
"Tetap tersenyum dan lambaikan wajahmu pada kamera, Nona." Bisik Taylor pada Alesha sembari terus menyunggingkan senyumnya ke arah para photographer yang ada didepannya.
"Sampai kapan kita terus seperti ini?" Bisik Alesha balik.
Tanpa Alesha sadari, ternyata Jacob sudah berada beberapa langkah lagi darinya. Berdiri tegap dengan kedua lengan yang dimasukkan kedalam saku celana, lalu smirk menawan yang tak lekang sejak matanya menangkap sosok manis yang dirindukan itu. Ia sengaja memberi waktu selama beberapa saat agar para photographer itu dapat mengambil foto Alesha yang terlihat begitu sempurna malam ini.
"Sudah.." Ucap photographer itu dengan ramah pada Alesha dan Taylor.
"Terima kasih." Balas Taylor yang tak kalah ramah.
Lalu Taylor pun menggenggam tangan Alesha dengan niat untuk kembali berjalan. Namun belum selangkah diambil, mereka berdua cukup dibuat terkejut karna kehadiran seseorang yang tiba-tiba saja muncul tepat dihadapan mereka.
"Astagfirullah.." Refleks Alesha hingga kakinya mundur satu langkah kebelakang. Nyaris saja tubuhnya dengan sang mentor.
Ya, Jacob, langsung memacu langkah saat mengetahui kalau photographer itu sudah menyelesaikan tugasnya, hingga akhirnya kini ia sudah berada tepat dihadapan gadis kesayangannya itu.
"Mr. Jacob?" Alesha mendongkak dan memandang tidak percaya pada sosok pria yang ada dihadapannya itu.
"Hai, Alesha..." Senyum menawan Jacob terus terukir pada wajah menawannya itu.
Bahkan Alesha begitu terkesan akan pesona dan aura mentor yang kadang menyebalkan itu.
"H-ha-hai, Mr. Jacob." Alesha mematung dengan sorot mata yang masih terbidik pada dua iris hitam milik Jacob.
Jacob tahu, dan begitu menyadari kalau Alesha sedang terkagum dengan penampilannya malam ini. Jacob pun sama. Ia begitu terkesima melihat kecantikan gadis kesayangannya. Alesha sempurna malam ini, membuat Jacob semakin ingin menerkam saja. Tapi itu tidak boleh terjadi. Alesha akan sangat membencinya jika Jacob melakukan hal itu diluar hubungan yang sah.
"Terima kasih, Taylor." Ucap ramah Jacob pada anak buah ibunya itu.
"Sama-sama, tuan."
"Ayo, Alesha." Lalu Jacob pun meraih pinggang Alesha dan mulai berjalan melewati para tamu undangan dengan begitu santai.
"Ehm, Mr. Jacob, kita akan kemana? Acara apa ini?" Tanya Alesha yang merasa tidak nyaman dan sedikit salah tingkah. Namun ia harus tetap bersikap setenang mungkin untuk menjaga image -nya.
"Ulang tahun perusahaan rekan bisnis ibuku." Jawab Jacob begitu santai.
"Mr. Jacob, aku malu. Banyak yang memperhatikan kita di sini." Alesha menggerak-gerakkan pupil matanya kekiri, dan kanan karna mendapati para tamu undangan yang sedang memperhatikannya berjalan bersama sang mentor.
"Tidak apa, Alesha. Kau tenanglah, tidak perlu panik dan salah tingkah seperti ini." Balas Jacob yang masih menyikapi dengan kesantaiannya sembari terus menyusuri jalan bersama si gadis manisnya.
"Aku tidak biasa seperti ini, Mr. Jacob. Ini pertama kali untukku."
"Maka dari itu, aku yang akan membimbingmu."
Disisi lain, Irene yang sedang asik berbincang dengan para rekan sesama sekretarisnya langsung dibuat tercengang kala melihat Jacob sedang asik berjalan sembari menggandeng pinggang wanita lain yang wajahnya sangat familiar untuknya.
"Alesha..." Gumam Irene dengan ekspresi penuh ketidak percayaan. "Apa yang dia lakukan di sini?"
