
Satu masa kehidupan telah ditentukan waktunya. Jikalau ada hal yang tertinggal, maka itu bisa menjadi pelajaran untuk masa depan.
Memori yang tlah terkenang dalam goresan cerita merupakan apa yang sudah dilalui bersama-sama. Baik, buruk, suka, duka, awal, dan.........
Sekaranglah akhirnya.
Semua sudah berlalu......
Alesha, Jacob, hingga Alshiba pun hadir sebagai bukti cinta mereka.
Patutlah jika sebuah kisah diakhiri. Karna tidak ada yang abadi di dunia ini.
Namun.....
Ini bukanlah akhir bagi mereka, dan sang bukti cinta.
Tetapi masa tetaplah masa, tidak akan pernah berhenti untuk selamanya. Berjalan mengikuti alur kehidupan hingga hari akhir tiba.
Begitu pun bagi kisah mereka berdua.
Rumah tangga yang sempat diawali oleh intrik, kini dapat kembali berjalan harmonis.
Pengabdian sang istri yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi, serta kasih juga cinta sang suami yang tak pernah lekang akan selalu menjadi bagian dari cerita ini.
...******...
Waktu berlalu.......
Langit biru yang nampak cerah, semliwir angin menghembuskan kesejukan.
Diatas tanah merah, kini Jacob berdiri dengan keranjang yang berisi kelopak-kelopak bunga.
Masih basah kulit wajah pria beranak satu itu. Bekas-bekas air mata masih menetap, membuat garisan kecil yang memanjang dari pinggiran kelopak hingga ujung pipi, dan tulang rahang.
"Cepat sekali ya, sayang...." Jacob tersenyum kecil. Arah mata yang terpaku pada gundukkan tanah, juga nisan yang bertuliskan nama lengkap istrinya.
Tapi sebentar.
Keanehan pun muncul dalam diri Jacob. Pria itu merasa seolah ia sedang berbicara. Ia mendengar suaranya sendiri barusan.
Sorot bingung, kening yang berkerut. Jacob mengangkat keranjang yang berisi potongan kelopak bunga itu.
"Jadi, kau sudah meninggal, Alesha?" Gumamnya.
"Aku tidak percaya ini," Jacob menggelengkan kepalanya sembari menatap rumah terakhir bagi istrinya untuk beristirahat selama-lamanya.
Air mata pun kembali menggenang, dan mulai bercucuran. Namun raut Jacob tetap datar. Meski hatinya terasa dicambuk untuk menerima kenyataan, ia tetap berdiri tegak tanpa ekspresi. Seolah ia sedang menyaksikan kenyataan yang tidak nyata.
"Alesha.... Sayang.... Kau di bawah sana, Lil Ale?" Jacob berlutut, mengusapi permukaan tanah makam istri tercintanya.
"Kau meninggalkanku, Alesha?" Jacob bergumam selayaknya orang yang kehilangan akal.
"Ini sangat menyakitkan, sayang. Kembalilah...."
Jacob kebingungan, sungguh ia merasa bingung, tetapi air mata terus bercucuran.
"Apa yang aku ucapkan?" Segera Jacob menyerka air matanya. "Kau masih hidup. Aku ingat, aku baru saja menciummu tadi malam, sayang."
"Apa yang aku lakukan di sini?" Jacob bangkit. "Ya ampun! Hiks, tidak aku tidak menangis! Alesha... " Jacob melirik ke arah makam istrinya. Air mata kian deras menghujani wajahnya. Namun hati Jacob tetap menolak, Alesha masih hidup, dan akan selalu hidup dalam hatinya.
"Jangan pergi, Alesha...." Lirih Jacob. "Alshiba membutuhkanmu, sayang..."
"Tuan...."
Jacob melirik pada pria yang barusan memanggilnya.
"Ayo kita pulang sekarang, sudah berjam-jam Tuan di sini," Ucap Taylor.
"Pulang? Alesha?" Jacob kembali melirik pada tanah makam.
"Nona sudah tenang, Tuan, ikhlaskan dia," Tampak Taylor yang meneteskan air mata.
"TIDAK!!" Tiba-tiba saja Jacob berteriak. "Alesha belum meninggal..." Jacob menggelengkan kepalanya. "Aku baru saja menciumnya tadi malam."
"Dia masih tersenyum padaku, dia tertidur dalam pelukanku, Taylor."
"Tapi Nona sudah meninggal, Tuan, hiks," Taylor mulai menangis.
"HAPUS AIR MATAMU!! ALESHA BELUM MENINGGAL!!!" Jacob mendorong keras tubuh orang kepercayaannya itu.
"Alesha...." Jacob berlutut. "Alesha, ini tidak benar! Kau masih hidup, sayang!"
Dada Jacob naik turun, napasnya mulai tidak beraturan, air matanya kembali menghujan deras.
"Alesha, aku tahu ini tidak benar, tolong jangan permainkan aku!"
"Tuan, ayo, hiks," Paksa Taylor sembari berusaha untuk mengangkat tubuh majikannya.
"Alesha belum meninggal! Dia masih bersamaku semalam! Dia masih tertidur dalam pelukanku, tapi kenapa sekarang dia ada di dalam tanah ini? Keluarkan dia!! Alesha baik-baik saja, dia tidak sakit, dia tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan meninggal!!!" Pekik Jacob.
