
Perjalanan dua tahun lebih sudah mengubah kehidupan dua makhluk berlawan jenis yang bukan lain adalah Alesha dan Jacob. Sejak awal, Alesha merasa biasa saja. Tapi berbeda dengan Jacob, ia mulai menyadari perasaannya sejak tiga bulan pertama Alesha menjadi bagian dari WOSA.
Tiga bulan pertama itulah yang membuat Jacob menemukan dunia barunya, meski harus melibatkan drama dan tragedi, dimulai dari datangnya Levin, kemudian Alesha yang tertembak lalu sekarat, lalu Alesha yang sekarat kembali karna keracunan, dan masih banyak lagi. Kejadian-kejadian itu memberikan bukti besar untuk Jacob jika ia berusaha dan sebisa mungkin untuk menyelamatkan dan menjaga Alesha dari bahaya yang waktu itu membidiki gadis tercintanya itu. Jacob tahu betul bagaimana perasaannya dibulan ketiga Alesha menjadi murid WOSA, bahkan semakin berjalannya waktu, dibulan-bulan berikutnya Jacob malah semakin jatuh hati pada sang mojang cantik itu.
Jacob tidak mau menyangkal dan membohongi dirinya sendiri, ia sangat mencintai Alesha dan akan selalu menjaga gadisnya itu. Apapun resikonya, Jacob siap hadapi asalkan gadisnya tetap aman dalam dekapannya.
Dan kini, tepatnya hari ini, hari dimana Jacob akan menyatakan cinta murninya pada Alesha dihadapan keluarga, dan rekan terdekatnya, juga seorang ustadz yang dulu menjadi guru mengaji Alesha sewaktu Alesha kecil dan sebelum Alesha berangkat menuju pulau dimana WOSA berada.
Di dalam kamarnya, Jacob sudah bersiap-siap. Ia terdiam sembari menatap dirinya dicermin. Hari ini akan menjadi hari bersejarah sebelum hari bersejarah yang sesungguhnya tiba. Prosesi lamaran hanya tinggal menghitung menit lagi.
Begitu pula Alesha, ia tidak sadar jika satu minggu sudah berlalu sejak pertemuan pertamanya dengan Jacob setelah tiga bulan mereka melewati masa LDR yang membuat komunikasi mereka terhambat.
Ia baru bekerja dua hari di kantor SIO, ia juga masih belum mengenal semua pegawai lama SIO yang dipindah kerjakan ke Bandung, namun sekarang para pegawai SIO itu sudah akan menghadiri acara lamarannya bersama Jacob yang masih tetap menyandang status sebagai agent terbaik SIO, meski sebenarnya Jacob sudah tidak terikat kontrak kerja lagi dengan SIO, kecuali kontrak kerja antara perusahaan milik ibunda Jacob dengan SIO, Jacob lah yang memiliki peran penting agar kerjasama antar perusahaan itu tetap berjalan baik.
Saat ini, Alesha sudah memakai baju dress panjang hadiah dari Jacob satu tahun yang lalu, dengan balutan kerudung putih tulang yang sengaja dibentuk berbelit-belit namun terlihat simpel, Alesha nampak cantik dan sempurna selayak bidadari sholehah yang sedang menunggu seorang pria untuk meminta izin pada kakenya agar dapat meminangnya pada hari yang sudah ditetapkan.
***
Dentingan waktu sudah mencapai alokasi pas untuk dimulainya acara semi sakral bagi dua calon mempelai.
Tamu-tamu undangan yang berjumlah tidak lebih dari lima puluh orang yang diantaranya melibatkan beberapa pegawai SIO, rekan terdekat, juga kedelapan anak asuh Jacob, sudah hadir dan berada dibangku masing-masing, menunggu sang pemilik acara untuk memulai acaranya.
Acara lamaran itu sendiri akan berlangsung di Sky Garden yang terdapat di apartemen mewah milik ibunda Jacob itu, belum lagi acara yang dimulai pada malam hari, alam pun seolah memberikan dukungan. Dari atas ketinggian apartemen berlantai empat puluh itu, background gelap dengan taburan gliter mungil yang berkerlap-kerlip diatas langit mampu mencuci mata para hadirin yang bergabung dalam momen haru bahagia yang beberapa saat lagi akan berlangsung.
"Wow, kau terlihat sangat cantik, Alesha," Puji Levin yang entah sejak kapan sudah berada di dalam kamar Alesha bersama seorang wanita asing yang perutnya terlihat bulat besar.
"Iya dong, siapa dulu yang mendandaninya," Balas Merina begitu percaya diri.
"Kau yang mendandaninya?" Tanya Levin pada Merina.