"Irene, siapa gadis yang sedang dirangkul oleh tuan Jacob? Aku pikir kalian hanya berdua saja." Tanya salah satu rekan Irene.
"Di-dia, Alesha. Aku tidak tahu kalau tuan Jacob mengundang gadis itu juga." Jawab Irene.
Dan Irene pun semakin mengerutkan keningnya saat Alesha dan Jacob berjalan mendekatinya.
"Irene, kau sudah tahu Alesha kan?" Tanya Jacob yang sudah berada dihadapan Irene.
"I-iya, tuan."
"Hai, Nona Irene." Sapaan kaku dari Alesha itu membuat Irene melirik padanya dengan sorot mata yang cukup tajam. Seperti tidak suka.
Tentu saja. Irene tidak menyukainya. Irene berdandan secantik dan serupawan mungkin agar dapat membuat Jacob terkesan dan terlihat seperti kekasih dari tuan mudanya itu. Malam ini, pesta ini, Irene sudah mempersiapkan dengan sangat sempurna, tapi kedatangan Alesha membuat semua yang diharapkannya hancur. Ia memiliki seorang pesaing sekarang.
Irene pun tidak mau mengelak, Alesha memang terlihat sangat cantik, dan Irene sungguh tidak suka itu. Diantara tamu undangan yang lain, Irene yang terlihat begitu mencolok dan menyedot semua perhatian, tapi Alesha? Gadis itulah yang dirangkul oleh Jacob, oleh bos juga tuan mudanya, oleh lelaki incarannya.
Mana mungkin aku bersaingan dengan gadis ingusan seperti dia?........ Ucap Irene dalam hati.
"Hai, tuan Jacob." Sapa sang pemilik acara malam ini. Tuan Bram, CEO dari perusahaan yang sedang berulang tahun hari ini.
"Hai, tuan Bram." Sapa balik Jacob.
"Senang bisa berjumpa denganmu, tuan Jacob. Oh ya, bagaimana keadaan ibumu?" Tanya tuan Bram.
"Senang juga bisa berjumpa denganmu, tuan Bram. Kondisi ibuku semakin membaik dan mungkin tidak lama lagi akan berangsur pulih."
"Syukur kalau begitu." Balas tuan Bram sembari menyungginkan senyumnya. "Siapa Nona cantik yang ada disebelahmu itu, tuan Jacob."
Pertanyaan dari tuan Bram itu sontak membuat Alesha sedikit terkejut. Pria paruh baya itu menatap kagum pada Alesha.
"Dia Alesha, rekanku." Jacob menundukkan kepalanya untuk tersenyum pada Alesha.
Alesha pun hanya bisa mengangguk dengan senyum kikuk. Ia malu, tidak tahu harus bagaimana.
"Nama yang cantik, secantik orangnya." Puji tuan Bram yang memanaskan kuping juga hati Irene.
Sekretaris muda itu merasa tersingkirkan karna tidak bisa menjadi pendamping Jacob dalam acara malam ini. Kehadiran Alesha membuatnya malu. Secara, ia adalah sekretaris muda, dan para tamu undangan akan semakin memujanya karna dapat mendampingi bos besar yang masih muda itu. Tapi sia-sia sajalah, itu semua sekarang. Alesha sudah menggantikan posisinya.
Aku bersaing dengan remaja mungil itu? Ayolah. Aku lebih cantik dan sexy. Tuan Jacob, kau harus melirikku. Kita bisa menjadi pasangan yang diidamkan oleh banyak orang. Sekretaris cantik, sexy, dengan bos kaya raya yang tampan..... Gerutu Irene dalam hatinya.
Malam itu dilalui Irene dengan mood yang sudah hancur. Mendapati Jacob yang lebih asik berbicara dengan para pengusaha lain dengan didampingi oleh Alesha sungguh membuat Irene geram. Ia teracuhkan, benar-benar dilupakan oleh bos incarannya itu.
