
"Jam berapa sekarang?" Tanya Bastian.
"Jam setengah sebelas." Jawab Alesha sambil melihat ke arah jam tangan pemberian mentornya.
"Masih banyak sekali waktu, kita harus jadi yang pertama!" Seru Mike dengan penuh semangat. "Oh shit!!"
Mike menekan pedal rem dengan sangat kuat hingga terdengar suara decitan mobil.
"Apa yang terjadi, Mike?" Tanya Bastian setelah tubuhnya mengalami goncangan saat mobil itu berhenti secara mendadak.
"Petugas SIO!" Seru Mike.
"Apa? Dimana? Cepat ubah jalurnya, kita harus menghindari mereka!" Pekik Alesha.
"Tidak! Kita terjebak di sini!" Lucas menatap serius pada teman-temannya.
"Apa maksudmu?" Bentak Alesha.
"MIKE, JALANKAN MOBILNYA!!" Pekik Merina ketika melihat mobil yang ditumpangi oleh para penguji yang merupakan agent SIO melaju cepat ke arah mobil yang ia dan timnya tumpangi.
Mike yang menyadari hal itu segera melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan penuh. Mobil yang ditumpangi oleh para penguji melaju cepat dan berbalik arah agar dapat mengejar mobil yang Bastian dan timnya tumpangi.
"Sial! Kita harus kemana sekarang?" Panik Mike.
"Cukup, kau hanya perlu fokus mengemudi, aku yang akan menunjukan jalannya padamu!" Balas Lucas.
"Baiklah cepat! Mereka berada tepat di belakang kita!" Saut Merina yang sudah kepalang panik.
Salah satu rintangan yang mesti setiap anggota tim lewati adalah dengan menghindari petugas SIO yang sengaja diletakkan di lokasi tertentu untuk menguji setiap tim.
Dan kini, Mike harus memacu mobilnya seperti seorang pembalap yang sedang menyalip setiap lawannya. Tidak perduli apa yang didepannya, jika ada celah, Mike pun langsung menerobos begitu saja.
Kejar-kejaran pun tidak dapat terhindarkan. Layaknya seorang pengemudi handal, Mike sama sekali tidak kesusahan dalam mengendarai dan menyalip setiap celah kecil demi menghindari para penguji itu.
Sedangkan di apartemen, Jacob merasa sedikit tegang saat memantau laju kecepatan mobil yang Mike kendarai melalui sebuah titik kecil yang bergerak sangat cepat dalam layar komputer. Jacob tidak bisa berkata-kata, setidaknya ia bisa lumayan tenang saat tahu kalau anggota timnya sudah aman dari jangkauan anak buah Vincent. Berbanding terbalik dengan Eve, kini pria itu begitu cemas dan salah tingkah karna anggota timnya belum lepas juga dari kejaran anak buah Vincent.
"Arghhhh! Biarkan aku menyusul mereka, akan aku lenyapkan semua anak buah Vincent!!" Geram Eve.
***
Bastian dan anggota timnya berhasil kabur dari jangkauan agent SIO yang menguji mereka dalam ujian akhir semester ini, dan kini mereka sedang berada di dalam sebuah cafe sambil membicarakan tentang kata sandi yang mesti mereka pecahkan.
"Sandi?" Gumam Merina pelan.
"Kita hanya bisa mengetahui sandinya jika kita langsung mencoba pada kartu memori itu!" Seru Lucas.
"Maksudmu sekarang kita langsung mencari kartu memori itu?" Stella mengangkat sebelah alisnya.
Lucas mengangguk. "Yaps."
"Ya sudah, kalau begitu ayo, kita tunggu apalagi?" Merina bangkit seraya melirik ke arah jam tangannya. "Jam satu. Lima jam kita berkeliling kota ini? Apa sungguh?"
"Jika saja tidak ada kendala, kita pasti sudah mendapatkan kartu memori itu." Ucap Alesha yang menyusul Merina untuk berdiri.
"Kendala kita ada pada para penguji itu, tidak akan mudah menghindari mereka." Ucap Mike.
"Kau benar, kalau begitu sekarang ayo kita pergi, aku takut para penguji itu menemukan keberadaan kita." Lucas bangkit lalu melangkahkan kakinya untuk kembali menuju mobil yang terpakir disisi jalan.
Tidak mau menyita waktu yang terus berlanjut, mereka semua akhirnya bergegas meninggalkan cafe itu dan langsung menuju lokasi inti ujian akhir semester dua untuk tim mereka.
