
Siang berganti malam, waktu berubah seiring perkembangan jam yang mengambang diantara sayup-sayup malam.
Tangis histeris yang menggelora dalam ruangan membuat siapa pun yang mendegarnya dapat turut merasakan kesedihan mendalam yang kini tengah mendera jiwa seorang ibu muda yang malang karna harus menerima kepergian sang pangeran tampan yang baru saja beberapa jam menyambangi alam luar.
Hati yang begitu terluka ketika mendapati sang buah hati yang kini telah berpulang. Alesha memberontak, berteriak-teriak memanggili putra kecilnya yang baru beberapa jam tadi ia beri nama.
Khalidd...... Khalidd...... Khalidd......
Begitulah Alesha memanggili nama sang buah hati dengan deru deras tangis yang menghujani wajahnya. Jacob yang sudah pasrah pun kini hanya bisa menangis sembari terus menahan tubuh istrinya agar tidak semakin memberontak.
"Khalidd........" Parau Alesha. Suaranya sudah serak, dan habis. Kedelapan kawan baiknya yang kini menyaksikan bagaimana ia histeris pun hanya bisa terdiam sembari menundukkan kepala. Tak terkecuali Merina yang turut menangis tersedu-sedu karna merasakan emosi kesedihan yang terpancar kuat dari seorang Alesha.
"Khalidd, bangun.... Ini bunda, Nak, bangun...." Lirih Alesha. Tubuhnya lunglai dalam dekapan sang suami.
Pangeran mungil itu kini terlelap dengan tenang setelah beberapa jam para perawat dan dokter berupaya untuk memberikan pertolongan. Namun karna kegagalan fungsi jantung yang kian melemah, berbeda dengan saudari kembarnya, pangeran mungil Alesha, dan Jacob itu kini mesti kembali pada Sang Khalik.
"Khalid, bangun, sayang..... Hiks, bangun, ini Bunda, Nak, bangun...." Alesha tiada hentinya membelai, dan mengecupi tubuh anaknya yang sudah terlelap dengan damai diatas kasur mini khusus untuk bayi.
"Khalid..... Bangun..... Hiks."
"Ibu, anaknya biar kita urus dulu ya, Bu, kasian dedeknya kalo kita gak cepet-cepet kafanin," Ucap seorang kepala perawat dengan sangat lembut.
"ENGGAK!" Alesha segera mengambil alih tubuh mungil putra supaya perawat itu tidak bisa membawa Khalid pergi.
"Enggak boleh! Khalid gak boleh pergi!!"
Alesha memeluk tubuh pangeran kecilnya dengan sangat erat, dan hal itu membuat sang perawat juga yang lain yang ada di dalam ruangan itu merasa kebingungan. Satu sisi kasihan pada Alesha yang tidak mau dipisahkan dengan anaknya, tapi disisi lain jenazah Khalid juga harus segera diurusi.
"Alesha, sayang, lepaskan Khalid, kasihan dia jika kau seperti ini, sayang," Ucap Jacob.
Alesha tidak membalas karna enggan untuk merespon ucapan suaminya.
"Khalid..... Khalid, bangun.... Ayo bangun, sayang...." Alesha mengguncang pelan tubuh bayinya seraya mendekatkan wajahnya pada pangeran kecil itu.
"Khalid, jangan tinggalin Bunda...... Hiks...."
"Tuan, gimana ini?" Tanya sang kepala perawat pada Jacob.
"Sayang, ikhlaskan Khalid, jangan seperti ini, jangan mempersulit keadaan, Alesha, jenazah Khalid harus segera diurus, sayang," Bujuk Jacob.
"Khaliddd....... Bangun, Nak, bangun....." Alesha terus menangis, dan tidak memperdulikan ucapan suaminya.
"Alesha.... Kau mencintai Khalid kan? Kau sangat menyayanginya kan? Lepaskan dia, ikhlaskan dia, Alesha. Kasihan Khalid jika kau terus seperti itu. Kau harus merelakannya, Alesha, tidak baik jika kau terus seperti itu," Ucap Merina disela-sela tangisnya.
