May I Love For Twice

May I Love For Twice
Kenapa Harus Cerita?



Semua sudah bersiap, Alesha, Jacob, Bastian, dan Levin. Mereka kini berdiri di halaman depan istana modern milik Laura itu.


"Jacob, kau yakin kau baik-baik saja, ibu sangat mengkhawatirkan kondisimu setelah kejadian semalam, kau pasti kelelahan." Ucap Laura yang  memegangi wajah anaknya. Sebagai seorang ibu, tentu Luar sangat khawatir akan kondisi anaknya. Jacob banyak menerima pukulan, dan Luar negeri yakin kalau kondisi anaknya itu masih belum membaik. Luka lebam pun masih terlihat pada pipi kiri Jacob.


"Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir, aku sudah biasa seperti ini." Balas Jacob.


"Tapi ibu takut kalau kau kenapa-kenapa di sana." Rasa khawatir Laura tidak berkurang, malah semakin bertambah. Ia tidak akan bisa tenang sebelum kondisi anaknya itu membaik.


"Aku baik-baik saja, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padaku." Jacob melepaskan lengan ibunya yang menyentuh kedua pipinya.


Sedangkan Alesha, sejak tadi ia terus menunduk. Hatinya menjadi sedih saat melihat kasih sayang yang Laura berikan pada anaknya. Terlihat jelas rasa kekhawatiran dari sosok ibu terhadap anaknya. Alesha berpikir kalau mentornya itu sangatlah beruntung karna masih bisa melihat dan merasakan kasih sayang ibunya. Alesha ingin menangis, ia merindukan ibunya. Berapa tahun Alesha tidak mendapatkan kasih sayang yang layak? Kematian orang tua adalah ujian terbesar untuk Alesha. Sejak itu, tidak ada lagi yang menyayanginya. Alesha bisa makan dari hasil kerjanya sendiri sebagai seorang penjual jajanan di sekolah, saudaranya yang lain hanya mau memberikan makanan untuk kakek Alesha saja, dan mengabaikan Alesha yang kadang harus menahan lapar dari sore hingga pagi tiba. Untung saja biaya sekolahnya gratis karna Alesha selalu mendapatkan beasiswa, jika tidak, entah bagaimana jadinya ia sekarang, mungkin ia juga tidak akan pernah mengenal mentornya, dan teman-temannya yang lain yang berada di WOSA.


Umi, Alesha kangen... Lirih Alesha dalam hatinya. Tidak ada lagi cinta yang tulus yang bisa Alesha rasakan selain dari ibunya. Alesha selalu menangis dipojokan kamar jika ia merindukan kedua orang tuanya. Satu sisi ia mempunyai kakek yang mesti ia urus, tapi disisi lain Alesha begitu terpukul. Bahkan saat sakit pun tidak ada yang memperdulikan Alesha. Mengeluh adalah jalan yang paling tepat untuk melepas semua beban, tapi bukan berarti menghilangkan. Alesha hanya bisa diam jika bibinya sudah memarahinya karna tidak becus dalam mengurus kakeknya.


"Hiks.." Isakan kecil lolos begitu saja, tapi untungnya tidak ada yang mendengar itu. Alesha jadi mengingat kembali semua hal, semua beban, semua kesedihan, semua yang begitu membuat Alesha merasa kalau dirinya adalah orang paling menyedihkan di dunia. Kasih sayang yang nol, perhatian yang nol, dukungan hidup dari keluarga yang nol. Alesha menjalani kehidupan pasca sepeninggal orang tua dengan sengsara. Ia masih kecil, dan baru menginjak remaja, tapi semua ujian bertubi-tubi menindih jiwanya. Alesha dapat aktif kembali setelah ia berhasil masuk WOSA. Ia seperti menemukan kembali bagian jiwanya yang menghilang. Tapi tetap saja, kesedihan akan kerinduan terhadap orang tua selalu saja membuat Alesha lemah. Bahkan saat ini, saat dimana seharusnya Alesha merasa biasa saja terpaksa berubah saat ia melihat mentornya yang mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang dari ibunya. Alesha juga ingin diperlakukan lagi seperti halnya yang Jacob dapatkan sekarang. Alesha butuh sosok ibu yang bisa menjadi sandarannya. Tidak masalah jika bukan ibu kandungnya, tapi Alesha hanya butuh wanita lain yang bisa membuatnya merasakan kembali hangatnya pelukan dan kasih sayang, Alesha ingin bercerita banyak hal pada seseorang, tapi Alesha selalu memendam sendirian. Siapa yang mau mendengarkannya?


