May I Love For Twice

May I Love For Twice
Klarifikasi Adam



Waktu malam telah menyusut, digantikkan dengan cahaya mentari pagi yang begitu cerah.


Di dalam sebuah kamar, tepatnya diatas ranjang besar milik sang raja, dan ratu yang bukan lain adalah Jacob, dan Alesha. Kini, sang permaisuri muda tengah terusik dari alam mimpinya.


Kerjapan dari kedua kelopak mata indah itu menjadi pembuka pagi, dan hari baru.


Alesha. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru kamarnya.


"Jack..." Panggil Alesha, pelan. Ia tidak mendapati keberadaan suaminya itu.


Dimana Jacob? Pikir Alesha.


"Jack...." Perlahan, Alesha pun bangkit, dan teduduk diatas kasur. "Mr. Jacob...."


Tidak ada balasan.


Alesha berdecak sebal. Kemana suaminya itu? Kini Alesha mulai dilanda panik. Ia takut, was-was, khawatir jika yang semalam datang memanglah roh dari Jacob, dan sekarang suaminya itu sudah benar-benar pergi meninggalkannya.


"JACK!" Alesha menaikkan tensi bicaranya.


"Jack, kau dimana?" Alesha celingak-celinguk, dadanya mulai naik turun sembari mengontrol matanya agar tidak terlinangi oleh air mata kembali. Alesha sungguh takut jika memang semalam Jacob datang untuk menenangkannya sembari berpamit untuk yang terakhir kali.


"MR. JACOB, JANGAN PERGI!!" Alesha memekik. Ia pun turun, dan berjalan dengan susah payah untuk mencari keberadaan suaminya.


"MR. JACOB!!!"


Alesha berjalan menuju toilet, namun ternyata kosong, lalu beralih menuju balkon, kosong pula.


"MR. JACOB!!" Alesha mulai gelagapan, dan salah tingkah. Ketakutannya semakin membesar di dalam hati. Ujung hidung, dan kedua garis alisnya pun memerah, menandakan jika ia akan segera menangis.


"MR. JACOB!!"


Alesha berjalan menuju arah pintu. Ia berniat untuk mencari Jacob di luar kamar, namun baru saja Alesha melangkah, tiba-tiba saja pintu kamar terbuka.


"Mr. Jacob!!" Alesha menghentakkan kakinya sembari menatap sebal pada Jacob.


Tentunya hal itu langsung membuat Jacob terkejut. Pasalnya, ia mendapati istrinya yang sudah bangun dengan wajah yang menahan tangis.


"Alesha, ada apa?" Tanya Jacob sembari menghampiri istrinya.


"Kau membuatku takut!!" Alesha merajuk. "Aku takut jika kau benar-benar pergi meninggalkanku, dan semalam kau datang hanya untuk berpamit padaku!!"


Jacob terkekeh. "Apa kau bilang?"


"Aku tidak bercanda, Jack! Aku terbangun, dan kau tidak ada. Aku memanggilmu tapi kau tidak menjawab! Aku takut jika semalam itu rohmu yang mendatangiku!" Mata Alesha berkaca-kaca, menahan rasa kesal pada suaminya sendiri.


"Ya ampun Alesha," Jacob menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. "Kemarilah, sayang," Lalu Jacob memeluk penuh kelembutan, dan kasih sayang pada istri manisnya.


"Alesha, aku tadi habis dari bawah untuk menemui Taylor, dan yang lain. Maaf jika aku membuatmu khawatir, cinta."


Aish, panggilan Jacob barusan membuat rona merah pada wajah Alesha. Dasar Jacob, bisa saja membuat istrinya tersipu malu meski sedang menahan tangis.


"Lalu kau mau kemana pagi-pagi seperti ini sudah rapih?" Tanya Alesha.


"Ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Kau sakit?" Pekik Alesha sembari melepaskan paksa pelukan suaminya.


"Tidak, bukan aku, Al."


"Lalu siapa?"


"Adam."


"Adam?" Kening Alesha berkerut bingung. "Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Alesha tanpa menunjukkan rasa kekhawatiran.