Sedangkan Alesha sendiri. Ia hanya bisa berdiam sambil terus berdiri mendampingi mentornya yang berbincang dengan para petinggi dari perusahaan lain. Sebenarnya Alesha merasa sangat pegal dan ingin duduknya. Pipinya sakit karna harus terus mempertahankan senyumnya. Tapi mau bagaimana lagi? Jacob memintanya untuk mendampingi, dan Alesha tidak bisa menolak itu, karna jika ia menolak, ia hanya akan menjadi patung hidup dipojokan ballroom itu.
Jacob pun terlihat menikmati waktunya dengan membicarakan bisnis bersama para pengusaha lain, ditambah ada Alesha disisinya, semakin lah Jacob merasa bahagia. Tampak seperti sepasang kekasih, beberapa kali para tamu undangan lain memuji penampilan Jacob dan Alesha yang begitu serasi dan berpadu.
"Alesha, ayo kita berjalan ke sana." Jacob menunujuk pada sebuah taman yang begitu sepi yang terletak di luar area ballroom.
Mereka berdua pun berjalan bersebelahan dengan jemari yang saling memeluk, hanya langkah kecil yang diambil untuk menikmati waktu di taman hotel yang hanya diterangi oleh banyak lampu redup yang menggantung pada pepohonan. Cukup sepi dan menenangkan. Tidak ada pengusik karna memang di taman itu tidak ada orang lagi selain mereka berdua.
Lalu Jacob pun menghentikan langkahnya setelah dirasa sudah cukup jauh dan tak terjangkau dari area ballroom. Ia membalikkan tubuhnya juga tubuh Alesha agar bisa saling berhadapan.
"Kau mengingatkanku pada Yuna, Al." Lirih Jacob yang menatap sendu pada Alesha. Bibir Jacob mulai bergerak tidak jelas, seperti ingin mengungkapkan sesuatu, namun bingung bagaimana cara menyampaikannya.
Apa yang menimpa Jacob kali ini? Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Yuna ada dihadapannya kah? Lagi dan lagi memori kelam Jacob yang mengambil alih. Kenangan akan kebersamaan manis bersama Yuna memutar balikkan keadaan, membawa Jacob kembali pada titik terlemahnya. Yuna kembali lagi dalam wujud Alesha. Apa itu benar? Tidak mungkin Yuna bereingkarnasi menjadi Alesha. Tapi sosok gadis yang ada dihadapannya kali ini begitu sama dengan pesona manis yang Yuna miliki.
Secara tidak sadar, Jacob pun kembali menggumamkan nama itu, nama yang selalu mentahta ratui hati Jacob. "Yuna.." Jacob tidak mengenyahkan pandangannya dari wajah Alesha. Malah Jacob kian mengukir ekspresi penuh haru.
Tetapi beda dengan Alesha. Ia yang kembali dimiripkan dengan kekasih hati mentornya itu hanya bisa terdiam telak dengan perasaan bercampur aduk. Marah, kecewa, sedih, dan terluka. Namun Alesha mencoba untuk menutupi itu semua dengan ekspresi datar dan lurus, tidak mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan mata mentornya.
Kenapa Alesha sedih? Kan emang dihati Mr. Jacob cuman ada Yuna, gak ada cewe lain yang bisa gantiin tempat spesial Yuna dihati Mr. Jacob....... Lirih Alesha dalam hati.
"Alesha, kau bukan Yuna kan?" Entah dirasuki apa pikiran Jacob hingga ia melontarkan pertanyaan yang membuat hati Alesha seperti dihantam oleh sebuah gumpalan beban.
Baiklah, sekarang Jacob membuat Alesha lupa akan sensasi pegal-pegal yang sedang dirasakan oleh tubuh gadis itu.
Alesha menghela dan menghembuskan napasnya untuk mengendalikan perasaan juga ekspresi wajahnya saat ini.
Jacob pun menutup kedua kelopak matanya, ia mulai menyadari apa yang terjadi pada dirinya kali ini. Jacob meremas pelan kedua bahu Alesha ketika bayangan Yuna yang sedang tertawa, dan tersenyum nampak dalam ruang gelap matanya.
Alesha tetap diam walau bahunya sedang diremas oleh sang mentor. Ia tidak dapat berkomentar apapun, bahkan untuk mengeluarkan suara sedikit pun berat sekali rasanya. Ia tahu kalau mentornya itu sedang dirundung ingatan kelam bersama sang kekasih hati.
