
Sejak pagi, tepatnya pukul sembilan hingga pukul setengah dua belas siang waktu Florida, Amerika Serikat, rapat pertama yang Jacob lalui bersama para petinggi perusahaan berjalan dengan sangat lancar dan menghasilkan beberapa inti point.
Diantaranya adalah pengalihan kepemimpinan perusahaan akan diambil alih oleh Jacob untuk sementara waktu hingga CEO utama perusahaan, Laura dapat kembali sembuh dan pulih dari sakitnya, promosi berskala besar akan segera dilakukan untuk memperkenalkan kepada publik dunia beberapa resort mewah di kawasan Asia Tenggara yang tidak lama lagi akan rampung dan diresmikan, Jacob juga mengusulkan untuk mengajak beberapa pengusaha lain agar mau menyumbangkan beberapa persen saham mereka dalam proyek pembangunan apartemen mewah di Singapura, launching produk minuman berenergi yang merupakan anak dari perusahaan mineral akan segera diluncurkan, project baru perusahaan dalam mengembangkan dan memperluas bisnis dengan menjadi sponsor dari salah satu klub sepak bola terkenal yang memiliki fanbase terbesar di dunia, dan untuk program CSR di sekitaran pabrik tekstil, perusahaan akan kembali berunding dengan kepala kehumasan yang bertanggung jawab atas pabrik tersebut.
Keputusan-keputusan itu sudah bersifat mutlak, dan akan segera terealisasikan.
Sama halnya dengan rapat yang pertama, rapat kedua yang berlangsung sejak pukul satu siang hingga tiga sore itu juga berlangsung dengan lancar. Jacob kembali mengambil posisi untuk memimpin jalannya rapat bersama para petinggi perusahaan lain yang tidak berada dibawah naungan induk perusahaan milik Laura.
Dalam rapat itu, mereka membahas mengenai perencanaan dan pembangunan proyek kawasan industri di daerah Kalimantan, Indonesia. Para petinggi perusahaan lain itu menginginkan agar Jacob setuju lalu menaruh saham dan turut mengambil peran dalam kerja sama besar yang yang tentunya dapat semakin memakmurkan perusahaan milik Laura. Tetapi Jacob tidak mau gegabah. Ia masih harus berpikir lebih matang lagi untuk mengambil keputusan yang terbaik. Entah itu menerima tawarannya atau meloloskan begitu saja dan tidak turut andil dalam proyek besar-besaran itu. Tapi terlepas dari perencanaan pembangunan proyek kawasan industri di Kalimantan, Indonesia, Jacob bersama para pentinggi perusahaan lain pun membuat beberapa kerja sama bisnis yang pastinya akan saling menguntungkan kedua belah pihak.
"Huftt.." Jacob menghembuskan napasnya yang terasa cukup berat. Kini ia sedang beristirahat di dalam ruangannya setelah enam jam disibukan dengan kegiatan barunya sebagai kepala induk perusahaan.
"Alesha.." Gumam Jacob sembari memijiti pelipisnya. Sebenarnya ia tidak pusing, namun gerakan itu hanya sebuah refleks dari rasa lelahnya saja.
Jacob pun meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja diatas meja.
"Alesha, aku merindukanmu.." Lirih Jacob sembari menatap wajah Alesha yang terpampang jelas dilayar ponselnya.
Jacob ingin sekali menghubungi Alesha saat ini, namun hal itu tidak mungkin meningat saat ini di Indonesia, tepatnya di Bandung, waktu sedang berada dipertengahan malam, dan Jacob tidak mau mengganggu waktu tidur gadis kesayangannya itu.
***
Di tempat lain.
Tepatnya di markas barunya, kini Vincent sedang berkumpul bersama para pengikut setianya.
"Satu tahun lagi, dan setelah itu semua rencana yang sudah aku susun serapih mungkin akan berjalan dengan mulus." Gumam Vincent dengan seringai jahatnya. "Mr. Thomson, Mr. Frank, Eve, Jacob, dan Levin. Tunggu pembalasanku. Satu pengkhianat sudah berada diantara kalian, terutama kau Jacob, kau tidak akan percaya kalau pengkhianat itu begitu dekat denganmu."
Jemari Vincent pun meraih sebuah lembaran kertas tebal yang menampakkan sebuah foto wajah dari seorang gadis.
"Alesha... Cantik, manis, dan pintar. Aku cukup tertarik dengan gadis ini. Tapi sayang, dia harus aku korbankan untuk membuat Jacob kembali menjadi seperti empat tahun lalu. Gila dan tidak waras karna ditinggalkan oleh gadis tercinta."
