinya dalam keadaan baik dan lebih tenang seperti sekarang ini." Jacob pun meraih jemari Yuna yang sudah mengeras. "Maafkan aku, Yuna. Aku jatuh cinta pada gadis lain. Bukan maksudku untuk mengkhianatimu, tapi aku tidak bisa jika harus melewati kehidupan ini sendirian tanpa ada pendamping. Ini diluar jangkauanku, awalnya aku juga tidak tahu bagaimana bisa aku jatuh cinta pada Alesha, namun setelah kepergianmu yang membuat sebuah luka besar dan mendalam untukku, aku merasa jatuh pada titik terjauh dan terdalam, namun Alesha datang, aku merasa dia seperti membawaku menuju kembali ke duniaku yang sesungguhnya, yang nyata dan jauh lebih hidup. Aku mencintainya, Yuna. Aku harap kau dapat mengizinkanku untuk memulai hidup baru bersama wanita lain yang aku cintai. Aku tidak akan melupakanmu, namun aku akan berusaha untuk membiarkan masa lalu dan kenangan kita mengalir dan berlalu begitu saja. Aku tidak ingin mengingat-ngingatnya karna aku tidak mau membuat Alesha terluka, namun aku juga tidak akan melupakannya, Yuna. Kalian berdua adalah gadis yang sangat amat aku cintai, namun dimasa dan waktu yang berbeda."
Jacob menghela lalu menghembuskan napasnya dengan tenang sebelum ia melanjutkan kembali isi hatinya yang akan menjadi topik utama dari curahan yang sudah ia ucapkan tadi. "Masamu sudah berlalu, dan aku sudah mengikhlaskanmu pergi, sekarang adalah masa baru untukku menjalani kehidupan yang jauh lebih baik bersama Alesha, izinkan aku untuk melanjutkan kisah cintaku bersama wanita lain tanpa perlu membuatku merasa bersalah karna telah mengkhianati cintamu, Yuna."
Tanpa Jacob sadari, ternyata air mata sudah membendung dalam kelopak matanya. Ia tak kuasa menahan kesedihan dihadapan gadis yang sangat ia cintai kala itu. "Kau adalah gadis cantik yang akan selalu memiliki ukiran manis dalam ingatanku, dan Alesha adalah tujuan juga duniaku yang baru yang tidak akan pernah aku lepaskan untuk sekarang dan seterusnya."
"Selamat jalan, Yuna. Tenanglah di alam sana. Terima kasih banyak karna sudah membuat duniaku begitu berseri selama tiga tahun kebersamaan kita. Meski sekarang, dunia itu hanya akan menjadi bayangan kelabu yang mungkin akan semakin lekang tertinggal arus waktu."
Tanpa Jacob sadari, ternyata sejak beberapa detik lalu Alesha sudah berdiri di ambang pintu sembari mendengarkan beberapa potongan kalimat terakhir yang mentornya itu ucapkan. Setelah tadi berkeliling selama beberapa menit, akhirnya Alesha dan Bastian berhasil menemukan keberadaan mentor mereka, dan kini Bastian sudah pergi meninggalkan Alesha sendirian atas permintaan Alesha dan sedikit paksaan juga tentunya.
Alesha tertegun, berdiam diri dan membiarkan pikiran yang mengambil alih kuasa atas dirinya saat ini.
Mr. Jacob. Apa bener dia udah ikhlasin Yuna? Apa bener dia bakal jadiin Alesha buat tujuan hidupnya selanjutnya? Apa Mr. Jacob cuman jadiin Alesha sebagai pelarian dia doang?.... Begitulah pikir Alesha.
"Aku sangat berterima kasih pada Alesha karna sudah mau mengambil resiko besar agar bisa mengembalikan jasadmu padaku juga keluargamu nanti. Aku sangat mencintainya, Yuna. Aku benar-benar tidak bisa melepaskannya, aku bisa gila dan mungkin akan mengakhiri diriku sendiri jika aku harus kehilangannya juga. Cukup saja kau yang meninggalkanku, dan Alesha, tidak akan pernah aku biarkan dia pergi dariku seperti kau meninggalkanku. Aku sempat menyamakan Alesha denganmu, tapi sekarang aku tidak mau melakukan hal itu lagi. Aku tidak ingin melukai perasaannya, dan aku juga sudah menyadari kalau kalian itu jelas-jelas berbeda, hanya aura manis kalian saja yang sama. Tapi aku berjanji untuk tidak akan pernah lagi menyamakan Alesha denganmu."