"Ya, Nakyung dan Maudy yang mengukir bentuk kerudung Alesha," Jawab Merina, santai.
"Kerja bagus, Alesha nampak sangat cantik sekarang," Ucapan Levin barusan membuat Alesha tersipu malu.
"Owh ya, Al perkenalkan, ini Tessa, istriku," Levin memundurkan kakinya beberapa langkah untuk membiarkan istrinya berkenalan dengan Alesha.
"Hai, Alesha, aku Tessa, istri Levin," Ucap Tessa begitu lembut bersama senyum ramahnya yang terlihat begitu manis.
Alesha jadi berpikir, tidak salah Levin menjadikan Tessa sebagai istrinya, Tessa memiliki paras yang sangat cantik, juga sepertinya dia juga memiliki pribadi yang ramah dan santun.
"Aku, Alesha, adik angkat Mr. Levin," Balas Alesha yang tidak mau kalah memberikan senyum manisnya. "Mr. Levin, sejak kapan kau tiba?" Lanjut Alesha.
"kemarin malam," Jawab Levin, santai.
"Argh!!" Tiba-tiba saja, Tessa meremas bajunya dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Dengan sigap Levin pun langsung menahan tubuh istrinya itu agar tidak terjatuh, begitu pula Alesha, dan Merina yang juga ikut untuk menahan tubuh Tessa.
"Cukup, cukup, aku tidak apa-apa," Ucap Tessa sembari tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja, tadi aku meringgis karna menahan sakit dari tendangan bayiku."
Tessa kembali menegakkan tubuhnya, namun ia masih meremas bajunya juga lengan Levin, suaminya. Bayi mungil dalam perut Tessa sedang beraksi saat ini.
"Kau yakin mau ikut acaranya? Aku tidak mau melihatmu menahan sakit dari tendangan bayi kita, Tessa," Ucap Levin penuh kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja, Levin, ini hal yang biasa, tenang saja," Balas Tessa yang menyikapi kekhawatiran Levin dengan tawa kecil.
"Kau yakin, Tessa?" Levin masih mengkhawatirkan keadaan istrinya itu.
"Aku baik-baik saja, kau tidak usah panik, Levin," Balas Tessa.
"Mr. Levin, kau akan segera memiliki anak? Ya ampun, selamat kalau begitu, semoga nanti persalinannya lancar dan tidak mengalami masalah apapun itu," Ucap Alesha begitu antusias. Kebahagiaannya hari ini semakin bertambah saat tahu jika Levin akan segera memiliki anak dari kehamilan Tessa saat ini.
"Iya, terima kasih, Alesha," Balas Levin sembari tersenyum ramah.
"Berapa usia kandungannya? Boleh aku menyentuhnya?"
"Tentu saja, Alesha silahkan," Balas Tessa. "Usia kehamilanku sudah menginjak tujuh bulan," Lanjutnya.
Perlahan, telapak tangan Alesha pun menyentuh permukaan perut buncit Tessa yang dilapisi oleh gaun khusus ibu hamil. Alesha meresapi setiap sentuhan yang ia berikan pada perut Tessa yang berbentuk bulat sempurna selayaknya wanita hamil pada umumnya.
Alesha kembali berpikir, saat ini ia akan dilamar oleh Jacob, dan minggu depan adalah akad pernihakan mereka, mungkin saja beberapa bulan lagi Alesha akan merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita hamil seperti yang sedang Tessa alami sekarang.
Senyuman yang memperlihatkan deretan gigi rapinya menandakan jika Alesha begitu terkesima dengan bentuk bulat sedikit lonjong pada perut Tessa. Alesha ingin merasakannya, ia ingin menjadi wanita hamil setelah ia menikah nanti. Menikmati setiap saatnya bersama sang jabang bayi. Mengajak bicara dan menerima tendangan sakit yang membahagiakan.
"Bagaimana rasanya jadi wanita hamil?" Ceplos Alesha begitu saja.
Levin, Tessa, dan Merina langsung terkejut saat mendengar pertanyaan Alesha itu.
"Kebahagiaan yang begitu besar akan kau rasakan ketika kau menjaga calon anakmu dalam rahimmu, Alesha. Kau akan segera merasakannya," Jawab Tessa sembari menyentuh bahu Alesha.
"Aku tidak mau berpikir kalau Alesha ingin cepat-cepat hamil," Gumam Merina.
"Mintalah pada Jacob setelah kalian menikah nanti, dengan senang hati dia pasti akan membantu untuk membuatmu hamil, Alesha," Lanjut Levin bersamaan dengan kekehannya.
