
"Haaahhhhh....." Deru napas Alesha begitu memburu saat ia membuka paksa matanya dari alam bawah sadar yang menghanyutkannya kesebuah mimpi yang begitu mendebarkan jantungnya. Bahkan setelah kesadarannya sudah pulih sepenuhnya, Alesha masih tetap syok akan kedatangan mimpi yang sama sekali tidak pernah terduga.
Alesha mengangkat tubuhnya dan terduduk dengan keadaan jantung yang masih berdebar hebat. Keningnya berkeringat, dan tangannya bergetar. Ia masih tidak mempercayai akan mimpi yang terasa sangat nyata. Sentuhan lembut, suara yang begitu dalam dan menggoda, belaian dari jemari sang mentor yang masih dapat Alesha rasakan dalam dunia nyatanya kini.
"Astagfirullah, maksudnya apaan?" Alesha menepuk keningnya dengan ekspresi yang masih dibaluti oleh rasa syok dan tidak percaya.
Alesha menggelengkan kepalanya. "Engga, itu mimpi kenapa begitu tih?"
Lengan Alesha pun turun dan menyentuh dadanya yang terasa berdetak kencang. Jantungnya itu masih berpacu didalam sana. Alesha nyaris kehilangan kendali atas dirinya dalam mimpi itu.
Bingung, syok, tidak percaya, panik, gelisah, dan apa lagi? Bagaimana Alesha dapat mengutarakan apa yang ia raskana setelah mimpi itu terjadi. Kesadaran yang dituntut oleh Alesha hingga ia membuka matanya diwaktu yang tepat.
"Apa maksudnya?" Ucap Alesha dengan frustasi. "Itu kenapa mimpi begitu!" Alesha menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.
Sekali lagi, sentuhan itu, kecupan manis dan sangat lembut, belaian halus.
"Aaarrgghh..." Erang Alesha saat bayangan mimpi itu kembali terulang. Alesha merasakannya, ia masih bisa merasakan itu semua.
"Noooo...." Alesha menutup kupingnya dan memejamkan matanya. Kenapa semua terasa begitu menggila untuk Alesha? Ia merasakan semua yang terjadi dalam mimpi itu secara terus menerus.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jacob yang tiba-tiba saja membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Alesha.
Alesha yang mendengar suara mentornya itu seketika menatap tajam ke arah Jacob. Panik, dan trauma. Alesha takut kekhilafan yang terjadi dalam mimpinya malah terealisasikan di dunia nyata.
"Noooo...." Alesha bergerak menjauh sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut saat ia mendapati Jacob yang terduduk dipinggiran kasur.
Jacob pun berkerut bingung saat melihat ekspresi dan tingkah Alesha yang seperti orang ketakutan.
"Ada apa?" Tanya Jacob.
"Jangan mendekat!" Alesha mengangkat lengannya dan memalingkan wajahnya.
Kepenasaranan Jacob semakin bertambah saat melihat tingkah Alesha yang seperti itu. Ia tidak tahu apa yang membuat gadisnya jadi bersikap aneh. Mata Jacob menyipit untuk mencoba menyelidiki suatu hal, melalui wajah Alesha.
Sebelah mata Alesha sedikit terbuka dan seketika tertutup kembali saat mendapati mentornya yang sedang menaruh ekspresi curiga.
"Kau kenapa? Mimpi buruk?" Tanya Jacob.
Ya. Ingin sekali Alesha mengatakan kata 'Ya'. Tapi mulutnya tetap menolak untuk mengambil satu kata itu.
"Hey.." Panggil Jacob sembari menepuk kaki Alesha yang masih terbalut dengan selimut. Karna hal itu, Alesha pun segera menarik kakinya untuk menjauh dari jangkauan Jacob.
"Alesha..." Panggil Jacob dengan lembut.