"Tapi aku tidak mau dia pergi meninggalkanku, dia baru beberapa jam di dunia ini, dan sekarang dia sudah harus kembali pulang ke surga? Aku benar-benar kehilangannya. Khalid, maafkan Bunda, Bunda tidak bisa menjagamu, sayang," Alesha mencium lembut kulit dari wajah putra kecilnya.
"Hiks, astagfirullah...... Khalid, Khalid selamat jalan, anakku, tidurlah dengan damai, dan tenang, sayang, kita akan bertemu lagi di surga nanti," Alesha sudah pasrah. Ia mesti ikhlas, dan tabah. Anaknya sudah bahagia, dan Alesha harus rela melepas kepergian pangeran mungilnya itu untuk selamanya.
Lalu kemudian Alesha meletakkan telapak tangannya pada dada Khalid, dan setelah itu ia pun melantunkan kalimat syahadat sebagai tanda jika ia menerima dengan lapang dada kepergian salah satu buah hatinya.
"Tolong urus anak saya dengan baik, Bu," Ucap Alesha sembari menyodorkan tubuh mungil anaknya pada sang kepala perawat.
"Pasti, Bu, kita bakal urus jenazah anak ibu dengan baik," Balas sang kepala perawat tersebut sembari mengambil alih tubuh Khalid dari pelukan bundanya.
"Khalid......" Isak Alesha dengan sangat lemah. Tatapannya sendu dengan air mata yang terus menetes satu persatu.
"Khalid, Bunda minta maaf, Nak..." Alesha yang sudah benar-benar pasrah, dan lemas pun kini mulai membiarkan dirinya untuk terjerumus pada ketidak sadaran.
Perlahan, tubuh Alesha merosot, dan bersandar pada dada bidang suaminya, tidak lama setelah itu matanya pun terpejam hingga semuanya terlihat gelap, dan lenyap. Hilang! Alesha sudah tidak mengingat apapun setelah itu.
"Alesha.... Alesha! Alesha, bangun!!" Jacob yang panik pun menepuki pipi istrinya yang tiba-tiba saja pingsan.
"Sayang, Alesha! Alesha, astagfirullah, bangun!"
Dengan sigap Bastian menekan tombol yang menempel pada dinding untuk memanggil para perawat dan dokter jaga.
"Alesha, bangun, sayang, apa yang terjadi?" Jacob mulai terisak.
"Mr. Jacob, tenanglah, mungkin Alesha pingsan karna syok," Ucap Tyson sembari menyentuh bahu Jacob.
"Alesha......" Jacob sungguh khawatir. Ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
"Alesha...." Jacob berucap lirih, hatinya perih melihat kondisi sang istri. Ia pun menelusupkan wajahnya pada lekukkan leher Alesha sembari memberikan pelukan yang begitu erat.
"Lil Ale, maaf....." Tak dapat lagi terhindarkan jika kini air mata Jacob membasahi kulit leher istrinya. "Sayang, aku mencintaimu.... Maaf..."
"Permisi, ada apa ya?" Tanya seorang dokter jaga yang masuk bersama dua orang perawat.
"Dok, tolong teman saya pingsan!" Seru Nakyung.
Sang dokter bersama dua perawatnya pun segera menghampiri Alesha yang sudah tak sadarkan diri.
"Tuan, maaf, biar saya cek dulu kondisi istrinya," Ucap sang dokter sembari mencoba untuk melepaskan pelukan Jacob dari Alesha.
Tetapi ternyata Jacob tidak membiarkan hal itu terjadi. Ia malah semakin merengkuh tubuh istrinya untuk tetap dalam dekapannya. Jacob enggan melepaskan Alesha, ia menguatkan lengannya supaya dokter tersebut tidak dapat mengambil alih tubuh Alesha.
"Tuan, saya harus cek kondisi istrinya dulu sebentar," Ucap sang dokter, lagi.
Jacob tidak membalas, ia masih utuh pada posisinya saat ini.
"Tuan, biarin kita periksa ibu Alesha dulu takutnya nanti ada apa-apa," Bujuk sang dokter.
