
Pukul 06.00 WIB
Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali setelah kembali dari alam mimpinya.
"Alshiba...." Gumam Alesha dengan kelopak mata yang masih belum terbuka sepenuhnya.
"Alshiba...." Alesha mencoba untuk memfokuskan pandangan yang ada dihadapannya.
Kosong.
Seharusnya Alshiba tertidur disebelah Alesha, tapi tempat yang semestinya ditiduri oleh Alshiba malah kosong.
Kemana bayi itu?
Alesha terlonjak, dan langsung bangkit dari tidurnya. Matanya terbelalak, jantungnya mulai berdebar. Panik! Alesha panik, takut, kemana anaknya itu? Bagaimana jika Alshiba hilang?
Jacob. Pria itu jugakan seharus tertidur disebelah Alshiba, tapi dimana dia sekarang?
"Alshiba.... Jack..."
Alesha segera turun dari tempat tidurnya, dan berjalan mengelilingi kamar.
Tapi tunggu.
Telinga Alesha seperti menangkap sesuatu.
Sholawat? Ya. Alesha mendengar seperti ada seorang yang sedang bersholawat, namun pelan.
Alesha pun berjalan ke asal suara tersebut, tepatnya di balkon kamar.
"Jack?" Panggil Alesha.
"Pagi, sayang, kau sudah bangun ya?" Sapa Jacob dengan wajah yang begitu cerah, dan masih mengenakan sarung yang tadi ia gunakan selepas menunaikan sholat subuh.
"Astagfirullah..." Alesha mengelus dadanya. "Aku panik tahu! Aku takut Alshiba hilang!" Alesha mengerucutkan bibirnya.
"Tidak, dia sudah bangun sejak tadi. Jadi, aku bawa saja dia ke sini karna aku tidak mau mengganggu kau yang sedang tertidur. Kau pasti kelelahan," Balas Jacob.
"Lihatlah, matanya indah, sepertimu, Lil Ale," Sambung Jacob.
Alesha sedikit tersipu ketika mendengar pujian dari suaminya. Ia pun beralih dengan mendekati buah hatinya.
"Hallo, sayang, ini Bunda," Alesha tersenyum kala mengajak anaknya berbicara. Sungguh manis, Alesha bersyukur karna memiliki bayi yang tidak rewel, kecuali ketika lapar.
"Hmm, Jack, menurutmu dia mirip siapa? Kau atau aku?" Tanya Alesha pada suaminya.
"Mirip kita berdua," Jawab Jacob dengan santai.
Alesha mendongkak menatap suaminya.
"Kau benar," Ucap Alesha seraya menunjukkan eye smile -nya.
"Ya ampun, Alesha," Jacob memalingkan wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Alesha dengan polos.
"Kau tahu, sayang, aku harap Alshiba bisa memiliki eye smile yang indah sepertimu."
"Ck, dasar, bisa saja kau ini."
"Sungguh, aku sangat menyukai eye smile itu, apalagi saat kau menunjukannya seperti tadi."
"Kalau begitu lihat ini," Alesha kembali menggoda suaminya dengan menunjukan eye smile khasnya itu.
Seketika, Jacob dibuat luluh dengan tingkah istrinya. Sangat gemas, jika saja ia tidak sedang menggendong Alshiba, mungkin wajah istrinya itu akan dihabisi oleh ciuman-ciumannya.
Di kala situasi hangat sedang kembali terjalin diantara Jacob, dan Alesha, tiba-tiba saja putri kecil mereka menangis. Mungkin bayi itu kelaparan, makanya ia menangis.
"Ulululu, sayang Bunda, kenapa nangis?" Alesha mengusap pipi bayinya.
"Mungkin dia lapar, susui dulu saja, aku tidak tega mendengar tangisnya," Ucap Jacob seraya menyerahkan tubuh mungil Alshiba pada istrinya.
"Jack, tolong rebuskan air, aku akan langsung memandikkannya setelah ini," Pinta Alesha sembari mengambil alih tubuh anaknya.
"Ok, sayang," Jacob mencium kening istrinya sebelum ia pergi keluar menuju dapur untuk merebus air.
Sedangkan Alesha, kini ia terduduk pada bangku yang berada di sudut balkon.
"Cup cup cup, sayang, laper ya, hmmm... Kasian anak bunda," Ucap Alesha sembari mencium pipi bayinya sekalian memberikan ASI agar Alshiba tidak menangis kembali.
Tenang rasanya untuk Alesha ketika melihat wajah bayinya. Alesha merasa jauh lebih hidup, kehadiran Alshiba adalah anugrah terindah untuknya.