Sungguh, mentornya itu kini malah membuat Alesha kembali merasakan semua sentuhan, belaian, dan apapun yang terjadi dalam mimpinya. Tubuh Alesha bergidik saat sensasi panas dari bayangan sang mentor yang sedang melakukan hal itu dengannya.
"Aku mimpi buruk." Gumam Alesha.
"Mimpi apa?" Tanya Jacob.
"Aku dan ka.."
Alesha menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh mengatakan tentang mimpinya pada Jacob. Alesha takut kalau yang terjadi dalam mimpinya itu malah akan benar-benar terjadi dalam dunia nyatanya.
Jacob mengangkat sebelah alisnya dan menatap bingung pada Alesha.
"Aku mimpi kalau ada seseorang yang melakukan hal itu padaku." Ucap Alesha dengan sangat pelan berharap kalau mentornya itu tidak mendengar.
"Melakukan apa?" Tanya Jacob lagi yang ternyata masih mampu mendengar suara Alesha yang begitu pelan.
"Sudah, lupakan saja." Alesha menghembuskan napasnya untuk memperoleh ketenangan dan tidak panik kembali.
Astagfirullah, Ya Allah maaf, Alesha juga gak mau mimpi kaya gitu, tapi kenapa Alesha dikasih mimpi kaya gitu?.... Ucap Alesha dalam hati.
"Apa?" Tanya Alesha dengan cukup sinis saat melihat mentornya yang sedang tersenyum ke arahnya.
Mendengar pertanyaan itu, Jacob pun memalingkan wajahnya namun dengan senyum yang masih menetap.
"Cepat mandi, lalu makan, dan ini obatmu, jangan sampai lupa memakannya." Ucap Jacob.
Alesha mengangguk. Ia tidak tahu harus berkata apa. Hingga akhirnya Jacob bangkit dan pergi dari dalam kamar itu.
Alesha memandang tubuh Jacob yang mulai menghilang dibalik pintu.
"Gila!" Satu kata yang menjadi wakil dari semua perasaan yang kini sedang beradu dalam diri Alesha.
Segera Alesha membuka selimutnya dan turun dari atas kasur. Ia berlari menuju kamar mandi dan menatap wajahnya melalui pantulan kaca besar.
Plak..
"Aww.." Ringgis Alesha saat merasakan perih ketika ia menampar pipinya sendiri.
Alesha kembali menatap wajahnya dicermin, mencermati setiap inci dari kulit putih yang sedikit merah.
Deg....
Deg...
Deg...
Jantung Alesha kembali berdetak tidak sesuai alur.
"Tenang, Al, itu cuman mimpi, gak mungkin juga jadi kenyataan. Santai, gak usah panik." Alesha menarik napas lalu menghembuskannya selama beberapa kali. Kini hatinya mulai mendapatkan sedikit ketenangan, dan Alesha tidak mau membuang waktu, ia pun segera melakukan ritual paginya, yaitu mandi. Tapi kali ini Alesha tidak mandi seperti biasa, ada bacaan dan niat yang harus ia ucapkan. Karna mimpinya itu Alesha harus mandi junub.
***
"Aduh!" Pekik Irene yang berpura-pura jatuh pada anak tangga saat melihat sosok Jacob yang sedang berjalan sendirian.
"Awww--" Ringgis Irene sambil memegangi kakinya.
Jacob yang melihat Irene itu pun segera berlari menghampiri wanita itu.
"Ya ampun, apa yang terjadi?" Tanya Jacob.
"Aku terjatuh dan kakiku sepertinya terkilir." Jawab Irene sambil berakting kesakitan agar mendapatkan perhatian dari tuan muda incarannya itu.
"Hati-hati makanya." Jacob mengalungkan lengan Irene pada pundaknya lalu membantu wanita itu berjalan menuruni anak tangga.
"Aduh!" Pekik Irene sambil menjatuhkan dirinya kembali. Jacob pun dengan sigap menopang dan menahan tubuh mungil Irene agar tidak benar-benar terjatuh.
