
Sesampainya di rumah kosan, Alesha meminta Taylor untuk tetap didalam mobil.
"Tunggu di sini sebentar." Ucap Alesha.
"Baik, nona."
Barulah Alesha membuka pintu mobil dan berlari kecil menuju sebuah gang yang langsung membawanya menuju rumah kosannya.
"Nina!!"
Teriakkan Alesha barusan membuat sang pemilik nama cukup terkejut hingga membuat ponsel yang sedang dimainkannya nyaris saja terjatuh.
"Alesha! Kamu dari mana aja sih?" Balas Nina dengan nada yang terdengar sedikit jengkel.
"Semalem aku abis nginep di apartemen temen aku. Ini kuncinya, aku gak bisa lama-lama lagi, bye bye..."
Singkat, padat, jelas. Alesha begitu terburu-buru hingga setelah kunci rumah kosan yang digenggam olehnya beralih tangan pada kawan perempuannya itu, ia pun kembali berlari begitu saja.
"Alesha, kamu mau kemana lagi, buru-buru amat sih!" Teriak Nina yang masih tetap berdiri di tempat.
"Aku lagi ada perlu, Nin!" Balas Alesha.
"Ish, gak jelas banget sih tuh anak teh. Tau ah! Mending Nina mandi, trus prepare baru OTW lagi ke kampus." Dumal Nina.
Sedangkan Alesha, kini gadis itu sudah kembali masuk kedalam mobil, dan duduk tepat disebelah Taylor.
"Ayo, Mr. Jacob pasti sudah menunggu, ini sudah jam sembilan kurang sepuluh." Ucap Alesha.
Taylor hanya mengangguk ramah, baru setelah itu ia pun segera memacu gas agar mobil yang ia kemudikan dapat berjalan.
Perjalanan dari rumah kosan Alesha menuju kantor cabang perusahaan milik ibunda Jacob, Laura memakan waktu kurang lebih lima belas menit. Lalu sesampainya di kantor yang memiliki ketinggian lima lantai, tiba-tiba saja seorang satpam memberhentikan mobil yang Alesha dan Taylor tumpangi tepat di depan gerbang kantor.
"Maaf, tuan Taylor, tuan Jacob bilang kalau anda harus pergi ke stadion GBLA untuk memantau persiapan promosi perusahaan di sana." Ucap sang satpam saat kaca jendela mobil diturunkan.
"Sekarang?" Tanya baik Taylor.
"Iya, tuan."
Taylor melirik pada Alesha. "Nona, saya harus pergi, apa nona bisa menemui tuan Jacob sendirian?"
"Dimana ruangannya?" Tanya Alesha.
"Lantai satu, nona bisa minta tolong pada bagian receptionist untuk diantarkan ke ruangan tuan Jacob." Jawab Taylor.
"Oke, terima kasih, aku ke sana sekarang." Karna terlalu terburu-buru dan takut jika Jacob menunggunya lebih lama lagi, Alesha pun cepat-cepat membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.
Gadis itu berlari kecil menuju bagian dalam kantor dan mengarah pada bagian receptionist.
"Permisi, mbak." Sapa Alesha.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Bisa antar saya ke ruangan tuan Jacob?" Pinta Alesha.
"Ehm, maaf sebelumnya, tapi kalau boleh saya tahu anda siapanya tuan Jacob ya?" Tanya ramah wanita yang menjaga bagian receptionist itu.
"Saya..." Alesha terdiam, ia bingung dan harus berpikir untuk mendapatkan alasan. "Saya Alesha, temannya tuan Jacob."
"Apa anda sudah memiliki janji terlebih dahulu dengan tuan Jacob?"
Alesha bergeming kembali.
"Untuk saat ini tuan Jacob sedang tidak bisa diganggu karna ada beberapa urusan yang mesti diselesaikan."
"Tapi dia bilang kalau jam sembilan dia akan menungguku di kantornya." Balas Alesha dengan raut wajah yang mulai memelas.
"Alesha..." Gumam Jacob yang berdiri tidak jauh dari bagian receptionist. Ia yang mendapati gadisnya sedang berada di sana pun segera berjalan mendekat.
"Hai, Sweety."