Dengan penuh kasih sayang, Alesha mengelusi tubuh bayinya sembari terus melantunkan sholawat juga bacaan ayat Al-Quran. Alesha sungguh berharap semoga anaknya kelak bisa menjadi seorang pernghapal Al-Quran juga mengerti, dan menjalani kehidupan sesuai kitab suci itu. Alesha ingin anaknya memiliki wawasan yang luas mengenai pandangan dunia, dan akhirat. Semoga saja Alesha masih diberi kesempatan agar bisa mendidik anak perempuannya itu pada cahaya Ilahi, namun juga tidak tabu akan ilmu pengetahuan dunia.
"Apa, sayang?" Alesha tersenyum hangat pada Alshiba yang terus menatap ke arahnya.
"Kamu jangan tidur dulu ya, mandi dulu, baru abis itu bobo lagi, oke cinta."
Alesha menundukkan tubuhnya untuk mencium pipi bayinya lagi.
"Bunda sayang banget sama kamu."
Alshiba hanya sedikit menggerakkan kepalanya untuk merespon ciuman yang bundanya berikan.
"Sayang bunda...."
Senyuman terukir begitu tulus, Alesha sangat amat bersyukur karna anaknya yang perempuan bisa tetap bertahan, dan Alesha akan lakukan apapun demi anaknya itu bisa terus memiliki kesempatan hidup yang lebih besar lagi.
"Sayang, kita akan pulang hari ini kan?" Tanya Jacob yang telah kembali dari dapur.
"Iya, nanti setelah Alshiba mandi, dan yang lain beres," Jawab Alesha.
"Kalau begitu aku akan menghubungi Taylor untuk menjemput kita. Aku juga akan bilang pada ibu nanti," Ucap Jacob.
"Dede Shiba sekarang udah gak didalem perut bunda lagi ya..... Udah gak bisa tendang-tendang perut bunda lagi, udah bebas, sekarang dede Shiba udah bisa liat muka bunda sama ayah langsung..." Alesha terlihat antusias, dan begitu bahagia. Jacob yang melihat tingkah istrinya itu pun turut tersenyum, ia bersyukur hubungannya dengan Alesha dapat berjalan baik kembali, hingga kini, mereka berdua bisa bermain bersama anak mereka, dan mengukir banyak momen indah bersama-sama.
"Aku sudah menyiapkan air untuk Alshiba mandi, nanti tinggal ditambah air hangatnya saja, Lil Ale."
"Ck!" Tiba-tiba saja Alesha berdecak. "Jack, bisa tidak kau tidak usah memanggilku dengan sebutan itu lagi," Alesha mengerutkan bibirnya.
"Kenapa memangnya?" Kekeh Jacob.
"Aku sudah menikah, dan aku sudah memiliki anak, rasanya tidak pantas saja."
"Ya ampun, Alesha," Kini Jacob berjalan lalu terduduk disebelah istrinya. "Kau tahu sayang, jujur saja jika dari postur tubuh, aura, dan wajah, aku merasa tidak ada yang berubah darimu sejak awal pertama kita bertemu. Kau masih sama, sayang," Ucap Jacob sembari mengelusi rambut istrinya.
"Sungguh?" Mata Alesha berbinar. "Berarti wajahku masih sama seperti gadis usia belasan tahun," Alesha terkekeh.
"Kau benar," Sambung Jacob sembari mencium kedua pipi Alesha.
"Itu sekitar tiga tahun yang lalu, Jack, saat ini usiaku... " Alesha terdiam sejenak. "Ya ampun! Aku lupa! Aku sudah dua puluh satu tahun sekarang, ulang tahunku sudah terlewat satu bulan! Dan aku sudah satu tahun lulus dari WOSA!"
"Cepat sekali bukan?" Ucap Jacob dengan jemarinya yang telaten merapikan poni tipis sang istri.
"Hmm, tidak terasa ya. Satu tahun berlalu setelah aku lulus dari WOSA, dan dua tahun lalu kau menyatakan perasaanmu padaku," Alesha tersenyum pada suaminya.
"Aku takut kau menolakku waktu itu," Jacob menangkup wajah istrinya.
"Awalnya iya, karna aku masih belum yakin untuk bisa melupakan Adam, dan lagi pula saat itu aku merasa jika kau mencintaiku karna aku mengingatkanmu pada Yuna," Alesha mulai murung. Ia jadi sedih ketika ia ingat bagaimana suaminya dulu selalu menyamakannya dengan sosok Yuna.
"Alesha..." Jacob mengelus lembut wajah Alesha. "Jangan ungkit masa laluku lagi, aku tidak mau mengingatnya, aku sudah mengikhlaskan Yuna, dan perasaanku padanya untuk pergi. Aku ingin menata hidup baru bersamamu, apalagi sekarang sudah ada Alshiba, aku tidak mau melukai hatimu, sudah tidak ada lagi perasaanku untuk wanita lain, aku hanya ingin memiliki hidup yang jauh lebih berarti lagi bersamamu, sayang."