Tidak terasa, ternyata ingatannya itu malah memproduksi bulir-bulir cair yang bening. Alesha tidak mau ada yang menyadari kesedihannya saat ini, segera ia menghapus dengan cepat air matanya.


"Jaga dirimu di sana, ibu menyayangimu, Jack." Laura pun memeluk tubuh Jacob, anaknya. Ia sangat menyayangi Jacob, anak lelaki tunggal yang akan mewarisi setengah dari seluruh perusahaan yang ia miliki.


Alesha menghela napasnya, ia terkesiap saat melihat mentornya itu mendapatkan kasih sayang ketulusan melalui pelukan yang ibunya berikan.


Alesha pun mengarahkan wajahnya kesisi lain dan mengedipkan matanya dengan cepat beberapa kali, ia harus menahan agar air matanya tidak jatuh kembali. Kalau boleh dibilang, Alesha itu cemburu pada mentornya. Ia Alesha ingin merasakan pelukan dari sosok ibu, Alesha ingin ada yang menghapus air matanya kala ia sedih, Alesha ingin sosok ibu baru, bukan sebagai pengganti, tapi sebagai teman dan tempat curhat atas segala hal yang Alesha rasakan.


Alesha pengen kaya Mr. Jacob lagi. Alesha pengen dipeluk sama sosok ibu... Rintihan hati itu terucap. Alesha tidak dapat membendung rasa sedihnya kala ia begitu mengharapkan adanya pelukan kasih sayang yang dapat menenangkan hatinya.


"Nyonya, mobil sudah siap." Ucap salah satu anak buah Laura. Laura pun membalasnya dengan anggukan.


"Berpamitan lah dengan adikmu." Pinta Laura.


Jacob mengangguk, lalu menghampiri adiknya, Sharon.


"Hati-hati, Jack." Ucap Sharon yang sedikit gugup saat kakaknya, Jacob berdiri tepat dihadapannya.


Jacob pun tersenyum lalu mengangguk. Tangannya terangkat dan memberikan usapan pelan pada sang adik. "Jaga dirimu dan ibu, aku pergi dulu."


Sharon sempat terlonjak kaget saat mendapatkan perlakuan dari kakaknya. Sharon berpikir kalau Jacob tidak akan seramah itu karna mereka baru saja bertemu beberapa hari yang lalu, dan bahkan belum mengenal satu sama lain. Tapi perilaku Jacob yang ramah terhadapnya membuat Sharon jadi merasa semakin canggung.


"Aku pamit." Ucap Jacob terakhir kali sebelum akhirnya ia segera meraih tangan Alesha dan membawa gadis itu pergi menuju mobil. Levin dan Bastian menaiki mobil yang terpisah dengan Jacob dan Alesha.


Dibukanya pintu mobil oleh Jacob lalu membiarkan tubuh gadis kesayangannya itu masuk terlebih dahulu. Jacob masih belum menyadari ekspresi Alesha, dan mata Alesha yang sedikit sembab.


Alesha tidak mau membuat mentornya merasa curiga, jadi ia memilih untuk terus menghadap kearah kaca mobil dan melihat pemandangan halaman di luar.


"Pakai sabuk pengamanmu." Ucap Jacob yang tidak mendapatkan respon apapun dari Alesha karna Alesha sendiri tidak menyadari ucapan mentornya barusan.


"Alesha, pakai sabuk pengamanmu." Ucap Jacob sekali lagi dan masih nihil respon dari Alesha.


"Alesha." Jacob pun akhirnya menyentuh bahu Alesha, baru setelah itu, Alesha pun tersadar dan menatap ke arah mentornya.


"Kenapa?" Tanya Alesha.


Jacob menyipitkan matanya. Ia mencurigai sesuatu, dan melihat kedua mata Alesha yang sedikit sembab, ujung hidung dan alis Alesha pun memerah. Terlihat jelas seperti orang habis menangis.


