May I Love For Twice

May I Love For Twice
Awal Baru Untuk Jacob



Waktu terus berlalu dan Alesha masih belum menunjukan tanda-tanda akan kesadarannya. Jacob tidak bisa mengabaikan hatinya yang terus saja memberontak meminta untuk selalu berada disebelah Alesha.


Sentuhan lembut dari tangan Jacob untuk rambut Alesha menandakan betapa prihatinnya pria itu atas gadis muda yang kini merasuki hati dan pikirannya. Jarinya yang lain memainkan bulu mata yang lentik milik Alesha, berharap Alesha akan terusik dan membuka matanya kembali.


"Mr. Jacob, aku ingin bicara padamu." Ucap Bastian sembari menepuk bahu Jacob.


"Bicaralah." Balas Jacob dengan tatapan mata yang masih terarah pada Alesha.


"Tim kita, mereka tidak belajar setelah mata pelajaran utama selesai, dan Mr. Thomson belum memberikan mentor pengganti." Ucap Bastian.


"Bagaimana bisa? Kenapa mereka tidak belajar?" Tanya Jacob yang balik menatap Bastian.


"Nakyung bilang mereka bingung karna tidak ada mentor yang menggantikanmu, Nakyung juga sudah meminta pada Mr. Thomson untuk segera dicarikan mentor pengganti untuk beberapa hari kedepan." Jawab Bastian.


Jacob menepuk keningnya. Kini kepalanya kembali dibuat pusing setelah mendengar kabar kalau timnya tidak bisa melanjutkan pelajaran karna tidak ada mentor yang membimbing mereka. Lagi dan lagi rasa bersalah menghampiri Jacob. Sudah berapa kali ia menjadi mentor? Tapi kenapa ia merasa kalau ia bukanlah mentor yang baik karna membiarkan timnya begitu saja tanpa ada yang mengawasi.


"Maaf." Ucap Jacob pelan.


"Apa? Kenapa?" Tanya Bastian.


"Maaf, aku tidak bisa menjadi mentor yang baik untuk kalian." Jawab Jacob sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.


Bastian terdiam dan merasa tidak enak pada Jacob, bahkan ia berpikir kalau Jacob adalah mentor tersabar yang ada di WOSA. Tanggung jawab Jacob cukup besar, ditambah lagi dengan kondisi Alesha sekarang, pasti Jacob merasa sangat tertekan.


"Jangan berkata seperti itu, untukku dan yang lain kau adalah mentor terbaik kami." Ucap Bastian sambil menyentuh bahu Jacob.


"Aku bingung, Bas, aku tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang?" Jacob memejamkan mata dan meremas pelan rambutnya. "Pikiranku sedang tidak karuan."


"Kau harus tenangkan dulu dirimu, Mr. Jacob, jangan paksakan kepalamu untuk terus berpikir." Balas Bastian yang terlihat khawatir pada kondisi Jacob.


"Aku tidak bisa tenang jika Alesha belum pulih." Jacob membuka matanya dan memfokuskan pandangan pada Alesha. Kening Bastian sedikit berkerut. Kaki Bastian mengambil dua langkah ke depan untuk bisa berdiri sejajar dengan Jacob.


Ditatapnya Jacob oleh Bastian dari pinggir. Mulut Bastian memaksa untuk terbuka dan menanyakan sebuah pertanyaan yang menjadi beban dalam hatinya. Dengan ragu-ragu, Bastian membuka suaranya. "Mr. Jacob, apa kau menyukai Alesha?" Tanya Bastian dengan hati-hati karna takut menyinggung perasaan Jacob.


Jacob sendiri bungkam. Hatinya terus mengulang-ngulang pertanyaan Bastian barusan. Apakah Jacob benar-benar menyukai Alesha? Sorot mata Jacob dipenuhi oleh rasa kebingungan. Bastian mendapati mentornya itu terdiam dengan mata yang terus menatap wajah Alesha. Tidak mau menuntut jawaban, Bastian hanya menghembuskan napasnya dengan pelan, ia tau mungkin Jacob tidak akan menjawab pertanyaannya tadi.