"ALESHA..." Tetapi Jacob terus meronta, dan bahkan mencoba untuk menggali tanah makam dengan tangannya sendiri.
"Tuan, jangan, Tuan!!"
"Alesha, tidak mungkin! Kau belum meninggal, kembalilah........ Alshiba membutuhkanmu, sayang, hiks hiks."
"Tuan, jangan lakukan itu!!" Taylor meraih bahu Jacob, dan menariknya ke belakang.
"Ikhlaskan Nona, Tuan, hiks, Nona akan sedih jika Tuan seperti ini, hiks," Taylor mencengkram kedua bahu Jacob.
"Tidak...." Jacob menggelengkan kepalanya. "Apa yang terjadi? Kenapa Alesha sudah meninggal?" Pekik Jacob.
"Tuan.... Tuan... TUAN!!!" Taylor menepuki pipi Jacob yang tiba-tiba saja ambruk, dan pingsan.
...*****...
Waktu pun berubah........
Kini ruang kamar yang selalu menjadi tempat Jacob, dan istrinya meraih kebahagiaan terasa sepi sunyi, dingin kosong, seperti tidak ada kehidupan yang tinggal dalam ruangan itu.
One Last Time.......
Jacob berdiri di tepian kasur besarnya. Ia termenung, menatap lurus, dan kosong pada sprey lembut yang selalu menjadi saksi tersalurnya cinta juga kasih sayang.
Ruang kamar itu terasa gelap jika saja tidak ada cahaya mentari dari balkon.
Kekosongan benar-benar mematikan suasana. Jantung dari rumah besar itu, yang selalu menebarkan aura cerah ceria, kini telah berpulang. Apalah daya seorang pria yang begitu mencintai kekasihnya, namun kini mesti menerima fakta bahwa kekasihnya tersebut telah tiada.
"Alesha...." Gumam Jacob kala kedua maniknya menangkap sesosok wujud familiar yang sedang membelakanginya di ambang pintu balkon.
Jantung Jacob berdegub kencang, tubuhnya lemas, dan bergetar, namun rasa kepenasaranan yang besar memberikan kekuatan untuk dapat menghampiri sosok yang memiliki tubuh minimalis itu.
Rambut bergelombang yang tergerai rapi, semerbak harum wangi bunga pun timbul, baju dress putih bersih, pancaran aura yang begitu bersinar.
Apa mungkin dia adalah Alesha? Dalam rupa, dan bentuk yang sudah tidak berjasad.
Jacob bergidik, sekujur tubuhnya mendadak merasakan sensasi merinding yang amat sangat.
Dalam jarak kurang dari satu meter, Jacob pun mengintip melalui sebelah sisi wajah wanita yang memiliki bentuk serupa dengan Alesha.
"Alesha...."
Gelombang suara berfrekuensi rendah pun keluar dari dalam mulut Jacob.
"Jack...." Sosok wanita itu memutar tubuhnya sembari berucap sangat lembut.
"Hai..." Senyuman yang begitu indah terpancar dari wajah manis yang selalu memikat hati Jacob. Aura cerah sosok wanita itu semakin bersinar kala senyuman yang diukirnya kian melebar.
"Alesha....." Tatapan Jacob lurus kosong, memandang sang mendiang yang kini tengah mendatanginya.
Sosok yang dipanggil Alesha itu kini beralih dengan menggenggam kedua telapak tangan suaminya. "Iya?" Tatapan bahagia itu, dan suara yang sangat amat lembut membuat Jacob kian luluh.
"Jangan pergi, hiks.." Jacob mulai terisak.
Alesha terdiam. Senyumannya berubah jadi kesedihan.
"Kembalilah...." Mohon Jacob, sangat pelan.
Alesha menggelengkan kepalanya. "Aku akan selalu bersamamu, Jack, juga anak kita, Alshiba," Alesha menyerka air mata suaminya.
"Aku mencintaimu, aku mencintai Alshiba, aku sangat mencintai kalian berdua," Alesha kembali mengukir senyum tipis. "Aku akan selalu bersama kalian."
"Tidak, aku ingin kau kembali...." Jacob semakin lemah, dan pasrah. Apa benar ia sedang berhadapan, dan berkomunikasi langsung dengan roh dari istrinya?
Tapi ini semua seperti tidak nyata untuk Jacob, apa yang ia lihat seolah berbayang, dan tidak begitu jelas.
"Selamat tinggal, aku mencintai kalian berdua," Alesha semakin menyunggingkan senyumnya. "Aku akan sangat merindukanmu, dan akan menunggumu."
Alesha mendekat pada suaminya. "Selamat jalan, Jack."
Setelah itu, senyum indah yang Jacob lihat pada wajah istrinya pun memudar, genggaman tangan pun mulai terasa kosong, dan menghilang.
Alesha berubah menjadi bayangan yang tembus meski Jacob berupaya untuk menyentuhnya beberapa kali.
And for one last time.....
"Aku mencintaimu, Jacob Ridle."
Alesha pun benar-benar menghilang dari hadapan Jacob.
"Alesha..... Alesha kembalilah, aku mohon, hiks. ALESHA!!!!!!" Jacob meraung, menangis tersedu-sedu. Tubuhnya ambruk, berlutut dengan hatinya sudah melebur, dan hancur sehancur-hancurnya.
I will always with you, and i love you till the end........
Alesha Sanum Malaika
*Tamat.