
Sesampainya di hotel, Bastian dan seluruh anggota timnya segera memasuki kamar masing-masing. Setiap satu kamar akan diisi oleh dua dan tiga orang, dan untuk Jacob, sebagai mentor maka ia mendapatkan kamar sendiri.
"Alesha kamu sama aku ya, kita berdua." Seru Stella sembari menarik lengan Alesha untuk masuk ke kamar pilihannya yang hanya dapat diisi oleh dua orang saja.
Stella langsung berlari menuju kasurnya yang terletak bagian dipojok.
"Nyaman juga kamar ini." Alesha membaringkan tubuhnya diatas kasur yang begitu empuk dan lembut.
"Aku mandi duluan ya, Al. Aku lelah ingin cepat-cepat tidur." Ucap Stella seraya bangkit lalu mengambil sebuah handuk serta beberapa pakaiannya.
Karna keadaan yang sudah berubah menjadi malam hari, Stella memutuskan untuk tidak mandi terlalu lama, ya mungkin sekitar sepuluh menittan, lalu setelah itu ia pun keluar dengan tubuh yang sudah dibaluti oleh piyama.
Sekarang gantian Alesha yang membawa dirinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia pun sama seperti Stella, tidak mau berlama-lama dalam kamar mandi karna rasa lelah dan kantuk sudah meronta-ronta sejak tadi.
Beberapa menit berlalu, Alesha selesai dengan kegiatannya dan keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan baju piyama juga.
Melihat Stella yang sudah berbaring dengan nyaman diatas kasur membuat Alesha semakin merasakan sensasi kantuk yang lebih meningkat lagi.
"Hoaammm...." Alesha menguap. "Bismillahirrahmanirrahim." Alesha pun mengucapkan kalimat doa untuk menjaga tidurnya agar terhindar dari segala macam bahaya atau mimpi buruk. Barulah setelah itu, ia merentangkan tubuhnya diatas sprei tebal dan empuk yang dijadikan sebagai alas tidurnya.
Tidak terasa, dua gadis itu pun akhirnya terlelap dalam waktu yang sangat singkat. Faktor kelelahan menjadi yang utama penyebab mereka berdua lebih cepat masuk kedunia mimpi.
***
Pagi ini, tepatnya pukul tujuh kurang sepuluh menit seluruh anggota tim Bastian dan juga anggota tim Brandon sudah berada disebuah apartemen mewah yang menghadap langsung ke arah perbukitan Hollywood. Apartemen itu akan menjadi titik awal ujian akhir semester dimulai.
Lima orang pegawai SIO sudah menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk mengawasi jalannya ujian akhir semester yang dalam beberapa menit lagi akan segera dilaksanakan oleh dua kelompok tim murid WOSA.
"Dua puluh empat jam waktu kalian, itu akan sangat cukup, dengarkan semua perintah Bastian, dan tetap lah fokus pada tujuan kalian." Amanat Jacob untuk seluruh anggota timnya.
"Jack, semua sudah siap, mereka harus berangkat sekarang." Ucap salah seorang petugas SIO yang bukan lain adalah sesama agent seperti halnya Jacob.
Jacob mengangguk paham. "Berdoa terlebih dahulu. Semangat." Jacob menghembuskan napasnya. "Kalian harus pergi sekarang."
Jacob pun membalikkan tubuh beberapa anggota timnya. Sempat Jacob melihat segaris senyum keraguan pada wajah Alesha. Jacob tahu, gadisnya itu pasti sedang dilanda perasaan tidak enak yang sejak dua hari lalu terus saja membuat gundah hati Alesha.
Namun Jacob tidak dapat melakukan apapun selain memberi keyakinan dan semangat.
Aku percaya kau akan baik-baik saja, Alesha. Jangan membuat aku takut.... Ucap Jacob dalam hatinya.
"Alat pelacak mereka sudah aktif." Seru salah satu agent SIO yang bertugas mengawasi pergerakan dua kelompok tim itu melalui layar komputer.
"Bas, jaga mereka." Ucap Jacob melalui mini Phone yang dipasang pada telinganya.
"Baik, Mr. Jacob." Balas Bastian.
Dua buah mini bus sudah siap untuk mengantarkan dua kelompok tim itu ke tempat yang berbeda. Bastian dan anggota timnya akan langsung menuju Santa Monica Boulevard, tempat di mana mereka akan melanjutkan misi mereka tanpa adanya bantuan dari sang mentor.