Wanita yang sedang melayani Alesha pun terkejut bukan main saat mendengar panggilan manis yang bossnya berikan pada Alesha.
"Ayo, kita pergi sekarang." Lanjut Jacob sembari meraih pergelangan lengan Alesha.
"Tidak! Kau sedang sibuk, Mr. Jacob?" Tolak Alesha.
"Ya, memang, tapi urusanku sudah selesai, sekarang saatnya aku menyibukkan diri dengan gadis manis kesayanganku ini." Balas Jacob dengan gemas.
Para pergawai kantor yang melihat kejadian itu hanya bisa bergeming tanpa bisa berkomentar apapun. Sulit untuk mencerna apa yang mereka lihat saat ini, anak dari sang pemilik perusahaan memanggil seorang gadis dengan sebutan 'Sweety ', apa maksudnya?
"Aku tidak mau menggagu waktu kerjamu, Mr. Jacob." Bisik Alesha. Ia mulai merasa tidak enak karna menjadi objek pusat dari tatapan para pegawai kantor.
"Tidak, sayang. Ayo, kau tidak mau menjadi pusat perhatiankan?" Lalu Jacob menarik lengan Alesha dan membawa gadis itu menuju area parkir mobil.
"Mr. Jacob, Alesha tidak mau mengganggu kesibukan Mr. Jacob saat bekerja."
"Tidak, Alesha. Aku memang sedang tidak sibuk sekarang ini."
"Jangan bohong, kau menyuruh tuan Taylor untuk mengawasi persiapan promosi perusahaanmu di GBLA, padahal seharusnya kau yang melakukan itu."
"Ya, memang. Hanya saja aku lelah karna terus-terusan bekerja, aku datang ke sini untuk menghabiskan waktu dengan calon istriku. Mengerti?"
"Yakin tidak mengganggu pekerjaanmu, Mr. Jacob?"
"Tidak, Alesha sayang."
"Baiklah..."
Kedua sejoli itu akhirnya memasuki mobil yang akan membawa mereka menuju tempat dimana mereka akan menikmati waktu senggang bersama.
Sepanjang jalan Alesha tidak berhenti mengoceh, menceritakan pengalamannya selama tiga bulan ini selepas ia lulus dari WOSA. Mulai dari bingung tinggal dimana, lalu Nina mengajaknya untuk tinggal disebuah kosan, dan mereka bekerja menjadi penyanyi pop dibeberapa cafe, lalu Alesha yang ikut serta dalam kelompok teater pemuda Bandung, dan masih banyak lagi.
Jacob tersenyum geli ketika menyimak dongeng gadisnya itu. Jacob ingin menjadi seseorang yang dapat menjadi tempat bertampungnya segala cerita, keluh, dan kesah dari gadisnya. Ia akan berusaha untuk menjadi pendengar yang baik. Mungkin tidak ada di dunia ini seseorang yang sempurna, termasuk Jacob, tapi apa salahnya jika ia berusaha untuk menjadi yang terbaik demi gadis kesayangannya.
Selama kurang lebih satu jam berlalu, mobil yang Jacob kendarai pun mulai memasuki gerbang wisata alam gunung Tangkuban Perahu. Alesha begitu antusias. Untuk menuju ke pusat lokasi wisata masih dibutuhkan waktu sekitar lima belas menit lagi. Posisi mobil yang Jacob dan Alesha tumpangi sekarang sedang bergerak menanjak lurus melewati hutan-hutan dan tebing dangkal juga jalan yang sudah diberi aspal agar dapat memberikan akses mudah untuk para wisatawan yang ingin berlibur di tempat itu.
Sesampainya di lokasi wisata, Jacob langsung membawa mobilnya ke tempat parkir.
"Ayo, kita sudah sampai." Ucap Jacob.
"Yee!!" Seru Alesha yang sudah tidak sabar untuk segera keluar dari dalam mobil.
"Alhamdulillah, sampe juga ke sini." Gumam Alesha.
"Mau langsung ke kawahnya? Apa mau main di taman dahulu, Alesha?" Tawar Jacob.
"Kita ke tamannya dulu saja, Mr. Jacob."