"Tidak." Jawab Jacob datar dan membuat Bastian sedikit tersentak. "Aku tidak menyukainya, namun aku pikir apa yang aku rasa lebih dari sekedar rasa suka." Lanjut Jacob. Mulut Bastian sedikit terbuka dan tatapan matanya mencoba untuk menyembunyikan rasa kaget yang saat ini sedang menghampiri.


Jadi benar, mentor Bastian itu memang tertarik pada Alesha. Bastian mengangguk kecil dan samar.


"Jangan pernah katakan hal ini pada siapa pun, termasuk Alesha." Lanjut Jacob. "Aku mempunyai masa lalu yang kelam, dan aku menemukan sosok yang baru yang bisa membantuku untuk melupakan semua rasa kelam itu."


Bastian mendengarkan dengan seksama ucapan Jacob.


"Tapi aku tidak ingin membeda-bedakan kalian. Aku memang tertarik pada Alesha, tapi bukan berarti aku akan pilih kasih, dalam tim, kalian semua sama, aku menyayangi semua anggota timku, kalian sudah seperti adik untukku." Jacob menatap Bastian dengan senyuman kecil yang sesaat terukir pada wajah Jacob.


"Aku sebenarnya kasihan melihat kalian yang harus lolos dan masuk WOSA. Tidak akan mudah bekerja di SIO nanti, kalian akan berhadapan dengan orang-orang jahat dan berbagai macam misi berbahaya. Tanggung jawab kalian juga cukup besar, belum lagi kalian harus menghapus seluruh profil pribadi kalian dari sosial media jika kalian ditugaskan menjadi agen khusus sepertiku." Jacob mengusap pelan puncak kepala Bastian. Bastian sedikit terkekeh atas perilaku mentornya.


Sesaat kemudian, tiba-tiba saja Laura masuk bersama dua orang perawat.


"Dia." Tunjuk Laura pada Jacob. Jacob kaget saat melihat kedua perawat itu berjalan menghampirinya.


"Apa yang anda lakukan?" Tanya Jacob yang panik pada Laura.


"Membuktikan kalau aku memanglah ibumu, Jack." Jawab Laura.


Mulut Bastian terbuka, namun untungnya telapak tangannya segera menutupi mulut yang terbuka itu.


"Aarrghh.." Ringgis Jacob saat salah satu perawat menusukkan jarum suntik kekulitnya.


Darah pun mulai naik mengalir melalui celah kecil dalam jarum suntik itu dan memenuhi setengah dari tabung suntikan. Perawat itu kemudian menarik kembali jarum suntik yang tertancap pada kulit Jacob.


"Sudah, Nyonya." Ucap perawat itu pada Laura.


"Baik, terima kasih." Balas Laura. Dua perawat itu mengangguk lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan.


Jacob mendengus. Ia kesal pada ibunya yang masih belum juga dianggap olehnya.


"Jika hasil dari laboratorium itu menunjukan kalau kau adalah anakku maka sore ini kau harus ikut denganku ke kantorku!" Ucap Laura.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkan Alesha hingga ia kembali pulih." Tolak Jacob.


"Aku sudah membantu gadis itu, dan kau sudah berjanji untuk menuruti permintaanku jika aku membantu gadis itu!" Balas Laura yang memulai perdebatan dengan anaknya sendiri.


Sulutan emosi mulai merasuki diri Jacob. "Ya, tapi maaf, aku tidak bisa jika harus meninggalkan Alesha sekarang."