Melangkahi waktu, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Bastian dan yang lain segera turun dari mini bus yang mereka tumpangi. Sang supir pun langsung melajukkan kembali mini busnya saat tahu kalau semua penumpangnya sudah turun.
"Dua mobil itu yang akan kita pakai?" Nakyung menunjuk pada dua buah mobil sedan yang terlihat sangat mulus dan mengkilat tepat dihadapannya juga yang lain.
"Ya. Ayo cepat! Jangan buang waktu!" Bastian segera menghampiri dua mobil itu.
"Tyson, Aiden, Maudy, ingat rencana awal kita, Nakyung yang akan memimpin kalian. Pastikan kalau keberadaan kalian tidak dapat terdeteksi oleh kelompok Brandon. Aiden, gunakan jalur yang sudah kita siapkan, dan Tyson, jangan sampai kau membuat mobil itu rusak."
" Tenang, Bas, aku sudah terlalu ahli dalam mengemudi." Balas Tyson dengan percaya diri.
"Sisanya, kalian ikut bersamaku. Kita tidak akan langsung menuju bukit Hollywood, kita mengambil jalan memutar dan berkeliling untuk mengelabui anggun tim Brandon yang akan menghalangi kita!"
Bastian menunjuk pada Lucas. "Kau sudah dapatkan celahnya?"
"Sudah, aku sudah mendapatkan denah jalanan yang akan kita gunakan." Jawab Lucas sambil terus berkutik dengan tablet yang ada ditangannya.
"Ingat, ketelitian dan fokus hal yang paling utama. Jadi, sekarang ayo, kita mulai misi ini!" Seru Bastian dengan penuh tekad.
"Ayoo!!!" Saut anggota tim yang lainnya.
Mike segera mengambil tempatnya sebagai pengemudi yang akan melanjukan mobil, sedangkan Lucas duduk disebelah jok pengemudi untuk memberitahukan celah dan jalanan yang akan dilewati. Bastian, Alesha, dan Merina duduk dibanku kedua, dan Stella dibangku yang terakhir.
Lalu dimobil satunya lagi, Tyson yang mengambil peran sebagai pengemudi, dan Aiden yang akan menjadi penunjuk arah dengan mengandalkan maps satelit yang berhasil diakses ketabletnya.
Sebelum mobil melaju, Bastian pun menyempatkan untuk mengaktifkan mini Phone yang mengait pada telinganya.
"Mr. Jacob, kami akan berangkat sekarang."
"Bagus, semoga semua berjalan dengan lancar."
Bastian kembali menonaktifkan mini Phone-nya setelah memberikan laporan pada mentornya.
"Kita berangkat sekarang."
Perintah dari sang ketua tim itu pun segera dilaksanakan. Mike melajukan mobilnya dan disusul oleh Tyson dibelakang. Namun sekitar satu kilometer dari tempat awal tadi, mobil yang dikendarai oleh Tyson dan Mike pun berpisah.
"Bas, server kita berhasil menangkap alamat IP tim Brandon. Mereka sudah mengejar kita. dalam radius tiga kilometer didepan kita!" Seru Lucas.
"Cepat, sekali mereka." Komen Bastian.
"Lalu bagaimana?" Tanya Lucas.
"Tidak apa, tetap pada rencana awal, biarkan mereka menemukan kita dan membuntuti mobil kita." Jawab Bastian, sepersekian detik kemudian ia pun menyunggingkan seringainya. "Kita akan buat mereka mengelilingi tempat ini."
Sedangkan di tempat lain, Brandon juga sudah siap dengan segala macam taktik dan rencana liciknya untuk menggagalkan misi tim Bastian.
"Brandon, serverku sudah melacak keberadaan anggota tim Bastian. Mereka tidak jauh dari kita!" Seru Ken, salah satu anggota tim Brandon.
"Cepat juga mereka rupanya." Brandon berdecak sebal.
"Ah sial! Aku kehilangan kendali serverku!" Pekik Ken saat tiba-tiba saja layar tabletnya kehilangan koneksi internet.
"Apa? Bagaimana bisa?" Brandon yang mendengar itu pun seketika kaget dan langsung menatap ke arah tablet yang berada dipangkuan Ken.
"Sialan!! Sepertinya mereka menonaktifkan jaringan LAN disekitar sini!!" Ken mencoba untuk mengotak-atik tabletnya yang mendadak terputus dengan jaringan internet.
"Kau benar, ponselku tidak mendapatkan jaringan di sini." Ucap Sasha, salah satu anggota tim Brandon juga.
