May I Love For Twice

May I Love For Twice
MISSION X (II)



Jacob membawa Alesha pergi. Alesha terus meronta. "Kita tidak bisa meninggalkan Mr. Levin!" Ucap Alesha.


Jacob mengabaikannya. Ia lebih memilih diam dari pada menyauti Alesha dan membawa Alesha pergi.


"Berhenti atau kalian aku tembak!" Ucap seseorang dari belakang.


Jacob dan Alesha berhenti seketika.


"Lepaskan gadis itu!" Ucap orang yang sudah menodongkan pistol ke arah Alesha dan Jacob.


"Lepaskan dia! Cepat!"


Jacob tidak ada pilihan lain selain melepaskan Alesha.


"Jalan kemari cepat!" Bentak orang itu pada Alesha.


Alesha menatap pada Jacob. Jacob tidak memberi jawaban.


"Cepat! Atau kalian akan kutembak!"


Alesha menatap ke arah Jacob lalu menatap ke arah lelaki yang menodongkan pistol itu. Alesha tidak ada pilihan lagi. Ia perlahan berjalan mendekati lelaki itu dengan mata yang masih menatap ke arah Jacob.


Lelaki itu menarik paksa tangan Alesha. Alesha meringgis. Jacob menatap mata Alesha lalu menatap ke arah pistol yang dipegang lelaki itu beberapa kali. Alesha berpikir. Apa itu isyarat dari Jacob untuk merebut pistol itu? Apa Alesha bisa?


Jacob menatap mata Alesha lagi dan mengangguk kecil untuk meyakinkan Alesha.


"Baiklah." Gumam Alesha.


"Apa?" Tanya lelaki itu.


"Sakit. Bisa kau mengendorkan gengamanmu." Ucap Alesha.


Lelaki itu mendengus. "Tidak!"


"Kau menyakitiku tau! Kalau sampai aku mengatakan kau menyakiti aku pada tuanmu, tuanmu bisa memarahimu! Aku menjadi asisten tuanmu sekarang, lelaki di sana berusaha untuk menculikku." Bentak Alesha dengan penuh emosi sambil menunjuk pada Jacob. Jacob terkekeh. "Sini biar aku genggam tanganmu balik dengan erat biar kau merasakan sakitnya!" Alesha malah mencubit lelaki itu. "Kau menyakitiku, tuanmu akan membunuhmu!" Lanjut Alesha.


Jacob menggelengkan kepalanya pelan sambil terkekeh. Alesha memang punya banyak akal.


"Baiklah, baiklah!" Lelaki itu melepaskan tangan Alesha. "Ayo cepat jalan!" Bentak lelaki itu.


"TAU SABAR TIDAK! KAU SANGAT TIDAK SOPAN! TANGANKU SAKIT KARNA ULAHMU!" Bentak balik Alesha sambil melotot.


Jacob tidak mau membuang waktu. Entah itu rencana Alesha atau bukan, tapi Alesha berhasil mengalihkan perhatian lelaki itu. Jacob segera bergerak cepat mengambil sebuah pistol yang tergeletak milik penjaga yang tadi dia habisi.


"Hei." Panggil Jacob. Lelaki itu menoleh. Lalu dengan sekali tembakan, Jacob berhasil mengenai peluru yang melesat itu tepat dikepala lelaki itu. Jacob menyeringai. Seketika lelaki itu ambruk.


Alesha lemas seketika saat melihat Jacob menembak lelaki itu dengan peluru yang tepat mengenai kepalanya. Alesha tidak bisa bergerak saat melihat lelaki itu kejang-kejang dilantai.


Jacob segera menarik Alesha.


"Alesha, kau tidak apa-apa?" Tanya Jacob saat melihat wajah Alesha yang memucat. Alesha hanya menggeleng sambil terus menatap ke arah lelaki yang tadi Jacob tembak.


Jacob segera mengalihkan wajah Alesha untuk menatapnya. "Jangan lihat dia lagi kalau itu membuatmu takut."


Alesha hanya mengangguk. "Lalu bagaimana dengan Mr. Levin?" Tanya Alesha.


"Pihak militer akan datang ke sini sebentar lagi. Ayo kita pergi." Jawab Jacob.


