
Fajar dipagi hari menembus masuk ke dalam kamar tamu yang Alesha tempati. Jarum jam yang terus berputar kini berhenti tepat pada angka tujuh.
"Hooaaaaammmm..." Alesha merentangkan kedua tangannya kemudian bangun dan mendapati dirinya yang sudah dalam posisi terduduk.
Jacob terkekeh sambil bersandar pada pinggiran ambang pintu balkon. Alesha masih belum menyadari keberadaan mentornya itu.
"Sudah bangun?" Tanya Jacob yang berjalan mendekati Alesha.
Alesha membelokan kepalanya sabanyak sembilan puluh derajat pas. Alesha terlihat lebih natural dan imut saat bangun tidur, dan hal itu membuat Jacob semakin menginginkan agar bisa cepat-cepat menikahi gadisnya itu.
Alesha sempat meringgis kecil saat merasakan sensasi nyeri dan perih pada bibir bawahnya. Jacob yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecil, mengingat ulahnya semalam yang menggigit bibir Alesha.
"Kenapa?" Tanya Jacob yang berpura-pura tidak tahu apapun.
"Bibirku perih." Jawab Alesha.
"Tadi ada semut besar yang menggigit bibirmu, dan aku sudah membuangnya." Ucap Jacob yang berbohong sambil merapikan rambut Alesha yang acak-acakkan.
Kalo boleh dibilang, saat ini Jacob merasa seolah ia sedang bersama istrinya sendiri. Tidak masalahkan kalau sesekali ia menganggap Alesha sebagai istrinya?
"Ish, apaansih!" Alesha menepis lengan Jacob yang barusan merapikan rambutnya.
"Trus ini gimana? Bahaya gak semutnya? Kalau beracun gimana? Nanti bibir Alesha ngebengkak." Alesha mendengus dan memajukan sedikit ujung bibirnya.
"Semutnya sangat besar, Al, tapi tenang, semut itu tidak akan menyakitimu atau meracunimu, semut itu tidak berbahaya, malah sangat baik." Balas Jacob yang menyindir dirinya sendiri.
"Bagaimana kau tahu?" Alesha menyipitkan matanya dan menatap pada Jacob.
"Aku cukup tahu mengenai anatomi semut." Jawab Jacob dengan asal, padahal Jacob tidak tahu apapun tentang semut.
Alesha turun dari kasurnya dan berjalan menuju kaca besar. "Tapi gigitannya membekas."
"Bibirku terlihat seperti habis dicium lalu digigit oleh seseorang." Alesha menghentakkan kakinya pelan, ia pun mendengus kesal.
Jacob terkekeh.
Bibirmu memang habis dicium dan digigit oleh seseorang, Al, dan akulah pelakunya.... Ucap Jacob dalam hati.
Alesha mendongkakkan kepalanya dan menatap Jacob. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Tidak ada. Sudah tidak usah bahas itu lagi, lebih baik kau cepat mandi." Jacob menarik tubuh Alesha untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh-eh, lepasin! Apansih!" Alesha berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jacob. Tepat saat didepan pintu kamar mandi, Jacob baru melepaskan pergelangan lengan Alesha.
"Cepat mandi, atau mau aku mandikan?" Goda Jacob.
Mata Alesha membulat seketika saat mendengar ucapan mentornya barusan.
"Aish, ngomongnya. Yaudah, Mr. Jacob ngapain masih di kamar ini, sana pergi." Balas Alesha sambil berdecak pinggang.
"Ngusir?" Jacob mengangkat sebelah alisnya.
"Gak!" Jawab Alesha. "Tapi kan Alesha nanti harus ganti baju!" Alesha menggertakkan giginya dengan kesal. Ini masih pagi, dan mentornya itu sudah membuat Alesha sebal.
Jacob tersenyum geli. Sungguh gadis manis dihadapannya ini semakin membuat Jacob tergila-gila, dan lagi-lagi Jacob harus menahan hasratnya yang sama seperti semalam sempat kebablasan karna tidak mampu lagi untuk ditahan.
"Baik, aku akan pergi.." Ucap Jacob dengan segaris senyum menawan yang membingkai pada wajah tampannya.
Istri kecilku..... Lanjut Jacob dalam hatinya.