"Ck. Awas kau, Bas!!" Brandon mengepalkan jemarinya untuk menahan rasa kesal yang kini sedang menggolak dalam dirinya.
Di apartemen, agent SIO yang bertugas untuk memantau server kedua tim kini dibuat panik saat tiba-tiba saja layar komputer yang sedang diamatinya kehilangan akses Internet.
"Ya ampun, ada apa ini?" Pekik agent tersebut.
"Kenapa?" Tanya Eve.
"Ada yang mematikan jaringan LAN!"
"Apa bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?" Tanya Jacob, sedikit panik dan kaget.
"Aku sedang mencaritahunya dengan menggunakan server LAN yang lain." Jawab agent tersebut.
Agent itu segera berkutik dengan komputer dan keyboardnya, untuk membobol dan memasuki server LAN daerah lain.
Tidak butuh waktu lama, agent itu pun sukses dan segera melacak alamat IP seseorang yang sudah mematikan sistem LAN daerah setempat.
"Jacob! Ini ulah anggota timmu!" Seru agent itu sembari menatap tidak percaya pada alamat IP yang tertera pada layar komputernya.
Ya, matinya jaringan LAN itu disebabkan oleh ulah Lucas dan Aiden atas perintah Bastian tentunya. Mereka sengaja mematikan jaringan LAN dan menggunakan server lain untuk mengacak-acak dan mengubah sistem server milik anggota tim Brandon. Lucas dan Aiden mengubah jalur dan peta yang sedang digunakan oleh anggota tim Brandon, serta membuat semua jalur yang ditunjukkan oleh maps satelit milik tim Brandon menuju jalanan sempit dan ramai lalu lintas. Mungkin singkatnya adalah, Lucas dan Aiden ingin mengubah arahan peta agar tim Brandon dapat kebingungan dalam mengatur jalan yang akan dilewati.
Mengetahui hal itu, Eve pun geram dan ingin protes, tapi ia tidak bisa karna itu sama saja ia akan melanggar peraturan, dan imbasnya akan kena pada timnya juga. Kali ini Eve merasa kecewa pada keputusan Mr. Thomson yang mengizinkan seluruh anggota tim untuk melakukan hal apapun dan bagaimana pun, kecuali melukai orang awam dan melakukan kerusuhan.
"Tunggu, jaringan LAN kembali aktif, anggota timmu sudah mengaktifkan kembali jaringan LAN di daerah ini." Ucap agent SIO itu.
Kuping Jacob tiba-tiba mengiang, mini Phone itu menerima panggilan masuk. Segera Jacob menekan tombol kecil pada mini Phone itu untuk mengaktifkan dan menerima panggilan telponnya.
"Hallo, Mr. Jacob, maaf kami membuat ketidak nyamanan secara sesaat, hehehe."
Suara Bastian ternyata.
"Tidak apa, kerja bagus kalian semua." Balas Jacob.
Lalu Bastian pun kembali mematikan sambungan komunikasi itu. Ia akan memfokuskan diri untuk rencana selanjutnya agar bisa menghindar dari anggota tim Brandon yang kini mengejarnya.
"Damn! Kenapa jalanannya berubah menjadi macet semua?" Ken semakin dibuat bingung setelah layar tabletnya menunjukan garis-garis merah yang merupakan tanda untuk jalan raya yang sedang dipadati oleh berbagai macam kendaraan.
"Apa maksudnya?" Brandon melototkan matanya pada layar tablet yang sedang dipegang oleh Ken.
"Semua jalur di daerah sini sangat padat kendaraan." Ken menunjuk-nunjuk pada layar tabletnya.
"Kenapa bisa tiba-tiba begitu? Coba cari dan temukan jalan lain yang mungkin bisa kita lewati!" Tegas Brandon.
"Aku rasa kita tidak bisa menemukan jalan yang tepat." Saut Sasha sambil menunjukkan layar ponselnya pada Brandon. "Sepertinya mereka memblokir perangkat ponsel kita, navigasi, jaringan, server, semuanya. Aku tidak bisa mengakses satelit untuk melacak jalan raya disekitar sini. Harapan kita hanya pada maps ditablet itu."
"Apa?!" Sebuah sentakkan keras dari suara Brandon menggema dalam ruangan dalam mobil itu.
"Mereka berhasil meretas sistem ponsel tim kita dan memblok semua akses internetnya." Lanjut Sasha.
"Tunggu, bagaimana kau tau?" Brandon menatap tajam pada Sasha.