Alesha menahan tangan Jacob. "Tunggu. Aku tidak bisa berenang."


Jacob mendengus.


***


"Cukup, Mack!" Bentak Levin. Tiba-tiba saja anak buah Mack masuk dan mengelilingi Levin.


"Kau harus diberi hukuman!" Ucap Mack.


"Tuan, semua sistem sudah beroperasi kembali." Ucap salah satu enak buat Mack.


"Bagus. Tutup gerbang yang ada di gua!" Perintah Mack.


"Tidak!" Bentak Levin. "Pihak militer setempat akan mengepung tempat ini, menyerahlah!" Ucap Levin. Salah satu anak buah Mack meninju perut Levin.


"Kalian akan mendapatkan akibatnya!" Ucap Levin dengan tertatih karna anak buah Mack meninjunya lagi.


"Biarkan dia di sini, cari dan dapatkan gadis itu!" Ucap Mack seraya meninggalkan Levin yang sudah lemas di lantai.


Mack dan anak buahnya segera pergi menuju gua untuk menyusul Alesha dan Jacob.


Disisi lain, Alesha sedang berusaha untuk berenang dengan bantuan Jacob.


"Aku akan tenggelam, aku tidak bisa berenang." Ucap Alesha berkali-kali.


"Berhenti mengatakan hal itu, aku memegangmu, kau tidak akan tenggelam." Ucap Jacob sambil berusaha berenang dan menahan tubuh Alesha agar tidak tenggelam.


"Tunggu." Ucap Alesha.


"Lihat!" Alesha menunjuk ke arah atap gua.


Jacob berdecak. Gerbang yang menggantung di atap gua itu bergerak turun.


"Berhenti!" Suara Mack menggema di gua itu.


"Jangan lagi." Gumam Jacob.


Gerbang gua itu sudah menutupi jalan untuk keluar. Sekarang Jacob dan Alesha sudah terjebak.


"Tangkap mereka!" Perintah Mack. Beberapa anak buah Mack segera menceburkan diri dan berenang ke arah Jacob dan Alesha.


"Mr. Jacob, bagaimana ini?" Tanya Alesha panik. Jacob tidak menjawab. Ia segera membawa Alesha berenang ke arah lain untuk menghindari anak buah Mack.


Kali ini Jacob dan Alesha dikepung oleh tiga orang. Jacob menatap waspada. Ia tidak mau sampai lengah.


Salah seorang diantara tiga orang itu maju dan mencoba untuk melawan Jacob di dalam air. Jacob segera menepis tangan orang itu. Namun, satu orang lainnya segera menyelam ke dalam air lalu menarik Alesha dari bawah. Jacob kehilangan keseimbangan. Alesha tenggelam dan orang yang menarik Alesha dari bawah itu segera mengangkat Alesha kepermukaan lagi. Alesha mengambil nafas sebanyak mungkin, ia kaget dan panik. Ia meronta untuk melepaskan tangan anak buah Mack yang merangkulnya.


Mack tersenyum jahat. Akhirnya ia bisa mendapatkan Alesha. Ia berniat menjadikan Alesha sebagai tawanannya dan sebagai alat untuk mempermudah bisnisnya.


"Mr. Jacob!!" Teriak Alesha.


Mack segera menarik Alesha ke daratan. Ia mencengkram bahu Alesha dengan kuat. Alesha meringgis. Ia membalas dengan menginjak kaki Mack dengan kuat. Mack meringgis kemudian menampar Alesha.


"MACK!!" Bentak Jacob. Jacob tidak terima saat melihat Mack yang menampar Alesha. Jacob segera menghabisi dua anak buah Mack yang berhadapan dengannya.


Mack mencengkram leher Alesha. "Jika kau lakukan itu lagi aku akan--"


Plakk.....


Alesha menampar balik Mack. Entah dari mana keberaniannya itu datang, tapi kali ini Alesha benar-benar emosi.


Plakk.....


Sekali lagi Alesha menampar Mack. Mack menggeram marah. Ia mengambil pisau berlatinya lalu menyayat kedua tangan Alesha dengan sayatan yang panjang.


"ALESHA!! MACK AKU AKAN MENGHAJARMU!!" Teriak Jacob yang masih sibuk bertarung dengan dua anak buah Mack di dalam air. Alesha terisak menahan sakit ditangannya.