"Maaf, sayang..." Lirih Jacob sembari mengecup sebelah pipi, dan kening istrinya. Baru setelah itu, ia pun menidurkan tubuh Alesha dengan sangat hati-hati.
"Tolong, Dok, saya takut terjadi sesuatu yang buruk pada istri saya," Jacob menatap sendu pada sang dokter jaga.
"Tuan berdoa aja ya, semoga istrinya bisa baik-baik aja," Balas sang dokter yang mulai memeriksa kondisi tubuh Alesha.
Perlahan, Jacob pun memundurkan langkahnya untuk memberikan tempat bagi dua perawat lain membantu sang dokter.
"Mr. Jacob, yang sabar ya..." Ucap Lucas seraya memeluk tubuh mentornya itu.
"Mr. Jacob, kau harus kuat, dan tabah, kasihan Alesha," Sambung Bastian.
Kedelapan anak asuh Jacob sewaktu di WOSA itu pun kini saling mendekat untuk sama-sama merasakan duka yang tengah berlangsung. Mereka semua begitu setia menemani suami Alesha hingga larut malam karna mereka tidak mau membiarkan Jacob bersedih sendirian.
Namun, setelah berjam-jam berlalu, dan dokter mengatakan jika Alesha baik-baik saja, dan Alesha pingsan karna kelelahan juga syok, Jacob memilih untuk membiarkan ketujuh anak asuhnya pulang. Bagaimana juga Bastian, dan yang lain harus kembali bekerja besok pagi, dan Jacob tidak mau ketujuh remaja dewasa itu jatuh sakit. Jacob masih sama, ia masih menyayangi semua anak asuhnya, oleh sebab itu ia memaksa, dan meyakinkan supaya ia ditinggalkan saja, karna ia juga sudah merasa jauh lebih baik.
Lalu, sekitar pukul satu lewat, dini hari, Bastian, dan keenam kawannya pun memutuskan untuk pulang setelah dibujuk beberapa kali oleh Jacob. Sesungguhnya mereka merasa tidak enak, dan khawatir jika harus meninggalkan mentor mereka itu, namun Jacob selalu meyakinkan, dan memaksa mereka untuk pulang. Jadinya, ya sudah, mereka bertujuh pasrah, lalu pulang secara bersamaan.
****
Pukul 05.55 WIB
Waktu subuh telah berlalu, Alesha pun telah kembali sadar sekitar setengah jam yang lalu, dan sejak saat itu pula Jacob langsung mencoba untuk berbicara dengan istrinya, tapi sayang, Alesha tidak memberikan respon apapun, termasuk menjawab.
Berkali-kali Jacob mencoba untuk membuka percakapan, namun Alesha hanya diam, diam, diam, dan diam!
Tatapan wanita itu lurus datar, tak menampakkan kesedihan, apalagi kebahagiaan.
"Alesha, sayang....." Jacob terus menatapi wajah polos Alesha sembari terus memberikan genggaman pada tangan istrinya itu.
Alesha enggan berbicara, ia mencoba untuk membuat dirinya nyaman dengan duduk bersandar tanpa memperdulikkan ucapan suaminya.
"Alesha, aku tahu kau marah padaku, tapi tolong jangan pendam kesedihanmu sendiri," Jacob mengelusi rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Alesha, kau tahu, putri kita baik-baik saja, sayang, aku tadi sudah melihat kondisinya," Ucap Jacob sembari membetuli poni yang tersebar acak pada kening Alesha.
"Dia sangat manis, dan cantik, sama sepertimu."
Alesha mencuri lirikkan pada foto si bayi mungil yang terpampang jelas pada layar ponsel Jacob.
Bayi itu, si putri sulung yang tampak tenang terlelap dalam inkubator.
Perlahan Alesha memfokuskan pandangannya juga menggerakkan jemarinya untuk mengusapi permukaan layar ponsel, membayangkan seolah ia sedang mengelusi anaknya.
Tak terasa, tanpa Alesha sadari ternyata seulas senyum tipis pun terukir pada wajah manisnya.
"Alshiba."
Jacob pun turut mengembangkan senyumnya kala melihat sang istri yang menunjukkan ekspresi manis.
