
Taylor langsung menghubungi kantor SIO Bandung untuk meminta izin agar Alesha tidak melanjutkan sisa jam kerjanya dengan alasan Alesha yang tiba-tiba saja jatuh sakit.
Tentunya hal itu Taylor lakukan atas perintah dari Jacob langsung. Awalnya Alesha sempat menolak, dan memaksa untuk kembali bekerja, namun Taylor bersih keras agar Alesha pulang jika tidak ingin terkena amukan Jacob.
Alesha pun langsung menurut seketika setelah mendengar jika suaminya akan mengamuk jika ia tidak pulang. Alesha hanya ingin cari aman, ia sudah tahu bagaimana Jacob jika sudah marah, dan ia sangat takut dengan kemarahan suaminya itu.
Sesampainya di mansion, Taylor langsung mengunci, dan mengurung Nyonya mudanya di dalam kamar.
Alesha tidak dapat berkutik lagi, ia berusaha untuk menghubungi Jacob, tapi pria itu tidak mengangkat panggilan telponnya. Kini Alesha risau, perasaannya mulai tidak enak karna ucapan Adam yang terus terngiang dalam kepalanya.
Sementara itu.....
Dilain tempat, tepatnya disebuah rumah kosan sederhana yang Adam tinggali, terpajang sebuah bingkai berbahan dasar kayu yang dipahat begitu cantik secantik wajah sang sahabat lama yang tercetak jelas dalam kertas foto yang mendiami bingkai tersebut.
Itu adalah foto Alesha ketika ia sedang menjadi karakter dalam pementasan drama yang digarap oleh kelompok teater yang ada di kampus tempat ia berkuliah dulu.
Adam mendapatkan foto tersebut dari akun instagram resmi milik kelompok Teater Alesha.
"Kamu manis banget tau gak sih, Al," Gumam Adam sembari tersenyum kecut. Tatapannya tidak dapat terlepas dari visualisasi wajah Alesha yang diabadikan dalam sebuah kertas licin. "Tapi sayang, kamu udah milik orang lain."
Adam termenung, meratapi nasib yang sedang tidak memihak padanya.
Sejenak, Adam berpikir, sebenarnya apa yang sudah direncanakan oleh Stella?
Ingin sekali Adam menarik kembali ucapannya untuk menolak tawaran Stella karna pada akhirnya ia tetap tidak akan bisa memiliki Alesha. Namun, entah kenapa rasanya tidak rela, dan begitu takut jika nanti ia tiba-tiba saja mendengar kabar buruk tentang Alesha.
Adam tidak mau sampai itu terjadi, ia sungguh mencintai Alesha saat ini.
Brak!!!
Adam terlonjak kaget ketika mendengar suara dobrakan keras. Refleks, tubuhnya pun berputar tiga ratus enam puluh derajat menghadap ke arah pintu.
Bugh!!!
Tiba-tiba saja Adam mendapati pukulan keras dibagian perut, dan membuatnya tersungkur ke belakang hingga nyaris terjatuh.
"Jangan dekati Alesha!!!"
Jacob. Pria itulah yang sudah meninju Adam.
Bughh!!!
Lagi. Emosi Jacob tidak terkontrol saat ini, ia begitu ingin menghabisi pria yang tadi sudah mengajak bicara istrinya di mall.
"Dasar gak tahu diri!!"
Bugh!!!
Jacob memberikan beberapa pukulan keras pada tubuh Adam hingga membuat Adam terbatuk-batuk, dan mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.
Bugh!!!!
"Argh!!" Ringgis Adam saat mulutnya kembali mengeluarkan cairan kental berwarna merah segar.
"Anda taukan kalau Alesha udah nikah sama saya!!" Bentak Jacob penuh amarah. Rahangnya mengeras, wajahnya merah padam, dadanya naik turun seirama dengan hembusan napas bercampur emosi yang bergejolak panas.
"Inget, Adam!! Saya gak akan biarin Anda rebut Alesha!! Saya suaminya, dan saya peringatin sekali lagi!! Jangan ganggu rumah tangga kami, atau kamu bakal tahu akibatnya!!" Jacob menggeram marah tepat dihadapan wajah Adam. "Saya tahu siapa Anda, orang tua, dan keluarga Anda! Saya tau semua tentang Anda, jadi jangan macem macem sama saya!!"
Brak!!!
Adam didorong sangat keras oleh Jacob hingga menghantam tembok, dan membuat satu buah lemari kecil terjatuh.
"Saya gak suka Anda deketin Alesha lagi!! Saya..."