"Kakiku benar-benar sakit." Irene semakin membuat-buat aktingnya itu agar terlihat seperti sungguhan. Ya, tentu saja, jika ada sutrada yang melihat akting palsu itu, pasti Irene akan segera dimasukan kedalam daftar casting untuk sebuah projek film.
Karna Jacob adalah pria yang berjiwa baik dan lembut, ia tidak tega jika melihat wanita yang sedang kesusahan, jadi Jacob memutuskan untuk mengangkat tubuh Irene dan membawanya menuruni anak tangga.
Dalam benaknya, Irene mengadakan sebuah pesta yang disorak sorai oleh perasaan bahagia. Pikirnya, kapan lagi ia bisa berada dengan jarak yang begitu dekat dengan Jacob, ditambah lagi saat Irene yang sedang merasakan tubuhnya melayang ketika Jacob menggendong tubuhnya. Ah, manisnya. Diam-diam Irene menyandarkan kepalanya pada dada bidang Jacob. Wangi parfum yang begitu maskulin membuat obsesinya pada pria yang merupakan anak CEOnya itu kian bertambah.
Sabar, tidak lama lagi kau akan jatuh dalam pesonaku, Jacob. Aku begitu terobsesi padamu.... Ucap Irene dalam hatinya.
***
"ARGHHHHH!! JACOB!"
Prang.....
Sebuah gelas berisikan alkohol seketika hancur ketika Vincent melemparnya ke arah lantai.
"Dia! Aku akan menghabisimu, Jacob!" Vincent menggeram. Tulang rahangnya mengeras dengan emosinya yang sudah mengambil alih pikirannya.
"Jacob dan Eve! Mereka harus aku habisi!"
Vincent terduduk disebuah bangku yang berada dibalkon yang langsung menghadap ke arah hamparan biru yang bergelombang.
Pikirannya kacau setelah mendengar kabar kematian Mack yang disebabkan oleh Jacob. Bagaimana Vincent tahu kalau Mack mati karna Jacob? Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Jacob yang melakukan itu. Perkiraan Vincent selalu benar. Jacob memang sulit untuk dikalahkan, bahkan ia menghadapi delapan orang yang lihai dalam hal bela diri sendirian. Memanglah Jacob yang selalu menjadi kendalanya, Eve juga. Dua orang itulah yang berbahaya dan yang paling ahli di SIO, ditambah lagi sekarang dengan keberadaan Levin yang kembali lagi ke SIO. Harapan Vincent semakin sulit tercapai untuk bisa mengambil alih SIO. Jacob pun semakin disegani dikalangan para anggota badan Intelegent jika mereka tahu kalau Jacob lah yang sudah menghabisi Mack dan anak buahnya sendirian. Sedangkan Eve, pria itu juga sukses membuat kuping Vincent semakin terasa panas. Dibawah pimpinannya, kelompok jaringan gelap yang menyerang SIO pusat berhasil dilumpuhkan kembali. Jika saja Vincent bisa mengelabui dua pria itu, namun ia tahu hasilnya hanya akan sia-sia saja. Terakhir kali Vincent mencoba untuk menghasut Jacob dan Eve lalu merusak organisasi SIO secara pelan-pelan dan menusuk dari dalam, ia malah harus berakhir dipenjara.
Langkah beratnya adalah harus menapaki pertarungan dengan kembali berhadapan dengan dua orang yang sudah mengantarkannya masuk kedalam penjara tiga tahun lalu.
"Panggil semua anak buah Mack! Kita akan berkumpul di Dubai, beritahu semua partner bisnisku kalau aku harus mengadakan pertemuan dengan mereka secepatnya!" Perintah Vincent pada anak buahnya.
Gertakan gigi samar-samar terdengar saat Vincent mengeraskan tulang rahangnya. Napasnya memburu ketika ia sudah tidak sabar untuk segera melancarkan aksi selanjutnya.