Sebelumnya, Jacob tidak pernah merasa seperti ini, menganggap Alesha sebagai istrinya benar-benar diluar dugaan Jacob. Dulu, saat ia masih bersama Yuna, Jacob menjalani hubungan dengan kebahagiaan, namun tidak dengan Alesha. Ini adalah salah satu perbedaan yang mencolok antara Sang Emas dengan Sang Berlian, Yuna terlalu lugu dan pemalu, jadi Jacob juga bersikap apa adanya saja, tetapi bersama Alesha, Jacob merasakan hal lain yang tidak pernah ia dapatkan saat bersama Yuna. Bukan maksud membedakan dua gadis yang sangat Jacob cintai itu, namun pada kenyataannya Jacob memang merasa perasaannya lebih hidup jika bersama Alesha. Sikap Alesha yang periang dan aktif, juga sangat lucu dan kadar kejahilannya hampir sama dengan Lucas dan Mike membuat Jacob merasa kalau memang Alesha lah wanita idamannya. Alesha bisa membangkitkan momen dengan cepat, dan membawa aura ceria pada siapa pun yang dekat dengannya.
Tanpa Jacob sadari, sedari tadi ia tersenyum-senyum sendirian hingga menjadi bahan perhatian oleh beberapa pelayan yang ia lewati.
"Pagi, tuan Jacob." Sapaan manis dari Irene yang berpapasan dengan Jacob. Wanita itu sudah berdandan rapih dan cantik, dan pastinya hal itu dilakukan oleh Irene agar membuat Jacob tertarik padanya.
"Hai, Irene." Sapa balik Jacob dengan keramahannya.
"Tuan Jacob mau kemana?" Tanya Irene.
"Kembali ke kamarku. Oh, ya kalau bisa lebih baik kau panggil saja namaku, tidak perlu ada kata tuan didepannya. Lagi pula umur kita sepertinya sama." Jawab Jacob.
Dengan percaya dirinya, Irene merasa sepertinya Jacob mulai tertarik padanya, buktinya saja nada bicara Jacob yang begitu ramah disertai senyuman yang membuat Irene semakin larut dalam ketampanan pria incarannya itu. Padahal Jacob tidak seperti yang Irene pikirkan, ia memang ramah dan baik pada siapa pun yang menyapanya, termasuk Irene.
"Baiklah kalau begitu, Jack." Balas Irene yang betingkah so' lugu.
"Kau sendiri mau kemana?" Tanya balik Jacob.
"Ruangan Nyonya Laras. Aku harus bekerja hari ini, dan Nyonya Laras memintaku untuk ikut ke sini karna dia membutuhkan bantuanku untuk menyelesaikan beberapa arsip yang berisi data keperusahaan." Jawab Irene.
"Ok, baiklah kalau begitu semangat ya." Balas Jacob yang hanya berniat untuk menyemangati saja, dan tidak ada maksud lain. Tetapi, yang namanya Irene itu malah balik baper karna ucapan Jacob yang dianggapnya sebagai hal yang sangat menghangatkan hatinya.
"Aku pergi duluan ya." Ucap Jacob lalu pergi meninggalkan Irene yang masih tertegun dengan kondisi wajah semerah tomat.
"Apa aku tidak salah dengar?" Mata Irene berbinar sambil terus menatapi punggung Jacob yang semakin menjauh.
"Aku sudah tahu, cepat atau lambat kau akan tertarik padaku, Jack." Irene tersenyum, dan dengan bangganya ia melanjutkan langkah kaki agar segera sampai di ruangan atasannya.
***
Beralih menuju WOSA, pengamanan ketat sudah menjadi pelapis disetiap sudut wilayah. Malam ini mungkin akan menjadi malam pertempuran bagi beberapa agent SIO bersama para kelompok jaringan gelap itu. Sangat disayangkan, disaat-saat seperti, dua agent terbaik tidak ada ditempat dan tentunya tidak dapat membantu juga. Jaringan internet di WOSA dan SIO berhasil dilumpuhkan oleh salah anggota jaringan gelap itu, dan akibatnya adalah Mr. Thomson tidak dapat menghubungi Jacob dan Eve, padahal mereka berdua sangatlah dibutuhkan.
"Kita serang mereka malam ini!" Ucap sang pemimpin kelompok jaringan gelap itu.
Disisi lain, Mr. Thomson sudah sangat kepusingan, ia tidak bisa menghubungi sahabatnya, Mr. Frank di SIO.
"Mereka akan menyerang kita malam ini, Jacob dan Eve tidak dapat dihubungi, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Aldi.
"Para murid?" Tanya balik Mr. Thomson.
"Mereka di dalam ruang aula utama. Mereka aman." Jawab Aldi.