Jacob menyerka buliran air matanya lalu mengganti dengan seukir senyum tulus yang begitu manis. Lalu setelah itu, ia pun bangkit dari duduknya dan membalikkan tubuh untuk berjalan meninggali ruangan itu. Tapi belum juga langkah pertama diambil, Jacob sudah terlanjur mematung di tempat karna mendapati Alesha yang sedang berdiam diri di ambang pintu.
Apa yang Alesha lakukan di sana? Sejak kapan ia ada di situ? Begitulah pikir Jacob.
"Alesha..." Panggil Jacob dengan pelan. Kegugupan mulai Jacob rasakan.
Tunggu. Gugup?
Ya. Jacob menjadi gugup. Kenapa? Apa mungkin karna di tempat itu terdapat dua gadis yang sama-sama ia cintai?
Alesha yang melihat gelagat tidak enak dari mentornya itu pun langsung menyunggingkan senyum hangatnya. "Mr. Jacob.." Alesha pun berjalan mendekati mentornya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau sudah pulih? Kenapa kau berjalan-jalan, Alesha? Tubuhmu masih lemah. Kembali lah ke.."
"Syut..." Alesha meletakkan satu jari telunjuknya tepat dibibir mulut sang mentor yang tadi sedang bergumam.
"Aku sudah merasa lebih baik, Mr. Jacob. Aku tidak apa-apa."
"Alesha, aku khawatir jika kau masih...."
"Peluk aku!" Pinta Alesha sembari mengangkat kedua lengannya seperti seorang anak kecil yang memohon agar digendong oleh orang tuanya.
Jacob sedikit terkejut dengan ucapan Alesha barusan, namun melihat ekspresi polos yang Alesha ciptakan pada mimik wajahnya membuat Jacob merasa sangat gemas akan gadis remaja kesayangannya itu.
"Peluk, Alesha, Mr. Jacob." Pinta Alesha sekali lagi yang semakin menambah mimik lugu pada wajahnya.
Jacob tersenyum kecil, dan sejurus kemudian, tubuh Alesha pun terangkat dan melayang beberapa centimeter dari lantai karna Jacob yang mengangkatnya.
"Mr. Jacob, aku memintamu untuk memelukku, bukan mengangkatku." Protes pelan Alesha.
"Aku sudah memelukmu, sayang." Balas Jacob begitu lembut.
Alesha pun menyandarkan kepalanya pada bahu lebar sang mentor. Entah kenapa saat ini ia sangat sedang ingin berada dalam kehangatan pelukan mentornya itu. Rasanya sangat nyaman dan menenangkan.
Alesha cemas dan takut, ia pikir ia akan mati membeku, sudah pasrah dan hampir putus harapan. Namun syukurnya, Jacob datang dan berhasil menemukannya. Alesha mungkin tidak dapat mengungkapkan dalam kata-kata atau ucapan, tapi yang ia rasa adalah sedih, terharu, dan bahagia karna sekali lagi Jacob sudah berhasil membantunya keluar dari dalam masalah besar.
Terima kasih banyak, Mr. Jacob.....
Hanya itu yang mampu Alesha ucapakan dalam hatinya.
"Alesha..." Panggil Jacob sangat lembut.
"Ya?" Alesha menarik kepalanya dari bahu Jacob lalu menatap lekat wajah pria yang sedang memeluk plus mengangkat tubuhnya itu.
Tidak ada pembicaraan yang terdengar, Alesha dan Jacob sama-sama saling memandang. Dalam jarak yang begitu dekat seperti itu, belum lagi Alesha yang saat ini terlihat lebih polos membuat jiwa kepriaan Jacob bangkit.
Perlahan, Jacob mulai memajukan wajahnya karna mengincar lolipop manis yang menempel pada bagian bawah hidung gadisnya itu.
Mengetahui niat sang mentor yang ingin menciumnya, Alesha pun langsung melipatkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya.
Jacob terkekeh setelah melihat tingkah menggemaskan gadisnya itu. Menolak untuk dicium, kini Alesha membuat Jacob merasa kecewa.
"Sedikit saja, Alesha." Bujuk Jacob.
Kepala Alesha kembali bergerak kekiri dan kanan, tanda kalau ia menolak permohonan mentornya itu.