"Kemarilah, biar aku ceritakan semua yang terjadi padaku semalam," Jacob menggiring istrinya untuk terduduk disofa.


"Jadi begini Alesha. Mobilku meledak, dan terbakar karna ulah Stella."


"STELLA!" Alesha terlonjak, matanya terbelalak seakan tidak percaya akan ucapan suaminya barusan.


"Sayang, tenanglah, biarkan aku menyelesaikan ceritaku dulu," Ucap Jacob.


"Stella sepertinya memang sudah merencanakan niatnya itu sejak lama, Al. Aku masih belum tahu pasti kronologisnya seperti apa, tapi berdasarkan apa yang Taylor dapatkan bersama anak buahnya, Stella sudah memasang beberapa bom dibawah mobilku, lalu menyuruh seorang pria untuk membawa mobilku," Jacob menjeda ucapannya. "Intinya, dia ingin menculikku agar bisa mendapatkanku."


"Tidak boleh!" Sambar Alesha dengan ekspresi marah sembari terus menatap pada Jacob. "Tidak akan aku biarkan dia merebutmu dariku!!" Alesha menghempaskan lengannya sendiri. "Tidak boleh! Aku tidak mau kehilanganmu!"


Tubuh Jacob sedikit tersentak ketika Alesha memeluknya dengan tiba-tiba.


"Lalu apa yang terjadi dengan Adam?" Tanya Alesha.


"Dia terkena pukulan Stella yang seharusnya mengenaiku," Jawab Jacob.


"Kenapa dia melakukan itu?"


"Aku juga tidak tahu, Alesha, dia keburu pingsan, lalu aku segera membawanya ke rumah sakit."


Alesha diam sejenak. Hatinya sedikit memanas ketika mendengar cerita dari Jacob bahwa Stella mencoba untuk menculik, dan merebut Jacob.


"Jack, pokonya kau tidak boleh pergi," Lirih Alesha.


"Aku hanya akan pergi ke rumah sakit saja, Lil Ale."


"Kalau begitu aku ikut!"


"Tidak boleh! Nanti kau kelelahan, Alesha."


"Kau sering mengajakku main seharian, aku merasa baik-baik saja. Lagi pula di rumah sakit aku tidak akan banyak berjalan seperti main ke taman atau tempat wisata," Balas Alesha.


"Tidak boleh, nanti kau sakit!"


"Kalau begitu kau juga tidak boleh, nanti kau sakit! Bahkan bisa saja sakitmu itu menular padaku."


"Baiklah! Tapi nanti kalau kau kelelahan jangan salahkan aku!"


"Iya!"


"Oh ya kau tidak bekerja?" Jacob mencoba untuk mencari hal lain supaya Alesha tidak ikut dengannya.


"Hari ini hari sabtu, SIO libur!" Jawab Alesha.


"Biasanya kau akan main dengan Nakyung, Maudy, dan Merina jika hari sabtu."


"Tidak mau! Aku mau ikut denganmu!"


"CK, baiklah terserah," Jacob memutar kedua bola matanya dengan jengah.


****


RSUD Bandung.


Saat ini, Alesha, Jacob, bersama Taylor dan tiga anak buahnya sudah berada didepan ruangan rawat inap VVIP yang ditempati oleh Adam.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Jacob pada anak buahnya yang bertugas menjaga, dan mengurusi kebutuhan Adam di rumah sakit itu.


"Adam sudah siuman, dokter juga bilang kalau tidak terjadi luka atau masalah serius dalam kepala Adam, mungkin anda bisa melihatnya langsung di dalam, Tuan."


Kemudian Jacob pun membuka pintu untuk masuk ke dalam ruangan rawat inap tipe VVIP itu.


Memang benar, Adam ternyata sudah sadar dan sedang murotal Al-Quran sembari duduk bersandar.


"Assalamualaikum..." Ucap Alesha.


"Waallaikumussalam..." Balas Adam. Ia pun mengucapkan kalimat penutup untuk mengakhiri murotalnya tersebut.


Alesha?.... Gumam Adam dalam hatinya.