"Oke, kalau begitu ayo! Kita habiskan waktu berdua di sini, sayangku." Jacob meraih jemari Alesha dan membawa gadisnya itu untuk berjalan beriringan.
Sepanjang jalan yang mereka lewati, beberapa pasang mata dan para pengunjung melirik-lirik dengan tatapan yang sulit diartikan. Alesha dan Jacob sempat beberapa kali menjadi pusat perhatian, namun mereka acuh karna tujuan mereka datang ke tempat wisata alam itu bukanlah untuk mencari perhatian, melainkan kebahagiaan diwaktu senggang.
"Mr. Jacob, fotokan aku di sini!" Alesha berlari kecil mendekati deretan bunga yang begitu indah dengan warna yang berbeda-beda.
Jacob pun mengangkat smartphone -nya agar dapat menangkap dan menyimpan gambar visual cantik yang sedang bergaya manis didekat tangkai-tangkai bunga.
Cekrek...
"Lagi, Mr. Jacob!"
Cekrek....
Beberapa foto sudah berhasil Jacob abadikan. Lumayan, cadangan wajah Alesha pada ponselnya kini semakin bertambah. Keasyikan dua sejoli itu terus berlanjut hingga tidak menyadari kalau mereka sudah menghabiskan waktu selama dua jam untuk bersenang-senang di taman itu.
"Ayo kita ke atas, aku ingin melihat kawahya!"
Alesha menarik lengan Jacob untuk segera mendekati sebuah mobil mini bus yang sudah didesain untuk mengangkut para pengunjung menuju lokasi puncak kawah Tangkuban Perahu.
Perjalanan kembali diambil agar Alesha dan Jacob bisa mencapai titik utama dari tempat wisata alam itu. Tidak lama, hanya sekitar lima sampai delapan menitan, mereka pun sampai pada kawah megah bekas letusan berapi yang terjadi dimasa lampau.
"Waaaahhhh..... Masyaallah..." Gumam Alesha atas rasa syukurnya karna bisa melihat panorama indah ciptaan sang maha kuasa.
"Mr. Jacob, ayo kita ke atas! Lihat, orang-orang juga menanjaki tangga itu! Ayo!" Alesha begitu bersemangat saat ini. Hatinya sangat bahagia dan terasa bebas ketika melihat alam lepas seperti itu.
Lalu mereka berdua pun berjalan menanjak menyusuri anak tangga yang membawa mereka semakin berada di atas ketinggian.
"Mr. Jacob, lihat! Kabutnya semakin turun." Seru Alesha begitu gembira. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama untuk Alesha bisa mengunjungi lokasi wisata yang terkenal di Jawa Barat itu. Sejak kecil Alesha ingin sekali berwisata ke tempat ini, namun dengan perekonomian dan keadaan yang sangat tidak memungkinkan, kadang Alesha pergi ke warnet hanya untuk bisa memandangi keindahan alam gunung Tangkuban Perahu.
Jacob hanya mengangguk-anggukan kepalanya sembari tersenyum. Ia tidak ingin banyak berkomentar. Melihat Alesha yang saat ini begitu bersemangat dan bahagia sungguh membuat hati Jacob merasa tenang dan tenteram.
"Mr. Jacob, ayo kita ke atas lagi!" Tidak mengenal lelah dan tidak memperdulikan ketinggian yang sudah dilewati, Alesha tetap bersemangat untuk mencapai puncak akhir dari tumpukan anak tangga itu. Meski ada beberapa bebatuan licin dan besar, Alesha tidak memperdulikan hal itu, ia hanya ingin mendapatkan kepuasan dengan melihat kawah gunung yang selama ini begitu membuatnya penasaran.
"Ayo, Mr. Jacob, semangat! Lihatlah, yang lain juga sudah sampai di puncak!"
Jacob yang ngos-ngosan karna lelah menanjaki anak tangga yang begitu banyak pun pasrah seketika.
"Hahaha, kau kelelahan ya? Ayo, semangat! Sini biar Alesha bantu." Alesha pun meraih lengan Jacob dan membawa pria itu menanjak secara perlahan.
"Kau tidak lelah, Alesha?" Tanya Jacob.