"Kau sudah melahirkan bayi yang cantik, dan tampan, Lil Ale. Bagaimana? Kau bahagiakan? Setidak putri kita masih bisa bertahan, dan dokter bilang kalau kondisi bayi kita ini cukup stabil."
"Alshiba Sanum." Alesha bergumam sembari terus tersenyum.
"Kau sudah memilihkan nama untuk putri kita, sayang?" Jacob begitu bersemangat ketika menanyakan hal itu, namun tetap saja Alesha tidak menjawab.
Alesha tersenyum karna ia merasa bahagia dapat melihat wajah putri kecilnya, namun rasa kecewanya terhadap Jacob tetap tidak bisa diubah untuk saat ini.
"Permisi...."
Alesha, dan Jacob sama-sama terkejut ketika mendapati suara Sulis yang tiba-tiba saja masuk sembari membawa si putri kecil, sang malaikat hati Alesha, dan Jacob.
"Alesha, gimana kondisi kamu?" Tanya beserta sapaan ramah dari si dokter kandungan itu.
"Alhamdulillah, aku udah lebih baik," Jawab Alesha.
"Alhamdulillah kalau gitu. Oh ya, ini aku ke sini buat bawain kamu si cantik, kayanya dia laper, abis dari tadi nangis terus," Ucap Sulis.
Sulis berniat untuk memberikan tubuh si putri kecil itu pada bundanya, Alesha, namun tiba-tiba saja aksi Sulis itu pun terhenti. "Alesha, kamu siapkan buat coba kasih ASI kamu sekarang?"
Alesha tertegun mendapati pertanyaan itu.
Grogi....
Ragu.....
Takut....
Bagaimana cara Alesha memulainya?
"Emangnya gak apa-apa ya kalau aku kasih ASI langsung sekarang?" Tanya Alesha yang gugup.
"Gak apa-apa, kan usia kandungannya udah dua puluh delapan minggu. Jadi, seharusnya ya udah bisa sih kalau buat menyusui langsung mah, apalagi kan kondisi si cantik juga udah lebih baik. Atau gak dicoba dulu aja, kalau nanti gak bisa, ya terpaksa kamu harus pake alat pompa ASI biar si cantik tetep bisa makan," Jawab Sulis.
"Oh, yaudah atuh kalau gitu mah sini, biar aku coba dulu," Ucap Alesha yang malu-malu, ragu, namun bahagia.
Ah ya ampun, Alesha tersipu sekarang. Ini pertama kalinya untuk ia menyusui. Bagaimana ya rasanya kira-kira?
"Ini, pelan-pelan ya pegangnya."
Dengan bimbingan dari Sulis, kini Alesha menggendong tubuh bayi cantiknya dengan sangat hati-hati.
Senyum semakin melebar, aura pada wajah Alesha perlahan bersinar kembali seiring dengan tenangnya sang buah hati ketika berada dalam dekapan ibunya.
"Ayo, Alesha, si cantik udah lapar, jangan bikin dia nunggu lebih lama lagi," Ucap Sulis.
Sungguh Alesha merasa sangat bahagia karna dapat menyentuh, dan menggendong bayi mungilnya secara langsung. "Alshiba Sanum, gadis cantik yang diberkahi oleh Allah SWT."
"Alshiba Sanum? Ah, si cantik udah punya nama ya sekarang!" Girang Sulis.
"Alshiba, artinya cantik," Alesha membelai lembut wajah bayinya. "Sanum artinya diberkahi oleh Allah."
"Kau pandai memilihkan nama untuk anak kita, Lil Ale," Ucap Jacob seraya mengecup sebelah pipi istrinya.
Masih sama. Alesha masih enggan, dan malas untuk merespon apapun yang suaminya katakan, dan lakukan.
Mungkin Jacob belum menyadari itu, tapi lihat saja setelah beberapa hari kedepan. Pikir Alesha.
Sejurus kemudian, Alesha membuka dua buah kancing baju tidurnya untuk memberikan ASI eksklusif pada si cantik Alshiba.