Bukan hanya foto Alesha saja, sebelah lengan Vincent yang lain pun bergerak untuk mengambil satu kertas foto lain yang juga menampakkan wajah seorang wanita.
"Tessa. Kau akan segera menikah dengan si brengsek Levin. Tapi akan aku pastikan kalau pernikahan kalian tidak akan berlangsung lama. Kau juga akan menjadi korban selanjutnya setelah Alesha agar aku bisa menyingkirkan calon suamimu itu."
Seringai jahat Vincent seketika berubah kala wajahnya tertunduk dan menatap ke arah foto lain yang tergeletak diatas meja.
Raut marah dan penuh kebencian tergambar jelas pada wajah Vincent saat ini. "Eve. Kau begitu ingin menjadi yang terbaik. Padahal kau sendiri sudah menjadi salah satu dari yang terbaik." Lalu seringai jahat kembali merubah raut wajahnya Vincent. "Tunggu saja berita fitnah yang tidak lama lagi akan menjerumuskanmu."
"Dan terakhirrrrrrr..." Senyum jahat semakin mengembang pada wajah Vincent. "Mr. Thomson, dan Mr. Frank. Pengkhianat sudah berada di WOSA, dan tidak lama lagi pesta yang sudah aku rencanakan akan segera dimulai."
***
Pukul 09.00 WIB
Alun-alun kota Bandung. Tempat di mana kini Alesha sedang asyik memainkan ponselnya. Entah apa yang dimainkan atau dilakukan, sejak tadi Alesha tersenyum-senyum sendiri, dan pastinya bukan karena sedang berkomunikasi atau bertukar pesan dengan mentornya.
Tidak jauh dari Alesha, atau tepatnya sepuluh meter di belakangnya. Tiga bodyguard suruhan Jacob itu sedang berjaga dan mengawasi Alesha. Mereka sengaja mengambil jarak karna tidak mau mengganggu waktu keasyikan yang sedang melanda nona muda itu.
"Alesha!!" Panggil seseorang dengan suara yang cukup melengking. Sedangkan si yang empunya nama tersebut langsung membalikkan tubuhnya untuk menghadap keasal suara yang berusan menyerukan namanya.
"Nina!!" Pekik Alesha dengan binar dan ekspresi bahagia yang terukir jelas pada wajahnya.
Tanpa aba-aba, gadis yang Alesha panggil Nina itu pun langsung berhambur memeluk erat tubuh Alesha. "Kamu kemana aja? Aku kangen banget sama kamu, Sha."
Tiga bodyguard suruhan Jacob itu pun langsung menatap awas dan penuh kesiagaan terhadap gadis yang memeluk tubuh Alesha.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Nina." Balas Alesha dipenuhi oleh kebahagiaan karna bisa berjumpa kembali dengan sahabat seperjuangannya itu.
Ya. Nina dan Alesha adalah dua gadis beruntung karna memiliki kecerdasan hingga dapat berkuliah disebuah Universitas walau usia mereka masih tergolong sangat muda kala itu, dan alun-alun ini menjadi lokasi di mana mereka selalu menghabiskan waktu bersama, entah untuk mengerjakan tugas kuliah atau hanya untuk bermain-main saja.
Mereka berdua sangat dekat. Seperti halnya sepasang saudara perempuan. Alesha sangat senang memiliki sahabat seperti Nina yang selalu ada dan selalu membantunya.
"Kamu itu kemana aja sih, Sha? Aku kirim pesan gak dibales, apalagi dibaca. Aku tuh kangen tahu gak." Ucap Nina sembari melepaskan pelukannya.
"Hehe, maaf, Na. Aku itu sebenernya pindah ke Bogor. Aku tinggal sama keluarga dari bapak aku di sana. Aku juga lupa buat save nomor kamu dinomor telepon aku yang baru." Bohong Alesha. Tidak mungkin juga kan kalau ia bilang selama satu tahun ini ia bersekolah di WOSA, melanggar kode etik dan peraturan itu namanya.
"Ish, gitu ah. Aku pikir kamu udah lupa sama aku." Nina mendengus sebal.
"Ya gak bakal mungkin lah, Nina. Kenapa juga aku harus lupa sama temen aku yang bawelnya minta ampun, kalo ngomong kaya gak ada remnya tuh mulut, trus gak bisa diem, trus ngeselinnya minta ampun." Balas Alesha sembari mencubit gemas kedua pipi temannya itu.