Tapi sayangnya, tidak seperti yang dikira kalau perjalanan akan cukup mulus mengingat lokasi bukit Hollywood tidak jauh lagi dari jalan raya yang saat ini sedang mereka lewati menggunakan sebuah mobil sedan. Bastian dan beberapa anggota timnya itu kembali dibuat pusing dan panik setelah para penguji kembali muncul dan aksi kejar-kejaran di jalanan umum pun dimulai kembali.
Disisi lain, anggota tim Bastian yang terdiri dari Nakyung, Maudy, Aiden, dan Tyson, mereka sedang berputar-putar mencari lokasi Brandon dan timnya yang kabur saat dikejar oleh anak buah Vincent.
"Kita harus hati-hati, Bastian sudah memperingatkan kita untuk waspada pada anak buah Vincent yang kini sedang memburu Brandon dan timnya." Ucap Maudy.
"Sungguh, aku pikir ujian ini akan dipenuhi oleh banyak pertarungan sengit." Komen Nakyung. Ia pun menghembuskan napasnya dengan malas sembari menatap keluar jendela mobil. "Tapi ternyata biasa saja."
"Bersyukurlah, kita mendapatkan kemudahan dalam ujian ini." Balas Tyson.
Nakyung tidak menggubris ucapan temannya itu. Ia lebih memilih memiringkan wajahnya dan menatap malas keluar jendela mobil.
Sebenarnya Mr. Frank selaku direktur utama SIO sudah menyusun strategi agar dapat menangkap anak buah Vincent yang berkeliaran. Salah satunya yaitu dengan cara memanfaatkan anggota tim Brandon, Bastian, dan beberapa kelompok tim lagi. Mr. Frank sudah memperkirakan semuanya dengan sangat matang sejak beberapa bulan lalu. Ia tahu resikonya akan sangat tinggi jika memancing anak buah Vincent agar mau keluar kandang dengan perantara murid WOSA, tapi Mr. Frank tidak bodoh, ia sudah menyusun semua rencananya dengan baik hingga akhirnya beberapa anak buah Vincent pun berhasil disergap oleh para agent SIO.
Lalu kini tinggal tersisa lima anak buah Vincent yang sedang mengejar anggota tim Brandon. Beberapa agent SIO yang lain pun sudah dalam perjalanan untuk menangkap kelima anak buah Vincent itu. Kali ini Mr. Frank tidak akan melepaskan musuh-musuhnya itu, ia ingin agar satu persatu musuh SIO dapat dikalahkan, mengingat SIO akan membuka tahun ajaran baru untuk keseratus calon murid WOSA yang sedang menjalani masa seleksi bulan ini.
Untuk tim Bastian sendiri, kini mereka sudah berada di perbukitan Hollywood dan menyurusi jalan dengan kecepatan mobil yang sangat rendah. Syukurnya mereka bisa terlepas dari jangkauan para penguji dengan berputar-putar dipusat kota California dan membuat para penguji itu kesulitan mencari jalan yang dilewati oleh Bastian dan anggota timnya. Untung saja Lucas dapat berpikir cepat dalam mengambil keputusan untuk menentukan jalanan yang bisa dilewati agar bisa menghilang dari jangkauan para penguji.
Cukup memakan cukup banyak waktu, untuk Bastian dan timnya dapat menghindari para penguji, namun itu bukan lah menjadi masalah lagi karna sekarang ini misi mereka akan segera berakhir. Mereka hanya perlu menemukan kata sandi dan kartu memori yang tersembunyi diantara bebatuan bukit.
"Hentikkan mobilnya!" Seru Lucas. "Kartu memori itu ada disekitar sini."
Akhirnya, Lucas berhasil menemukan lokasi kartu memori itu dengan melacak sinyal yang dipancarkan oleh memori tersebut dan terhubung dengan jaringan server yang WOSA jatahkan pada anggota timnya.
"Disekitar sini!" Lucas berlari kecil ke arah tumpukan bebatuan. Ia pikir memori itu ada di sana karna alat pelacak yang tertera dalam tabletnya itu menangkap sinyal kuat yang berasal dari sekitaran tumpukan bebatuan itu.
"Cari disekitar sini, memori itu ada di tempat ini!" Ucap Lucas setengah berteriak.
Yang lain segera berpencar dan meneliti setiap inci tanah tandus nan kering itu berharap akan menemukan benda kecil yang menjadi inti dari ujian akhir semester dua untuk kelompok tim Bastian.