Mack menghiraukan Jacob. Ia menarik kasar tangan Alesha. Alesha meronta. Ia mendorong Mack hingga membuat dirinya sendiri jatuh.


"Aawww.." Pekik Alesha saat dahinya membentur dinding gua yang tajam. Darah segar keluar dari dahi Alesha. Alesha menangis. Robekan didahinya cukup besar hingga darahnya mengucur deras.


Jacob yang melihat itu segera menghantam kedua kepala anak buah Mack ke dinding gua. Jacob menang. Ia berhasil mengalahkan dua anak buah Mack di dalam air. Sekarang Jacob berenang untuk menyusul Mack yang sudah membawa Alesha.


***


Pihak militer setempat sudah sampai di lokasi dan sedang menyelinap masuk ke dalam ruang bawah tanah milik Mack.


Tiba-tiba mereka mengangkat senjata masing-masing dan menodongkan ke arah seorang lelaki.


"Stop, ini aku Levin, aku dipihak kalian, percayalah." Ucap Levin sambil mengangkat kedua tangannya.


"Aku yang membawa Jacob dan anak buahnya ke sini, kalian lihat mereka? Aku yang menghabisi mereka." Lanjut Levin sambil menunjuk kearah penjaga yang sudah tergeletak. "Kita harus membantu Jacob, dia ada di bawah bersama Mack." Lanjut Levin.


Salah seorang dari militer itu mengangguk. Levin tersenyum bahagia, akhirnya bantuan datang juga. Levin segera menuntun para anggota militer itu menuju gua untuk menangkap Mack dan sisa anak buahnya.


Mereka bergerak secepat mungkin hingga mereka berpapasan dengan anak buah Mack di tengah jalan, mereka tidak melihat Mack dan Alesha. Kemana mereka?


"Di mana tuanmu dan Alesha?" Bentak Levin.


Para anak buah Mack itu malah tersenyum menantang. "Kalian tidak akan menemukan tuan Mack dan gadis itu."


Levin jengah, ia segera maju dan menghajar anak buah Mack itu. Beberapa anggota militer lain juga maju dan membantu Levin untuk menghabisi anak buah Mack.


"Levin!" Panggil Jacob sambil terengah-engah. Pipi dan bibir Jacob sedikit memar karna ia baru saja berhadapan dengan lima anak buah Mack yang lain saat di lorong, dan untungnya Jacob berhasil menangani itu dan menghabisi lima anak buah Mack sendirian.


"Di mana Mack dan Alesha?" Tanya Jacob. Levin menggeleng.


"Kita harus berpencar untuk mencarinya." Usul Levin. Jacob mengangguk. Sang ketua militer membagi anggotanya menjadi beberapa tim untuk berpencar mencari Alesha dan Mack.


***


Mack membawa Alesha menuju ruang garasi. Mack menyeret dan menarik paksa Alesha untuk masuk ke dalam mobil.


Mack segera menyusul masuk ke dalam mobil itu dan ingin menyalakan mesinnya.


"Sial!" Umpat Mack. Gerbang garasi itu masih tertutup. Mack tidak mempunyai banyak waktu. Ia sudah mendengar langkah kaki anggota militer di belakang.


Mack segera menarik paksa Alesha yang sudah lemas untuk keluar dari mobil. Alesha merasa kepalanya sudah pusing karna darah yang terus mengucur tanpa henti. Sepertinya Alesha mengalami pendarahan.


Mack membawa Alesha naik ke atas melalui tangga.


Mack berlari secepat mungkin sambil menarik Alesha yang sudah lemah.


"Mack, lepaskan Alesha!" Teriak Levin.


Mack membawa Alesha ke tebing. Wajah Alesha sudah sangat pucat, ditambah beberapa luka sayatan pisau ditangannya. Darah terus mengalir dari tangan dan dahi Alesha. Jacob sudah bingung harus bagaimana lagi, ia merasa lemah saat melihat kondisi Alesha yang seperti itu.


"Kalian mendekat, gadis ini akan mati tenggelam di laut itu." Ucap Mack.


"Kau gila, Mack, menyerah lah!" Ucap Levin.