"Jika kau tidak memenuhi janjimu sore ini, maka aku akan memastikan kalau gadis itu tidak akan mendapatkan penanganan apapun, Jacob!" Kalimat penuh penekanan terucap dari mulut Laura. "Bahkan WOSA atau SIO sekali pun tidak bisa memberikan penanganan pada gadis itu karna aku bisa saja  mencabut statusnya sebagai murid WOSA!" Ancam Laura. "Ingat Jacob, aku pemegang saham terbesar di SIO, dan mereka juga akan tunduk pada perintahku!" Mau tidak mau Laura harus mengambil tindakan seperti itu agar Jacob, anaknya mau memenuhi permintaannya. Mungkin itu terlalu berlebihan, tapi tidak ada cara lain selain ancaman itu.


"Baik, tapi aku tidak bisa berlama-lama." Ucap Jacob sambil menahan sesuatu dalam dirinya yang sudah siap meledak. Laura pun menyeringai puas setelah mendengar ucapan Jacob.


Kaki dengan balutan heels mahal itu segera melangkah menuju bangku dan duduk dengan semua aura wibawa yang dipancarkan oleh wanita paruh baya yang merupakan CEO dari beberapa perusahaan besar yang ia dan mendiang suaminya miliki. Senyum puas serta tangan yang dilipatkan, lalu bersabar menunggu hasil dari laboratorium, walau pun Laura sudah tau kalau Jacob memanglah anaknya.


Jacob sendiri sedang benar-benar merasa marah saat ini, ancaman Laura membuatnya tidak bisa berpikir lebih panjang lagi. Jacob tidak tahu apa yang sedang ibunya rencanakan, dan Jacob juga tidak perduli akan hal itu. Pikiran yang melintas dalam kepala Jacob mengingatkannya pada kakaknya, Mona. Mona belum tahu kalau Jacob sudah bertemu dengan Laura, atau mungkin Laura sudah memberitahu Mona.


***


Siang hari, disebuah halaman rumah yang begitu besar yang menghadap langsung ke arah perbukitan hijau yang bersih dan menyejukan, dibukalah gerbang besar yang berbahan dasar kayu tebal dan kokoh, setelah beberapa detik kemudian masuklah sebuah mobil yang melaju di atas aspal yang pinggirannya dihiasi oleh berbagai macam tanaman dan bunga. Saat mobil itu berhenti, seorang petugas dengan sigap membukakan pintu mobil tersebut. Sebuah kaki yang menggunakan sepatu boots mahal mendarat tepat diaspal yang begitu mulus, tidak lama munculah seorang gadis remaja berusia tujuh belas tahun yang baru saja keluar dari dalam mobil mewah milik orang tuanya tersebut. Jaket tebal yang berbulu sangat lembut membaluti tubuh gadis yang kini sedang memancarkan senyum ceria dari wajahnya yang begitu manis.


Salah seorang pelayan berjalan menghampiri gadis itu.


"Mari, Nona biar saya bantu." Ucap pelayan itu.


"Selamat siang, Nona Sharon." Sapaan hangat dari seorang lelaki yang merupakan pelayan pribadi yang sudah memakai pakaian rapih dan lengkap.


"Siang juga, Peter." Balas gadis yang bernama Sharon itu.


"Bagaimana liburanmu, menyenangkan?" Tanya Peter dengan ramah dan mulai berjalan beriringan bersama Sharon.


"Tentu saja menyenangkan. Oh ya, di mana ibu?" Tanya balik Sharon.


"Nyonya sedang pergi keluar negri, Nona." Jawab Peter.


Sharon mendengus. "Kapan ia akan kembali?"


"Saya tidak tahu, Nona." Jawab Peter.