"Tangannya gak usah geter gitu dong, santai aja, hahaha," Ledek Sulis.
Alesha hanya tersenyum malu kala mendapati candaan dari temannya barusan.
Sungguh, Alesha benar-benar takut, dan grogi, ini pertama kali untuknya, dan berbagai macam pertanyaan pun mulai memenuhi penjuru kepalanya.
Bagaimana cara melakukannya? Apa ASI nya akan keluar? Bagaimana kalau gagal? Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat juga untaian pertanyaan dalam kepala Alesha perihal menyusui.
"Sulis....." Panggil Alesha, pelan. "Gimana ini?"
"Sini, coba aku bantu si cantik," Lalu dengan perlahan, dan sangat hati-hati, Sulis pun menggeser kepala si kecil Alshiba supaya bisa segera mendapatkan asupan makan secara langsung dari ASI bundanya.
"Sulis, aku deg deggan tauu..." Ucap Alesha.
"Tenang, Alesha, liat noh si cantik, udah mulai kan dia," Kekeh Sulis yang gemas melihat kawan juga pasiennya, Alesha.
"Aw! Aduh ya ampun! Geli..." Alesha sedikit terlonjak, sedangkan Jacob tersenyum bahagia ketika melihat raut cerah istrinya.
"Aaaa, Sulis...." Alesha tertawa geli ketika si kecil Alshiba mulai menggerakkan mulut mungilnya.
"Jangan lepasin selimutnya dari si cantik ya, Sha, dia harus tetep anget soalnya," Ucap Sulis.
"Oke," Balas Alesha.
"Huftt...." Alesha menghembuskan napasnya dengan sangat tenang. Rasanya amat luar biasa bahagia. Bahkan Alesha pun masih tidak menyangka jika saat ini ia sudah menjadi seorang ibu, dan tepatnya kini sang buah hati tengah meminta jatah makan langsung darinya.
Untung saja sejak semasa kehamilan Alesha selalu membaca artikel, dan mencari tahu segala hal mengenai 'Cara Memberikan ASI Untuk pertama kali', dan 'Cara Supaya Air ASI Dapat keluar Dengan Lancar'.
Alhasil, akhirnya saat ini ia tidak perlu kerepotan untuk mencari cara supaya ASI nya dapat keluar.
"Alshiba, sayang, ini bunda," Alesha mengelusi wajah bayi mungilnya dengan penuh kelembutan, dan kasih sayang.
"Yaudah, Sha, kalau gitu aku keluar dulu ya, aku di depan kok sama perawat penjaga, kalo butuh mah panggil aja ya," Ucap Sulis.
"Oh ya, kamu pagi-pagi gini udah dateng ke sini, ada praktek?" Tanya Alesha.
"Enggak sih, aku praktek nanti sore, aku ke sini pagi soalnya pengen cepet-cepet liat si cantik. Heheheh..." Balas Sulis.
"Ya ampun," Kekeh Alesha. "Makasih ya, Sulis, makasih banyak udah bantu aku," Lanjut Alesha dengan senyum yang begitu tulus.
"Sama-sama, beb, kamu pokonya jangan pikir yang macem-macem ya karna kita juga sebagai dokter, dan perawat di sini pasti bakal usahain yang terbaik kok buat kalian," Balas Sulis yang juga menunjukkan senyum tulusnya.
"Pemisi, Tuan, Nona...."
Ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu pun seketika langsung menatap ke arah Taylor yang tiba-tiba saja masuk.
"Taylor, ada apa?" Tanya Jacob.
"Tuan, makam untuk Khalid sudah selesai, dan siap."
Terdengar helaan napas panjang yang berasal dari Alesha. Aura cerah yang tadi sempat terpancar kini malah surut, dan digantikan dengan raut kesedihan yang begitu mendalam.
"Khalid...." Lirih Alesha. "Aku pengen ketemu sama Khalid buat yang terakhir kali, boleh kan Sulis?" Mohon Alesha yang sudah berkaca-kaca.
"I-iya, bisa kok, nanti aku bilang ke petugasnya dulu ya," Jawab Sulis sembari berlalu pergi untuk mengabulkan permintaan Alesha.