Alesha sudah sangat lemas dan matanya sudah mulai terpejam. Darahnya terus mengalir. Ia mengalami pendarahan. Jacob yang melihat itu merasa seperti ditusuk seratus pisau sekaligus.


Seseorang dari sudut lain sudah siap untuk menembak Mack. Mack segera menyadari hal itu. Saat peluru melesat ke arah Mack, Mack segera memposisikan tubuh Alesha didepannya hingga peluru itu menembus perut Alesha. Alesha terlonjak. Air mata turun membasahi pipinya saat ia merasakan benda kecil itu masuk keperutnya. Alesha menatap ke arah Jacob sambil menahan rasa sakit. Mack sempat tersenyum karna pelurunya mengenai Alesha, namun ia tidak sadar ada peluru kedua yang melesat ke arahnya. Mata Mack membulat saat peluru itu menembus perutnya. Satu peluru lagi menyusul dan berhasil menembus perut Mack untuk yang kedua kalinya. Mack oleng. Alesha sudah tidak merasakan tubuhnya lagi dan seketika kegelapan menghampirinya.


"Alesha!!!" Teriak Jacob saat melihat Mack dan Alesha jatuh dari tebing yang tinggi itu secara bersamaan.


Jacob tidak berpikir panjang. Ia segera berlari dan terjun dari tebing itu menyusul Alesha yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam air.


Levin juga sama, ia terjun dari tebing menyusul Jacob.


Setelah masuk ke air. Jacob segera berenang menuju Alesha yang tenggelam dan tidak sadarkan diri. Jacob membawa Alesha ke permukaan air.


Jacob berenang secepat mungkin untuk membawa Alesha ke pinggir pantai. Alesha sempat batuk sesaat, dan menatap Jacob, namun tidak lama setelah itu ia langsung tidak sadarkan diri lagi.


Jacob membawa Alesha ke pinggir pantai dan menyandarkan Alesha pada pangkuannya. Darah terus mengalir. Jacob tidak bisa menghentikan pendarahan Alesha. Ia menepuk pipi dan memanggil nama Alesha beberapa kali. Hatinya benar-benar hancur melihat Alesha.


Levin terjatuh lemas saat melihat Alesha yang pingsan. Ia menjenggut rambutnya dan memukul pasir pantai.


"Al, bangun.." Gumam Jacob sambil menangis. Alesha membuat Jacob benar-benar menangis kali ini. Jacob tidak tau lagi harus berbuat apa. Ia hanya memeluk Alesha yang wajahnya sudah sangat pucat. Jacob terus memeluk Alesha. Ia tidak sadar akan apa yang terjadi dengan dirinya. Bahkan Jacob juga tidak mengerti kenapa hatinya benar-benar hancur.


"Tolong jangan terjadi lagi." Bisik Jacob ditelinga Alesha sambil menangis.


Air mata terus mengalir. Jacob tidak bisa menerima ini semua. Ia tidak akan rela jika sesuatu lebih buruk terjadi pada Alesha. "Bangun, Al." Rintih Jacob.


"Apa yang kau lakukan? Dasar bodoh, kita harus membawa Alesha ke rumah sakit sekarang!" Bentak Levin. Jacob menghiraukannya. Jacob terlalu lemah saat ini. Ia hanya ingin Alesha kembali.


Levin segera mendorong Jacob lalu mengambil dan menggendong Alesha.


Levin segera bangkit dan berlari secepat mungkin agar Alesha bisa mendapatkan penanganan lebih cepat. Darah Alesha sudah terbuang banyak. Jacob berlari di belakang Levin.


Setelah hampir seratus meter mereka berlari, ada ambulans datang menghampiri mereka. Levin segera menidurkan Alesha di kasur pasien yang sudah disiapkan oleh ambulans itu. Levin dan Jacob masuk ke dalam ambulans itu.


"Cepat jalan!" Ucap Levin. Seorang perawat memakaikan Alesha alat uap untuk membantu Alesha mendapatkan oksigen. Jacob menyentuh tangan Alesha yang sudah pucat dan dingin.


Sesampainya di rumah sakit, para perawat itu langsung membawa Alesha keruang tindakan.


"Maaf, kalian tidak bisa masuk ke dalam." Ucap seorang perawat lalu menutup pintu ruang tindakan itu.