"Mr. Thomson, gawat! Tiga orang penjaga pingsan, mereka diserang oleh kelompok jaringan gelap itu!!" Seru salah serorang kepala keamanan.
"Apa?!!" Mr. Thomson bangkit dari tempat duduknya. Jantungnya berdebar kencang dan tidak dapat dikendalikan.
"Kita tidak akan menang, mereka menyerbu disaat kita belum siap!" Ucap Mr. Thomson.
"Aldi, cepat pergi ke aula, jaga semua murid, dan perintahkan para mentor lain agar berjaga! WOSA sangat luas, banyak tempat yang bisa dijadikan tempat persembunyian oleh mereka!" Perintah Mr. Thomson. Aldi menggangguk paham, ia pun berbalik dan segera melaksanakan perintah pemimpinnya.
Saat ditengah perjalanan, Aldi pun berpapasan dengan dua orang anggota kelompok jaringan gelap. Tidak mau membuang waktu, Aldi pun menghajar habis-habisan kedua orang itu dengan kemampuan bela dirinya. Tonjokkan kencang sempat mendarat pada ujung bibir Aldi, namun dengan sekali pukulan, Aldi mampu membuat kedua lawannya itu terbujur kaku dilantai. Ia pun segera mengelap darah yang keluar dari ujung bibirnya sambil melanjutkan jalannya.
"Aldi!!" Panggil Danish.
"Kita tidak bisa menangani ini, semua penjaga diperbatasan WOSA sudah berhasil mereka acak-acak!" Ucap Danish dengan panik.
"Kita harus berjaga, Jacob dan Eve tidak ada ditempat ini!" Balas Aldi.
Sayangnya, kini orang yang berniat menyerang Aldi itu tidak sendirian, ada empat temannya yang saat ini sudah melingkari Aldi dan Danish.
"Dimana dua Jacob dan Eve?" Salah satu dari mereka melayangkan seringai ledekkan. "Baguslah kalau tidak ada, kami dapat melancarkan aksi kami dengan lancar."
Aldi dan Danish mengambil ancang-ancang, mereka tahu kalau mereka akan diserang oleh kelima anggota jaringan gelap itu.
"Habisi mereka!"
Pertarungan pun tidak dapat terelakkan. Seperti halnya film-film bergenre action, Aldi dan Danish mampu menahan setiap serangan layaknya seorang tokoh actor yang sedang berakting saling menjual-belikan pukulan bersama lawan actingnya. Meski tidak sehebat Jacob dan Eve, Aldi dan Danish cukup pandai dalam hal bela diri, pukulan yang mereka layangkan mampu membuat kelima anggota jaringan gelap itu kewalahan.
Disaat-saat yang begitu mencekam dan menegangkan seperti ini, Mr. Thomson yang sedang berdiri dihadapan sebuah meja yang menunjukan peta pulau WOSA tiba-tiba saja dihampiri oleh seorang petugas keamanan yang bertugas untuk menjaga gerbang belakang.
"Mr. Thomson, kita mendapatkan bantuan, Nyonya Laura mengirimkan orang-orangnya untuk membantu kita. Ia juga mengirim beberapa orangnya untuk menuju SIO! Dan saat ini beberapa orang suruhan Nyonya Laura sedang bergerak menuju markas kelompok jaringan gelap itu!"
"Apa? Bagaimana bisa Nyonya Laura tahu tentang ini, bukannya jaringan kita dilumpuhkan?"
"Anak buah Nyonya Laura yang merupakan seorang hacker berhasil menemukan keberadaan kelompok jaringan gelap itu di pulau ini, dan mengetahui rencana mereka."
Mr. Thomson pun menghembuskan napasnya dengan lega, akhirnya ada bantuan yang datang disaat-saat yang tepat. Mr. Thomson sudah sangat kewalahan dalam menghadapi kelompok jaringan gelap itu, ketidak siapan dan keamanan yang seadanya membuat Mr. Thomson hampir putus asa, namun ia beruntung karna Laura, ibunda Jacob segera mengetahui bencana yang saat ini sedang melanda WOSA.
"Bantuan tambahan akan segera datang tidak lama lagi. Nyonya Laura mengirim beberapa anggota kepolisian untuk menangkap kelompok jaringan gelap itu."
"Bagus, aku sangat bersyukur Nyonya Laura segera mengambil tindakan cepat dan segera membantu kita. Sekarang semua merapat ke gedung aula dan gedung kaca! Dua tempat itu harus diamankan dan dijaga seketat mungkin!" Perintah Mr. Thomson.