"Hai, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Jacob, datar.


"A-alhamdulillah, baik," Balas Adam dengan tatapan mata yang terus tertuju pada Alesha.


Jacob yang menyadari hal itu pun segera melingkarkan lengannya pada pinggang Alesha.


"Kami datang ke sini untuk melihat keadaanmu, jika kau sudah merasa baik maka kami tidak akan lebih lama lagi membuang waktu di sini," Ucap Jacob. Ia marah, dan tidak suka. Ia benci dengan tatapan Adam terhadap Alesha.


"Oh ya, bisa kau katakan padaku apa yang sebenarnya Stella rencanakan?" Tanya Jacob.


Alesha, kenapa disaat kau sudah berubah untuk manjadi wanita yang lebih sholehah seperti sekarang ini kau malah memilih lelaki lain?....... Lirih Adam dalam hatinya.


Menyadari tatapan yang Adam layangkan untukku istrinya, Jacob pun merasakan hatinya yang memanas, dan amarah yang menggolak.


"Alesha, pergi keluar!" Sentak Jacob sampai membuat Alesha terlonjak kaget.


Tatapan lurus, dingin, dan tajam yang Jacob berikan membuat Alesha takut setengah mati.


"Pergi sekarang! Taylor cepat bawa Alesha keluar!"


"Baik, Tuan," Taylor mengangguk patuh lalu segera membawa Nyonya mudanya pergi meninggalkan ruang rawat inap itu.


"Ayo, Nona."


Alesha hanya mengangguk kecil. Ia pasrah, tidak tahu apa kesalahannya hingga membuat Jacob menatapnya dengan sulutuan amarah yang memenuhi mata.


"Taylor, ada apa dengan Jacob, kenapa dia marah padaku?" Lirih Alesha ketika ia, dan pengawal pribadinya sudah sampai di luar.


"Sepertinya tuan marah karna Adam yang terus memperhatikan anda, Nona."


"Tapi kenapa dia marahnya padaku?" Alesha menunduk sedih.


"Sudah, Nona, jangan bersedih, tuan marah karna ia merasa cemburu mungkin."


Alesha tidak membalas. Ia tetap menunduk dengan ekspresi sedihnya. Ini bukan hal yang tabu atau baru Alesha dapatkan, tidak jarang ia menjadi korban dari bentakan, dan emosi Jacob jika pria itu sedang lelah atau pusing karna sibuk dengan pekerjaannya. Namun Alesha harus ekstra sabar.


Halnya dengan Jacob. Pria itu kian menajamkan tatapannya pada Adam.


"Apa yang membuatmu tertarik untuk menyelamatkanku dari pukulan Stella malam itu?"


"Stella?" Kening Adam berkerut bingung.


"Ya, Stephani Laurent," Jacob mengangguk.


Owh jadi Stephani punya panggilan lain........ Gumam Adam dalam hatinya. Lalu sejurus kemudian Adam pun menundukkan kepalanya ketika mendapati pertanyaan tadi dari Jacob.


"Saya melakukan itu bukan demi anda, tapi demi Alesha," Jawab Adam.


"Demi Alesha?" Ulang Jacob.


"Selama ini, dari kejauhan saya selalu memperhatikan kalian, dan saya sadar jika kalian sangatlah dekat dan saling menyayangi, Alesha juga terlihat begitu bahagia setiap kali anda mengajaknya main ke luar, ditambah lagi, saat ini Alesha tengah hamil anakmu. Itu sebabnya kenapa saya menghindarkan anda dari pukulan Stephani, karna saya tidak mau Alesha kehilangan kebahagiaannya lagi."


Jacob tertegun mendegar jawaban Adam. Tatapan amarahnya seketika berubah menjadi datar.


"Memang sebelumnya saya, dan Stephani sudah berencana untuk memisahkan kalian. Saya bersekongkol dengan Stephani supaya saya bisa mendapatkan Alesha kembali. Namun setiap kali saya lihat kebersamaan kalian, rasanya saya gak tega kalau harus rebut kebahagiaan Alesha. Saya sadar, ternyata Alesha emang udah benar-benar nemuin cinta sejatinya. Meski berat, tapi saya bakal coba buat ikhlasin Alesha."