"Ada apa, Mr. Jacob?" Tanya Alesha lagi.


"Kau menangis?" Tanya Jacob yang masih menatap intens pada setiap lekuk wajah Alesha.


"Tidak." Sangkal Alesha dengan cepat.


"Jangan berbohong, Alesha, aku tahu kau menangis. Ada apa? Apa yang terjadi?"


"Tidak, aku tidak menangis, Mr. Jacob." Sangkal Alesha lagi.


"Katakan!" Ucap Jacob dengan nada yang pelan namun dalam. Ia menuntut penjelasan dari Alesha.


Alesha mulai sedikit gelagapan. Ia berusaha agar mentornya itu tidak menaruh curiga, namun mengelabui Jacob adalah hal yang tidak mungkin untuk Alesha.


"Alesha, ada apa? Katakan saja." Ucap Jacob sekali lagi dengan nada yang melembut dan membuat hati Alesha menjadi beberapa persen sedikit lebih tenang.


"Hey.." Jacob menyentuh bahu Alesha dan melayangkan tatapan hangat agar Alesha mau menceritakan masalahnya. Menurut Jacob, ia harus bersikap tenang dan lembut jika mau mendengar keluh dan kesah dari gadis manisnya itu.


Alesha menunduk, ia ragu untuk bercerita pada mentornya, ditambah lagi mereka sedang berada didalam mobil, dan sang supir pasti akan mendengar.


"Hiraukan apapun yang membuatmu ragu, tatap aku, kau bisa bercerita padaku." Ucap Jacob dengan nada yang semakin melembut. Matanya menyalurkan ketenangan untuk Alesha, dan tangannya kini meraih jemari Alesha.


"Ingat aku siapa?" Jacob menyunggingkan senyuman manis.


Aish, Jacob ini bisa saja membuat Alesha merasa salah tingkah. Tapi memang tidak bisa disangkal, Alesha merasa sangat tenang saat ia menatap mata mentornya itu.


"Kau mentorku." Jawab Alesha dengan pelan.


"Yang lain." Senyuman hangat Jacob begitu membuat Alesha gugup.


"Kakakku." Alesha merasakan sensasi tubuhnya yang sedang memanas.


"Apa tugas seorang kakak?"


"Menjaga adiknya."


"Juga menjadi temannya." Jacob menoel pelan ujung hidung Alesha.


Blushh.....


Ya, kini Alesha menundukkan wajahnya ketika rasa panas itu sudah sampai titik didih yang membuat wajahnya memerah.


Manisnya. Alesha mencoba menyangkal semua rasa bahagia dan kupu-kupu yang kini sedang berterbangan bebas didalam hatinya sana. Namun Alesha tidak dapat mencegah, hatinya memberi respon yang tidak sejalan dengan pikirannya.


Bayangan mimpi itu pun kembali muncul dan membuat tubuh Alesha sedikit menggeliat karna pikirannya membuat tubuhnya kembali merasakan sentuhan lembut yang mentornya lakukan dalam mimpi.


"Hey.." Panggil Jacob yang disertai dengan keluarnya tawa kecil ketika mendapati Alesha yang menunduk malu.


"Kenapa lagi?" Jacob mengangkat dagu Alesha agar mereka bisa saling bertatapan.


"Tidak apa-apa." Jawab Alesha dengan gugup. Kenapa lagi hal seperti itu harusnya terjadi pada dirinya? Alesha sering dibuat kesal oleh mentornya, tapi disisi lain mentornya itu juga selalu bisa membuat Alesha merasa nyaman, bahkan kadang gugup jika diwaktu-waktu tertentu, contohnya seperti saat ini. Sikap Jacob yang begitu protective membuat Alesha merasa aman jika bersebelahan dengan mentornya itu. Hingga tanpa Alesha sadari, kini ia malah mengukir senyum yang membuat Jacob kebingungan.


Jacob pun terkekeh. "Kau memikirkan apa?"


"Tidak ada." Jawab Alesha.


"Kau tidak mungkin tersenyum secara tiba-tiba jika tidak memikirkan apapun." Balas Jacob.