"Baik, Mr. Thomson!" Balas para anggota keamanan WOSA.
Mr. Thomson tersenyum kecil, ia tahu kalau Laura segera mengirimkan orang-orang terbaiknya menuju SIO dan WOSA karna jika kelompok jaringan gelap itu berhasil menguasai SIO dan WOSA, maka kerugian yang sangat besar akan dapatkan oleh Laura. Bagaimana pun juga semua ini disebabkan oleh bisnis, siapa pun bisa saling membunuh karna bisnis. WOSA dan SIO memang menjadi incaran beberapa organisasi gelap karna WOSA dan SIO memiliki banyak sampel yang dapat dimanfaatkan untuk membuka pulang bisnis yang lebih besar lagi.
Waktu pun kembali berjalan mundur menuju Florida, tepatnya pagi ini, Laura sudah dibuat pusing karna semalam ia mendapatkan kabar kalau SIO dan WOSA sedang diserang. Kerjasama bisnisnya akan hancur, dan kerugian besar akan memengaruhi keseimbangan saham perusahaan miliknya jika SIO dan WOSA berhasil diambil alih oleh kelompok jaringan gelap itu. Saat ini, wanita paruh baya itu hanya tinggal menunggu kabar saja dari anak buahnya, dan berharap jika mereka akan berhasil dalam menghabisi kelompok jaringan gelap itu.
Ketika pikirannya sedang sibuk berkutik dengan berbagai strategi agar bisa menyingkirkan lawannya, tiba-tiba saja Laura teringat dengan satu hal. Kenapa Jacob tidak terlihat panik? Apa mungkin Jacob tidak tahu dengan apa yang terjadi di WOSA?
Akhirnya, Laura pun bangkit dari duduknya dan berniat untuk pergi menuju kamar anaknya, Jacob.
Ketegangan yang terjadi di WOSA membuat seluruh muridnya merasakan ketakutan dan kepanikan yang berlebih, namun berlain hal dengan Alesha. Tidak ada rasa takut atau panik sama sekali dalam dirinya karna ia tidak tahu apa yang sedang terjadi di WOSA. Bahkan, saat ini pun Alesha sedang sibuk berkutik dengan dirinya sendiri dihadapan kaca.
"Ish! Ini gimana dong? Lukanya gak ilang!" Alesha mendengus sebal. Sedari tadi Alesha terus saja melakukan banyak cara agar bisa menyamarkan luka dibibirnya.
"Semut apa coba yang bisa gigit ampe segininya? Mana pas banget dibibir lagi!"
Alesha mengambil lip balm miliknya, ia pasrah dan sudah tidak perduli lagi dengan bibirnya yang terluka seolah seperti ada seseorang yang sengaja menggigitnya. Alesha tidak menaruh curiga sama sekali pada mentornya, karna Alesha berpikir kalau Jacob tidak mungkin melakukan hal itu.
"Bodo amatlaaahhh... Ntar juga ilang sendiri." Alesha menggesekkan kedua bibirnya untuk meratakan lip balm yang ia gunakan.
Kemudian, tangannya beralih untuk merapikan rambutnya yang bergelombang dan kriting pada bagian ujung bawahnya.
Alesha terlihat begitu manis saat dengan sengaja ia mengepang rambutnya dari atas puncak kepala hingga kebawah. Jemarinya begitu lihai dalam memutar dan memasukan tiga bagian rambut yang sudah dikelompokkan. Hingga saat jemarinya sudah sampai pada titik ujung, barulah Alesha mengikatnya lalu memberikan sebuah hiasan pita kecil sebagai pelengkap.
"Alhamdulillah, jadi juga." Alesha tersenyum sambil memandangi pantulan dirinya yang berada dalam cermin.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi, Nona, saya pelayan rumah ini, saya meminta izin untuk membersihkan kamar, Nona." Ucap Sang Pelayan dari luar kamar.
"Iya, tunggu sebentar." Saut Alesha yang segera berjalan menuju arah pintu lalu kemudian membukanya.
"Pagi, Nona." Sapa ramah dari pelayan itu.
"Pagi." Sapa balik Alesha dengan menunjukkan eye smilenya.
"Maaf kalau saya mengganggu, saya harus membersihkan kamar ini, Nona." Ucap pelayan itu.
"Tidak masalah, aku juga sudah selesai." Balas Alesha lalu berjalan keluar kamar. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya." Ucap Alesha pada pelayan yang berdiri dihadapannya.