Jacob sedikit menggeram saat mendengar pernyataan Adam yang mencoba untuk memisahkannya dari Alesha, namun Jacob berusaha untuk menahan emosinya karna bagaimana juga Adam sudah berkorban untuk menggagalkan rencana jahat Stella.


"Boleh saya bicara berdua sebentar dengan Alesha?" Pinta Adam.


"Tidak!" Tolak Jacob dengan sangat tegas.


"Saya mohon, saya tidak memiliki niat lagi untuk merebut Alesha dari anda, saya hanya ingin mengatakan apa yang belum sempat saya katakan pada Alesha sebelumnya," Mohon Adam.


"Tidak!"


"Ayolah, saya janji tidak akan lama, saya juga tidak akan mengatakkan hal yang diluar batas antara saya, dan Alesha. Biarin saya buat punya waktu kebersamaan terakhir dengan Alesha, kali ini aja, saya mohon, setelah ini saya janji kalau saya gak akan pernah lagi hadir dalam rumah tangga kalian," Adam menatap penuh harapan pada Jacob.


"Tiga menit!!" Jacob mendengus kesal, bahkan ia membalikkan tubuhnya dengan kasar untuk menuju ke luar ruangan, dan menemui istrinya.


"Masuk ke dalam! Adam ingin berbicara denganmu!!" Sentak Jacob pada Alesha. Selepas itu, ia pun mengalihkan pandangannya dengan tatapan lurus penuh amarah.


Tetapi Alesha, ia masih tertegun di tempat sembari terus mendongkak untuk menatap suaminya yang lagi lagi membentaknya meski ia tidak bersalah apapun.


"Kenapa diam saja! Kesatriamu ingin berbicara denganmu, temui dia!" Bentak Jacob.


Alesha sedikit terlonjak, namun setelah itu ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak mau. Kau tidak ikhlaskan jika aku berbicara dengan Adam. Aku tidak mau durhaka padamu. Aku tidak akan menemui Adam."


"Terserah!" Jacob pergi begitu saja.


Sedangkan Alesha, buru-buru ia mengikuti langkah suaminya.


"Kenapa mengikutiku?" Sindir Jacob.


Alesha diam tidak menjawab, namun ia malah terus menatapi wajah Jacob yang sedang dirundungi oleh emosi.


"Jangan tatap aku dengan wajah so' polosmu itu! Aku bilang temui Adam! Temui dia sekarang!!"


Alesha terkesiap, kedua alisnya saling bertaut sedih mendapati bentakkan disertai tatapan membunuh yang Jacob berikan. Hatinya benar-benar terhujam keras oleh sikap kasar yang ia terima dari suaminya sendiri, padahal sudah jelas ia tidak bersalah sama sekali.


Alesha menghela napasnya, jangan sampai ia menangis saat itu pula atau Jacob akan semakin memarahinya.


"Baiklah..." Lirih Alesha sembari mengangguk kecil. Setelah itu, Alesha pun membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam ruangan rawat inap Adam.


"Tuan, anda baru saja membentak nona Alesha, apa salahnya?" Tanya Taylor yang sebenarnya kecewa terhadap sikap kasar majikannya.


Jacob sendiri terdiam, dadanya naik turun mengatur emosi yang baru saja ia lampiaskan pada istrinya.


Menyesal.


Satu kata itu lah yang kini mewakili perasaan Jacob. Benar apa kata Taylor, apa salah Alesha? Kenapa Jacob tega membentak istrinya itu?


"Huft!" Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu ia beralih mendekati pintu ruangan untuk menunggu batas waktu yang sudah ia berikan pada Adam agar bisa berbicara dengan Alesha.


Beralih masuk ke dalam ruangan, kini Alesha tediam memandangi Adam dengan ekspresi datar.


"Ada apa?" Tanya Alesha, dingin.


Adam menyikapi ekspresi Alesha itu dengan seukir senyum tulus yang menawan.