Alesha terdiam. Ia termenung sembari berdiskusi dengan hati dan pikirannya mengenai hal yang ingin ia ungkapan pada mentornya. Hatinya memaksa Alesha untuk  mengungkapkan, tapi pikirannya menolak. Lalu bagaimana? Alesha pun mempertimbangkan dan segera nyimpulkan keputusan yang ia ambil. Ya atau Tidak? Mungkin akan lebih baik jika berterus terang, tapi apa gunanya juga jika Alesha berterus terang?


Satu tarikan napas pun Alesha ambil, ia sudah memutuskan. Karna tidak ada gunanya juga jika Alesha berterus terang, jadi Alesha lebih memilih untuk mengatakannya saja. Toh kan tidak berguna ini, jadi Jacob pun tidak akan menanggapinya dengan serius.


"Mr. Jacob, aku ingin bilang sesuatu." Ucap Alesha dengan pelan. "Tapi kau harus berjanji jangan pernah mengatakan hal ini pada siapa pun."


Jacob mengangkat sebelah alisnya. "Mengatakan apa?" Tanya Jacob.


"Janji dulu tidak akan mengatakan pada siapa pun." Alesha menatap intens pada kedua manik hitam dan putih milik Jacob.


"Aku berjanji." Ucap Jacob.


Perlahan, Alesha pun mulai memajukan wajahnya dan mendekat pada mentornya. Hati Jacob mendadak satu ledakan kecil yang mengejutkan. Apa ia tidak salah? Alesha mendekatkan wajahnya pada wajah Jacob.


Alesha, kau bisa membuat hatiku tidak sehat lama-lama kalau seperti ini caranya..... Gumam Jacob dalam hati.


Namun sepersekian detik kemudian kekecewaan jadi melanda hati Jacob. Ia salah dugaan, ternyata Alesha mendekatkan wajahnya agar mulutnya bisa berbisik tepat disebelah telinga Jacob.


"Aku mimpi kalau kau menciumku semalam."


Deg...


Hati Jacob semakin dibuat tidak sehat oleh Alesha. Gadis itu kini membuat denyut jantungnya berpacu sangat cepat. Mata Jacob membulat dan wajahnya datar. Pikirannya saling berkecamuk dan tidak teratur.


"Jangan seperti itu, aku jadi malu." Alesha menunduk kepalanya dengan rasa malu yang kini menyambangi dirinya. Memang ya, rasa menyesal itu datangnya selalu terlambat. Setelah mengucapkan kalimat itu sekarang Alesha malah merasa menyesal. Kenapa pula ia harus mengatakannya? Harus Alesha diam saja. Ada-ada saja mulutnya ini.


"Pantas saja tadi saat bangun tidur kau memintaku untuk tidak mendekat padamu, ternyata karna itu." Jacob terkekeh dan tersenyum gemas. Kini Jacob tahu alasan kenapa sikap Alesha tiba-tiba saja terlihat seperti orang ketakutan tadi pagi, ternyata kana gadis itu bermimpi kalau mereka berciuman. Senyum Jacob pun semakin mengembang saat pikirannya memproduksi sebuah ide jahil untuk menggoda Alesha.


"Ceritakan semuanya padaku, apa yang kita lakukan dalam mimpimu selain berciuman." Ucap Jacob dengan senyum menggoda.


"Syuutt..." Seketika Alesha menutup mulut mentornya itu. Kini Alesha benar-benar menyesal sudah mengatakan tentang mimpinya itu.


"Mr. Jacob!" Alesha melayangkan tatapan tajam pada Jacob. Ia takut kalau supir didepannya mendengar, walau sepertinya supir itu memang sudah mendengar ucapan mentornya itu.


Jacob menurunkan telapak tangan Alesha yang menutupi mulutnya dengan lembut. "Ceritakan padaku, atau aku akan terus mengulangi kalimat permintaan yang tadi."


Cukup sudah, kini Alesha kembali jatuh pada tatapan hangat sang mentor yang begitu memikatnya. Jarak antar wajah mereka cukup dekat hingga Alesha mampu merasakan hembusan napas mentornya.


"Aku mencintaimu, Little Ale."