Dengan malas, Sasha pun menscroll kebawah layar ponselnya dan menunjukan sebuah pesan peringatan kalau sistem ponselnya sudah terblokir oleh pemilik akun bernama @Lucas9999.
Tunggu, Lucas mencantumkan nama akunnya pada pesan peringatan yang ia kirim?
"Owh, jadi si hacker amatir itu ingin pamer rupanya." Brandon mendengus sebal. Ia sangat geram hingga membuat wajahnya merah membara karna menahan amarah.
Sedangkan dimobilnya, Lucas sedang tertawa terbahak-bahak saat aksi jahilnya dapat berjalan dengan mulus.
"Biarkan mereka tahu kemampuan kita. Selama ini mereka selalu saja meremehkan kita bukan? Apalagi si ketua sombong itu. Hahahahah, aduh sakit perutku." Mulut Lucas terbuka lebar saat menyalurkan tawa geli yang menggelegar dalam mobil itu. Lengannya tidak berhenti memukul-mukul jok mobil, dan kadang pintu mobil pun tidak luput dari tawa gelinya.
" Hahahaha, aku bisa membayangkan bagaimana ekspresi si Brandon itu sekarang, hahahahah."
"Cukup, Lucas, aku lelah tertawa." Saut Merina sembari menyerka air mata disudut bibirnya karna terlalu banyak tertawa.
"Untung saja Aiden bisa membajak perangkat ponsel mereka dan mengirimkan alamat IPnya padaku, dan sekarang mereka tidak bisa memasuki jaringan mana pun karna aku sudah memblokir perangkat mereka. Hahahahahha..." Lagi dan lagi gemaan dari suara tawa si jahil Lucas itu menggema didalam mobil sedang yang ditumpanginya.
Dreett
Lucas terlonjak kaget saat merasakan getaran dipahanya yang disebabkan oleh adanya notifikasi masuk pada tabletnya.
"Owh, mereka tepat didepan kita!" Seru Lucas.
"Bagus. Lucas cari jalan menuju Beverly hills. Kita akan ajak mereka untuk berputar-putar." Bastian menyeringai.
"Beberapa meter di depan kita." Lucas kembali meneliti titik merah dalam layar tabletnya yang sedang bergerak dengan sangat kencang.
"Itu mereka!" Pekik Mike saat melihat sebuah mobil sedan hitam sedang dikendarai oleh seorang supir yang bukan lain adalah anggota tim Brandon.
"Mereka akan memutar balik, seratus meter dibelakang kita ada persimpangan." Seru Lucas.
"Lucas, cari jalanan yang cukup padat. Mike aku ingin kau melakukan atraksimu." Bastian menepuk pada Mike untuk memberikan sebuah kode.
"Aktraksi?" Kening Alesha berkerut. Atraksi apa yang Bastian maksud?
"Kencangkan sabuk pengaman kalian, dan jangan ganggu konsentrasi Mike!" Perintah Bastian.
"Apa?!" Pekik Alesha sembari cepat-cepat menuruti perintah ketuanya itu.
"Mereka sudah berputar, dan waw, mereka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dibelakang kita. Mike, sekarang, Mike! Tancap gasnya!!" Seru Lucas dengan heboh.
Tancapan gas yang Mike lakukan membuat kecepatan mobil itu naik dengan sangat signifikan. Putaran keempat roda ban melesat mengabsen setiap inchi dari jalan raya yang padat itu. Lengan Mike begitu terampil membelokkan setir. Kakinya sibuk dibawah, sorot matanya begitu tajam memfokuskan irisnya pada jalan raya yang menjadi lokasi pacu. Dibelakang, satu mobil sedan lain juga tidak mau kalah keterampilan dalam melesat dan melewati tiap-tiap mobil yang berlalu lalang membelah celah jalan.
Si pengejar kian merapatkan jaraknya dengan yang dikejar. Sedangkan yang dikejar semakin memberi peluang untuk si pengejar agar dapat lebih mendekat.
"Bagus, tahan kecepatan, Mike, biarkan mereka menghampiri kita." Ucap Lucas yang masih terpaku pada layar tabletnya.
Mobil sedan yang dikendarai oleh anggota tim Brandon pun akhirnya mendapatkan celah jalan agar bisa melaju berdampingan dengan mobil yang sedari tadi menjadi buruannya.
Lucas pun melayangkan seringai meledek pada anggota tim Brandon saat mobil mereka saling bersejajar.