"Sakit, Sha. Napa ya, ih!"
"Aaa, sakit, Na. Iya iya oke ampun!!" Pekik Alesha ketika pipinya mendapatkan cubitan balasan dari Nina.
"Hmm.. Gimana kabar kamu, baik-baik aja kan?" Tanya Nina yang melayangkan tatapan penuh kerinduan terhadap Alesha.
"Alhamdulillah, aku baik-baik aja. Kamu gimana?" Tanya balik Alesha.
"Alhamdulillah, aku juga baik." Nina pun menggandeng lengan Alesha hingga mereka sama-sama berjalan beriringan untuk berkeliling alun-alun.
"Wah keren ya. Banyak yang pacaran di sini. Jiwa kejombloan aku menangis melihat ini."
"Lah? Kok gitu?" Alesha mengerutkan keningnya sembari menatap bingung pada Nina.
"Iya, kamu gak liat kiri kanan apa? Orang-orang pacaran semua woee. Hadeh." Refleks, Nina menepuk keningnya sendiri.
"Loh, emangnya Fariz kemana?"
"Udah ya, Sha, gak usah bahas tuh cowo lagi. Aku udah males ngomongin dia."
"Kalian putus?" Tebak Alesha.
Nina mengangguk pasti. "Iya, kita putus. Puas?"
"Bisalah, Sha. Bagus malah, jadi aku gak usah berlama-lama lagi berhubungan sama cowo brengsek kaya dia."
Lalu Nina pun menghadapkan wajahnya ke arah Alesha dengan tatapan jahil. "Kamu apa kabar sama Adam? Hmm?"
"Aku denger dia udah nikah loh, Sha." Lanjut Nina.
"Emang." Balas Alesha singkat.
"Apa? Jadi bener? Ya ampun! Aku gak nyangka loh, Alesha! Bukannya kalian berdua itu lengket and deket banget ya? Kok jadi masing-masing gini sih? Ish, padahal Adam itu baik dan perduli banget loh sama kamu. Aku pikir kalian bakal terus sama-sama, Sha. Sampe tua sampe punya anak cucu." Heboh Nina.
Alesha tersenyum kecut. Baik? Perduli? Ya. Adam melakukan itu semua hanya untuk menghargai perasaan Alesha, dan tidak ada maksud lain, apalagi untuk membalas perasaan. Sangat tidak mungkin.
"Aku sih gak masalah kalau dia ama cewe lain juga. Iyasih aku emang cinta banget sama Adam. Bayangin aja dari SD loh perasaan aku itu. Tapi ya jodoh kan gak ada yang tahu, Na. Lagian aku juga udah bilang sama diri sendiri buat gak bakal paksain perasan Adam ke aku."
"Ih, tapi, Sha. Sayang banget loh, kalian itu udah kaya orang pacaran tau gak sih kalo udah berdua, aku aja kadang iri soalnya pacar aku aja si Fariz waktu itu gak se-romantis Adam. Eh, tapi malah si Adam nikah sama cewe lain."
"Gak masalah sih. Toh aku udah ikhlas juga. Dia bahagia sama cewe lain, no problem. Malah aku bakal doain semoga rumah tangga mereka bisa langgeng dan selalu diberkahi juga punya keturunan yang bisa bawa keberuntungan dunia dan akhirat buat mereka." Alesha hanya bisa tersenyum kecil atas ucapannya barusan. Sakit sebenarnya hatinya, tapi ia harus ikhlas dan mendoakan yang baik-baik. Jodoh tidak akan kemana. Ia begitu mencintai Adam, tapi Adam bukanlah jodohnya. Bisa apa?
"Ya tetep aja, Sha. Nyesek tuh pastinya aduh."
"Nyesek banget malah." Alesha terkekeh. "Tapi ya mau gimana lagi? Masa iya aku jadi pelakor?"
"Hahahaha..." Mendengar kata 'Pelakor' dari mulut Alesha membuat Nina jadi tertawa. "Aku sih dukung aja. Masalahnya kan yang jauh lebih lama bersama sama Adam kan kamu, Sha, bukan cewe onoh."
"Ish, punya temen teh malah mengejerumusin ke arah yang gak bener." Ucap Alesha dengan gemas sembari menyuntrungkan pelan kening Nina.
"Heheheh, kapan lagi punya temen segokil aku?" Balas Nina yang cengengesan.
Dikala dua sahabat itu sedang asik berbincang, tiba-tiba saja salah satu dari bodyguard Alesha yang bernama Taylor datang dan menghampiri.