Alesha, Stella, Merina, Bastian, Mike, bahkan Lucas juga turut mengobrak-abrik bebatuan dan mengacak-acak area tanah yang berada disekitaran mereka.
Sinar mentari disore awal membuat Bastian dan anggota timnya merasa sedikit kewalahan. Tak kunjung mereka menemukan benda kecil itu setelah hampir memakan waktu seperempat jam. Namun tidak ada rasa surut semangat yang terlihat diantara keempat remaja itu. Mereka terus-menerus bergantian lokasi dan mengira-ngira, di mana letak kartu memori itu?
Otomatis Bastian, Lucas, Mike, Alesha, dan Stella pun menghentikan kegiatan mereka untuk mencari kartu memori itu setelah mendengar suara panggilan dari Merina.
"Cepat! Aku rasa aku menemukannya!" Lanjut Merina.
"Mana?" Mata Mike terbuka lebar dan menatap pada Merina dengan penuh semangat. Tentu saja ia kegirangan, ia pikir kartu memori itu sudah ditemukan.
"Ini!" Merina menarik sebuah benda berbentuk kotak datar yang kecil mungil diantara celah dua batu kecil.
"Merina! Kau menemukannya!" Lucas berjongkok dengan lutut sebagai tumpuan. Matanya memancarkan binar bahagia pada sebuah kartu mungil yang diapit oleh dua jemari Merina.
Akhirnya, kini Bastian dan anggota timnya bisa bernapas cukup lega karna mereka berhasil menemukan kartu memori itu. Hanya ada satu masalah lagi yang mesti dituntaskan, yaitu sandi!
"Sini, biar aku aktifkan kartunya, dan kalian cepat cari kata sandi itu!" Lucas meraih memori kecil itu dari jemari Merina dan segera dimasukkan kedalam tabletnya.
Mendengar kata 'Sandi', Bastian dan yang lain kembali memutar otak mereka untuk menelaah setiap celah yang mungkin saja bisa digunakan untuk memecahkan teka-teki sandi itu.
"Sandinya! Aku dapat cluenya!" Pekik Lucas saat membuka tampilan beranda awal dari sebuah aplikasi yang terdapat dalam kartu memori itu.
"Apa itu kata sandi yang bukan lain adalah sebutan lain dari kata sandi itu sendiri?" Lucas membaca dengan seksama sebuah soal dalam layar tabletnya yang berperan sebagai pintu masuk agar ia bersama dengan timnya bisa segera mengaktifkan kartu memori itu dan menyelesaikan ujian akhir mereka.
"Apa kau bilang? Coba bacakan lagi!" Pinta Stella sambil menunjukkan ekspresi bingungnya.
"Apa itu kata sandi yang bukan lain adalah sebutan lain dari kata sandi itu sendiri?" Ulang Lucas dan menatap wajah kelima teman sekaligus anggota timnya.
Otak Merina langsung memberikan sebuah respon saat mendengar pertanyaan ulang yang diucapkan oleh Lucas. "Benar apa yang Alesha katakan!" Merina menjentrikkan jemarinya. "Apa itu kata sandi?"
"Apa aku harus membuka google terlebih dahulu untuk mendapatkan jawabannya?" Tanya Mike.
"Tidak, itu terlalu panjang menurutku." Sanggah Stella.
"Kau benar, Stell. Kita harus mencari yang lebih singkat lagi. Coba kalian jangan terpaku pada kalimat 'Apa itu kata sandi?' karna itu adalah pertanyaannya, tetapi aku pikir kalimat 'Sebutan lain dari kata sandi itu sendiri' adalah cluenya." Usul Bastian.
"Sebutan lain dari kata sandi?" Stella mengerutkan keningnya memikirkan jawaban yang cocok dengan clue yang sudah diberikan itu.
"Mr. Thomson sudah memberi kuncinya dengan clue yang sudah diletakkan pada pertanyaan itu. Kita hanya perlu memikirkan satu, dua, tiga, atau beberapa kata untuk mengetahui jawabannya." Ucap Lucas yang mulai frustasi karna perasaan tidak sabarnya untuk segera menemukan jawaban dari pertanyaan yang sudah disertakan dengan sebuah clue.
"Kuncinya ada pada clue itu!" Desah Merina.
Alesha sendiri lebih memilih diam dan berpikir. Matanya menatap lurus pada bebatuan dan tanah yang ada di bawahnya, tetapi pikiran terpacu pada dua kata yang bisa jadi itu adalah jawabannya.