"Mike, lampu merah di depan, masih ada lima detik untuk kita dapat menerobosnya." Ucap Lucas.
"Lima detik?" Pekik Alesha yang sedari tadi sudah menggantungkan lengannya pada pegangan mobil yang nempel didinding mobil. Gadis itu sudah takut setengah mati, ia tidak biasa dibawa kebut-kebuttan sepeti ini.
"Mike.." Panggil Merina yang tidak kalah takutnya dengan Alesha.
"Tiga detik, Mike bersiap lah." Ucap Lucas.
Mike menahan kecepatan mobilnya agar dapat menjebak anggota tim Brandon di persimpangan lampu merah nanti. Ia sengaja melakukan perintah Bastian itu agar mobilnya dapat langsung berpacu di persimpangan lampu merah secara mendadak, sedangkan mobil anggota tim Brandon terpaksa berhenti karna ya sudah jelas, lampu di persimpangan jalan itu sudah menyala merah.
"Sekarang, Mike!!"
"Mikeeee!!!!" Teriak Alesha, Stella, dan Merina secara bersamaan ketika tubuh mereka terhempas kebelakang dan membentur jok karna gaya dorongan kecepatan mobil mendadak naik.
"Yaps, kerja bagus, Mike, tepat waktu!! Yeeeee...." Heboh Lucas. Matanya terbelalak menunjukkan berbinar ria dan kepalanya juga ikut bergerak kekiri dan kanan. "Waaawww, Mike!! Gilla, kau!! Hebat, Mike!!"
"Shit, damn it!!" Umpat anggota tim Brandon yang mengemudikan mobil. Ia terpaksa dan telat menancapkan gas untuk dapat menyusul musuhnya, dan sekarang mobil yang ia dan yang lain tumpangi terpaksa harus berhenti tepat digaris putih pembatas di persimpangan lampu merah.
Di apartemen, agent SIO yang sedari tadi memantau pergerakan dua mobil yang dikendarai oleh Mike dan salah satu anggota tim Brandon itu tiba-tiba saja berdecak kagum.
"Waw, mereka benar-benar mengesankan. Jack, Eve, kalian sama-sama memiliki anggota tim yang siap jika disuruh untuk berpacu dijalanan." Puji agent SIO itu.
Jacob tersenyum saat mendengar ucapan kawannya itu. Sekarang, ia tahu apa yang Bastian rencanakan. Menahan kecepatan mobil untuk menjebak anggota tim Brandon, dan menaikkan gas diwaktu yang tepat saat di persimpangan lampu merah.
Sedangkan Eve, ia tahu saat ini anggota timnya sudah dikalahkan oleh anggota tim Jacob, namun waktu belum selesai, jadi masih banyak harapan untuk memutar balikkan keadaan.
"Selanjutnya apa, Bas?" Tanya Mike yang mulai menormalkan kembali kecepatan mobilnya.
"Kita harus mendapatkan petunjuk selanjutnya agar kita bisa tahu lokasi akurat memori itu." Ucap Bastian.
"Sandi, sandinya, Bas! Kita harus mendapatkan sandi agar bisa mengakses kartunya memorinya." Seru Alesha.
" Tapi Mr. Thomson tidak memberitahukan pada kita cara untuk mendapatkan sandinya." Balas Mike.
Mendengar ucapan itu, seketika suasana didalam mobil berubah menjadi hening. Benar saja apa yang Mike katakan. Sebelumnya Mr. Thomson hanya memberitahu kalau setiap anggota tim harus mencari tahu sandi yang difungsikan untuk mengakses kartu memorinya, tetapi bagaimana cara mendapatkan sandi itu, Mr. Thomson tidak memberitahunya.
"Ini sebuah permainan!" Seru Alesha memecah kebingungan yang selama beberapa detik tadi memasuki ruang dalam mobil. "Mr. Thomson pasti sengaja tidak memberitahukan pada kita, tetapi ia pasti sudah memberikan cluenya pada kita."
Lalu seruan Alesha pun dilanjutkan oleh Merina. "Kau benar! Coba saja pikirkan. Mr. Thomson tidak akan mungkin menyuruh kita untuk mencari sandi itu, sedangkan ia sendiri tidak memberitahukan cara untuk mendapatkannya. Pasti ada clue yang sudah Mr. Thomson ucapkan secara tidak kita sadari."
"Tapi apa cluenya?" Tanya Lucas.
"Coba kalian ingat setiap perkataan Mr. Thomson." Usul Stella.