"Tidak, aku malah bersemangat sekali." Jawab Alesha dengan senyuman yang begitu cerah.
Syukurlah, aku sangat senang mendengar itu...... Ucap Jacob dalam hatinya.
"Ayo, Mr. Jacob, masa kalah sama Alesha. Ayo semangat! Sedikit lagi!"
Alesha menarik paksa lengan Jacob agar mereka bisa sampai lebih cepat di puncak kawah.
"Brrrrr... Dingin..." Refleks, Alesha langsung memeluk bahunya sendiri kala angin dingin yang berasal dari kabut tebal berhembus menghantam dirinya.
Jacob yang sadar akan hal itu pun langsung melepaskan jaketnya. "Pakai jaketku."
"Tidak, kau bisa kedinginan nanti." Tolak Alesha.
"Aku bisa menahannya, aku tidak mau kau sakit, Al." Jacob memaksankan kedua lengan Alesha untuk memasuki dua sisi bagian pada jaketnya.
"Mr. Jacob, kabutnya tebal, suhunya sangat dingin, kalau begini caranya bukan aku yang sakit, tapi kau."
"Alesha, aku sudah biasa jika harus menahan suhu dingin seperti ini. Kau menurutlah padaku jika masih mau bermain di sini!"
"Baiklah." Lirih Alesha yang pasrah karna ancaman Jacob barusan.
"Kita turun sekarang, aku rasa tidak lama lagi akan turun hujan. Ayo, kita berteduh di bawah." Jacob pun menarik balik lengan Alesha untuk membawa gadisnya itu kembali ke tempat dimana para wisatawan berkumpul sembari melihat-lihat dan membeli aksesoris yang dijajakan pada warung-warung yang berjejeran.
"Tapi aku masih ingin melihat kawahnya." Lirih Alesha.
"Kita masih bisa melihatnya di bawah, sayangku." Balas Jacob penuh kelembutan.
Jacob begitu berhati-hati saat menuntun gadisnya untuk menuruni anak tangga, ia tidak mau Alesha terluka apalagi sampai terjatuh.
"Di sini dulu, Mr. Jacob, Alesha masih ingin melihat kawahnya!" Ucap Alesha ketika ia dan Jacob sudah sampai pada lokasi yang paling bawah dan datar. Beberapa wisatawan yang ada disitu juga ikut meramaikan pinggiran kawah yang dibatasi oleh semen keras yang dibentuk dan diwarnai seperti halnya pagar.
"Aku penasaran suhu dibawah sana berapa?" Alesha menunjuk ke arah tengah kawah. Ia terlihat takjub dan antusias, sorot matanya terus menunjukan kebahagiaan dan kepuasan.
Sesederhana inikah membuatmu bahagia, Alesha? Aku senang sekali bisa memiliki waktu yang berharga seperti saat ini bersamamu. Aku mencintaimu, Alesha. Sungguh keberuntungan besar karna aku bisa bertemu denganmu.......
Jacob tersenyum kala hatinya berucap. Memang benar, Alesha adalah harta berharga untuk Jacob. Gadis yang sudah mengubah dan membawanya pada dunia yang lebih baik lagi tidak akan pernah Jacob lepas begitu saja.
Memandangi wajah Alesha yang sedang tersenyum dari pinggir kian menentramkan hati Jacob, dirinya juga semakin merasa rileks ketika merasakan aura manis Alesha.
"Mr. Jacob, lihatlah kabutnya semakin tebal, mulutku sampai mengeluarkan asap saat bicara."
Jacob membelai puncak kepala Alesha. "Kau lucu, Al."
"Lucu?" Alesha memiringkan kepalanya beberapa derajat.
"Iya. Manis sekali, aku jadi semakin mencintaimu dan ingin segera menikahimu."
"Aish, Mr. Jacob ini." Alesha tersipu malu, dan kini kedua pipinya mulai merona merah.
"Kenapa? Kau ingin segera aku nikahi?" Goda Jacob.
"Aku lapar, ayo kita cari makanan." Enggan membalas pertanyaan Jacob barusan, Alesha pun mengalihkannya dengan dalih ia merasa lapar.