Gadis bernama Sharon itu terdiam dan mulai memasuki rumah mewah milik orang tuanya. Sharon, gadis cantik dengan segala aksesoris mewah yang membaluti tubuhnya, rambut panjang dengan bentuk ombak melingkar dibagian bawah, dan make up tipis yang melapisi wajah jelitanya. Ia merupakan anak ketiga dari Laura dan mendiang suaminya, dan itu berarti Sharon adalah adik dari Jacob dan Mona. Setelah beberapa tahun meninggalkan, Jacob dan Mona, Laura kembali hamil, dan berhasil melahirkan seorang bayi cantik yang kini tumbuh menjadi gadis remaja yang memiliki wawasan dan kecerdasan luas seperti kedua kakaknya. Sharon adalah tipe gadis yang tidak begitu mementingkan pergaulan dan percintaan walau pun banyak sekali lelaki yang mendekatinya, ia lebih suka menjelajah alam dan mencaritahu tentang segala hal yang membuat dirinya penasaran.


***


Jam terus berjalan membawa waktu kembali menuju rumah sakit tempat Alesha dirawat. Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya keluar lah hasil dari tes DNA yang dilakukan oleh Laura dan Jacob. Surat keterangan tersebut diberikan oleh seorang perawat pada Laura, dan Laura menolak untuk membuka surat itu, ia ingin Jacob yang pertama membuka dan melihat hasil tesnya.


"Bagaimana?" Tanya Laura.


Jacob tidak menjawab, ia tertegun saat melihat hasil dari tes DNA itu. Tidak mungkin juga kan kalau Laura melakukan sabotase pada hasil tes DNA itu? Pikir Jacob. Kenapa Laura harus berbohong? Wanita itu bisa saja mencari lelaki lain yang lebih pantas untuk menjadi anaknya ketimbang Jacob, namun berdasarkan surat dari hasil tes DNA itu menunjukan Jacob memanglah anak Laura.


"Puas? Kita berangkat sekarang." Ucap Laura. "Siapkan mobil, kita akan pergi ke kantor sekarang juga!" Perintah Laura pada asisten pribadinya.


"Apa? Sekarang?" Jacob kaget saat mendengar ucapan ibunya barusan.


"Ya. Lebih cepat lebih baik, dan lebih cepat pula kau kembali ke sini." Balas Laura.


Jacob menggeram. Apa maksud ibunya itu, dan apa tujuan ibunya membawa Jacob ke kantornya?


Jacob segera berbalik dan mendekati Alesha. "Maaf, aku harus pergi dulu sebentar, dan aku mohon jangan terjadi apapun selagi aku pergi, aku akan kembali secepatnya. Kau harus kuat Alesha, aku akan selalu menunggumu." Jacob mengelus puncak rambut Alesha dengan lembut.


"Kau jangan khawatir, aku dan Mr. Levin akan menjaga dan menemani Alesha." Ucap Bastian.


Jacob mengangguk. "Terima kasih." Balasnya pada Bastian. Ditatapnya Alesha sekali lagi, dan dengan berat hati, kaki Jacob mulai melangkah dan meninggalkan ruangan itu.


Beberapa perawat yang berpapasan di lorong rumah sakit melemparkan sapaan dan senyuman pada Laura, seolah mereka memang sudah kenal dengan ibunda Jacob tersebut. Jacob sendiri tidak mau berekspresi, wajahnya datar dan tidak memperdulikan orang-orang yang memperhatikannya.


Hingga sampai lah mereka di depan pintu keluar. Sebuah mobil mewah sudah menunggu dan siap mengantarkan pasangan ibu dan anak itu menuju tempat tujuan. Dibukanya pintu mobil oleh seorang pelayan, Laura masuk kemudian duduk dengan rapih dan anggun. Jacob yang duduk tepat disebelah ibunya itu hanya bisa menatap keluar jendela mobil tanpa mau membuka suaranya sedikit pun.


Mesin mobil mulai menyala dan ban pun langsung berputar setelah adanya dorongan dari mesin yang sudah digerakan. Jalan Raya kota cukup ramai karna pada jam segini mungkin adalah waktu untuk para pekerja kembali pulang ke rumah masing-masing.