"Jangan bangga, Anda," Potong Adam sembari menahan rasa nyeri yang menyeluruh dalam tubuhnya. "Jauh sebelum Anda kenal sama Alesha, saya udah lebih dulu ukir banyak kenangan manis sama Alesha. Saya cinta pertama Alesha."
Bugh!!
"Argh!!"
Tinjuan keras Jacob kini mendarat tepat pada wajah Adam.
"Jangan bikin saya berniat buat bunuh Anda, Adam!!" Geram Jacob.
Adam menyeringai. "Silahkan, paling nanti Alesha akan membenci Anda."
"CUKUP!!" Jacob mencekik leher Adam. Tatapannya tajam, menyulut kedua mata Adam. Jika saja bisa, ingin rasanya Jacob membunuh Adam saat ini juga, Jacob tidak ingin ada orang yang mengganggu hubungan rumah tangganya bersama Alesha.
"Jangan bermain-main sama saya. Anda gak tahu siapa saya, dan bisa saya pastiin kalau kehidupan Anda gak akan tenteram selagi Anda terus dekatin Alesha!!" Ancam Jacob.
"Huh, emangnya siapa Anda bisa atur hidup saya?" Ledek Adam. Ia menantang balik Jacob kali ini.
"Saya pikir Anda adalah orang pintar, dan memiliki pemahaman yang baik tentang Islam. Tapi kenapa Anda tidak menggunakan itu? Apa hukumnya kalau seorang pria mendekati istri pria lain?" Balas Jacob.
"Anda tidak bisa memaksa saya untuk melupakan Alesha!!" Timpal Adam yang seolah mengalihkan pembicaraan.
"Sadar, Adam!! Alesha udah punya saya!! Dan sebagai suaminya, saya minta supaya Anda melupakan Alesha!! Buang jauh-jauh perasaan cinta itu!! Haram, Adam!! Anda bukan orang bodoh!! Jadi, jangan buat harga diri Anda jatuh karna masih mengejar-ngejar istri orang lain!!!" Tekan Jacob.
"Apa harga diri saya akan jatuh cuman karna mencintai Alesha!!"
"Tentu!!! Cinta memang tidak salah, tapi yang salah adalah Anda membiarkan cinta itu tumbuh pada wanita yang sudah menikah!! Seharusnya Anda melupakan Alesha!!"
Adam bergeming. Tatapannya sulit untuk diartikan, berbeda dengan Jacob yang terus saja menghujani Adam dengan bidikan tajam yang dibarengi oleh aura gelap penuh kebencian, dan kemarahan.
"Alesha sedang hamil anak saya!! Jangan buat pikirannya kacau, dan stress karna Anda terus mengganggunya!!! Ingat! Saya bisa lakuin apapun buat bikin Anda jera!! Jangan bermain-main dengan saya, Adam!!"
Jacob melepaskan cengkramannya dari leher Adam dengan keras juga kasar. Emosinya masih begitu menggebu-gebu, tapi tidak ada gunanya juga ia menghabiskan waktunya di tempat itu lagi. Yang penting ia sudah memperingati, dan memberi sedikit gebrakan pada Adam jika ia tidak suka, malah sangat benci jika ada pria lain, terkhusus Adam mendekati istrinya, Alesha.
Namun baru saja Jacob akan membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan Adam, tiba-tiba saja ekor matanya menangkap sebuah bingkai kayu yang menunjukkan foto istrinya.
"Alesha," Gumam Jacob.
Menyadari arah tatapan Jacob, buru-buru Adam bangkit, dan meraih lalu mendekap erat bingkai foto Alesha.
Otomatis, lirikan mata Jacob pun berubah mengikuti pergerakan lengan Adam yang merebut bungkai foto tersebut.
"Serahin foto itu ke saya!!" Dingin Jacob, namun terasa cukup menakutkan.
Refleks, Adam menggelengkan kepalanya tanda ia menolak. "Enggak!"
Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar setelah mendengar balasan Adam. Dengan terpaksa, kini Jacob melangkah maju, dan langsung memberikan pukulan pada titik terlemah hingga membuat Adam terjatuh pingsan. Namun sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Adam masih sempat bergumam pelan.
"Tolong... Jangan ambil fotonya.. " Lemah Adam.
Jacob tidak perduli. Ia berjalan begitu saja meninggalkan Adam menuju mobilnya. Setelah itu, tidak perduli padatnya jalan raya kota Bandung oleh kendaraan lain, Jacob memacu kencang kecepatan mobilnya. Ia masih belum bisa melepaskan atau pun mengurangi perasaan kesal, dan bencinya pada Adam.
Beberapa kali mobil lain nyaris saja menabrak mobilnya, namun Jacob acuh. Ia hanya ingin segera tiba di rumahnya lalu menemui Alesha.