Dengan berlari kecil, Alesha mendekati sebuah warung yang menjual mie instan rebus. "Mr. Jacob, kau mau mie rebus?"
"Tidak, kau saja, Al."
"Oke. Bu, bade meser mie rebus hiji mangkok sareng teh manis hanet weh sagelas. (Bu, mau pesen mie rebus satu mangkuk sama teh manis hangatnya satu gelas.)"
"Sanguan ulah, neng? (Tambahin nasi jangan, neng?)"
"Ulah, bu, atos weh mie rebus hungkul. (Jangan, bu, udah nasi rebusnya aja.)"
"Owh, enya' atuh, sok tungguan heula nya' sakedap. (Owh, yaudah ia, tungguin dulu ya sebentar.)"
Jacob melongo mendengar percakapan yang sama sekali tidak ia pahami. "Kau berbicara apa? Aku tidak mengerti."
"Tentu saja, barusan aku berbicara bahasa sunda. Kau tahukan kalau di Indonesia ada banyak suku dan bahasa, salah satunya adalah suku sunda dan bahasa sunda." Jelas Alesha.
"Ya, dan kau berasal dari suku sunda. " Ucap Jacob.
"Yaps, benar sekali." Alesha berjalan kesebuah bangku lalu terduduk di sana. "Ibuku orang Bandung asli, ayahku orang Bogor, dan kakek dari ayahku campuran China-Melayu. Sekarang dia berada di panti jompo." Alesha menghembuskan napasnya. Tampak segurat raut sedih pada wajah manisnya yang mulai pucat karna udara dingin disekitar. "Aku merindukan kakekku, Mr. Jacob." Alesha menunduk sedih. Ia merindukan kakekknya yang sudah berusia diatas tujuh puluh tahun.
"Biasanya jika cuaca seperti ini, kakekku akan membuatkanku mie instan dengan telur dadar campur nasi." Refleks, Alesha mengetuk-ngetuk pelan meja yang ada dihadapannya dengan jari telunjuk. "Dan setelah makan, lalu sholat maghrib, aku akan langsung memberinya obat, baru setelah itu aku pergi ke majelis untuk mengaji."
Jacob diam, ia sedang menyimak semua yang gadisnya itu curhatkan.
"Saat hujan, kakekku akan menyusulku dengan payung. Aku sering mengalami hal itu. Walau fisiknya lemah, dia tidak mau membiarkan cucunya sakit karna kehujanan selepas mengaji." Alesha menarik napas panjang sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Hanya kakek saja yang perduli padaku waktu itu. Aku sangat menyayanginya, Mr. Jacob."
Kepala Alesha tertunduk murung. "Apa yang sedang kakek lakukan ya sekarang?"
"Kau ingin bertemu kakekmu, Alesha?" Tanya Jacob.
Alesha hanya mengangguk kecil.
"Besok aku akan suruh Taylor untuk menjemput kakekmu. Kau mau tinggal bersama kakekmu lagikan?"
Wajah Alesha terangkat, menatap penuh kebingungan pada Jacob.
"Kita bawa kembali kakekmu dari panti jompo itu, dan ia bisa tinggal di apartemenmu." Ucap Jacob yang dibarengi oleh senyuman hangat.
Alesha melongo, seakan tidak mempercayai ucapan pria yang ada dihadapannya itu.
"Mr. Jacob, kau tidak bercandakan?"
"Aku tidak akan pernah bercanda dalam hal membahagiakanmu, Alesha. Taylor akan membawa kembali kakekmu dari panti jompo." Ulang Jacob begitu lembut.
Samar-samar isakan mulai terdengar ketika Alesha merasakan haru bahagia dalam hatinya, segelintir air mata juga sudah menggenangi kelopak indahnya.
"Jangan menangis, Alesha. Tidak ada yang perlu kau tangisi, Al." Jacob menyerka gumpalan air pada sudut mata gadisnya dengan pelan.
"Kenapa kau sangat baik padaku, Mr. Jacob?" Lirih Alesha.
"Karna aku mencintaimu, Alesha. Tidak ada jawaban lain selain itu. Aku bersungguh mencintaimu, dan menginginkanmu, aku akan lakukan apapun asal kau bahagia, sayang."