Alesha langsung tertunduk malu saat mendengar ucapan Levin. Tentu saja Alesha tahu kemana mengarahnya ucapan itu.
"Argh!!"
"Ups!!"
Alesha dan Tessa sama-sama terkejut karna merasakan kembali tendangan dari si bayi yang berada dalam rahim Tessa.
Levin kembali sigap menahan tubuhnya istrinya, ia takut jika Tessa akan kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Apa dia selalu seperti itu? Setiap saat menendangi perut," Tanya Alesha.
"Tidak, hanya kadang-kadang saja, dan saat ini dia sedang aktif, maka dari itu dia terus menendangi perutku," Jawab Tessa.
Sejenak ruangan pun hening, hanya Tessa saja yang beberapa kali meremas lengan Levin karna merasakan nyeri diperutnya akibat tendangan sang Levin Junior.
Dan setelah beberapa saat berlalu, suasana kembali cair karna Levin yang membuka pertanyaan untuk Alesha.
"Kau masih memakai gelang itu?" Tanya Levin sembari menunjuk pada gelang pemberiannya yang masih setia melingkari pergelangan tangan kanan Alesha.
"Aku tidak pernah melepas ini, kau sendirikan yang bilang kalau gelang ini adalah tanda kalau aku adalah adik juga keluargamu, jadi aku tidak ingin melepaskannya," Jawab Alesha.
"Tidak.." Alesha menggelengkan kepalanya. "Mr. Jacob tidak bermasalah dengan gelang ini, buktinya dia tetap membiarkan aku memakai gelang ini."
"Baiklah, syukur kalau begitu." Levin cukup senang dengan apa yang Alesha katakan barusan. Ia masih menyayangi Alesha, namun dengan rasa sayang yang berbeda, Alesha adalah adiknya, dan akan selalu menjadi seperti itu.
"Alesha, ayo, kita harus ke atas sekarang!" Ucap Nakyung yang tiba-tiba muncul. "Kita lewat private lift, Mr. Jacob dan yang lain sudah di atas dan menunggumu." Lirikan mata Nakyung langsung berubah ketika menyadari seorang pria yang berada disebelah Alesha. "Hai, Mr. Levin, hai Tessa."
"Hai, Nakyung.." Sapa balik Tessa dan Levin secara bersamaan.
***
Di atas ketinggian, tepatnya di sky garden yang menjadi salah satu fasilitas di apartemen mewah itu, acara pun dimulai dengan diawali doa bersama supaya semua yang terjadi pada malam ini berjalan dengan lancar.
Dihadapan kakek Alesha, kini Jacob sudah menyiapkan kata-katanya untuk meminta izin agar ia dapat merealisasikan niat sucinya untuk mempersunting Alesha dipekan depan.
Setelah ada sedikit pembukaan dan pembacaan yang diucapkan oleh ustadz Fariz yang bukan lain adalah guru mengaji Alesha dan salah satu orang yang cukup dekat dengan Alesha, kini Jacob lah yang mesti mengambil alih acara.
Dilihatnya kakek Alesha, dan Alesha yang juga yang sudah menunggu untaian kata yang akan menghantarkan Jacob pada niat utamanya hari ini.
"Kakek, saya Jacob Ridle mau meminta izin sama kakek supaya kakek mau merestui hubungan Alesha dengan Jacob kejenjang selanjutnya dengan menjadi pasangan suami istri. Jacob janji untuk akan terus mencintai, menyayangi, dan menjaga Alesha sekuat dan sebisa Jacob, Jacob akan terus berusaha untuk bisa memberikan kebahagiaan lahir dan batin kepada Alesha, menjadi suami dan imam yang baik yang bisa membimbing Alesha menuju jalan kebenaran, memimpin rumah tangga kami dan menjadi contoh yang baik untuk anak-anak kami kelak. Tolong izinkan Jacob melaksanakan niat baik Jacob untuk menikahi cucu kakek yang bernama Alesha Sanum Malaika. Jacob sangat mencintai cucu kakek itu, Jacob rela dan siap mengambil resiko apapun itu, asalkan kakek memberikan kesempatan untuk Jacob agar bisa menjadi sosok pria terakhir yang bisa memiliki Alesha sepenuhnya."
Tetesan air mata tak mampu lagi Alesha tahan kala mendengar ucapan dari pria yang dulu menjadi mentornya itu. Alesha benar-benar tidak menyangka ia akan dilamar oleh Jacob, pria yang menjadi guru dan pembimbingnya saat ia masih pendidikan di WOSA waktu itu.