"Ya, Nona, silahkan." Pelayan itu pun akhirnya masuk ke dalam kamar dan Alesha juga mulai melangkahkan kakinya entah menuju kemana.
"Hai, Alesha." Sapa Levin yang sedang bersandar pada pinggiran tangga.
Pandangan Alesha teralihkan menuju asal suara yang memanggil namanya.
"Mr. Levin?" Alesha mengerutkan keningnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Levin yang berjalan menghampiri Alesha.
"Entah, aku tidak tahu." Alesha mengedikkan bahunya. Tiba-tiba sebuah senyum simpul tercetak pada wajah Levin.
"Kau cantik, Al." Puji Levin. Alesha terlihat berbeda pagi ini, wajah manisnya mampu membuat Levin semakin terpikat.
"Terimakasih." Balas Alesha yang tersenyum manis dihadapan Levin.
Jika saja tidak mengingat kalau ia sudah mempunyai sebuah janji, Levin benar-benar tidak akan segan untuk merebut Alesha dari Jacob. Gadis dihadapannya ini begitu memikat dengan potongan rambut yang dikepang lurus dari atas kepala hingga tengkuknya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Jacob yang menghampiri Alesha dan Levin.
Alesha mengalihkan tatapannya pada Jacob. Matanya sedikit berbinar saat mendapati sang mentor yang terlihat begitu beraura dengan gaya pakaian santai dengan rambut basah yang menambah tingkat ketampanannya. Alesha menunduk malu, entah kenapa ia jadi tidak kuat jika harus menatap mata Jacob untuk waktu yang lebih lama lagi.
"Alesha, ada apa dengan bibirmu?" Celetuk Bastian yang menyadari ada sebuah luka pada bibir Alesha.
Alesha pun mengangkat wajahnya dan menatap Bastian. Levin yang baru menyadari hal itu pun seketika mengerutkan keningnya sambil menatap pada bibir Alesha yang terluka. Rasa penasaran dan curiga pun tidak dapat terhindarkan oleh Levin. Ia menatap tajam dan curiga pada Jacob.
Secara sengaja, Jacob pun mengangkat sebelah alisnya dan memberikan isyarat kecil pada Levin dengan menggigit bibir bawahnya. Jacob tersenyun menang tanpa diketahui oleh kedua anggota timnya itu.
"Aku tidak tahu, Mr. Jacob bilang kalau ada semut besar yang menggigit bibirku saat aku tertidur." Jawab Alesha dengan ekspresi wajah tak berdosanya.
Levin mendengus sebal, sekarang ia tahu penyebab bibir Alesha yang terluka. Ekspresi kesal terbentuk dengan jelas pada wajah Levin. Bagaimana tidak? Jacob dipastikan mencium Alesha dan memberikan luka itu pada bibir Alesha. Tangan Levin terkepal kuat, berbeda dengan Jacob yang tersenyum bahagia penuh kemenangan.
"Lukanya akan sembuh, kau tidak perlu takut, ya mungkin sekitar dua sampai tiga hari." Ucap Jacob sambil mengangkat dagu Alesha.
Ketika tatapannya bertemu dengan kedua iris coklat milik Alesha, jantung Jacob kembali berdetak kencang. Alesha membuatnya tergila-gila lagi pagi ini. Penampilan berbeda dari Alesha saat ini menambah kesan manis yang wajahnya pancarkan. Jika boleh, Jacob ingin sekali mengulang ulahnya yang semalam, namun dengan waktu yang lebih lama lagi.
"Kau cantik." Gumam Jacob sangat pelan tanpa disadari.
"Apa?" Alesha mengerutkan keningnya.
Levin yang melihat itu hanya bisa menahan rasa kesal dan cemburunya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi, Alesha sudah Jacob tandai, dan itu berarti Levin memang tidak boleh mengganggu hubungan yang mungkin akan segera terjalin antara Alesha dan Jacob.
"Jacob, ya ampun, ibu mencarimu dari tadi." Ucap Laura yang tiba-tiba saja datang dan berjalan menghampiri anaknya.
"Kau harus ikut ibu, ada urusan penting yang harus kita bicarakan!" Laura menarik lengan Jacob dan mulai berjalan kembali, namun setelah beberapa langkah, Jacob menahan pergerakan kakinya.
"Aku tidak mau membahas masalah perubahanmu." Ucap Jacob.
Laura berdecak sebal. "Ini tentang WOSA! Kita harus membicarakan hal genting!" Balas Laura dengan sorot matanya yang tidak kalah tajam dengan sorot mata Jacob.