Jacob tertunduk lemas. Levin menyentuh keningnya dan bersandar ditembok. Wajah Levin dan Jacob sama-sama panik dan ketakutan.


Jacob mengingat saat-saat manis bersama Alesha. Saat Jacob menjahili Alesha di kebun, saat Alesha menjahili balik Jacob, dan saat Alesha menyodorkan ice cream untuknya, dan yang lain-lain. Jacob menyentuh dadanya yang begitu sesak. Matanya sudah sembab karna air mata yang terus mengalir.


"Maaf, aku tidak bisa menjagamu dengan baik." Gumam Jacob dengan lirih.


"Kau gadis yang kuat dan pemberani, kau harus bangun dan kembali ke WOSA bersamaku." Jacob sudah putus asa.


Levin menonjok tembok rumah sakit itu. Levin juga merasa sangat sedih. Alesha sudah membantunya, dan ia sudah berjanji agar bisa menjaga Alesha dari Mack, namun kenyataannya sekarang adalah Alesha yang menjadi korban. Levin akan lakukan apapun asal itu bisa membantu Alesha untuk pulih kembali.


Seorang perawat membuka pintu dan menghampiri Jacob dan Levin.


"Kalian keluarganya?" Tanya perawat itu.


"Ya." Jawab Jacob singkat.


"Pasien kehilangan banyak darah, ia krisitis sekarang, ia membutuhkan tiga kantung darah golongan AB, dan golongan darah itu termasuk sulit dicari."


Jacob terkesiap. Alesha kritis?


"Pasien punya waktu setidaknya dua belas jam untuk bertahan." Ucap perawat itu lalu kembali masuk ke dalam ruangan dan menutup kembali pintunya.


"Kita harus cari sekarang!" Ucap Levin. "Aku akan pergi ke bank darah." Levin segera berlari meninggalkan Jacob yang masih termenung. Perasaan Jacob sudah tidak karuan.


Ponsel Jacob berdering. Laras menelpon Jacob. Jacob segera mengangkatnya namun membiarkan begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Laras.


"Hallo, Jack, apa yang terjadi? Alesha baik-baik saja kan?"


Jacob tidak menjawab.


"Jack, hallo..."


"Jack, kau tidak apa-apa kan?"


"Jack...."


"Alesha kritis." Jawab Jacob datar.


"Apa?" Laras terkejut.


"Alesha terkena tembakan dan juga pendarahan." Jacob tidak berekspresi sama sekali.


"Ya ampun, aku akan memberitahu Mr. Thomson." Laras mematikan sambungan telponnya.


Jacob menangkup wajahnya dan mulai menangis lagi. "Maaf, Al." Lirihnya.


Di dalam ruang tindakan, seorang dokter dan beberapa perawat sedang berusaha mengeluarkan peluru yang ada diperut Alesha dan mencoba menghentikan pendarahan. Detak jantung Alesha semakin melambat dan nafasnya semakin berkurang.


Alesha punya waktu dua belas jam untuk bertahan. Tubuhnya sudah sangat dingin dan pucat.


"Dok, detak jantungnya semakin melambat, dia tidak akan tahan lama lagi." Ucap seorang perawat. Dokter hanya mengangguk paham. Dokter itu juga sibuk dengan peluru yang sedikit lagi berhasil dikeluarkan.


Pendarahan berhasil dihentikan, namun tetap saja, Alesha butuh tambahan darah secepatnya agar bisa memulihkan tubuhnya yang saat ini sekarat, atau jika terlambat, dokter tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


"Dapat! Syukurlah." Ucap dokter itu saat berhasil mengeluarkan peluru kecil dari perut Alesha.


"Pasangkan semua alat yang bisa membantunya bertahan. Kita lakukan yang terbaik." Ucap dokter itu. Semua perawat yang ada di ruangan itu langsung memakaikan Alesha alat-alat yang bisa membantunya bertahan. Dokter kembali mengecek detak jantung dan denyut nadi Alesha.


"Waktunya tidak lama. Tubuhnya semakin sekarat." Ucap sang dokter.


"Semua sudah terpasang, Dok." Saut seorang perawat.