"Yuna..." Lirih Jacob yang masih terpejam. "Kau dimana?" Lanjut Jacob yang terdengar seperti sebuah isakan kecil.
Apa Jacob menangis? Merindukan kekasih lamanya yang masih belum ditemukan hingga sekarang?
Lagi. Alesha menghela dan menghembuskan napasnya lagi untuk mengendalikan perasaannya yang sudah bercampur aduk dengan banyak pertanyaan dan pernyataan dalam pikirannya.
Alesha menyadarinya. Mentornya itu memang sangat mencintai Yuna, bahkan setelah empat tahun berlalu masih belum cukup untuk Jacob dapat melupakan sosok Yuna yang menghilang di pegunungan Himalaya.
Sorot mata Alesha pun berubah menjadi sayu. Ia menyadari dan sudah mendapatkan jawaban yang sesungguhnya. Jacob tidak menaruh rasa padanya, semua kebaik hatian dan keperdulian pria itu adalah bentuk dari rasa kasih sayang seorang kakak dan orang tua baru untuk Alesha, tidak lebih. Lalu bagaimana dengan ciuman mereka pada malam itu? Apa maksudnya? Alesha menyeringai tipis mengingat kejadian itu. Lupakan saja. Mereka sedang sama-sama khilaf waktu itu.
Semoga Yuna bisa cepat ditemukan, Mr. Jacob. Semoga saja Yuna tidak benar-benar menghilang dan bisa kembali lagi padamu. Beruntungnya Yuna bisa memiliki pria sehebatmu, Mr. Jacob...... Suara hati Alesha itu adalah perwakilan dari rasa kesedihan mendalam yang kini sedang mendera dirinya.
Alesha gak tau kenapa Alesha ngerasa kaya gini. Sakit sih, Mr. Jacob. Ini Alesha, bukan Yuna. Tapi Mr. Jacob selalu samain Alesha sama Yuna, padahal kita itu jelas beda banget. Atau jangan-jangan, selama ini Mr. Jacob baik dan peduli sama Alesha karna Alesha mirip sama Yuna. Berarti yang Mr. Jacob liat selama ini dari Alesha itu ya Yuna, bukan Alesha....... Alesha tersenyum samar yang mengisyaratkan sebuah rasa sakit dalam benaknya.
Ya, Mr. Jacob baik sama Alesha karna yang Mr. Jacob liat itu bukan Alesha, tapi Yuna......
"Alesha..." Tanpa aba-aba. Jacob pun langsung menarik pinggang Alesha dan membawa tubuh gadis itu masuk dalam rengkuhannya.
Jacob menenggelamkan wajahnya pada lekukkan leher Alesha seraya berkata. "Kau mengingatkan aku pada Yuna, Al."
"Tapi aku bukan Yuna." Balas Alesha dengan lemah.
Mendengar itu, Jacob langsung saja membuka matanya. Seperti sebuah tamparan keras untuk Jacob, Alesha benar-benar mengucapkan kalimat itu. Gadis itu memang bukan Yuna, dan kenapa Jacob masih menganggap kalau Yuna masih hidup dalam diri Alesha? Tidak, tidak. Jacob tulus mencintai Alesha sekarang ini bukan karna gadis itu mirip dengan kekasih lamanya, namun memang karna ingatan dan kenangan sialan itu lah yang membuat Jacob jadi seaneh sekarang ini.
"Apa kau selalu menganggap aku sebagai Yuna, Mr. Jacob?" Pertanyaan Alesha ini terdengar begitu sedih. Tentu saja, Alesha sudah berspekulasi kalau mentornya itu menaruh rasa padanya, tapi ternyata tidak. Jacob tidak menaruh rasa padanya. Begitulah pikir Alesha. Tapi kenapa Alesha harus sedih, dan kecewa ketika mengetahui kalau mentornya itu tidak menaruh rasa khusus padanya? Apa yang Alesha harapkan? Spekulasinya yang ternyata benar kalau Jacob menaruh rasa padanya? Itu hanya sebuah spekulasi, dan sudah terbukti salah.