Sayang, potongan mimpi itu kembali memasuki pikiran Alesha. Setiap kata, setiap kalimat, setiap pergerakan, dan setiap sentuhan lembut lagi dan lagi dapat Alesha rasakan. Itu hanya mimpi, sebuah mimpi, dan tidak lebih dari mimpi. Tapi kenapa mimpi itu terasa sangat nyata? Bahkan Alesha pun tidak dapat berkutik dalam mimpi itu. Apa maksudnya?


"Hey..." Jacob menepuk pelan pipi Alesha.


"Ya." Balas Alesha dengan mendadak. Tubuh Alesha sedikit terlonjak, dan tatapannya sulit untuk diartikan.


"Apa kau baru saja mengingat potongan mimpi itu?" Tanya Jacob dengan lembut. "Katakan padaku agar aku tahu apa yang aku lakukan padamu dalam mimpi itu." Jacob kembali mendekatkan wajahnya pada Alesha.


Sungguh, kini Jacob dan Alesha benar-benar mengabaikan sedang berada dimana mereka dan ada siapa didekat mereka. Supir yang mengemudi mobil itu tidak dianggap kehadirannya.


"Stop!" Alesha menahan dada mentornya agar tidak semakin berada dalam jarak yang minim. Jacob pun tersenyum sambil menunduk melihat ke arah telapak tangan Alesha yang menahan dadanya.


"Jangan mendekat lagi." Lanjut Alesha. "Menajuhlah...." Alesha mendorong tubuh mentornya agar segera mengambil jarak diantara mereka.


Aku sangat menyesal sudah mengatakan hal itu pada Mr. Jacob....


Ucap Alesha dalam hati.


"Ceritakan saja, aku harus mendengar semuanya agar aku tidak salah paham." Jacob mencoba untuk memancing Alesha agar mau bercerita.


Salah paham? Ya ampun! Ah nyusahin diri sendiri aja!...... Alesha merutuki dirinya dalam hati. Ia tidak tahu bagaimana harus bercerita, tapi kalau tidak bercerita nanti mentornya itu malah akan salah paham.


"Cerita saja, tidak perlu malu." Ucap Jacob dengan santainya tanpa memperdulikan Alesha yang sedang dilanda kebingungan karna


"Aku tidak tahu bagaimana mimpi itu bisa terjadi, tapi tiba-tiba saja kau menarik tanganku dan membawaku ke taman." Ucap Alesha dengan penuh rasa keraguan.


"Lalu?"


Alesha menatap pasrah pada mentornya. Tidak mau cerita tapi sudah terlanjur, jika cerita Alesha akan semakin merasa malu. Bagaimana juga ini adalah kesalahannya. Coba saja tadi Alesha lebih memilih pikirannya, pasti ia tidak perlu segelisah saat ini. Orang bilang kalau mengikuti kata hati adalah yang terbaik, tapi sekarang Alesha malah merasa sebaliknya.


"Kau...." Alesha kembali diam. Ia tidak tahu susunan kata-kata yang bagaimana agar bisa melanjutkan kalimatnya.


"Aku menciumu, dan.." Lanjut Jacob dengan tenangnya. Sedangkan Alesha, ketika ia mendengar kalimat itu terlontar begitu saja dari dalam mulut mentornya, perasaan sebal pun tumbuh.


Alesha mendengus kesal. Supir itu pasti mendengar ucapan Jacob. Satu tarikan napas dijadikan andalan oleh Alesha agar ia tidak terbawa emosi.


"Aku tidak akan bercerita!" Tegas Alesha lalu membuang wajahnya dan enggan untuk menatap sang mentor yang kini malah terkekeh geli.


"Baiklah, kau bisa bercerita nanti saat kita sudah dipesawat." Balas Jacob.


"Tidak!"


Jacob menggelengkan kepalanya saat mendapat respon dari Alesha. Ia melipatkan kedua tangannya dengan mimik wajahnya yang menunjukkan sebuah kebahagiaan kecil yang terselubung dalam hatinya.


Aku akan berdoa agar apa yang terjadi pada mimpimu semalam dapat benar-benar terjadi di dunia nyata.... Ucap Jacob dalam hati. Ia masih tidak menyangka kalau Alesha dapat memimpikannya, apalagi mimpi kalau mereka berdua yang saling berciuman