Alesha begitu bersyukur bisa mendapatkan pria sehebat dan sekuat Jacob. Dimana pun Alesha berada dan apapun kondisinya, ia selalu merasa nyaman dan aman karna ada Jacob disisinya yang selalu bersiap siaga menjaga dan menghiburnya.
"Apa yang akan kamu lakukan jika Alesha bersalah? Dan apa yang akan kamu lakukan jika kamu melakukan kesalahan terhadap Alesha?" Tanya balik kakek Alesha.
"Pertama, saya akan memaafkan terlebih dahulu kesalahan Alesha, baru setelah itu secara pelan-pelan saya akan memberi pengarahan pada Alesha tentang mana yang baik dan benar, kedua, jika saya melakukan kesalahan terhadap Alesha, saya akan meminta maaf dengan sepenuh hati dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama." Jawab Jacob dengan tenang.
"Apa yang akan kamu lakukan agar membuat saya yakin untuk menyerahkan cucu saya pada kamu?" Tanya kakek Alesha lagi.
"Berikan saya kesempatan itu, saya tidak bisa membuktikannya kalau kakek tidak memberikan kesempatan untuk saya."
Sebenarnya kakek Alesha bisa saja langsung menerima lamaran Jacob itu, namun ia hanya ingin memastikan jika cucunya itu benar-benar mendapatkan pria yang terbaik. Kakek Alesha tidak mau asal menerima lelaki yang meminta cucunya, namun kakek Alesha juga merasa jika Jacob memanglah pria yang tepat untuk cucunya.
"Kakek tidak mau asal menikahkan Alesha dengan sembarang pria. Tapi sekarang, kakek rasa sudah cukup untuk kakek mendampingi cucu kakek ini," Kakek Alesha menepuk pelan bahu cucunya itu. "Semua keputusan ada pada Alesha sekarang karna kakek sendiri sudah memutuskan untuk mempercayakan kehidupan Alesha yang selanjutnya padamu."
Semua yang hadir dalam acara itu seolah ikut larut dalam momen semi sakral yang menentukan bagaimana keberlanjutan hubungan antara Jacob dan Alesha.
Senyum menawan Jacob pun muncul dan menjadi alat untuknya menunjukkan rasa bahagia dan bersyukur. Akhirnya, kakek Alesha sudah membukakan jalan yang besar lagi untuk Jacob dapat meraih dan memiliki Alesha dalam hubungan yang sah, baik secara agama atau pun negara.
Kini tatapan Jacob beralih pada Alesha. Memandang penuh suka dan cinta.
"Alesha Sanum Malaika, aku, Jacob Ridle berjanji akan selalu mencintai dan menjagamu, bertanggung jawab dan mengabdikan diri sebagai suami dan contoh yang baik untuk keluarga kita nanti. Mengukir sisa kehidupan bersama-sama, melewati satu masa suka dan duka, saling berpegangan dan mengasihi sampai maut menjarakki hubungan kita, dan kelak kita akan bersatu kembali di tempat terbaik nanti. Maka dari itu, bersediakah kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku?"
Alesha terbius oleh ucapan Jacob barusan. Air mata semakin menghujani wajah Alesha yang nampak lebih ayu malam ini.
"I-iya, aku bersedia untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu," Balasan itu sangat ringan terucap dari dalam mulut Alesha. Ini baru prosesi lamaran, bagaimana saat pernikahan nanti?
Jacob menghembuskan napasnya dengan sangat tenang. Hatinya seperti terlepas dari beban-beban yang begitu memberatkan. Alesha sudah menerimanya, dan Jacob berjanji untuk tidak akan pernah berhenti berusaha agar bisa menjadi sosok pria dan suami yang bisa membuat Alesha merasa bangga.
Kini, proses serah terima lamaran sudah selesai dan memberikan hasil yang sangat amat membahagiakan hati semua orang yang hadir dalam acara itu, terkhusus untuk Jacob dan Alesha. Lalu sekarang adalah bagian untuk acara selanjutnya dimulai. Acara ini pun menjadi yang paling penting juga inti utama untuk Jacob dapat menikahi Alesha minggu depan.
Dengan ketad kuat, besar, dan bulat, Jacob bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri ibundanya. Tubuh Jacob tertunduk dengan lutut yang menjadi tumpuannya dilantai.
Jacob menghela dan menghembuskan napasnya sekali lagi, baru setalah itu, ia pun mrngangkat wajahnya dan menatap mata ibunya.