"Kunci.." Gumam Alesha sangat pelan. "Clue itu adalah kuncinya." Alesha lanjut berpikir. Bisa jadi, bisa tidak jadi. Apakah clue itu adalaha kuncinya, atau kuncinya adalah jawabannya. Begitu lah sekiranya yang dapat otak Alesha pahami.
"Alesha, bagaimana? Kau sudah menemukan jawabannya?" Tanya Mike.
Pertanyaan itu membuat Alesha tergubris dari pikirannya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah teman-temannya.
Antara ragu atau yakin, Alesha pun menjawab. "Clue itu adalah kunci agar kita bisa menemukan jawabannya."
Kelima rekan setimnya itu malah melayangkan tatapan tidak paham, aneh, dan bingung pada Alesha.
Untuk memperjelas apa yang ia katakan pada rekan setimnya, Alesha kembali melanjutkan ucapannya. "Atau kunci adalah jawaban dari clue itu."
Bukannya memperjelas, Alesha semakin membuat rekan setimnya merasa bingung dengan apa yang ia ucapkan.
"Kunci adalah jawabannya." Alesha mulai menaikkan nada bicaranya. "Kata kunci!" Seru Alesha dengan binar mata yang menunjukkan keterkejutan atas jawabannya sendiri.
Begitu pun Merina yang dengan spontan membuka mulutnya setelah ia mengerti apa yang Alesha maksud. "Alesha, kau pintar!" Pekik Merina.
"Kata kunci! Itu adalah jawabannya!"
Setelah mendengar seruan girang dari Merina barusan, barulah Bastian, Mike, Lucas, dan Stella mengerti.
Ya. Benar sekali! 'Kata Kunci' adalah kata lain dari 'Kata Sandi'. Mereka berhasil memecahkan persoalan itu.
Buru-buru Lucas mengetikkan dua rangkai kata yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang ia ucapkan tadi.
"YESS!! Huuuu, kita berhasil, kawan-kawan!" Lucas membanting pelan tabletnya itu ketanah dan berseru ria.
"Sungguh? Horeeee, akhirnya kita berhasil!!!"
Stella dan Merina segera menghampiri Alesha dan segera menaruh pelukan kebahagiaan pada tubuh si manis kesayangan Jacob.
"Kau pintar, Alesha!" Ucap Merina dengan rasa bangga pada temannya itu.
Riuh kebahagiaan menjadi tanda berakhirnya ujian semester dua untuk tim Luxury-1. Mereka melaksanakan misi itu dengan cukup baik, walau ada beberapa kendala yang mensendat perjalanan mereka.
Dan bukan hanya Bastian dan timnya saja yang merayakan keberhasilan mereka dalam melaksanakan ujian akhir itu, mentor mereka pun turut bergembira di dalam ruang apartemen yang menjadi pusat kontrol untuk memantau jalannya ujian akhir untuk dua kelompok tim murid WOSA.
"Kerja bagus, anak-anak!" Jacob menggebrak pelan pinggiran meja yang ada disebelahnya sebagai tanda tersalurnya rasa bangga dan bahagia karna mengetahui kalau anggota timnya sukses mengaktifkan kartu memori mereka dan menuntaskan ujian akhir itu hanya dalam waktu beberapa jam saja.
"Selamat, Jack, timmu menjadi yang pertama dalam menyelesaikan ujian akhir semester dua." Saut agent SIO sambil tersenyum saat melihat temannya, Jacob bertingkah penuh kegembiraan.
Senyum menawan yang menunjukkan deretan gigi putih dan rapih itu menunjukkan seberapa senangnya hati Jacob saat ini. Ia bahkan tidak percaya kalau timnya menjadi yang pertama. Tapi itulah kenyataannya, tidak sia-sia Jacob memberikan banyak pengarahan dan pelatihan keras pada Bastian dan timnya selama satu tahun ini. Hasilnya adalah sekarang. Mereka menjadi yang pertama, dan sudah dipastikan bahwa peringkat satu sudah mereka ambil alih.
"Kalian selalu membuatku bangga. Aku sangat menyayangi kalian." Gumam Jacob disela-sela senyum mempesonanya.
***
Huft, maaf ya telat banget upnya๐๐ aku baru nemu ide setelah seharian buntu karna mikirin akun ini๐ maaf juga ya kalau ceritanya ada yang gak jelas atau kata-katanya bikin pusing ๐ aku lagi kurang fokus hari ini๐ค
Sekali lagi authornya minta hampura ya ๐๐