***
Tring....
Suara nada dering dari ponsel Jacob terdengar begitu nyaring saat adanya panggilan masuk.
Segera Jacob pun mendudukan tubuh Irene disofa, lalu kemudian ia segera mengambil ponselnya yang berada didalam saku celananya.
"*Hallo, Eve, ada apa?"
"Jack, kita harus kembali ke WOSA, ada yang mesti kita bicarakan dengan Mr. Thomson."
"Tentang apa?"
"Banyak, aku tidak bisa menceritakannya kalau melalui telepon."
"Kapan kau akan kembali ke WOSA?"
"Sekarang juga."
"Sekarang? Aku tidak yakin aku bisa kembali ke WOSA dengan cepat, salah satu anggota timku masih belum pulih sepenuhnya."
"Jack, hal yang ingin aku bicarakan juga akan menyangkut masa depan tim kau dan timku. Kembali lah ke WOSA. Mr. Frank sendiri yang menyampaikan padaku agar kita bisa segera mengambil keputusan bersama Mr. Thomson*."
Jacob terdiam. Berpikir balasan apa yang bisa ia jadikan sebagai alasan. Alesha masih belum pulih sepenuhnya, dan hal itu lah yang sangat Jacob khawatirkan.
"*Laras yang sedang kembali ke Indonesia pun dipanggil oleh Mr. Frank untuk segera kembali ke WOSA, dan rencananya Laras akan kembali hari ini juga."
"Apa hal itu sangat penting?"
"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan memaksamu jika hal yang akan aku bicarakan itu tidak penting*."
Jacob memegangi keningnya. Ia bingung keputusan apa yang harus diambil.
"*Aku akan menelponmu lagi nanti setelah aku dan yang lain siap."
"Bagus, dan jangan sampai kau telat."
"Ya*."
Sambung telepon pun terputus, dan Jacob kembali memasukan ponselnya kedalam saku celananya.
"Aku pergi dulu, aku harus bertemu dengan ibuku." Ucap Jacob pada Irene.
Tanpa meninggalkan sepatah kata lagi, Jacob pun berjalan dan mengabaikan Irene yang nampak kecewa. Baru saja ia bisa merasakan kedekatan dengan tuan mudanya, dan kali ini ia harus ditinggal lagi.
"Terima kasih, Jack, dan tunggu aku, kau akan segera jatuh padaku." Irene tersenyum menggoda. Menampakkan wajah jelitanya yang begitu mulus tanpa ada kekurangan sedikit pun.
Percaya diri, tentu. Irene sadar akan dirinya yang begitu diidami oleh banyak lelaki. Para wanita banyak yang menaruh rasa iri pada Irene. Jelas saja, tubuh mungil, tinggi tidak, pendek tidak, mata yang indah, senyum yang membuat candu siapa pun yang melihatnya, dan kulit seputih susu. Begitu sempurna dengan lekukan indah dan aura yang selalu saja menggoda pria mana pun. Tak terkecuali anak CEOnya itu. Irene mesti bersabar untuk menarik Jacob agak jatuh dalam peluknya.
Sedangkan Jacob, ia merupakan pria yang mengenyampingkan penampilan dan rupa fisik jika mencari seorang pasangan. Hal yang terpenting adalah keyakinan dari hati dan dirinya sendiri akan perasaannya. Jacob akan berusaha untuk mendapatkan wanita yang hati dan dirinya sudah pilih. Layaknya, Alesha, gadis yang kini sukses membuat hati dan dirinya jatuh dan luluh. Jika Jacob sudah jatuh hati pada seorang wanita, maka sulit untuknya melepaskan wanita itu. Jacob tidak akan membiarkan wanitanya pergi atau direbut oleh lelaki lain. Jacob akan memastikan kalau wanita pilihannya adalah masa depannya, karna Jacob bisa menjadi gila jika kehilangan sosok yang sudah sangat ia cintai.