"Ayolah.." Jacob mamasang raut memelas dengan harapan semoga gadisnya itu akan luluh dan mau menerima ciumannya. Tapi Alesha tetap enggan menerima permintaan mentornya yang mulai terbawa gairah nafsu itu.
"Sekilas saja, aku berjanji." Jacob semakin memelaskan wajahnya, ia kecewa karna Alesha menolak untuk dicium olehnya.
Dengan mulut yang masih terbungkam, Alesha pun tertawa dan membentuk eye smile indahnya kala mendapati ekspresi lucu yang mentornya itu tunjukkan.
"Tidak!" Alesha melipatkan kembali mulutnya setelah mengucapkan satu kata yang membuat mentornya berdecak sebal.
Tampak sekali raut wajah kecewa dan merajuk yang sengaja Jacob perlihatkan pada gadisnya, Alesha.
Namun Alesha tidak memperdulikan hal itu, pandangannya kini teralihkan pada tubuh gadis yang pernah menjadi ratu dihati mentornya.
"Dia Yuna?" Tanya Alesha tanpa mengalihkan tatapannya dari sosok Yuna yang sudah terbujur dengan tubuh yang membeku.
"Iya." Singkat, padat, jelas. Jacob masih marah karna keinginannya ditolak oleh Alesha.
Alesha terkekeh dan tertawa kecil. "Kau marah?" Menurut Alesha, mentornya itu terlihat menggemas ketika merajuk.
"Tidak!" Dingin juga datar, Jacob enggan bertatapan dengan Alesha.
"Kau lucu saat merajuk seperti itu." Alesha menoel gemas ujung hidung mentornya. "Turunkan aku!" Lalu Alesha mendorong dada mentornya untuk menapaki lantai, dan dengan terpaksa, Jacob akhirnya menurunkan kembali tubuh gadisnya itu.
"Ah, Yuna sangat cantik, Mr. Jacob." Puji Alesha sembari menatap lekat penuh kagum pada sosok rupawan yang kini hanya menjadi mayat beku.
"Kau beruntung karna bisa dicintai oleh Mr. Jacob." Kini Alesha mulai mengajak bicara gadis yang menjadi pesaing dalam hati mentornya. Namun sama sekali tidak menunjukkan ekspresi atau sikap negatif pada Yuna, yang terjadi malah sebaliknya, Alesha terlihat cukup asik dan friendly ketika mengajak Yuna berbicara. "Aku tidak tahu bagaimana caramu menghadapi mentor menyebalkan seperti dia. Beritahu aku caranya. Kadang aku lelah karna harus menyikapi sifat kekanak-kanankkan Mr. Jacob, Yuna. Oh ya, kau pasti belum mengenalku. Aku Alesha, salah satu anggota tim yang dimentori oleh kekasihmu itu." Alesha menyunggingkan senyum merekah yang begitu manis.
Namun itu malah membuat Jacob kebingungan. Ia tidak tahu kalau Alesha akan seramah itu pada Yuna. Padahal kalau dipikir bisa saja Alesha menunjukkan sebuah ketidak sukaan terhadap gadis yang mentahta ratui hati mentornya itu.
"Salam kenal, Yuna. Aku doa kan semoga kau tenang ya. Kami sudah menemukan jasadmu dan akan segera mengembalikanmu pada keluargamu." Alesha mengelus pelan permukaan kulit wajah Yuna yang dingin dan beku.
Jacob tersenyum bahagia, ia sama sekali tidak mendapati tatapan cemburu atau hal lain yang menunjukkan sebuah rasa kebencian pada wajah dan sikap Alesha terhadap Yuna.
"Kau tidak cemburu dan marahkan, Alesha?"
Spontan! Jacob langsung tertegun setelah ia mengucapkan pernyataan itu.
"Kenapa aku harus cemburu? Diakan kekasihmu, Mr. Jacob. Aku malah senang bisa melihat langsung wajah cantik kekasihmu ini." Jawab Alesha dengan binar indah yang terpancar dari matanya.
Memang benar, Alesha sama sekali tidak merasa cemburu atau memunculkan perasaan negatif apapun itu terhadap Yuna. Ia malah bahagia bisa menemukan jasad Yuna dan membuat mentornya itu dapat bertemu kembali dengan Yunanya.
Ketika sang ratu sudah dapat dipertemukan kembali dengan sang raja akibat kebaik hatian sang selir hati, maka situasi akan sangat kondusif. Selir manis yang menerima dengan baik kehadiran sementara sang ratu cantik sungguh membuat sang raja merasa bahagia.