Sekitar setengah jam berpacu di jalan raya dalam keadaan emosi yang tidak stabil, akhirnya Jacob pun tiba di mansion pribadi miliknya.
"Dimana Alesha?" Tanya Jacob pada salah satu anak buahnya selepas ia keluar dari dalam mobil.
"Nona berada di kamarnya, Tuan."
Jacob bergegas cepat menggunakan langkah besarnya menuju kamar.
Ceklek....
Suara gagang pintu yang ditekan. Lalu setelah itu Jacob masuk ke dalam kamarnya, dan ia mendapati kalau Alesha sedang duduk termenung sendirian di atas sofa sembari memeluk Baby Ale.
"Mr. Jacob," Gumam Alesha sangat pelan ketika ia mendapati hadirnya sang suami.
Jacob berjalan menghampiri Alesha, sedang Alesha sendiri bangkit untuk berdiri tepat dihadapan suaminya.
"Jack..." Alesha berniat untuk mendekatkan tubuhnya dengan Jacob, tapi sungguh tak disangka, Jacob malah mendorong kedua bahu Alesha untuk menjauh.
Sontak hal itu membuat Alesha merasa sangat terkejut. Tidak pernah sebelumnya Jacob bersikap seperti itu padanya. Ada apa kali ini? Apa Jacob marah pada Alesha?
"Apa saja yang sudah pernah kau lakukan bersama Adam?" Dingin Jacob.
Alesha mengerutkan keningnya.
Sebentar.
Sebenarnya ada apa dengan Jacob? Pikir Alesha.
"Berapa lama kalian berteman?" Lanjut Jacob. Tatapannya lurus datar pada sang istri.
"Jack, apa maksudmu?" Tanya balik Alesha.
"Seberapa dekat kalian?" Bukannya menjawab, Jacob malah mengajukan pertanyaan kembali.
"Jack, kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku hanya ingin tahu bagaimana kalian dulu! Apa saja yang sudah pernah kalian lakukan? Dan apakah kau sudah benar-benar melupakan Adam seperti aku melupakan Yuna, Alesha?"
Alesha terkesiap ketika nama Yuna kembali disebutkan oleh Jacob. Kenapa Alesha sensitif sekali dengan nama itu? Bahkan kini saja hatinya terasa sakit.
"Jack, kenapa kau bicara seperti itu?" Lirih Alesha. Lagi, Alesha berniat untuk meraih lengan Jacob, namun dengan cepat pria itu malah menepisnya.
"Kau kenapa, Jack?" Alesha menatap sendu pada Jacob saat tangannya dihempas kasar begitu saja oleh suaminya itu.
"Kau harus melupakan Adam, Alesha!!" Jacob mencengkram kuat kedua bahu Alesha.
"Argh.." Ringgis Alesha. "Aku sudah melepaskan perasaanku pada Adam, Jack.." Alesha berucap lirih.
"TAPI ADAM MASIH MENCINTAIMU, ALESHA!!"
Alesha terkejut hingga terlonjak kebelakang, nyaris terjatuh. Bentakkan Jacob barusan membuatnya bergetar takut. Tatapan tajam Jacob benar-benar mengintimidasi Alesha.
Selang beberapa saat kemudian, Jacob mengerjapkan matanya beberapa kali, dan mencoba untuk memfokuskan pikirannya.
Apa yang sudah ia lakukan pada Alesha barusan? Hanya karna emosinya terhadap Adam, kini Alesha lah yang menjadi pelampiasannya? Begitukah? Kenapa Jacob bodoh sekali? Ia baru sadar jika yang ia bentak barusan adalah istrinya. Ia terlalu, dan masih terbawa emosi karna Adam, dan Alesha yang terkena imbasnya juga?
Tersadar, Jacob segera melepaskan cengkramannya pada kedua bahu Alesha lalu berjalan begitu saja ke arah balkon.
Sedangkan Alesha, ia masih membeku di tempat, seolah tidak percaya akan sikap juga ucapan suaminya barusan.
"Mr. Jacob kenapa?" Lirih Alesha. Apa mungkin Jacob marah padanya? Begitukah pikir Alesha. Sungguh Alesha sangat takut jika Jacob benar-benar marah padanya, Alesha takut jika Jacob akan mencuekinya, meski ia sendiri masih belum paham kenapa sikap suaminya itu tiba-tiba saja berubah.
Memberanikan diri untuk kembali mendekati Jacob, tapi sepertinya Alesha masih terlalu takut kalau ia akan dibentak kembali. Jadinya, Alesha lebih memilih untuk berdiri di ambang pintu sembari memperhatikan punggung suaminya dengan raut sedih juga tatapan sendu yang terpampang begitu nyata.