"Kenapa kau bisa mencintaiku?" Kening Alesha sedikit berkerut, ujung hidung dan kedua alisnya memerah karna menahan tangisan.
"Kau mengubah hidupku, Alesha. Aku depresi berat, sulit untukku bisa bangkit kembali. Aku bersyukur karna waktu itu kau berhasil lolos seleksi dan menjadi anggota timku di WOSA. Sejak hari pertama...." Jacob berhenti sejenak. Ia nyaris saja keceplosan dengan mengatakan kalau sejak hari pertama ia melihat Alesha di WOSA, ia merasa seperti melihat Yuna. Mulai dari situlah Jacob merasa cukup dan semakin nyaman dengan keberadaan Alesha. Namun, seiring berjalannya waktu, Jacob pun sadar jika perasaannya mulai tumbuh bukan karna Alesha mengingatkannya pada Yuna, namun karna Alesha mampu membuatnya lupa pada Yuna dan perlahan membangkitkan kembali dunianya yang sempat runtuh karna kehilangan Yuna. "Kau memang sudah sangat menarik perhatianku, Al. Aura manismu memikatku, hingga sekarang aku begitu tergila-gila untuk memilikimu."
Huft, alasan yang tepat. Tapi Jacob tidakkah berbohong, aura manis Alesha memang sangat memikatnya.
"Tapi kenapa kau tidak mengatakan sejak awal jika kau tertarik padaku, Mr. Jacob?" Tanya Alesha.
"Punten, neng, mie rebus na atos jadi. (Permisi, neng, mie rebusnya udah jadi)."
"Hatur nuhun, bu. (Terima kasih, bu)."
Semangkuk nie rebus yang dikepuli oleh asap panas akan terasa nikmat saat dimakan ketika cuaca mendung dan berkabut seperti sekarang ini, tepatnya di pinggiran kawah gunung Tangkuban Perahu.
"Aku ingin memantapkan hatiku, Alesha. Aku tidak mau membodohi atau membohongi diriku sendiri. Maka dari itu aku menahannya sendiri untuk beberapa waktu untuk meyakinkan perasaanku ini." Jawab Jacob yang melanjutkan pertanyaan dari Alesha.
Alesha menyungginkan senyum manisnya. Keberuntungan besar untuknya bisa masuk WOSA dan bertemu dengan pria yang membuatnya merasa lebih berarti dan mewarnai dunianya lebih cerah lagi. Alesha akan selalu mensyukuri apapun yang sudah ia dapatkan, terutama cinta dan kasih sayang dari pria yang selama dua tahun mementorinya.
Jacob pun sama, senyum tulus masih menetap pada wajahnya, memandangi rupa manis milik gadis kesayangannya adalah hal yang mengasikkan, dan mungkin itu bisa menjadi hobi baru untuknya. Lalu ketika Alesha mulai menyuapkan satu sendok mie kedalam mulutnya, Jacob pun langsung mengalihkan pandangannya pada layar ponsel. Jacob tahu jika Alesha sangat benci jika diperhatikan saat sedang makan, maka dari itu Jacob tidak mau mengganggu gadisnya yang sedang menyantap hidangan itu.
Setengah jam berlalu, ketika Alesha sudah menyelesaikan makanya, Jacob segera mengajak Alesha untuk kembali pulang. Tidak terasa, seharian sudah kebersamaan yang mereka habisi di tempat wisata alam itu. Waktu pada jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, dan kabut sudah sangat tebal dengan jarak pandang yang minim. Awan-awan mendung pun sudah menguasai puncak kawah.
Jacob tidak mau mengambil resiko kalau gadisnya akan jatuh sakit nanti. Maka dari itu, sesampainya di parkiran mobil, Jacob yang melihat ada sebuah warung kecil pun langsung membelikkan minuman hangat untuk Alesha.
"Kita pulang sekarang ya, kau pasti sudah kelelahan." Ucap Jacob yang sudah siap untuk menyalakan mesin lalu mengemudikan mobilnya.
"Iya, terima kasih untuk jalan-jalan hari ini, Mr. Jacob." Balas Alesha.
"Sama-sama, sayangku."