"Berjanjilah kalau kau tidak akan pernah meninggalkan aku, dan Alshiba, Jack."
"Aku berjanji, Lil Ale."
Alesha menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Jacob, dan disaat itu pula Jacob langsung mencium kening istrinya.
"Aku mencintaimu, Alesha."
Sejenak, keheningan mengambil alih suasana. Alesha, dan Jacob terdiam, dan sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Namun, ketika si kecil Alshiba menyudahi makannya, Alesha sedikit terhenyak, dan akhirnya keheningan pun terpecahkan.
"Udah kenyang, sayang?"
Alshiba terdiam, menatap lurus pada bundanya.
"Ok, sekarang gantian ayah, sayang," Jacob tiba-tiba saja menundukkan wajahnya, dan mulai menyosor.
"HEYY!" Bentak Alesha, refleks ia pun bangkit untuk menghindari kelakuan nakal suaminya. Buru-buru ia juga memasang kembali kancing bajunya agar menghindari singa lapar yang tampan itu.
"Hehehe, aku juga lapar, sayang," Jacob tersenyum kikuk.
"Makan sana kalau kau lapar!" Ketus Alesha.
"Lalu kenapa kau menghindar?"
"Jack!" Alesha melotot pada suaminya. "Sudah ayo, sayang, lebih baik bunda mandiin kamu aja dari pada hadepin singa lapar," Lanjut Alesha seraya berjalan meninggalkan Jacob.
"Jack, tolong tuangkan air hangatnya ya!!" Teriak Alesha dari dalam kamar.
Jacob segera menuruti perintah istrinya itu dengan pergi menuju dapur untuk mengambil air hangat, dan menuangkannya ke dalam bak mandi bayi yang sudah berisi air dingin.
Sedangkan Alesha, kini ia tengah membukakan satu persatu baju yang melekat ditubuh mungil bayinya.
"Dede Shiba mau mandi, bunda, biar wangi, biar cantik kaya bunda," Gumam Alesha sendiri. Ya itung-itung mengajak bicara anaknya.
"Uuuhhh, cantik, sayangnya bunda, udah kenyang, trus mandi, nanti bobo lagi ya," Alesha mencium kedua sisi pipi putrinya.
"Sayang, sudah, kau bisa memandikkan Alshiba sekarang," Ucap Jacob sembari menghampiri istrinya.
"Terima kasih, Big Guy," Balas Alesha.
"Sama-sama, Lil Ale."
Kini, Alesha pun memasuki kamar mandi, dan mulai berlutut dengan Alshiba yang masih berada dipangkuannya.
Perlahan, Alesha mulai mengelapi wajah putrinya dengan sangat hati-hati menggunakan air hangat yang ada di dalam bak mandi itu. Lalu setelahnya, Alesha pun mengelap bersih tubuh Alshiba, tidak lupa pula sabun cair yang Alesha usapkan pada tubuh bayi cantiknya itu.
"Kau sudah pandai mengurus bayi, sayang," Komen Jacob yang sejak tadi menemani istrinya untuk memandikkan anak mereka.
"Tentu saja, aku harus pandai karna aku ingin menjadi ibu yang baik," Balas Alesha yang masih fokus membersihkan tubuh anaknya.
"Boleh aku membantumu?" Pinta Jacob.
"Tidak! Tanganmu kotor," Balas Alesha, dingin.
"Aku akan mencucinya," Bujuk Jacob.
"Tidak boleh! Kau tidak tahu caranya!" Tolak Alesha.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan pakaian Alshiba saja."
Alesha tidak membalas. Ia membiarkan suaminya itu pergi.
"Sayang, Dede Shiba..." Alesha tersenyum. Alshiba terus saja menatap ke arahnya dengan sesekali berkedip.
"Udah yu ah, nanti Dede Shiba kedinginan kalau lama-lama mandinya," Ucap Alesha sembari menutupi tubuh bayinya dengan handuk yang tadi ia sangkutkan pada pundaknya.
"Tayangnya bunda udah mandi, abis itu dandan biar cantik ya," Ucap Alesha sembari mencium gemas putri kecilnya.
"Jangan kaya ayah ya, belum mandi, iiiii, gak kaya Dede Shiba ya, udah wangi, hmm.."
Jacob tertawa kecil ketika mendengar celotehan istrinya.
Akhirnya, Alesha. Kita mempunyai anak, tidak sia-sia selama dua tahun aku mengejarmu, kau adalah istri idamanku, sayang..... Gumam Jacob dalam hatinya.