"Alesha, apa kabar kamu?"


"Aku baik," Balas Alesha, cepat.


"Alhamdulillah, kalau gitu, trus gimana kehamilan kamu?" Adam masih menahan senyumannya.


"Baik."


"Alhamdulillah..."


Sejenak tidak ada pembicaraan, Alesha, dan Adam sama-sama terdiam. Namun sepertinya Alesha merasa tidak nyaman dengan hal itu.


"Adam, apa yang mau kamu bilang? Aku gak punya banyak waktu," Ucap Alesha.


Adam menaikkan dua manik coklatnya untuk menatap pada Alesha.


"Aku bahagia liat kamu bahagia sama suami kamu. Aku doain semoga kalian selalu diberkati, dan dirahmati oleh Allah, Sha. Mungkin udah gak ada lagi yang perlu kita bahas, masa lalu kita biar aja berlalu, aku gak akan bahas itu lagi karna aku juga udah ikhlasin kamu kok," Adam tersenyum kecut. "Do'a in aku ya, Sha, semoga aku bisa dapetin jodoh sebaik kamu. Emang bakal berat banget buat aku lepasin kamu, Sha, tapi aku gak mau jadi benalu dalam rumah tangga kamu. Terakhir, aku cuman mau bilang terima kasih, kamu udah mau jadi sahabat terbaik aku, bahkan sampe kapan pun kamu bakal selalu jadi sahabat terbaik yang agak akan aku lupain, Sha. Kita sama-sama mencintai diwaktu yang berbeda. Aku nyesel udah sia-siain kamu, tapi mungkin emang udah itu jalannya, dan kita emang gak ditakdirin buat bersatu dalam hubungan pernikahan. Aku ikhlas, asal kamu bahagia sama suami kamu yang sekarang, dan semoga kalian bisa punya keturunan yang sholeh, dan sholehah, bisa banggain kamu sama suami kamu."


Kini senyum kecut Adam berubah menjadi sebuah senyuman yang begitu tulus.


"Jangan lupain aku ya, Sha. Aku pengen kamu tetap inget aku sebagai kawan, dan sahabat lama. Aku gak mau putus silaturahmi sama kamu, tapi aku janji kalau aku gak akan pernah lagi ganggu rumah tangga kamu, aku janji itu, Alesha."


Kini gantian, Alesha yang semula berwajah datar sekarang sudah berubah dengan menampakkan senyuman hangat yang manis.


"Makasih ya, Adam. Aku gak akan lupain kamu kok, kamu bakal selalu jadi sahabat aku. Makasih karna dulu kamu selalu ada buat aku, selalu hibur aku, tapi maaf aku gak bisa bales itu. Tapi aku janji, aku juga gak akan putusin silaturahmi kita, dan aku bakal selalu doain kamu supaya kamu bisa dapetin jodoh yang sholehah, yang bisa didik anak keturunan kamu buat jadi manusia yang beruntung di dunia atau pun akhirat."


"Kita emang gak bisa bersatu dalam hubungan pernikahan, karna kita punya jalan dan kehidupan masing-masing, tapi bukan berarti kita gak bisa lanjutin persahabatan kita, aku bahagia karna punya kawan sebaik kamu." Lanjut Alesha.


"Udah ngobrolnya?"


Alesha, dan Adam sama-sama melirik cepat ke asal suara yang barusan sekali terdengar.


Namun Alesha tiba-tiba saja tertunduk takut karna yang berucap barusan ternyata suaminya yang sedang bersandar di ambang pintu.


"Alesha, ayo pulang!"


Titah Jacob barusan membuat Alesha melirik pada Adam.


"Aku pulang dulu ya, Adam. Assalamualaikum..." Setelah berucap itu, Alesha pun berjalan perlahan menuju keluar.


"Cepat sembuh, Adam," Ucap Jacob sebelum akhirnya ia pun turut pergi meninggalkan Adam.


"Aku gak akan pernah lupain kamu Alesha, kamu bakal selalu jadi sahabat aku. InsyaAllah aku ikhlas," Gumam Adam dengan senyuman tulusnya.