"Ibu, Jacob sangat mencintai Alesha, Jacob mendapatkan kehidupan baru yang jauh lebih baik bersama Alesha, Jacob ingin membangun rumah tangga dengan Alesha, Jacob benar-benar mendambakan sosok Alesha agar bisa menjadi pendamping terakhir Jacob disisa umur Jacob. Maka dari itu, tolong izinkan Jacob untuk mengambil keputusan besar ini. Jacob tahu konsekuensi apa yang mesti Jacob terima jika Jacob ingin menikah Alesha, dan Jacob tidak ragu dengan keputusan dan konsekuensinya, Jacob sudah sangat yakin, tekad Jacob sudah besarnya dan bulat, Bu, tolong izinkan Jacob untuk membuka lembaran baru dijalan yang selama ini Alesha tapaki."
Laura menangis saat mendengar ucapan anak lelaki satu-satunya itu. Sebenarnya berat untuk ia membiarkan Jacob mengikuti apa yang Alesha yakini selama ini, namun Laura harus ikhlas demi kebahagiaan anaknya itu.
Sembari mengusap air mata yang ada dipipinya, Laura pun membalas permintaan Jacob itu. "Ikutilah apa yang menjadi keyakinan Alesha selama ini. Ibu sudah merestui hubungan kalian, juga keputusanmu itu, Jack. Ibu harap kau tidak akan pernah kecewa setelah menerima konsekuensinya, semoga kelak rumah tangga kalian akan berjalan baik, dan kalian yang akan selalu bersama dalam segala situasi dan kondisi."
"Terima kasih, Ibu," Jacob langsung bangkit lalu memeluk erat tubuh ibunya itu.
Maaf karna ibu masih belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu, Jack, tapi ibu akan melakukan apapun agar bisa membuat anak ibu bahagia........ Ucap Laura dalam hatinya. Tangannya yang sudah sedikit berkeriput pun membalas pelukan Jacob dengan memberikan elusan lembut pada punggung anak lelaki itu.
"Terima kasih banyak, Bu atas restunya. Jacob akan membuka lembaran kehidupan Jacob saat ini juga," Lanjut Jacob seraya melepaskan pelukannya pada sang ibunda.
Laura mengangguk pelan. Ia ikhlas, ia harus ikhlas.
Setelah mendapatkan restu dari ibunya, kemudian Jacob membalikkan tubuhnya dan mengangguk kecil pada ustadz Fariz untuk memberikan isyarat jika acara selanjutnya akan berlangsung saat ini juga.
Alesha yang masih belum mengerti dengan anggukan yang diisyaratkan oleh Jacob pada ustadz Fariz hanya bisa terdiam sembari celingak-celinguk, menerka apa yang dimaksudkan oleh dua lelaki itu.
Sejurus kemudian, Alesha mendapat Jacob yang kembali duduk dihadapannya sembari tersenyum, lalu setelah itu, ustadz Fariz lah mengambil tempat untuk duduk tepat disebelah Alesha.
"Siap?" Tahta ustadz Fariz pada Jacob.
"Sangat," Jawab Jacob dengan anggukan pasti.
"Huftt, kita mulai ya. Kamu bisa ikutin apa yang saya ucapkan, saya yang akan menuntun kamu dengan perlahan."
Tunggu.
Ucapan ustadz Fariz barusan membuat Alesha dilanda kebingungan besar. Apa maksudnya? Siap untuk apa? Dan mengikuti ucapan apa?
Sepersekian detik setelahnya, Alesha pun mendengar ustadz Fariz yang menggumamkan kalimat ta'audz, dan basmalah, lalu dilanjutkan dengan membaca salah satu surat pendek Al-Quran.
"Ikutin ucapan saya sekarang."
Mulailah ustadz Fariz mengucapkan dua kalimat suci umat islam dengan cara perlahan yang sedikit demi sedikit dituturi oleh mulut Jacob. Tatapan penuh keseriusan Jacob pada sang ustadz menunjukkan sebuah keyakinan besar akan bacaan syahadat yang ia ucapkan dengan bimbingan ustadz Fariz.
Alesha mematung, ekspresi datar tidak percaya tempampang jelas pada wajahnya ketika menyaksikan keislaman sang calon suami yang menurutnya sangat mendadak.
Jacob sendiri langsung mengulang bacaan syahadatnya dengan begitu lancar agar memastikan keresmiannya untuk menjadi seorang muslim setelah dibimbing oleh ustadz Fariz.
"Alhamdulillah, selamat, kamu muslim sekarang," Ucap ustadz Fariz sembari menepuk bahu Jacob dan tersenyum ramah.
Akhirnya, halangan terbesar pun sudah diruntuhkan. Jacob sudah resmi menjadi seorang muslim sekarang, langkahnya sudah sangat ringan, satu tapak lagi, maka setelah itu Alesha akan langsung menjadi miliknya.