"Maaf, Nona, tuan Jacob ingin berbicara dengan anda."
"Dia siapa, Sha? Kok ngomongnya pake bahasa asing sih?" Tanya Nina.
"Dia temen aku, Na. Namanya Taylor." Alesha tersenyum kikuk untuk menganggapi pertanyaan yang Nina lontarkan.
"Ini, Nona." Ucap Taylor sembari menyerahkan ponsel yang sedang terhubung panggilan Video dengan Jacob.
"Haii, Alesha. Bagaimana keadaanmu? Taylor bilang kau sedang bermain di taman." Ucap Jacob yang wajahnya nampak begitu jelas pada layar ponsel.
"Itu siapa, Sha. Pacar baru kamu? Kok nanyain kabar sih?" Heboh Nina yang tentu saja mengerti apa yang Jacob ucapkan dan tanyakan.
"Enggak, sayang, bukan." Jawab Alesha yang mencampurkan antara ekspresi senyum dan menahan kesal sekaligus pada wajahnya.
"Dia siapa, Al? Temen kamu? "
"Hehe, iya, Mr. Jacob, namanya Nina. Dia temen..."
"Hai, Mr. Jacob, namaku Nina, temen sehidup sematinya Alesha. Salam kenal." Serobot Nina tanpa ada perizinan dari Alesha terlebih dahulu.
Alesha pun mendengus dan mencoba untuk menahan kesal terhadap teman menyebalkan juga tersayangnya itu.
"Hai, salam kenal juga, Nina. Aku titip Alesha kalau begitu ya." Balas Jacob yang direspon dengan tepuk tangan dan kehebohan Nina.
"Wah. Nitip? Gak salah denger kan? Owh pantesan kamu bisa move on dari Adam, udah ada yang baru toh."
Alesha langsung membekap mulut temannya itu dengan telapak tangannya yang satu lagi.
Sedangkan melalui layar ponsel, Jacob terlihat mengerutkan keningnya setelah melihat kehebohan Nina, sayangnya ia tidak tahu apa yang Nina ucapkan.
"Nina! Napa sih, itu mulut jangan koar gitu, malu!"
"Alesha, ada apa? "
"Enggak kok, Mr. Jacob, gak ada apa-apa." Alesha tersenyum kikuk. Ia malu, untung saja mentornya tidak akan mengerti apa yang Nina ucapkan.
"Oke sip, Mr. Jacob, aku akan menjaga kekasihmu yang satu ini." Lanjut Nina yang tidak perduli dengan perasaan yang sedang Alesha rasakan saat ini.
"Kekasih? " Gumam Jacob lalu menyungginkan senyumnya.
"Nina!" Pekik Alesha.
"Iya, Mr. Jacob, kekasih, hahahaha..." Teriak Nina agar Jacob bisa mendengarnya.
"Awww, adududuh, sakit, Sha. Iya maaf oke." Pekik Nina sembari menghindari cubitan Alesha yang bergerilya pada tubuhnya.
"Mr. Jacob, bukan pacar aku! Dia itu guru pembimbing aku!" Alesha melototkan matanya pada Nina. "Dia itu mentor. Tahu kan mentor. Makanya kalau punya mulut jangan suka asal koar mulu. Eehh." Alesha memukul pelan mulut temannya itu.
"Mentor?" Gumam Nina sembari mematung selama sepersekian detik.
"Mr. Jacob, maaf, Nina memang seperti itu orangnya. Asal bicara dan petakilan mulutnya." Alesha jadi merasa tidak enak dan canggung terhadap mentornya karna ulah Nina tadi.
"Mr. Jacob, maaf kalau begitu, aku pikir kau kekasih Alesha karna menanyai kabarnya juga menitipkannya padaku." Ucap Nina yang mendekatkan wajah pada layar ponsel yang sedang Alesha genggam.
Alesha sendiri hanya bisa menepuk keningnya untuk menyikapi tingkah teman kesayangannya yang memang kadang suka menyebalkan.
Melalui layar ponsel, Jacob pun menyungginkan senyum dengan kekehan kecilnya. "Kekasih sungguhan juga tidak apa."
"WHAT?? " Pekik Nina ketika mendengar balasan dari mentor temannya itu.
"Aww, Alesha..." Nina kembali heboh sembari menggoyang-goyangkan bahu Alesha.
Alesha tersenyum datar sembari menghembuskan napasnya dengan pasrah. Tidak mentor, tidak teman, semua sama saja. Sama-sama membuat Alesha harus berekstra sabar untuk menghadapi tingkah mereka.