Berjarak sekitar lima meter dari tempat Alesha berdiri, Jacob sedang berusaha untuk menetralisirkan emosinya. Dibilang menyesal karna bersikap tidak baik pada Alesha iya, sudah pasti itu mah, hanya saja Jacob ingin menjernihkan hati, dan pikirannya terlebih dahulu, baru setelah tenang, ia akan langsung meminta maaf pada Alesha.
Kurang lebih sekitar lima menitan, barulah Jacob bisa lebih tenang, dan merasa stabil atas dirinya sendiri.
"Astagfirullah..." Gumam Jacob sembari mengusap wajahnya dengan gusar. Lalu, sejurus kemudian tubuhnya pun berputar untuk kembali berjalan memasuki kamarnya.
Namun belum satu langkah diambil, Jacob sudah lebih dahulu termenung di tempat sembari menatap pada istrinya yang berdiri di ambang pintu dengan raut kesedihan mendalam yang seolah mengisyaratkan arti dari kalimat 'Apa salahku?' 'Maafkan aku'.
"Alesha... " Jacob bergumam, dan menghampiri istrinya. Kini mereka berdua sudah saling berhadapan.
"Aku sudah melupakan Adam, sungguh.." Lirih Alesha. Kedua garis alis, dan ujung hidungnya memerah, tanda sebentar lagi akan turun rintikan hujan dari wajahnya.
Jacob menghela napasnya. Ia jadi tidak tega melihat istrinya saat ini.
"Maafkan aku, Jack, hiks..."
Jacob terus memandang istrinya tanpa ekspresi selama beberapa saat.
"Jangan marah, hiks..."
Hati Jacob tersentuh, ia turut merasa sedih mendapati istrinya yang terisak pelan dengan raut wajah berdosa.
"Tidak apa, Alesha," Kini Jacob mengambil alih tubuh Alesha, memeluknya dengan sangat posesif.
"Jangan marah padaku, maafkan aku, Jack.." Meski belum tahu pasti apa kesalahannya, Alesha tetap meminta maaf untuk menghindari kemarahan suaminya.
"Tidak, sayang, aku tidak marah padamu," Balas Jacob sembari mengelusi punggung Alesha.
"Tapi tadi kau marah padaku, hiks.."
"Aku yang seharusnya minta maaf karna hal itu, Alesha. Aku emosi tadi, maaf, sayang, aku minta maaf.." Jacob mengecupi kedua sisi pipi Alesha, lalu memeluknya kembali dengan erat.
"Tapi kau tidak marah padaku kan?"
"Tidak, Alesha. Aku marah pada Adam, bukan padamu, sayang."
"Adam? Kau bertemu dengannya?"
"Aku baru memberikan peringatan padanya agar tidak mendekatimu lagi."
"Kau benar. Tolong buat Adam menjauh dariku, Jack, aku tidak mau dia mengusikku lagi, aku tidak mau rumah tangga kita terusik karna kehadirannya."
"Pasti, Alesha, aku tidak akan membiarkan Adam mendekatimu," Jacob melepaskan pelukannya, dan berganti dengan menangkup wajah Alesha. "Karna aku mencintaimu," Kini Jacob menunjukkan senyum hangatnya.
"Aku juga mencintaimu, Jack," Balas Alesha sembari berjinjit untuk bisa memeluk lehernya suaminya.
Deratan gigi putih nan rapih milik Jacob pun terlihat kala ia semakin melebarkan senyumannya.
Jacob merasa semakin tenang, dan emosinya juga semakin stabil kala sang istri memeluknya dengan erat, meski ia harus setengah membungkuk untuk menyesuaikan tinggi badannya dengan Alesha.
"Bagaimana kabar Baby J hari ini, hmm?" Tanya Jacob yang berniat untuk mengalihkan pembicaraan agar mencairkan suasana yang tadi lumayan tidak enak.
"Baby J baik, dan sedang tidur mungkin, dia baru saja habis makan tadi," Balas Alesha.
"Lalu bagaimana dengan Bundanya?" Goda Jacob.
"Bundanya ingin seblak," Alesha melepaskan pelukannya.
"Kenapa dilepas?" Tampak Jacob yang kecewa.
"Aku akan meminta pelayan untuk membuatkanku seblak pedas."
"Yasudah sana, tapi ingat, Alesha! Jangan terlalu berlebihan pedasnya!"
"Iya, Big Guy."
Jacob kembali tersenyum sebelum akhirnya Alesha pergi untuk membuat seblak di dapur bersama pelayan.