Tidak terasa, Jacob pun sudah sampai di ruangan kerja sang ibunda. Diketuknya pintu lalu Jacob dapat mendengar suara ibunya yang memberi izin untuk memasuki ruangan itu.
"Jacob, ada apa?" Tanya Laura saat mengetahui kalau anaknya lah yang memasuki ruangannya.
"Aku harus kembali ke WOSA sekarang juga." Jawab Jacob sembari berjalan menghampiri ibunya.
Mata Laura membulat, dan sebuah lonjakan kecil terjadi pada tubuhnya saat mendengar ucapan anaknya barusan.
"Kenapa? Kau tidak betah tinggal di rumah ini?" Tanya Laura dengan ekspresi sedih. Tentu saja, Laura takut kalau anaknya itu ingin pergi meninggalkan istana modernnya karna ketidakbetahaan yang anaknya itu rasakan.
"Tidak. Para mentor WOSA akan mengadakan rapat penting, dan aku harus ada di sana tepat waktu, lagi pula Alesha juga sudah semakin membaik, jadi mungkin memang ini waktu untuk kami kembali ke WOSA." Jawab Jacob.
"Tapi, Jack, ibu masih sangat merindukanmu, ibu baru memiliki niat untuk membawa Mona ke rumah ini dan berkumpul dengan semua anak ibu." Ucap Laura dengan lirih dan begitu sedih.
"Ada waktu lain, saat ini aku mesti kembali ke WOSA." Balas Jacob dengan datar.
Sedih, ingin menangis rasanya Laura saat mengetahui kalau ia mesti berpisah lagi untuk sementara waktu dengan anaknya. Padahal, ia baru saja bertemu dengan Jacob seminggu lalu, dan hubungan mereka juga baru saja membaik. Laura ingin merasakan kebersamaan dengan anaknya untuk waktu yang lebih lama lagi. Jacob dan Mona adalah kerinduan terbesar untuk Laura. Ibu mana yang tidak sedih jika harus kembali ditinggal oleh anaknya? Sedang Laura sendiri sangat mencintai dan menyayangi Jacob dan Mona. Tapi keadaan saat ini memang sedang tidak memberi lampu hijau untuk kebersamaan yang lebih lama lagi. Dengan berat hati, Laura pun harus menyetujui permintaan anaknya itu, karna bagaimana juga Jacob adalah seorang mentor dan agent intelegent, tanggung jawab adalah yang utama.
"Baik, kau boleh kembali ke WOSA hari ini." Laura mengangguk pasrah. Bingkai sedih sudah tidak bisa terlepas lagi dari wajahnya untuk saat ini. "Tunggu sebentar, aku akan menghubungi pihak bandara dan pilotku untuk memastikan keberangkatan jam terbang kalian menuju WOSA." Lanjut Laura.
Jacob mengangguk lalu membiarkan ibunya untuk menghubungi pihak bandara dan pilotnya. Setelah sekitar tiga menitan menunggu, akhirnya Laura pun selesai menghubungi pihak bandara.
"Kau bisa pergi bersama yang lain pukul sembilan, anak buahku akan mengantarkan kalian menuju pesawat pribadiku langsung." Ucap Laura.
Senyum kecil terukir pada wajah Jacob, namun senyuman itu hanya ditunjukan sebagai rasa menghargai atas perizinan yang sudah ibunya berikan.
"Terima kasih, Bu."
Satu kata itu, tepatnya kata terakhir yang Jacob ucapkan. Laura terharu, Jacob memanggilnya dengan sebutan ibu. Sekian lama Laura menelantarkan anaknya, namun kini ia bisa kembali mendengar kata 'Bu' dari bocah kecil yang sekarang sudah tumbuh menjadi pria dewasa.