Tidak! Ya, mungkin diawal iya, tapi aku bersungguh-sungguh kalau sekarang aku mencintaimu bukan karna kau mirip dengan Yuna, namun kau memang dunia baru untukku, Al. Tolong jangan berpikir seperti itu.... Lirih Jacob dalam hatinya.
"Tidak. Itu tidak benar Alesha, kalian berbeda. Tapi mungkin sekarang aku sedang teringat dengan Yuna, Al. Maafkan aku."
"Jika kau memang teringat dengan Yuna, kenapa kau harus memelukku? Bukannya itu sama saja membuktikan kalau dengan cara seperti ini kau merasa kalau Yuna lah yang sedang kau peluk dan berada tepat dihadapanmu, dan bukan aku. Bukan Alesha, Mr. Jacob." Balas Alesha datar.
Jacib bergeming. Tidak mampu membalas ucapan Alesha yang terdengar benar adanya itu. Sekarang Jacob merasa benar-benar bersalah terhadap Alesha. Tidak seharusnya ia seperti ini pada Alesha.
"Aku bukan Yuna, Mr. Jacob. Aku Alesha. Alesha Sanum Malaika. Aku bukan kekasihmu yang menghilang empat tahun lalu." Lanjut Alesha yang masih dengan tensi bicara rendah dan datar. "Maaf, Mr. Jacob. Maaf karna aku selalu membuatmu terpuruk dengan menjadi sosok Yuna secara tidak langsung."
"Tidak, tidak, Alesha, itu tidak benar." Jacob kian mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping Alesha, namun sayang, Alesha menolaknya dengan mendorong pelan tubuh mentornya itu.
"Mr. Jacob, kau tidak bisa melupakan Yuna kalau begini caranya."
"Tunggu, jangan lepaskan pelukannya." Jacob yang enggan memisahkan diri dengan Alesha pun kembali merengkuh tubuh gadis itu untuk masuk kedalam pelukannya.
Kau melukaiku kalau begini caranya, Mr. Jacob. Memang hanya Adam lah yang paling mengertikan aku. Adam, apa aku salah jika masih mengharapkanmu? Aku benar-benar mencintaimu, tapi kau malah menikah dengan yang lain............. Lirih Alesha dalam hati.
"Ada sesuatu yang harus kau tahu, Alesha." Jacob semakin menekan tubuh Alesha agar terus terjerumus kedalam pelukannya.
Mungkin ini saatnya untuk kau tahu yang sebenarnya, Alesha. Aku mencintaimu bukan karna kau mirip dengan Yuna, tapi karna kau memang gadis baru yang berhasil membangkitkanku dari keterpurukan......
"Sesuatu apa, Mr. Jacob?"
Hening.......
.....................................
Jacob sedang meyakinkan dirinya kalau Alesha tidak akan menolaknya. Hanya itu, dan memang itulah yang paling Jacob takutkan. Alesha akan menolaknya.
"Mr. Jacob." Alesha mengguncang pelan tubuh Jacob yang tiba-tiba mematung.
"Permisi, tu...... an." Irene muncul. Ia datang diwaktu yang salah. Irene membulatkan matanya dengan mulut yang sedikit terbuka kala melihat bos baru sekaligus pria incarannya sedang memeluk erat tubuh Alesha.
"Nona Irene!" Alesha juga tak kalah terkejut saat mendapati Irene yang tiba-tiba saja muncul dan mendapatinya sedang berpelukan bersama sang mentor.
Langsung saja Alesha mendorong tubuh Jacob dengan sekuat tenaga hingga akhirnya mereka pun dapat terlepas dari pelukan.
Alesha malu. Ia menundukkan kepalanya dihadapan Irene yang masih terbengong-bengong.
"Irene, ada apa?" Tanya lirih Jacob. Ia sebenarnya merasa cukup sebal dan kecewa. Kenapa sekretarisnya itu harus datang diwaktu sekarang ini? Kesempatan Jacob untuk mengutarakan perasaannya pada Alesha jadi tertunda kembali.