Setiap detik dan menit yang terlewatkan di dalam mobil itu hanya berisi oleh keheningan, bahkan suara dari langkah anak panah pada jam tangan yang Jacob gunakan sampai terdengar. Saat-saat yang begitu membosankan untuk Jacob karna ia hanya bisa memandangi jalan raya saja, kepalanya bahkan terasa begitu pegal karna terus menghadap kesebelah kanan. Hingga akhirnya, setelah setengah jam Jacob harus menahan nyeri dilehernya, mobil yang ia dan ibunya tumpangi sampai disebuah gedung dengan ketinggian sepuluh lantai yang menjulang tinggi.


Sang supir segera mematikan mesin mobil. Dari luar, seorang petugas keamanan menghampiri mobil itu dan membukakan pintu mobil untuk Laura. Jacob adalah pria yang mandiri, jadi ia tidak perlu siapa pun untuk sekedar membukakan pintu mobil.


"Sore, Nyonya." Sapa petugas keamanan itu. Laura hanya membalasnya dengan senyuman.


Langkah kaki Laura dan Jacob kembali bergerak dan memasuki gedung kantor yang besar itu. Sambil menyusuri lantai marmer yang begitu bersih, beberapa karyawan yang bekerja di kantor itu mendadak melayangkan tatapan bingung dan kagum pada Jacob dan Laura. Bingung karna untuk pertama kalinya CEO mereka, yaitu Laura berjalan dengan seorang pria tinggi, tampan, dan cukup mirip dengan Laura, sang pemilik perusahaan. Dengan berjalan beriringan seperti itu, Jacob dan Laura menyebarkan benih-benih pertanyaan dalam pikiran setiap karyawan. Wajah Jacob yang begitu asing serta ekspresi yang datar dan dingin membuat para karyawan wanita tidak mampu melepaskan tatapan matanya dari Jacob. Kalau boleh dibilang, belum apa-apa saja, Jacob sudah mampu memikat hati para karyawan wanita, bagaimana kalau mereka tahu bahwa Jacob merupakan pewaris besar perusahaan dan calon CEO baru mereka, seperti yang sudah Laura rencanakan. Bisa-bisa jam kerja tambahan dan lemburan akan dilakukan oleh para karyawan wanita itu walau bukan Jacob yang memintanya.


Setelah mereka sampai disebuah ruangan besar yang sepertinya adalah ruang rapat yang terletak pada lantai tiga gedung itu, seorang wanita cantik, manajer perusahaan, dan tiga orang petinggi perusahaan sudah menunggu dan sedang duduk rapih dibangku masing-masing. Meja besar dan panjang yang berada di tengah-tengah menjadi pembatas antara sisi kiri dan kanan. Laura sendiri yang menjabat sebagai CEO mengambil tempat terdepan dan berada diantara kedua sisi.


"Aku harap semua petinggi perusahaan dapat hadir, tapi karna jarak dan waktu yang tidak memadai, jadi mungkin aku hanya akan memberikan pengumuman ini pada kalian terlebih dahulu, sisanya akan menyusul." Ucap Laura.


"Baiklah, karna kita tidak mempunyai banyak waktu jadi aku akan memulai rapat dadakan ini lebih cepat dan singkat." Laura menarik napasnya. Jacob pun tidak mengeluarkan ekspresi apapun sedari tadi. Wajahnya sedang tidak bersahabat kali ini, namun hal itu tidak mencegah tatapan kagum dan seringai kecil yang dilayangkan oleh wanita cantik yang berada tepat disebrang Jacob.


"Aku ingin mengumumkan pada kalian kalau sebentar lagi jabatanku sebagai CEO akan segera tergantikan, dan mungkin kalian juga belum tahu sebelumnya, jadi aku akan memberitahu pada kalian sekarang." Laura memamerkan senyum bahagia sesaat sebelum kata-kata selanjutnya akan diucapkan. "Perkenalkan, pria disebelahku ini adalah Jacob Ridle, anak lelakiku."