"Sama-sama, Jack. Jaga kesehatanmu, ibu sangat menyayangimu." Balas Laura dengan binar senyum antara bahagia karna dipanggil 'Bu' oleh anaknya, dan sedih karna harus ditinggal pergi.
Setelah mendapat persetujuan, Jacob pun segera berjalan meninggalkan ruangan kerja ibunya dan beralih menuju kamar Alesha. Tepat saat ditengah perjalanan, ia bertemu dengan Bastian dan Levin yang sedang asik bermain game disofa.
"Bastian, cepat bersiap, kita kembali ke WOSA sekarang juga!" Perintah Jacob
"Ke WOSA? Sekarang?" Bastian mengerutkan keningnya.
"Ya."
"Kenapa? Mendadak sekali?"
"Ada sesuatu yang harus para mentor WOSA bicarakan."
Baru saja Bastian mau membuka mulutnya untuk melontarkan satu pertanyaan lagi, dan Jacob sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Sudah, jangan banyak tanya lagi, cepat bersiap!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Jacob pun segera melanjutkan langkahnya untuk menuju kamar gadisnya.
Ceklek..
Suara gagang pintu yang ditekan kebawah seperti ada seseorang yang sengaja akan membuka pintunya.
"Alesha, berkemas cepat, kita akan kembali ke WOSA sekarang." Ucap Jacob sambil berjalan mendekati Alesha.
"Ke WOSA sekarang?" Alesha mendongkak dan menatap wajah mentornya dengan ekspresi bingung.
"Ya, ada hal yang perlu para mentor WOSA bicarakan, jadi aku harus ada di sana, lagi pun aku rasa kau juga sudah cukup membaik." Balas Jacob seraya memakaikan jaket yang ia kenakan pada tubuh Alesha.
"Kau tidak perlu mengganti baju, waktu kita tidak banyak, satu setengah jam lagi kita harus lepas landas menuju WOSA menggunakan pesawat pribadi milik ibuku." Lanjut Jacob.
Alesha mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Seperti seorang anak kecil, bagi Jacob Alesha terlihat menggemaskan saat seperti itu. Ingin sekali Jacob mencubit pipi Alesha, atau setidaknya menangkup dengan gemas wajah gadisnya itu. Bahkan kini tangan Jacob terkepal, ia merasakan sensasi yang begejolak dalam tubuhnya untuk meminta hal yang tidak akan mungkin dapat Jacob lakukan lagi jika Alesha belum resmi menyandang status sebagai istrinya.
Berapa tahun? Berapa lama lagi Jacob harus menunggu? Rasanya ingin sekali Jacob segera mendafatarkan dirinya dan juga Alesha ke kantor pemerintahan untuk mengajukan acara resepsi pernikahan. Alesha semakin memeluk hatinya, dan perlahan melepaskan Yuna yang selama tiga tahun ini terus bersarang dalam hati Jacob.
Jacob menggigit gigi bawahnya untuk menahan hasratnya yang semakin memuncak.
"Mr. Jacob, kau kenapa?" Alesha mengerutkan keningnya ketika mendapati mentornya yang terlihat seperti menahan sesuatu.
"Tidak apa-apa." Jacob tersenyum lalu menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Cepat bersiap, aku akan kembali ke kamarku untuk bersiap-siap juga." Ucap Jacob lalu pergi begitu saja meninggalkan Alesha yang masih mengamatinya dari belakang dengan ekspresi bingung.
Jacob menarik gagang pintu lalu segera menutup pintu kamar itu. Tidak ingin Alesha tahu kalau saat ini ia benar-benar merasakan tubuhnya yang mulai hilang kendali akibat hasrat kuat yang menginginkan sebuah sentuhan kecil untuk bibirnya.
"Kau semakin membuatku tergila-gila. Lihat saja, setelah kau lulus dari WOSA maka aku akan langsung mengajukan surat pernikahan kita, Al." Racau Jacob dengan frustasi.