"Bagus, kita bisa tinggalkan dia sampai keluarganya datang membawa darah itu. Aku harap gadis ini bisa bertahan." Ucap dokter lalu pergi keluar diikuti para perawat yang menemaninya.


"Dok?" Jacob bangkit sambil bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruang penanganan.


"Tubuh pasien sangat lemah, detak jantung dan nafasnya semakin melambat. Pasein juga tidak boleh telat mendapatkan donor darah." Balas sang dokter.


Jacob mengangguk. Tatapannya sayu.  "Baik, Dok, terima kasih."


Dokter pamit lalu pergi meninggalkan Jacob sendirian. Setelah itu, Jacob segera membuka pintu ruangan lalu masuk ke dalam. Ia menghampiri Alesha. Jacob menyentuh pipi dan tangan Alesha yang sudah dingin dan membiru.


"Akan aku lakukan apapun agar kau bisa pulih." Ucap Jacob lirih. Jacob tertunduk. Air matanya turun lagi dan mengenai pipi Alesha. Jacob yang melihat itu segera mengelap air matanya. Jacob termenung sesaat, ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jika Alesha tidak selamat.


"Levin.." Gumamnya pelan. Jacob segera mengambil ponselnya dan menelpon Levin.


"Levin bagaimana?"


"Rumah sakit ini kehabisan stok darah, hanya sisa tiga kantung darah golongan A dan O, mereka juga bilang kalau golongan darah AB cukup sulit untuk didapatkan."


Jacob berpikir sesaat.


"Kau kembali saja, aku akan coba hubungi pihak SIO dan WOSA, siapa tau salah satu dari mereka ada yang golongan darahnya AB."


Jacob mematikan sambungan telponnya dengan Levin lalu mencoba kembali untuk menghubungi pihak WOSA dan SIO.


Jacob mengelus rambut Alesha. "Bertahanlah, aku akan usaha sebisaku."


Jacob segera beralih menuju sudut lain ruangan itu.


"*Hallo, Mr. Frank aku butuh bantuanmu. Tolong carikan orang yang memiliki golongan darah AB. Alesha, murid WOSA yang ikut dalam misi menjebak Mack, ia membutuhkan tiga kantung darah golongan AB, dokter bilang ia punya waktu hingga dua belas jam, dan tidak bisa lebih."


"Apa? Baiklah, akan kucarikan secepat mungkin, aku akan menghubungimu saat aku mendapatkannya."


"Baiklah, terima kasih, Mr. Frank*."


Jacob segera mematikan sambungan telponnya. Ia memandang ke arah Alesha. Lagi-lagi rasa bersalah merasuki Jacob. Seharusnya dia menolak dari awal permintaan Alesha untuk membantu Levin. Namun mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Alesha sudah terlanjur berada di rumah sakit ini dengan kondisi kritis.


Jacob duduk dikursi. Ia menjambak pelan rambutnya. Marah, sedih, panik, takut, frustasi, bingung. Jacob menggelengkan kepalanya pelan.


Tiba-tiba Levin membuka pintu dan masuk.


"Bagaimana?" Tanya Levin.


"Aku sudah menghubungi SIO dan meminta untuk dicarikan orang yang bergolongan darahnya sama dengan Alesha." Jawab Jacob datar.


Levin segera mendekati Alesha. Jacob memandang sinis ke arah Levin.


"Maaf, Al, ini salahku." Ucap Levin dengan penuh penyesalan.


Jacob memalingkan pandangannya.


Air mata Levin jatuh. Levin merasa sangat bersalah dan tidak enak pada Alesha. Levin sudah berjanji untuk memastikan kalau Alesha akan aman, namun Mack benar-benar licik. Levin mengelus pelan tangan Alesha yang semakin pucat.


"Kau harus bangun, kau gadis yang kuat, Al." Gumam Levin.


Jacob menunduk sambil menutup kupingnya. Jacob sangat marah pada Levin. Jika memungkinkan, Jacob mungkin sudah menghajar Levin, tapi itu tidak ada gunanya sekarang. Mungkin dilain waktu jika ada kesempatan Jacob akan melakukannya.


Selama beberapa menit keheningan hadir dalam ruangan itu. Levin juga masih setia duduk dikursi samping ranjang pasien.